Cerita Alumnus UMM yang kini Jadi Fisioterapis Tim Voli Nasional

Adalah Muhammad Fauzan Algifari, lulusan S1 Fisioterapi dan Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang meniti karir sebagai fisioterapis profesional. Sejak mahasiswa, ia memang sudah aktif menjadi asisten laboratorium (Aslab) dan kini sukses menorehkan jejak sebagai fisioterapis di tim voli nasional. “Kurang lebih dua bulan setelah menyelesaikan pendidikan profesi, saya mendapatkan kesempatan emas untuk bergabung dalam tim voli nasional sebagai fisioterapis. Kesempatan ini menjadi pengalaman berharga yang mempertemukan saya dengan atlet-atlet nasional hingga internasional,” katanya. Sebagai fisioterapis, Algi mengemban tanggung jawab yang tidak ringan. Tugas utamanya mencakup empat aspek yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Selain itu, Algi diberi wewenang untuk memberikan medikamentosa kepada para atlet, tentunya atas koordinasi dengan dokter. “Dalam mengerjakan tugas, kami juga dituntut untuk mampu memberikan pendekatan khusus kepada pemain yang mengalami cedera agar psikis mereka tetap terkontrol,” ungkapnya. Selain itu, Algi juga memberikan perhatian khusus dalam mengedukasi para pemain untuk menjaga kondisi tubuh mereka. Ia menekankan pentingnya istirahat yang cukup, penggunaan pelindung seperti tapping, dan memastikan para atlet melakukan pendinginan atau cooling down setelah latihan. Algi merasa bahwa ilmu yang diperoleh dari bangku perkuliahan serta pendidikan profesi di UMM sudah sangat relevan dengan kebutuhan fisioterapi olahraga saat ini. Namun, tantangan terbesar yang ia hadapi adalah tekanan untuk segera memulihkan pemain yang mengalami cedera. Menurut Algi, fisioterapi di dunia voli masih sangat terbuka luas. Ia berharap ke depannya lebih banyak lulusan UMM yang berkarir dan berkarya di bidang ini. “Jangan pernah takut untuk mencoba hal baru, karena fisioterapi di bidang olahraga sangat menjanjikan dan dapat menambah relasi dengan luas,” pesan Algi kepada para rekan-rekannya sesama lulusan fisioterapi. Algi yakin, dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, fisioterapis Indonesia mampu memberikan kontribusi besar dalam dunia olahraga, khususnya voli, baik di tingkat nasional maupun internasional. (*/wil)
Seru! Inagurasi Gen 24 UMM Hadirkan Guyon Waton

Riuh ribuan mahasiswa baru (maba) penuhi helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 21 September ini. Itu tidak lepas dari kedatangan Guyon Waton dalam malam Inagurasi Gen 24 UMM. Mereka sukses menghibur para maba UMM dengan berbagai lagu-lagu hits yang dibawakannya. Kehadiran mereka sekaligus menambah suasana keceriaan yang sudah ada sejak Pesmaba lalu. Saat di panggung, vokalis Guyon Waton Faisal Bagus Ibrahim mengaku sangat senang menjadi bintang tamu dalam giat inagurasi tersebut. Menurutnya, kemeriahan yang ada sangatlah terasa dan berkesan baginya. Bagus, sapaan akrabnya, juga berpesan kepada seluruh maba Jas Merah Kampus Putih untuk belajar dengan rajin dan baik agar kelak menjadi orang yang sukses. “Keren sekali kampus UMM ini. Malam hari di Malang kali ini juga sangat meriah dan asyik. Kalian para mahasiswa baru UMM, saya doakan kelak menjadi orang yang sukses dan pastinya bisa membanggakan kedua orangtua serta mereka yang kalian sayangi,” ungkapnya. Sementara itu, salah satu maba yakni Maya Estianty Ega Litia mengungkapkan bahwa acara malam Inagurasi gen24 UMM ini sungguh menghibur. Menurutnya, UMM mempu menciptakan suasana yang sangat nyaman dan menyenangkan bagi ia dan teman-teman yang notabene masih seorang mahasiswa baru. “Acaranya keren banget dan sangat berkesan. Ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi para mahasiwa baru UMM. Bersama teman-etman baru mengawali perkuliahan dengan bahagia. Seluruh rangkaian penyambutan mahasiswa baru tahun ini tentu akan selalu saya ingat,” pungkasnya. Di sisi lain, Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. mengatakan bahwa Inagurasi Gen24 ini sengaja digelar oleh Kampus Putih untuk memunculkan euforia di lingkungan pendidikan. UMM ingin menciptakan situasi yang menyenangkan bagi para sivitas akademika, termasuk para maba. “Atmosfer pendidikan yang menyenangkan harus dibangun. Salah satu caranya itu dengan acara inagurasi ini. Hampir setiap tahun kami adakan dengan konsep yang berbeda untuk memberikan warna yang lain. Kalau diperhatikan, mahasiswa UMM ini kebanyakan jauh dari rumah. Nah, kami juga ingin menghadirkan harmoni kekeluargaan di kampus putih bagi mereka,” ungkapnya. Adapun mengundang Guyon Waton sebagai guest star merupakan salah satu bentuk apresiasi kepada musisi yang melestarikan bahasa daerah. Terlebih lagi saat ini bahasa daerah mulai tergerus oleh globalisasi. Terakhir, Ia berharap kepada seluruh mahasiswa baru untuk memanfaatkan segala momen kebersamaan yang telah diberikan oleh kampus untuk menambah teman, relasi, dan keakraban dengan sesama. (faq/wil)
Pembukaan Pesmaba UMM 2024 Ditandai dengan Pelepasliaran Ribuan Burung

Pelepasan ribuan burung perkutut menjadi pembuka gelaran Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 10 September ini. Mengusung tema ‘Generasi Digital Generasi Penyelamat Bumi’, mahasiswa baru UMM didorong untuk menjadi generasi pelopor dalam upaya penyelamatan bumi. Setidaknya ribuan mahasiswa baru (Maba) UMM yang dijuluki dengan Gen 24 UMM. Turut hadir Brigadir Jenderal Ramli SE. yang mewakili Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A. Panglima Kodam V/ Brawijaya. Ia mengakui bahwa UMM benar-benar menunjukkan komitmennya untuk menghadapi tantangan ke depan. Hal itu dibuktikan dengan ide-ide berkemajuannya dalam mencetak generasi yang unggul. Tidak hanya unggul bagi dirinya pribadi, namun juga unggul pagi lingkungan sekitar. “Kita tahu bersama bahwa UMM menjadi salah satu perguruan tinggi paling terkemuka. Apalagi sekarang memadukan antara narasi digital dan lingkungan. Ada korelasi yang sangat kuat dan stabil. Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu cepat. Meski begitu harus tetap memperhatikan upaya-upaya menjaga lingkungan,” ungkapnya. Terkait pelepasan ribuan burung perkutut lokal (geopleia striata), Kepala Infokom UMM Dr. Ir. Suyatno, M.Si. menjelaskan bahwa itu menjadi salah satu bentuk komitmen UMM untuk menjaga ekosistem dan pelestarian lingkungan. Utamanya dalam rangka menyukseskan misi penyelamatan bumi. Burung-burung ini dilepaskan dan bebas hidup di alam kemudian menciptakan harmoni dan lingkungan yang asri, indah, dan nyaman. “Sebelum dilepaskan, burung-burung tersebut sudah dipantau langsung oleh Kelompok Studi Satwa Liar (KSSL) Kehutanan UMM. Mulai dari aspek makan dan keperluan lainnya sampai mereka bisa hidup secara mandiri di lingkungan kampus,” ungkapnya. Hal lain yang tak kalah menarik adalah maskot SWANUMM yang menjadi simbol dari atmosfer prestasi dan keindahan kampus. Mendorong kehidupan yang mampu berdampingan dengan alam dan pelestarian satwa endemik. Ini juga sekaligus menjadi komitmen UMM untuk terus menjaga dan melestarikan bumi sesuai dengan nilai-nilai sustainable development goals (SDGs). Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. menyebutkan sederet alasan mengapa Pesmaba tahun ini mengampanyekan penyelamatan bumi. Hal itu berangkat dari realita bahwa banyak sumber daya alam mengalami penurunan kualitas. Maka, masyarakat harus mengambil tindakan cepat dan tepat. Khususnya para akademisi dan anak-anak muda yang harus disiapkan menjadi generasi penyelamat bumi. “Gen-24 ini memang kami proyeksikan sebagai generasi digital yang dapat berkontribusi secara signifikan dalam upaya penyelamatan bumi. Melalui pemanfaatan teknologi yang cerdas, kreativitas, dan semangat kolaboratif, generasi ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ungkapnya. Terakhir, Nazar sapaan akrabnya berharap bahwa ke depan Gen 24 ini dapat menjadi insan akademis yang kreatif serta inovatif. Sekaligus dapat menjadi pemimpin yang mampu mengabdikan diri kepada masyarakat dengan dedikasi penuh dan tetap menjunjung tinggi akhlakul karimah. (Faq/Wil)
