Nobar Semifinal AFC Timnas di Helipad UMM, Ramai dan Penuh Doorprize

Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipenuhi para pendukung tim nasional Indonesia U-23, 29 April ini. Hal itu tak lepas dari tim UMM yang menyediakan agenda nonton bareng gratis pertandingan semifinal Asian Cup U-23 antara Indonesia dengan Uzbekistan. Menariknya, layar videotron sebesar 8×4 meter dihadirkan demi memanjakan para supporter. Tidak hanya nobar, para penonton juga berkesempatan mendapatkan hadiah-hadiah menarik yang sudah disiapkan panitia nobar. Terkait kegiatan itu, Kepala Humas UMM M. Isnaini, M.Pd. mengatakan, ini menjadi cara Kampus Putih dalam memfasilitasi sivitas akademika dan mahasiswa yang ingin mendukung timnas di semifinal Asian Cup U-23. Adapun Helipad dipilih sebagai lokasi karena melihat tingginya animo masyarakat Indonesia dalam mendukung timnas di kejuaraan tersebut. “Agenda ini kami laksanakan tanpa dipungut biaya. Para siviats akademika bahkan masyarakat bisa turut serta datang dan nonton bersama,” tegasnya. Lebih lanjut, ia juga menilai bahwa dukungan masyarakat merupakan salah satu cara warga negara dalam hal cinta tanah air. Tak jarang, dukungan itu menjadi energi tambahan bagi para pemain saat pertandingan, sekalipun tidak melihat di stadion. Terlebih lagi, sepakbola merupakan olahraga primadona bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. “Salah satu yang membuat banyak orang semakin mendukung timnas dalam kejuaraan AFC ini adalah adanya kesempatan melangkah ke Olimpiade Paris 2024. Jika berada menduduki juara pertama, kedua, atau ketiga, Indonesia berhak melaju ke Olimpiade. Adapun jika berada di posisi keempat, Kita mau tak mau harus bertanding di babak play-off dengan wakil benua lain,” jelas Krisna. Nobar seru tersebut juga menarik perhatian salah satu menonton, Devi Widiastuti. Meski jarang ikut nobar, namun ia merasa bahwa nobar pertandingan sepakbola memiliki keseruan tersendiri, apalagi pertandingan timnas Indonesia. Devi mengapresiasi pihak UMM yang sudah menyediakan wadah untuk menikmati pertandingan melalui layar yang lebar. Bahkan ada games-games berhadiah yang menarik. Menurutnya, sepakbola tidak hanya dimonopoli oleh laki-laki saja, perempuan juga bisa turut meramaikan, baik sebagai penonton maupun pemain. “Banyak juga yang bilang bahwa perempuan tertarik menonton sepakbola hanya karena wajah pemainnya yang tampan. Padahal sebenarnya, kami juga mendukung dengan tulus perjuangan timnas Indonesia di berbagai kejuaraan. Semoga Indonesia bisa mendapatkan hasil terbaik dan mampu melaju ke Olimpiade Paris. Menang atau kalah, kami akan selalu mendukung timnas Indonesia,” pungkasnya. (wil)
Pewaris Koruptor Meninggal, Siapa yang Bertanggungjawab? Begini Penjelasan Dosen FH UMM

Harta waris adalah wujud kekayaan yang ditinggalkan oleh pewaris kepada ahli warisnya. Bagaimanakah jika pewaris merupakan tersangka atau terdakwa tindak pidana korupsi? Radhityas Kharisma Nuryasinta, S.H., M.Kn. selaku dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan penjelasannya. Perlu diketahui bahwasa hukum pewarisan yang berlaku di Indonesia ada tiga jenis, yaitu hukum waris barat, hukum waris Islam dan hukum waris adat. Ketiga jenis ini masih berlaku dikarenakan faktor masyarakat Indonesia yang multikultural. Sehingga dengan adanya pluralisme masyarakat Indonesia, hukum waris ini adalah pilihan hukum. Tyas menjelaskan bahwa masyarakat boleh memilih ingin menggunakan hukum waris adat, hukum waris islam atau hukum waris barat. Hukum pewarisan ini tidak seperti Undang-Undang Dasar (UUD), serta Undang-Undang tindak pidana korupsi (UU Tipikor) yang memiliki hukum yang jelas. Sumber hukum