Begini Penjelasan UMM tentang Matematika di Kurikulum Merdeka

Beberapa waktu lalu viral sebuah video yang memperlihatkan seorang ayah tengah kesulitan mengajarkan matematika dengan konsep kurikulum merdeka kepada anaknya. Benarkah kemampuanmatematika anak saat ini menurun? Melihat fenomena ini, Reni Dwi Susanti, M.Pd. Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan tentang konsep merdeka yang digunakan pada kurikulum di Indonesia saat ini. Dalam kurikulum matematika yang merdeka, siswa diberikan kebebasan untuk menemukan pola, merumuskan hipotesis, dan menyusun strategi penyelesaian masalah mereka sendiri. Dalam kurikulum merdeka, siswa menjadi subjek utama dalam pembelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping dalam proses belajar siswa. “Mereka diajarkan untuk berpikir kreatif dan logis serta melihat matematika sebagai sebuah proses eksplorasi dan eksperimen. Bukan hanya sebagai kumpulan rumus yang harus dihafalkan,” jelas Reni. Tujuan pendekatan ini ialah untuk menghasilkan siswa dengan pemahaman matematika yang kuat dan mampu menerapkannya dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, siswa dapat menjadi individu yang mandiri serta kritis, baik dalam memecahkan masalah matematika maupun non-matematika. Karena perubahan ini, beberapa siswa mungkin kesulitan dalam beradaptasi dengan metode pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya. Sementara guru juga mungkin memiliki kendala dalam merancang dan melaksanakan kurikulum merdeka dengan baik. “Kurangnya tenaga pengajar yang berkualitas dan berpengalaman juga menjadi masalah, sehingga dapat mempengaruhi pemahaman siswa terhadap matematika,” ucapnya. Orang tua pun mungkin merasa bingung, sebab mereka tidak tahu bagaimana mendukung anak-anaknya dalam belajar menggunakan metode baru ini. Seperti yang kita ketahui, tidak semua sekolah memberikan fasilitas lengkap dan tidak semua orang tua memiliki kemampuan lebih dalam memberikan fasilitas pendidikan untuk anaknya. Misalnya dalam hal teknologi. Maka, agar konsep ini berjalan dengan baik dan efektif, Reni berharap guru dapat merubah mindset untuk menjadi lebih inovatif dalam pendekatan pembelajaran. Guru atau pengelola pendidikan juga diharapkan dapat merancang dan melaksanakan sistem evaluasi yang memadai untuk mengukur pencapaian siswa sesuai dengan kurikulum. “Kurikulum merdeka ini kan lebih menekankan pada penilaian berbasis keterampilan dan proyek. Jadi ini mungkin akan menjadi tantangan bagi para guru atau pengelola pendidikan,” pungkasnya. (*dev/wil)
Kolaborasi FPP UMM-Desa Sanankerto Dirikan Fish Edupark Boonpring

Menggaet Desa Sanankerto, Turen, Kabupaten Malang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) inisiasi wisata edukatif. Adapun kali ini Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) yang mengambil peran mendirikan wisata eduaktif khusus ikan endemik bernama Fish Edupark Boonpring. Ini juga menjadi cara MM Koordinator pelaksana, Ganjar Adhywirawan Sutarjo, M.P. menjelaskan, Desa Sanankerto dengan tempat wisata Boonpring memang memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan wisata edukasi. Selain karena sudah ada wisata Boonpring, beberapa jenis ikan yang dikenalkan juga hidup dis ekitar desa tersebut. “Melalui program ini, kita ingin Desa Sanankerto menjadi bank genetik ikan endemik Jawa Timur,” tambahnya. Agar mencapai kesuksesan yang maksimal, program pengabdian ini juga berkolaborasi dengan dinas kelautan dan perikanan hingga kelompok pembudidaya ikan tirta mas. Bahkan juga melibatkan mahasiswa yang aktif terlibat melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dan Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM). Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif, seperti menjadikan Desa Sanankerto pusat pelestarian dan konservasi ikan endemik Jawa Timur. Selain itu juga meningkatkan jumlah pengunjung dan pendapatan masyarakat, serta memberikan peluang pengembangan budidaya ikan endemik bagi masyarakat pembudidaya ikan. “Kami berupaya agar program ini tidak hanya berdampak dalam aspek pendidikan, tetapi juga pada bidang sosial serta peningkatan ekonomi masyarakat setempat,” tambah Ganjar. Adapun ikan endemik yang menjadi fokus kegiatan ini meliputi ikan wader pari, ikan wader cakul, ikan sengkaring, ikan bader bang, ikan tawes, dan lainnya. Pelaksanaan program tersebut sudah berlangsung sejak 1 Agustus hingga 20 Februari 2024 nanti. Diawali dengan mekanisme pelatihan yang bertujuan untuk memperkuat pengetahuan tentang pengelolaan ikan endemik sebagai tujuan eduwisata dan pelestarian. Selanjutnya, dilakukan pendampingan secara periodik yang melibatkan Ganjar dan tim yang terdiri dari 15 mahasiswa PPK Ormawa dan 5 mahasiswa PMM mitra dosen. “Hingga saat ini, sudah ada peningkatan pengunjung yang mulanya di angka 30-40% kini telah meningkat sebesar 60-70%. Kedepannya kami percaya bahwa melalui sinergisitas antara pendidikan, pelestarian, dan partisipasi masyarakat, Desa Sanankerto akan menjadi destinasi yang menginspirasi dalam menjaga kelestarian ikan endemik. Memberikan manfaat positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar,” tegasnya. (rev/wil)
PPG UMM Kukuhkan 2.050 Guru yang Miliki Skill Abad 21

Sebanyak 2.050 lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam Jabatan dan 688 lulusan PPG Pra Jabatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses dikukuhkan. 23 Januari lalu. Mereka berasal dari 27 provinsi di Indonesia dan memiliki latar belakang budaya dan agama yang berbeda pula. Turut hadir memberikan motivasi Ferry Maulana Putra, S.Pd, M.Pd selaku Koordinator Pokja PPG Pra Jabatan Direktorat Pendidikan Profesi Guru, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbudristek. Dalam orasinya, Ferry menilai bahwa saat ini Indonesia membutuhkan guru dengan kompetensi yang baik agar bisa mewujudkan indonesia emas 2045. Salah satunya dengan memenuhi kualifikasi akademik, yakni merupakan guru lulusan S1 atau D4 baik dari kependidikan maupun non kependidikan. Kemudian juga mempunyai sertifikasi pendidik agar tercatat resmi dalam data pemerintahan. “Saya percaya bahwa lulusan yang ada di depan saya ini telah memenuhi semua persyaratan sebagai guru profesional. Apalagi karena memang telah mendapatkan pembelajaran di kelas maupun program kampus,” katanya. Saat ini, pemerintah mengusahakan untuk menyediakan sertifikasi bagi lulusan PPG dalam jabatan untuk memenuhi kesejahteraan guru, utamanya bagi mereka yang akan memasuki usia pensiun. Selain itu, Kemdikbud juga memiliki strategi utama yang bisa diterapkan untuk memajukan berbagai sekolah. Program ini disebut dengan Sekolah Penggerak Profil Pelajar Pancasila. “Hal ini sangat sesuai dengan visi pendidikan di Indonesia yakni mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar pancasila yang beriman. Program ini sudak melalui hasil asesmen dan akan bersentuhan langsung dengan teknologi sebagai langkah meningkatkan wawasan berkebhinnekaan global,” ujarnya. Ferry juga menyampaikan, pembelajaran reflektif menjadi ruh dalam penyelenggaraan PPG pra jabatan. Di dalamnya meliputi penguasaan kompetensi guru yang berorientasi utama kepada individu dan pembelajaran peserta didik yang mengamalkan nilai Pancasila. Tidak hanya itu, ia juga