Diskusi RBC Institute UMM: Pentingnya Kesadaran Perempuan Lawan Kekerasan

RBC Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah acara diskusi publik pada 19 September ini. Mereka berdiskusi terkait ‘Merawat Kesadaran Kritis Perempuan dalam Melawan Kekerasan’. Acara kolaborasi antara RBC Institute dan Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur itu menghadirkan Prof. Alimatul Qibtiyah, Ph.D. komisioner Komisi Nasional Perempuan Republik Indonesia sebagai pembicara utama. Dalam diskusi itu, Alimatul mengupas tuntas tantangan-tantangan yang dihadapi perempuan dalam melawan kekerasan, khususnya kekerasan seksual. Salah satu fokus utama yang diangkat adalah kesadaran kritis perempuan terhadap kondisi sosial-budaya yang sering kali memarjinalkan korban kekerasan seksual. “Banyak korban kekerasan seksual enggan melapor karena mitos yang masih kuat di Indonesia terkait keperawanan. Sementara mitos keperjakaan tidak ada. Kondisi tidak perawan sering kali dianggap menjijikkan sehingga korban memilih untuk diam. Belum lagi adanya reviktimisasi. Korban justru sering disalahkan kembali dengan ucapan-ucapan seperti, ‘kamu sih genit’ atau ‘kamu yang memancing’,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya merawat kesadaran kritis di kalangan perempuan agar mereka bisa melawan stereotip yang membatasi hak-hak mereka, termasuk dalam melawan berbagai bentuk kekerasan. Menurutnya, diskusi ini menjadi platform penting bagi para peserta untuk berbagi pengalaman, pandangan, dan strategi dalam mengatasi stigma yang mengakar kuat di masyarakat. Adapun acara yang terbuka untuk umum ini dihadiri oleh peserta dari berbagai lapisan masyarakat. Termasuk sivitas akademika dari berbagai universitas, perwakilan PDNA se-Malang Raya, dan siswa-siswi dari Sekolah Pesantren Enterpreneur Al Maun Muhammadiyah (SPEAM) Kota Pasuruan sebagai peserta termuda. Bahkan, banyak peserta datang dari luar kota seperti Trenggalek dan Pasuruan yang turut serta dala diskusi yang berlangsung di RBC Institute. Direktur Eksekutif RBC Institute Subhan Setowara berharap agenda itu dapat membuka ruang-ruang diskusi lebih luas di kalangan masyarakat untuk mendukung perempuan. Utamanya dalam perjuangan mereka melawan kekerasan, terutama melalui pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor sosial yang menyebabkan mereka sulit melapor atau bahkan tertekan secara psikologis. “Melalui diskusi ini, peserta dapat mengambil peran lebih aktif dalam merawat kesadaran kritis untuk mewujudkan lingkungan yang lebih aman dan adil bagi perempuan,” tegasnya. (*/wil)
UMM Potato Seeds Sukses Kembangkan Bisnis Benih Kentang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Potato Seeds menjadi salah satu unit bisnis yang terus berkembang. Bergerak di bidang hilirisasi dan komersialisasi hasil riset, unit ini sukses memproduksi benih kentang unggul bebas virus. Dengan semangat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas serta kontinyuitas produksi kentang di Indonesia, UMM Potato Seeds telah melakukan berbagai program, utamanya setelah mendapat dukungan dari Kementerian Ristek Dikti melalui Program Pengembangan Usaha Kampus. Koordinator UMM Potato Seeds Dr. Ir. Syarif Husen, M.P. menjelaskan, salah satu faktor kunci di balik kesuksesan unit bisnis tersebut