Bedah Buku Tak Kenal Maka Taaruf di UMM: Mengkaji Perbedaan Sastra antar Zaman

Bedah buku salah satu karya menarik dari Mim Yudiarto dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 28 Februari 2024 lalu. Buku berjudul ‘Tak Kenal Maka Taaruf’ itu menarik banyak perhatian peserta yang turut hadir. Saat mulai bicara, Mim mengungkap rasa kagum karena giat goes to campus bukunya di UMM menjadi acara yang paling meriah di antara yang lain. “Saya sudah berkunjung ke ISI yogya, ISI Solo, IPB, dan lainnya. Alhamdulillah ini yang paling meriah dan ramai. Apalagi dengan konsep yang menarik seperti ini,” ungkapnya. Pada kesempatan itu, Mim sedikit membahas latar belakang penyusunan karya tersebut. Novel itu merupakan novel yang nantinya diproyeksikan menjadi sebuah film. Bermula dari tantangan untuk menciptakan sebuah novel yang bergenre sulit. Yakni cerita yang di dalamnya memuat nuansa religi, romansa, komedi, dan memiliki nilai edukasi. “Saya awalnya ditantang oleh mas Fajar Bustomi, seorang sutradara dari film dilan. Banyak sekali syarat yang diminta, utamanya terkait target pasarnya. Yaitu kalangan mahasiswa pra-nikah. Saya diberi waktu satu bulan untuk menyelesaikan project itu. Saya tertantang dan akhirnya selesai hanya dalam waktu delapan hari saja,” ceritanya. Pria asal Banyuwangi itu juga memberikan beberapa tips kepada penulis muda dan pemula dalam menulis sebuah buku. Ia menekankan, karya sastra itu tidak bisa langsung dinilai bagus atau tidaknya. Jangka waktu pengerjaan juga tidak dapat ditentukan dengan deadline tertentu, terlebih sastra adalah karya mengolah rasa dan imajinasi. “Penulis muda atau pemula itu kebanyakan berpikir tentang bagus tidaknya karya yang dibuat. Padahal sejatinya, karya sastra yang bagus adalah karya yang tuntas. Jangka waktu pengerjaan juga berbeda-beda tiap buku. Saya punya buku yang rampung dalma waktu yang cukup lama, yakni dua tahun,” kata Mim. Sementara itu, Prof. Dr. Setya Yuwana, M.A. selaku pembedah buku mengungkapkan, setiap masa pasti ada sastrawan yang menjadi sosok idola. Seperti dahulu di tahun 1976-1980 yang mana merupakan era dari Ashadi Siregar dengan karya Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, Ali Topan Anak Jalanan dan lainnya. Tentu zaman dahulu juga punya gaya penulisan dan bahasa yang memang relevan pada era itu. Saat ini pun juga demikian, bentuk karya sastra juga mengalami perkembangan gaya tata bahasa dan minatnya yang berbeda. “Sekarang ini eranya gen Z, ya tentu sudah berbeda dengan zaman dulu. Banyak inovasi dan nilai-nilai yang relevan dalam sebuah karya masa kini,” ungkapnya. Hal serupa juga disampaikan Guru Besar Bidang Bahasa dan Sastra Indonesia UMM Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si. yang juga turut membedah buku. Menurutnya, terdapat keunikan dalam karya sastra saat ini. Yakni adanya pembelokan diksi pepatah yang saat ini dapat diartikan menjadi hal yang baru. Menurutnya, itu juga bukan menjadi suatu masalah apabila diksi tersebut membangun. “Pepatah itu dibelokkan. Misalnya dari ‘tak kenal maka tak sayang’ menjadi ‘tak kenal maka taaruf’. Bisa juga menghasilkan tafsir yang berbeda. Misalnya ‘masih belum kenal, ya kenalan’. Ini menjadi segmen yang membedakan cara pandang generasi lama era 80-90an dengan era gen Z saat ini,” tuturnya mengakhiri. (Faq/Wil)
