Dobrak Batasan Linieritas: Alumni UMM Berkarier di Safety Officer

MALANG POST – Tren karier generasi muda kini semakin dinamis, mendobrak batasan linieritas antara program studi di bangku kuliah dan realitas dunia kerja. Hal ini terbukti nyata di tengah masifnya industri pertambangan di Kalimantan Timur yang menyerap puluhan ribu tenaga teknis. Siapa sangka, peran krusial menjaga keselamatan operasional para pekerja tambang justru dipegang oleh seorang lulusan Ilmu Pemerintahan. Sains Berbekal berbagai pengalaman berharga selama berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satunya dengan mengikuti kelas Center of Excellence (CoE), Resky Maharani Ma’mur berhasil menembus kerasnya sektor ekstraktif dan berkarier sebagai Safety Officer. Menjalani peran vital di area operasional PT Pangansari Utama, Resky memikul tanggung jawab besar di Departemen Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE). Alumnus Ilmu Pemerintahan angkatan 2020 ini dituntut untuk terus mengawasi penerapan regulasi Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH), Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP), hingga menjaga standar keamanan pangan (Food Safety). Meski sekilas pekerjaannya jauh dari urusan administrasi negara, ia justru menyadari bahwa ilmu tata kelola yang dipelajarinya menjadi fondasi kuat. Ia menjelaskan bahwa ilmu dari bangku kuliah menyadarkannya tentang pentingnya pengawasan implementasi sebuah regulasi melalui proses monitoring agar berjalan efektif. Panduan Kota & Daerah “Ilmu Pemerintahan mengajarkan saya bagaimana kebijakan tidak hanya dibuat secara administratif, tetapi juga harus diawasi implementasinya melalui monitoring dan evaluasi agar benar-benar berjalan efektif di lapangan,” tegasnya. Lebih lanjut, kemampuannya beradaptasi di industri swasta ini sangat ditunjang oleh keputusannya mendalami kelas CoE Analis Kebijakan. Langkah strategis tersebut amat relevan dengan kebutuhan industri masa kini yang bertumpu pada data. Kompetensi membedah data terbukti amat krusial ketika dirinya dituntut menyusun laporan HSE, memantau capaian Key Performance Indicators (KPI), hingga merumuskan mitigasi insiden kerja di area tambang yang penuh risiko. Menurutnya, kurikulum yang ditawarkan dalam kelas unggulan Kampus Putih tersebut sangat aplikatif karena langsung menargetkan penguasaan keterampilan teknis seperti pengolahan hingga visualisasi data. “Keunggulan program CoE ini lebih fokus pada praktik dan skill yang dibutuhkan dunia kerja, seperti pengolahan, analisis, dan visualisasi data, bukan hanya teori perkuliahan,” ungkapnya. Selain ketajaman analitis, keluwesan Resky saat berkomunikasi dengan pemangku kepentingan maupun pekerja teknis merupakan buah manis dari proses berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAP) dan keterlibatannya di Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Sains Guna melengkapi profesionalismenya, ia bahkan berhasil mengantongi sertifikasi Ahli K3 Umum dari Kementerian Ketenagakerjaan. Mengingat rekam jejak kariernya yang inspiratif tersebut, ia menegaskan bahwa mahasiswa harus peka terhadap peluang dari kampus dan bersabar dalam menekuni satu bidang keahlian secara mendalam. “Manfaatkan program CoE sebaik mungkin karena skill analisis data sangat dibutuhkan. Dalami skill yang disukai, ketika kita sudah tahu apa bidang yang kita sukai, dalami, sabar juga menjadi yang paling utama,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Dosen UMM Berdayakan Ibu Balita di Karangploso, Cegah Stunting Lewat Pangan Lokal