adalah penerapan inovasi teknologi dalam proses produksi benih kentang. Teknologi Temporary Immersion Bioreactor (TIB) merupakan hasil pengembangan oleh tim peneliti UMM yang Syarif ketuai. Itu menjadi andalan inovasi dalam industri benih yang berjalan. TIB memungkinkan produksi benih kentang dalam skala besar dengan kualitas yang lebih baik dan waktu yang lebih singkat dibandingkan metode konvensional. Adapun UMM Potato Seeds tidak hanya berfokus pada inovasi teknologi, tetapi juga membangun kemitraan strategis dengan berbagai pihak terkait. Di antaranya dengan para petani, pemerintah, dan lembaga penelitian. Kemitraan ini memungkinkan pertukaran pengetahuan, akses ke sumber daya, dan distribusi benih kentang yang lebih luas. Dalam upaya meningkatkan swasembada benih kentang, UMM Potato Seeds menjalin kerjasama dengan mitra penangkar benih dasar yang tersebar di seluruh Jawa Timur. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat produksi benih berkualitas tinggi dan memenuhi kebutuhan petani di wilayah tersebut. Lebih lanjut, Syarif mengatakan bahwa meskipun telah mencapai banyak prestasi, UMM Potato Seeds masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan pemasaran ke luar Jawa, persaingan bisnis, dan perubahan iklim. Namun, tantangan ini juga membuka peluang bagi pihaknya untuk terus berinovasi dan mengembangkan produk-produk baru yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan yang dinamis. Dengan adanya UMM Potato Seeds, Syarif berharap mampu memberikan dampak ekonomi dan berkembangnya usaha penakar benih kentang dasar di Jawa Timur. Hal itu bis dilihat dari kajian ekonomi prospek profitabiltas dari usaha bisnis penangkar benih, baik benih penjenis maupun benih dasar kentang. Pada Profitabilitas usaha benih penjenis, produk yang dihasilkan dalam program ini adalah benih kentang bebas virus berupa plantlet dan didistribusikan ke seluruh Indonesia. “Bisnis ini diperkirakan mampu menghasilkan nilai nilai net present value sebesar Rp628.684.924. Sedangkan pada penangakar benih dasar kentang kelas G0 menghasilkan nilai nilai net present value Rp449.850.154,” katanya. Terakhir, Syarif menjelaskan bahwa UMM Potato Seeds berkomitmen mewujudkan visi untuk menjadi pusat unggulan dalam produksi benih kentang di Indonesia. Yakni dengan terus melakukan penelitian dan pengembangan, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas jaringan distribusi. Unit bisnis ini dinilai memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan benih kentang berkualitas skala nasional. “Terlebih dengan dukungan dari Program Usaha Kampus PUK dari Kementerian Ristek Dikti yang telah masuki tahun kedua ini. Hal ini tentu dapat meningkatkan omzet penjualan dan menjadi support untuk meningkatkan income generating kampus,” pungkasnya. (*/zaf/wil)
FKIP UMM Terpilih Jadi Anggota Konsorsium Pendidikan Guru Indonesia-Australia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terpilih sebagai anggota Konsorsium Pendidikan Guru Indonesia-Australia (PGI-A), akhir Agustus lalu. UMM menjadi salah satu dari sepuluh universitas di Indonesia yang proposalnya dinilai memenuhi syarat. Ini menjadi cerminan komitmen dan reputasi FKIP UMM sebagai LPTK terkemuka dalam mengembangkan mutu pendidikan guru baik di tingkat nasional maupun internasional. Adapun Konsorsium PGI-A adalah inisiatif strategis yang mengedepankan kolaborasi antara institusi pendidikan di Indonesia dan Australia. Pendanaan konsorsium ini bersumber dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dana mandiri PT Indonesia dan Australia, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) Indonesia, serta berbagai sumber daya potensial lainnya. Dalam konsorsium ini, FKIP UMM akan berkolaborasi dengan lima universitas terkemuka di Australia, yaitu