Baitul Arqam PCA UMM, Membumi Lewat Peran Wanita Aisyiyah

Untuk memupuk jiwa kepemimpinan dan menjadi bukti nyata pengabdian masyarakat, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Baitul Arqam yang ditujukan bagi kepengurusan baru 2023-2027. Kegiatan tersebut dilaksanakan dua hari, dimulai sejak 9 Mei lalu. Masiyah Kholmi, MM. Ak. CA selaku Ketua PCA UMM mengatakan, tujuan Baitul Arqom Pimpinan Cabang Aisyiyah UMM adalah untuk mewujudkan dan meningkatkan kualitas pimpinan yang memiliki integritas, komitmen, militasi, ghirah, memiliki daya juang yang tinggi, serta wawasan dan profesionalitas. Kemudian juga, diharapkan peserta Baitul Arqom memiliki pemahaman yang benar terhadap ideologi gerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah. “Ibarat tanaman, harus memiliki akar dan tunas yang kuat dan tidak mudah goyah. PCA UMM diharapkan mampu sebagai penggerak organisasi Aisyiyah dan menjadi perempuan berkemajuan mencerahkan peradaban bangsa dan memberikan kontribusi. Termasuk untuk mengisi Indonesia Emas 2045,” ucap dosen akutansi itu. Di sisi lain, Prof. Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si selaku Ketua Pelaksana baitul arqam sekaligus menjelaskan ada beberapa kegiatan yang dilakukan selama dua hari. Mulai dari penguatan Anggaran dasar (AD) Anggaran Rumah Tangga (ART) serta visi misi Aisyiyah di tingkat akar rumput. Baru kemudian, di hari kedua melaksanakan sederet agenda seperti salat dhuha berjamaah, kajian pagi, serta outbond untuk mempererat tali silaturahmi antar pengurus. Sebagai rencana implementasi kontribusi dalam mengisi Indonesia emas, PCA UMM akan melakukan berbagai upaya seperti pengabdian masyarakat dan sinergi memajukan perguruan tinggi. Program tersebut akan disinergikan dalam perguruan tinggi serta dilakukan pada jenjang taman kanak-kanak atau sekolah dasar demi mewujudkan visi Aisyiyah yaitu sebagai penggerak wanita menuju masyarakat utama yang bahagia, sejahtera dan berkeadilan berdasarkan ajaran islam. Untuk itu, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. selaku Wakil Rektor V UMM turut bangga atas terselenggaranya baitul arqam bagi pengurus PCA UMM baru. Agenda ini dapat dijadikan ladang untuk saling memperkuat tali silaturahmi dan mengenal satu sama lain. Pun dapat menjadi implementasi nyata ke depannya untuk terjun ke masyarakat. “Baitul Arqam ini menjadi awal perjalanan PCA UMM ini untuk mengabdikan dirinya bagi masyarakat melalui kerja nyatanya,” pungkasnya. (tri/wil)
Deklarasi Dukung Palestina di UMM: Melihat Konflik dari Berbagai Perspektif

Sebagai bentuk dukungan penuh untuk Palestina, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar deklarasi dan diskusi konflik Palestina dan Israel. Dalam agenda yang dilaksanakan pada 7 Mei 2024 itu, ratusan sivitas akademika hadir dan memberikan dukungan berupa donasi, pemikiran, dan semangat agar Palestina dapat segera bebas dan menghentikan konflik yang berkepenjangan. Acara ini juga dilaksanakan serentak oleh 172 perguruan Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Indonesia dalam waktu yang sama. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa diskusi dan deklarasi ini mencoba memberikan berbagai perspektif akan tragedi kemanusiaan di Palestina. Dukungan akan lebih bagus lagi jika memahami konsep dan hal yang sedang terjadi. Apalagi Indonesia memang tidak mengamini kekerasan antar manusia. Adapun Kampus Putih UMM juga telah mengambil berbagai sikap tegas dukungan untuk Palestina, misalnya dari segi finansial hingga kemanusiaan. “Pada agenda ini, sudah ada Pak Boy dan Pak Haryo yang akan memberikan penjelasan dan pencerahan. Bagaimana kita seharusnya bersikap dan melihat konflik Palestina-Israel dari berbagai perspektif. Sehingga bisa mendapatkan gambaran secara eksplisit tentang hal ini,” katanya. Diskusi menarik juga tersedia dalam acara itu. Turut hadir Pradana Boy ZTF, Ph.D. yang memberikan penjelasan menarik. Menurutnya, meski Indonesia memiliki banyak ideologi keagamaan, namun konflik yang terjadi di Palestina