Rincian Biaya Kuliah Kedokteran di UWKS, Ubaya, Petra, dan UMM Terbaru 2026

IniKata-Bagi calon mahasiswa di Jawa Timur yang bercita-cita menjadi dokter, memahami rincian biaya pendidikan di perguruan tinggi swasta (PTS) adalah langkah krusial. Mengingat persaingan masuk ke universitas negeri yang sangat ketat, deretan PTS ternama di Jawa Timur dapat menjadi pilihan alternatif yang menjanjikan. Meskipun menempuh pendidikan di Jurusan Kedokteran membutuhkan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit, minat terhadap program studi ini tetap stabil sebagai salah satu yang terfavorit. Kualitas fasilitas dan akreditasi yang ditawarkan kampus swasta di wilayah ini sering kali menjadi alasan utama bagi para pendaftar. Estimasi Biaya Kedokteran di Kampus Swasta Jawa Timur Berikut adalah ringkasan biaya pendidikan untuk Jurusan Kedokteran di beberapa kampus ternama seperti Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Universitas Surabaya (Ubaya), Universitas Kristen Petra (UK Petra), dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Rincian biaya masuk dan perkuliahan di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS): Biaya Pendaftaran: Calon mahasiswa diwajibkan membayar formulir sebesar Rp1.000.000 setelah melakukan registrasi akun. Jalur Masuk: Tersedia dua pilihan jalur, yaitu Jalur Rapor (bebas tes) serta Jalur Reguler (melalui seleksi tes). Uang Kuliah Tunggal (UKT): Biaya operasional pendidikan yang dibayarkan setiap tiga bulan sekali sebesar Rp15.000.000. Uang Sumbangan Pendidikan (USP): Dana pembangunan yang dibayarkan satu kali di awal masa perkuliahan sesuai dengan gelombang pendaftaran. Besaran dana sumbangan ini sangat bergantung pada periode waktu saat calon mahasiswa mendaftar dan dinyatakan lolos seleksi. Berikut adalah perbandingan USP untuk tiap gelombang di UWKS: Gelombang Pendaftaran Biaya USP (Sumbangan Pendidikan) Gelombang 1 Rp200.000.000 (Setelah Potongan) Gelombang 2 Rp300.000.000 Gelombang 3 Rp350.000.000 Berdasarkan skema tersebut, total dana awal yang harus disiapkan jika diterima pada Gelombang 1 mencapai Rp236.150.000. Jumlah ini mencakup USP sebesar Rp200 juta, biaya registrasi ulang Rp21,15 juta, dan UKT untuk tiga bulan pertama sebesar Rp15 juta.

Lawan Stunting dengan Bahan Lokal, Tim Dosen UMM dampingi Ibu Balita di Karangploso ————————————————– Sumber artikel dari Malang Inspirasi: https://malanginspirasi.com/malang-raya/peristiwa/25984/lawan-stunting-dengan-bahan-lokal-tim-dosen-umm-dampingi-ibu-balita-di-karangploso