mengatakan, komitmen sebagai guru diperlukan agar tercipta pembelajaran sepanjang hayat dan mempunyai dasar-dasar kepemimpinan. Sementara itu, Dekan FKIP UMM Dr. Trisakti Handayani, MM.mengatakan, lulusan yang dikukuhkan ini telah bertransformasi menjadi guru profesional dengan segudang kompetensi ilmu pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman. “Dengan bekal yang telah dimiliki para lulusan, maka dapat dipastikan mereka akan mampu mengintegrasikan pembelajaran abad 21. Pendidikan ini meliputi critical thinking, creative thinking, collaboration, dan Communication,” tambahnya. Menurutnya, setiap alumni PPG UMM telah disiapkan untuk menjadi guru yang mempunyai jiwa profesionalitas, semangat, dan komitmen yang tinggi. Begitupun dengan etos kerja serta integritas yang tinggi dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas menyongsong Indonesia emas. (ri/wil)
Dosen UMM Sebut FOMO Punya Manfaat

Berada di era yang dipenuhi informasi dan aktivitas beragam, fenomena ‘Fear of Missing Out’ (FOMO) telah menjadi bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan masyarakat. Kecemasan akan takutnya ketinggalan tren tertentu, kian menjadi keresahan baru. Hal ini memantik Abdus Salam, S.Sos., M.Si., selaku dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menyoroti aspek FOMO dalam dinamika sosial. Sebagai seorang pakar Sosiologi, ia menilai bahwa manusia sebagai makhluk sosial memiliki keinginan untuk diakui oleh orang lain. “Jika melihat dari perspektif sosiologi, ini termasuk dalam teori achievement mendorong seseorang berkompetisi meningkatkan kualitas diri,” terang Salam. Ia menekankan bahwa FOMO dapat berperan aktif dalam mendorong individu untuk terlibat lebih aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, juga memotivasi seseorang untuk mengikuti perkembangan terkini dalam berbagai bidang. Sehingga, menciptakan iklim yang terus berinovasi dan mengembangkan minat baru. Sebagai contoh nyata, ia mencatat salah satu sisi positif dari FOMO adalah tren penjualan di Tiktok. “Ini adalah momentum berjualan yang dapat menunjang perekonomian, masyarakat dapat berkreasi dengan bebas melalui tren ini. Ini menjadi fakta sosial yang tidak bisa dihindari,” paparnya. Selain itu, Salam menyoroti bahwa FOMO dapat mengubah paradigma sosial. Hal ini dikarenakan FOMO menjadikan masyarakat lebih terbuka terhadap keberagaman dan perkembangan budaya. Dalam suatu kegiatan atau acara tertentu, masyarakat cenderung untuk berpartisipasi dalam aktivitas bersama, menciptakan jejaring sosial yang lebih kuat. FOMO juga berperan dalam memotivasi individu untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek sosial dan amal. “Ketika seseorang merasa terdorong untuk tidak ketinggalan terhadap upaya kemanusiaan atau proyek-proyek sosial, ini dapat menciptakan gelombang positif solidaritas dan kontribusi masyarakat. Bahkan fenomena ini juga dapat meniakkan popularitas seseorang. Contohnya pendakwah di Madura yang tiba-tiba viral karena aksi dakwahnya yang dilakukan di sosial media,” sebutnya. Meskipun demikian, Salam juga memberi peringatan terkait dampak negatif yang ditimbulkan dari FOMO dalam masyarakat. Fenomena ini tak lepas kaitannya dengan perkembangan teknologi, termasuk gawai. Hal ini tentu akan merenggangkan hubungan antar sesama dan menimbulkan kesenjangan sosial. “Saat ini citra dan fakta susah dibedakan, mengingat semua kegiatan dengan gampangnya diposting di media sosial. FOMO itu tidak dapat dihindari, tetapi tetap harus diimbangi dengan pola interaksi sosial seperti aktif berkontribusi dan berpartisipasi pada kegiatan di lingkungan masyarakat,” pungkasnya. (lai/wil)