Ini Sosok Ike, Wisudawan Berprestasi UMM yang Lulus tanpa Skripsi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melaksanakan wisuda ke-112, Februari ini. Pada wisuda tersebut, lahir wisudawan yang memiliki segudang prestasi. Ia adalah Ike Trisdayanti, wisudawati Program Studi (Prodi) Akuakultur yang berhasil menyabet gelar wisudawan berprestasi. Tak dapat dipungkiri, semasa kuliah Ike berhasil berbagai penghargaan dan kejuaraan. Salah satunya medali emas kategori poster dan perunggu pada kategori presentasi di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2023 lalu. “Pada Pimnas 2023 lalu, dua judul saya lolos ke Pimnas dan menghasilkan medali. Kemenangan itu juga membuat saya bisa lulus tanpa skripsi dan akhirnya bisa wisuda dengan baik,” jelas wisudawan jurusan Akuakultur itu. Kedua PKM tersebut membahas aspek yang sama yakni mengenai pencegahan penyakit udang dengan bacteriofage. Yakni mencegah penyakit AHPND Acute Hepatopancreatic Necrosis Deasea. Penyakit tersebut menyerang udang, menyebabkan organ pencernaan seperti usus tengah, hepatopankreas, dan lambung berwarna pucat dan kosong. Adapun wisudawan asal Blitar tersebut lahir di keluarga sederhana. Ayahnya membuka warung kopi kecil-kecilan di kampung halaman. Sementara sang ibu adalah ibu rumah tangga. Meski begitu, ia memiliki tekad kuat untuk meraih sarjana dan berprestasi. Ia ingin membuktikan bahwa berangkat dari warung kopi, ia bisa menciptakan prestasi dan mampu mengharumkan nama Kampus Putih. Menurut Ike, berkuliah di UMM membuka banyak pintu. Ia bisa dengan mudah menyalurkan potensinya. Misalnya saja berorganisasi di berbaga wadah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), himpunan jurusan, dan lainnya. Saat mahasiswa, ia menjabat sebagai sekretaris umum himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) Akuakultur. Ia juga aktif melakukan penelitian dan membantu dosen dengan menjadi asisten laboratorium di beberapa mata kuliah serta bioteknologi. Wisudawan yang memiliki IPK 3,98 ini bercerita bahwa perjalanan kuliahnya tak begitu mudah. Banyak yang harus ia kejar dan korbankan pada waktu itu. Ia harus membagi waktu penelitian, asisten laboratorium serta berorganisasi. Ia mengatakan bahwa menentukan prioritas adalah hal yang utama. “Jadi, saat aktif kuliah, saya sampai bisa pulang malam demi melakukan penelitian. Semoga berbagai pengalaman dan ilmu dari UMM membuka banyak pintu bagi saya untuk berkembang. Terimakasih UMM sudah membantu saya meraih mimpi dan cita-cita,” tambah mengakhiri. (Tri/Wil)
Direktur Makin Group Beri Inspirasi di Wisuda UMM

Saat ini, akses belajar sudah sangatlah mudah, terlebih lagi dengan adanya teknologi informasi digital yang masif. Itu menjadi penekanan Agus Kurniawan, Direktur PT. Matahari Kahuripan Indonesia (Makin Grup) kepada seluruh wisudawan ke-112 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 27 Februari 2024 lalu. “Kalian mau belajar secara otodidak sekalipun juga sangat mudah. Tidak perlu repot-repot seperti zaman saya dulu yang harus jalan kaki ke perpustakaan dan cari referensi,” terangnya. Pria yang juga merupakan alumnus UMM angkatan tahun 1987 Jurusan Pendidikan Biologi itu juga sempat membagikan kisahnya semasa di bangku kuliah. Semasa kuliah, ia pernah menjadi ketua himpunan mahasiswa jurusan yang mengantarkannya pada mimpi untuk menjadi seorang dosen. Namun, mengingat prestasi akademiknya yang pas-pasan, ia akhirnya sadar diri dan berambisi menjadi seorang guru. Agus bercerita, saat masih di semester akhir perkuliahan, ia sudah mulai berkarir menjadi seorang guru SMP-SMA. Kemudian saat lulus, ia bahkan tiga kali gagak tes CPNS. Hingga akhirnya ia memasukkan lamaran kerja di lebih dari 200 perusahaan. “Saya akhirnya mencoba peruntungan di berbagai