Malanginspirasi.com – Sejumlah posyandu di wilayah Karangploso menggelar kegiatan pengabdian masyarakat untuk mendukung pencegahan stunting pada balita. Program ini memanfaatkan potensi pangan lokal sebagai bahan utama dalam menyusun menu bergizi sehari-hari anak. Kegiatan yang digagas oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu balita dalam memilih, mengolah, dan menyajikan makanan bergizi berbasis bahan pangan yang mudah didapat di lingkungan sekitar. Tim pengabdian masyarakat terdiri dari dosen Fakultas Keperawatan dan Fakultas Psikologi UMM, yaitu: Ika Rizki Anggraini, S.Kep.Ns.M.Kep Dr. Siti Maimunah, S.Psi., M.M., M.A. Ratih Eka Pertiwi, M.Psi. Menurut tim, program ini dirancang secara berkelanjutan melalui pendampingan langsung kepada para ibu. Kegiatan mencakup penyuluhan mengenai pentingnya gizi seimbang. Juga melakukan simulasi praktik pengolahan pangan lokal seperti sayuran, umbi-umbian, kacang-kacangan, telur, ikan, dan sumber protein lokal lainnya menjadi menu sehat yang menarik bagi anak-anak. Selain edukasi dan praktik memasak, kegiatan ini juga meliputi pemantauan tumbuh kembang balita. Tim melakukan pengukuran dan evaluasi pertumbuhan anak secara rutin, sekaligus memberikan arahan kepada orang tua mengenai pola asuh yang tepat, pola makan sehat, serta pentingnya pemeriksaan rutin ke posyandu sebagai upaya deteksi dini risiko stunting. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak harus bergantung pada makanan mahal. Bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar kita dapat diolah menjadi makanan bernutrisi tinggi yang mendukung pertumbuhan optimal anak,” ujar salah satu anggota tim. Ibu-ibu yang memiliki anak balita serius mendengarkan pengarahan dari Tim Dosen UMM. (Ist) Baca Juga: Makanan Bergizi Gratis, Tak Perlu Mahal untuk Sehat Program pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat menjadi model replikasi di wilayah lain. Terutama dalam memberdayakan ibu sebagai garda terdepan dalam pemenuhan gizi keluarga. Dengan pendekatan yang holistik, menggabungkan aspek keperawatan dan psikologi, kegiatan ini tidak hanya menyasar aspek fisik. Tetapi juga pola asuh dan kesiapan mental orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mengatasi masalah gizi masyarakat, khususnya penurunan angka stunting di tingkat kecamatan.

Nazaruddin Malik: Guru Bukan Profesi Kelas Dua

KLIKMU.CO – Di tengah maraknya keluhan pendidik terkait beratnya beban birokrasi yang kerap menyita waktu mengajar, kritik tajam sekaligus reflektif mengemuka dari mimbar akademik. Kualitas pendidikan dinilai tidak akan pernah menguat jika sekolah terus terjebak mengejar formalitas administrasi, tetapi abai membangun ekosistem belajar yang sehat. Peringatan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik MSi dalam Malik Fadjar Bootcamp bertajuk “Manajemen Kelembagaan Sekolah” yang diinisiasi Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute. Kegiatan ini dihadiri puluhan akademisi dan pengelola sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya pada Jumat (22/5/2026). Dalam stadium generale tersebut, Nazar, sapaan akrabnya, menyoroti ketimpangan distribusi dan kompetensi guru sebagai salah satu akar menurunnya mutu pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa hingga kini masih banyak tenaga pengajar yang terpaksa bekerja tidak sesuai bidang keahliannya. Ironisnya, di tengah keterbatasan tersebut, sekolah justru terus ditekan memenuhi berbagai target administratif yang sering kali tidak selaras dengan esensi peningkatan kualitas belajar siswa. Kondisi itu dinilai tidak hanya menggerus kualitas pembelajaran, tetapi juga mengancam kredibilitas lembaga pendidikan di mata publik. “Kalau guru mengajar tidak sesuai kompetensinya, dampaknya panjang. Mutu sekolah turun, kepercayaan masyarakat ikut turun, dan akhirnya sekolah kehilangan daya saing,” ujarnya. Lebih lanjut, Nazar mengkritik fenomena birokratisasi pendidikan yang dinilai semakin mencengkeram kebebasan berekspresi institusi pendidikan. Banyak sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar pengakuan administratif dan terlalu fokus memoles citra luar, sehingga melupakan pentingnya school leadership. Karena itu, pendidikan berbasis masyarakat seperti sekolah Muhammadiyah dituntut tidak sekadar mengekor pola kerja birokrasi, melainkan berani berinovasi sesuai kebutuhan sosial di sekitarnya. “Sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar formalitas, tetapi kehilangan keberanian membaca kebutuhan riil. Kita jangan hanya sibuk selebrasi dan pencitraan. Yang lebih penting adalah bekerja tenang, membangun kualitas secara konsisten, dan memberi kontribusi nyata,” tegasnya. Selain persoalan sistemik, Nazar juga menyoroti masih melekatnya stigma yang menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan kelas dua. Pandangan tersebut dinilai membuat banyak generasi muda berprestasi enggan menjadikan dunia pendidikan sebagai pilihan karier utama. Padahal, maju mundurnya kualitas pendidikan masa depan sangat bergantung pada sejauh mana profesi guru dihargai, baik secara sosial maupun intelektual. “Jika guru merasa second class, sekolah akan sulit berkembang. Pendidikan membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa profesi ini adalah jalan pengabdian sekaligus jalan membangun peradaban,” ungkapnya. Sebagai penutup, Nazar menegaskan bahwa manajemen kelembagaan sekolah sejatinya merupakan seni membangun sistem yang hidup, bukan sekadar mengelola tumpukan dokumen dan laporan. Menurutnya, kualitas pendidikan sejati tidak lahir dari deretan slogan besar, melainkan dari konsistensi merawat ekosistem yang sehat antara sekolah, pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat. Lembaga pendidikan yang kuat bukan hanya yang mampu meluluskan siswa bernilai akademik tinggi, tetapi juga berhasil mencetak manusia berkarakter tangguh dalam menghadapi dinamika perubahan zaman. (Faqih/AS)