Indonesiandaily.com – Sejumlah Posyandu di Kecamatan Karangploso menggelar program pengabdian masyarakat untuk mencegah stunting pada balita. Program ini memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai basis penyusunan menu bergizi sehari-hari anak, sebagai upaya konkret menekan angka stunting di tingkat kecamatan. Kegiatan yang digagas oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu balita dalam memilih, mengolah, dan menyajikan makanan bergizi dari bahan-bahan yang mudah didapat di lingkungan sekitar. Tim pengabdian masyarakat terdiri dari dosen Fakultas Keperawatan dan Fakultas Psikologi UMM, yaitu: Ika Rizki Anggraini, S.Kep.Ns.M.Kep Dr. Siti Maimunah, S.Psi., M.M., M.A. Ratih Eka Pertiwi, M.Psi. Menurut tim, program ini dirancang secara berkelanjutan melalui pendampingan langsung kepada para ibu. Kegiatan mencakup penyuluhan tentang pentingnya gizi seimbang, simulasi praktik pengolahan pangan lokal seperti sayuran, umbi-umbian, kacang-kacangan, telur, ikan, dan sumber protein lokal lainnya menjadi menu sehat yang menarik bagi anak. Selain edukasi dan praktik memasak, kegiatan juga meliputi pemantauan tumbuh kembang balita. Tim melakukan pengukuran dan evaluasi pertumbuhan anak secara rutin, sekaligus memberikan arahan kepada orang tua mengenai pola asuh yang tepat, pola makan sehat, serta pentingnya pemeriksaan rutin ke posyandu untuk deteksi dini risiko stunting. Pengarahan dari Tim Dosen UMM diikuti dengan seksama oleh ibu-ibu balita di Karangploso. (Istimewa) “Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak harus bergantung pada makanan mahal. Bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar kita dapat diolah menjadi makanan bernutrisi tinggi yang mendukung pertumbuhan optimal anak,” ujar salah satu anggota tim. Program ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain. Dengan pendekatan holistik yang menggabungkan aspek keperawatan dan psikologi, kegiatan ini tidak hanya menyasar aspek fisik anak, tetapi juga memberdayakan ibu sebagai garda terdepan pemenuhan gizi keluarga serta kesiapan mental orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak. Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam membantu penurunan angka stunting di tingkat kecamatan.
Dosen UMM Ajarkan Refusal Skill kepada Remaja Toyomarto untuk Hindari Penyalahgunaan NAPZA

Indonesiandaily.com – Sebanyak 40 remaja Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, mengikuti penyuluhan pencegahan penyalahgunaan NAPZA melalui pendekatan Refusal Skill. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat SAFE-Teens yang digelar di Balai Desa Toyomarto pada Minggu, 26 April 2026. Penyuluhan ini menghadirkan Muhammad Ari Arifianto, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.J, dosen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai pemateri. Kegiatan turut dihadiri Kepala Desa Toyomarto Sumito, SH, Sekretaris Desa Anas, serta penanggung jawab remaja desa, Kak Irgi. Dalam sesi penyuluhan, Muhammad Ari Arifianto memberikan pemahaman mendalam mengenai NAPZA, mulai dari pengertian, jenis-jenis, dampak yang ditimbulkan, hingga tanda-tanda dan gejala penggunaannya. Ia juga menjelaskan metode, modul, serta tahapan yang biasanya terjadi dalam penyalahgunaan NAPZA pada kalangan remaja. “Pengetahuan saja tidak cukup. Remaja harus memiliki keterampilan untuk menolak tawaran NAPZA,” ujar Ari Arifianto. Puncak materi adalah penjelasan dan praktik Refusal Skill atau keterampilan menolak. Peserta diajak melakukan role play simulasi situasi nyata agar mereka mampu menolak ajakan teman atau lingkungan dengan tegas namun tetap sopan. Antusiasme remaja terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Penyuluhan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama oleh para remaja untuk menjauhi segala bentuk penyalahgunaan NAPZA. Para remaja yang menghadiri penyuluhan menandatangani komitmen. (Istimewa) Program SAFE-Teens (Supportive, Aware, Free from Excess) ini merupakan intervensi kesehatan jiwa berbasis kelompok inklusif yang diharapkan dapat membentuk generasi muda Toyomarto yang lebih tangguh menghadapi tantangan kesehatan jiwa, termasuk bahaya NAPZA.