benar-benar bisa menyatukan mereka. Sayangnya, dukungan besar ini tidak dibarengi dengan pemahaman konflik yang cukup. Berbagai upaya juga sudah dilakukan oleh masyarakat, termasuk dari sederet ormas yang ada. “Misalnya saja Muhammadiyah yang sudah bantuan finansial ke Palestina sebesar 45 miliar rupiah yang terkumpul melalui Lazismu. Memberikan pendidikan dan pelatihan bagi para pengungsi Palestina, hingga memperkuat dan pemberdayaan ekonomi. Selain itu, adapula Nahdatul Ulama (NU) yang turut berkontribusi mendukung kebebasan Palestina. Misalnya saja dengan tujuh statement tentang posisi NU, bantuan dana, dan dukugan narasi di media sosial untuk mendukung Palestina,” tambahnya. Di samping itu, Boy juga menjelaskan beberapa tantangan dalam dukungan pada Palestina. Beberapa di antaranya pemahaman yang cukup akan konsep dukungan dan konflik, kurangnya persatuan sikap politik dari neara-negara muslim, hingga penyediaan dukungan substansial yang fokus pada solusi atas inti masalahnya. Sementara itu, Haryo Prasodjo selaku pakar pemikiran politik Islam mengatakan bahwa konflik Palestina-Israel harus diliat dari berbagai perspektif, bukan hanya dari aspek agama saja. Namun juga pada sisi politik, militer, ekonomi dan lainnya. “Apalagi ada juga aktor-aktor internasional yang berkecimpung. Siapa yang memasok rudal atau iron dome? Siapa yang diuntungkan dari konflik di tanah Palestina ini? Hal ini tentu sangat kompleks,” katanya. Ia mengatakan, perlu meilihat juga dari struktur hubungan internasional. Palestina dan Israel tidak berdiri sendiri, pasti ada negara yang mendukung mereka. Misalnya Indonesia yang selalu siap mendukung Palestina. Begitupun dengan aspek hukum dan konsensus internasional “Permasalahannya adalah kita berada pada satu sistem bersama, yakni persyarikatan bangsa-bangsa (PBB). Di dalamnya, pemegang hak veto kebanyakan adalah negara yang mendukung dan pro Israel. Ini menjadi tantangan yang cukup menantang,” katanya. Haryo juga memberikan sederet kunci keberhasilan agar Pelastina mendapatkan haknya. Dimulai dengan penguatan struktur internal pemerintahan Palestina. Kemudian juga memotong dukungan pendanaan dan politik, misalnya dengan memboikot produk pendukung Israel. Begitupun dengan dukungan solid dan konkret dari negara-negara musli serta posisi Indonesia untuk memberikan bantuan kemanusiaan di sana. (wil)
Kasus Mental Health Meningkat, Dosen UMM Jelaskan Penyebab dan Solusinya

Jumlah pengidap masalah kesehatan mental di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2024, diperkirakan jumlah penderita masalah kesehatan mental di Indonesia akan mencapai 3,24 juta orang. Peningkatan jumlah pengidap penyakit mental ini memasuki berbagai kalangan usia, tidak hanya remaja. Meningkatnya populasi yang mengalami gangguan mental disebabkan oleh berbagai faktor. Nandy Agustin Syakarofath, S.Psi., M.A selaku dosen Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan, faktor-faktor tersebut dapat berupa perubahan lingkungan. Perubahan lingkungan ini mencakup perubahan sosial, ekonomi dan perkembangan teknologi. “Perubahan gaya hidup, materialisme dan industrialisasi yang terkait teknologi terkadang memunculkan tekanan sosial dan isolasi sosial sehingga memicu stres deperesi hingga bunuh diri,” jelasnya. Faktor selanjutnya karena adanya tekanan hidup yang meningkat dari waktu ke waktu seperti persaingan di dalam pendidikan, pekerjaan dan kehidupan sosial. Berbagai hal tersebut dapat memunculkan respon psikologis yang negatif. Seseorang yang kerap berada pada situasi yang memiliki tekanan hidup tinggi, termasuk tekanan akademik, ekonomi dan sosial. Ini sangat berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. “Juga pada individu yang mengalami situasi krisis seperti pandemi, perang, bencana alam. Ini karena menderita dalam situasi yang lama, dapat memunculkan kecemasan, stres dan berbagai isu kesehatan mental lainnya,” tambah Nandy. Ia pun menekankan, peningkatan angka individu yang bermasalah dengan kesehatan dan gangguan mental ini