Undang Mantan Menpar RI, UMM Dorong Mahasiswa Siap Hadapi Tranformasi Bisnis Digital

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kuliah tamu yang menghadirkan sosok inspiratif dalam dunia bisnis dan pariwisata. Adalah Dr. Ir. Arief Yahya M.Sc., menteri pariwisata Republik Indonesia tahun 2014 yang membagikan wawasan mengenai transformasi bisnis digital yang tengah menjadi perhatian global. Adapun agenda itu dilaksanakan pada Jumat, 27 September lalu. Lebih lanjut, Yahya menegaskan pentingnya human capital dalam menghadapi era digital yang semakin berkembang pesat. Manusia saat ini telah hidup di pusaran digital, maka perlu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti dinamika perubahan teknologi. Menurutnya, setiap individu harus memiliki kompetensi digital agar bisa bersaing dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks. Konsep vortex menjadi fokus utamanya kali ini. Dunia saat ini bergerak sangat cepat dalam berbagai sektor berkat kemajuan teknologi digital. “Ada tiga faktor utama dalam konsep ini. Yakni regulasi yang mendukung, SDM yang mumpuni, dan teknologi mutakhir. Ketiganya harus berjalan secara simultan. Tanpa adanya ketiga hal itu, transformasi bisnis digital hanya akan menjadi wacana,” jelas Arief. Selain itu, Yahya mengungkapkan bahwa pentingnya regulasi dan teknologi dalam mendukung perkembangan transformasi digital di 14 pusaran industrial. Perubahan paradigma dalam menghadapi revolusi industri digital juga penting. Apalagi dunia industri sekarang berbeda dengan sebelumnya. Ada 14 pusaran industri yang bergerak dengan cepat. Semua memerlukan sentuhan inovasi, regulasi yang proaktif, dan adaptasi teknologi yang cerdas. Ia menekankan bahwa setiap pusaran tersebut memiliki tantangan dan peluang yang harus diantisipasi sejak dini. Maka Penting adanya strategi yang tepat untuk menghadapi era digital. Untuk mewujudkan transformasi dalam 14 pusaran industrial tersebut, Arief menyebut ada dua strategi penting yang harus diperhatikan, yaitu strategi korporat level dan strategi fungsional level. “Di korporat level, kita berbicara tentang bagaimana perusahaan sebagai entitas besar bisa merespons perubahan secara keseluruhan. Sedangkan di fungsional level, setiap divisi atau fungsi dalam perusahaan harus punya kemampuan adaptasi yang tinggi,” jelasnya. Menurut Arief, kedua strategi ini penting untuk dipahami oleh generasi milenial. Kaum milenial harus memahami bahwa mereka adalah agen perubahan di era digital ini. Tidak hanya perlu memahami teknologi, tetapi juga bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Selain itu, Arief Yahya juga mengungkapkan kriteria yang harus dimiliki oleh sebuah perusahaan untuk bisa disebut sebagai digital company yang hebat. Ia menjelaskan bahwa perusahaan digital yang sukses harus memiliki tiga nilai utama, yaitu cost value, experience value, dan platform value. “Cost value adalah bagaimana perusahaan bisa menawarkan produk atau layanan dengan biaya yang lebih efisien. Experience value berkaitan dengan pengalaman pelanggan, dan platform value adalah kemampuan perusahaan membangun platform digital yang mendukung inovasi dan kolaborasi” ujar Arief. Arief mencontohkan beberapa perusahaan global yang telah sukses dalam menerapkan ketiga nilai tersebut. “Perusahaan-perusahaan seperti Google, Amazon, dan Alibaba telah membuktikan bahwa mereka bisa menciptakan platform yang tidak hanya efisien secara biaya, tetapi juga menawarkan pengalaman pelanggan yang luar biasa” katanya. Di sisi lain, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD. menilai kuliah tamu tersebut sangat relevan karena dua hal. Pertama, pemateri mumpuni yang memang telah memiliki pengalaman panjang dalam dunia digital yakni Pak Arief Yahya. Kedua, yakni kondisi di mana teknologi berkembang pesat dan dipenuhi dengan aktivitas digital. Maka, ini akna menadi materi penting bagi mahasiswa yang memang hidup di dunia digital. “Misalnya yang terjadi di bidang saya, psikologi. Dulu, jika orang ingin konseling, mereka lebih suka bertemu tatap muka langsung. Namun sekarang berbeda, banyak orang yang lebih suka konsultasi online yang menurut mereka memudahkan. Sehingga kesempatan kerja juga terbuka. Terutama bagi mereka psikolog yang menjadi ibu rumah tangga. Mereka bisa mendapatkan rejeki dengan menyediakan konsultasi online di berbagai platform,” katanya. (ri/wil)
