Dosen IP UMM: Anggota KPPS adalah Pahlawan Demokrasi

Merujuk buku Panduan KPPS Tahun 2014 yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), KPPS adalah singkatan dari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara. Ini adalah badan ad hoc yang dibentuk oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS) atas nama KPU Kabupaten/Kota untuk melaksanakan pemungutan suara dan penghitungan suara. Mendekati hari pemungutan suara,  banyak konten di media sosial yang menyebutkan gurauan dan candaan tentang KPPS. Dosen Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu SOsial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A. menyampaikan, candaan tentang petugas KPPS adalah sebuah pelecehan. Padahal mereka adalah pahlawan demokrasi untuk Indonesia. “Candaan yang berseliweran di sosial media itu menurut saya adalah pelecehan terhadap demokrasi. Jangan lihat KPPS sebagai petugas pada tingkatan terendah, mereka itu pahlawan,” ujarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, meski  hanya sebentar, tugas yang diemban oleh anggota KPPS itu sangatlah berat. Ibarat sebuah bangunan, jika pondasi awal sudah jelek maka akan berpengaruh terhadap yang lainnya. Berdasarkan pada pasal 30 ayat 1 PKPU nomor 8 tahun 2022, KPPS memiliki tugas dan wewenang yang besar. Di antaranya adalah  mengumumkan daftar pemilih tetap di TPS, menyerahkan daftar pemilih tetap kepada saksi peserta pemilu yang hadir, pengawas TPS kepada peserta pemilu, hingga melaksanakan pemungutan dan penghitungan suara di TPS. Selain itu juga membuat berita acara dan sertifikat hasil pemungutan serta penghitungan suara hingga melaksanakan tugas tambahan yang di berikan oleh KPU, baik KPU Provinsi, KPU Kabupaten/kota, PPK dan PPS sesuai dengan peraturan per-undang undangan. Berdasarkan hal tersebut maka anggota KPPS berhak mendapatkan imbalan sebesar 1.1 juta bagi anggota dan 1.2 bagi ketua KPPS selama masa jabatan satu bulan. Salahudin pun menyampaikan, gaji yang diberikan sebanding dengan tanggungjawab yang diemban. “Saya rasa gaji yang diberikan sebesar 1,1 juta perbulan beserta jaminan kesehatan hingga kematian itu  cukup. Bahkan kalau bisa dinaikkan mengingat amanat yang diemban sangat besar,” tambahnya. Salahudin juga memberikan apresiasi atas keinginan anak muda yang mau menjadi anggota KPPS.  Baginya, kehadiran anak muda dalam pemilihan kali ini akan sangat berdampak pada demokrasi. Kehadiran anak muda dalam KPPS juga bisa menjadi proses belajar demokrasi secara langsung. “Batas minimal usia KPPS itu 17 tahun, maka saya rasa ini adalah kesempatan bagi anak muda untuk belajar tentang demokrasi yang baik,” ucapnya. Di akhir, ia menyampaikan bahwa sebagaimana diketahui bersama bahwa anak muda memegang kendali penuh di banyak aspek kehidupan saat ini. Banyak di antaranya yang menjadi influencer dan memiliki pengaruh besar melalui media sosial. Ia berharap, kondisi ini dapat memberikan banyak nilai positif pada pesta demokrasi kali ini. “Harapannya, dengan adanya anak muda bisa menjadi penangkis hoaks yang berseliweran,” pungkasnya. (rin/wil)