Berbekal Ilmu dari CoE UMM, Alumnus Ilmu Pemerintahan Ini Berkarier di Industri Tambang

pwmu.co – Tren karier generasi muda kini semakin dinamis, mendobrak batasan linieritas antara program studi di bangku kuliah dan realitas dunia kerja. Hal ini terbukti nyata di tengah masifnya industri pertambangan di Kalimantan Timur yang menyerap puluhan ribu tenaga teknis. Siapa sangka, peran krusial menjaga keselamatan operasional para pekerja tambang justru dipegang oleh seorang lulusan Ilmu Pemerintahan. Berbekal berbagai pengalaman berharga selama berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satunya dengan mengikuti kelas Center of Excellence (CoE), Resky Maharani Ma’mur berhasil menembus kerasnya sektor ekstraktif dan berkarier sebagai Safety Officer. Menjalani peran vital di area operasional PT Pangansari Utama, Resky memikul tanggung jawab besar di Departemen Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE). Alumnus Ilmu Pemerintahan angkatan 2020 ini dituntut untuk terus mengawasi penerapan regulasi Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH), Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP), hingga menjaga standar keamanan pangan (Food Safety). Meski sekilas pekerjaannya jauh dari urusan administrasi negara, ia justru menyadari bahwa ilmu tata kelola yang dipelajarinya menjadi fondasi kuat. Ia menjelaskan bahwa ilmu dari bangku kuliah menyadarkannya tentang pentingnya pengawasan implementasi sebuah regulasi melalui proses monitoring agar berjalan efektif. “Ilmu Pemerintahan mengajarkan saya bagaimana kebijakan tidak hanya dibuat secara administratif, tetapi juga harus diawasi implementasinya melalui monitoring dan evaluasi agar benar-benar berjalan efektif di lapangan,” tegasnya. Lebih lanjut, kemampuannya beradaptasi di industri swasta ini sangat ditunjang oleh keputusannya mendalami kelas CoE Analis Kebijakan. Langkah strategis tersebut amat relevan dengan kebutuhan industri masa kini yang bertumpu pada data. Kompetensi membedah data terbukti amat krusial ketika dirinya dituntut menyusun laporan HSE, memantau capaian Key Performance Indicators (KPI), hingga merumuskan mitigasi insiden kerja di area tambang yang penuh risiko. Menurutnya, kurikulum yang ditawarkan dalam kelas unggulan Kampus Putih tersebut sangat aplikatif karena langsung menargetkan penguasaan keterampilan teknis seperti pengolahan hingga visualisasi data. “Keunggulan program CoE ini lebih fokus pada praktik dan skill yang dibutuhkan dunia kerja, seperti pengolahan, analisis, dan visualisasi data, bukan hanya teori perkuliahan” ungkapnya. Selain ketajaman analitis, keluwesan Resky saat berkomunikasi dengan pemangku kepentingan maupun pekerja teknis merupakan buah manis dari proses berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAP) dan keterlibatannya di Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Guna melengkapi profesionalismenya, ia bahkan berhasil mengantongi sertifikasi Ahli K3 Umum dari Kementerian Ketenagakerjaan. Mengingat rekam jejak kariernya yang inspiratif tersebut, ia menegaskan bahwa mahasiswa harus peka terhadap peluang dari kampus dan bersabar dalam menekuni satu bidang keahlian secara mendalam. “Manfaatkan program CoE sebaik mungkin karena skill analisis data sangat dibutuhkan. Dalami skill yang disukai, ketika kita sudah tahu apa bidang yang kita sukai, dalami, sabar juga menjadi yang paling utama” pungkasnya. Penulis : Humas UMM | Editor : Danar Trivasya Fikri