Ustad Wijayanto di UMM: Tiga Rongga Manusia yang Perlu Diperhatikan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengundang ustaz kondang. Kali ini Ustadz Wijayanto M.A. dihadirkan untuk memberikan siraham rohani dan membahas mengenai kepemimpinan Rasullah dalam perspektif mdoern dan digitalisasi. Agenda yang dilaksanakan pada 26 September itu juga sekaligus menjadi pengaian Maulid Nabi Muhammad. Dalam pembahasannya, ia menjelaskan bahwa kesempurnaan manusia seluruhnya ada pada nabi Muhammad. Maka menurutnya ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan manusia. Di antaranya rongga perut, rongga kepala, dan rongga dada. Rongga perut maksudnya adalah memakan-makanan secukupnya dan halal. Selain itu juga mempertikan rongga kepala atau yang dimaksud dengan kelimuaan. Maka ia melihat bahwa Muhammadiyah sudah sangat bagus dalam mengedepankan rongga kepala ini. Yakni dengan selalu menekankan ilmu pendidikan kepada anak bangsa. “Dengan pendidikan seseorang dapat menguatkan keimanannya. Sehingga amal dan ilmunya berjalan berdampngan dan mudah diterima. Apalagi manusia memang akan selalu dihargai karena ilmunya,” katanya. Dalam lawatannya, ia juga menjelaskan bahwa banyak masalah yang dihadapi dunia pendidikan, termasuk kampus. Salah satunya adalah susahnya melahirkan seorang sarjana berkarakter dengan rongga perut yang terpenuhi dan rongga kepala yang bagus. Ia menegaskan pentingnya karakter bagi para pemuda. Maka tidak salah jika hal tersebut menjadi misi pertama yang paling ditekankan oleh Rasulallah selama 13 tahun berdakwah. “Semua kemaksiatan dimulai dari kosongnya rongga dada, maka mengapa banyak hal dapat dipelajari melalui doa. Karena doa dapat menghidupkan nurani, nur yang artinya cahaya sedangkan aini artinya mata. Sehingga doa akan menghidupkan nurani dan melindungi kita. Hidup yang dicari bukan banyaknya tapi berkahnya,” ucapnya. Sebagai penutup, ia memberikan pesan bahwa salat sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan. Selain itu juga agar selalu berbakti kepada orang tua karena berkat merekalah para jamaah bisa mencapai titik sekarang. “Rida Allah ada pada rida orang tua, maka jangan pernah sakiti hati mereka,” tegasnya. Terkait kedatangannya ke UMM, ia melihat bahwa Kampus Putih memiliki aura positif. Terlihat dari banyaknya jamaah yang hadir. Tidak hanya berasal dari kalangan dosen, akademisi, santri, tetapi juga para staf dari berbagai unit kampus. Menurutnya hal tersebut merupakan bentuk kekompakan warga intra kampus UMM dalam mencari ilmu agama. Sehingga ia semakin semangat dalam melakukan dakwah kebaikan dalam kegiatan tersebut. (zaf/wil)
Gandeng APERSI, Teknik Sipil UMM Siapkan Lulusan Berjiwa Entrepreneur