Western Sydney University, University of Adelaide, Deakin University, Central Queensland University, dan University of Newcastle. Terkait hal ini, Dekan FKIP UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani MM. bersyukur dan menilai bahwa raihan ini adalah langkah penting dalam memberi kontribusi terhadap dunia pendidikan dalam skala yang lebih besar. Utamanya dalam meningkatkan kualitas pendidikan guru di Indonesia dan Australia. Kolaborasi ini tidak hanya akan membantu dalam mengembangkan kapasitas kelembagaan LPTK sebagai penyelenggara PPG yang menghasilkan calon guru profesional, tetapi juga memperkuat jejaring antara kedua negara dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Trisakti menambahkan bahwa ada lima kegiatan utama yang akan diimplementasikan dalam konsorsium ini. Misalnya saja menginisiasi program beasiswa untuk gelar S2 dan S3 bagi guru, praktisi pendidikan, dan dosen pendidikan guru, terutama dalam bidang-bidang penting seperti literasi, numerasi, pendidikan anak berkebutuhan khusus, kepemimpinan sekolah, serta lintas disiplin. Ada pula program non-gelar yang diusulkan termasuk micro credential, visiting scholar, dan post-doc berorientasi praktik, serta program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) untuk mahasiswa S1. Selanjutnya, konsorsium ini akan melaksanakan pengembangan kurikulum dan pembukaan kampus pendidikan guru di Indonesia. Kampus ini akan berfungsi sebagai pusat pengembangan guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan, serta pusat penelitian pendidikan dan program pascasarjana pendidikan atau pendidikan profesi. “Kelima inisiatif program yang akan diimplementasikan dalam skema jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang ini diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas pendidikan dan memperluas kesempatan bagi pendidik di kedua negara,” tambahnya. Secara teknis, pelaksanaan kegiatan dalam konsorsium ini akan terbagi dalam tiga tahap utama. Pertama, pertemuan G20S yang akan dilaksanakan untuk membentuk National Steering Committee (NSC) yang terdiri dari perwakilan kedua negara bersama dengan koordinator dari LPTK dan institusi pendidikan guru di Australia. Kedua, pembentukana sekretariat konsorsium yang akan mengelola administrasi dan koordinasi kegiatan. Ketiga, pertemuan berkala akan diadakan sekurang-kurangnya dua kali dalam setahun untuk memantau dan mengevaluasi kemajuan program. Dengan bergabungnya FKIP UMM dalam Konsorsium Pendidikan Guru Indonesia-Australia (PGIA), Trisakti berharap akan terjadi kemajuan yang signifikan dalam kualitas pendidikan guru di kedua negara. Inisiatif ini menegaskan adanya upaya bersama dalam memajukan pendidikan dan menciptakan peluang yang lebih baik bagi para pendidik serta calon guru. (*/wil)
UMM Potato Seeds Kembangkan Benih Kentang Lewat Stek Pucuk Berakar

Inovasi demi inovasi terus dikembangkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya yang UMM Potato Seeds yang mengembangkan benih kentang unggulan yang bertujuan meningkatkan hasil produksi dan pendapatan penangkar benih dan petani kentang. Adapun pengembangan ini dilakukan melalui program Pengembangan Usaha Kampus (PUK). Manajer UMM Potato Seeds Dr. Ir. Syarif Husen, M.P menjelaskan bahwa banyak keunggulan dari penggunaan stek pucuk berakar kentang ini. Di Indonesia, penggunaan benih stek pucuk berakar belum banyak dilakukan oleh penangkar benih dan petani kentang. Stek pucuk berakar (rooted apical cuttings) merupakan benih kentang yang dihasilkan dari menyetek tanaman induk kentang di dalam rumah kasa. Bermitra dengan UD. Sumber Tani, Syarif selaku ketua pelaksana kegiatan PUK mengaplikasikan teknologi tersebut di Kawasan Bromo yaitu di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan di mana lokasi