sebetulnya seperti fenomena gunung es. Data yang didapat hanya Sebagian saja dari kenyataan yang ada. “Sebagaimana bentuk gunung es yang hanya menonjolkan beberapa elemen di atas puncak, terdapat beberapa elemen penting lainnya yang tak terlihat sebab berada di bawah puncaknya. Ini disebabkan oleh riset yang semakin marak dilakukan sehingga didapatkan data atau temuan-temuan yang seperti itu,” ucapnya. Terakhir adalah keterjangkauan akses layanan kesehatan mental yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Alasannya mulai dari tingginya biaya pengobatan, pelabelan negatif dan fasilitas perawatan kesehatan mental yang masih minim di beberapa daerah. Dampaknya, individu yang bersangkutan akan terhambat saat ingin mencari perawatan yang mereka butuhkan. Untuk mengatasi hal ini, Nandy menyampaikan pentingnya upaya yang sifatnya mikro dan makro. Pada level mikro, pengidap harus diajari untuk meningkatkan kapasitas didalam mengelola emosi dan keterampilan koping stres. Sehingga ia akan mampu beradaptasi dan menangani stres dalam kehidupan sehari-hari. “Untuk tingkat makro, pemerintah harus lebih memperhatikan lagi akses terhadap layanan kesehatan mental, promosi lingkungan komunitas yang mendukung, pelatihan tenaga kerja masyarakat dan pembentukan kebijakan publik yang mendukung kesehatan mental,” tambahnya. Di akhir Nandy berpesan, semua lini dan stakeholder harus ikut bertanggung jawab terhadap isu kesehatan mental. Secara spesifik utamanya keluarga, sekolah, pemerintah, masyarakat, dan individu. “Kerjasama dari semua pihak tersebut sangat penting untuk membentuk lingkungan yang mendukung terhadap pertumbuhan pribadi dan masalah kesehatan mental yang dihadapi,” pungkasnya. (dev/wil)
Sambut 8 Doktor Baru, FKIP UMM Gelar Konferensi Internasional Pendidikan dan SDGs

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM) gelar Konferensi Internasional bertajuk the 2nd International Conference on Education, Teacher Training, and Professional Development (ICE-TPD). Dalam seminar yang diadakan secara hybrid pada 2 Mei ini, ratusan peneliti, pendidik profesional, pembuat kebijakan pendidikan, praktisi pendidikan, dan mahasiswa berkumpul untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan inovasi dalam tema “Transforming Education through Continuous Professional Teacher Development to Attain SDG’s”. Untuk membedah tema yang diangkat, FKIP UMM menghadirkan dua pembicara utama yaitu Asoc. Prof. Dr. Saifon Songsiengchai dari Rajamangala of Technology Krungthep University, Thailand dan Audrey Nicole Loyer Carlson dari Graduate Teaching Assistant, Department of Teaching and Learning, Washington State University, Amerika Serikat. Tak hanya itu, delapan doktor baru FKIP juga turut hadir menjadi pembicara undangan. Mengawali paparannya yang berjudul “Literacy Development: Foundations and Beyond”, Audrey Nicole Loyer Carlson menegaskan bahwa literasi adalah keterampilan dasar yang sangat penting dalam pembelajaran sepanjang hayat dan merupakan hak dasar manusia. Literasi dapat digunakan untuk mendukung pemerolehan bahasa kedua untuk mencapai kompetensi biliterasi. “Biliterasi adalah keterampilan untuk membaca dan menulis dalam dua bahasa dengan lancar. Dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam hal ini adalah Common Underlying Proficiency Model dan Translanguaging,” jelasnya. Untuk meningkatkan kompetensi ini, penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung. Beberapa hal yang dapat diterapkan yaitu mengimplementasikan membaca nyaring setiap hari dengan mengintegrasikannya dengan pembelajaran, melakukan pemodelan membaca lancar, menciptakan lingkungan kaya teks di sekitar kelas, dan mendorong siswa menggunakan bahasa secara aktif dalam komunikasi. Selanjutnya, Asoc. Prof. Dr. Saifon Songsiengchai memperkenalkan gagasan menarik tentang “SAIFON Guidelines” untuk pengembangan profesi guru prajabatan. Menurutnya, calon guru memerlukan pelatihan dengan metode yang memadai untuk mengembangkan kompetensi pedagoginya dalam rangka menjamin