Bazar FLSP UMM, Produk Unik Hingga Harus Gunakan Bahasa Inggris

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini kembali menggelar hal unik. Setelah berhasil menyelenggarakan berbagai acara yang meriah dan menarik, kini UMM menggelar bazar yang berbeda. Pasalnya, penyelenggara bazar ini menuntut pengunjung dan penjual menggunakan bahasa Inggris dalam proses jual belinya. Bazar tersebut diikuti oleh mahasiswa Foreign Language Speaking Program (FLSP) dari empat Program Studi (Prodi) yaitu Teknik Sipil, Teknik Industri, Ilmu Pemerintahan, dan Hukum. Kholilurahman selaku Dosen FLSP Speaking mengatakan, adanya bazar ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan dan membiasakan bahasa inggris. Terhitung, ada 30 stand dengan berbagai produk unik yang dijual mulai dari makanan, minuman, kaos, maupun kerajinan tangan. “Bazar ini menjadi bentuk implementasi pembelajaran FLSP. Mahasiswa bebas berkreasi sesuai keinginannya. Mulai dari inovasi produk, gaya penjualan, pengiklanan, dan lain-lain,” tambahnya. Program yang digagas oleh Kholil dan ketiga rekannya berawal dari keinginannya menerapkan metode pembelajaran yang unik. Mahasiswa dituntut untuk lebih mengasah skill berbicara bahasa inggrisnya di khalayak ramai. Apalagi, pihak Direktur Language Center (LC) dan Kampus UMM juga mendukung penuh metode pembelajaran itu. Adapun LC merupakan lembaga pembelajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa yang dinaungi oleh UMM. Lembaga ini melatih mahasiswa untuk dapat menerapkan bahasa Inggris sesuai dengan jurusannya masing-masing. Salah satu programnya yaitu FLSP. Uniknya, disini penjual maupun pembeli harus menggunakan bahasa Inggris saat melakukan transaksi. Sama seperti yang dilakukan oleh Resti Amelia Putri dari Fakultas Hukum. Ia dan rekannya menjual produk ranbow potato atau kentang goreng yang dibaluri oleh krim manis. “Jujur, saya dan tim sangat senang dengan adanya bazar ini. Awalnya memang kikuk karena jarang menggunakan bahasa Inggris. Tapi semakin lama semakin terbiasa dan malah bersemangat,” katanya. Selain mengembangkan skill bahasa Inggris, ia merasa bahwa kemampuan kewirausahaan juga tumbuh berkat bazar ini. Ia dan tim bahkan benar-benar membuat produk yang enak dan menarik. Akhirnya munculah ide kentang goreng dengan krim manis. “Biasanya kan dikasih bumbu penyedap rasa yang menurut kami sudah biasa. Kami juga menyediakan tester yang menarik pembeli untuk datang. Kami juga tidak melayani mereka yang tidak menggunakan bahasa Inggris,” jelasnya. Para pengunjung ternyata bukan hanya dari kalangan UMM. Banyak anak muda dan masyarakat yang datang. Salah satunya Nadila Riska Putri Zubaidah yang merupakan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Nadila mengaku mengetahui informasi adanya bazar ini melalui teman-temannya. “Bazar FLSP ini menurut saya seru sekali, apalagi saya harus menggunakan bahasa Inggris saat melakukan transaksi. Kaget sih awalnya, tapi jadi pengalaman yang unik,” ucapnya. (*tri/wil)
Beragam Prestasi Diraih Wisudawan UMM Ini, Duta Pendidikan hingga Bikin 8 Buku