mitra berada. Adapun dalam prosesnya, di dalam screen net dilakukan aklimatisasi benih penjenis kentang dalam bentuk planlet, yang berasal dari Laboratorium Kultur In Vitro UMM Potato Seeds. Syarif menjelaskan bahwa benih stek pucuk berakar memiliki beberapa keunggulan. Seperti waktu produksi lebih cepat yakni sekitar satu bulan dibanding benih umbi yang mencapai 4-5 bulan. Harganya juga lebih terjangkau (20 juta/ha) dibanding benih umbi (40 juta/ha). Apabila benih umbi memerlukan gudang penyimpanan, maka benih stek pucuk berakar ini tidak perlu. Selai itu pertumbuhan tanaman lebih seragam, terjaminnya kebenaran varietas (true off-type), panen yang juga lebih cepat sekitar 90-100 hari setelah tanam, dan penanaman lebih mudah dilakukan saat musim penghujan. “Stek pucuk berakar (rooted apical cuttings) merupakan sebuah inovasi yang dapat mengatasi masalah petani kentang terkait biaya kebutuhan benih yang cukup tinggi. Stek pucuk berakar memiliki keunggulan yakni pengadaan benih yang jauh lebih cepat serta memiliki harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan benih umbi,” katanya. Adapun kini teknologi rooted apical cuttings sudah banyak diterapkan oleh negara-negara besar penghasil kentang seperti Kenya dan India. Dibandingkan dua negara tadi, teknologi ini belum terlalu populer di Indonesia. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan teknologi rooted apical cuttings di Indonesia khususnya pada daerah sentra produksi kentang. Adapun produksi rooted apical cuttings dimulai dari kegiatan aklimatisasi benih penjenis kentang didalam rumah kasa, sehingga akan dihasilkan tanaman induk kentang. Dari tanaman induk kentang tersebut dilakukan penyetekkan dan menanamnya pada media tanam dalam pottray. Setelah dirawat selama tiga pekan, rooted apical cuttings sudah dapat digunakan. Syarif berharap, adanya inovasi teknologi rooted apical cuttings ini mampu berkontribusi secara langsung dalam memenuhi kebutuhan akan kentang di Indonesia. Apalagi harga benih dari stek pucuk berakar ini jauh lebih terjangkau. Ini diharapkan dapat meningkatkan penghasilan para petani kentang lokal. Selain itu juga bisa menurunkan angka persentase import kentang yang ada di Indonesia. (*/zaf/wil)
Kolaborasi UMM-ICLRS di Bidang Moderasi Beragama

Universitas Muhammadiyah Malang terus melebarkan sayap untuk melakukan kolaborasi internasional. Terbaru, Kampus Putih menjalin kerja sama dengan International Center for Law and Religion Studies (ICLRS) pada 14 September 2024 lalu. Selain prosesi penandatanganan antara kedua belah pihak, pada kesempatan itu juga dilaksanakan diskusi terkait Islam moderat bersama Ali Fauzi, mantan teroris bom Bali yang sudah bertaubat dan sukses menyelesaikan studi doktoralnya di UMM. Terkait kerjasama itu, Wakil Rektor IV Bidang riset, pengabdian, dan kerja sama UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi. Ph.D. menilai kolaborasi yang dibangun sudah tepat. Apalagi Muhammadiyah memang merupakan salah satu organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia. Didukung dengan kiprah Muhammadiyah di sektor penting seperti kesehatan, sosial, dan pendidikan. Salah satunya yang terlaksana di UMM. “Semoga kerjasama ini bisa menjadi awal program-program baik di masa depan. Apalagi beberapa dosen UMM dan anggota ICLRS juga sudah pernah berkolaborasi beberapa tahun lalu,” katanya. Salis melanjutkan, meski UMM kampus Islam, namun tidak memaksa sivitas akademika perempuan untuk mengenakan hijab. Ini merupakan bentuk Islam moderat yang dilaksanakan Kampus Putih yang memiliki prinsip bahwa mengenakan hijab harus berawal dari kesadaran diri agar ikhlas. Kesetaraan gender di UMM juga cukup baik. Bahkan jumlah perempuan yang berkarya di UMM melebihi laki-laki, termasuk di tingkat-tingkat yang