kualitas. “Hal ini tidak hanya penting, tetapi juga mendesak untuk dilakukan karena berdampak pada hasil belajar siswa dan kualitas pendidikan secara keseluruhan,” ungkapnya. SAIFON Guideline mencakup enam tahapan dalam rangka meningkatkan keterampilan mengajar calon guru Bahasa Inggris, yaitu survei kebutuhan guru, mengasosiasikan rencana pembelajaran dengan hasil survei, menginstruksikan strategi pengajaran, memberikan umpan balik pada praktik pembelajaran, mengobservasi praktik pembelajaran, dan menyampaikan masalah beserta solusinya. Yang pertama dan utama dalam penerapan SAIFON Guidelines dalam rangka mencapai SDGs adalah memperhatikan konten SDGs. “Calon guru perlu memahami apa saja konten SDGs dan alasan mengapa guru perlu meningkatkan kesadaran siswa terhadap SDGs. Dengan begitu, guru dapat menerapkan SDGs dalam pembelajaran melalui pembelajaran aktif,” tegasnya. Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, MM. dalam sambutannya mengatakan, konferensi internasional ini bertujuan untuk berbagi pengalaman tentang isu-isu pendidikan mutrakhir, khususnya tantangan, teori, dan praktik terbaik dalam meningkatkan kualitas guru. Hal ini merupakan wujud komitmen FKIP UMM untuk berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pendidikan dan mencetak guru profesional. “FKIP UMM telah berkomitmen untuk terus-menerus membina dan mengembangkan pengetahuan, serta menghasilkan guru profesional masa depan. Dan ICE-TPD ini adalah salah satu bentuk bagaimana FKIP UMM memfasilitasi gagasan seputar pendidikan dan peningkatan kualitas profesionalisme guru dalam konteks regional, nasional, dan internasional,” pungkasnya. Lebih lanjut, Prof. Ahsanul Inam, Ph.D. selaku wakilrRektor I UMM, mengungkapkan, selain menjadi medium silaturahmi akademik, konferensi internasional ini juga merupakan bentuk apresiasi atas prestasi delapan dosen FKIP UMM yang telah berhasil meraih gelar doktor. Kedelapan dosen tersebut yaitu Dr. Nur Widodo, M.Kes (Prodi Pendidikan Biologi), Dr. Agung Deddiliawan Ismail, M. Pd (Prodi Pendidikan Matematika), Dr. Dyah Worowirasti Ekawati, M.Pd (Prodi PGSD), Dr. Husamah, M.Pd (Prodi Pendidikan Biologi), Dr. Erna Yayuk, M.Pd (Prodi PGSD), Dr. Rina Wahyu Setya Ningrum, M.A (Prodi Pendidikan Bahasa Inggris), Dr. Alfiani Athma Putri Rosyadi, M.Pd (Prodi Pendidikan Matematika), dan Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd (Prodi PGSD). Ia berpesan agar para doktor melaksanakan tridarma perguruan tinggi yang berbasis pada pendidikan di era digital. Menurutnya, dalam pendidikan di era digital ini, ada tiga aspek yang harus diperhatikan yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, dan Big Data. Ketiganya hendaknya menjadi basis ketika ingin mengembangkan pembelajaran dan riset sehingga akan menghasilkan karya yang baik,” tandasnya. (wil)
Jadi yang Terbanyak se-Indonesia, UMM Loloskan 19 Proposal di P2MW

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menduduki posisi pertama capaian proposal yang lolos pendanaan terbanyak di ajang Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Sebanyak 19 dari 20 proposal yang diajukan mendapatkan pendanaan dari kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud-Ristek) pada akhri April lalu dan bersanding dengan beberapa kampus ternama lainnya. Hal ini menjadi salah satu kabar baik yang diterima UMM untuk terus mencetak generasi unggul di masa depan. Dr. Nur Subeki, ST,. MT selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni turut merasa bangga atas capaian mahasiswa UMM. Menurutnya, program seperti ini mendorong kemandirian mahasiswa dengan wirausaha. Terkait P2MW, Eki, sapaan akrabnya mengatakan bahwa mahasiswa dapat mengembangkan skill kepemimpinan dalam memanajemen sebuah kegiatan atau usaha. Program besutan Kemdikbud-Ristek ini memang bertujuan untuk mengembangkan usaha mahasiswa yang telah dijalankan dengan bantuan dana pengembangan dan pembinaan. Luarannya, bagi mahasiswa yang telah lolos seleksi akan melanjutkan perlombaan di kancah KMI Expo. Sebagai