Kabar bahagia mewarnai wisuda ke-111 Universitas Muhammadiyah malang (UMM) 19 Desember 2023. Pasalnya, Amira Syafana Wisudawan program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menjadi salah satu wisudawan berprestasi. Menariknya, ia juga memiliki segudang prestasi diantaranya best announcer podcast, runner up 2 putri pendidikan jawa Timur 2023, magang di rumah terapi autis, membuat kurikulum anak ABK, menerbitkan delapan buku, hingga mendapatkan beasiswa Kalimantan Timur. Butuh waktu lama hingga Amira bisa mencapai hal ini. Sejak masih menjadi mahasiswa baru ia memiliki ambisi untuk menorehkan prestasi selama berkuliah. Namun, karena adanya wabah Covid-19 yang melanda di akhir 2019, akhirnya ia mengubah segala rencana yang dibuat. Pada tahun 2021 ia mulai bangkit dan mencoba mendirikan program Teacher for Charity. Berdirinya program ini didasari atas nilai kemanusiaan dan keinginannya untuk memajukan pendidikan anak. Program yang ia jalankan sendiri kini telah berjalan hampir tiga tahun dan akan terus bergerak untuk memajukan pendidikan anak Indonesia. Program ini telah terlaksana di Kalimantan Timur, Jawa Timur, dan akan dicoba menjelajah ke Jawa Tengah. Bentuk programnya yaitu berupa bagi-bagi buku dan sesi pembelajaran yang joyfull dan meaningfull mengenai pembelajaran umum dan edukasi seks. Wisudawan dengan IPK 4,00 itu mengaku bahwa dana yang digunakan untuk membuat program Teacher for Charity didapat dari hasil beasiswa Kalimantan Timur Tuntas. Tak hanya program itu, ia juga pernah mengikuti magang di rumah terapi autis, di mana ia dibekali cara untuk mendidik anak-anak spesial bermain dan mengenali lingkungan sosialnya. Dari program yang ia buat sejak 2021 ini, ia mampu mendapat predikat Runner Up 2 Duta Jawa Timur. Tak berhenti disitu, ia juga ditunjuk untuk mewakili Jawa Timur di Ajang Puteri Literasi Indonesia yang akan diadakan di Februari 2024 nanti. Ia mengaku senang dan tak bosan mengikuti serta melaksanakan berbagai kegiatan. “Rasa lelah pasti ada. Tapi semua tergantung bagaimana cara kita memanajemen waktu dan diri agar semua kegiatannya dapat berjalan dengan lancar,” katanya. Ia juga berbagi tips mengatur waktu dengan baik, yakni dengan membat skla prioritas. Amira memprioritaskan pendidikannya terlebih dahulu ketimbang kegiatan luar yang ia ikuti. Ia akan menyelesaikan tugas yang diberikan dosen atau berkuliah terlebih dahulu, baru kemudian melakukan kegiatan atau hobi yang ia senangi. Mahasiswa yang memiliki konsentrasi di bidang pendidikan ini berharap agar dapat memajukan pendidikan Indonesia lebih baik. Apalagi, masih banyak anak-anak Indonesia yang membutuhkan pendidikan umum dan lebih layak seperti di daerah 3T. “Maka dari itu, dalam menuntut ilmu teman-teman mahasiswa jangan hanya mencari titel. Namun cobalah keluar dari zona nyaman dan memberikan manfaat lebih ke berbagai kalangan,” pungkasnya mengakhiri. (tri/wil)
Pertama di Indonesia, Dosen UMM Ciptakan Obat Alami Penanganan Diabetes

Penyakit Diabetes Mellitus (DM) kerap diidap oleh berbagai kalangan masyarakat tanpa memandang usia maupun latar belakang sosial ekonomi. Faktor penyebab utamanya adalah perubahan gaya hidup yang berdampak pada kebiasaan dan pola makan masyarakat. Melihat fenomena ini, Prof. Dr. Rr Eko Susetyarini, M.Si. selaku dosen Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengeksplorasi potensi ekstrak daun kembang bulan (Tithonia diversifolia) sebagai alternatif pengobatan. Ia menggali potensi tanaman obat lokal karena tingginya biaya pengobatan diabetes dan potensi efek samping dari pengobatan konvensional. Hal ini juga didukung adanya tren masyarakat yang semakin tertarik pada pengobatan alami dan gaya hidup ‘back to nature’. Permintaan terhadap tanaman obat pun meroket, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. “Sayangnya, tanaman obat di Indonesia saat ini masih terbatas pada peran sebagai jamu. Kadang juga hanya direbus. Ironisnya, belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT) dan