Pewarna Makanan dari Ekstraksi Serangga? Begini Penjelasan Pakar UMM

Dalam dunia makanan dan minuman, warna adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi selera konsumen. Perwarnaan makanan tidak hanya berpengaruh pada aspek estetika, tetapi juga dapat mengindikasikan kualitas, kesegaran, dan bahkan keamanan makanan. Salah satu warna yang menarik perhatian industri pangan adalah karmin, yang berasal dari serangga Cochineal. Pakar teknologi pangan Universitas Muhammadiyah malang (UMM) Prof.Dr.Ir. Elfi Anis Sa’ati, MP. menjelaskan, karmin adalah pewarna alami yang digunakan secara luas dalam berbagai produk makanan dan minuman. Pewarna ini diekstraksi dari serangga Cochineal (Dactylopius coccus), yang hidup di Amerika Tengah dan Selatan. Bahkan sempat diperbincangkan tentang halal dan haramnya. Dosen yang akrab disapa Elfi ini mengungkapkan bahwa pewarna makanan karmin berdasarkan peraturan BPOM no 10/2019 dinyatakan aman dikonsumsi. Namun dalam penggunaannya tetap berpedoman sesuai batasan yang telah di tetapkan. Menurut Elfi, pewarna karmin tidak memberikan resiko kesehatan yang berarti dalam penggunaan jangka panjang jika sesuai pada takaran penggunaannya. “Maka dari itu perlu melakukan pengecekan juga terutama pada proses ekstraksinya. Apakah menggunakan pelarut yang aman atau tidak, karena itu juga berpengaruh,” ujar Elfi. Senada dengan hal tersebut, Elfi memaparkan terdapat beberapa kelebihan dari penggunaan pewarna karmin. Di antaranya menjadi pilihan pewarna alami non sintetis, kemampuan untuk memberikan warna merah yang cerah dan menarik pada produk makanan dan memiliki stabilitas warna yang baik, terutama dalam produk makanan yang mengalami pemanasan atau penyimpanan yang lama. Ini memungkinkan produk makanan untuk tetap mempertahankan warna aslinya selama masa simpan. Selain itu, pewarna karmin dapat digunakan dalam berbagai jenis produk makanan dan minuman, termasuk permen, minuman berkarbonasi, yogurt, dan makanan pencuci mulut. “Namun jika ragu apakah pewarna karmin tersebut halal atau tidak, beberapa alternatif pengganti pewarna karmin pada industri makanan dapat dipilih. Di antaranya menggunakan pewarna pigmen antosianin dan sejenisnya yang menyumbangkan warna alami merah, pink hingga keunguan. Contohnya ekstrak bunga telang, mawar merah, ungu, atau biru, rosella, ubi ungu, angkak, buah duwet, buah naga dan kulitnya serta anggur. Pigmen lainnya atau karotenoid juga bisa di dapat dari sumber alami lain seperti buah tomat, worte dan yang lainnya,” pungkasnya mengakhiri. (rev/wil)
Hasil Penelitian Dosen UMM Temukan Khasiat Kamandi Saebo

Masyarakat Madura identik dengan ramuan jamunya. Tradisi ini dijaga turun temurun untuk merawat ibu pasca melahirkan, sakit gigi hingga mengatasi berbagai masalah kesehatan lain seperti hipertensi. Meskipun terkenal akan kemujaaarabannya, keberhasilan jamu tradisional ini belum teruji secara ilmiah. Salah satu tumbuhan yang sering digunakan sebagai bahan ramuan oleh masyarakat pedesaan di Madura adalah Kamandin Saebo, sebuah tanaman endemik Madura. Temuan ini mendorong Dr. Dra. Elly Purwanti, M.P., selaku dosen di Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk melakukan penelitian menarik mengenai kandungan tumbuhan tersebut. “Kamandin Saebo, bernama latin Glossocardia leschenaultii (Cass.) Veldkamp merupakan tumbuhan endemik Madura yang hanya tumbuh subur di Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep, Madura. Tumbuhan berupa rumput ini banyak digunakan untuk campuran berbagai ramuan,” jelasnya. Sesuai dengan arti katanya, ‘Saebo’ dalam Bahasa Madura berarti seribu. Secara umum, Kamandin Saebo dipercaya oleh masyarakat Madura memiliki manfaat dan khasiat sebagai tumbuhan mujarab untuk menyembuhkan segala penyakit. Setelah melaksanakan penelitian ini, Elly dan tim menemukan bahwa Kamandin Saebo ternyata mengandung beragam komponen bioaktif yang bermanfaat sebagai imunomodulator. Komponen inilah yang memiliki peran penting dalam meningkatkan daya imun tubuh terhadap