perusahaan dan instansi. Alhamdulillah setelah saya diterima sebagai supervisor marketing di sebuah perusahaan distribusi di Jawa Timur dan tidak lama saya dipindah ke bidang personalia,” ungkapnya. Berawal dari pengalaman di bidang personalia itu, ia menjalani perjalanan panjangnya. Mulai dari berkarya menjadi HRD di industri sepatu di Gresik dan manager recruitmen training perusahaan kertas di Surabaya. Karirnya terus melejit menjadi konsultan trainer di Singapura, Pakuwon Group, dan saat ini menjadi direktur di Makin Group. “Memang sangat melenceng dari jurusan kuliah saya yakni pendidikan biologi. Namun poin pentingnya adalah spirit untuk terus belajar tidak pernah terputus. Apalagi saya memang banyaka bbelajar secara otodidak di bidang personalia. Jadi, kalian para wisudawan, jangan merasa puas meski sudah lulus dari bangku kuliah. Belajar itu sepanjang hayat karena kehidupan sangatlah dinamis,” katanya. Di sisi lain, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. menyampaikan, dunia kini memasuki era digitalisasi yang pesat, termasuk berkembangnya AI. Hal ini bisa menjadi keuntungan sekaligus ancaman. Namun, dia optimis bahwa wisudawan UMM mampu mengambil kesempatan bagus dari adanya kemajuan teknologi. Oleh karena itu, Muhadjir berpesan kepada seluruh wisudawan untuk tetap mengedepankan literasi digital yang kuat. Terlebih saat ini Indonesia akan menyambut bonus demografi pada tahun 2045 nanti. Pada tahun tersebut, para wisudawan memasuki usia produktif dan dipastikan akan menempati posisi strategis di perusahaan, pemerintahan, dan persyarikatan Muhammadiyah. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. menilai bahwa wisudawan UMM sudah dibekali dengan bekal yang memenuhi. Mereka tidak akan kalah dari kecanggihan kecerdasan dan mampu menggunakannya untuk kemajuan. Ia optimis, wisudawan UMM tidak hanya mencari kerja tapi juga berpotensi untuk menciptakan pekerjaan. Sehingga mereka tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tapi juga untuk masyarakat. (Faq/Wil)
Salah Satu Member JKT48 Jadi Wisudawan UMM

Ada wisudawati yang menarik di wisuda periode pertama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Februari ini. Ia adalah Putri Cahyani Anggraini, Mahasiswa prodi Hukum UMM, wisudawan yang memiliki talenta bidang seni dan berkarir di dunia entertainment melalui JKT 48. Meski begitu, ia juga tetap fokus menjalankan bidang akademiknya dengan apik. Caca, sapaan akrabnya, mengatakan, ia sangat cinta dengan dunia seni sedari kecil karena melihat hobi ibunya yakni menari. Sampai pada akhirnya, ia mulai mengikuti berbagai ajang kompetisi menari dan juga bidang seni lainnya seperti menyanyi. Tidak sampai disitu saja, Caca juga memberanikan dirinya untuk mendaftar di JKT 48 pada tahun 2018 dan berhasil lolos hingga menjadi anggota JKT 48 di posisi singer. “Bermula dari masuknya menjadi personil di JKT 48, aku memberanikan diri untuk bisa tampil percaya diri. Dan dari situ juga aku mempunyai ciri khas perkenalan (Jikoshoukai) yaitu meskipun aku penakut dan pemalu tetapi aku tidak pernah lelah untuk mencoba,” katanya. Caca terus mengasah kemampuannya dengan terus belajar dan beberapa kali ikut dalam program TV nasional. Ia juga bercerita, selama menjadi mahasiswa prodi Hukum di UMM, beberapa kali ia ingin menyerah dan menekuni hobinya di bidang seni saja. Namun ia percaya bahwa ia pasti bisa menyelesaikan sampai akhir dan membuktikan diri kalau ia berhasil menjadi sarjana hukum. Selama menjadi mahasiswa di UMM, Caca juga mengikuti program Center