fitofarmaka, yang merupakan obat berbahan alami dan telah terbukti keamanan serta khasiatnya. Padahal, jika berhasil mengembangkan potensi tanaman obat ini, nilai jualnya akan melonjak tinggi,” jelas Roro selaku ketua tim penelitian. Lebih lanjut, Roro menjelaskan penelitian ini juga bertujuan untuk membuktikan efektivitas ekstrak daun kembang bulan yang dapat menurunkan kadar glukosa darah berdasarkan uji coba pada tikus Wistar (Rattus norvegicus). Tanaman kembang bulan saat ini, menurutnya, telah banyak digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan seperti sakit perut, kembung, diare, dan anti inflamasi atau anti radang. Benar saja, temuan menarik ini mengindikasikan bahwa daun kembang bulan memiliki peran signifikan sebagai anti diabetes. Dalam penelitian ini, pemberian dosis ekstrak daun kembang bulan sebesar 5,14 ml/200g BB menunjukkan pengaruh paling efektif, dengan penurunan kadar glukosa darah rata-rata mencapai 136,80 mg/dl. Nilai ini tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol negatif atau normal yang memiliki rata-rata 122,20 mg. “Meskipun begitu, masih harus ada penelitian lanjutan. Langkah selanjutnya harus melibatkan penelitian yang mencangkup keamanan ekstrak terhadap fungsi hati dan ginjal,” tuturnya. Penelitian ini juga melibatkan Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., selaku dosen Pendidikan Biologi dan mahasiswa Pendidikan Biologi, Fithri Wening Sasmita. Menariknya, ini merupakan penelitian pertama di Indonesia yang memanfaatkan kembang bulan sebagai obat diabetes. Bahkan, penelitian ini telah menjadi rujukan hampir 60 peneliti lain. Sehingga besar harapannya temuan ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas saat rampung nanti. “Untuk penelitian selanjutnya, perlu kajian farmakoekonomi. ‘Apakah dengan bentuk sediaan jamu cukup efektif atau ekonomis dibanding dengan obat kimia yang sudah ada?’. Perlu pula perbaikan metodologi, agar menghasilkan penelitian yang lebih baik lagi. Serta, pentingnya kolaborasi dengan industri atau BPOM agar hilirisasi lebih baik dan produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” pungkasnya. (Lai/Wil)
Gaet Trash Hero, Mahasiswa UMM Ajari Warga Bikin Kompos dengan Teknik Takakura

Di Indonesia, pengolahan dan pemilahan sampah di masing-masing rumah masih jarang dilakukan. Padahal kegiatan in sudah lumrah dilakkan negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Jepang. Melihat hal ini, tim mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakkan hal unik pertengahan Desember ini. Yakni berkolaborasi dengan Trash Hero Tumapel untuk mengajari ibu-ibu di Desa Bulukerto bagaimana cara membuat kompos menggunakan keranjang Takakura. Aulia Ramadhani, salah satu mahasiswa menjelaskan, composting merupakan rangkaian proses secara biologi untuk mengurai bahan-bahan yang organik, kemudian dijadikan suatu produk contohnya humus dan lebih dikenal sebagai kompos. Adapun metode yang mereka lakukan adalah Tarakura dari Jepang. Salah satu alat utama metode ini adalah keranjang yang berlubang dan berbahan plastik. Begitupun dengan pakan ayam, tanah, bekas sampah organik, air gula aren yang dicairkan. “Program sosialisasi ini tidak hanya mengajarkan masyarakat desa terkait cara mengelola sampah menjadi produk berguna saja. Tetapi juga menyadarkan mereka akan manfaat jangka panjang. Termasuk meningkatkan pemikiran dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkunga. Salah satu caranya dengan melaksanakan metode keranjang Takakura,” kata Aulia menjelaskan. Menurutnya, kegiatan