Keren, Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Deteksi Kebakaran

Peristiwa kebakaran lahan di kawasan Gunung Bromo 2023 lalu menyebabkan banyak kerugian bagi warga maupun pengunjung. Kebakaran lahan yang berlangsung sepuluh hari tersebut melahap kurang lebih 504 hektare padang rumput. Menurut perhitungan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), kerugian ditaksir mencapai Rp 5,4 miliar. Menanggapi hal tersebut, Ahmad Wildan Al Mauludi dan Tim dari Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan alat yang dapat mendeteksi kebakaran hutan. Wildan mengatakan, ide awal untuk membuat Flame Shield Forest (FSF) ini dikarenakan peristiwa kebakaran lahan di Kawasan Bromo yang mengakibatkan banyak kerugian bagi negara maupun warga sekitar. Selain itu, telatnya penanganan serta informasi adanya kebakaran juga menyebabkan meluasnya lahan yang terbakar. “Untuk itu, kami menciptakan alat ini agar hal tersebut tidak teradi. Alat ini juga bisa membantu pemadam kebakaran atau yang bertanggung jawab bisa segera mengetahui kondisi dan titik lokasi kebakaran terjadi,” tambahnya. Alat yang telah dipamerkan di Industrial Engineering Expo (IEE) pada Januari lalu ini mendapat banyak pujian. Pasalnya, FSF dilengkapi dengan Arduino ESP 32 sebagai sensor pendeteksi api, sensor gas, modul GPS, modul WiFi, dan penguat sinyal. Jika terjadi kebakaran, sensor api dan gas akan mendeteksi adanya kebakaran dan mengirimkan pesan peringatan pada gawai melalui fitur bot telegram. Nantinya, pesan yang dikirim melalui gawai akan memuat lokasi akurat dari peristiwa kebakaran. Sementara, untuk sistem kelistrikan, FSF masih mengandalkan listrik dari luar sehingga belum memiliki daya sendiri. Hal ini dikarenakan alat ini membutuhkan daya yang terbilang kecil, sehingga cukup dipasang pada powerbank untuk menjalankan alat ini. “Pada awalnya kami mau menggunakan panel surya, namun karena kurangnya budget dalam pembuatan sehingga kami memilih colokan USB yang cukup terjangkau,” tambahnya. FSF tak hanya mendeteksi kebakaran hutan saja, namun juga dapat difungsikan sebagai pendeteksi kebakaran di ruko atau pemukiman padat penduduk. FSF akan mendeteksi kebocoran gas atau percikan api dari konsleting listrik sehingga penanganan kebakaran dapat segera dilakukan dan tidak membahayakan penduduk sekitar. Ke depannya, Wildan dan tim akan mengganti fitur WiFi menjadi kartu GSM. Hal ini agar FSF dapat digunakan di hutan dan memiliki jangkauan sinyal yang lebih luas. Selain itu, ked epannya ia juga akan mengganti beberapa komponen sensor api dan gas agar jangkauan deteksi dapat lebih jauh. “Untuk itu, inovasi FSF tak akan berhenti sampai di sini saja. Semoga kami dapat menambahkan fitur baru agar FSF dapat digunakan pada hutan yang rentan kebakaran,” ucapnya mengakhiri. (tri/wil)

