Dari Raisa hingga Tiara, Alumnus UMM Ini Sukses Bikin MV Artis Ternama

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti melahirkan generasi emas, baik di dunia pendidikan maupun dunia kerja. Salah satunya alumnus Ilmu Komunikasi UMM satu ini yang sukses berkarir di dunia industri audio visual sebagai sutradara atau film director. Ia adalah Wahyu Taufani Prialangga yang sukses menyutradarai video musik berbagai penyanyi kondang Indonesia. Ia yang menyukai dunia musik itu sudah melakoninya selama lima tahun belakangan. Angga, sapaan akrabnya, mengaku sudah membuat ratusan MV selebritas papan atas tanah air. Di antaranya, Raisa, Noah, Rossa, Lyodra, Tiara Andini, JKT48, Slank, Rizky Febian, Coldiac, dan masih banyak lagi. Kesuksesan karirnya berawal dari masa masa mudanya yang sangat menyukai musik dan tumbuh besar di lingkungan pertemanan dengan para musisi Malang seperti Coldiac dan Sal Priadi. Di samping itu, beberapa director film menginspirasinya untuk berkecimpung di indusri ini, seperti Angga Dwimas Sasongko dan Yandy Laurens. “Pertama tentu karena saya suka musik dan memang berada di lingkungan pertemanan musisi di malang seperti Coldiac dan Sal Priadi. Akhirnya, saya mencoba meng-handle MV kedua musisi luar biasa Malang tersebut. Selain itu, saya juga terinspirasi dari Angga Sasongko dan Yandy Laurens dan harapnnya bisa turut mengikuti jejak mereka. Dimulai dengan berkarir dan bikin MV,” sambungnya. Lebih lanjut, pria asal Lamongan yang besar di Malang tersebut menganggap pekerjaannya sebagai hal yang menyenangkan. Untuk itu, Ia mengaku tidak merasa kesulitan karena seru bisa bekerja sama dengan banyak orang baru dengan latar belakang dan karakter pribadi yang berbeda. Selain itu, banyak hal baru yang Ia dapatkan dan pelajari tentang industri ini setelah lima tahun lebih terjun di dalamnya. Ia juga memiliki pandangan tentang bagaimana karakter MV yang dihasilkannya. Menurutnya, komponen terpenting dalam menciptakan suatu MV yang bagus dan indah adalah kejujuran, sehingga menghasilkan karakter MV yang ‘hidup’. “Dari pengalaman saya, ranah industri ini luas sekali. Selain banyak belajar hal baru, menjadi bagian dari industri ini menuntut kita untuk belajar dan terus belajar. Bagus itu soal selera. Saya sendiri, ingin lebih jujur dalam membuat MV dan menuangkan melalui simbol-simbol dan pengadeganan sesuai segmen audience MV tersebut,” tambahnya. Berbagai pengalaman dan materi yang ia dapatkan seama kuliah di UMM sangat bermanfaat. Hal itu dapat menjadi bekal yang bagus untuk berkarya di dunia tersebut. Adapun ke depannya, Ia berharap semoga bisa mengerjakan film panjang di bioskop. “Kuncinya adalah konsisten. Karena tidak ada yang tidak mungkin kalau kamu mau terus mencoba. Intinya, konsisten membuat suatu karya secara terus menerus,” pesannya. (*)
Bening, Mahasiswa UMM yang Jalani Kuliah di Italia

Mendapat beasiswa pertukaran pelajar ke luar negeri merupakan hal yang membanggakan dan banyak diimpikan oleh sebagian besar mahasiswa. Adalah Bening Qolbu Adinda seorang mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini sedang menjalankan program IISMA di Italia. Ia kini menjalani perkuliahan di University of Padova Italy sejak September lalu hingga beberapa bulan ke depan. Selama dua minggu di Itali, ada banyak hal menarik yang telah ia temui dan rasakan. Misalnya hal kecil seperti budaya menyeberang. Ia mengatakan bahwa pejalan kaki di sana sangat diutamakan. Jadi tidak heran apabila banyak ditemui para pejalan kaki. Masyarakat di sana juga lebih sering memakai transportasi umum dibandingkan transportasi pribadi. Hal itu tak lepas dari transportasi umum yang memadai dan terjangkau. “Saya juga kagum dengan para orang tua di sini yang masih aktif melakukan berbagai aktivitas di luar ruangan. Seperti bekerja, pergi berbelanja, dan lain sebagainya,” katanya. Hal menarik lain adalah sistem perkualiahan. Jika di kampus Indonesia banyak yang menerapkan sistem kehadiran, di Italia tidak begitu. Selama para mahasiswa dapat