waris barat adalah Burgerlijk Wetboek (BW) atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Kalau hukum waris Islam jelas bersumber dari Alquran. Sedangkan hukum waris adat, sesuai dengan tempat adat tersebut masih berlaku, seperti adat Minang, adat Batak, Bali, Jawa, dan lainnya. Unsur dari pada hukum waris ada tiga, yaitu pewaris atau pihak yang meninggalkan warisan, ahli waris yang menerima warisan dan objek. Pewarisan akan terbuka ketika pewaris meninggal. Selain aktiva seperti pendapatan berupa tanah, rumah dan aset lainnya, ada juga peninggalan pasiva seperti hutang, tanggungan biaya rumah sakit, biaya pemakaman yang juga merupakan harta waris. “Jadi tidak hanya mendapatkan aset, ahli waris juga bisa diwariskan hutang oleh pewaris termasuk mengembalikan aset negara jika pewaris dinyatakan sebagai koruptor,” katanya. Namun, ahli waris yang ditinggalkan tidak akan tiba-tiba dimintai pertanggungjawaban terkait aset negara yang belum memiliki putusan pengadilan. Pewaris harus dipastikan betul-betul bahwa ia merupakan terpidana koruptor dan aset yang dimiliki adalah aset negara. Setelah putusan pengadilannya jelas, barulah kemudian dicari aset-aset negara yang memang wajib dikembalikan. Ketika meninggal, kewajiban seorang koruptor tidak akan terhapus. Kewajibannya ini akan turun atau diwariskan ke ahli warisnya. Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan melakukan gugatan terhadap ahli warisnya terkait jumlah aset yang harus dikembalikan oleh ahli waris. Inilah alasan mengapa tindak korupsi disebut sebagai extraordinary crime atau kejahatan yang luar biasa. “Selain merugikan negara, korupsi juga merusak moralitas bangsa. Sehingga harus ada sanksi yang tegas sekalipun pelaku yang menjadi pewaris sudah meninggal,” jelasnya. (dev/wil)
Mahasiswa UMM Ini Raih Lima Terbaik Pilmapres, Siap Wakili Jatim di Nasional

Setelah sering kali menyabet prestasi, kini salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mendapat predikat terbaik lima pada ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2024 LLDikti wilayah 7 Jawa Timur pada 24 April 2024. Mahasiswa tersebut tak lain ialah Evita Leninda Fahriza Ayuni yang kini tengah belajar di Program Studi Teknik Mesin UMM. Menariknya, Evita juga berhak untuk mewakili Jatim di tingkat nasional dalam kompetisi serupa. Ia mengaku sangat senang dan tidak menyangka dapat mewakili UMM ke ajang nasional mewakili Jawa Timur untuk pemilihan mahasiswa berprestasi. Adapun ia juga bersanding dengan mahasswa terbaik dari berbagai universitas lain seperti UB, Unair, Universitas Kristen Petra, dan lain sebagainya. “Namun hal itu tak membuat saya minder. Saya tetap berusaha semaksimal mungkin dengan mengumpulkan berbagai prestasi dan skoring capaian unggulan serta membuat gagasan futuristik,” ujarnya. Di balik hal itu, Evita memang memiliki segudang prestasi yang ia maksimalkan untuk melaju ke jaang pilmapres ini. Mulai dari prestasi tingkat nasional seperti juara lomba mobil hemat energi 2022, memenangkan emas dan perak di ajang internasional Korea Selatan berkat inovasi alat pengukur kekasaran jalan, medali bronze di Thailand dan lain-lain. Hal ini membuat dirinya yakin dan berusaha sebaik mungkin serta percaya diri bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari universitas lain. Adapun gagasan yang ia sampaikan dalam ajang pilmapres juga menarik. Evita membangun gagasan futuristik dengan mengangkat kembali aspek produksi garam lokal di pulau madura dengan menerapkan sistem teknologi demi meningkatkan kuantitas dan kualitas garam di selat madura. Beberapa teknologinya adalah monitoring parameter suhu, ketinggian air, kepekatan, penggunaan tunnel atau