Mahasiswa UMM Kembangkan CryoSynctive, Teknologi Plasma Penyembuhan Luka Diabetes

Meningkatnya kasus diabetes di Indonesia membawa tantangan besar, s alah satunya adalah penanganan luka kronis yang sulit sembuh. Di tengah permasalahan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir dengan inovasi menjanjikan. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), mereka menciptakan alat bernama CryoSynctive: Perangkat Nonthermal Plasma Berbasis Edge AI dan IoT untuk Penyembuhan Luka Kronis pada Pasien Diabetes. CryoSynctive merupakan prototipe alat kesehatan dari PKM-KC (Karya Cipta) yang dikembangkan oleh mahasiswa UMM. Ide ini dicetuskan oleh Fikri Yuda Pranata bersama tim beranggotakan lima orang dengan latar belakang beragam tiga mahasiswa teknik mesin, satu fisioterapi, dan satu biologi. Mereka dibimbing oleh dosen Andinusa Rahmandhika, S.T., M.Eng. yang berperan aktif memberikan arahan teknis, memperkuat metodologi, sekaligus memastikan rancangan alat sesuai standar keamanan medis. “Kami melihat ada celah di mana terapi luka yang ada saat ini seringkali kurang efisien dan mahal. Maka, kami mencoba menggabungkan metode terapi plasma yang sudah ada dengan teknologi terkini untuk menciptakan solusi yang lebih baik,” jelas Fikri. Cara kerja CryoSynctive dirancang agar mudah digunakan. Prinsip dasarnya seperti printer. Jadi, tangan atau kaki pasien yang luka dimasukkan ke dalam alat tersebut, lalu alat akan secara otomatis memetakan titik-titik luka yang ada. Proses ini dimulai dengan kamera termal yang memindai dan memetakan koordinat luka. Data tersebut kemudian dianalisis oleh sistem Edge AI di dalam alat. Setelah luka terpetakan, perangkat akan bergerak secara otomatis ke posisi luka dan menyinari area tersebut dengan Nonthermal Plasma. Nonthermal plasma bekerja dengan menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS) dan Reactive Nitrogen Species (RNS). Molekul-molekul reaktif ini berfungsi ganda yaitu membasmi bakteri dan mikroorganisme patogen, serta merangsang pertumbuhan sel-sel baru dan perbaikan jaringan. Proses ini juga disesuaikan dengan kedalaman luka pasien yang bervariasi. “Kami sudah membuat sistemnya semi-otomatis, jadi jika pasien tiba-tiba bergerak, alatnya akan berhenti secara mandiri untuk menjaga keamanan,” kata Fikri. Saat ini, CryoSynctive sudah mencapai sekitar 60% penyelesaian dengan fokus pada perakitan dan pemrograman. Tim juga merencanakan tahap uji coba terbatas sebelum pengembangan menuju tahap klinis. Harapannya, alat ini tidak hanya menjadi karya inovasi mahasiswa, tetapi juga bisa dipatenkan dan dikembangkan lebih lanjut sebagai produk medis yang dapat digunakan di rumah sakit maupun klinik. Keunggulan utama CryoSynctive terletak pada integrasi Nonthermal Plasma dengan teknologi terkini. Terapi plasma ini masih jarang digunakan di Indonesia karena sebagian besar penelitian baru sebatas laboratorium. Dibandingkan dengan terapi vakum atau ozon yang lebih umum, CryoSynctive menghadirkan pendekatan berbeda yang lebih cepat dan akurat. Selain itu, integrasi Edge AI dan IoT membuat alat ini lebih unggul. AI memberikan analisis luka yang presisi, sementara IoT memungkinkan data terapi tersimpan otomatis dan dikirim ke dashboard tenaga medis. Dengan begitu, dokter dapat memantau perkembangan pasien secara jarak jauh, melihat riwayat terapi digital, dan menerima notifikasi real-time jika terjadi anomali. Fitur ini juga membuka peluang pengembangan telemedicine yang semakin relevan di era digital. “Saya berharap alat ini bisa membuka peluang terapi baru yang lebih efektif dan efisien, serta membantu meringankan beban pasien maupun tenaga medis. CryoSynctive dirancang untuk mempermudah, bukan menggantikan, peran tenaga medis,” tegasnya. (ali/wil)
Ara, Maba Berprestasi UMM yang Menangi Kejuaran Nasional hingga Internasional