Intip Daftar Beasiswa untuk Mahasiswa Baru UMM, Bebas Kuliah 100% untuk Alumni Muhammadiyah Selama 1 Semester

MALANG, RADAR MALANG – UMM membuka berbagai jalur beasiswa untuk calon mahasiswa baru tahun 2026. Salah satunya adalah beasiswa saudara kandung hingga alumni sekolah Muhammadiyah. Berikut adalah rincian potongan Biaya Studi Semester (BSS), program studi penerima beasiswa, dan beberapa syarat umum: BEASISWA SAUDARA KANDUNG Potongan BSS pada Semester I sebesar: 50% Non-FIKES dan Kedokteran, 25% FIKES, 10% Kedokteran Syarat yang harus dipenuhi: Mempunyai saudara kandung yang kuliah di UMM dan masih aktif. Melengkapi syarat ke kantor PMB atau melalui email: Foto copy Kartu Keluarga (KK), Foto copy KTM adik dan kakak, Foto Copy Kartu Studi Mahasiswa (KSM) kakak, Foto copy Akta Lahir Adik dan Kakak ALUMNI SEKOLAH MUHAMMADIYAH Potongan 100% BSS pada Semester I untuk semua Program Studi Syarat yang harus dipenuhi: Alumni Sekolah SMA/SMK/MA Muhammadiyah Biaya Seragam tetap dibayarkan sesuai dengan ketentuan BEASISWA YATIM/YATIM PIATU Beasiswa Berupa Bebas DPP dan SPP selama 8 semester untuk S-I dan 6 semester untuk Vokasi (D-3) Program Studi Tertentu sesuai rekomendasi AIK Syarat Administrasi yang harus dipenuhi: Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan Yatim/Yatim Piatu dari desa setempat. Rekomendasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) setempat. Tetap ada pembayaran: Her-Registrasi, Pengembangan Akademik, Seragam dan FLSP PROGRAM PENDIDIKAN ULAMA TARJIH (PPUT) Bebas SPP dan DPP selama 8 semester (LULUS) Bebas biaya pemondokan selama 2 tahun Dibuka pada tahun ajaran ganjil dan genap untuk Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah), dan Pendidikan Bahasa Arab. Syarat Administrasi yang harus dipenuhi: Fotocopy ijazah atau transkrip nilai yang dilegalisir masing-masing 2 lembar. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP). Fotocopy Kartu Keluarga (KK). Pas Foto berwarna ukuran 3×4 sebanyak 2 lembar. Tetap ada pembayaran: Her-Registrasi, Pengembangan Akademik, Seragam dan FLSP BEASISWA ANAK KANDUNG ALUMNI UMM Potongan BSS pada Semester I sebesar 25% untuk Non FK dan untuk 10% Kedokteran Syarat Administrasi: Fotocopy Ijazah atau kartu alumni orang tua. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP). Fotocopy Kartu Keluarga (KK). Editor : Aditya Novrian