Prof. Nazaruddin Dilantik Jadi Rektor UMM 2024-2028

Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. resmi mengemban tugas menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Periode 2024-2028. Ia dilantik oleh Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Achmad Nurmandi, M.Sc. pada 12 Februari ini di Aula BAU UMM. Turut hadir dalam pelantikan tersebut Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, MSi. serta Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Nazar dalam pidato iftitahnya sebagai Rektor UMM, menyampaikan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) merupakan wadah strategis yang berperan progresif untuk meningkatkan sumber daya insani. “Menciptakan seorang Ululalbab (manusia cerdas) untuk melahirkan khairu ummah (umat terbaik) seperti yang digaungkan oleh Nabi Muhammad. Lewat UMM, kita optimis untuk melahirkan generasi-generasi unggul untuk menghadapi tantangan global yang dinamis dan tentu tidak meninggalkan nilai-nilai keislaman,” ungkapnya. Lebih lanjut, dia juga sempat menyinggung salah satu hadist yang memiliki arti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Menurutnya, itu tidak hanya urusan personal saja, namun juga menjadi tugas UMM sebagai instansi pendidikan. Tanpa disadari, UMM sudah menerapkan hal itu melalui Center of Excellence (CoE) dan berbagi program pengembangan mahasiswa. Apalagi mengingat bahwa anak muda adalah aset Muhammadiyah sekaligus aset bangsa. “Student today leader tomorrow menjadi semboyan kita. SDM Insani ini harus terus kita kembangkan. Bukan hanya tugas personal saja, tapi juga tugas kita bersama. Lewat UMM kita sudah melakukan itu dan budaya itupula yang sudah dilakukan oleh para pendahulu sebelum kita. Maka hal-hal ini harus kita rawat dan dikembangkan,” tegasnya. Di sisi lain, Rektor UMM Periode 2020-2024 Prof. Dr. Fauzan, M.Pd menyampaikan, sudah banyak sekali program rintisan yang dilahirkan oleh UMM. Seperti misalnya CoE, Center for Future Works (CFW) hingga Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M). Dia berharap, program-program tersebut nantinya tetap dimasifkan dan dikembangkan lebih jauh lagi. “CoE kita ini sudah bekerjasama dengan 189 perusahaan dan instansi dalam negeri, ada juga P3M yang itu juga dilirik oleh banyak dinas dan berbagai kepala daerah di Indonesia. Membuat program itu tidak boleh ngasal. Harus benar-benar ada manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dan bangsa,” jelasnya. Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, MSi. mengapresiasi UMM dan memberikan predikat bahwa Kampus Putih merupakan PTMA yang terdepan dan mampu memberikan inovasi rintisan terbarukan. Hal itulah yang itu menjadikan UMM sebagai role model di PTMA se-Indonesia. Hal itu tak lepas dari prestasi UMM yang sangat banyak, mulai dari Akreditasi yang unggul serta memiliki trobosan yang benar-benar dibutuhkan oleh banyak pihak. Terakhir, dia berpesan kepada Rektor UMM yang baru serta seluruh PTMA se-Indonesia untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kualitas. PTMA harus menjadi dapur pemikiran dan pusat riset serta dapat memberikan prespektif baru perihal keummatan secara global serta kebangsaan dan kemanusiaan. Selain itu juga untuk tidak pernah merasa sungkan kepada para pendahulu (senior) untuk melakukan berbagai pengembangan di berbagai sektor. “Pak Nazar dan para pimpinan yang lain tidak perlu sungkan sama senior, ambil pelajaran dan ilmunya. Saya juga demikian, di atas saya masih banyak senior. Kalau masih ada sungkan itu biasanya agak ragu membuat trobosan pengembangan. Maka UMM harus mampi melanjutkan yang baik dan mengenbangkan terobosan-terobosan baru,” pesannya mengakhiri. (wil)