Viral Keracunan Makanan, Dosen UMM Sebut KLIK jadi Kunci

Beberapa waktu lalu, viral di media sosial seorang ibu di Pekanbaru melabrak petugas minimarket yang menjual produk yang ternyata sudah kadaluarsa sejak Desember 2023. Sang ibu emosi lantaran karena hal tersebut anaknya jatuh sakit. Berkaca dari kejaidan tersebut, apt. Elva Asmiati, S.Farm., M.Clin.Pharm. dosen Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan bahwa penting untuk memperhatikan expired date makanan. Karena saat makanan melebihi tanggal kadaluarsa, produsen tidak menjamin kelayakan dari produk tersebut. Pada konteks penjualan di toko manapun semua pihak berperan penting. Penjual harus selalu melakukan cross check semua produknya. Pembeli juga harus memiliki ketelitian saat memilih produk yang akan dibeli, karena bisa jadi pihak penjual kurang teliti melakukan pengecekan tanggal kadaluarsa. Jika semua pihak saling teliti, maka tidak akan terjadi hal seperti kasus tersebut. “Perlu diketahui bahwa keterangan yang dilansir dari BPOM Indonesia, jenis pengawet yang aman dan diperbolehkan untuk digunakan pada makanan salah satunya adalah senyawa Asam Benzoat (C₇H₆O₂,). Senyawa ini banyak digunakan pada industri makanan di Indonesia, serta penggunaan bahan pengawet juga berkaitan dengan penentuan tanggal tanggal kadaluarsa di setiap produsen produk makanan,” terangnya. Lebih lanjut Elva menyampaikan, penentuan expired date pada industri ada dua cara. Yang pertama sifatnya ongoing atau pengecekan secara berkala, sementara yang kedua dipercepat yaitu dengan cara menjadikan produk cepat mengalami degradasi. “Dari situ produsen bisa memperkirakan produk bisa bertahan berapa tahun mendatang,” tambah Elva. Saat seseorang secara tidak sengaja mengkonsumsi makanan yang sudah melampaui tanggal kadaluarsa, dampaknya dapat mengganggu sistem pencernaan. Ini karena ada bakteri yang berkembang pada produk tersebut. Gejala yang umumnya muncul antara lain adalah mual, muntah, diare, dan pusing. Bisa juga menyebabkan kematian jika sampai mengalami dehidrasi karena kekurangan cairan. Di akhir, Elva mengingatkan kembali kepada masyarakat tentang slogan BPOM “Cek KLIK” yang merupakan singkatan dari Cek Kemasan, Label, Izin Edar, Kadaluarsa. Baik itu untuk obat maupun olahan pangan yang akan dikonsumsi. “Jika setiap konsumen mengikuti slogan di atas maka kejadian seperti keracunan makanan karena produk expired tidak akan terjadi lagi,” pungkasnya. (dit/wil)
50 Inovasi Teknologi Dipamerkan di IEE UMM, Seberapa Canggih?

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak hentinya mmebuat karya-karya hebat. Kali ini, melalui Industrial Engineering Expo (IEE), Prodi Tekni Industri memamerkan karya-karya buatan mahasiswa 2020 dan 2021. Agenda yang dilaksanakan pada 18 Januari ini menarik banyak perhatian karena beragam inovasi teknologi yang dapat memudahkan kegiatan manusia. Amelia Khoidir, S.T., M.Sc selaku ketua pelaksana menyampaikan, pameran yang bertajuk Exploring Integrated System Design and Product Development ini merupakan agenda tahunan yang diadakan untuk mewadahi karya mahasiswa. Pada tahun ini, Teknik Industri menyelenggarakan dua pameran yaitu pengembangan produk bagi angkatan 2021 dan pameran perancangan sistem terpadu untuk angkatan 2020 yang baru dilaksanakan di tahun ini. “Tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan capaian mahasiswa dalam menerapkan pengetahuan teknik industri mereka dengan proyek-proyek nyata. Jadi tidak hanya memahami teori, tapi para mahasiswa juga didorong untuk menggunakan teorinya menjadi sebuah produk atau inovasi alat,” tambahnya. Pada