serangan penyakit. “Sebenarnya, Kamandin Saebo juga memiliki kandungan yang tinggi akan flavonoid, terutama yang disebut dengan zat rutin. Sehingga hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah mengapa penggunaan jamu efektif dalam meningkatkan imunitas tubuh,” tambahnya. Untuk mendukung penelitiannya, Elly berhasil mendapatkan pendanaan tambahan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2023-2024. Ia tidak sendiri, namun juga melibatkan dosen Pendidikan Biologi lainnya yaitu Moh. Mirza Nuryady, S.Si., M.Sc dan Tutut Indria Permana, M.Pd. Selain itu, turut serta pula dosen Farmasi UMM yakni Dr. Hidajah Rahmawati, S.Si., Apt., Sp.FRS dan Apt. Amalia Dina Anggraeni, M.Farm. Elly memaparkan, proses penelitiannya tidak berjalan mulus. Musim kemarau yang panjang membuat pengumpulan sampel Kamandin Saebo menjadi sulit. Upaya deteksi komponen-komponen aktif dalam sampel yang terbatas menjadi salah satu kendala. Setelah musim hujan tiba, uji coba dilakukan kembali dengan hasil yang memuaskan. Selain mencari tahu potensi kandungan zat tersebut, penelitian ini lanjut Elly, bertujuan sebagai bioprospeksi serta memastikan perlindungan dan pemanfaatan ekonomi yang bijaksana terhadap sumber daya genetik. Menariknya, hasil penelitian ini juga dalam proses paten. Hasil penelitian Kamandin Saebo ini juga diharapkan dapat mendorong standarisasi dalam pembuatan jamu tradisional. Mulai dari komposisi Kamandin Saebo yang harus terkandung dalam setiap jamu, hingga proses higienitas dan standar pembuatan lainnya yang harus dipenuhi. “Di harapkan jamu tradisional Madura, khususnya yang menggunakan kamandin saebo, dapat menjadi lebih dikenal dan diapresiasi tidak hanya secara lokal tetapi juga secara global sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia yang kaya akan kekayaan alamnya,” pungkasnya. (law/wil)
Sekjen Kesejahteraan Sosial Filipina Bicara di Hadapan Wisudawan UMM

Ribuan wisudawan memenuhi Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 14 Mei ini. Untuk memebrikna inspirasi dan motivasi, Kampus Putih turut menghadirkan Secretary of Social Welfare and Development Filipina H.E. Rex Gatchalian untuk menceritakan kisah perjuangan suksesnya. Begitupun juga wejangan dari Menko PMK RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Dalam orasinya, Gatchalian awal perjalanan karirnya yang dimulai dari seorang wakil divisi penjualan dan pemasaran hotel di Filipina. Kemudian, ia mencoba terjun ke dunia politik dengan mengikuti jejak kakaknya pada 2007. Jatuh bangun ia rasakan, hingga akhirnya bisa mencapai posisi yang saat ini diemban. Meski sudah mencapai posisi sekarang, ia tidak berpuas diri dan masih mencari arti kesuksesan. Menurutnya, kesuksesan tidak hanya berkisar pada materi semata tapi juga apa saja dampak dari apa yang sudah kita lakukan. “Kesuksesan itu bukan bentuk dari uang, jabatan, kekuatan,atau hal lainnya. Kesuksesan didapat dari efek positif apa yang diberikan kepada masyarakat,” ucapnya. Untuk itu, ia berpesan agar para wisudawan selalu ingat lima hal yang dapat membantu dalam menghadapi kehidupan setelah perkuliahan. Pertama adalah menyambut ketidakpastian. Maka mereka tidak boleh untuk membuat kesalahan karena hidup itu adalah proses mencoba dan terus mencoba. Kedua, tidak takut untuk meminta bantuan karena setiap manusia pasti membutuhkan bantuan kecil untuk mencapai tujuan. Ketiga, menjaga keharmonisan batin dan tidak goyah dengan apa yang dikatakan orang lain. Keempat, menjaga integritas diri dengan mempertahankan prinsip yang sudah dibuat. Kelima mempetaam keahlian yang dimiliki. “Manusia tidak bisa hanya hidup dari apa yang dipunyai saat ini, namun juga terus menerus belajar dari apa yang lalu,” tegasnya. Sementara itu, Muhadjir meminta wisudawan untuk selalu mengingat dan memanfaatkan apa yang sudah didapat selama empat tahun di UMM. Apalagi keluarga dan masyarakat di daerah masing-masing pasti berharap banyak agar wisudawan mampu menghadapi tantangan dunia di masa depan. “Jangan terlalu berlarut