terowongan dan geomembran. “Adapun tunnel ini berfungsi agar proses kristalisasi tetap berlangsung meski turun hujan. Sementara geomembran bermanfaat agar warna hasil garamnya jadi lebih putih. Nanti di tingkata nasional, saya tentu akan menambah berbagai ide futuristik yang bisa memberikan manfaat lebih dan memberi nilai terbaik. Harapannya, gagasan futuristik ini dapat menjadi ide untuk pengembangan tambak garam di selat madura agar tidak kalah dengan produk impor,” jelasnya. Terakhir, ia berpesan kepada seluruh mahasiswa UMM untuk berani mengambil setiap kesempatan yang ada. Karena, menurut dia, kesempatan tidak akan datang kedua kali. Tidak hanya menunggu informasi, tapi mencari tahu berbagai kompetisi yang tersedia. “Tentunya hal tersebut juga tergantung niat dan upaya pantang menyerah dari individu. Untuk itu, kita harus bisa gunakan masa mahasiswa sebaik mungkin. Maksimalkan tenaga dan ide yang kita punya untuk mengharumkan nama kampus,” pungkasnya. (tri/wil)
Punya Tata Kelola SDM Bagus, UMM Jadi Referensi Kampus PTNBH

Baru-baru ini, Universitas Muhammadiyah malang (UMM) menerima kunjungan dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada 24 April 2024 kemarin. Kunjungan itu bertujuan untuk saling belajar dan diskusi terkait sistem dan tata kelola sumber daya manusia (SDM). Acara yang bertajuk benchmarking Unesa di UMM itu juga dimaksudkan agar terjalin silaturahmi sekaligus merencanakan kolaborasi di bidang tata kelola SDM di masa depan. Mohamad Sulton Arifin selaku Direktur SDM Unesa mengatakan bahwa dirinya dan tim ingin belajar bagaimana cara mengelola karyawan, dosen, ataupun mahasiswa dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Tak hanya di bidang kelola SDM, pihaknya juga berencana bekerjasama dengan UMM di bidang lain untuk menyukseskan pendidikan anak bangsa. Arifin menambahkan, pemilihan UMM sebagai salah referensi belajar tak lain karena UMM merupakan PTS yang memiliki sistem tata kelola SDM yang mumpuni dan bagus. Ia juga sempat melakukan studi banding ke beberapa Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) untuk mengetahui bagaimana cara mengelola SDM yang dimilikinya. Sebagai informasi, Unesa ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah RI Nomor 37 Tahun 2022 menjadi PTN BH per Oktober 2022 lalu. PTNBH memiliki kewenangan otonom untuk mengelola sumber daya dan keuangan mereka, termasuk dosen dan tenaga pendidik. Maka pengelolaan SDM menjadi penting dalam perjalanannya. Adapun dalam tata kelola SDM, UMM memiliki berbagai sistem yang terintegrasi dengan teknologi untuk memantau secara langsung aktivitas dosen maupun karyawan. Contohnya seperti SIM-SDM UMM yang digunakan untuk memantau aktivitas. UMM juga memiliki SIM PMM yang dapat digunakan oleh dosen untuk melakukan penelitian atau pengabdian. Sementara itu, untuk mahasiswa, UMM memiliki website Info KHS yang dapat diakses oleh mahasiswa untuk melakukan berbagai aktivitas terkait pembayaran, ujian akhir, permintaan surat kuliah, dan lain sebagainya. Orang tua juga bisa memantau pembayaran kuliah, nilai mata kuliah, dan segala informasi mengenai perkuliahan anak melalui aplikasi MyUMM Parents. “Semua sudah kami desain agar bisa dilakukan secara mandiri dan tentunya sangat efisien,” ujar Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si selaku Wakil Rektor V Bidang Pengembangan SDM & Al-Islam Kemuhammadiyaan. Terakhir, Tri, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa SDM menjadi unsur utama dalam pendidikan. Keberadaan SDM seperti dosen atau karyawan dapat menciptakan generasi bangsa yang siap dan mumpuni. Maka dari itu, adanya benchmarking Unesa ke UMM ini juga menjadi salah satu wadah untuk saling belajar dan berkolaborasi untuk menyukseskan pendidikan bagi generasi bangsa. “Mudah-mudahan setelah ini kami bisa saling berkolaborasi untuk mengembangkan perguruan tinggi masing-masing sesuai perkembangan zaman. Tak lupa juga, adanya kunjungan ini juga sebagai bentuk awal kami saling mengenal dan merancang program kolaborasi di bidang SDM,” ucapnya mengakhiri. (tri/wil)