mengikuti dan mengerjakan ujian dengan baik, maka kehadiran tidak begitu diperhatikan. Sistem pembelajarannya juga menyenangkan dengan bermain games, mengadakan quiz, dan lain sebagainya yang dapat membuat para mahasiswa merasa nyaman. Bening juga tak melewatkan untuk mencicipi berbagai makanan, termasuk pasta. Menurutnya, harga pasta di Italia sangat terjangkau. Bahkan jenis pasta seperti spaghetti, penne, dan lain-lain harganya hanya disekitar satu euro saja dan akan lebih terjangkau apabila membeli porsi yang besar. Ia menjelaskan bahwa harga terjangkau itu karena memang pasta menjadi makanan pokok masyarakat. “Saya juga kaget porsi makanan di sini besar-besar. Bahkan bisa dimakan 2-3 orang,” katanya. Sebagai penutup ia berkomitmen untuk menerapkam dan mengajak masyrakat Indonesia untuk mencontoh budaya hidup sehat layaknya orang-orang Italia. Yakni dengan jalan kaki, sering olahraga, dan juga mulai menggunakan transportasi umum. Ia juga berpesan kepada para mahasiswa UMM terutama yang sedang mencari beasiswa pertukaran pelajar agar selalu semangat, berjuang dan mau berkorban untuk mencapainya. (zaf/wil)
Tahun ini, Lima Prodi FPP UMM Raih Akreditasi Internasional

Rekognisi kembali diraih oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini lima prodi Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM berhasil meraih akreditasi internasional dari Akkreditierungsagentur für Studiengänge der Ingenieurwissenschaften, der Informatik, der Naturwissenschaften und der Mathematik (ASIIN). Pencapaian ini semakin memperkuat posisi FPP UMM dalam kancah pendidikan tinggi global, terutama di bidang pertanian, peternakan, dan teknologi pangan. Lima Prodi yang terakreditasi yakni Agroteknologi, Teknologi Pangan, Kehutanan, Peternakan, dan Akuakultur. Penilaian akreditasi ini menekankan pada beberapa aspek. Dimulai dengan kurikulum yang dijalankan oleh masing-masing prodi. Kemudian juga jumlah lulusan dan tingkat keterserapannya di dunia kerja serta keberlanjutan berbagai program yang ada. Tak lupa juga fasilitas-fasilitas mumpuni yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa. Terkait hal ini, Wakil Dekan I FPP UMM, Ir. Henik Sukorini, M.P., Ph.D. mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian yang diraih fakultas yang ia pimpin. Apalagi akreditasi ASIIN merupakan salah satu akreditasi internasional yang diakui oleh Dikti. Ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi UMM dan FPP, sekaligus menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan di FPP UMM telah memenuhi standar internasional. ASIIN sendiri merupakan lembaga akreditasi dari Jerman yang berfokus pada program studi dalam bidang teknik, sains, matematika, biologi, dan pertanian. Akreditasi ini juga akan memberikan dampak positif pada pengembangan karier mahasiswa FPP UMM di masa mendatang. Dengan akreditasi internasional, lulusan akan memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar kerja global. Henik menekankan bahwa akreditasi ini hanyalah langkah awal dan pihaknya akan terus mengembangkan program-program internasional lainnya. Salah satu program internasional yang sedang berjalan di FPP UMM adalah summer course yang diikuti oleh puluhan mahasiswa asing. Dalam program ini, mahasiswa asing akan diajar langsung oleh dosen-dosen FPP UMM. Mereka berasal dari berbgaai negara dan benua seperti Jepang, Jerman, Thailand, Singapura, dan lainnya. “Kami ingin memperkenalkan lebih banyak mahasiswa internasional kepada potensi pertanian dan peternakan Indonesia. Oleh karena itu, kami terus membuka pintu bagi kolaborasi internasional,” tambah Henik. Selain summer course, FPP UMM juga akan mengundang lima dosen dari luar negeri untuk mengajar di program reguler. Kehadiran para dosen asing ini diharapkan dapat memperkaya wawasan dan perspektif mahasiswa FPP, serta meningkatkan interaksi lintas budaya di lingkungan kampus. “Setelah mendapatkan akreditasi ASIIN, kami akan terus melaksanakan program-program internasional lainnya. Kami ingin memastikan bahwa