dalam kesenangan. Sebagai manusia coba cari tantangan baru yang bisa membawa kamu ke jenjang yang lebih tinggi. Tantangan dan kesulitan itu bukan untuk dihindari namun diselesaikan,” tegasnya. Hal serupa juga disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Prof. Dr. Dyah Sawitri, M.M. Ia memberikan wejangan bahwa wisudawan perlu punya skill dan pengetahuan agar mampu bersaing di era emas. Salah satunya melalui program Center of Excellence yang dimiliki oleh UMM. Program ini terbukti memiliki kontribusi nyata dalam mencetak generasi unggul sesuai dengan minatnya. Terakhir, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. selaku Rektor UMM mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan. Menurutnya, wisuda adalah isyarat bahwa para wisudawan akan terjun ke masyarakat dan dituntut untuk memberikan apa yang mereka punya. Dorongan utama dalam hidup bukanlah kesenangan semata, melainkan penemuan dan pencarian yang bermakna. “Untuk itu, pegang kuat janji pada almamater UMM dan berikan yang terbaik bagi masyarakat. Bekerja keras, cerdas, dan tidak menjadi beban untuk masyarakat,” pungkasnya. (tri/wil)
Sosiologi UMM Bahas Nusantarisasi untuk Lepas dari Paradigma Kolonial

Nusantarisasi kunci melepaskan ddiri dari pengaruh paradigma kolonial. Hal itu ditegaskan Prof. Mohammad Reevany Bustami, Ph.D. selaku pemateri internasional dari Universiti Sains Malaysia pada kuliah tamu internasional prodi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Agenda yang dilaksanakn pada 14 Mei tersebut diramaikan oleh ratusan mahasiswa dan tamu yang antusias. Lebih lanjut, Bustami, sapaannya, mengatakan bahwa nusantarisasi sangat penting. Termasuk bagi para ilmuwan sosiologi untuk mentransformasi ilmu sosial nusantara yang berbasis diri. Menurutnya, masyarakat akan bisa menggunakan potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia untuk melihat dan memahami dunia dengan sudut pandang dan konstruksi berpikir sendiri. “Dengan demikian, kita bisa menggunakan pikiran, bahasa, kebijaksanaan, dan warisan budaya kita untuk memahami realitas yang ada dengan lebih baik. Selain itu juga untuk menemukan solusi atas masalah yang dihadapi sambil tetap berhubungan harmonis dengan dunia di sekitar kita tanpa terjebak dalam pandangan penjajah,” tuturnya. Ia menjelaskan bahwa konsep nusantarisasi bukan hanya wacana, tapi juga merupakan panggilan untuk memperkokoh identitas dan kekuatan kolektif bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan global. Dengan melepaskan diri dari pengaruh kolonial, Indonesia dapat menggali potensi yang ada dan membangun pemahaman serta solusi yang autentik sesuai dengan realitas dan nilai-nilai lokal. Ini juga sebagai cara menjaga harmoni dengan lingkungan sekitar. Sementara itu, Wakil Dekan I FISIP UMM Najamuddin Khairur Rijal, M.Hub.Int. menekankan dukungan penuh akan kegiatan serupa. Hal itu tak lepas dari upaya peningkatan pemahaman dan wawasan mahasiswa akan nusantarisasi dalam konteks ilmu sosia. “UMM memang selalu menyediakan berbagai pilihan dan cara untuk menambah wawasan baru para mahasiswa. Maka, jangan sampai saudara menyia-nyiakan potensi dan kesempatan yang ada. Ikuti seminar dan konferensi kemudian tingkatkan pengetahuan lewat agenda-agenda tersebut. Sehingga ketika nanti turun ke masyarakat, saudara bisa memberikan solusi inovatif akan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat,” tegasnya. Adapun agenda itu dipandu langsung oleh Ketua Prodi Sosiologi UMM Luluk Dwi Kumalasari, M. Si. Yang membawakan dengan lancar. Adapun para mahasiswa yang terdiri dari angkatan 2020-2023. Luluk berharap, nusantarisasi bisa menjadi landasan para anak muda untuk menemukan solusi. Jadi, tidak terkungkung dan terjebah di paradigma kolonial. (*wil)
Dosen UMM Gagas Pemilu Langsung Hakim MK, Sabet Juara Nasional