Dosen UMM Beri Win-win Solution untuk Konflik Papua

Papua yang menjadi provinsi paling timur di Indonesia mengalami konflik berkepanjangan dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sejak masa penjajahan Belanda. OPM yang didirikan pada tahun 1965 itu bertujuan untuk memperoleh kemerdekaan bagi Papua Barat. Konflik ini telah menelan banyak korban jiwa dan menyebabkan ketegangan yang terus berlanjut antara pemerintah Indonesia dan kelompok separatis. Syasya Yuania Fadila Mas’udi, S.IP., MstratSt. selaku dosen prodi Hubungan Internasional menyatakan bahwa konflik ini berasal dari penyatuan Irian Barat ke Indonesia pada 1969 melalui Pepera, yang dianggap oleh beberapa pihak tidak mewakili keinginan mereka. Hal ini memicu pembentukan OPM dan konflik dengan pemerintah Indonesia. Untuk mencari solusi yang tepat untuk konflik OPM di Papua tersebut, Syasya menyampaikan bahwa perlu dilakukan pendekatan yang berfokus pada dialog terbuka dan saling pengertian antara pemerintah dan OPM. “Banyak yang berpendapat bahwa pendekatan yang seharusnya diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan konflik di Papua ini adalah pendekatan budaya. Menurut saya pribadi, perlu ada pemahaman yang lebih dari Pemerintah Indonesia terhadap apa yang sebenarnya diinginkan oleh saudara-saudara kita di Papua. Apakah memang pembangunan yang bersifat materialistik yang mereka butuhkan atau yang lain,” tambahnya. Selain itu, organisasi internasional, seperti PBB, dapat memfasilitasi dialog dan memberikan bantuan teknis dalam penyelesaian konflik di Papua. Dukungan dari negara-negara mitra penting untuk mempercepat proses tersebut melalui kerjasama dan kolaborasi. Pihak ketiga yang menjadi mediator harus pihak yang tidak memiliki kepentingan apapun terhadap konflik yang terjadi, dalam hal ini, mungkin bisa menunjuk Swiss sebagai negara yang netral. Tetapi proses mediasi tidak akan mungkin terjadi apabila salah satu pihak tidak mau duduk bersama untuk membicarakan solusi terbaik bagi mereka. Meski terlihat sederhana, namun penyelesaian konflik OPM di Papua cukup rumit. Kurangnya kepercayaan dan ketegangan bertahun-tahun membuat negosiasi menjadi sulit. Kepentingan politik dan ekonomi kompleks juga menjadi penghambat. Diperlukan komitmen kuat dari semua pihak untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan. Untuk mengakhiri konflik OPM di Papua, Syasya menegaskan perlunya dialog, negosiasi dan otonomi khusus. Inspirasi dari penyelesaian konflik Aceh bisa diterapkan, namun setiap konflik memiliki konteksnya sendiri. Ia berharap, konflik yang berlarut-larut di Papua bisa diselesaikan dengan win-win solution. Bukan dengan memaksakan salah satu pihak untuk setuju dengan keinginan pihak lainnya. (bal/wil)
FKIP UMM Kerjasama dengan Yala Rajabath University Thailand