Gaet Warga, Dosen UMM Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi

Inisiatif pengabdian masyarakat yang menarik dilakukan oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Diketuai oleh Fithri Mufriantie, M.P., tim tersebut mengajari cara membuat lilin aromaterapi dari bahan minyak jelantah pada kelompok PKK Kendalsari, Tulusrejo, Lowokwaru, Kota Malang. Adapun agenda itu dilaksanakan pada akhir tahun 2023 lalu hingga Februari ini. Fenty, sapaan akrabnya menjelaskan, tujuan pelatihan ini adalah untuk memberikan edukasi kepada para ibu-ibu terkait potensi positif dari limbah minyak jelantah. Minyak yang selama ini dianggap limbah, ternyata dapat diolah menjadi lilin aromaterapi yang bernilai ekonomis. Menurtunya, masyarakat desa sebenarnya sudah terbiasa mengumpulkan minyak jelantah dan menjualnya. Namun, mereka belum tahu bagaimana cara mengolah limbah tersebut sehingga menjadi produk bernilai. Pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, melainkan juga mendukung konsep zero waste dan ekonomi kreatif. “Kami ingin memberikan edukasi bahwa minyak jelantah bisa menjadi bahan dasar lilin aromaterapi yang memiliki nilai ekonomis,” tambah Fenty. Pelatihan itu terdiri dari tiga tahap utama. Pertama, pemberikan edukasi kepada ibu-ibu mengenai manfaat positif dari minyak jelantah dan potensinya sebagai bahan dasar lilin aromaterapi. Kedua, yakni proses pembuatan lilin yang melibatkan penjernihan minyak jelantah, pemanasan, penambahan bahan dasar lilin, pewarna crayon, dan essential oil untuk memberikan aroma menenangkan. “Untuk penjernihan kami menggunakan arang atau kulit pisang yang di rendam dengan minyak jelantah selama satu malam. Untuk menghilangkan aroma kurang sedap, kita dapat menggunakan serai. Dari sini, tercipta lilin aromaterapi yang berkualitas. Kami juga menyarankan agar minyak jelantah yang digunkaan adalah minta yang telah dipakai dua hingga tiga kali proses memasak, sehingga penjernihan lebih mudah,” ujar Fenty. Pada akhir pelatihan, ibu-ibu PKK berhasil membuat lilin aromaterapi yang siap dipasarkan. Selanjutnya, Fenty dan tim berencana untuk melibatkan ibu-ibu PKK dalam program lanjutan berupa digital marketing. Dengan begitu, produk ini dapat dikenal oleh masyarakat luas. Menurut Fenty, inovasi pengabdian itu tidak hanya membuka peluang ekonomi baru bagi para ibu-ibu di PKK Kendalsari, tetapi juga memberikan solusi positif terhadap masalah lingkungan. Yakni dengan menjadikan limbah minyak jelantah sebagai bahan yang bernilai dan berguna. (rev/wil)

Mahasiswa UMM Ajari Baca Tulis ke Anak-anak WNI Ilegal di Malaysia

Menjadi seorang yang terdidik sudah seyogyanya mendorong diri untuk bisa bermanfaat untuk orang lain. Hal itu juga dirasakan oleh lima mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang  (FKIP UMM). Dengan semangat mengajar dan berjuang mencerdaskan anak bangsa, mereka berkontribusi mengajar anak-anak melalui program KKN kemitraan internasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Malaysia, November-Januari ini. Dalam prosesnya, mereka mengajar anak-anak yang tertahan tidak bisa pulang ke Indonesia karena terhambat proses administrasi. Hal itu tak lepas dari masalah perizinan tinggal dan proses izin lain. Bukan hanya kesulitan dalam mendapatkan fasilitas, para WNI ini juga harus merasakan hidup yang susah karena ekonomi yang rendah. Salwa Salsabila Naqqiyah Rafie, salah satu anggota tim menyampaikan, dalam berbagai keterbatasan itu timnya melakukan upaya peningkatan literasi dan pendidikan pada anak-anak yang termarjinalkan selama satu hingga dua bulan. “Walaupun secara hukum mereka ilegal, tapi kami rasa mereka sudah seharusnya memiliki akses pendidikan yang baik melalui pengajaran yang dilakukan di sanggar belajar,” ujar mahasaiswa yang akrab disapa Sabil tersebut. Karena tidak memiliki kekuatan hukum, anak-anak itu tidak bisa melakukan sekolah seperti anak-anak lain pada umumnya. Mereka tidak diizinkan untuk mendaftar di sekolah dasar dengan alasan identitas yang tidak jelas. Adapun program yang dilakukannya menjadi alternatif yang bisa dipilih oleh anak-anak  akan menjadi alternatif mendapatkan pendidikan  meski memang tidak melalui sekolah formal. “Saat mengajar, kami cukup sedih karena ada beberapa remaja yang bahkan tidak bisa membaca. Ini juga menjadi semangat kami untuk berkontribusi dan berbagi,” katanya. Ada beberapa program yang mereka lakukan saat mengajar. Mulai dari pengenalan budaya Indonesia melalui games dan lagu lagu daerah, program Rabu Literasi hingga English Vocab. Namun mengingat anak-anak di sanggar belajar belum mampu belajar mandiri, maka kegiatan ditekankan pada pembiasaan membaca dan menulis sebagai dasar literasi yang sangat penting. Sabil dan timnya menutup kegiatan dengan mengadakan pentas seni yang cukup meriah. Pentas seni ini juga menggambarkan keanekaragaman budaya Indonesia yang sangat mereka cintai dan selalu mereka rindukan. “Pentas seni sengaja kita buat agar anak-anak maupun orang tua siswa dapat melepas kerinduan ke negara tercinta, Indonesia. Apalagi dengan kondisi susahnya mereka untuk bisa kembali ke Indonesia lagi” tambahnya mengakhiri. (rin/wil)