Kabar membanggakan kembali datang dari sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adalah Sholahuddin Al Fatih, S.H., M.H. yang sukses meraih artikel terbaik dalam ajang 1st Sharia Writing Competition 2024 di Palangkaraya pada awal Mei ini. Hal itu tak lepas dari ide menariknya terkait pemilihan umum untuk memilih haki mahkamah konstitusi (MK) di Indonesia. “Alhamdulillah, tentu saya senang dengan penghargaan ini. Capaian ini sekaligus bukti bahwa tidak hanya mahasiswa dan tendik UMM saja yang berprestasi, tapi juga para dosennya yang juga harus ikut berprestasi. Kan guru itu digugu lan ditiru, semoga menjadi inspirasi bagi seluruh sivitas akademika yang ada,” ujar Fatih Adapun Fatih menulis tentang pemilihan Hakim MK secara langsung oleh rakyat karena melihat model pemilihan hakim MK sekarang kurang akuntabel dan transparan. Model sembilan hakim yang dianut Indonesia meniru kroean representatives. Masing-masing lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif memilih tiga hakim. Hal itu juga membuka kemungkinan akan adanya peluang conflict of interest. “Kan kemarin ada mantan legislator yang jadi Hakim MK. Ada pula Hakim MK yang tersandung kasus, mulai etik hingga pidana. Nah kita mau coba gagas pemilu secara langsung. Memang minusnya adalah berbiaya tinggi, tapi bisa menjadi legitimasi rakyat bahwa memang Hakim MK yang terpilih itu bernar-benar dipilih dan didukung oleh rakyat,” tambahnya. Pemilu langsung Hakim MK tersebut modelnya seperti pemilihan umum, dengan melibatkan rakyat sebagai pemilik suara. Hal itu esuai dengan slogan demokrasi, ‘dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat’. Selanjutnya, Fatih berharap agar ide tersebut bisa menjadi topik diskusi dan kembali diteliti oleh akademisi yang lain, sehingga bisa menjadi masukan untuk perbaikan kelembagaan MK kedepan. Lebih lanjut, dosen fakultas hukum itu menjelaskan bahwa cara ini memang tidak menjamin akna mendapatkan sumber daya manusia terbaik. Namun hal ini membuat pemilihan hakim MK lebih transparan dan akuntabel sehingga masyarakat bisa tahu dan tidak berprasangka buruk. “Sebenarnya, pemilihan langsung hakim MK ini sudah dipakai di beberapa negara bagian di Amerika dan tidak dipilih dari lembaga lain. Jadi lebih transparan dan tidak menimbulkan banyak prasangka,” katanya. Fatih juga menjelaskan bahwa selain berbiaya mahal, model ini juga memungkinkan munculnya sengketa. Apalagi memang pemilu identik dengan sengketa. Meski begitu, sudah ada lembaga yang memiliki tugas memeriksa dan memantau kinerja hakim, yakni komisi yudisial (KY). Di samping itu, ide ini juga dirasa belum bisa dijalankan karena tidak adanya aturan yang mengatur. Bisa juga melalui peraturan pemerintah,preaturan presiden, atau bahkan juga peraturan MK. “Memang belum ada atruan yang mengakomodir model ini. Tapi undang-undang MK bisa diamandemen dan diatur lebih lanjut. Sebenarnya ada potensi dalam pasal bahwa ‘pemilihan MK diatur secara demokratis, akuntabel dan transparan’. Sayangnya, pemahaman kita selama ini hakim MK hanya dipilih oleh lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Padahal frasa itu juga bisa dipahami dengan menggunakan model pemilihan umum,” katanya mengakhiri. (*wil)
Alquran dan Sastra Arab Mirip? Begini Kata Dosen UMM

Sastra Arab memang memiliki sejarah yang kaya dan melibatkan berbagai genre dan penulis terkenal. Mereka menyajikan keindahan bahasa melalui gaya puisi yang unik, perumpamaan yang indah, dan metafora yang menawan. Sastra Arab digunakan sebagai sarana ekspresi kreatif dan hiburan. Sementara itu, bahasa arab Al-Qur’an juga dikenal karena keindahannya yang luar biasa. Mulai dari struktur kalimat yang mempesona, hingga makna-makna mendalam. Bahasa Alquran mengandung pesan-pesan agama dan pedoman untuk kehidupan Muslim. Meski terlihat serupa, Murdiono, S.S., M.Pd.I. selaku dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan, sastra Arab dan bahasa dalam Alquran berbeda. Menurutnya, karya sastra baik dalam bentuk prosa maupun puisi, memiliki struktur bervariasi dengan kebebasan kreatif bagi penulis. “Utamanya untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan menggunakan gaya bahasa seperti majas, metafora dan simile,” katanya. Sementara