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mengembangkan kerjasama internasional. Kali in, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM langsungkan kerjasama dengan Yala Rajabaht University (YRU), Thailand pada 19 April lalu. Turut hadir rombongan YRU yang terdiri dari rektor, wakil rekktor, dekan dan tim lain. Keduanya sepakat untuk bekerjasama dan tertuang pada penandatanganan MoU dan MoA. Sebelumnya, berbagai perguruan tinggi internasional Thailand juga sudah bekerjasaman dengan FKIP UMM. Di antaranya Rajamangala University di Bangkok, Pathumtani University di Bangkok, Thaksin University di Songklha, Fatoni University di Pattani, Ram Kam Heng University di Bangkok dan Rajabahti University di Yala. Kerjasama yang telah dilakukan meliputi student mobility, kuliah tamu, publikasi bersama dan seminar internasional. Terkait kerjasama itu, Wakil Rektor IV UMM bidang Kerjasama mendukung berbagai upaya yang dilakukan fakultas-fakultas dalam pengembangan kerjasam ainternasional. Ia menegaskan bahwa MoU merupakan awal dan harus ditindaklanjuti dengan berbagai program nyata. Misalnya saja pertukaran mahasiswa, publikasi bersama, kuliah tamu dan lain sebagainya. Salis juga mengatakan bahwa kerjasama ini bisa diperluas ke fakultas-fakultas lain karena YRU melibatkan fakultas ekonomi, fakultas teknik, dan fakultas sosial dan politik dalam kunjungannya ke UMM. “Kegiatan tersebut penting dalam rangka meningkatkan Indikator Kinerja Utama (IKU), baik IKU 2 terkait mahasiswa yang berkegiatan di luar kampus maupun IKU 3 yakni dosen yang berkegiatan di luar kampus,” katanya. Mendengar sambutan ini, Prof. Dr. Sirichai selaku Rektor YRU bersepakat dan menyambut baik serta meminta kepada para dekan terkait dari YRU untuk menindak lanjuti ide tersebut. Antusiasme juga datang dari Dekan FKIP YRU Prof. Dr. Muhammadtolan. Menurutnya, kerjasama ini juga menjadi bagian penting untuk dakwah Islam melalui perguruan tinggi. “Terimakasih kami sampaikan pada kedua belah pihak yang tidak ragu dalam menjalin kerjasama. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik untuk memunculkan program-program menarik dan bermanfaat di masa depan,” katanya. Mewakili Dekanat FKIP, Dr. Sugiarti, M.Si. menyambut gembira kunjungan rekotrat dna dekanat YRU. Menurutnya, ini merupakan bagian dari upaya memperluas dan menguatkan atmosfer internasional yang sudah lama dirintis oleh FKIP UMM. Ia juga menyebutkan ada beberapa program potensial yang bisa dikembangkan oleh ekdua belah pihak. Baik dalam bidang pengajaran, penelitian maupun pengabdian masyarakat serta Al-islam. “Modalitas program studi di FKIP UMM yang semuanya telah memiliki jurnal bereputasi dapat menjadi ujung tombak dalam kerjasama ini,” ungkapnya. Hal menarik lainnya dari kerjasama ini adalah waktu yang singkat dalam proses negosiasi. Ke depan, perlu adanya orientasi yang bisa menguntungkan kedua belah pihal sehingga mobilitas dosen maupun mahasiswa secara internasional menjadi semakin semarak. Mobilitas dosen dan mahasiswa berlevel internasional yang terealisasi dan berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan capaian IKU 2 dan IKU 3 dan memberikan dampak pada reputasi, prestasi dan promosi bagi setiap program studi. (wil)
Bagas, Mahasiswa UMM yang Menangi Kejuaraan Muay Thai Nasional

Kabar gembira kembali datang dari mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini adalah Bagas Aditya Firmandail yang telah berhasil membawa pulang juara 2 dalam ajang pertandingan cabang olahraga bela diri muay thai yang dilaksanakan pada akhir Maret lalu. Bagas yang mewakili Kota Malang memang sudah menggeluti muay thai sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Bagas menjelaskan bahwa selama proses pelaksanaan lomba ia mengalami kendala yang cukup kompleks. Misalnya saja berat badan yang melewati batas sekitar 10 kg. Mau tidak mau ia harus menjalani diet ketat selama kurang lebih satu bulan sebelum perlombaan berlangsung. “Selama masa diet, saya lebih banyak memakan protein dan gandum untuk tetap menjaga daya tahan tubuh. Tapi mendekati perlombaan, berat badan saya masih belum memenuhi kriteria sehingga saya sering minum