Ini Tips Dosen UMM Atur Keuangan bagi Pasangan Muda

Keuangan seringkali menjadi sumber masalah dalam suatu rumah tangga. Bahkan telah menjadi pemicu terjadinya banyak perceraian. Padahal, keuangan adalah salah satu pondasi krusial yang harus dikelola dengan bijak, terutama oleh pasangan muda. Melihat hal ini, Ratya Shafira Arifiani, S.AB., M.M., selaku dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan bahwa untuk mewujudkan keuangan yang stabil perlu manajemen yang baik sedari awal pernikahan. Menurutnya, sebelum menikah, perlu membahas pandangan dan prioritas keuangan secara menyeluruh. Hal ini mencakup strategi mengelola tabungan, alokasi dana, dan pengeluaran. Tujuannya, agar terhindar dari perilaku boros yang dapat merugikan keuangan keluarga di masa depan. “Setiap pasangan memiliki pemahaman yang berbeda. Sehingga, keterbukaan menjadi kunci dalam mengelola keuangan keluarga. Hal ini bukan hanya soal penghasilan saja, melainkan juga mengenai tabungan, aset yang dimiliki, dan lain-lain,” tambahnya. Selanjutnya, penting untuk menetapkan anggaran bulanan yang terstruktur. Dalam hal ini, dapat melibatkan pasangan untuk mendiskusikan tentang pos anggaran yang menjadi prioritas dan yang perlu dibatasi.Contohnya anggaran untuk kebutuhan pokok seperti listrik, air, hingga alokasi dana untuk keperluan sosial setiap bulan. Lebih lanjut, Ratya menekankan pentingnya memiliki dana darurat yang hanya digunakan dalam keadaan genting atau mendesak. Menyisihkan sebagian gaji secara teratur untuk dana darurat sangat diperlukan, baik dalam bentuk tunai maupun rekening terpisah. Tentu, cara ini akan membantu membangun ketahanan keuangan keluarga. “Mengelola dana darurat juga bisa dalam bentuk investasi emas. Alasannya, investasi emas dengan harga yang stabil bisa menjadi alternatif bagi yang menginginkan tingkat risiko rendah. Namun, hal ini tetap disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing pasangan,” ungkapnya. Selain itu, adanya reksa dana memberikan kemudahan akses bagi pasangan muda untul merencanakan keuangan. Apalagi mengingat ada banyak aplikasi yang tersedia. Hal ini tentu memudahkan pasangan muda dalam proses membuka dana dan merencanakan investasi secara lebih efisien. Di akhir, ia menekankan pentingnya financial planning sejak sebelum menikah. Bukan hanya investasi keuangan, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang dalam hubungan. “Konsistensi, komitmen, dan keterbukaan dalam mengelola keuangan akan membantu pasangan muda membangun masa depan yang kokoh,” pungkasnya. (lai/wil)