Alquran, dengan struktur ayat yang unik dan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna, berfungsi sebagai pedoman hidup yang mengandung hukum, etika, sejarah, serta ajaran spiritual dan moral. Bahasa dalam Alquran, menunjukkan kekreatifan dalam penyampaian pesan dengan penekanan pada kejelasan dan ketegasan sebagai wahyu langsung dari Allah yang tidak berubah dalam teksnya. Alquran memiliki pengaruh yang besar terhadap sastra Arab. Bahasa yang digunakan dalam Alquran menjadi sumber inspirasi bagi penulis sastra Arab. Banyak karya sastra Arab yang terinspirasi oleh ayat-ayat Alquran, baik dalam penggunaan bahasa maupun tema yang diangkat. “Meskipun ada perbedaan antara sastra Arab dan bahasa Alquran, terdapat juga kesamaan di antara keduanya, yakni sama-sama memiliki keindahan bahasa yang luar biasa dan mampu memukau pembaca atau pendengar. Baik sastra Arab maupun bahasa Alquran memiliki daya tarik dan kekuatan yang unik,” tambahnya. Murdiono melanjutkan, penggunaan kata-kata indah dan khas dalam sastra Arab klasik menggambarkan keindahan alam dan emosi manusia, sementara metafora, majas, dan perumpamaan digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan emosional dalam syair yang indah dengan struktur kalimat yang rumit dan puitis. “Di sisi lain, Alquran menggunakan kosakata umum dan istilah khusus yang unik, dengan gaya bahasa yang sederhana namun jelas, serta struktur kalimat yang langsung dan tegas, memudahkan pemahaman pesan-pesan ilahi,” ucapnya. Walaupun memiliki keindahan masing masing, terdapat elemen keindahan sastra yang unik dalam Alquran yang tidak ditemukan dalam karya sastra Arab. Alquran menggunakan teknik retorika seperti repetisi, perumpamaan, penekanan, dan kontras untuk menyoroti pesan-pesan penting secara efektif, dengan struktur yang teratur dan harmonis. “Meskipun memiliki bagian-bagian yang berbeda, Alquran tetap konsisten dalam penyampaian pesan-pesannya, seringkali mengandung makna mendalam dan banyak lapisan yang memungkinkan interpretasi yang beragam dalam berbagai konteks. Daya tarik spiritualnya kuat, mampu menyentuh hati dan jiwa pembacanya, memberikan inspirasi, ketenangan, dan motivasi. Relevansinya tidak hanya pada zamannya, tetapi juga dalam konteks zaman modern, menjadikannya sumber inspirasi bagi berbagai situasi kehidupan manusia,” tutupnya. (lai/wil)
Jubir Prabowo Beri Edukasi Politik di UMM

Edukasi politik tidak hanya penting bagi kelas menengah ke bawah, tapi juga harus diberikan pada kalangan menengah keatas dan yang berpendidikan. Hal itu ditegaskan oleh Jubir Menteri Pertahanan RI Dr. Dahnil Anzar Simanjutak, M.E. dalam diskusi Harmoni Membangun Negeri di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 13 Mei ini. Acara yang dilaksanakan Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM dan bertajuk ‘Refleksi Kedewasaan Berdemokrasi Pasca Pemilu 2024’ itu dihadiri pemateri andal serta ratusan anak muda. Lebih lanjut, Dahnil menjelaskan bahwa kebanyakan masyarakat yang ekonominya lemah biasanya berlalu dan melanjutkan hidup mereka setelah pemilu usai. Sementara, sebagian kelas menengah ke atas akan ‘tantrum politik’ dan benci dengan lawan politik terpilih. “Kalau ingin demokrasi kita bisa sehat, salah satu syaratnya adalah tingkat pendidikan masyarakat yang baik. Sementara, rata-rata lama sekolah masyarakat kita hanya ada di kisaran 7,2 tahun atau bisa dibilang tidak lulus SMP. Maka pendidikan politik itu penting dan harus meluas ke seluruh kelompok,” katanya. Dahnil juga membahas mengenai bagaimana pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan berpolitik. Menurutnya, Mbah Dahlan selalu bersikap kooperatif. Beberapa peneliti juga menyebut sikap ini sebagai rival politic atau di era sekarang disebut dengan mitra kritis. “Kalau menurut saya, politik Mbah Dahlan ini adalah politik yang alokatif, tidak misuh ke Belanda secara terbuka tapi terus meningkatkan akselerasi sosial dan dahwah melalui Muhammadiyah,” katanya. Terkait pemilu, ia mengatakan bahwa