of Excellence (CoE). Ia mengatakan bahwa selama menjalani CoE, ia mendapatkan kesempatan untuk bisa magang di dua kantor advokat. Ada banyak tantangan yang ia dapatkan dan itu membuatnya semakin bersemangat untuk terus mencari tahu tentang ilmu hukum. “Sebenarnya, masuk di program CoE dan magang di kantor Advokat merupakan salah satu keisengan saya. Namun ternyata malah jatuh cinta dengan program ini karena saya benar-benar mendapatkan pengalaman nyata di bidang hukum. Saya diajak untuk benar-benar mendalami kasus dan mengimplementasikan berbagai ilmu hukum. Baik perdata maupun pidana,” jelasnya. Wisudawati asli Sidoarjo itu juga mengatakan kalau magang di kantor advokat sangat bermanfaat. dan belum banyak mengetahui hukum Advokat sama seperti dirinya saat masuk menjadi personil JKT 48 yang masih menjadi singer muda dan perlu banyak belajar. Belajar dengan cara mencari modul dan jurnal serta tidak malu bertanya ia lakukan demi memuaskan keingintahuannya yang tinggi. Selama berkuliah di UMM, ia banyak terbantu dengan fasilitas yang tersedia. Dengan begitu, Caca bisa berkembang dan terus mengasah skill-nya. Termasuk dengan menjadi bagian dari Digital Team UMM Campus. Ia sering berkolaborasi untuk membuat konten yang unik dna menarik mengenai UMM. “Apalagi saya dan anggota lain tidak hanya bikin konten. Tapi juga diajari tentang grafik perkontenan media sosial. Menurut saya, anak muda memang harus kreatif dan memanfaatkan peluang yang ada dengan maksimal. Semua pasti berawal dari hal kecil,” pungkasnya. (Ri/Wil)
Menunda Bikin Berat Selesaikan Tugas Akhir Mahasiswa

Tugas akhir menjadi salah satu persyaratan yang harus diselesaikan oleh mahasiswa sebelum dinyatakan lulus oleh suatu universitas. Dalam perjalanan menyelesaikan tugas tersebut, mahasiswa akan mengalami berbagai dinamika. Mulai daru proses penulisan, pengumpulan data, bimbingan, hingga ujian. Tak jarang, hal ini menimbulkan dampak pada kesehatan mental. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nandy Agustin Syakarofath, S.Psi., M.A menyampaikan, ada banyak faktor yang bisa menurunkan kesehatan mental di tengah pengerjaan tugas akhir. Meski demikian, faktor utama yang berkontribusi paling besar adalah penundaan terus-menerus dalam pengerjaannya. “Ini menyebabkan banyak hal yang harus diselesaikan menumpuk dan membuat tanggungan tugas akhir semakin berat,” tambahnya. Tak hanya soal penundaan, pola hidup kurang baik seperti sering begadang juga ikut mempengaruhi hal ini. Kurangnya waktu istirahat, membuat mahasiswa sulit berkosentrasu. Bahkan hingga merasa pusing dan merasakan berbagai keluhan lainnya. Perlu diperhatikan juga bahwa kesehatan fisik dan asupan gizi juga turut berpengaruh. “Jangan lupa, jika kita jatuh sakit maka akan sulit untuk menulis atau datang bimbingan,” katanya. Karenanya, menurut Nandy, cara menjaga kesehatan mental agar tetap stabil atau semakin baik di tengah tugas akhir adalah dengan menghindari prokrastinasi atau penundaan. “Misalnya, saat menghadapi kesulitan menulis skripsi, segera mencari solusi atau insight saat bimbingan,” jelasnya. Selain itu, ia juga memaparkan pentingnya support system ditengah penyelesaian tugas akhir. Baik dari orang tua, sahabat, ataupun pasangan. Meski demikian, yang paling menentukan keberhasilan tugas ini adalah diri sendiri. “Yang utama adalah diri sendiri. Jangan terlalu bergantung pada orang lain, karena mereka hanya bisa memberikan dukungan berupa semangat dan tugas akhir sifatnya tanggung jawab pribadi,” katanya. Di akhir, Nandy berpesan agar mahasiswa semester akhir bisa terus semangat, fokus dan selalu mengingat tujuan dari berkuliah. Mahasiswa jangan sampai terlena dengan hal-hal di luar tugas utama. “Menjaga kesehatan mental tetap sehat di tengah tugas akhir itu sama seperti menjaga kesehatan fisik. Harus senantiasa dilakukan dan tidak perlu menunggu waktu tertentu,” tutupnya. (*)