ini merupakan contoh nyata bagaimana anak-anak muda sadar akan lingkungan dan berupaya menjaganya. Apalagi dengan menggaet organisasi lain yang membuat agenda ini mendorong anak muda lain untuk turut berkontribusi di berbagai aspek. Tidak hanya di bidang lingkungan, tapi bisa juga mengembangkan program di aspek ekonomi, sosial, religi, dan lainnya. Bahkan sosialisasi ini disponsori Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu dan Warung Wak Breng. “Sosialisasi ini sebenarnya juga merupakan implementasi mata kuliah gerakan sosial global yang diampu bapak Ruly Inayah Ramadhoan. Melalui program ini, kami semakin bersemangat untuk melahirkan aktivitas bermanfaat lainnya. Saya bersyukur UMM terus mendorong kami untuk memaksimalkan potensi dan kesempatan,” katanya. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, Aulia tidak sendiri, ia ditemani oleh teman-teman mahasiswa lainnya. Ada Tuti Septichana, Fadiatul Maghfiroh, Navisa Septia,Liony Putri, Nur Rizqiah, Aisya Nazelina, Fariz Yanuar, Mareza Zulvan, dan Dimas Satria. (*/Wil)
Berbekal Ilmu Agribisnis di UMM, Wildan Berhasil Jalankan Bisnis Tebu

Peluang pekerjaan yang makin sempit, menuntut anak muda, termasuk mahasiswa untuk lebih kreatif dalam memperoleh cuan. Hal itu juga dilakukan Wildan Faris, salah satu alumni Prodi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang baru saja diwisuda Desember ini. Ia bahkan sukses menjalankan bisnis tebu sedari muda di Bululawang. Wildan mengatakan bahwa bertani bukanlah hal baru baginya. Dari kecil ia telah dikenalkan oleh keluarganya untuk bertani buah pepaya. Namun, akibat pandemi yang saat itu sedang marak, ia sekeluarga beralih ke tanaman tebu. Menurutnya, selain perawatan yang mudah, tanaman tebu juga mudah dikelola karena tidak mudah untuk membusuk. “Saat ini aku sudah bekerja sama dengan kurang lebih 20 hingga 30 petani kecil untuk pemasokkan tebu. Alhamdulillah, saat ini usaha ini makin maju berkat kerjasama dengan koperasi desa tempat saya tinggal,” katanya. Lebih lanjut, Wildan mengatakan, saat ini usahanya telah menjadi salah satu kelompok mitra yang ikut dalam Pabrik Gula (PG) milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurutnya, banyak keuntungan yang didapatkan. Mulai dari pemasokan bibit hingga pupuk untuk budidaya tebu yang telah disediakan oleh PG. “Keuntungan yang aku terima lumayan besar, dari penyetoran ke PG nanti akan dibagi hasil denan petani lainnya. Tak hanya itu, pemberian pupuk gratis juga sangat membantu kami sebagai petani karena harga pupuk yang naik sehingga kami kesulitan mendapatkan pupuk yang bagus,” katanya. Adapun kerjasama inisudah berjalan sejak 2004 lalu hingga kini. Bahkan sampai hari ini, ia masih dipercaya untuk mengirim tebu ke PG sebesar 5-8 ton setiap harinya. Tebu yang dikirim bukan hanya miliknya, tapi juga milik para petani kecil yang ikut dalam kemitraan. “Dengan begitu, saya juga turut membantu para petani kecil untuk mendapatkan keuntungan,” tegasnya. Pemuda asli Malang itu juga memiliki inisiatif yang tinggi untuk membantu petani kecil. Misalnya saja saat ia menjalani proses magang di salah satu pemerintahan, ia mengajukan pemberantasan sistem refraksi yaitu pemotongan biaya panen jika hasil yang dihasilkan kurang memuaskan. “Sistem refraksi ini juga sekaligus saya angkat menjadi judul skripsi. Saya berharap, para masyarakat juga bisa memperhatikan petani kecil dan membantu mereka mendapatkan hidup yang lebih layak,” tegasnya mengakhiri. (ri/wil)
Banyak Kasus Bunuh Diri, Dosen UMM Sebut Nilai Pancasila Harus Dikuatkan