tahun ini, IEE memiliki penekanan pada inovasi mahasiswa yang berkaitan dengan Internet of Things (IoT) dan pengurangan limbah atau sampah. Sehingga, karya yang dipamerkan mahasiswa juga mengacu pada hal tersebut. Pameran ini menampilkan produk-produk unik seperti boneka yang dapat merespon pembicaraan, sarung tangan penerjemah bahasa isyarat, alat pendeteksi kebakaran hutan, dan lain sebagainya. Total, karya yang diperlihatkan di pameran ini berjumlah lebih dari 20 karya dari angkatan 2021 dan 30 karya dari angkatan 2020. Salah satu karya yang paling menarik perhatian yaitu Tech-Smart Gloves. Sarung tangan penerjemah bahasa isyarat besutan Yoga Adiwinata Prayitno dan rekan setimnya ini berhasil mencuri perhatian khalayak ramai. Pasalnya, ketika sarung tangan digerakkan membentuk bahasa isyarat, secara otomatis sarung tangan tersebut akan menerjemahkan bahasa isyarat dan mengubahnya menjadi audio. Sarung tangan ini dilengkapi dengan Arduino Flex Sensor yang dipasang di jari-jari sarung tangan. Sensor ini mampu mendeteksi perubahan pergerakan jari dan mengubahnya menjadi audio. Sehingga saat digunakan, sensor ini mampu menerjemahkan ke suara. “Saat digunakan oleh teman-teman tunarungu, sensor ini akan membaca gerakan bahasa isyarat dan menerjemahkannya menjadi audio. Sehingga teman-teman yang lain dapat mengetahui arti dari bahasa isyarat tersebut sekalipun tidak mengerti bahasa isyarat,” tambah Yoga. Tak hanya produk jadi, pameran ini juga memperlihatkan hasil kolaborasi antara mahasiswa dengan UMKM. Produk yang dihasilkan berupa ide dari permasalahan yang dihadapi oleh UMKM. Nantinya, jika usulan ide yang akan dibuat mendapatkan pendanaan dan persetujuan, maka ide tersebut dapat dikembangkan menjadi produk jadi. Ir. Shanty Kusuma Dewi ST., MT. IPM selaku Ketua Program Studi teknik Industri menambahkan bahwa dirinya sangat bersykur atas terselenggaranya pameran karya mahasiswa ini. Dirinya berpesan, semoga agar karya yang dibuat mahasiswa ini tak berhenti hanya untuk melunaskan tugas mata kuliah saja. “Namun juga bisa digunakan untuk perlombaan atau bahkan dipatenkan agar bermanfaat bagi banyak orang,” tandasnya. (*tri/wil)
Dukung Pembangunan Nasional, Anak Muda FPP UMM Ditatar Bela Negara

Sebanyak 370 mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merampungkan pelatihan Bela Negara, 21 Januari ini. Mereka sukses melewati berbagai rintangan fisik dan menyerap segala ilmu dari para ahlinya. Serangkain agenda yang disiapkan berhasil membentuk pribadi mereka menjadi pemuda tangguh dan pantang menyerah.Turut hadir berbagai pemateri seperti dari tim Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Batu, Polres Batu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) Kota Batu hingga Pemadam Kebakaran (Damkar). Bahkan ada beberapa Mayor, Letkol, Lettu, dan Serda dari TNI Pusdikarhanud yang menhampaian materi untuk memperkuat mental para mahasiswa. Dalam upacara penutupan Bela Negara FPP 2024, Rektor UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengucapkan selamat kepada para mahasiswa yang sudah berjuang melewati segala proses. Menurutnya, rasa nasionalisme yang tinggi harus dimiliki anak-anak muda, apalagi di era yang memberikan pengaruh globalisasi. “Sebagai geenrasi penerus bangsa, kalian harus berupaya menumbuhkan rasa cinta tanah air. Dengan begitu, kalian bisa membawa bangsa ke arah yang lebih baik di masa depan. Semoga kalian dapat menyakapi kemajuan teknologi untuk peradaban bangsa dan dapat terus membanggakan negara Indonesia dengan prestasi yang akan kalian raih,” tegas Syamsul. Ia juga mendorong mahasiswa untuk menjauhi narkoba