Mengabdi untuk Negeri, Tim Dosen UMM Sukses Atasi Limbah Kotoran Ternak

Banyaknya warga yang memelihara ternak memunculkan masalah lingkungan bagi Desa Beji Tengah. Salah satunya tumpukan kotoran yang mengeluarkan bau tak sedap dan mengganggu kenyamanan warga. Tak hanya itu, hal ini juga memunculkan kekhawatiran tentang kondisi tanah yang menyerap air dari kotoran-jotoran ternak. Berangkat dari permasalahan tersebut, Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes., dosen Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan timnya melaksanakan pengabdian masyarakat. Dilakukan sejak Oktober hingga Februari ini, pengabdian ini berfokus pada pengolahan limbah kotoran kambing domba dan recording ternak di kelompok tani ternak Sumber Makmur 01 Desa Beji, Kota Batu. “Kondisi ini juga menjadi ancaman potensial pada kesehatan hewan ternak. Kami mengkhawatirkan potensi infeksi cacing dan kudis pada ternak akibat pakan yang bercampur dengan kotoran ternak yang ditakutkan terdapat cacing di dalamnya. Apalagi desa tersebut termasuk kawasan padat penduduk,” ujar dosen yang akrab disapa Sujono tersebut. Bersama tim, Sujono lalu menginisiasi tiga program utama. Pertama, pembuatan pupuk dari kotoran ternak. Pembuatan pupuk ini melibatkan fermentasi yang diawali dengan pengumpulan kotoran pada rumah pupuk, lalu kotoran tersebut diolah menggunakan mesin penepung hingga halus. Setelah itu ditambahkan kapur kolomit yang berfungsi untuk menetralkan pH tanah yang sangat berfungsi bagi tumbuhan. “Berikutnya, ditambahkan pula batang pisang yang membusuk dan probiotik Em4. Proses fermentasi berlangsung selama dua hingga tiga minggu dan hasilnya dikemas dalam karung. Kemudian, diperjualbelikan dengan harga jual Rp1.500 perkilo. Keunggulan dari pengabdian ini terletak pada pendekatan inovatif dalam pembuatan pupuk. Tidak hanya memberikan solusi terhadap bau lingkungan, tapi juga meningkatkan pendapatan peternak melalui penjualan pupuk berkualitas,” tambahnya. Selain itu, program ini juga melakukan upaya pengobatan penyakit kudis pada ternak dan pencatatan reproduksi untuk memastikan kesehatan dan perkembangan optimal ternak. Sujono dan tim ingin memberikan manfaat ganda bagi lingkungan dan peternak. Pengabdian ini sukses memberikan dampak positif yang signifikan. Desa Beji kini tidak hanya terbebas dari bau tak sedap, tetapi juga mendapatkan tambahan pendapatan melalui penjualan pupuk berkualitas. Sujono dan timnya telah membuktikan bahwa inovasi dapat menjadi kunci untuk mengatasi tantangan lingkungan dan ekonomi di desa-desa. (*)
Dosen UMM Beri Tips Kelola Utang Modal Usaha dari Bank

Dalam dunia bisnis, opsi meminjam modal dari bank sering menjadi pilihan utama untuk mengembangkan usaha. Namun, pengelolaan utang modal usaha ini bukan perkara yang sepele. Dosen Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dra. Siti Zubaidah, MM., menegaskan pentingnya mengelola pinjaman tersebut dengan efektif. Mulai dari perencanaan hingga strategi peningkatan penjualan. Menurutnya, pengusaha perlu memiliki cara berpikir yang taktis dalam mengelola modal usaha. Uang yang dipinjam dari bank harus dimanfaatkan secara efisien untuk memperoleh kembali modal tersebut