Mahasiswa UMM Sulap Limbah Kaset CD Jadi Panel Surya

Segudang inovasi tak ada hentinya dihasilkan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, inovasi datang dari mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri yang berhasil menciptakan panel surya eco-casset. Ciptaannya ini, berhasil dipajang pada acara Industrial Engineering Expo (IEE), Januari lalu. Umumnya, panel surya menggunakan bahan semikonduktor silikon untuk memproduksi energi. Namun, Anum Maharani Siregar dan tim mengganti bahan semikonduktor tersebut dengan limbah kaset CD yang dililit oleh tembaga untuk menghasilkan energi yang diubah menjadi listrik. Anum mengatakan, bahwa ide awal pembuatan panel surya ini didasari atas maraknya limbah kaset yang tidak terpakai lagi. “Kami juga melihat kalau saat ini kaset jarang digunakan lagi untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi, kaset juga sulit diurai tanah, sehingga kami memiliki ide untuk mendaur ulang kaset,” ucapnya. Selain itu, cara memperoleh kaset CD juga cukup mudah. Hal ini berbeda dengan bahan yang memiliki fungsi sama seperti tembaga dan baja yang memiliki harga lebih mahal. Arum menjelaskan bahwa kaset memiliki daya hantar panas yang cukup baik jika dijemur di matahari yang terik. Kemudian, jika dililit dengan kabel tembaga, energi panas yang dihasilkan oleh kaset dapat diubah menjadi energi listrik. Kaset CD akan memecah foton yang dibawa oleh energi panas menjadi ion positif dan negatif. Kemudian, kedua ion akan terus bergerak dan saling berikatan membentuk arus listrik searah atau DC. Anum menambahkan, arus DC yang dihasilkan oleh panel surya buatannya kemudian diubah oleh inverter menjadi arus AC yang lebih stabil untuk kebutuhan rumah tangga. Untuk saat ini, panel surya ciptaannya mampu menghasilkan listrik sebesar 300 watt atau setara dengan 12 volt listrik. “Karena target produk kami adalah untuk kebutuhan rumah tangga, untuk itu, listrik yang dihasilkan hanya cukup digunakan untuk mengecas smartphone,” tambahnya. Perbedaan mencolok antara panel surya miliknya dengan panel surya pada umumnya adalah pada kekuatan menyerap sinar matahari. Panel surya pada umumnya mampu menyerap sinar matahari di panas yang redup sekalipun. Sementara, produk milik Arum masih terbatas penyerapan pada panas yang terik. Hal inilah yang membuat timnya ingin terus mengembangkan produknya. Sehingga bisa menghasilkan listrik yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun daya yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh banyaknya lilitan kabel tembaga pada kaset tersebut. Untuk itu, ke depannya ia dan tim akan melakukan perbaikan demi menyempurnakan panel suryanya. Tak hanya perbaikan saja, namun juga pngembangan agar produknya dapat digunakan masyarakat dengan mudah dan efisien. Untuk itu, Anum berharap bahwa agar dapat bekerjasama dengan investor dan lembaga di UMM untuk mengembangkan panel surya garapannya hingga menjadi produk yang benar-benar siap digunakan. (tri/wil)

Ini Tiga Guru besar Baru FH UMM, Kaji Keadilan Eklektik, Pidana Sosial, hingga Agraria