Kemampuan wirausaha sangat dibutuhkan, bukan hanya bagi mereka yang kuliah di bidang ekonomi, tapi juga untuk jurusan lain. Maka dari itu, Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selenggarakan kuliah tamu bertajuk ‘Mengemban Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa di Sektor Properti dengan Dukungan Industri Semen Nasional Guna Mengejar Backlog Perumahan di Indonesia’. Acara yang digelar pada 25 September lalu tersebut menghadirkan berbagai pembicara dari dunia akademis dan industri properti. Agenda itu juga sekaligus menjadi momen penandatanganan kerjasana antara UMM dan DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI). Junaidi Abdillah selaku ketua umum DPP APERSI mengatakan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam menjembatani dunia akademis dan industri. Mereka ingin memastikan bahwa lulusan UMM dapat langsung terjun ke industri dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Selain itu, kolaborasi ini juga bertujuan untuk mengejar backlog perumahan di Indonesia, terutama untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Maka melalui kerja sama ini, APERSI berkomitmen untuk mendukung pendidikan di UMM melalui berbagai program pelatihan, magang, dan penempatan kerja di sektor properti. “Kami ingin memastikan bahwa lulusan UMM dapat langsung terjun ke industri dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” jelasnya. Lebih lanjut, Junaidi menekankan bahwa APERSI sebagai organisasi pengembang rumah sederhana dan rumah sederhana tapak sangat berkomitmen untuk mendukung program perumahan pemerintah. Sehingga mereka ingin mahasiswa turut ambil bagian dalam upaya ini dengan membawa semangat kewirausahaan dan inovasi. Sementara itu, Dr. Ir. Sulianto, MT. selaku kepala program studi teknik sipil mengatakan, kuliah tamu ini menjadi forum diskusi yang menggugah kesadaran para mahasiswa akan pentingnya kewirausahaan. Utamanya di sektor properti yang saat ini tengah berkembang pesat di Indonesia. Sebagai institusi pendidikan yang telah meraih akreditasi unggul, ia berharap mahasiswa Teknik Sipil UMM mampu menjadi stakeholder di lingkungan sekitarnya. Sulianto juga menekankan pentingnya semangat kewirausahaan bagi mahasiswa Teknik Sipil di tengah tantangan industri perumahan nasional. “Sektor properti, khususnya perumahan, merupakan salah satu bidang yang terus berkembang. Mahasiswa perlu memanfaatkan peluang ini dengan kemampuan yang mereka miliki, termasuk dalam hal pemetaan, pengendalian, dan pengelolaan sumber daya,” ujarnya. Sejalan dengan itu, Dekan Fakultas Teknik UMM, Prof. Ilyas Massaudin, ST., M.Log., Ph.D., IPM, mengatakan bahwa UMM memiliki peran strategis dalam menciptakan sumber daya manusia yang kompeten di bidang properti. Namun tantangan sektor properti saat ini adalah keterbatasan rumah layak huni atau yang biasa disebut backlog. Kerja sama dengan industri semen dan pengembang perumahan seperti APERSI ini diharapkan mampu menjadi solusi untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Adapun kuliah tamu ini dihadiri Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia berharap kolaborasi ini dapat menciptakan peluang besar bagi mahasiswa. Dengan adanya kolaborasi antara akademisi dan industri, Teknik Sipil UMM bisa menciptakan sinergi yang mampu meningkatkan keterampilan mahasiswa dan membuka lebih banyak kesempatan kerja di masa depan “UMM telah mengembangkan program unggulan Center of Excellence (CoE) yang memberikan pembekalan kepada mahasiswa selama dua bulan. Program ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga praktik di lapangan,” tambahnya. (ri/wil)
UMM Dapat Penghargaan dari Lapas Perempuan

Selain memberikan pendidikan berkualitas dan penelitian menarik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga fokus melakukan pengabdian ke masyarakat. Salah satunya yang dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II A, Malang. Bahkan UMM mendapatkan penghargaan mitra kerja pada 25 September 2024 lalu karena berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Lapas. Adapun penghargaan itu diterima langsung oleh Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki, M.T. Terkait penghargaan itu, Ketua Lapas Perempuan II A Malang Yunengsih, Bc.ID., S.Sos., M.H. mengapresiasi UMM yang sudah melaksanakan berbagai program selama ini. Mulai dari pelatihan untuk menambah skill, buka bersama, memberikan