Dosen UMM Edukasi Remaja Toyomarto Cegah Kecanduan Game Online

Malanginspirasi.com – Sebanyak 40 remaja Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, mengikuti penyuluhan kesehatan jiwa bertajuk “Cegah Internet Gaming Disorder” melalui pendekatan inklusif. Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat SAFE-Teens yang diinisiasi dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penyuluhan berlangsung di Balai Desa Toyomarto pada Minggu, 26 April 2026. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Toyomarto Sumito, SH, Sekretaris Desa Anas, serta penanggung jawab remaja desa, Kak Irgi. Muhammad Rosyidul Ibad, M.Kep, dosen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) UMM bertindak sebagai pemateri utama. Ia menjelaskan bahaya kecanduan game online atau Internet Gaming Disorder yang kini semakin marak di kalangan remaja. Dalam penyuluhannya, Rosyidul Ibad memaparkan karakteristik game yang berpotensi menimbulkan kecanduan, antara lain sistem rank atau tier yang membuat pemain ingin terus naik level, tekanan dari tim, match cepat yang memicu efek “satu lagi”, serta kompetisi intens yang memberikan reward dopamin tinggi. Baca Juga: Membangun Generasi Cerdas dan Berkarakter Melalui Tujuh Kebiasaan Ini Sulit Fokus dan Gampang Terdistraksi? Mungkin Kamu Butuh ‘Jeda Mental’ Ia juga mengajak peserta mengenali tanda-tanda gangguan tersebut yang biasanya berlangsung dalam kurun waktu 12 bulan, seperti sulit mengendalikan waktu bermain, game menjadi prioritas utama, tetap bermain meski berdampak negatif, menghindari interaksi sosial, mudah marah saat tidak bermain, hingga mengorbankan waktu untuk kegiatan lain. “Remaja perlu bijak dalam bermain game. Jangan sampai game menguasai hidup kalian,” tegas Rosyidul Ibad. Lebih lanjut, ia memperkenalkan strategi penanganan S.M.A.R.T sebagai solusi praktis: Schedule: Batasi bermain game maksimal 1-2 jam sehari Mindful: Sadar waktu dan emosi saat bermain Active Balance: Seimbangkan dengan olahraga dan kegiatan sosial Relationship: Jaga hubungan dengan keluarga dan teman Take a Breath: Pastikan istirahat yang cukup Para remaja melakukan tandatangan komitmen. (Ist) Antusiasme remaja terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Penyuluhan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama oleh para remaja untuk lebih bijak dan selektif dalam bermain game online. Program SAFE-Teens (Supportive, Aware, Free from Excess) ini merupakan intervensi kesehatan jiwa pada remaja melalui kelompok inklusif yang diharapkan dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi kesehatan mental generasi muda di Desa Toyomarto. ————————————————– Sumber artikel dari Malang Inspirasi: https://malanginspirasi.com/malang-raya/pendidikan/25994/dosen-umm-edukasi-remaja-toyomarto-cegah-kecanduan-game-online/ Copyright © 2026 Malang Inspirasi. All rights reserved.

Rektor UMM Soroti Pentingnya Ekosistem Belajar dan Kepemimpinan Sekolah dalam Malik Fadjar Bootcamp