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah jumlah guru besarnya. Kali ini tiga guru besar baru dikukuhkan oleh Fakultas Hukum UMM. Mereka adalah Prof. Dr. Sidik Sunaryo, M.Si., M.Hum., Prof. Dr. Tongat, M.Hum. dan Prof. Dr. Fifik Wiryani, M.Si., M.Hum. Para guru besar yang dikukuhkan pada 7 Februari 2024 ini memiliki fokus penelitian masing-masing. Mulai dari keadilan eklektik, pidana sosial, serta hak menguasai negara dan agragria. Misalnya saja Sidik yang mengkaji lebih dalam terkait keadilan eklektik. Menurutnya, proses peradilan seringkali menjadi ajang kontestasi memperebutkan jumlah, bukan proses untuk mengerucutkan nilai hikmah. Sementara, keadilan eklektik mengutamakan nilai hikmah di atas nilai jumlah. “Nilai hikmah itu mengandung makna ajaran, sedangkan nilai jumlah hanya sekadar menjelaskan ujaran,” jelasnya. Saat ini, hilirisasi proses peradilan ditujukan untuk memperbanyak jumlah putusan, bukan untuk membangun nilai hikmah. Proses pemidanaan ditandai dengan jumlah bilangan yang bersifat penderitaan dan jumlah denda material yang bersifat kerugian. Sebaliknya, konsep keadilan eklektik memandang prinsip pemidanaan sebagai elaborasi nilai-nilai hikmah untuk memulihkan dan mengembalikan manusia. Utamanaya pada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat kesemestaan. Di sisi lain, dalam orasi ilmiahnya, Tongat membahas terkait pidana kerja sosial, urgensi, dan kontribusinya dalam hukum pidana Indonesia di masa mendatang. Menurutnya, ada berbagai keunggulan pidana kerja sosial ketimbang pidana perampasan kemerdekaan. Pertama, dapat menghindarkan pelaku dari dampak negatif akibat penempatan pelaku dalam lembaga, seperti stigmatisasi, interaksi negatif dengan narapidana lain, hingga dehumanisasi. “Kedua, pidana sosial bisa mengurangi populasi penghuni lembaga koreksi. Ketiga, kerja sosial juga akan menekan biaya hidup narapidana di dalam lembaga secara signifikan dan meringankan beban masyarakat sebagai pembayar pajak,” tambahnya. Tongat menambahkan, kelebihan yang keempat adalah memberikan manfaat yang menguntungkan bagi masyarakat berkat mobiliasi terpidana kerja sosial. Terakhir, pidana kerja sosial juga akan meringankan sekaligus membantu ekonomi keluarga. Terpidana kerja sosial tetap dapat menjalankan pekerjaannya, sehingga tetap bisa menjalankan fungsinya sebagai tulang punggung keluarga. Kajian menarik juga dipaparkan oleh Fifik yang menjelaskan mengenai hak menguasai negara (HMN), konfilk, dan keadilan agraria. Ia menjelaskan, meski Indonesia telah melewati transisi politik dari rezim otoritarian ke pemerintahan yang relatif demokratis, namun Indonesia masih mempertahankan konsep HMN yang diartikulasikan secara hegemonik oleh negara. Misalnya dalam sektor perkebunan, masyarakat hukum adat terpinggirkan karena harus mendapat rekognisi terlebih dahulu dari negara. Sehingga bisa timbul hka untuk mendapat ganti rugi atas tanah. “Saya berharap penelitian ini bisa mendorong terciptanya budaya baru dalam penyelenggaraan negara, khususnya di sektor agraria sehingga dapat menapai keadilan yang dicita-citakan. Output yang sebenarnya ingin saya capai adalah melakukan redefinisi mengenai konsep HMN yang semula penuh nuansa hegemonik beralih menjadi konsep HMN yang partisipatif dan berkeadilan,” pungkas Fifik. (wil)