kurban Idul Adha, pembuatan musik dan video klip, hingga sukses mengajak warga Lapas lebih kreatif. Salah satunya dengan meluncurkan buku antologi kisah menarik para warga Lapas. “Beragam program yang dilaksanakan UMM di sini tentu mendorong produktivitas warga Lapas prepmuan. Semoga semua kerjasama ini bsia berlanjut dan semakin memberikan manfaat,” katanya melanjutkan. Di sisi lain, Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. mengatakan bahwa penghargaan ini menjadi bukti nyata pengabdian Kampus Putih yang tidak pilih-pilih pada masyarakat. Berupaya memberikan pelatihan dan wadah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, termasuk mereka yang sedang menjalani hukuman di Lapas. “Sederet kegiatan sudah kami lakukan di Lapas perempuan kelas II A Malang dan kami berharap hal itu bisa meningkatka produktivitas dan kepercayaan diri teman-teman. Tentu, akan ada beragam program kerjasama lain yang bisa kami lakukan ke depannya,” katanya. Selain di Lapas perempuan Malang, UMM juga rutin mengunjungi berbagai lokasi di Malang dan kota-kota sekitarnya. Salah satunya melalui mobil Kamis Membaca (KaCa) dan mobil Bioskop Keliling (Bioling) yang menyediakan ratusan bacaan serta film yang edukatif. Mobil tersebut mengunjungi desa-desa, panti asuhan, sekolah, dan lain sebagainya. Bahkan juga menghibur par akorban bencana dan menggaet kerjasama dengan pihak lain. Ini juga menjadi cara UMM dalam memberikan pengabdian maksimal pada masyarakat. “Ada puluhan bahkan ratusan program lain yang kami jalankan di berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari pengembangan PLTMH hingga peningkatan kualitas pertanian yang sudah berjalan di Situbondo, Jember, Bahkan Bali. Semoga apa yang kami lakukan bisa memberikan manfaat yang banyak untuk Indonesia,” pungkasnya. (wil)
Dosen UMM Ini Masuk 2% Peneliti Terbaik Dunia

Kabar baik kembali hadir dari Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini seorang dosen UMM berhasil masuk ke dalam 2% top researchers list seluruh dunia yang dirilis Elsevier dan Stanford University. Adalah Dana Marsetiya Utama yang merupakan dosen Teknik Industri UMM yang sejak 2019 telah menekuni dunia penelitian internasional. Sertifikasi ini diikuti oleh kurang lebih 150 ribu peneliti yang ada di seluruh dunia dan 150 peneliti dari Indonesia telah masuk ke dalam 2% top scientists tersebut. Dalam sertifikasi 2% top scientists tersebut ia masuk ke dalam kategori nuclear and particle physics. Hal itu tak lepas dari penelitiannya yangberkaitan dengan energi. Beberapa yang menarik adalah penelitian mengenai pengelolaan energi yang lebih efisien sehingga nantinya dapat menghemat energi. Maka dari itu, banyak penelitiannya disitasi oleh orang lain karena dianggap penting serta dapat berpengaruh dalam suatu penelitian. Apalagi dalam penilaian top 2% researcher, jumlah publikasi, sitasi, dan dampak keseluruhan menjadi pertimbangan. Dana, sapaan akrabnya, mengungkapkan alasan mengapa ia jatuh cinta dengan kegiatan penelitian. Salah satunya karena ia menjalani mimpi menjadi seorang dosen. Menurutnya dosen harus mampu melaksanakan tri darma perguruan tinggi, yakni menjadikan riset sebagai suatu bahan pengajaran serta pengabdian seorang dosen. “Kegiatan belajar mengajar dapat diperoleh dari hasil penelitian kita. Jadi akan ada pandangan pemahaman baru yang diperoleh mahasiswa,” katanya. Ia juga mengungkapkan rasa penuh syukur dan bangga atas pencapaiannya. Menurutnya, hanya ada segelintir peneliti saja yang masuk ke dalam daftar ini. Bahkan beberapa kampus yang ada di Malang belum tentu masuk ke dalam top researchers list ini. Tentunya hal tersebut menjadi sebuah kehormatan tersendiri baik bagi diri sendiri maupun kampus. Dana telah membuktikan bahwa SDM yang dimiliki UMM merupakan SDM unggul dan mampu bersaing di tingkat global. Meski berhasil masuk ke daftar peneliti terbaik dunia, Dana tidak puas dengan penelitian yang dilakukannya dan terus melakukan hilirisasi. Dengan begitu, hasilnya dapat berguna bagi banyak orang. “Harapannya, ide dan penelitian saya benar-benar bsia diterapkan di masyarakat dan industri. Tidak hanya dilakukan secara teori tetapi juga dapat diaplikasikan. Semoga teman-teman dosen UMM lain bisa masuk ke daftar tersebut di waktu yang akan datang,” pungkasnya. (zaf/wil)