FPP UMM tidak hanya diakui secara internasional, tetapi juga terus berinovasi dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan industri,” ungkapnya. Adapun program-program internasional yang terus berjalan ini merupakan bagian dari strategi UMM untuk membangun jejaring global yang lebih luas. Upaya tersebut bertujuan untuk terus meningkatkan kolaborasi dengan institusi dan akademisi internasional. Ke depannya, Henik berharap akreditasi ini dapat menjadi batu loncatan bagi FPP UMM untuk terus berinovasi. “Kami ingin membawa lebih banyak program studi kami ke jenjang internasional. Tentunya, ini memerlukan kerja keras dan komitmen dari semua pihak, tetapi dengan semangat dan dedikasi yang FPP miliki, saya yakin kita bisa mencapai lebih banyak,” pungkasnya. (ri/wil)
Teknik Elektro UMM Kini Ajarkan PLTS ke Siswa

Energi baru terbarukan (EBT) terus menjadi salah satu prioritas strategis pemerintah Indonesia dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi karbon. Maka dari itu, Prodi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengenalkan modul pembelajaran berbasis energi baru terbarukan. Salah satunya dengan mengunjungi SMK-SMK di Malang, termasuk SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, untuk mengenalkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sejak akhir September lalu. Koordinator pengabdian Amrul Faruq, Ph.D. menjelaskan, dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Indonesia menargetkan 23% bauran energi nasional berasal dari sumber energi terbarukan pada tahun 2025. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai salah satu teknologi utama di sektor EBT diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian target tersebut. “Tentu, upaya pemerintah dalam mempercepat transisi energi ini tidak akan berhasil tanpa dukungan pendidikan yang memadai. Penguasaan teknologi EBT, seperti PLTS, sangat dibutuhkan untuk mencetak sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan di masa depan. Oleh karena itu, pendidikan vokasi dan teknik di berbagai jenjang sekolah menjadi elemen penting. Kami turut membantu upaya tersebut dengan kegiatan pengabdian ini,” katanya. Dalam prosesnya, Faruq tidak sendiri. Ia ditemani Ilham Pakaya, M.Tr. dan mahasiswa-mahasiswa teknik elektro UMM. Mereka memberikan pelatihan intensif kepada para siswa dan guru terkait dasar-dasar teknologi PLTS, mulai dari prinsip kerja hingga aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Modul pembelajaran yang disusun oleh tim pengabdian ini diharapkan dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran di SMK. Sehingga dapat mendukung pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan industri energi terbarukan. Faruq juga menekankan pentingnya pengenalan teknologi PLTS sejak dini di tingkat sekolah. Ia berharap siswa-siswi SMK tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang diperlukan untuk berkontribusi dalam pembangunan energi hijau di Indonesia. “Program pengabdian ini merupakan bagian dari komitmen UMM untuk mendukung target nasional dalam pengembangan energi baru terbarukan melalui penguatan pendidikan vokasi,” tegasnya. Kegiatan tersebut disambut baik oleh warga SMK, termasuk Kepala SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Munali, S.T., M.Pd. Munali mengapresiasi segala kontribusi tim teknik elektro UMM dalam pengembangan kurikulum berbasis teknologi hijau. Dengan adanya modul PLTS, ia berharap para siswa tidak hanya memahami konsep dasar energi terbarukan, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan praktis yang dapat digunakan dalam dunia kerja. “Dengan adanya inisiatif ini, semoga SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi dapat menjadi salah satu sekolah yang siap mencetak lulusan berkompetensi di bidang energi terbarukan. Apalagi dengan semakin meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di sektor teknologi hijau. Para siswa kini memiliki kesempatan untuk belajar dan terlibat langsung dalam teknologi PLTS, yang di masa depan diproyeksikan menjadi salah satu sumber energi utama di Indonesia,” pungkasnya. (*/wil)