dalam jangka waktu yang wajar. Oleh karena itu, strategi pemasaran yang tepat juga diperlukan agar modal tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang maksimal. “Bank itu serba pasti, apalagi angsuran dan bunga. Sementara itu, sebuah usaha belum tentu stabil, kadang naik atau bahkan turun. Sehingga, pengelolaan uang harus dikelola dengan baik,” ungkap Ida, sapaannya. Sebelum memutuskan untuk mengajukan pinjaman ke bank, para pengusaha sebaiknya melakukan pertimbangan matang terkait rencana keuangan dan usaha. Hal ini mencakup identifikasi kebutuhan pengembangan usaha serta dana tambahan yang diperlukan. Penting juga bagi pengusaha untuk melakukan uji coba dan memperhitungkan pemasukan serta pengeluaran setiap bulannya. Dengan cara ini, pengusaha dapat menentukan kebutuhan pinjaman dana yang tepat dan sesuai. Ida juga menyarankan, hendaknya mengenal bank yang akan dijadikan tempat mengambil pinjaman. “Setelah mengetahui besaran modal yang diperlukan, pertimbangkan bank yang akan dijadikan tujuan. Sebaiknya pilihlah bank yang memiliki suku bunga lebih rendah agar tidak memberatkan saat mencicil,” katanya. Setelah pinjaman disetujui bank, terdapat tanggung jawab finansial yang harus dipenuhi oleh pengusaha yakni membayar cicilan sebelum jatuh tempo. Disinilah pentinya mengelola keuangan agar tidak sampai menunggak. Ketersediaan dana untuk cicilan patut di prioritaskan. Menurut Ida, dalam proses mengelola finansial bisnis penting untuk membuat dan mencatat pos anggaran bisnis. Mulai dari total dana pinjaman, tagihan, keuntungan, hingga pengeluaran per bulan. Dengan membuat pembukuan yang rapi, pengusaha bisa memperhitungkan anggaran yang dirasa harus dikurangi atau ditambahkan. “Selain itu, hal ini juga berguna untuk menghindari risiko kredit macet atau denda karena terlambat membayar cicilan. Dengan pembukuan kita bisa mengetahui sisa dana pinjaman, tenor pinjaman dan berapa yang harus dialokasikan per bulannya untuk membayar cicilan,” terangnya. Lebih lanjut, penting untuk memanfaatkan keuntungan dari usaha tersebut. Laba sebaiknya dialokasikan untuk mengembangkan usaha, seperti menambah jumlah outlet, karyawan, hingga produk dan layanan. Selain itu, laba juga bisa disisihkan untuk membayar cicilan di bulan berikutnya. “Jangan berasumsi bahwa sebuah bisnis akan selalu naik. Oleh karena itu, terus berinovasi dalam pengembangan usaha sangatlah penting untuk mengantisipasi kemungkinan bisnis mengalami penurunan. Selain itu juga agar tidak terjebak dalam upaya membayar cicilan,” pungkasnya. (lai/wil)
Dokter UMM: Waspada Toksoplasma Menyerang Ibu Hamil

Menjaga kesehatan menjadi hal mutlak yang dilakukan ibu hamil. Kebersihan lingkungan, asupan gizi, kesehatan jasmani dan rohani serta dukungan dari orang sekitar sangat diperlukan. Selain itu, ibu hamil juga harus waspada dengan kemungkinan hadirnya virus yang berbahaya. Terutama bagi yang memiliki hewan peliharaan seperti kucing dan anjing. “Hewan peliharaan itu memang lucu. Terkadang dia juga menjadi teman kita di rumah, namun kita harus hati-hati, khususnya ibu hamil. Jangan sampai terkena parasit toksoplasma,” ujar Aida Musyarrofah, SpOG dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Oksoplasmosis atau yang lebih sering disebut tokso adalah penyakit infeksi akibat parasit toxoplasma gondi yang umumnya menular dari kotoran kucing. Infeksi ini pada umumnya tidak menyebabkan keluhan yang terlihat berat pada sang ibu. Hanya ada gejala ringan yang muncul seperti demam, sakit tenggorokan, kelelahan dan nyeri