Pembagian Daging Kurban: Menghidupkan Nilai Sosial dan Ketakwaan dalam Spirit Muhammadiyah

pwmu.co –Hari raya Iduladha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga tentang bagaimana nilai ketakwaan, kepedulian sosial, dan keadilan diwujudkan dalam kehidupan umat Islam. Sebagai warga Muhammadiyah, kita perlu memahami bahwa kurban bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari dakwah sosial Islam yang sangat besar maknanya. Dalam praktik di masyarakat, sering kali pembahasan kurban hanya berhenti pada besar sapi, harga hewan, atau jumlah kupon pembagian. Padahal, Islam telah memberikan tuntunan yang jelas mengenai bagaimana daging kurban dibagikan dan kepada siapa prioritas itu diberikan. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan al-Quran dan Sunnah juga memiliki pandangan yang tegas dan moderat mengenai hal ini. Allah SWT berfirman dalam Surah al-Hajj ayat 36: فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ Ayat ini menjelaskan bahwa daging kurban boleh dimakan oleh orang yang berqurban dan juga diberikan kepada masyarakat, baik yang meminta maupun yang tidak meminta. Muhammadiyah memahami ayat ini sebagai dasar bahwa qurban memiliki dimensi ibadah sekaligus dimensi sosial. Karena itu, pembagian daging tidak boleh hanya berputar pada kalangan tertentu, melainkan harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, terutama kaum dhuafa. Dalam praktik pembagian, sering muncul pertanyaan tentang kepala, kaki, tulang, kulit, dan jeroan hewan qurban. Muhammadiyah berpandangan bahwa seluruh bagian hewan qurban merupakan bagian dari amanah ibadah. Karena itu, bagian-bagian tersebut tidak boleh diperjualbelikan untuk kepentingan pribadi dan tidak boleh dijadikan upah jagal. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa Muhammad memerintahkan seluruh bagian hewan kurban dibagikan dan jagal tidak dibayar dari bagian qurban tersebut. Dalam pelaksanaan di lapangan, pembagian juga perlu dilakukan secara adil dan transparan. Misalnya seekor sapi dengan berat hidup 420 kilogram dapat menghasilkan sekitar 160 kilogram daging bersih setelah dipisahkan dari kepala, kaki, kulit, tulang, dan isi perut. Dari jumlah tersebut, sebagian dapat diberikan kepada shahibul qurban, dan sebagian besar lainnya dibagikan kepada masyarakat. Prinsip ini menunjukkan bahwa qurban bukan tentang “mengambil kembali” daging sebanyak-banyaknya, tetapi tentang berbagi dan menghadirkan manfaat sosial. Muhammadiyah juga menegaskan bahwa pembagian “sepertiga untuk pengkurban, sepertiga hadiah, dan sepertiga untuk fakir miskin” bukanlah angka mutlak yang wajib dibagi persis seperti itu. Yang paling penting adalah tercapainya tujuan syariat, yaitu pemerataan manfaat dan kepedulian kepada sesama. Dalam kondisi masyarakat yang banyak membutuhkan, maka memperbesar bagian untuk fakir miskin tentu lebih utama. Jika kita melihat sejarah pada masa Nabi Muhammad SAW, semangat sosial dalam kurban sangat terasa. Pernah suatu ketika Nabi melarang umat Islam menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari. Larangan itu bukan karena daging kurban haram disimpan, tetapi karena saat itu banyak fakir miskin dan pendatang di Madinah yang membutuhkan makanan. Setelah kondisi masyarakat membaik, Nabi kemudian membolehkan umat Islam menyimpan daging kurban kembali. Dari kisah ini kita belajar bahwa Islam sangat memperhatikan kemaslahatan sosial. Allah SWT juga menegaskan: لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah darah dan dagingnya, melainkan ketakwaan dan keikhlasan kita. Maka sebagai warga Muhammadiyah, sudah seharusnya kita menjadikan kurban sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial, mempererat ukhuwah, dan menunjukkan bahwa Islam benar-benar hadir untuk menolong masyarakat. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih egoisme dan rasa ingin memiliki sendiri. Semangat inilah yang perlu terus dihidupkan oleh warga Muhammadiyah agar Iduladha tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi menjadi gerakan sosial Islam yang membawa keberkahan bagi seluruh umat.