pwmu.co –Kualitas pendidikan dinilai tidak akan menguat jika sekolah terus terfokus pada pemenuhan formalitas administrasi namun mengabaikan pembangunan ekosistem pendidikan yang sehat. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam agenda Malik Fadjar Bootcamp bertajuk ‘Manajemen Kelembagaan Sekolah’ yang diinisiasi oleh Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute. Acara ini dihadiri oleh para akademisi dan pengelola sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya, Jumat (22/5/2026). Dalam Stadium Generale tersebut, Nazar, sapaan akrabnya, menyoroti ketimpangan distribusi dan kompetensi guru sebagai salah satu faktor yang memengaruhi mutu pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa saat ini masih ada tenaga pengajar yang bertugas tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Suasana Malik Fadjar Bootcamp (Istimewa/PWMU.CO) Di tengah keterbatasan itu, sekolah juga menghadapi tuntutan untuk memenuhi berbagai target administratif yang sering kali tidak selaras dengan esensi peningkatan kualitas belajar siswa. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi kualitas pembelajaran serta kredibilitas lembaga pendidikan di mata publik. “Kalau guru mengajar tidak sesuai kompetensinya, dampaknya panjang. Mutu sekolah turun, kepercayaan masyarakat ikut turun, dan akhirnya sekolah kehilangan daya saing,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena birokratisasi pendidikan yang dinilai dapat membatasi ruang gerak institusi pendidikan. Menurutnya, sebagian sekolah kini berfokus pada pengakuan administratif dan pencitraan luar, sehingga mengesampingkan urgensi kepemimpinan sekolah (school leadership). Oleh karena itu, lembaga pendidikan berbasis masyarakat seperti sekolah Muhammadiyah diharapkan tidak sekadar mengikuti pola kerja birokrasi, melainkan berani berinovasi sesuai kebutuhan sosial di sekitarnya. “Sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar formalitas, tetapi kehilangan keberanian membaca kebutuhan riil. Kita jangan hanya sibuk selebrasi dan pencitraan. Yang lebih penting adalah bekerja tenang, membangun kualitas secara konsisten, dan memberi kontribusi nyata,” tegasnya.   Selain persoalan sistemik, ia juga menyayangkan adanya stigma yang menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan kelas dua. Pandangan tersebut dinilai membuat sebagian generasi muda enggan menjadikan dunia pendidikan sebagai pilihan karier utama. Foto bersama Rektor UMM dan peserta Malik Fadjar Bootcamp (Istimewa/PWMU.CO) Padahal, perkembangan kualitas pendidikan masa depan bergantung pada sejauh mana profesi ini mampu dihargai, baik secara sosial maupun intelektual. “Jika guru merasa second class, sekolah akan sulit berkembang. Pendidikan membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa profesi ini adalah jalan pengabdian sekaligus jalan membangun peradaban,” ungkapnya. Sebagai pesan penutup, Nazar menegaskan bahwa manajemen kelembagaan sekolah merupakan proses membangun sistem yang berjalan, bukan sekadar urusan mengelola dokumen dan laporan. Kualitas pendidikan lahir dari konsistensi dalam merawat ekosistem yang sehat antara sekolah, pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat. Lembaga pendidikan yang kuat diharapkan tidak hanya mampu meluluskan siswa dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga mencetak karakter untuk menghadapi dinamika perubahan zaman. (*)  Penulis : Humas UMM | Editor : Tanwirul Huda