informasi, Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo merupakan ajang berkumpulnya wirausahawan mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk saling berkompetisi dan memperkenalkan produknya. Tahun ini, KMI Expo akan direncanakan diselenggarakan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. “Nantinya, proposal yang sudah didanai akan kami dibina oleh tenaga ahli yang mumpuni. Hal ini agar mereka tak hanya dapat merealisasikannya namun juga menjadi benar-benar menjadi sebuah ladang usaha dan tentunya berharap agar dapat melaju ke KMI Expo,” tambahnya. “Banyaknya proposal yang diterima tak lepas dari upaya yang sudah kami lakukan sejak lama. UMM telah mengembangkan dan menjalankan program wirausaha yang tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa ekonomi namun juga semua mahasiswa,” jelasnya. Program kewirausahaan UMM mendorong mahasiswa untuk menciptakan lapangan kerja secara mandiri dan mendorong pengembangan inovasi. Tak hanya bagi mahasiswa ekonomi, program ini dijalankan di setiap fakultas dengan mengandalkan setiap keahlian mereka. Misalnya seperti mahasiswa teknik yang memiliki program technopreneur atau mahasiswa pertanian yang memiliki program agropreneur. Bahkan, program unggulan UMM ini sudah masuk menjadi mata kuliah di berbagai fakultas. Mahasiswa juga diwadahi dengan seringnya bazar yang disediakan di berbagai event seperti wisuda. Eki menegaskan bahwa UMM tak hanya memberikan dukungan dalam bentuk akademik, namun juga memberi dukungan agar mahasiswa mengeksplor bakat minatnya, termasuk di dunia wirausaha. Jadi kampus tak hanya sebagai wadah untuk belajar akademik saja, namun juga menjadi ladang untuk menjalin relasi dan belajar berbagai hal Terakhir, berbagai usaha mahasiswa yang berhasil didanai diharapkan tidak hanya berhenti di KMI Expo saja. Tapi benar-benar dilanjutkan sehingga bisa membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Untuk itu, UMM juga tengah merancang pengembangan marketplace yang dapat digunakan oleh mahasiswa untuk menjual produk-produknya. Nantinya, marketplace ini akan dikelola secara khusus oleh UMM dan dapat diakses oleh mahasiswa yang memiliki usaha. Dengan hal ini, semoga usaha mahasiswa tak hanya mandek sampai di tingkat lokal saja, namun juga menyebar hingga pasar ekspor. “Kita bisa belajar dari rasulullah yang memulai perjalanan dari seorang pedagang menjadi khalifah. Ke depannya mahasiswa UMM juga tak hanya menjadi pemimpin, namun juga pemimpin yang memiliki usaha,” tandasnya mengakhiri. (tri/wil)
Gelar Seleksi Sivitas Akademika Terbaik, UMM Perkuat Kualitas SDM

Untuk mengukuhkan kualitas sivitas akademikanya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar seleksi dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa terbaik. Adapun seleksi tersebut dilaksanakan pada 30 April lalu di Rayz Hotel UMM. Turut hadir beberapa juri yang memiliki keahlian dan kemampuan mumpuni untuk menilai para kandidat. Wakil Rektor V UMM bidang AIK dan pengembangan SDM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. menjelaskan bahwa tujuan sebenarnya yang ingin dicapai adalah membangun kinerja dosen maupun tendik secara berkelanjutan. Selain itu juga mengkhidmatkan diri untuk meningkatkan kompetensi dan pelayanan secara berkesinambungan. Ada beberapa penilaian yang diberikan dalam seleksi tersebut. Untuk dosen berprestasi, penilaiannya meliputi tri dharma, yakni penelitian, pengaaran, dan pengabdian. Karya-karya internasional dan pengabdian yang memberikan kemanfaat pada masyarakat sesuai dengan bidang keilmuan juga menjadi penilaian khusus. “Bagaimana dosen tersebut mampu menghasilkan inovasi yang benar-benar bisa dirasakan dan dimanfaatkan masyarakat. Selain itu keaktifan di persyarikatan Muhammadiyah juga memberikan nilai plus. Baik itu aktif di kepengurusan maupun menggerakan pengambangan Muhammadiyah,” tambah Tri, sapaan akrabnya. Penilaian serupa juga diberikan pada tenaga pendidik atau pegawai. Bagaimana mereka bisa memaksimalkan kinerja utama, kinerja bulanan, dan lainnya. Begitupun dengan inovasi serta bagaimana mereka bisa melaksanakan pekerjaan dengan efisien. “Harapannya, tentu agar sivitas akademika UMM bisa terus meningkatkan kualitas. Berlomba-lomba dalam kebaikan dan mampu berpartisipasi aktif dalam Muhammadiyah,” katanya. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan, ada dua hal yang mempengaruhi pengembangan sumber daya manusia (SDM). Pertama, yakni bagaimana upaya institusi untuk mendorong SDM melalui sistem agar mampu meningkatkan skill, kompetensi, dan pengetahuannya. Selain itu perlu adanya capaian-capaian yang mudah diidentifikasi, ada indikatornya dan terukur. Kedua, yakni peningkatan skill dan kompetensi kerja melalui diklat maupun pelatihan. “Sebagai pembelajara di bidang strategi SDM, saya meyakini bahwa membangun ekosistem dan sistem yang mendorong orang untuk bekerja sebaik-baiknya adalah hal yang bagus. Mari kita lahirkan keunikan-keunikan UMM dengan mempraktekkan pergaulan yang Islami. Mudah-mudahanini menjadi langkah baik yang diridai oleh Allah SWT. Selamat semuanya, panitia, penguji, penilai, dan kandidat,” katanya mengakhiri. (wil)
Upacara Hardiknas di UMM

Terlihat ribuan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memenuhi Helipad Kampus Putih. Mereka melaksanakan upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2024 ini. Selain untuk menguatkan spirit pendidikan, agenda itu memberikan sederet penghargaan untuk dosen terbaik, pegawai terbaik, mahasiswa terbaik, dan tim hubungan masyarakat (Humas) prodi dan fakultas. Menjadi inspektur upacara, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menjelaskan bahwa peringatan ini meneguhkan bahwa pendidikan menjadi penyangga utama kemajuan peradaban bangsa. Momentun refleksi dan muhasabah harus dijadikan sebagai cara berpikir yang multiaspek. Terutama untuk memahami sejauh mana pendidikan menjadi energi penggerak kemajuan Indonesia. Menurutnya, bagi insan yang mengabdi dalam dunia pendidikan, sikap luwes dan komitmen untuk mengelola institusi dengan baik harus diutamakan di atas kepentingan lainnya. begitupun dengan penyedian solusi atas persoalan-persoalan pendidikan. “Ekonomi memang harus dijaga stabilitasnya, namun pendidikan juga harus diinvestasikan secara lebih masih. Terutama dalam pemerataan partisipasi dan kualitas masing-masing pendidikan,” kata Nazar, sapaannya. Maka dari itu, Nazar menegaskan bahwa sivitas akademika harus mampu memerkuat tekad-tekad dalam memajukan proses pendidikan melalui tugas dan peran masing-masing. “Semoga dengan peringatan ini, kita diberi energi tambahan untuk mengabdi. Memajukan pendidikan danmelahirkan generasi penerus yang unggul demi memajukan dan memakmurkan Indonesia,” tegasnya mengakhiri. Dalam upacara itu, turut hadir tim marching band yang memberikan menampilkan beberapa lagu. Mereka memberikan suntikan semangat bagi para tenaga pendidik, dosen, dan pegawai. Bahkan adapula tim paduan suara yang menampilkan lagu-lagu nasional serta daerah-daerah. (wil)
Kontribusi Riset dan Inovasi, UMM Raih 9 Paten HaKI

Sebagai pusat pengetahuan dan teknologi yang berkembang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki sejumlah temuan yang signifikan dari beragam kegiatan riset, pengembangan, rekayasa, dan inovasi. Terbaru, sederet dosen UMM bertemu dengan pemeriksa Direktorat Jenderal Kekayaan Indonesia (DJKI), pada 24 April lalu. Menariknya, para dosen itu berhasil mendapatkan 9 sertifikat paten yang dapat menunjang akreditasi kampus. Sofyan Arief, S.H. M.Kn. selaku ketua Sentra Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) UMM mengatakan bahwa dengan sertifikasi yang telah didapatkan menunjukkan eksistensi UMM yang siap bersaing di dunia industri. Produk paten yang dipresentasikan telah diajukan kurang lebih awal bulan Maret 2024 lalu. “Produk yang ditawarkan murni dari hasil temuan dosen UMM. Dengan begitu baik kampus dan para dosen yang berhasil meraih sertifikat paten memperoleh benefit yang istimewa. Salah satunya naiknya golongan jabatan para