Begini Cara Unik Mahasiswa UMM Atasi Kecemasan Orangtua ABK

Seringkali penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK) hanya berfokus pada anaknya saja, padahal yang lebih sering bersama mereka setiap hari adalah orang tuanya. Maka Rivan Alamsyah, mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama tim melalukan riset yang berhasil lolos ke tahap final Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Adapun riset yang mereka lakukan berfokus pada penurunan kecemasan pada orang Tua dari para ABK dan peran orang tua dalam mendampingi ABK. Menurut Rivan, kecemasan yang dialami orang tua dari ABK seringkali terabaikan. Padahal mereka juga membutuhkan dukungan emosional agar dapat mendampingi anak-anak mereka dengan lebih baik. Adapun program ini lahir dari hasil observasi tim dan melihat jumlah ABK di Indonesia. Di sisi lain perhatian pada kesehatan mental orang tua mereka masih minim. “Kami melihat banyak orang tua ABK yang merasa kewalahan secara emosional, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengelola kecemasan mereka,”katanya. Intervensi psikologi yang diterapkan tim ini adalah metode ‘Guided Imagery’, yaitu teknik yang melibatkan penggunaan imajinasi terstruktur untuk membantu orang tua ABK dalam mengelola kecemasan. Teknik ini mengombinasikan pelatihan deep breathing (pernapasan dalam), visualisasi, stimulasi audio, dan fokus pada pancaindra. “Kami meminta para orang tua untuk menutup mata, mendengarkan instruksi yang diberikan, dan membayangkan situasi yang menenangkan,”jelasnya. Uniknya, program ini tidak hanya teori semata. Tim Rivan berhasil melakukan intervensi di enam Sekolah Luar Biasa (SLB) di kota Malang, yaitu SLB Bhakti Luhur, SLB-B YPTB, SLB Putra Jaya, SLB YPAC, SLB Widya Shantika, dan SMALB BCG Sumber Dharma. Setiap sekolah ini menjadi tempat uji coba pelatihan ‘Guided Imagery’ dengan melibatkan orang tua ABK sebagai peserta. Setelah pelatihan, para orang tua menyatakan bahwa teknik ini sangat membantu mereka dalam menghadapi kecemasan yang selama dirasakan. Tidak hanya memberikan pelatihan, tim Rivan juga memberikan buku modul ajar kepada masing-masing SLB yang menjadi mitra. Modul ini diharapkan bisa menjadi panduan bagi sekolah untuk melanjutkan program ini bahkan setelah tim mahasiswa menyelesaikan intervensi mereka. “Ke depannya, kami berharap program ini tidak hanya diterapkan di beberapa SLB di Jawa Timur, tetapi bisa menjangkau provinsi lain di Indonesia,” katanya. Ia yakin bahwa intervensi seperti ini dapat memberikan dampak besar terhadap peningkatan kualitas hidup para orang tua ABK. Program mereka akan terus berkembang dan menjadi solusi nyata bagi para orang tua ABK di seluruh Indonesia. “Kami sangat bersyukur bisa sampai ke tahap ini, dan tentunya akan memberikan yang terbaik di Pimnas nanti,” pungkasnya. (*/wil)
SCDC UMM Jadi Salah Satu Pusat Keunggulan Paling Banyak Diminati