demokrasi Indonesia masih cukup berantakan. Intelektualitas yang baik dan rekam jejak tidak akan berpengaruh besar jika tidak ada dana atau uang. Saat ini, politik dikuasai oleh mereka yang memiliki darah politik atau oleh mereka yang memiliki uang yang banyak. Meski begitu, ia juga memberikan cara untuk menghadapinya yakni dengan politik taawun atau politik gotong royong. Sementara itu, Direktur Eksekutif DEEP Indonesia Neni Nurhayati M.Ikom. menjelaskan tentang peran anak muda dan harapan demokrasi Indonesia di masa depan. Menurut data, indeks demokrasi Indonesia masih pada taraf demokrasi yang cacat. Neni juga mengatakan bahwa 57% anak muda di bawah 40 tahun yang masuk di DPR terindikasi memiliki hubungan dengan politik dinasti, kekerabatan, dan oligarki. “Melihat situasi seperti ini, maka akan susah untuk bisa bergerak bebas dan fair dalam persaingan menuju parlemen. Indikasi ini juga menutup ruang anak-anak muda untuk bisa masuk sistem. Mungkin ada beberapa yang punya modal sosial, tapi sayangnya tidak memiliki modal kapital. Ini tentu mempersulit anak-anak muda untuk berkecimpung,” katanya. Reformasi politik yang digaungkan oleh partai politik juga sukar untuk dilakukan. Melihat beberapa partai politik yang tidak melakukan reformasi partai dengan menjadi ketua partai bertahun-tahun. Bagaimana bisa memberikan kesempatan dan peluang anak muda juga partainya saja enggan untuk melakukan reformasi. Maka salah satu peran anak muda yang bisa dilakukan dalam menghadapi hal ini adalah dengan merebut narasi publik yang masih kosong. Termasuk narasi-narasi yang ada di media sosial. “Perubahan besar tidak akan terjadi jika tidak dimulai dengan perubahan-perubahan kecil. Kita harus saling bahu membahu dan berkolaborasi,” tegasnya. Hal menarik juga disampaikan Cendekiawan Muhammadiyah Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. Ia menyoroti pentingnya sosial kapital dalam memperkuat harmoni demokrasi pasca pemilu. Menurutnya, masyarakat Indonesia memiliki kekuatan sosial yang dapat digunakan untuk mengatasi tantangan sosial. Dalam konteks politik, ia menekankan bahwa pemilihan calon kandidat seharusnya didasarkan pada nurani individu, bukan sekadar aliran atau janji manis semata. “Sementara itu, peran anak muda menjadi kunci dalam menggalang perubahan menuju demokrasi yang lebih baik. Untuk itu, mereka perlu memiliki modal sosial yang kuat, termasuk saling percaya dan bekerja sama untuk membangun harmoni dalam kehidupan berdemokrasi,” ujarnya. Keterlibatan anak muda dalam struktur politik juga menjadi esensial dengan memberikan perhatian dan empati kepada pemimpin. Terlebih, hal ini juga berfokus pada reformasi sistem pendidikan. Dengan demikian, keterlibatan anak muda memberikan perubahan yang signifikan dalam menciptakan transformasi positif bagi masa depan demokrasi Indonesia. Di sisi lain, Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. menyambut baik diskusi tersebut. Menurutnya, tema yang dibawa menarik dan berada pada momen yang tepat karena Indonesia baru saja melaksanakan pesta demokrasi. Ia juga mengutip pernyataan beberapa politikus tentang keadaan demokrasi Indonesia. “Ada politikus yang bilang bahwa politik Indonesia itu unpredictable. Ada juga yang bilang bahwa demokrasi di Indonesia masih berada di tataran perut dan belum dewasa. Apakah benar demikian? Mungkin nanti akan ada penjelasan menarik dari para pemateri. Semoga kita juga termasuk masyarakat yang dewasa dalam berdemokrasi,” pungkasnya. (wil)
Dosen UMM: Judi Online Bisa Terjerat Pidana Berat