Rektor UMM Ingatkan Marwah Guru sebagai Pembangun Peradaban: Pendidikan Indonesia Jangan Terjebak Formalitas

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Pesan penting disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Nazaruddin Malik kepada para guru dan dunia pendidikan nasional secara umum. Pesan ini disampaikan di tengah maraknya keluhan pendidik terkait beratnya beban birokrasi yang kerap menyita waktu mengajar, hingga memunculkan sebuah kritik tajam dan reflektif yang mengemuka dari mimbar akademis. Kualitas pendidikan dipastikan tidak akan pernah menguat jika sekolah terus terjebak mengejar formalitas administrasi, tetapi abai dalam membangun ekosistem belajar yang sehat. Peringatan ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Pesan tegas ini terungkap dalam Malik Fadjar Bootcamp bertajuk ‘Manajemen Kelembagaan Sekolah’ yang diinisiasi Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute. Acara ini dihadiri oleh puluhan akademisi dan pengelola sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya pada Jumat (22/5). Dalam stadium generale tersebut, rektor yang akrab disapa Nazar ini menyoroti ketimpangan distribusi dan kompetensi guru sebagai salah satu akar utama menurunnya mutu pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa saat ini masih banyak tenaga pengajar yang terpaksa bekerja tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, sekolah justru terus ditekan untuk memenuhi berbagai target administratif yang sering kali tidak selaras dengan esensi peningkatan kualitas belajar siswa. Kondisi ini tidak hanya menggerus kualitas pembelajaran, tetapi juga mengancam kredibilitas lembaga pendidikan di mata publik. “Kalau guru mengajar tidak sesuai kompetensinya, dampaknya panjang. Mutu sekolah turun, kepercayaan masyarakat ikut turun, dan akhirnya sekolah kehilangan daya saing,” ungkap Nazar. Ia mengkritik keras fenomena birokratisasi pendidikan yang dinilai semakin mencengkeram kebebasan berekspresi institusi pendidikan. Banyak sekolah kini perlahan berubah menjadi sekadar institusi pengejar pengakuan administratif dan terlalu fokus memoles citra luar, sehingga melupakan urgensi school leadership. Oleh karenanya, pendidikan berbasis masyarakat seperti sekolah Muhammadiyah dituntut untuk tidak sekadar mengekor pada pola kerja birokrasi, melainkan harus berani berinovasi sesuai kebutuhan sosial sekitarnya. Rektor UMM, Nazaruddin Malik dalam acara bincang-bincang konstruktif Malik Fadjar Bootcamp, Jumat (22/5)./dok. UMM “Sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar formalitas, tetapi kehilangan keberanian membaca kebutuhan riil. Kita jangan hanya sibuk selebrasi dan pencitraan. Yang lebih penting adalah bekerja tenang, membangun kualitas secara konsisten, dan memberi kontribusi nyata,” lanjutnya. Selain persoalan sistemik, ia juga menyayangkan masih melekatnya stigma yang menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan kelas dua. Pandangan keliru ini diam-diam membuat banyak generasi muda berprestasi enggan menjadikan dunia pendidikan sebagai pilihan karier utama. Padahal, maju mundurnya kualitas pendidikan masa depan sangat bergantung pada sejauh mana profesi mulia ini mampu dihargai, baik secara sosial maupun intelektual. “Jika guru merasa second class, sekolah akan sulit berkembang. Pendidikan membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa profesi ini adalah jalan pengabdian sekaligus jalan membangun peradaban,” sambungnya. Nazar menegaskan, manajemen kelembagaan sekolah sejatinya adalah seni membangun sistem yang hidup, bukan sekadar urusan mengelola tumpukan dokumen dan laporan. Menurutnya, kualitas pendidikan sejati tidak pernah lahir dari deretan slogan besar, melainkan dari konsistensi merawat ekosistem yang sehat antara sekolah, pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat. Ia menekankan, lembaga pendidikan yang kuat bukan hanya yang mampu meluluskan siswa bernilai akademik tinggi, tetapi yang sukses mencetak manusia berkarakter tangguh untuk menghadapi kerasnya dinamika perubahan zaman. *** Editor: YAN