air putih saja tanpa makan,” katanya. Mahasiswa semester empat itu juga mengatakan bahwa saat perlombaan berlangsung, ia juga mendapatkan kendala yang menyakitkan. Melawan atlet muay thai profesional dari kota Surabaya, ia mendapatkan luka robek di mulut dan harus melakukan operasi dengan empat jahitan. Hal itu membuatnya harus mundur pada babak akhir. “Menurut saya, jahitan ini menunjukkan keseriusan saya dalam cabang olahraga muay thai. Semakin sakit dan banyak luka, maka ilmunya akan semakin tinggi. Jadi tidak masalah dan saya tetap optimis mengikuti di lain kesempatan” jelasnya. Adapun anak pertama dari tiga bersaudara itu sejak SMA memang telah mendalami bela diri muay thai. Ia bercerita bahwa saat masih kecil ia sering bertengkar dna beradu jotos dengan teman-temannya. Kemudian ia akhirnya menyalurkan hal itu di kegiatan yang bermanfaat yakni muay thai. Sejak tahun 2021, ia telah mengikuti banyak ajang kompetisi dan selalu membawa pulang medali. “Tidak pernah ada kata mundur dalam mengejar prestasi. Walaupun keluarga besar saya sering menentang karena faktor luka dan kesehatan, tapi saya ingin berusaha sampai akhir dan membuktikan bahwa melalui hobi ini saya bsia membanggakan mereka,” katanya. Sama seperti mahasiswa lainnya, Bagas ingin selalu ingin berprestasi dan membanggakan nama kampus. Ia percaya kalau setiap orang mempunyai kelebihan, hanya saja belum menyadari dan mengasah kemampuannya. “Dari ajang kompetisi ini, saya berharap bisa membanggakan nama kampus dan terus aktif menjadi atlet. Saya mempunyai mimpi tinggi sehingga dapat mengharumkan almamater dan mengangkat derajat keluarga,” pungkasnya. (ri/wil)
Ramai Amicus Curiae dalam Sengketa Pilpres, Begini Penjelasan Dosen UMM

Pada babak akhir sengketa hasil Pilpres 2024, sejumlah tokoh mengajukan diri menjadi amicus curiae. Lalu banyak orang yang bertanya-tanya dan ingin tahu, apa sebenarnya amicus curiae ini? Secara kebahasaan, amicus curiae dapat diartikan sebagai sahabat pengadilan. Amicus curiae bukanlah tradisi hukum di Indonesia, melainkan bagian tradisi hukum Romawi yang kemudian diadopsi dalam sistem hukum common law. Di mana hukum itu dimaknai sebagai hukum yang hidup di masyarakat, sehingga masyarakat itu diangggap paham terhadap hukum. Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sumali, SH. M.Hum. menjelaskan bahwa secara kelembagaan atau sistem hukum, amicus curiae ini diartikan sebagai orang atau sekelompok orang yang memiliki kepedulian pada suatu perkara hukum tetapi dia bukan menjadi pihak dalam perkara tersebut. “Amicus curaie ini memberikan opini kepada pengadilan atau hakim tentang bagaimana sebaiknya suatu perkara itu diputus atau diselesaikan,” ucapnya. Amicus curiae dalam pengajuannya ini tidak harus oleh advokat. Bisa juga diajukan oleh orang dengan pengetahuan atas suatu perkara, yang keterangannya berharga bagi pengadilan. Keterangan dari amicus curiae ini dapat berupa tulisan maupun secara lisan dalam persidangan. Tugas dari amicus curiae hanya sekadar memberikan pandangan dan opini, bukan melawan argumen dari pihak-pihak yang berperkara. Pandangan atau keterangannya nanti akan menjadi salah satu alat bukti diluar pengadilan, untuk hakim mempertimbangkan putusan dalam suatu perkara. “Walaupun amicus curiae tidak dikenal dalam aturan hukum Indonesia, selagi ada manfaatnya praktek ini tetap bisa dilanjutkan,” pungkas Sumali. Pada sengketa pilpres, amicus curiae boleh diajukan pada saat persidangan. Dalam hukum acara, pengadilan bisa berinisiatif memanggil pihak-pihak yang bisa atau punya kapasitas untuk menjelaskan suatu persolan. Keterangan dari amicus curiae ini sifatnya hanya untuk menambah keyakinan hakim dan nilainya tidak mengikat. Pun, tidak ada yang dapat menguji kebenarannya. Jika ini dijadikan dasar pembuktian, maka pembuktiannya menjadi cacat. Sehingga, tetap harus menggunakan bukti dalam pengadilan sebab akan selalu diuji kebenarannya. “Hanya hakim yang memiliki hak untuk bertanya pada Sahabat Pengadilan, tidak boleh pihak lain. Berbeda dengan pendapat dalam pengadilan, akan di uji oleh berbagai pihak,” jelasnya. (dev/wil)