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Nazarudin Malik, mengapresiasi Center of Excellent (CoE) yang dimiliki Program Studi Ilmu Komunikasi. Menurutnya, dengan mengambil nama kreatif pada School of Creative Digital Communication (SCDC), bisa bermakna selalu membuat inovasi yang tidak mudah ditiru pihak lain. “Kreativitas itu bermakna unimitated, tidak bisa ditiru,” tegasnya. SCDC, kata rektor, memiliki uniqueness dan distinctiveness yang tepat. “CoE SCDC memiliki keunikan dan hal pembeda yang menjadikannya memiliki daya tahan dan pertumbuhan yang baik. Ini nantinya bisa menciptakan keberlanjutan berbasis kreativitas,” kata Nazar ketika membuka Inauguration SCDC Batch 3 di Rayz Hotel UMM, Senin, 23 September lalu. Dalam kesempatan itu, Nazar memberi pembekalan bagi 80 peserta SCDC. Mereka terdiri dari 40 peserta baru kelas Social Media for Branding yang akan memulai berproses semester ini dan magang di semester berikutnya. Sedangkan 40 peserta yang lain telah lulus kelas yang sama semester lalu dan berhak memperoleh sertifikat. Rektor mengingatkan agar semua CoE di UMM memegang teguh nilai-nilai kemuhammadiyahan. Dalam arti, semua keunggulan yang ada di kampus ini harus digerakkan oleh landasan yang kuat, yakni keimanan dan amal soleh. Ia menyebut manifestasi dari keimanan seseorang harus mengejawantah dalam amal meskipun tidak selalu berdampak benefit ekonomi. Ia juga mendorong agar Ikom UMM melanjutkan keunggulan pembelajaran berbasis projek dan studi kasus. “Di UMM, mode pembelajaran yang demikian sudah lama dikembangkan sebelum ada keharusan kurikulum berbasis luaran atau Outcome Based Education (OBE),” tutur Nazar. Momen Inaugurasi dimanfaatkan untuk transformasi penanggung jawab CoE SCDC dari Widiya Yutanti ke Arum Martikasari. Widiya mengungkapkan, meski tidak banyak perubahan pada struktur kurikulum dan mitra industrinya, SCDC kali ini mengalami peningkatan jumlah peminat sehingga pihaknya lebih selektif memilih siapa saya yang eligible menjadi peserta kelas unggulan ini. “Selain itu, dari sisi mitra dunia industri kami juga melakukan evaluasi. Jadi ada yang kami perpanjang kerjasamanya, ada yang terpaksa harus dihentikan, namun juga ada yang baru,” tutur Widiya yang juga kepala Laboratorium Komunikasi UMM. Di sisi lain, Arum menerangkan SCDC adalah CoE yang cukup ketat menerapkan kurikulum. Apalagi kurikulum terkait merupakan hasil kolaborasi pihak prodi dan mitra industri. Dalam pelaksanaannya, kelas di SCDC diampu oleh kolaborasi dosen internal dan praktisi. Tidak hanya dalam bentuk kuliah di kelas maupun di lab, peserta SCDC juga ditempatkan di berbagai unit di UMM, unit bisnis milik UMM dan amal usaha Muhammadiyah untuk mempratekkan optimasi media sosial. “Pada semester berikutnya, mahasiswa akan mengikuti internship full satu semester di perusahaan-perusahaan dan instansi mitra,” terang Arum. Berbeda dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) lain di mana mahasiswa memperoleh konversi mata kuliah sebanyak 20 SKS, pada SCDC mereka mendapat mata kuliah khusus. “Ada enam mata kuliah berbeda dari regular yang berhak diperoleh mahasiswa. Enam mata kuliah itu adalah Research for Social Media, Social Media Structure, Social Media Strategy, Digital Marketing Performance, Project Management, Social Media Optimization Practice, dan Internship on Social Media Optimization,” katanya. Ketua Prodi Komunikasi UMM, Nasrullah, menekankan bahwa CoE di prodinya dibangun dari kesadaran menjawab tantangan perubahan di dunia komunikasi. Saat ini, ujarnya, tidak mungkin menghindari dunia digital. Untuk memenangkan persaingan, maka diperlukan kreativitas. “Kekuatan mahasiswa Komunikasi UMM adalah di kreativitas, saya yakin paling kreatif. Makanya kekhasan prodi saat ini adalah creative digital communication,” pungkasnya. (din/wil)
Terinspirasi dari Kumbang, Mahasiswa UMM Beri Ide Atasi Krisis Air