Karate UMM Raih Enam Medali di Batu Karate Challenge Open Tournament

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang olahraga. Kali ini, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil meraih enam gelar juara dalam ajang Batu Karate Challenge Open Tournament yang digelar di GOR Gajah Mada, Kota Batu pada 26 – 28 Desember 2025. Kejuaraan ini diikuti oleh atlet karate dari berbagai daerah di Jawa Timur dan berada di bawah naungan Federasi Olahraga Karate Indonesia (FORKI) Kota Batu. Dari enam atlet yang diturunkan, lima di antaranya berhasil menyumbangkan medali bagi UMM. Capaian ini dinilai semakin istimewa karena diperoleh di tengah proses regenerasi atlet dan berkurangnya jumlah personel yang aktif bertanding. Meski demikian, Karate UMM tetap mampu menjaga reputasi sebagai salah satu UKM olahraga berprestasi di lingkungan kampus. Ketua Umum Karate UMM, Fadil Inayatullah menjelaskan bahwa timnya tampil di sejumlah kategori pertandingan dan berhasil membawa pulang enam juara. “Kemarin itu dapat juara tiga Kata Perorangan Senior Putri, Juara tiga Kumite Perorangan Senior Putra, Juara tiga Kumite Perorangan Senior Putri, dan Juara Tiga Kata Beregu Junior Putri. Salah satu atlet kami bahkan meraih dua medali dari dua kategori berbeda yakni kata beregu junior putri serta kata perorangan senior putri masing-masing juara tiga,” jelasnya. Untuk menghadapi Batu Karate Challenge, para atlet menjalani program latihan khusus yaitu training center (TC) intensif selama lebih dari satu bulan. Program ini dirancang khusus bagi atlet yang akan diturunkan di kejuaraan. “Kalau di TC, latihannya benar-benar dipush. Fokusnya bukan hanya fisik, tapi juga kesiapan tanding. Seminggu dua kali latihan khusus, minimal sebulan sebelum kejuaraan,” ujar Fadil. Disisi lain, pembina Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso, M.A., menilai capaian ini sebagai hasil dari proses adaptasi dan pembenahan internal yang cukup signifikan. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya Karate UMM sempat vakum dari berbagai kejuaraan karena adanya pergantian kepengurusan dan pelatih. “Kita fokus dulu pada internal, lalu kembali aktif latihan. Sebelum turun ke kejuaraan, kita juga mengadakan pelatihan khusus dengan pelatih baru,” jelasnya. Menurut Ageng, perubahan pelatih membawa pendekatan baru yang lebih sesuai dengan karakter atlet muda saat ini. “Pelatih yang sekarang pendekatannya lebih soft, lebih humanis. Tidak hanya fisik, tapi juga membangun feeling dan chemistry antara pelatih dan atlet. Ternyata itu sangat penting,” ungkapnya. Selain itu, Ageng juga mengaku bangga dengan keputusan para atlet dan pengurus Karate UMM yang berani melakukan perubahan demi kemajuan tim. “Saya puas dan bangga karena mereka berani menentukan arah sendiri dan bertanggung jawab atas pilihannya. Mereka memilih pelatih baru, dan sekarang bisa membuktikan dengan prestasi,” ungkapnya. Ke depan, Karate UMM menargetkan peningkatan prestasi di berbagai ajang, termasuk kejuaraan tingkat provinsi, nasional, hingga multievent seperti POMPROV dan SEA Games. Dengan dukungan kampus serta semangat baru dari para atlet dan pelatih, Karate UMM optimistis dapat terus melahirkan prestasi yang membanggakan, sekaligus mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang di tingkat yang lebih luas. (*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Sambut Indonesia Emas 2025: Indonesia Butuh “New Collar Workers”