dan pergaulan bebas agar masa depan mereka selalu gemilang. Mereka juga dimotivasi untuk menjadi pribadi yang peka serta responsif tanggap dalam menyelesaikan masalah. Menariknya, pada penutupan itu, mahasiswa juga menampilkan keterampilan baris-berbaris. Itu menjadi salah satu hasil dan bukti kedisiplinan yang suda mereka bangun. Harapannya, para mahasiswa bisa menjaga sikap disiplin tersbeut di suasana belajar dan menimba ilmu di Kampus Putih UMM. Hal serupa juga disampaikan Dekan FPP UMM Prof. Dr. Ir. Aris Winaya, M.M., M.Si. IPU. ASEAN Eng. Menurutnya, agenda Bela Negara ini melibatkan materi kebangsaan dan latihan fisik guna membangun mental pribadi yang tangguh. Ini juga menjadi tekad kuat UMM dalam mendukung pembangunan nasional dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan. “Ini bukan hanya menjadi wujud kontribusi nyata dalam mencetak generasi penerus yang tangguh. Tetapi juga memperkuat rasa persatuan dan kesatuan di kalangan mahasiswa, menjadikan mereka teladan dalam semangat cinta tanah air di lingkungan kampus,” pungkasnya mengakhiri. (*/wil)
Begini Cerita Seru Chacha, Mahasiswa Kelas Internasional UMM yang Timba Ilmu di Turki

Sayang sekali jika fasilitas yang diberikan Kampus Putih tidak dimanfaatkan dengan baik. Apalagi, berkesempatan untuk merasakan pendidikan di luar negeri merupakan salah satu cita-cita yang banyak diinginkan para mahasiswa. Hal itu juga menjadi motivasi Chandrika Kirani Bakari mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah malang (UMM). Ia berkesempatan untuk merasakan pendidikan di Turki, tepatnya di Kadir Has University, Istanbul, sejak Oktober tahun lalu hingga Februari 2024 ini. Chacha, sapaan akrabnya, merupakan mahasiswa yang tergabung dalam kelas psikologi international Kampus Putih. Hal itu membuatnya bisa terbang dan belajar di luar negeri.yang membawanya hingga belajar di luar negeri. “Jujur, ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Apalagi melalui program yang disediakan UMM ini, cara pandangku melihat dunia berubah. Ini juga menjadi kesempatan yang bagus batku untuk mengenalkan budaya dan berinteraksi dengan berbagai macam orang,” jelasnya. Adapun Kelas Psikologi Internasional UMM memang memiliki program International Kredit Transfer (ICT) yang hanya dapat diikuti oleh mahasiswa prodi tersebut. Melalui program itu, mahasiswa dapat merasakan pendidikan di kampus ternama luar negeri selama satu. Meski begitu, mahasiswa yang akan berangkat harus memenuhi persyaratan khusus seperti tes TOEFL, Duolingo, ataupun TAEP. Adapun Chacha menggunakan hasil tes TAEP-nya yang didapatkan saat awal menjadi mahasiswa. Tes jenis ini merupakan tes yang dikembangkan langsung oleh Language Center Testing Services (LCTS) Language Center (LC) UMM. Bahkan sudah mulai merambah dan diterima oleh banyak instansi. Selama di Turki, Chacha merasakan beberapa perbedaan kultur di masyarakat. Mulai gaya berbicara, gaya bersosial, maupun kulturnya. Salah satu contohnya adalah saat di kampus, dosen dan mahasiswa seperti tidak ada jarak. Para dosen lebih suka ketika mahasiswanya ikut berdiskusi mengenai pembelajaran dengannya secara personal. Tak jarang, mahasiswa juga banyak yang berdiskusi mengenai materi melalui email. Hal unik lainnya yang ia temukan adalah banyak mahasiswa yang memilih bolos dan memilih untuk belajar secara mandiri. Mahasiswa tersebut biasanya akan melakukan diskusi dengan dosennya melalui email sehingga penyampaian materi dapat lebih intens. Tak hanya itu, para dosen juga lebih suka jika disebut dengan namanya secara langsung tanpa menyebutkan gelar yang mereka miliki. Hal ini dilakukan