Bertekad turut andil atasi krisis air bersih di pulau Jawa, Tim Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang ciptakan konsep teknologi jaringan air bersih berbasis teknologi sayap kumbang namibia. Iklim tropis Indonesia menjadi salah satu fokus sumber inovasi teknologi yang tengah dikembangkan. Sonya Dzakiyah Zayyanti selaku ketua tim mengungkapkan, teknologi terbaru ini memanfaatkan potensi kabut dan kelembapan daerah sekitar untuk kemudian dikelola sedemikian rupa hingga menghasilkan air bersih siap minum. Sonya, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa konsep teknologi tersebut terinspirasi dari salah satu video kemampuan bertahan hidup kumbang di Gurun Namibia, Afrika yang terkenal sangat gersang. Menariknya, Kumbang Namibia memanfaatkan sayapnya untuk menampung kabut sekitar hingga memenuhi kebutuhan air demi menunjang kehidupannya. Sonya mengaku, dari video itu Ia dan timnya mencoba mengembangkan inovasi teknologi berupa jaringan atau instalasi air yang menggunakan kabut sebagai sumber utama untuk menghasikan air bersih. Lebih lanjut, Sonya menaruh kepercayaan besar atas penerapan dan pengembangan inovasi teknologi tersebut sekitar 10-20 tahun mendatang. Menurutnya, Potensi alam tanah air dan inovasi ini merupakan kombinasi yang sangat tepat untuk diterapkan. Ia berharap kombinasi ini nantinya dapat memberikam kontribusi nyata kepada masyarakat. “Dengan beberapa rangkaian proses riset dan penyempurnaan uji kelayakan secara berkala. Saya yakin, inovasi teknologi ini menjadi salah satu solusi potensial yang dapat membantu mengatasi permasalahan krisis air bersih yang belakangan terjadi di pulau Jawa, serta daerah lain yang mengalami permasalahan krisis air,” tuturnya. Inovasi itu lahir berkat tekad yang kuat, kerja keras tim, serta dukungan para dosen. Bahkan ide itu berhasil mengantarkan Sonya dan timnya melaju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Meski demikian, Sonya juga menceritakan kendala dan tantangan yang harus mereka lewati. Ini adalah kali pertama Sonya dan timnya mengikuti forum kompetensi PKM-GFT. Ia mengaku waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan dokumen cukup singkat, sehingga membuat mereka sempat tidak percaya diri. “Namun, tantangan dan kendala tersebut Alhamdulillah bisa kami lewati berkat dukungan baik dosen pembimbing dan rekan tim yang selalu support kesuksesan inovasi ini. Apalagi UMM selalu mendukung apapun potensi dan ide yang dimiliki oleh mahasiswanya sehingga kami lebih percaya diri. Saya juga ingin agar anak-anak muda lain bsia turut memberikan ide untuk bumi yang lebih baik,” tambahnya. (din/wil)
Mahasiswa UMM Kembangkan Pengawet Makanan Alami

Indonesia merupakan negara maritim dengan komoditas ikan yang tergolong berlimpah. Maka tidak heran apabila masyarakat pesisir pantai banyak memanfaatkan hasil panen tangkap ikannya untuk dijadikan konsumsi ataupun dijual. Tentu saja hal tersebut tidak lepas dari kualitas kesegaran ikan yang harus tetap dipertahankan. Hal itu mendorong tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah malang (UMM) untuk melakukan riset dna mengembangkan pengembangan bahan pengawet alami yang nantinya dapat digunakan pada fillet ikan. Ketua tim Ibnu Hafid mengatakan, riset ini dilakukan untuk berkompetisi dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang akan diadakan pada tanggal 14-19 Oktober di Surabaya. Terkait risetnya, kombinasi senyawa edible coating dan bacteriocin dapat dijadikan peluang alternatif pengawet yang tahan lebih lama. Kandungan bacteriocin tersebut didapatkan dari bakteri usus udang yang bernama litopenaeus vannamei. “Kita ingin bereksperimen dan melakukan riset di kedua senyawa ini. Apakah lebih baik jika senyawa-senyawa ini dikombinasikan atau diaplikasikan secara terpisa dan dari hasil riset kami mengungkapkan bahwa senyawa edible coating dan bacteriocin lebih baik apabila dikombinasikan,” kata mahasiswa teknologi pangan tersebut. Menurutnya, masyarakat Indonesia cenderung suka menyimpan makanan yang seringkali cepat basi. Maka dari itu banyak masyarakat yang mengolah sisa makanan tersebut berkali-kali ataupun menggunakan pengawet sintetis untuk dijadikan alternatif sebagai perpanjang umur