(Pidato Rektor pada Wisuda Ke-119 #4 Hall Dome September 2025) Peristiwa unjuk rasa yang baru saja kita alami sebagai sebuah bangsa, menunjukkan semakin pentingnya menumbuhkan kesadaran akan makna strategis, dari kemampuan untuk memiliki empati dalam diri setiap insan Indonesia. Berempati memungkinkan seseorang secara sadar melihat kondisi di sekelilingnya. Hal ini membuatnya merasakan keadaan, perasaan, dan pengalaman orang lain. Terutama di tengah berbagai persoalan, tantangan, serta kesenjangan ekonomi dan sosial yang sedang dihadapi bangsa. Transformasi sumber daya insani Indonesia, sangat dibutuhkan untuk dapat menggapai dan mencapai Indonesia Emas tahun 2045. Ini dapat dicapai dengan proses pendidikan yang akan membawa generasi kita pada tantangan besar, yakni penciptaan lapangan kerja produktif di tengah perekonomian global – yang rentan terhadap kelesuan dan sangat volatile. Proses transformasi besar ini membutuhkan lulusan pendidikan tinggi yang memiliki empati kuat. Menumbuhkan empati merupakan proses berkelanjutan yang harus dipupuk dan dilatih secara terus-menerus, Agar seseorang memiliki kemampuan mengelola emosi diri – dalam dimensi makna yang luas dan mendalam, perlu proses untuk membentuk kapabilitas sosial dan emosionalnya. Berikutnya, dibutuhkan praktik-praktik yang tepat untuk melihat keberhasilan dalam membangun empati. Seperti sikap welas asih, menjalin persahabatan, serta budaya literasi yang terus dikembangkan di UMM. Program semacam pendidikan dan pengembangan kepribadian, serta kepemimpinan atau P2KK, Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, serta praktik-praktik pergaulan kampus lain yang menjadi proses interaksional antar sivitas akademika, diharapkan menjadi modal tumbuhnya empati tersebut. Apabila empati didukung oleh kemampuan adaptabilitas yang tinggi – sebagai sebuah kapasitas yang tidak hanya memuat unsur bekerja cerdas atau agile, didukung dengan organisasi yang memiliki sumber daya insani melek digital atau digital dexterity, serta kemampuan melihat perubahan sebagai peluang untuk menjadi bangsa yang lebih maju, maka proses kolaborasi akan dapat dijalankan dengan baik. Dengan demikian, kita dapat menjadi bangsa yang besar, yang kemajuannya tidak lekang oleh zaman dan waktu. Merujuk pada istilah CEO of IBM, Ginni Rometty, ia menyebut new collar workers bukanlah seseorang yang berkerah putih maupun biru, melainkan pembelajar yang tangguh, adaptif, kuat di lapangan, dan siap tumbuh bersama teknologi. Mereka inilah yang akan menjadi andalan bangsa Indonesia dalam menjalani proses transformasi penting menuju Indonesia Emas. Melalui wisuda hari ini, saya ingin mengingatkan kita semua untuk terus tanpa kenal lelah melahirkan alumni-alumni yang membanggakan – dengan kekhasan atau keunikan yang memiliki kemampuan empati dan adaptabilitas yang tinggi. Tentu saja, di luar itu yang terpenting adalah ketakwaan kepada Allah SWT sebagai ciri khas alumni Universitas Muhammadiyah Malang – yang harus senantiasa kita jaga. Demikian sambutan saya pada hari ini, Saya ucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati beserta segenap orang tua yang turut berbahagia.