UMM Jadi Pionir Pendiri UKM E-sport di Malang

Bermula dari sebuah komunitas kecil pecinta game Mobile Legend (ML), kini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sudah memiliki unit kegiatan mahasiswa (UKM) E-Sport yang ada sejak 2022 lalu. Bahkan UKM tersebut menjadi salah satu pelopor Komunitas Esport di ranah kampus Malang. Segudang prestasi di berbagai sektor game esport sudah diraih, baik di kancah regional maupun nasional. Ahmad Lutfi Wahyu selaku ketua UMM Esport mengatakan bahwa mereka memiliki visi untuk bisa berlaga di ajang-ajang internasional. Dimulai dengan memenangkan kejuaraan di tingkat wilayah dan nasional. Meski berangkat dari pecinta game ML, kini UMM Esport mengembangkan sayap dengan berbagai game esport lainnya seperti ML Bang-Bang, PUBG Mobile, Valorant, E-Football & FIFA, serta game e-sport lainnya. Menariknya, beragam prestasi berhasil ditorehkan dalam banyak kejuaraan. Misalnya saja meraih juara 1 Tournament Offline Jawara Player Unknown’s Battlelgrounds (PUBG) Mobile 2022, Juara 2 Mobile Legend Zodiac E-Sports Competition Season XXII Regional Malang 2022, Juara 3 PUBG Mobile Campus Championship 2022, Juara 1 dan 3 Tournament E-Football Campus Competition 2023, dan Juara 3 Liga Esport Nasional Mahasiswa kategori MLBB Women 2024. Wahyu, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa esport adalah salah satu wadah potensial bagi para mahasiswa untuk menyalurkan hobi mereka hingga ke ranah professional. UMM Esport juga aktif di berbagai kegiatan esport baik dalam ranah kampus, regional, hingga skala nasional. Menurutnya, eksistensi esport di dunia digital saat ini sangat dilirik oleh dunia industri seiring berkembangnya zaman dan teknologi. Berproses di bidang yang disukai tentu sangat menyenangkan, Ia juga mengaku sangat terkesan terhadap perjuangan, kerja keras, dan pencapaian yang dilakukan para tim UMM Esport demi memberikan hasil yang maksimal. “Saya sangat senang dapat berproses di bidang ini.Meskipun terkadang juga penuh dengan struggle, karena game ini gampang-gampang susah untuk dikembangkan di kalangan mahasiswa. Untuk itu, Kami UMM Esport senantiasa terus berupaya meningkatkan kompetensi untuk mewujudkan visi misi kami untuk mencetak para atlet dan wasit esport berkompeten dan berprestasi di kancah nasional maupun internasional, ” sambungnya. Terakhir Wahyu bersyukur UMM selalu mendukung penuh pengembangan UKM Esport di kampus. Hal ini tentu membuat para atlet di UKM tersebut lebih bersemangat dan bisa mendapatkan kemenangan demi kemenangan. Meski begitu ia juga mendorong mahasiswa untuk fokus menyelesaikan studi sehingga bisa sama-sama berjalan. (din/wil)
Bangga, Pojok Statistik UMM Bawa Pulang Juara di Ajang Statistik Nasional

Kabar membanggakan kembali datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini giliran Pojok Statistik UMM yang berhasil meraih juara dua tingkat nasional. Adapun pojok statistika ini juga dibina langsung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu. Pemberian anugerah tersebut diberikan dalam ajang Hari Statistik Nasional, tepatnya pada 26 September lalu di Jakarta. Koordinator Pojok Statistik UMM Hendra Kusuma menjelaskan bahwa kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) RI itu bertujuan untuk memberikan apresiasi instansi-instansi pendidikan dan lembaga yang telah berkontribusi dalam pengembangan literasi serta pelayanan statistik di Indonesia. Iini merupakan pencapaiaan terbaik yang pernah diraih oleh timnya. Adapun Pojok Statistik UMM telah berdiri sejak tahun 2022 dan berperan dalam membantu menjembatani antara pemerintah dengan semua lini yang memanfaatkan sebuah data. Baik itu mahasiswa yang sedang melakukan penelitian ataupun pihak pemerintah yang sedang membuat suatu kebijakan. Maka peran sebenarnya dari Pojok Statistik ini yakni memberikan edukasi tambahan bagi para pengguna data terkait cara memperoleh data hingga cara