simpan makanan. Hafid mengungkapkan, pengawet sintesis yang banyak digunakan masyarakat dapat memberikan efek samping jika penggunaan dosisnya berlebihan. Maka pengawet alami yang kini sedang mereka kembangkan dapat menjadi solusinya. Apalgi dengan menggunakan dosis yang sangat rendah agar lebih efektif dalam mengawetkan makanan khususnya pada fillet ikan. “Umumnya ikan dapat bertahan di suhu ruang selama 18 jam. Apabila menggunakan pengawet alami ini maka dapat memperpanjangnya hingga umur simpan sekitar 2 hari di suhu ruang. Penggunaannya cukup mudah, yakni dengan mencelupkan daging ikan ke dalam cairan yang mengandung coating, kemudian ditiriskan dan ditunggu hingga kering,” jelasnya. Meski begitu, riset ini bukan tanpa tantangan. Mereka cukup kesulitan untuk mendapatkan senyawa yang dibutuhkan, bahka hingga sebulan. Beruntung, kampus UMM senantiasa membantu mereka dengan berbagai dukungan. Mulai dari fasilitas, motivasi, pelatihan, bimbingan, hingga biaya. Sehingga, banyak sekali kemudahan dalam melaksanakan eksperimen riset terkait pengembangan pengawet alami ini tersebut. Sebagai penutup Hafid berpesan kepada para konsumen agar lebih aware dalam mengkonsumsi makanan. Apalagi melihat ada beberapa produsen yang masih tidak taat regulasi dalam penggunaan bahan tambahan pangan terutamanya pengawet makanan. Adapun Hafid tidak sendiri dalam pengembangan riset ini. Ia ditemani Abida Zahrotul Hartinia dan Byarna Ayu Apriliani mahasiswa Akuakultur, serta Dyas Nurhidayah Putri mahasiswa dan Dinda Putri Ayuningtyas dari prodi Teknologi Pangan. (zaf/wil)
Cerita Alumnus UMM yang kini Jadi Fisioterapis Tim Voli Nasional

Adalah Muhammad Fauzan Algifari, lulusan S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang meniti karir sebagai fisioterapis profesional. Sejak mahasiswa, ia memang sudah aktif menjadi asisten laboratorium (Aslab) dan kini sukses menorehkan jejak sebagai fisioterapis di tim voli nasional. “Kurang lebih dua bulan setelah menyelesaikan pendidikan profesi, saya mendapatkan kesempatan emas untuk bergabung dalam tim voli nasional sebagai fisioterapis. Kesempatan ini menjadi pengalaman berharga yang mempertemukan saya dengan atlet-atlet nasional hingga internasional,” katanya. Sebagai fisioterapis, Algi mengemban tanggung jawab yang tidak ringan. Tugas utamanya mencakup empat aspek yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Selain itu, Algi diberi wewenang untuk memberikan medikamentosa kepada para atlet, tentunya atas koordinasi dengan dokter. “Dalam mengerjakan tugas, kami juga dituntut untuk mampu memberikan pendekatan khusus kepada pemain yang mengalami cedera agar psikis mereka tetap terkontrol,” ungkapnya. Selain itu, Algi juga memberikan perhatian khusus dalam mengedukasi para pemain untuk menjaga kondisi tubuh mereka. Ia menekankan pentingnya istirahat yang cukup, penggunaan pelindung seperti tapping, dan memastikan para atlet melakukan pendinginan atau cooling down setelah latihan. Algi merasa bahwa ilmu yang diperoleh dari bangku perkuliahan serta pendidikan profesi di UMM sudah sangat relevan dengan kebutuhan fisioterapi olahraga saat ini. Namun, tantangan terbesar yang ia hadapi adalah tekanan untuk segera memulihkan pemain yang mengalami cedera. Menurut Algi, fisioterapi di dunia voli masih sangat terbuka luas. Ia berharap ke depannya lebih banyak lulusan UMM yang berkarir dan berkarya di bidang ini. “Jangan pernah takut untuk mencoba hal baru, karena fisioterapi di bidang olahraga sangat menjanjikan dan dapat menambah relasi dengan luas,” pesan Algi kepada para rekan-rekannya sesama lulusan fisioterapi. Algi yakin, dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, fisioterapis Indonesia mampu memberikan kontribusi besar dalam dunia olahraga, khususnya voli, baik di tingkat nasional maupun internasional. (*/wil)