Sebal Karena Pertanyaan Klise? Dosen Komunikasi UMM Punya Tipsnya

Kesempatan berkumpul bersama keluarga maupun teman yang jarang bertemu, kerap jadi momen istimewa. Namun, tak jarang dari mereka justru menanyakan hal-hal yang lebih personal. Mulai dari ‘Kapan lulus? Kapan nikah? Kapan punya anak?’ dan pertanyaan klise lainnya. Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut nampak biasa. Namun, tak sedikit juga yang merasa kurang nyaman atau justru bingung menanggapinya. Menurut Winda Hardyanti, S.Sos., M.Si, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), deretan pertanyaan tersebut berkaitan dengan budaya orang Indonesia yang menyukai basa-basi untuk memulai obrolan. Di sisi lain, ini juga merupakan bentuk kepedulian orang lain terhadap kita, namun dengan cara yang berbeda. “Jika ditinjau dari komunikasi interpersonal, pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membuka diri atau melakukan self disclosure. Banyak orang bertanya agar mendapatkan feedback, tapi tidak semua orang nyaman dengan pertanyaan yang cenderung ke arah capaian personal,” jelas Winda. Lebih lanjut, Teori Joseph Devito juga menjadi sorotan Winda yang menekankan bahwa tingkat keterbukaan diri dalam komunikasi interpersonal dipengaruhi banyak faktor. Pertama, perbedaan situasi di dalam kerumunan besar dan dalam lingkungan yang lebih personal. “Saat berada di kerumunan besar, individu cenderung merasa kurang nyaman untuk memberikan tanggapan yang mendalam terhadap pertanyaan yang diajukan,” terangnya. Kedua, adanya perasaan afiliasi, kesukaan atau kedekatan. Seseorang yang merasa dirinya dekat, maka akan lebih mudah untuk menjawab dan mengungkapkan jawaban yang sebenarnya tanpa harus merasa canggung atau kurang nyaman. Ketiga, faktor kompetensi antara penanya dan penjawab. Apabila hal ini tidak seimbang, maka akan ada gesekan atau counter back dalam obrolan tersebut. “Selanjutnya, faktor diadik di mana ada kesalingan membuka diri atau cerita antar satu sama lain. Sehingga, menimbulkan sikap saling empati. Tentu, masih banyak lagi yang harus diperhatikan sebelum melontarkan pertanyaan. Bukan hanya karena lama bertemu, berarti bisa langsung melontarkan pertanyaan seadanya. Semua harus memenuhi faktor keterbukaan diri tersebut,” tegasnya. Namun demikian, seseorang memiliki kendali atas bagaimana merespon beberapa pertanyaan tersebut. Menurut Winda, mengubah pola pikir terhadap pertanyaan orang lain jauh lebih bermanfaat daripada langsung memberikan jawaban negatif. Misalnya saja, ketika ada yang melontarkan pertanyaan ‘Kapan lulus?’ baiknya dijawab dengan ‘Mohon doanya ya’. “Kalau pertanyaan tersebut ditanggapi dengan mindset negatif, maka komunikasi tersebut tidak dapat disebut komunikasi yang efektif. Hasilnya, hubungan antara kedua belah pihak tidak terjadi dengan baik. Anggaplah mereka peduli, hanya saja belum paham konteks,” tambahnya. Selain itu, Winda juga menyarankan agar merespon pertanyaan dengan santai, netral dan elegan agar emosi tetap stabil. Meskipun berinisiatif untuk mengubah topik, tapi perlu diperhatikan agar tidak terlalu jauh dan tidak terlihat kalau sedang tidak nyaman. “Peduli boleh, asal pastikan bahwa kamu memahami apa dan siapa yang ditanyai. Pilih topik lain, karena masih banyak topik lain yang bisa ditanyakan agar berdampak pada komunikasi efektif dan keberlangsungan relasi. Misalnya saja hobi ataupun kegiatan dan kesibukan sehari-hari,” tutupnya. (lai/wil)