penggunaannya,” jelasnya. Adapun saat ini, jumlah persebaran Pojok Statistik di Indonesia kini telah mencapai 130. Hal itu tentu menjadi kabar menggembirakan sebagai pengelola Pojok Statistik UMM. Apalagi pojok statistik bisa mencapai posisi kedua se-Nasional. Pada tahun sebelumnya, mereka juga berhasil membawa raihan juara yakni peringkat tiga se-indonesia. Berbagai inovasi dalam segi statistik dan keaktifan telah dilakukan oleh Pojok Statistik UMM seperti membuat 359 infografis, membuat 79 video grafis, dan melakukan edukasi sebanyak 36 kali kepada seluruh masyarakat. Banyaknya jumlah infografis tersebut didapatkan dari kegiatan para mahasiswa yang melakukan penghimpunan data di wilayah kota Batu. Sehingga menurutnya peran mahasiswa sangat penting dalam membantu mengembangkan Pojok Statistik UMM ini. “Kami juga juga telah bekerjasama dengan Pemkot Batu dan juga Kementrian Desa dalam melakukan sensus kajian investasi di desa. Hal tersebut menjadikan UMM sebagai satu-satunya universitas yang memiliki data di tingkat desa, utamanya yang berkaitan dengan jumlah investasi di lingkup kajian desa dan kelurahan Kota Batu,” katanya. Sebagai penutup, ia berharap Pojok Statistik UMM dapat terus dimanfaatkan oleh berbagai pihak, termasuk pihak prodi dan fakultas lain yang ada dilingkup kampus. Menurutnya, Pojok Statistik kaya akan berbagai data, mulai dari data seputar kesehatan, hukum hingga data terkait survei sensus pertanian di Indonesia. Sehingga dapat membantu para mahasiswa, dosen, peneliti bahkan masyarakat dalam memperoleh suatu data. (zaf/wil)
Mahasiswa UMM Kembangkan Smart Farming untuk Petani Kopi

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu berinovasi dan memberi manfaat pada negeri. Salah satunya yang dilakukan tim mahasiswa prodi teknologi pangan UMM yang menjalankan teknologi smart farming berbasis IoT agriculture pada solar dryer portabel kopi di Desa Harjokuncaran, Malang, September lalu. Berkat hal ini pula mereka lolos program penguatan kapasitas organisasi kemahasiswaan (Ormawa) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI. Adapun dalam pelaksanannya, mereka bekerja sama dengan mahasiswa teknik mesin dan informatika UMM. Ketua tim Aisyah Fatma Salsabila menjelaskan, program ini mengusung konsep smart farming berbasis Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan kualitas pasca-panen kopi di Desa Harjokuncaran, sebuah desa di Malang yang memiliki potensi besar di bidang perkebunan kopi. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan solusi modern kepada para petani di desa tersebut dalam mengoptimalkan proses pengeringan kopi menggunakan teknologi solar dryer portabel. Dalam program ini, tim himpunan mahasiswa teknologi pangan UMM mengintegrasikan teknologi IoT ke dalam sistem pengolahan kopi, khususnya pada tahap pengeringan. Solar dryer portabel yang dikembangkan dilengkapi dengan sensor-sensor yang dapat mendeteksi suhu dan kelembaban udara, kemudian mengirimkan data tersebut secara real-time kepada petani melalui perangkat ponsel. “Dengan teknologi ini, petani dapat mengetahui kondisi cuaca dan tingkat pengeringan kopi mereka tanpa harus memantau secara manual. Jika ada perubahan suhu yang tidak sesuai, mereka dapat langsung menyesuaikan, sehingga kualitas kopi yang dihasilkan lebih terjaga,” jelas Aisyah. Aisyah juga menambahkan bahwa program ini sejalan dengan perkembangan era Society 5.0, di mana teknologi tidak hanya digunakan untuk memudahkan kehidupan manusia. Tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum. “Kami ingin membantu petani kopi di Desa Harjokuncaran untuk menghadapi tantangan di era digital ini,” katanya. Ia dan tim juga berharap implementasi teknologi smart farming ini dapat menjadi model yang diterapkan di daerah lain yang memiliki potensi serupa. Apalagi program tersebut dinilai berhasil dan memudahkan para petani kopi. Dengan dukungan penuh dari pihak universitas dan Kemendikbudristek, tim mahasiswa UMM optimis bahwa program pengabdian mereka akan memberikan dampak positif bagi para petani kopi serta berkontribusi dalam pengembangan teknologi pertanian di Indonesia. (*/wil)