Baru-baru ini, banyak kasus bunuh diri muncul dengan alasan latar belakang ekonomi. Tak hanya membunuh diri sendiri, sejumlah kasus bahkan melibatkan beberapa anggota keluarga, seperi ayah, ibu dan anak. Dosen program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (Prodi PPKn) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Moh. Wahyu Kurniawan, S.Pd., M.Pd. menyampaikan, kejadian ini seharusnya dapat dicegah. Utamanya dengan kepedulian antar tetangga dalam lingkungan sosial yang merupakan salah satu esensi dari Pancasila sila ke 2, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. “Jika kita ingin damai di masyarakat, maka kita harus memanusiakan manusia dengan hubungan yang harmonis antar tetangga, saling menghormati, memahami, dan toleransi,” ucap Wahyu. Jika tidak ada kepedulian di masaarakat, lanjut Wahyu, maka rasa persatuan dan kesatuan juga akan merenggang. Ini membuat terputusnya tali silaturahmi antar sesama, terutama warga di lingkup yang sama. Rasa damai tidak akan tercipta, hidup juga akan terasa lebih berat. “Maka dari itu sangat penting untuk mengimplementasikan nilai Pancasila di kehidupan bermasyarakat,” tuturnya. Untuk menghindari kejadian serupa di kemudian hari, Wahyu menuturkan pentingnya kedekatan dan keterbukaan. Jangan malu untuk menceritakan masalah yang sedang kita alami kepada orang terdekat serta jangan menganggap apa yang kita ceritakan adalah aib yang harus ditutupi. Aktif dalam kegiatan masyarakat juga dapat menjadi energi di dalam diri setiap individu, mendewasakan diri, dan membuka pola pikir yang luas dalam menghadapi suatu permasalahan. “Banyak bersosialisasi akan membuat kita mampu mengambil solusi yang tepat dalam sebuah masalah. Selain itu, memaksimalkan program kemasyarakatan baik secara formal maupun informal melalui civic engagement dapat peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif di dalam diri. Termasuk juga ikut berpartisipasi dalam hal pembuatan kebijakan baik di lingkungan tetangga ataupun masyarakat,” tambahnya. Di akhir, Wahyu berpesan agar masyarakat tidak meniru kejadian yang sudah terjadi. Setiap individu perlu menyadari bahwa sebagai makhluk sosial, manusia harus hidup berdampingan. Peka pada lingkungan sekitar dan terus bersosialisasi, melakukan komunikasi serta interaksi. Dengan demikian akan muncul values untuk saling peduli dan memahami. “Saling membangun diri untuk hidup bersama agar tidak mudah mencari solusi secara singkat dan menimbulkan dampak yang tidak baik bagi diri sendiri maupun orang lain,” pungkasnya. (dit/wil)
Muji, Sosok Maba UMM Juara Tilawah Tingkat Nasional

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyumbangkan prestasi membanggakan di ajang nasional. Kali ini Mujahidin, mahasiswa baru prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) berhasil meraih juara 3 pada lomba tilawah nasional UNNES Islamic Fair 2023. Adapun kompetisi ini diselenggarakan pada tanggal pertengahan Desember ini. Muji, sapaan akrabnya, menceritakan bahwa kemenangan itu tak lepas dari keaktifannya di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musabaqah Tilawah Al-Qur’an (MTQ). Apalagi ia memang percaya diri bahwa ia mempunyai bakat dan potensi yang besar. Tidak hanya itu, dengan menjadi bagian MTQ UMM, Muji banyak mendapatkan benefit yang besar. “Alhamdulillah para coachnya profesional dan punya relasi yang luas. Jadinya ada banyak kesempatan lomba yang bisa saya coba,” katanya. Dalam proses latihan sebelum lomba, Muji sering berlatih hingga malam. Bukannya