Dosen UMM Beri Tips Cara Luapkan Marah Tanpa Menyakiti Orang Lain

Marah merupakan hal yang wajar sebagai salah satu cara untuk meluapkan emosi. Namun, kemarahan yang tidak terkontrol ternyata dapat mempengaruhi hubungan individu dengan orang lain. Misalnya  saat marah, seseorang kerap mengucapkan kalimat yang menyakitkan hati hingga melukai fisik orang lain. Melihat ini, Ratih Eka Pertiwi, S.Psi., M.Psi. selaku dosen program studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang  memberikan tips meluapkan emosi tanpa menyakiti orang lain. Pertama, regulasi emosi. Regulasi emosi ialah kemampuan untuk mengontrol dan menyesuaikan emosi yang timbul pada tingkat intensitas yang tepat untuk mencapai suatu tujuan. “Usahakan untuk mengontrol emosi atau rasa marah tersebut, agar tidak dieskpresikan dalam bentuk perilaku-perilaku yang agresif, baik verbal maupun fisik. Meski demikian, meregulasi emosi itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan, perlu latihan,” ucap Ratih. Ada berbagai macam cara untuk meregulasi emosi. Salah satunya dengan tarik nafas atau mengatur nafas. Saat emosi, seringkali ritme nafas seseorang jadi lebih cepat. Sehingga ketika nafasnya diatur, maka terdapat bagian di otak yang dapat meregulasi emosi serta secara otomatis dapat mengurangi ketegangannya. Kedua, berpikir secara altrernatif. Jika ada pikiran buruk yang muncul, otomatis emosi yang dirasakan pasti negatif. Namun jika berpikir hal yang sebaliknya, seperti memandang situasi dengan cara yang berbeda, kemungkinan emosi yang dirasakan pun akan berbeda. Ketiga, melakukan kegiatan yang menyenangkan. “Bisa journaling, tidur, berolahraga, melakukan art teraphy seperti menari, melukis, menggambar,” jelasnya. Dengan jurnaling, seseorang bisa meluapkan emosi diatas kertas tanpa perlu menyampaikannya secara langsung kepada yang bersangkutan. Tidur pun dapat menjadi salah satu solusi untuk meluapkan dan meredam emosi. Sebab ketika emosi kita perlu menenangkan diri sesaat, agar bisa lebih bijak dan jernih dalam berpikir. Namun emosi yang dirasakan tidak boleh didenial. Jika menumpuk, hal itu bisa menimbulkan akibat fisik yang disebut sebagai psikosomatis. Psikosomatis adalah istilah yang mengacu pada keluhan gejala fisik yang muncul akibat pikiran dan emosi yang dirasakan seseorang. Seperti nyeri pada bagian dada, sesak nafas, dan lain-lain. “Jadi journaling, tidur, dan sebagainya itu bukan untuk mengalihkan amarahnya. ‘Biar ngga marah aku lari-lari ah’, tidak seperti itu. Rasa kecewa, marah itu harus diakui. Penting diingat bahwa memendam emosi merupakan solusi terburuk. Sebab, idealnya emosi memang harus diekspresikan,” pesannya. (dev/wil)

Kuatkan Internasionalisasi, UMM-Western Sydney University Jajaki Kerjasama

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melebarkan sayap di dunia internasional. Terbaru, Kampus Putih menjajaki kerjasama dengan Western Sydney University (WSU) di banyak bidang. Turut hadir perwakilan dari WSU Prof. Amir Mahmood pada 5 Februari ini. Bersama ajaran rektor, ia berdiskusi dan membahas mengenai potensi kerjasama yang bisa dilakukan. Mahmood, sapaannya, mengapresiasi salah satu program futuristik UMM, yakni Center of Excellence (CoE) dan Center for Future Works (CFW). Menurutnya, banyak sarjana yang lulus dengan nilai IPK yang bagus tapi kesulitan menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri. Bahkan, sekalipun mendapatkan pekerjaan, banyak dari mereka susah mempelajari skill baru. “Namun, program CoE dan CFW UMM ini benar-benar memberikan solusi menarik. Tidak hanya menjembatani calon sarana dengan industri, tapi juga menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan dunia industri. Dengan begitu, para lulusan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan menyesuaikan kemampuan,” katanya. Usai berkeliling kampus, Ia juga menilai bahwa UMM memiliki lingkungan yang mendukung untuk belajar. Suasananya yang nyaman dan indah membuat proses belajar dan mengajar menjadi lebih menyenangkan. Ia juga tertarik dengan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) yang ada di UMM karena berhasil menyediakan energi baru terbarukan. Mahmood juga membuka kesempatan untuk menjadi speaker di konferensi atau diskusi yang dilaksanakan di UMM. “Kami juga akan mengajak para mahasiswa kami untuk datang ke UMM ketika mengunjungi Indoensia nanti. Semoga ada program bersama agar kita bisa saling mengenal dan berkolaborasi, termasuk dalam riset,” kata Mahmood. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa Kampus Putih selalu membuka ruang untuk melebarkan kerjasama internasional. Saat ini, mereka sudah memiliki banyak kerjasama di lingkup internasional. Mulai dari negara-negara di Eropa, Afrika, Amerika, Asia dan lainnya. “Tentu ini merupakan langkah UMM untuk menjadi kampus dengan kualitas internasional. Semoga diskusi ini bisa memberikan kerjasama yang apik bagi kedua belah pihak,” tambah Nazar mengakhiri. (wil)