Judi adalah permainan dengan memakai uang atau barang berharga sebagai taruhan. Praktik judi, termasuk judi togel, bukanlah hal asing di Indonesia. Di Indonesia, praktik perjudian dilarang. Namun, faktanya masih banyak masyarakat yang berjudi. Penting untuk diketahui bahwa terdapat sanksi pidana yang mengintai bandar judi dan para pemainnya. Tinuk Dwi Cahyani, S.H., S.HI., M.Hum. Ph.D. selaku dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa penyelesaian kasus judi ini tergantung dari jenisnya. Misalnya judi togel yang mudah dideteksi, penyelesaian dapat dengan proses non litigasi. “Bisa melalui restorative justice atau melalui mediasi dan seterusnya,” kata Tinuk. Jenis judi yang lain seperti online dan lainnya yang lebih canggih atau nilainya lebih besar, maka bisa menggunakan sistem peradilan pidana. Artinya menggunakan proses litigasi, agar memberikan efek yang jera. Namun yang harus diperhatikan adalah memberantas sampai ke akar-akarnya. “Ini harus diperhatikan. Tidak dapat disamakan, judi kelas kecil yang ada di desa-desa dengan judi kelas kakap,” tambah Tinuk. Bagi pelaku judi online, lanjut Tinuk, dapat dikenakan UU ITE pasal 27 (ayat 2). Hukuman untuk mereka yang melanggar adalah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Kalau untuk bandar, gabungan antar UU ITE pasal 27 ayat (2) dengan UU ITE pasal 45 ayat (2). “Kalau dalam KUHP kita, bisa dilihat pada pasal 303 ayat (1) dimana para pelaku judi ini dapat diancam pidana penjara minimal 10 tahun atau pidana denda paling banyak Rp25 juta. Kemudian, ketentuan Pasal 303 bis ayat (1) KUHP mengatur ancaman hukuman pidana penjara maksimal 4 tahun atau denda paling maksimal Rp10 juta,” jelasnya. Indonesia adalah surganya judi online karena tidak ada pajak, sehingga negara tidak memiliki keuntungan apa-apa. Jika di bandingkan dengan Malaysia, judi online memiliki tempat khusus. Kemudian, dananya tersebut nantinya akan dialirkan terpisah dengan perolehan pemasukan-pemasukan harta yang bersih. “Jangan sampai Indonesia dijadikan tempat untuk berjudi, tapi yang menikmati hasilnya malah negara-negara lain,” ucapnya. Menurut Tinuk, untuk mencegah beredarnya judi, peran pemerintah sangatlah penting. Perlu ada tindakan tegas, termasuk kementerian dan semua yang terkait. Jangan sampai orang yang memiliki pengaruh, seperti aparat penegak hukum turut andil bermain judi. “Diharapkan pelaksanaannya bisa tegas sesuai dengan aturan hukum yang berlaku,” pungkas Tinuk. (dev/wil)
Dosen UMM: Gen Z Sering Gunakan Bahasa Inggris, Bahasa Daerah Terancam Punah

Di era digital yang semakin berkembang, Generasi Z Indonesia lahir sebagai ujung tombak inovasi linguistik. Generasi ini semakin terhubung dengan Bahasa Inggris yang mudah dipelajari melalui media sosial. Bahkan, istilah-istilah seperti Laugh Out Loud (LOL) dan For Your Information (FYI) yang dulunya khas dalam Bahasa Inggris, kini telah diadopsi dalam percakapan sehari-hari. Menurut Masyhud, M.Pd. selaku dosen Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ada pergeseran preferensi dalam penggunaan Bahasa Inggris saat ini dengan masa lampau. “Contohnya, dulu Bahasa Inggris masih tekstual (baku) dan dipelajari melalui buku-buku pembelajaran. Namun, sekarang apapun yang ada di media sosial, itulah yang diserap,” jelasnya. Selain itu, ia beranggapan bahwa perubahan ini tidak hanya mencakup penggunaan kata-kata, tetapi juga pada pola komunikasi secara keseluruhan. Terlebih, generasi Z kini lebih memilih Bahasa Inggris untuk mengekspresikan dirinya, baik lisan maupun tulisan. “Kecanggihan teknologi juga mengakibatkan tidak adanya batasan dalam berkomunikasi baik dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, Gen Z juga lebih sering menuliskan sesuatu melalui media sosial,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa masifnya penggunaan Bahasa Inggris ini memberikan dampak positif bagi Gen Z. Contohnya saja, kian maraknya pekerjaan baru menjadi copywriting, content writer dan sebagainya. Sehingga, penggunaan Bahasa Inggris tidak hanya terpaku pada komunikasi verbal, tetapi juga secara tertulis. Saat Gen Z semakin nyaman menggunakan bahasa Inggris, muncul konsekuensi terhadap keberadaan bahasa lokal. Masyhud menyampaikan bahwa bisa saja bahasa yang semula dianggap asing ini menjadi bahasa kedua. “Peningkatan penggunaan Bahasa Inggris dapat mengancam keberlangsungan bahasa daerah, karena pemahaman dan penggunaannya menurun di kalangan generasi muda. Cepat atau lambat akan mempengaruhi punahnya