otot. Sebaliknya, pada janin virus ini akan berdampak pada tumbuh kembang yang tidak sesuai usia, kecacatan dalam pendengaran dan penglihatan, pubertas dini, hingga masalah pada kemampuan berpikir atau belajar. Selain ibu hamil, orang dengan daya tahan tubuh lemah juga rentan terhadap serangan virus ini. “Bagi ibu hamil, toksoplasma akan sangat berbahaya jika terserang pada trimester satu dan dua,” tandasnya. Toksoplasma dapat menular dari berbagai hal. Misalkan tanah saat berkebun, air yang tercemar hingga kotoran kucing yang makan sembarangan. Virus tokso adalah parasit yang hanya bisa menular dari makanan yang masuk ke tubuh manusia, tidak melalui udara. Oleh karena itu penting untuk membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan sebagai upaya pencegahan. “Bagi pemilik hewan peliharaan, penting memperhatikan makanan yang dikonsumsi peliharaannya. Jangan sampai hewan peliharaan memakan makanan yang mentah dan sembarangan,” tambah Aida. Adapun upaya yang dapat dilakukan jika sudah terinfeksi tokso adalah dengan pemberian obat khusus bagi ibu hamil. Apabila infeksi terjadi pada proses persalinan dan anak terlahir dengan kondisi cacat baik itu dari segi pendengaran, penglihatan hingga tumbuh kembang yang tidak normal maka bisa melakukan pengobatan dan penanganan sesuai dengan penyakit yang dialaminya. Di akhir, Aida menyampaikan, penting untuk selalu menjaga kesehatan ibu hamil dan melakukan pemeriksaan rutin hingga mendekati persalinan. Sehingga ketika virus toksoplasma terdeteksi selama masa kehamilan, maka dapat segera dilakukan pengobatan. “Untuk tokso ini memang sudah ada obatnya, jadi jika seorang ibu hamil terinfeksi maka bisa langsung diberikan penanganan yang tepat dan cepat,” tutup dokter Aida. (rin/wil)
Generasi Y dan Z Butuh Lebih Banyak Healing? Ini Penjelasan Dosen UMM

Healing menjadi tren yang melekat akhir-akhir ini, utamanya di kalangan Generasi Y dan Z. Bahkan muncul pandangan jika Generasi Y dan Z alah generasi yang paling membutuhkan healing di antara generasi lainnya. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Retno Firdiyanti, S.Psi., M.Psi. mengatakan arti healing dari konstruks psikologi dengan yang dipahami oleh khalayak umum itu berbeda. Healing dalam dunia psikologi artinya adalah proses penyembuhan mental. Sedangkan healing yang dipahami secara umum oleh generasi Y dan Z adalah upaya untuk menyenangkan diri, yang arahnya lebih ke upaya untuk mendapatkan kebahagiaan, serta hedonisme. “Dalam konteks psikologi, healing itu proses penyembuhan mental yang sakit seperti mental illness dan lainnya. Sedangkan healing yang diartikan oleh generasi Y dan Z lebih ke arah rekreasi,” jelas Retno, sapaan akrabnya. Terdapat sebuah pandangan yang menilai bahwa Gen Y dan Z merupakan generasi yang lemah, tidak kuat untuk mendapatkan beban sehingga selalu membutuhkan healing. Padahal jika kita berkaca pada generasi sebelumnya, mereka pun memiliki coping stress. Sehingga hal tersebut tidak bisa diinterpretasikan sebagai kelemahan, sebab tantangan setiap generasinya berbeda. Adapun istilah Generasi Y dan Z merupakan julukan generasi berdasarkan rentang waktu kelahiran. Gen Y atau milenial merupakan generasi pada rentang kelahiran 1981-1996, sedangkan Gen Z merupakan sebutan untuk kelompok dengan kelahiran 1997-2012. Generasi Y lahir di antara peralihan zaman dari dunia analog ke digital. Sehingga mereka memiliki karakteristik dan kemampuan adaptasi digital. Dapat dipahami kalau generasi Y ini punya kemampuan beradaptasi yang mungkin lebih baik dari generasi