tinggi. “UMM juga tidak hanya fokus di pendidikan, tapi juga memiliki unit bisnis yang bisa memberikan citra bahwa Islam juga maju. Kami memiliki tiga hotel, dua rumah sakit, bank, taman rekreasi, pom bensin, dan lain sebagainya. Pada kesempatan ini, kami juga mengundang para dekan yang diharapkan bisa menjalin kerjasama lebih lanjut,” kata Salis. Di sisi lain, Direktur ICLRS Prof. Brett Scharffs mengaku bahagia akhirnya bisa menandatangani MoU kerjasama dengan UMM. Selama ini, ia memang sudah banyak bersentuhan dengan sivitas akademika Kampus Putih. Harapannya, kedua belah pihak bisa saling mendukung dalam mempromosikan martabat manusia dan moderasi beragama. Ia yakin, UMM merupakan partner yang tepat dalam menjalankan program-program ke depan. “Saya sangat mengagumi cara-cara moderat di Indonesia, termasuk praktek Islam di Muhammadiyah. Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan Sekretaris Muhammadiyah Prof. Dr. Abdul Mu’ti. Ternyata ada banyak sekali anak-anak hingga anak muda yang menimba ilmu di lembaga-lembaga pendidikan milik Muhammadiyah. Semoga kerjasama UMM dan ICLRS bisa memberikan manfaat baik untuk moderasi beragama,” katanya mengakhiri. (Wil)
Fapsi UMM Latih Posyandu se-Malang Cara Menangani Anak ABK

Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menyelenggarakan kegiatan capacity building untuk keterampilan layanan psikologi pada 5-7 September 2024 lalu. Bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kota Malang, Fapsi UMM ingin meningkatkan keterampilan kader posyandu dalam menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Adapun program ini menjadi inisiasi penting dalam membentuk posyandu ABK yang berfokus pada intervensi dan penanganan anak dengan kebutuhan khusus, baik dalam skala kelompok, komunitas, maupun individu. Dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, para kader diberikan pelatihan intensif mengenai cara menghadapi dan mengintervensi ABK. Ni’matuzahroh, S.Psi., M.Si., Ph.D. selaku ketua panitia menjelaskan bahwa agenda itu sangat penting untuk membantu para kader posyandu agar lebih siap ketika dihadapkan langsung dengan anak-anak ABK. “Kami berharap, setelah pelatihan ini, para kader tidak kebingungan lagi dalam menangani ABK di lapangan,” ujarnya. Salah satu materi yang diberikan dalam pelatihan ini adalah teknik intervensi psikologis yang dapat diterapkan pada ABK di berbagai tingkat, mulai dari skala individu hingga komunitas. Para kader juga diajari cara menangani berbagai situasi yang sering terjadi dalam penanganan ABK, seperti kesulitan berkomunikasi dan perilaku agresif. Sehingga para kader mampu menghadapi ABK dengan cara yang tepat dan empati. Tak hanya pelatihan penanganan ABK, kegiatan ini juga menekankan pentingnya program berkelanjutan yang akan dijalankan oleh tiap posyandu. Para kader posyandu diminta untuk menyusun rencana program yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan. Beberapa posyandu membuat program bekerja sama dengan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan sosialisasi kepada warga setempat untuk memberikan pemahaman lebih luas tentang ABK. Selain itu, beberapa kader juga berinisiatif untuk menggandeng camat dan lurah setempat guna mendapatkan dana formal untuk kegiatan berkelanjutan. “Kami ingin memastikan bahwa program-program yang dirancang oleh kader posyandu bisa benar-benar diimplementasikan dan memberikan dampak positif bagi anak-anak ABK,” jelas Zahroh yang juga dosen Fapsi UMM. Beberapa program inovatif yang disusun oleh posyandu di antaranya melibatkan ABK dalam pembuatan barang prakarya. Hal ini bertujuan untuk menambah keterampilan mereka dan mempersiapkan ABK untuk berkarir di masa depan. “Kami akan melakukan monitoring berkala terhadap program-program tersebut bersama