merasakan rasa bosan dan capek, Muji malah sangat menikmatinya. Mulai dari mengecek intonasi nada, menjaga cara menyebut tajwid dan makhroj, serta melatih lagu adalah hal yang ia lakukan saat latihan. “Tiap mau lomba, saya selalu fokuskan ke intonasi suara karena intonasi merupakan poin utama dalam tilawah. Saya juga telah membuktikan bahwa latihan keras pasti akan membuahkan hasil,” tegasnya. Lebih lanjut, Muji juga menjelaskan pentingnya menjaga suara dengan rahin latihan dan pola hidup. Jika sakit atau pilek, ia mengaku akan kesusahan untuk mengaji dan menikmati hobinya. Setiap kali mengikuti lomba, ia juga selalu menjaga fokus dan tekniknya. Misalnya dengan melenturkan otot agar tubuhnya tidak tegang. Menariknya, cara itu merupakan trik turun temurun yang dilakukan oleh keluarga besarnya. Mahasiswa asal NTB itu memang sudah lama menekuni bidang tilawah. Lahir di keluarga qori, membuatnya terdorong untuk mengikuti jejak keluarga. Menurut Muji, ayahnya merupakan inspirasi paling besar untuk selalu cinta kepada tilawah Alquran. Ayahnya selalu meyakini bahwa Alquran adalah mukjizat dan buku paling ajaib. Terakhir, Muji juga bertekad untuk selalu menyumbangkan prestasi bagi Kampus Putih. Ia ingin menjadi mahasiswa yang selalu mengharumkan nama kampus di bdiang tilawah. “Meyakini diri mempunyai potensi adalah salah satu bentuk rasa syukur kita sebagai makhluk ciptaan Allah. Maka dari itu, teman-teman harus bersemangat mengasah potensi dan menjadi bintang di bidang yang ditekuni,” pungkasnya. (*ri/wil)
Di Hadapan Wisudawan UMM, Pimpinan Sebuku Group Sebut Adaptasi Kunci Meriah Mimpi

Riuh kegembiraan para wisudawan serta wali mahasiwa terlihat dalam Wisuda Ke-111 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diselenggarakan pada 26 Desember 2023. Hadir dalam kesempatan tersebut Head Of Corporate Project Development Sebuku Group (Salim Group) Ir. Agung Jaka Raharja, ST., MW., CIPM, IPM, Asean. Eng. yang juga merupakan alumnus UMM jurusan Teknik Sipil. “Saya ingat sekali pada tahun 2001 lalu lulus dari Universitas Muhammadiyah Malang ini. Rasanya tentu saja haru dan dan bangga sekali saat sudah menyelesaikan pendidikan S1. Hal yang sama pasti dirasakan oleh para wisudawan dan wali mahasiswa di Dome ini,” kisahnya di depan ribuan wisudawan. Agung, sapaan akrabnya, memberikan berbagai tips yang harus disiapkan bagi lulusan UMM untuk memenangkan dunia kerja. Terutama terkait sikap adaptasi yang harus ditekankan kepada seluruh wisudawan. Dia menegaskan bahwa adaptasi itu sangat penting, terutama dalam memasuki dunia kerja serta bermasyarakat. “adik-adiku, jangan pernah kalian naif dalam kehidupan terutama dalam sikap untuk beradaptasi. Idealisme itu bukan apa-apa saja yang ada di pikiran kita secara pribadi, namun adalah bisa memaknai segala perbedaan yang ada. Terutama kita harus mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar,” jelasnya. Tak lupa, bahwa dia menyampaikan bahwa wisudawan UMM harus mampu untuk menjadi pribadi yang berbeda dengan yang lain. Berbeda yang dimaksud adalah mampu menciptakan gagasan, inovasi, serta ide-ide cemerlang yang kosmopolit. Ia juga sempat menyinggung berbagai tantangan baru yang saat ini sudah terjadi, mulai dari geo-politik hingga digitalisasi. Mengapa itu dianggap sebagai ancaman? Hal itu tak lepas dari kenyatan bahwa masih banyak anak muda yang saat ini terlena dengan perkembangan digital dan hanya menjadi konsumen. Hal itu secara otomatis menciptakan alur kehidupan yang tidak produktif. Dia menekankan, anak muda saat ini harus