Penelitian Mahasiswa UMM Ini Sukses Atasi Wabah Virus pada Udang Vanname

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, munculnya wabah white feces disease pada litopenaeus vannamei mampu sebabkan penurunan nyata hingga mencapai 40% hasil produksi udang. Ini juga berdampak pada turunnya volume eskpor udang vanname sejak tahun 2022. Melirik kekhawatiran tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan inovasi teknologi freeze-dying dalam upaya optimalisasi indiginus bakteriofag sebagai upaya pencegahan dan pengananggulan virus wabah white feces disease pada udang vanname. Muhammad Zhafif Addimaysqi selaku ketua tim menilai solusi pemanfaatan antibiotic secara berlebihan yang kerap dilakukan masyarakat dalam mengatasi wabah memiliki beberapa kekurangan. Antara lain dapat menganggu kestabilan kualitas air sehingga dapat menurunkan aktivitas hidup bakteriofag. Padahal bakteriofag atau faga merupakan virus yang dapat membunuh sel bakteri dalam waktu yang singkat, sehingga bisa diaplikasikan sebagai biokontrol bakteri pantoghen udang vanname. “Namun sayangnya, bakteriofag ini rentan mati dan sangat sensitif terhadap lingkungan, mulai karena perubahan suhu, faktor iklim, atau perubahan kandungan PH pada air. Oleh karena itu, faga harus ditumbuhkan ke dalam bidang spesifik untuk mempertahakan hidup mereka. Sehingga, kami menciptakan inovasi teknologi freeze-dying dengan formulasi protetan yang berbeda. Ini memungkinkan peningkatan klaster hidup faga yang bisa mencegah wabah white feces disease terjadi,” sambungnya. Zhafif, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa teknologi freeze-drying sendiri merupakan teknik pembekuan yang dilakukakn secara cepat melalui teknik sublimasi dalam kondisi vakum. Terdapat empat formulasi yang digunakan timnya, yaitu diantaranya susu skim, sukrosa, dan PEJ. Menariknya, output dari hasil formulasi tersebut berbentuk bubuk yang pengaplikasiannya dengan cara dicampurkan bersama pakan udang vanname. “Kami sendiri sudah melakukan uji tantang terhadap udang vanname secara In Vitro dan In Vivo. Lalu, dengan teknologi formulasi yang mudah diaplikasikan ini, dapat menjadi solusi yang efektif bagi para petani budidaya udang vanname untuk mencegah serta menanggulangi wabah white feces disease secara mandiri dengan takaran sesuai kebutuhan,” tuturnya. Dalam prosesnya, penelitian dan riset terhadap udang vanname itu dilakukan selama kurun waktu lima bulan untuk mendapatkan hasil formulasi yang optimal. Ia juga mengaku sempat mengalami kesulitan dalam memperoleh literature mengenai indiginus bakteriofag, sehingga untuk memperoleh hasil penelitian yang maksimal menghabiskan waktu satu bulan. Meski demikian, Zhafif sangat berterimakasih pada UMM yang telah memberikan dukungan, motivasi, wadah, dan bantuan finansial dalam menjalankan aktivitas ini. “Alhamdulillah, riset kami ini juga berhasil lolos ke Pimnas 2024 dan akan bersaing dengan mahasiswa lain se-Indonesia. Saya berharap riset kami ini bisa dikembangkan lagi dan bisa disempurnakan. Selain itu, saya juga berharap nantinya akaan ada sosialisasi tentang inovasi produk freeze-drying ini kepada masyarakat,” katanya. (din/wil)
Mahasiswa UMM Ini Sulap Sampah Jadi Kursi Ecobrick

Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu memberikan kegiatan-kegiatan menarik. Salah satunya yang dilakukan tim 7 gelombang 2 yang mendorong pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai, yakni mengubah sampah plastik menjadi ecobrick. Adapun agenda ini dilaksanakan sejak akhir Agustus lalu hingga September ini. Ketua tim Sandra Krisna Nugraha Putri menjelaskan, ecobrick adalah inovasi sederhana yang melibatkan pemadatan sampah plastik ke dalam botol plastik bekas hingga menjadi padat dan keras. Kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau kerajinan tangan. Proses pembuatan ecobrick mudah bisa dilakukan siapapun. “Pertama yakni