UMM Kembali Dipercaya Kemendikdasmen Jadi Tuan Rumah Olimpiade Sains Nasional

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali resmi ditunjuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai tuan rumah Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMA tahun 2026. Kepercayaan untuk kedua kalinya ini diberikan berkat rekam jejak Kampus Putih yang dinilai sukses menghadirkan fasilitas dan atmosfer akademik berstandar dunia pada penyelenggaraan sebelumnya. Keputusan Kemendikdasmen kembali menggandeng UMM telah melalui serangkaian proses evaluasi dan kurasi ketat. Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Dr Maria Veronica Irene Herdjiono SE MSi memaparkan bahwa pemerintah menyoroti kesiapan infrastruktur fisik, kelengkapan fasilitas laboratorium tingkat tinggi, serta profesionalitas kerja panitia lokal. Lebih dari itu, langkah strategis ini diambil untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik SMA dalam merasakan atmosfer pembelajaran di perguruan tinggi unggul. Kepuasan terhadap ekosistem belajar UMM tersebut bahkan diamini langsung para dewan juri yang sebagian besar merupakan guru besar dan penilai olimpiade kaliber internasional. “Review dari para juri yang ada, mereka mengatakan bahwa tahun lalu ini adalah OSN yang terbaik karena diadakan di tempat yang atmosfer akademiknya benar-benar terasa,” jelas Maria pada Rabu (20/5/2026). Berbicara mengenai skala kompetisi, OSN 2026 di UMM dipastikan berlangsung sangat kompetitif. Ajang prestisius ini akan mempertemukan sekitar 600 siswa berprestasi dari seluruh Indonesia yang berhasil menyisihkan lebih dari 946 ribu pendaftar pada tahapan seleksi daerah. Menyadari besarnya potensi para peserta, Puspresnas tahun ini juga merancang terobosan edukatif agar siswa tidak hanya fokus menghadapi ujian keilmuan. Di sela jadwal kompetisi, peserta akan dilibatkan dalam program baru bertajuk “Bina Talenta Indonesia Kolaboratif”. Program tersebut difokuskan pada penguatan jejaring, kolaborasi, dan kecerdasan emosional peserta. “Anak-anak lintas bidang ilmu, lintas daerah, dan sekolah akan kita buatkan suatu program kolaborasi untuk memperkuat kemampuan problem solving mereka melalui OSN ini yang nantinya diselenggarakan di UMM,” ungkapnya. Perhelatan OSN 2026 di lingkungan UMM diharapkan tidak sekadar menjadi ajang seremonial pemberian medali, melainkan menjadi kawah candradimuka bagi generasi emas Indonesia. Kolaborasi strategis antara Kemendikdasmen dan UMM ini membawa pesan bahwa institusi pendidikan harus terus berinovasi dalam menyiapkan pemimpin masa depan. Melalui kompetisi berstandar tinggi di UMM tersebut, nantinya akan diseleksi delegasi-delegasi terbaik yang siap mengharumkan nama Indonesia pada olimpiade sains tingkat dunia. “Harapannya adalah hasil anak-anak juara ini benar-benar layak dan kompetitif untuk bisa lanjut di ajang internasional dengan hasil yang terbaik,” pungkasnya. (Faqih/AS)

Dosen UMM Masuk Daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia 2026, Ini Sosoknya

Prestasi membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan Indonesia setelah seorang dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menembus kancah internasional. Sholahuddin Al Fatih, dosen dari Fakultas Hukum UMM, resmi masuk dalam daftar 100 akademisi terbaik dunia di bidang Ilmu Sosial. Pemeringkatan yang dirilis oleh measuresHE ini menempatkan Fatih di posisi ke-91 secara global. Pencapaian ini membuatnya sejajar dengan para peneliti terkemuka dari kampus elit dunia, termasuk Oxford University di Inggris dan Deakin University di Australia. Sistem Penilaian Objektif dan Transparan Berbeda dengan pemeringkatan universitas pada umumnya, measuresHE menitikberatkan penilaian pada kualitas individu peneliti secara mandiri. Sistem ini bekerja secara objektif tanpa melibatkan skema langganan berbayar dalam menentukan hasil akhirnya. Fatih menjelaskan bahwa sistem kurasi ini sangat ketat karena memantau langsung rekam jejak akademik melalui basis data terverifikasi. Data tersebut dilacak secara murni dari profil profesional seperti Scopus dan Web of Science guna memastikan validitas karya. Ada tiga indikator utama yang digunakan dalam proses pemeringkatan ini: Research Gravitas: Indikator ini digunakan untuk mengukur seberapa dalam kualitas intelektual dari riset yang dihasilkan. Olympic Mean: Sebuah standar untuk menyaring dan memastikan konsistensi mutu dari setiap karya tulis yang dipublikasikan. Interaction Credit: Bentuk apresiasi terhadap kontribusi peneliti dalam kolaborasi akademik yang bersifat substantif. Ketiga metrik di atas dirancang untuk menjaring para pilar intelektual sejati yang memberikan dampak nyata bagi ilmu pengetahuan. Dengan metode tersebut, reputasi lembaga besar tidak lagi menjadi penentu utama dalam penilaian kualitas individu. Fatih menekankan bahwa pencapaian ini merupakan validasi atas kerja kerasnya dalam mengejar riset yang berbobot. Baginya, menjadi akademisi elit dunia bukan soal adu banyak jumlah publikasi, melainkan tentang seberapa besar dampak nyata karya tersebut. Ia menegaskan bahwa pengakuan ini membuktikan pentingnya riset yang menawarkan wawasan mendalam bagi masyarakat. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak,” ungkap Fatih sebagaimana dikutip dari laman resmi UMM.