berani dalam mengambil keputusan sekaligus mengambil peran dalam visi Indonesia emas 2045. Terakhir, dia menyatakan bahwa para wisudawan ini sangat beruntung menjatuhkan pilihan kepada UMM sebagai tempat menimba ilmu. UMM memberikan asuransi kepada seluruh mahasiwanya berupa jaringan yang luas serta nama besar yang tidak banyak dimiliki oleh kampus lain. Selain itu, UMM juga memberikan berbagai program pengembangan bagi mahasiswanya seperti Center of Excellence (CoE). “UMM ini keren, punya nama besar yang banyak sekali iketahui para pengusaha. Saya istilahkan itu sebagai ‘asuransi’ yang bisa dipakai oleh alumninya saat lulus dari kampus ini. Terlebih lagi. ada juga CoE yang itu diproyeksikan untuk DUDI. Kalau boleh jujur, kami memang salah satu perusahaan yang dalam proses perekrutan membutuhkan waktu 6-8 bulan untuk menyiapkan SDM. Dan kini, UMM sudah memberikan jawaban dan mampu menyiapkan lulusannya langsung bekerja di DUDI,” tutupnya. (*faq/wil)
FKIP UMM Kukuhkan Guru Besar Sastra Matematis

Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak berhenti menambah guru besarnya. Kali ini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) kembali mengukuhkan dua guru besar, yakni Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si. dan Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, M.M., 27 Desember. Keduanya memiliki pembahasan khusus terkait dunia pendidikan sesuai dengan bidang yang ia tekuni. Misalnya saja, Prof. Dr. Joko Widodo, M.Si yang membahas terkait apresiasi sastra dan penerapannya dalam kehidupan. Dia menegaskan bahwa peningkatan kualitas apresiasi terhadap karya sastra akan berdampak signifikan ;ada pencapaian literasi dan penerapannya dalam kehidupan. Ketepatan mengapresiasi berujung pada pencapaian membaca secara reading beyond in the line, dapat menyelamatkan ribuan orang dari tindakan negatif, tercela, pelanggaran peraturan, kehancuran masa depan bahkan jiwa. “Pembaca didorong untuk mampu menangkap pesan-pesan yang disampaikan pengarang lewat karyanya. Kemudian menjadikannya inspirasi dan menuangkannya dalam tindakan nyata berupa sistem yang bisa mencegah orang terjerumus dalam tindakan tercela. Aktivitas ini merupakan fungsi preventif,” tegasnya. Menurutnya, jika apresiasi dalam sastra diimplementasikan oleh orang-orang yang memiliki wewenang atau pengambil kebijakan, maka tentu bisa mencegah tidankan melanggar yang berakibat pada kerugian bagi diri sendiri dan masyarakat. Begitupun dengan peningkatan dalam aspek moral bagi masyarakat dan sebagai alat untuk mendidik. Dikaitkan dengan pesan dan muatannya, hampir secara keseluruhan karya sastra merupakan sarana-sarana etika. “Dengan demikian, memahami karya sastra pada gilirannya merupakan pemahaman akan nasihat dan peraturan, larangan dan anjuran, kebenaran yang harus ditiru, jenis -jenis kajahatan yang harus ditolak, dan sebagainya,” ungkap Joko. Di sisi lain, Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, M.M. meneliti mengenai ‘Keterampilan Abad Ke-21: Tantangan Asesmen Kelas Yang Mencerdaskan”. Perkembangan abad ke-21 telah membawa perubahan dan tantangan yang signifikan dalam masyarakat. Untuk menavigasi perubahan positif, individu perlu memperoleh dan mengembangkan seperangkat keterampilan yang dikenal sebagai keterampilan abad ke-21. “Keterampilan ini mencakup berbagai bidang, termasuk pembelajaran dan inovasi, informasi dan teknologi, dan keterampilan hidup dan karir. Keterampilan abad ke-21 sangat penting bagi individu untuk berkembang di dunia saat ini,” jelasnya. Dalam bidang