Bangun GKB V UMM Ramah Lingkungan, Targetkan Rampung di Tahun Ajaran Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini tengah merampungkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) V. Gedung tersebut ditargetkan selesai saat tahun ajaran baru datang. Menariknya, gedung tersebut mengusung green building dengan berbagai fitur dan keramahan lingkungannya. “Jangan sampai bangunan di masa depan menjadi penyumbang polutan terbesar di dunia. Terlebih lagi, material bangunan seperti semen, batu bata, dan lainnya merupakan penyumbang polutan nomor satu setelah batu bara. Untuk itu, pembangunan sekarang menerapkan desain ramah lingkungan untuk mendukung keberlanjutan dunia,” kata Ir. Erwin Rommel, M.T selaku Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) sekaligus dosen Program Studi (Prodi) Teknik Sipil tersebut. Adapun saat ini, ia tengah menangani pembangunan Gedung Kuliah Bersama (GKB) V Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bertempat di Rumah Sakit (RS) UMM. Pembangunan gedung tersebut menerapkan desain green building dan smart building untuk menunjang pembangunan berkelanjutan. “Saat ini, proses pembangunan sudah mencapai 50%. Kami menerapkan desain pembangunan bertahap mulai dari pengerjaan struktur bangunan, pemasangan sistem kelistrikan dan saluran, arsitektur bangunan, interior, dan terakhir landscaping agar nantinya bangunan dapat selesai sesuai target,” ucapnya. GKB V rencananya akan digunakan untuk perkuliahan dengan fasilitas dua bangunan utama. Yaitu 11 lantai gedung perkuliahan dan auditorium yang dapat menampung 400 hingga 500 orang. Nantinya, gedung tersebut tak hanya digunakan sebagai gedung perkuliahan saja, namun juga direncanakan dapat digunakan sebagai gedung pertemuan dan menjadi pemasukan generatif UMM. Desain ramah lingkungan dan smart building yang diterapkan pada bangunan GKB V ini memang ditujukan untuk mendukung keberlanjutan pembangunan sekaligus penunjang pendidikan. Erwin menyebutkan ada beberapa parameter yang menjadi penanda bangunan ramah lingkungan seperti adanya sirkulasi udara, pencahayaan yang sesuai, dan sistem kelistrikan yang menggunakan energi terbarukan. Salah satu penerapannya ialah penggunaan partisi untuk menggantikan bata dan semen pada sekat setiap ruangan. Selain itu, ia juga menggunakan sekat kaca peredam panas yang digunakan untuk menggantikan tembok. Pun ia mendesain sistem kelistrikan dengan kombinasi antara panel surya dengan listrik konvensional untuk mengurangi penggunaan listrik. Bangunan yang memiliki tinggi 45 meter ini juga akan dirancang tahan gempa, memiliki fasilitas pemadam kebakaran, fasilitas pembuangan limbah konvensional maupun limbah laboratorium, juga memiliki taman dengan luas 2 hektar yang difungsikan untuk taman baca dan area jogging bagi mahasiswa. “Kami juga merancang sistem pendingin ruangan yang dapat otomatis dinonaktifkan ketika ruangan tidak digunakan yang bertujuang untuk penghematan listrik,” tambahnya. Terakhir, Erwin berharap, bangunan ini akan rampung sesuai target pengerjaan yaitu awal tahun ajaran baru 2024/2025. Nantinya ia dan tim akan merampungkan pengerjaan setengah bangunan terlebih dahulu agar dapat segera difungsikan untuk perkuliahan. “Setelah merampungkan GKB V ini, kami juga akan merancang perbaikan dan perawatan pada bangunan lain di kampus 3. Ini juga menjadi salah satu fokus kami untuk menambah dan memperbaiki fasilitas yang ada di UMM,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)