dosen,” jelasnya. Lebih lanjut, Sofyan menjelaskan, salah satu temuan yang sukses dipatenkan adalah Metode Pembuatan Belokan Pipa Model Irisan dengan Optimalisasi Koefisien garapan Dr. Ir. Moh. Abduh, S.T., M.T.,IPM.,ACPE.,ASEAN Eng. Metode yang diciptakan Abduh sungguh canggih dan rapi. Apalagi saat ini, proses memotong pipa model irisan diperlukan waktu dan tenaga yang besar tetapi hasilnya tidak maksimal. Maka, melalui temuan dosen UMM, hasil dari pemotongan didapatkan dengan sempurna. Sofyan, juga menyampaikan bahwa saat ini metode pembelokan pipa model irisan tersebut masih menjadi konsumsi kampus saja. Namun baik HaKI UMM dan Abduh selaku pencipta metode tersebut tengah mempersiapkan penawaran dengan cakupan yang lebih luas, seperti ke industri dan perusahan. Keberhasilan mendapatkan sembialn sertifikat paten tidak lepas dari monitoring yang dilakukan oleh HaKI UMM. Sofyan menyatakan, tiap bulannya tim HaKI UMM selalu memastikan proses dan hasil produk karya para dosen. Meski begitu, tidak jarang beberapa penelitian gagal. “Biasanya penelitian yang tidak tidak berhasil karena faktor eksternal. Misalnya saja karena bakteri yang ada di dalam penelitian bidang bioteknologi atau alat yang kurang lengkap dalam penelitian bidang evaluatif,” katanya. Adapun saat ini, HaKI UMM terus meningkatkan jumlah dosen yang mendapatkan sertifikasi paten. Selain itu juga mendorong dosen UMM untuk selalu berkarya dan mendapatkan apresiasi. Menurutnya, UMM tidak boleh puas dengan banyaknya paten yang sudah didapat. Namun harus mampu mencetuskan ide, inovasi, dan solusi lain. “Saat ini kami telah mempersiapkan para dosen untuk sertifikasi paten kembali dan masih dalam proses penelitian. Semoga setelah ini UMM mendapatkan lebih banyak sertifikat paten karena dapat menunjang akreditasi kampus dan prestasi dosen,” pungkasnya. (ri/wil)
Sarung Bukan Asli Indonesia? Begini Sejarahnya

Sarung merupakan sepotong kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya sehingga berbentuk seperti pipa atau tabung yang juga terlihat seperti berbentuk kotak. Kini sarung umumnya dilengkapi dengan berbagai ragam, corak, dan bahan yang berbeda di setiap daerah di Indonesia. Sarung bukanlah pakaian asli orang Indonesia, sarung masuk ke Indonesia sekitar abad ke-14 seiring dengan masuknya Islam ke Indonesia. Salah satu teori masuknya Islam ke Indonesia berasal dari Arab, termasuk Yaman (Hadramaut). Sarung diperkenalkan oleh orang-orang Hadramaut (Yaman) ketika mereka datang ke Indonesia. Dr. H. M. Nurul Humaidi, M.Ag. selaku dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam (FAI) mengungkapkan bahwa akibat interaksi, masyarakat Indonesia meniru kaum pendatang dari Yaman. Namun, di balik itu, orang Hadramaut menggunakan sarung bukan sebagai pakaian resmi, tetapi sebagai pakaian tidur atau pakaian santai. Dalam pandangan Islam, sarung memiliki manfaat yang sama dengan pakaian-pakaian yang lain yaitu sebagai penutup aurat dan sebagai ekspresi dari sopan santun dalam masyarakat. Karena awalnya dikenakan oleh pendatang dari Yaman yang beragama Islam, oleh karena itu penganut Agama Islam di Indonesia juga mengikuti cara muslim pendatang tersebut dalam berpakaian. Terlebih ketika penjajah Belanda datang ke Indonesia dengan pakaian model Eropa, bangsa Indonesia yang menganut agama Islam semakin memperkuat jati diri melalui pakaian sarung. Ini seraya menjadi upaya menolak orang-orang Eropa beserta atribut yang dikenakan, yakni pakaian ala Eropa. Karenanya, bisa dikatakan bahwa sarung merupakan salah satu bentuk perlawanan masyarakat muslim Indonesia terhadap Belanda. “Bahkan ketika itu, sampai ada fatwa yang mengharamkan model pakaian seperti Belanda (penjajah.red). Sehingga, sarung kemudian menjadi atribut yang mengandung identitas keagamaan Islam,” ujarnya. Tidak banyak negara yang mengenal pakaian sarung sebagai pakaian resmi. Namun selain di Indonesia, sarung juga dikenal masyarakat muslim di Malaysia dan Brunei. Dua negara tersebut masih serumpun dengan Indonesia yang disebut