dengan psikolog dari fakultas, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial Kota Malang untuk memastikan semua berjalan sesuai rencana,” jelasnya. Lebih lanjut, Zahroh menegaskan bahwa kerja sama dengan berbagai pihak akan terus diperluas untuk mendukung keberlanjutan program ini. “Ke depan, kami akan berkolaborasi dengan Pusat Layanan Kesehatan (PLK), fisioterapi, dan dokter yang memiliki pemahaman mendalam tentang kondisi ABK. Dengan begitu, proses penanganan bisa lebih komprehensif,” katanya. Ke depannya, Fakultas Psikologi UMM berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan yang membantu meningkatkan kualitas pelayanan bagi ABK di Kota Malang dan sekitarnya. “Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi posyandu-posyandu lainnya di seluruh Indonesia untuk turut peduli terhadap ABK,” pungkas Zahroh. (Ri/Wil)
Dirjen Kementerian ESDM RI di Closing Pesmaba UMM: Peran Penting Anak Muda Selamatkan Bumi

Di hadapan ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM RI Prof. Dr. Eniya Listiani Dewi, M.Eng., IPU. tegaskan bahwa anak muda punya peran dalam transisi energi di Indonesia. Adapun ia hadir dan memerikan motivasi pada maba di penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM, pada 13 September 2024. Orasinya juga senada dengan tema Pesmaba UMM 2024, yakni ‘Generasi Digital Generasi Penyelemat Bumi’. Menurut Listiani, anak muda memiliki peran krusial dalam transisi energi di Indonesia, terutama melalui inovasi dan teknologi, riset dan pendidikan. Selain itu juga terkait perubahan gaya hidup. Sebagai generasi yang lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi, anak muda dapat menciptakan solusi inovatif di sektor energi terbarukan. “Generasi muda ini unik, kalian punya potensi lebih dalam mengembangkan teknologi seperti panel surya, turbin angin, dan baterai penyimpanan energi yang lebih efisien. Kalian juga bisa menemukan cara-cara baru untuk memanfaatkan energi bersih dengan biaya lebih rendah dan dampak lingkungan minimal,” ungkapnya. Menariknya, selama ini UMM telag secara langsung mengimplementasika teknologi untuk mengoptimalkan energi baru terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan dan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) serta optimalisasi panel surya sebagai sumber listrik alternatif di berbagai sektor. Ia juga menegaskan bahwa anak muda bisa mengambil peran dalam sektor riset dan pendidikan. Generasi muda yang terlibat di universitas atau lembaga penelitian dapat membantu menciptakan terobosan penting. Riset mereka dapat berfokus pada pengembangan teknologi energi terbarukan yang lebih canggih, serta mengintegrasikan energi bersih ke dalam jaringan listrik nasional. “Anak muda juga punya peran menyebarkan kesadaran di kalangan masyarakat luas tentang pentingnya transisi energi melalui program penyuluhan yang inovatif. Seperti yang kini ada di Kementerian ESDM yakni Patriot Energi dan Gerilya (Gerakan Inisiatif Tenaga Surya),” ungkapnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengucapkan selamat kepada seluruh maba yang kini resmi menjadi keluarga besar Jas Merah Kampus Putih. Ia mengungkapkan bahwa seluruh maba kini menjadi bagian penting dari sivitas akademika UMM. Nazar berpesan kepada seluruh maba UMM untuk terus belajar dan mengemabngakn skill serta memperluas pengetahuan. Apalagi Kampus Putih juga sudah menyediakan berbagai wadah. Ia menekankan untuk memanfaatkan waktu singkat 3,5-4 tahun di UMM untuk mengeksplorasi semua hal sebagai bekal menjadi generasi terbaik. “Saudara sekalian, anda adalah harapan kami untuk menjadi generasi yang terbaik menyambut Indonesia Emas 2045. Saudara akan memegang kendali di berbagai bidang dan menjadi pioner dalam membangun peradaban bangsa,” pungkasnya. (Faq/Wil)