sebelumnya. Sedangkan Generasi Z, istilahnya sudah lahir dengan teknologi. Sedari kecil sudah terpapar dunia digital yang menawarkan bentuk-bentuk kemudahan. “Karena itu, mereka harus mendapatkan parenting yang mengajarkan bahwa tidak semua bisa serba instan. Kita juga perlu sedikit belajar tentang proses mendapatkan sesuatu dan belajar mengontrol diri dalam memanfaatkan teknologi digital,” pungkasnya. Jadi apakah hanya Generasi Y dan Z saja yang membutuhkan healing? Jika yang dimaksud healing adalah rekreasi, artinya semua generasi membutuhkan healing. Untuk dapat berpikir jernih dan meredakan stres, setiap generasi membutuhkan rekreasi. Namun, tidak semua masalah solusinya adalah rekreasi. Ada masalah psikologis yang akar masalahnya karena dia tidak didengarkan. Maka obatnya adalah bercerita kepada orang yang mau mendengarkan. Kemudian, ada yang masalahnya dia tidak punya waktu untuk berbicara dengan dirinya sendiri. Maka obatnya adalah dilatih untuk bisa mengevaluasi diri sendiri. “Jadi, tidak semua penyakit obatnya jalan-jalan. Banyak juga mekanisme yang harus dilihat person to person atau secara individual,” ucapnya. (dev/wil)
Menarik, Mahasiswa UMM Ajarkan Cara Membatik Cap ke Murid SD

Saat ini, banyak anak muda yang kembali menekuni batik dan mampu memaknai arti pola dalam batik. Berbekal pengetahuan itu, tim mahasiswa psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar agenda membatik bersama anak-anak SDN 2 Poncokusumo. Agenda yang dilaksanakan pada 19 Januari-17 Febrauri 2024 itu juga menjadi upaya mereka untuk self efficacy, motivasi dan kreativitas melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Ayra Alaila Putri Afandy selaku koordinator tim menceritakan bahwa batik yang diajarkan merupakan batik khas dari desa Poncokusumo yang baru saja dibuat tahun lalu. Dengan begitu, anak-anak yang diajari bisa mengenal dan melanjutkan pengetahuan dan kemampuan menciptakan batik. Apalagi mereka merupakan generasi penerus masa depan. “Kami sangat kagum dengan apresiasi dan kerjasama yang ditunukkan masyarakat desa. Adapun batik ini bukan sembarang batik, namun memiliki filosofi dan doa di setiap pola yang ada,” ucapnya. Ada beberapa pola yang diajarkan pada agenda tersebut. Salah satunya gambarr segitiga yang melambangkan desa Poncokusumo yang berada di pinggir kaki gunung semeru. Kemudian adapula pola berbentuk garudeya yang melambangkan mitologi dan menjadi inspirasi garuda pancasila. Selain itu, banyaknya bunga yang tumbuh di desa Poncokusumo juga diabadikan menjadi pola bunga wijaya kusuma. “Apalagi mengingat adanya kepercayaan masyarakat desa tentang bunga wijaya kusuma. Bungan yang tumbuh subur berkat air yang mengalir dari kaki gunung Semeru ke desa secara langsung. Bunga ini juga dipercaya dapat membawa nasib baik bagi yang merawat ataupun melihatnya,” tambahnya. Adapun anak-anak SD diajarkan batik dengan metode cap karena kemudahan dalam implementasinya. Apalagi semua perlengkapan sudah tersedia dengan rapi di kantor desa sehingga memudahkan kelompoknya untuk melaksanakan program tersebut. Di sisi lain, pihak desa dan sekolah sangat antusias dengan kegiatan yang diberikan kepada para murid. Menurut mereka, kegiatan membatik di era sekarang mulai meredup. Hal itu berkibat apda sedikitnya generasi penerus yang tahu dan memahami budayanya sendiri, termasuk batik. “Dengan adanya program ini, saya harap guru-guru dapat menerapkannya sebagai media pembelajaran, sehingga murid tidak belajar hal yang monoton,” kata Samsul Muliyo selaku kepala desa. (ri/wil)