para dosen agar tidak ada jarak antar dosen dan mahasiswa, sehingga mereka lebih nyaman untuk belajar maupun mengeluarkan pendapatnya. “Sebenarnya di Indonesia khususnya UMM sudah menerapkan hal ini, namun karena perbedaan kultur, akhirnya hal seperti ini tidak terealisasi. Apalagi akan terdengar tidak sopan jika tidak menggunakan panggilan pak atau bu,” tambahnya. Selain mendapatkan ilmu yang bermanfaat, saat belajar di Turki ia juga mempelajari banyak hal seperti cara bersosial, mengunjungi tempat-tempat baru, hingga belajar mengenai kultur mereka. Ia juga mengunjungi Cappadocia yang memiliki pemandangan indah. Ia berharap semoga semakin banyak mahasiswa UMM yang memiliki kesempatan untuk mengunjungi berbagai negara dan belajar di sana. Tidak hanya terbatas di Turki saja. Apalagi kerjasam internasional UMM juga luas. Tiap semester puluhan mahasiswa dan dosen mengikuti program pertukaran di berbagai negara, baik di Eropa, Asia, Amerika, bahkan Afrika. (tri/wil)
Mau Investasi Emas di 2024? Ini Tips Dosen UMM

Dalam merencanakan keuangan, banyak orang mencari pilihan yang aman dan menguntungkan. Salah satu alternatif yang sering dipertimbangkan adalah tabungan dan investasi emas. Namun, seperti halnya semua jenis investasi, terdapat kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan dengan cermat bagi masayarakat yang ingin berinvestasi pada emas. Menurut Venus Kusumawardana, S.E., MM., dosen di Program Studi D3 Perbankan UMM, sebelum memutuskan untuk menabung atau berinvestasi emas, disarankan agar individu memahami dengan seksama tentang keuntungan dan kerugiannya. “Tabungan dan investasi emas dapat menjadi pilihan yang baik untuk melindungi nilai aset dan diversifikasi portofolio. Namun, penting untuk memahami bahwa tidak ada investasi yang bebas risiko. Keputusan untuk berinvestasi dalam emas harus selaras dengan tujuan keuangan dan toleransi risiko masing-masing individu, “jelasnya. Lebih lanjut, dosen yang akrab disapa Venus ini mengatakan, emas telah terbukti sebagai bentuk lindung nilai yang efektif terhadap inflasi dan ketidakstabilan mata uang. Tak hanya itu, dalam dunia keuangan yang terkadang mengalami ketidakstabilan, diversifikasi portofolio menjadi esensial. Menambahkan emas ke dalam campuran investasi dapat membantu mengurangi risiko terhadap perubahan besar dalam nilai aset lainnya. Diversifikasi portofolio sendiri adalah cara untuk menyebar risiko dengan memiliki berbagai jenis investasi dalam portofolio. Dengan memiliki berbagai jenis aset, seperti saham, obligasi, dan mungkin emas, seseorang dapat mengurangi dampak negatif dari kinerja buruk satu jenis investasi terhadap seluruh portofolio. “Investasi dalam emas sering dipandang sebagai pilihan jangka panjang yang stabil. Kenaikan nilai emas seiring waktu dapat menjadi strategi yang baik untuk tujuan investasi jangka panjang seperti pensiun atau kekayaan masa depan. Di sisi lain, emas juga sering dicari sebagai tempat berlindung saat terjadi krisis ekonomi atau ketidakpastian global. Selama periode ketidakstabilan ekonomi, harga emas dapat meningkat karena investor mencari keamanan,” ujar venus menambahkan. Meski demikian, salah satu kelemahan investasi emas jika dibandingkan dengan saham atau obligasi yang dapat menghasilkan pendapatan pasif seperti dividen, emas tidak menghasilkan penghasilan reguler. Keuntungan diperoleh ketika nilai aset tersebut meningkat, namun perubahan tersebut mungkin tidak konsisten atau dapat bervariasi dari waktu ke waktu. Artinya, nilai aset dapat naik dan turun. Keuntungan bisa diperoleh ketika nilai aset tersebut meningkat, bahkan jika kondisinya tidak