bahasa lokal,” tegasnya. Meskipun demikian, penggunaan Bahasa Inggris oleh Gen Z terkadang juga dapat dilihat sebagai upaya untuk terlihat ‘keren’ di media sosial. Dalam konteks ini, juga sebagai simbol identitas digital yang lebih modern dan modis. Namun, ada kemungkinan bahwa kecanggungan masih dirasakan ketika menggunakan Bahasa Inggris di lingkungan masyarakat yang lebih tradisional. Masyhud pun menegaskan bahwa adaptasi terhadap bahasa Inggris adalah sebuah keharusan di dunia yang semakin terkoneksi. “Gen Z harus siap untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, karena tantangan global tidak mengenal batas. Dengan demikian, pergeseran dalam penggunaan bahasa menjadi cerminan dari perubahan yang lebih besar dalam cara Gen Z berinteraksi dan beradaptasi dengan dunia yang semakin terhubung melalui media sosial,” pungkasnya.(lai/wil)
Angkat Isu Pendidikan Anak, Mahasiswa UMM Menangi Lomba Essay Nasional

Mengangkat isu kesejahteraan pendidikan anak, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jadi juara satu lomba esai tingkat nasional mengalahkan kampus ternama lainnya. Adalah Qurrota A’yun, mahasiswi semester enam Fakultas Hukum yang berhasil menyabet juara pertama pada perlombaan esai tingkat nasional yang diadakan oleh Perpustakaan Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, 23 April 2024 lalu. Nuya, sapaan akrabnya, memang merupakan mahasiswi yang menyukai bidang kepenulisan. Ia membuat karya esai dengan mengangkat isu Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) yang masih belum memiliki fasilitas perpustakaan. “Kalau saya fokusnya di daerah Blitar. Karena sepengetahuan saya, di LPKA sana masih belum terdapat fasilitas perpustakaan yang mumpuni,” tambahnya. Apalagi mengingat pendidikan merupakan hal vital bagi seluruh anak, tak terkecuali bagi anak yang sedang di bina di LPKA. Anak usia dini cenderung memiliki mentalitas yang belum stabil, sehingga jika tidak ada fasilitas pendidikan seperti perpustakaan, dikhawatirkan ketika sudah keluar dari LPKA akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebagai informasi, LPKA merupakan lembaga pembinaan bagi anak-anak yang sedang menjalani masa pidana. Hal ini juga diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2021 tentang Sistem Peradilan Anak. Tak hanya dibina, anak-anak yang menjalani masa pidana di LPKA wajib mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak pada umumnya. Di balik itu, keahliannya dalam menulis sudah ia pupuk sejak kecil. Sejak SMP ia mulai aktif membuat cerita pendek dan mengikuti beberapa lomba kepenulisan. Saat SMA, ia juga aktif mengikuti lomba karya tulis ilmiah dan esai. Walaupun belum mendapat juara, namun keahliannya dalam menulis tak terhenti begitu saja. Bahkan ia sudah menggarap jurnal yang akan segera ia submit. “Memang, target saya itu lulus dengan jalur terbit jurnal dan tanpa skripsi. Maka dari itu, sejak semester tiga saya sudah mulai menulis jurnal kolaborasi bersama dosen,” ujarnya. Salah satu jurnal yang ia tulis mengenai hak masyarakat terhadap partisipasi politik yang saat ini masih di tahap editing. Pun jurnal yang mengangkat isu implementasi blue economy pada peraturan kelautan yang juga masih dalam tahap review. Tak hanya aktif di bidang akademik, Nuya juga aktif dalam beberapa organisasi seperti organisasi Badan Eksekutif mahasiswa (BEM) UMM sebagai staf kemendikbud dan UKM Atletik sebagai staf dokumentasi. Terakhir, ia sangat berterima kasih kepada orang tua dan pihak UMM yang telah memberikan dukungan penuh. Ia menceritakan, bahwa banyak sekali bantuan yang UMM berikan seperti bantuan akomodasi dan bimbingan dosen. Ke depannya, ia juga ingin tetap aktif untuk mengikuti perlombaan dan menulis jurnal. Karena ia memiliki cita-cita menjadi tim riset analisis dampak lingkungan dan dosen. “Untuk itu, pesan saya buat anak-anak muda agar aktif pada apa yang kamu sukai. Bisa saja, apa yang kamu sukai menjadi hal yang membawamu ke kesuksesan,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)