mengumpulkan sampah plastik, seperti kantong kresek, kemasan makanan, dan botol plastik yang tidak terpakai. Lalu dibersihkan dan dikeringkan. Setelah itu dimasukkan ke dalam botol plastik bekas bertahap dan dipadatkan menggunakan alat seperti kayu atau besi kecil. Ecobrick tersebut bisa dijadikan bahan dasar untuk berbagai kerajinan tangan. Misalnya dengan mengubahnya menjadi kursi untuk duduk atau kursi sederhana,” katanya. Adapun pembuatan kursi sederhana dengan ecobrick juga cukup mudah. Diawali dengan menyusun ecobrick yang direkatkan menggunakan lem sehingga strukturnya jadi lebih stabil dan kokoh. Biasanya ecobrick bisa digabungkan secara vertikal maupun horizontal. Setelah struktur dasar kursi terbentuk, bagian atasnya bagian atasnya dilapisi dengan bahan yang lebih nyaman seperti kayu ataupun triplek. Triplek dipilih karena kekuatan, ringan, dan mudah dibentuk sesuai ukuran dan kebutuhan. Alas triplek ini berfungsi sebagai penutup permukaan atas kursi yang memberikan kenyamanan saat digunakan. Triplek yang telah dipotong sesuai ukuran kemudian ditempelkan di atas susunan ecobrick dengan menggunakan lem kayu atau paku kecil agar tetap kokoh. “Meski sederhana, kursi ecobrick ini dapat digunakan di berbagai lokasi. Baik di rumah, ruang publik, sekolah taman, dan lainnya. Selain bisa mengurangi sampai dan bisa dipakai, adanya kursi ecobrick ini juga bisa mendorong orang-orang untuk lebih memahami pentingnya daur ulang dan keberlanjutan,” kata Sandra. Ia dan tim berharap pengabdian ini bisa menjadi motivasi bagi anak-anak muda lain untuk berkreasi. Tidak hanya kreasi yang menguntungkan diri sendiri, tapi juga bermanfaat untuk masyarakat dan bumi. Adapun dalma prosesnya, Sandra tidak sendiri. Ia ditemani Amanda Wijayati, Vina Habibah Camellia, Natasya Setyaning Maharani, dan Desinta Ayu Ramandani dengan bimbingan Rinaldy Achmad Roberth Fathoni, S. AB, MM. (*/wil)
Berkat Juara dan Pengabdiannya pada Masyarakat, Mahasiswa UMM Lulus tanpa Skripsi

Berkat prestasi dan jurnalnya, mahasiswa Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Mohammad Zinedyne Zidane sukses lulus kuliah tanpa skripsi. Adapun hal ini didukung dengan jurnal ilmiah Sinta 2 yang ia tulis dengan judul ‘pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggit black soldier fly dan menciptakan peluang usaha’. Menariknya, judul itu berasal dari kegiatan pengabdian yang ia lakukan. Bahkan berkat hal itu juga ia sukses memenangkan juara dua dalam East Java Economic (Ejavec). “Alhamdulillah, pengabdian yang saya lakukan bisa berlanjut dan mengantarkan saya lulus tanpa skripsi dan juara lomba. Terimakasih banyak saya sampaikan ke dua pembimbing saya Dr. Rahmad Hakim, S.Hi, M.MA, dan Afifah Nur Millatina, SE, M.SEI.,” katanya. Adapun semua berawal dari program pengabdian masyarakat (PMM) yang ia lakukakn di Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Malang. Saat proses identifikasi, ia mendapati bahwa masalah warga setempat adalah kesulitan mengolah sampah organik. Akhrinya ia dan tim memberikan solusi dengan mengolah sampah organik melalui budidaya magot. Mereka memberikan berbagai pelatihan dan pendampingan agar para warga bisa melakuaknnya secara mandiri usai timnya menyelesaikan program pengabdian. “Dari magot tersebut akhirnya sampah organik warga bisa terurai bahkan warga dapat mengolah lagi menjadi pupuk dan pakan ternak. Pupuk dan pakan ternak ini bisa menjadi peluang usaha bernilai ekonomis bagi warga. Hal itu tentu membuat saya bangga karena bisa bermanfaat bagi sesama,” jelasnya menambahkan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, ide program kerja yang ia lakukan juga berhasil mengantarkannya menjadi juara business plan tingkat nasional. Ia meraih juara dua dalam Ejavec dan mengalahkan peserta lain dari berbagai daerah di Indonesia. “Dari keberlanjutan dan prestasi yang saya tersebut akhirnya, saya tidak menggunakan skripsi untuk syarat kelulusan. Namun menggunakan prestasi dan jurnal sehingga bisa lulus tanpa skripsi,” katanya. (*/wil)