bangsa Melayu. “Jadi ini menjadi kebiasaan kaum muslim yang menggunakan sarung untuk berpakaian, tidak ada dalil yang secara tegas menganjurkan atau mengharuskan memakai memakai sarung untuk berpakaian atau beribadah. Dalil yang ada hanyalah menutup aurat dan menghiasi tubuh,” tambah Nurul. Di akhir ia menjelaskan bahwa sarung merupakan produk budaya Indonesia yang diadopsi dari kaum pendatang dari Yaman. Maka, sarung boleh digunakan atau tidak digunakan, sama seperti model pakaian yang lain. Masyarakat boleh memakai pakaian apapun, selama fungsinya untuk melindungi tubuh, menutup aurat, dan berdasarkan asas kepantasan. (dit/wil)
Peringati Hari Kesiapsiagaan Bencana UMM dengan Simulasi Terjun dari Gedung

Memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2024, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan pelatihan penanganan pertama bagi korban bencana, 26 April 2024 lalu. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa relawan siaga bencana (Maharesigana) UMM bekerjasama dengan Muhammadiyah Disaster Medical Center (MDMC) Wilayah Jawa Timur, Puska-pb UMM, MDMC Batu, Vertical Rescue Indonesia (Regional Malang), YEPE, Malang High Rope dan DIMPA. Kegiatan yang bertajuk Peringatan HKB di UMM ini menjadi salah satu upaya untuk membentuk kesadaran masyarakat untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana. Apalagi, Indonesia menjadi salah satu negara rawan bencana, sehingga pendidikan seperti ini sangat perlu bagi masyarakat. “Seperti slogannya ‘siap untuk selamat’. Adanya simulasi danpelatihan ini juga ditujukan agar tak hanya tim peyelamat saja yang mengetahui teknik penyelamatan, namun juga para masyarakat luas,” ujar Naibul Umam Eko Sakti, S.Ag., M.Si. selaku Wakil Ketua MDMC Wilayah Jawa TImur. Umam, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa simulasi yang dilakukan merupakan perwujudan kesiapsiagaan terhadap bencana sekaligus melatih keterampilan rescue mahasiswa. Diharapkan dengan adanya generasi yang sigap dapat menjadi tangan-tangan untuk memberi pendidikan dan menjadi tim penyelamat bagi masyarakat saat terjadi bencana. Sebagai informasi tambahan, PP Muhammadiyah memiliki program tangguh bencana, satuan pendidikan rawan bencana, dan tim siaga bencana di tingkat desa sebagai bentuk upaya membentuk sikap sigap masyarakat terhadap bencana. “Simulasi ini juga menjadi salah satu perwujudan kami dalam membangun kesiapsiagaan generasi mendatang terhadap bencana yang suwaktu-waktu dapat terjadi,” tambah Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si selaku Ketua Bidang Diklat MDMC Jawa Timur. Zakarija menambahkan, salah satu simulasi yang dilakukan berupa teknik penyelamatan bagi korban bencana di tebing atau gedung-gedung tinggi. Urgensinya adalah menyelamatkan korban yang sedang terluka dan tidak dapat menyelamatkan diri. Dalam prosesnya, mereka menggunakan berbagai macam teknik, salah satunya teknik HART (High Angle Rescue Technique). Adapula teknik ascending yaitu naik menggunakan akses tali, descending atau turun menggunakan akses tali, vertical rescue double rope evakuasi korban di tali secara vertikal, juga diagonal tension yaitu evakuasi korban dari ketinggian secara diagonal. Terakhir, Dr. Nur Subeki, M.T. selaku Wakil Rektor III UMM memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada tim Maharesigana yang bekerjasama dengan MDMC PP Muhammadiyah dalam melakukan simulasi tanggap bencana di UMM. Adanya agenda ini diharapkan dapat memenuhi cita-cita muhammadiyah untuk menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan umat. Dibalik banyaknya kasus bencana di Indonesia, pelatihan serupa dapat menciptakan generasi tangguh dan sigap terhadap bencana. Apalagi, melihat topografi UMM yang memiliki banyak gedung tinggi, sehingga pelatihan seperti ini sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya hal yang fatal. “Jika tidak ada generasi tangguh, maka bagaimana cara untuk meyakinkan masyarakat bahwa anak muda bisa menjadi penolong yang mumpuni di masa depan?” pungkasnya. (tri/wil)