Mendunia, UMM Sambut Puluhan Mahasiswa Internasional dari 21 Negara

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat posisinya sebagai kampus global. Sebanyak 47 mahasiswa internasional dari 21 negara yang berbeda secara resmi bergabung menjadi bagian dari keluarga besar UMM. Kehadiran mereka disambut hangat dalam acara welcoming ceremony for International Students yang penuh keakraban, menandai babak baru bagi atmosfer akademik kampus yang semakin kaya akan keberagaman budaya. Acara penyambutan yang berlangsung hangat ini menjadi titik awal penting bagi para mahasiswa internasional untuk menapaki perjalanan akademik mereka di UMM. Suasana penuh kekeluargaan semakin terasa melalui sambutan dari pimpinan universitas serta Kepala International Relations Office (IRO) yang menegaskan komitmen UMM sebagai rumah kedua bagi para mahasiswa dari berbagai negara. Kepala IRO UMM, Dr. Ir. Listiari Hendraningsih, MP., dalam sambutannya menyampaikan betapa berharganya kehadiran para mahasiswa asing tersebut. “Kehadiran kalian sangat berarti karena selain mahasiswa baru, beberapa mahasiswa internasional dari angkatan sebelumnya juga turut hadir,” ujarnya dengan penuh kehangatan. Ucapan itu disambut antusias oleh para peserta, menambah nuansa kebersamaan yang erat di antara mahasiswa baru. Listiari memaparkan, 47 mahasiswa ini datang melalui berbagai jalur. Sebanyak 19 mahasiswa mengikuti program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) di tahun pertama dan 19 mahasiswa lainnya langsung masuk ke departemen masing-masing. Sisanya, sembilan mahasiswa, masih dalam perjalanan dan akan segera menyusul. Senada dengan Listiari, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si., Kepala BIPA UMM, turut menyambut para mahasiswa dengan penuh semangat. Ia berharap momen ini bukan hanya tentang menimba ilmu, tetapi juga menjadi ajang mempererat persaudaraan lintas negara. “Di UMM, kami ingin Anda merasa seperti berada di rumah sendiri. Jadikanlah momen ini sebagai langkah awal untuk menggapai mimpi, membangun jejaring, dan mempererat persaudaraan lintas negara,” pesannya. Salah satu mahasiswa baru yang mencuri perhatian adalah Anna dari Madagaskar jurusan PGSD. Meski baru tiba, ia sudah menunjukkan antusiasme luar biasa. Ia bahkan bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa Indonesia, sebuah kemampuan yang ia pelajari dari seniornya yang juga berkuliah di UMM. Anna mengaku sangat senang bisa mewujudkan mimpinya belajar di Indonesia. “Saya menyukainya karena Indonesia beragam budayanya,” ungkapnya. Saat ditanya tentang kesan pertamanya terhadap UMM dan Malang, Anna menceritakan pengalamannya dengan senyum lebar. “Saya merasa senang. Saya juga memiliki tujuan menjadi guru dengan cara mendisiplinkan diri sendiri. Orang-orang di sini (UMM) suka membantu orang internasional maupun orang lain,” katanya. Melalui kehadirannya, para mahasiswa internasional ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif, tidak hanya dari segi akademik, tetapi juga dalam memperkaya kehidupan kampus dengan perspektif global. Keberagaman yang mereka bawa menjadi bukti nyata bahwa UMM adalah kampus yang terbuka dan siap menjadi jembatan bagi para pemuda dari seluruh dunia untuk menggapai cita-cita. (ali/wil)
Ini Alasan Mahasiswa Madagaskar UMM Belajar di Indonesia

Senyum ramah, sapaan ‘mas’ atau ‘mbak’, hingga kebiasaan menundukkan kepala saat bertegur sapa—hal-hal kecil itu justru membuat Razafindrambinina Marie Anna jatuh hati pada Indonesia. Bagi mahasiswi asal Madagaskar yang kini menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sopan santun masyarakat Indonesia adalah pengalaman budaya yang tak ternilai, sekaligus alasan ia merasa benar-benar diterima di negeri orang. Keputusan Anna untuk kuliah di UMM berawal dari cerita pamannya yang pernah tinggal di Indonesia. Rekomendasi itu semakin kuat ketika ia mendengar banyak testimoni positif dari teman-temannya. “Mereka bilang UMM punya banyak mahasiswa internasional, fasilitasnya bagus, dan rankingnya juga baik. Lalu saya ditawari beasiswa penuh Summit. Itu membuat saya mantap memilih UMM dan mengambil di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP),” ujar Anna. Mahasiswa asal Madagaskar tersebut mengungkapkan jika UMM bukan hanya kampus dengan reputasi akademik, melainkan juga lingkungan yang