Sekolah Terjebak Formalitas Administrasi, Prof. Nazar: Kualitas Pendidikan Tak Bisa Menguat

MALANG POST – Di tengah maraknya keluhan pendidik terkait beratnya beban birokrasi yang kerap menyita waktu mengajar, sebuah kritik tajam dan reflektif justru mengemuka dari mimbar akademik. Kualitas pendidikan dipastikan tidak akan pernah menguat jika sekolah terus terjebak mengejar formalitas administrasi, tetapi abai dalam membangun ekosistem belajar yang sehat. Peringatan ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam Malik Fadjar Bootcamp bertajuk ‘Manajemen Kelembagaan Sekolah’ yang diinisiasi Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute. Panduan Kota & Daerah Acara ini dihadiri oleh puluhan akademisi dan pengelola sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya, Jumat (22/2026). Dalam stadium generale tersebut, Nazar sapaan akrabnya menyoroti ketimpangan distribusi dan kompetensi guru sebagai salah satu akar utama menurunnya mutu pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa saat ini masih banyak tenaga pengajar yang terpaksa bekerja tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, sekolah justru terus ditekan untuk memenuhi berbagai target administratif yang sering kali tidak selaras dengan esensi peningkatan kualitas belajar siswa.   Kondisi ini tidak hanya menggerus kualitas pembelajaran, tetapi juga mengancam kredibilitas lembaga pendidikan di mata publik. “Kalau guru mengajar tidak sesuai kompetensinya, dampaknya panjang. Mutu sekolah turun, kepercayaan masyarakat ikut turun, dan akhirnya sekolah kehilangan daya saing,” ujarnya. Lebih lanjut, ia mengkritik keras fenomena birokratisasi pendidikan yang dinilai semakin mencengkeram kebebasan berekspresi institusi pendidikan. Banyak sekolah kini perlahan berubah menjadi sekadar institusi pengejar pengakuan administratif dan terlalu fokus memoles citra luar, sehingga melupakan urgensi school leadership. Oleh karenanya, pendidikan berbasis masyarakat seperti sekolah Muhammadiyah dituntut untuk tidak sekadar mengekor pada pola kerja birokrasi, melainkan harus berani berinovasi sesuai kebutuhan sosial sekitarnya. “Sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar formalitas, tetapi kehilangan keberanian membaca kebutuhan riil. Kita jangan hanya sibuk selebrasi dan pencitraan. Yang lebih penting adalah bekerja tenang, membangun kualitas secara konsisten, dan memberi kontribusi nyata,” tegasnya. Selain persoalan sistemik, ia juga menyayangkan masih melekatnya stigma yang menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan kelas dua. Pandangan keliru ini diam-diam membuat banyak generasi muda berprestasi enggan menjadikan dunia pendidikan sebagai pilihan karier utama. Padahal, maju mundurnya kualitas pendidikan masa depan sangat bergantung pada sejauh mana profesi mulia ini mampu dihargai, baik secara sosial maupun intelektual. “Jika guru merasa second class, sekolah akan sulit berkembang.  Pendidikan membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa profesi ini adalah jalan pengabdian sekaligus jalan membangun peradaban,” ungkapnya. Sumber Daya Pendidikan Sebagai pesan penutup, Nazar menegaskan bahwa manajemen kelembagaan sekolah sejatinya adalah seni membangun sistem yang hidup, bukan sekadar urusan mengelola tumpukan dokumen dan laporan. Kualitas pendidikan sejati tidak pernah lahir dari deretan slogan besar, melainkan dari konsistensi merawat ekosistem yang sehat antara sekolah, pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat. Lembaga pendidikan yang kuat bukan hanya yang mampu meluluskan siswa bernilai akademik tinggi, tetapi yang sukses mencetak manusia berkarakter tangguh untuk menghadapi kerasnya dinamika perubahan zaman.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)