pembelajaran dan inovasi, individu perlu memiliki kreativitas, berpikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan kemampuan untuk belajar bagaimana belajar. Mereka harus mampu berpikir di luar kotak, menghasilkan ide-ide inovatif, dan beradaptasi dengan situasi baru. Dalam hal keterampilan informasi dan teknologi, individu harus mahir dalam menggunakan teknologi dan media, serta dapat menganalisis dan mengevaluasi informasi secara efektif. Terakhir, dia menyampaikan bahwa asesmen untuk kehidupan merupakan upaya mencapai kecerdasan spiritual. Yang mana memainkan peran penting pengembangan dimensi spiritual anak didik. “Salah satu hal penting lain dari asesmen yang mencerdaskan adalah bagaimana asesmen menuntun manusia untuk menuju tujuan hidup yang sesungguhnya. Tujuan hidup sesungguhnya manusia adalah kembali kepada Allah dalam keadaan husnul khotimah,” tutupnya. (*faq/wil)
Gelar Diskusi Akhir Tahun, RBC UMM Bahas Proyeksi Islam Sudut Pandang NU dan Muhammadiyah

Di penghujung 2023, Rumah Baca Cerdas (RBC) Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar diskusi menarik. Diskusi yang dilaksanakan pada 21 Desember itu bertajuk refleksi dan proyeksi Islam Indonesia dari perspektif NU dan Muhammadiyah. Turut hadir sebagai pembicara Direktur Bait Al-Hikmah Dr. Pradana Boy ZTF. Dan Founder Fahmina Institute Dr. Faqihuddin Abdul Kodir (Foaunder Fahmina Institute). Faqih, sapaan akrabnya, menjelaskan perbedaan dalam praktek Islam antara Indonesia dengan negara-negara seperti Arab Saudi dan Malaysia. Meskipun Islam di Indonesia mampu menyatukan semua jenis kelamin (gender inclusivity), namun masih ada perasaan inferioritas yang terasa. “Ini menunjukkan bahwa meskipun Islam di Indonesia sering kali menjadi sorotan dalam informasi tentang Islam di dunia, tetapi ada dinamika internal yang mungkin belum sepenuhnya memperlihatkan kesetaraan dan penerimaan yang sebenarnya,” katanya. Sementara itu, Prada Boy menjelaskan bahwa inferioritas Islam di Indonesia disebabkan oleh pemaknaan literasi yang terbatas pada membaca. Mengasah literasi merupakan keharusan, bahkan hingga dalam konteks pergaulan. “Tantangan zaman yang seperti ini tentu dapat kita atasi sebagai proyeksi dunia Islam yang mengagumkan. Tetapi, jangan suka menepuk dada dan memuji diri sendiri,” katanya. Menurutnya, tidak selamanya sudut pandang barat itu benar. Perdamaian itu tidak ada gunanya jika tidak adil. Prinsip dasar muslim dalam bermuamalah yakni berdasarkan damai sehingga terbangunlah peradaban. Ada orang orang yang memilih perang (sebagai panggilan dan titik mula) karena berdasarkan tafsir yang ia pilih. Namun Boy mengatakan, prinsip dasar Islam dalam bermuamalah berdasarkan perdamaian sehingga jauh lebih memungkinkan untuk membangun peradaban. “Apapun hasil dari tafsir dapat dikatakan benar selama metodologinya benar. Tinggal tafsir yang mana yang kita pilih, dan pilihan itu adalah tanggung jawab diri sendiri,” terang Boy mengakhiri. Adapun program tersebut dilaksanakan dengan tujuan membahas dinamika kebangsaan dan keummatan yang terjadi selama satu tahun ke belakang. Selain itu, acara ini juga dimaksudkan untuk mempererat relasi RBC dengan berbagai mitra komunitas yang selama ini berkolaborasi. Dalam hal ini, sebagai upaya penguatan dan penyebarluasan pandangan Islam, RBC merasa perlu terlibat dalam membangun dan memperluas gagasan kebangsaan untuk Indonesia berkemajuan. Maka RBC mengundang generasi muda Muhammadiyah dan NU untuk memberikan pandangannya perihal wajah Indonesia masa depan. (*/Wil)