selalu stabil atau dapat berubah-ubah. “Sekalipun dipandang sebagai lindung nilai, harga emas tidak selalu stabil. Faktor global seperti perubahan kebijakan moneter dan kondisi geopolitik dapat memberikan dampak signifikan pada nilai emas. Bagi mereka yang menyimpan emas fisik, biaya penyimpanan dan keamanan dapat menjadi beban. Selain itu, investasi dalam instrumen emas seperti Exchange-Traded Funds (ETF) dapat melibatkan biaya perdagangan dan manajemen,” tambahnya. Terakhir, Venus memberikan tips bagi individu yang baru pertama kali ingin berinvestasi dalam emas. Pertama, tentukan dengan jelas tujuan investasi, baik itu untuk jangka pendek, menengah, atau panjang. Jika tujuan jangka panjang, perlu dipertimbangkan apakah untuk investasi atau apresiasi harga. Kedua, gunakan uang yang tidak dipakai dalam waktu dekat, yakni uang dingin setelah kebutuhan sehari-hari terpenuhi. Ketiga, lakukan investasi secara berkala jika dana terbatas. “Selanjutnya adalah melihat perkembangan ekonomi dan harga emas, apakah perekonomian sedang krisis atau sedang baik-baik saja. Jika akan krisis maka investasi akan lebih menjanjikan kenaikannya. Berikutnya yaitu untuk memastikan tempat penyimpanannya harus aman terkhusus untuk pemula. Untuk pembeliannya pun disarankan di toko emas yang terpercaya dan ada sertifikat atau kwitansi atau bukti kepemilikannya,” pungkasnya. (rev/wil)
Dosen UMM: Hati-Hati, Merusak Uang dengan Sengaja Bisa Masuk Penjara

Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap menemukan uang yang rusak karena sobek atau penuh dengan coretan. Meski mungkin dilakukan sebatas untuk berekspresi, tindakan dengan sengaja merusak uang ternyata dapat dijatuhi hukuman yang serius. Aktivitas ini juga mencederai integritas sistem moneter, menimbulkan efek sosial dan ekonomi, juga menimbulkan kerugian yang signifikan bagi masyarakat. “Dampak sosialnya antara lain meningkatkan angka kriminalitas dan kejahatan, menurunkan tingkat moralitas masyarakat, memperlambat pengentasan angka kemiskinan, serta membatasi akses pendidikan dan pelayanan bagi masyarakat miskin,” ujar Shinta Ayu Purnamawati, S.H., M.H. selaku dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiya Malang (UMM). Lebih lanjut, Shinta panggilan akrabnya, menegaskan, pemerintah telah melarang tindakan merusak uang yang dimuat dalam Undang-undang Nomor7 Tahun 2011 Pasal 25 ayat (1). Tujuannya adalah untuk melindungi integritas nilai tukar mata uang dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem moneter. “Setiap orang yang dengan sengaja merusak, memotong, menghancurkan, dan atau mengubah rupiah dengan maksud merendahkan kehormatan rupiah sebagai simbol negara sebagaimana dimaksud, dikenai pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak 1 milliar rupiah,” tuturnya menambahkan. Selain itu, Bank Indonesia juga memiliki peraturan terkait perlindungan mata uang yang melarang tindakan merusak uang. Pelanggaran terhadap peraturan ini juga dapat mengakibatkan sanksi administratif dan perdata. Oleh karena itu, Shinta mengajak masyarakat untuk menjaga uang dengan baik. Merusak uang dengan sengaja, dapat merusak pondasi yang mendasari sistem ekonomi. Menurutnya, perlu adanya upaya pendidikan menyeluruh pada masyarakat. Ini sebagai cara preventif menjaga agar uang fisik tidak dirusak dengan sengaja. Sekalipun itu hanya sebagai candaan atau hiburan semata. “Hukuman terhadap mereka yang merusak uang dianggap efektif dan adil karena dapat memberikan efek jera. Selain itu tentu dapat memperbaiki perilaku masyarakat dalam menggunakan uang sebagai alat transaksi yang sah,” pungkasnya mengakhiri. (bal/wil)