indah. Ia mengatakan UMM punya fasilitas lebih baik dibanding universitas lain. Kampusnya luas, hijau dengan banyak pepohonan, tapi juga modern. Ia juga suka perpaduan eco-campus dengan arsitektur modern. Pengalaman pertama Anna di Indonesia adalah mengikuti Pesmaba (Pengenalan Studi Mahasiswa Baru), kegiatan tahunan untuk menyambut mahasiswa baru UMM. Baginya, Pesmaba adalah pintu masuk penting untuk mengenal kampus sekaligus budaya Indonesia. “Kesan pertama saya saat Pesmaba adalah senang sekali karena bisa bertemu banyak teman baru dalam kelompok. Saya juga ikut langsung berbagai kegiatan. Di antara semua, flash mob, konser di UMM adalah yang paling berkesan,” ujarnya. Selama seminggu tinggal di asrama menjalani P2KK, Anna belajar arti kebersamaan dalam keberagaman. Ia jadi tahu budaya yang berbeda, seperti musik tradisional, acara seni, hingga lukisan. Ia juga mengatakan jika memiliki teman yang baik dari Indonesia maupun internasional dan sangat ramah sehingga membuat ia menjadi cepat untuk beradaptasi dengan sesama. “Orang Indonesia sangat menghargai orang lain. Ada panggilan khusus seperti mas, mbak, pak, atau bu. Saat menyapa, mereka sedikit membungkuk dan selalu tersenyum. Itu hal yang sangat bagus menurut saya,” katanya. Meski jauh dari keluarga, Anna tetap memelihara semangatnya. Ia sadar bahwa perjalanannya di UMM adalah langkah besar untuk mewujudkan mimpi. “Harapan saya, bisa beradaptasi dengan baik, belajar sungguh-sungguh, dan kelak menjadi guru yang bukan hanya mengajar, tetapi juga membimbing dengan hati,” ujarnya. Anna adalah salah satu potret nyata bagaimana UMM bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan jembatan bagi mahasiswa internasional untuk menjemput mimpi. Dari Madagaskar ke Malang, perjalanannya adalah kisah tentang keberanian, persahabatan, dan keyakinan bahwa pendidikan mampu melampaui batas negara. (vin/wil)
RBC UMM dan Kak Seto Jadi Daya Tarik di Festival Literasi

Pegiat anak nasional Seto Mulyadi bersama RBC Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut memeriahkan Festival Literasi Renjana Amerta Carita di Wisata Sumber Sira, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, 12–14 September 2025. Kehadiran keduanya menegaskan komitmen nyata dalam memperingati International Literacy Day (ILD) 2025. RBC menghadirkan Mobil Terbang (Bakti Terhadap Bangsa), mobil perpustakaan keliling yang membawa ratusan koleksi buku anak. Selama tiga hari, mobil ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang bermain literasi bagi anak-anak dan keluarga. Sejumlah pengunjung menyambut antusias. Uswah, guru pendamping peserta lomba mendongeng, mengaku anak didiknya begitu antusias saat berkunjung ke Mobil Terbang. “Biasanya anak-anak lebih betah melihat handphone, tapi di sini dia betah membaca. Bahkan minta saya untuk ikut datang lagi besok. Bagi kami, ini pengalaman berharga,” tuturnya. Sementara itu, Kak Seto tampil dengan gaya khasnya, menyapa anak-anak penuh keceriaan dan mengingatkan pentingnya menumbuhkan minat baca sejak dini. Didukung penampilan seorang ventriliquist, suasana festival semakin riuh penuh tawa. “Festival literasi seperti ini memberi ruang bagi anak-anak untuk bertemu buku sekaligus menemukan kegembiraan. Kami dengan senang hati berpartisipasi dan berharap Mobil Terbang dapat menjadi jembatan literasi yang dekat dengan masyarakat,” ujar Subhan Setowara, Direktur Eksekutif RBC Institute. Rangkaian kegiatan festival semakin kaya dengan pertunjukan seni anak, lomba mendongeng, hingga lomba mewarnai. Semua dirancang untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kreativitas, serta kecintaan pada bacaan. Kehadiran Mobil Terbang RBC memperkuat suasana dengan menyediakan bacaan yang bisa langsung dinikmati anak-anak di lokasi. Subhan menegaskan, RBC akan terus memperluas jangkauan Mobil Terbang ke berbagai wilayah. “Literasi adalah pintu masa depan, dan setiap anak berhak atas akses itu. Karena itu, Mobil Terbang akan terus bergerak menghadirkan bacaan di tengah masyarakat,” ujarnya. Kolaborasi Kak Seto dan RBC Institute dalam festival ini menjadi penanda penting bahwa gerakan literasi tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan komunitas, akademisi, orang tua, serta pegiat anak nasional adalah kunci agar literasi benar-benar tumbuh sebagai budaya bersama. (*/wil)