Keterbatasan postur tubuh tidak menjadi penghalang bagi Nayla Auvara Izzetiyya untuk mengukir prestasi gemilang di panggung seni pertunjukan pencak silat dan tapak suci. Mahasiswi baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 ini telah membuktikan bahwa dedikasi dan fokus adalah kunci utama kesuksesan. Ia juga menjadi salah satu mahasiswa baru berprestasi yang bergabung dengan Kampus Putih. Nayla, yang akrab disapa Ara, merupakan mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Di balik statusnya sebagai mahasiswa baru, ia adalah seorang atlet dengan segudang prestasi di cabang pencak silat seni, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ara memilih fokus pada kategori seni (peragaan jurus) karena postur tubuhnya tidak memenuhi kualifikasi kelas pada kategori tanding (sabung). “Kategori seni tidak memiliki aturan postur tubuh seperti berat atau tinggi badan, sehingga saya bisa fokus sepenuhnya untuk menampilkan keindahan gerakan,” jelasnya. Pilihan tersebut terbukti tepat. Ara berhasil meraih berbagai kejuaraan bergengsi, antara lain, Peringkat Pertama Seni Tunggal Putri (SMA) – Indonesia Paku Bumi Open 12th 2024 (Tingkat Asia-Eropa), Juara 1 Seni Tunggal Putri Tangan Kosong – Dandim Cup Kota Malang 2024 (Nasional), Juara 1 Seni Tunggal Putri Tangan Kosong – Ipsi Malang Championship 4 2024 (Nasional), hingga Juara 2 Seni Tunggal Putri Bersenjata – Ipsi Malang Championship 2 2023 (Nasional). Terbaru, ia menyabet Juara 1 Kategori Tunggal Putri Tangan Kosong Dan Bersenjata Pada Ajang 8th Invitasi Tapak Suci Open Ismail Navianto Cup 2025 Tingkat Provinsi. Kecintaan Ara pada pencak silat dimulai sejak kelas 3 SD, berawal dari keisengan semata. Meski perjalanannya tidak selalu mulus, ia sempat beralih ke cabang atletik saat SMP sebelum akhirnya kembali ke pencak silat di jenjang Madrasah Aliyah (MA). Dedikasinya tecermin dari jadwal latihannya yang intens. “Mendekati sebuah event, saya berlatih setiap hari dari sore hingga pukul sembilan atau sepuluh malam,” ungkap gadis asli Malang ini. Lebih dari sekadar mengejar kemenangan, Ara memiliki filosofi yang unik dalam setiap kompetisi. Tujuan utamanya bukan untuk sekadar menang, tetapi untuk mengalahkan versi dirinya yang kemarin. Untuk mewujudkan filosofi itu, ia selalu merekam setiap penampilannya sebagai bahan evaluasi. “Salah satu kelemahan saya adalah keseimbangan kaki yang terkadang kurang stabil. Dengan evaluasi rutin, saya terus memperbaikinya,” tambahnya. Pada kompetisi terakhirnya, ia menampilkan Jurus Tapak Suci yang disusun bersama pelatihnya. Ia menjelaskan ketatnya aturan, seperti durasi tampil yang harus tepat 2 menit. Apabila ada lebih atau kurang 10 detik maka dapat berujung diskualifikasi. Selain itu, poin dapat dikurangi jika terjadi kesalahan gerakan atau penggunaan aksesori yang dilarang. Dalam penampilannya, ia secara apik memadukan gerakan tangan kosong dengan kelihaian menggunakan tiga senjata: kipas ganda, karambit, dan tongkat kalif. Ketika ditanya mengenai kesan terhadap rangkaian pembukaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM 2025, Ara tampak antusias. Sebagai mahasiswa baru, ia mengaku sangat terkesan dengan kemeriahan acara yang disajikan. Menurutnya, rangkaian pertunjukan yang ditampilkan mampu memberikan semangat sekaligus pengalaman berkesan di awal perjalanannya sebagai mahasiswa. “Secara keseluruhan sangat asyik, terutama saat Flash Mob dan Laser Show. Ditambah lagi kehadiran maskot SwanUMM,” ujarnya. Menutup perbincangan, Ara menitipkan pesan untuk rekan-rekan mahasiswa baru seangkatannya. Ia berpesan agar tetap berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan, menjaga semangat hingga penutupan Pesmaba, serta menjadikan masa orientasi ini sebagai awal yang positif. (bil/wil)
Meriah, Ghea Indrawari dan Aci Resti Tutup Pesmaba UMM

Penutupan Pesmaba Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kian semarak dengan hadirnya penampilan spesial dari penyanyi muda berbakat, Ghea Indrawari. Dentuman musik dan lantunan suara merdunya membuat suasana Dome UMM bergemuruh penuh semangat sekaligus haru, 12 September 2025 ini. Lewat lagu-lagu andalan seperti Jiwa yang Bersedih, Manusia Paling Bahagia, hingga Teramini Ribuan mahasiswa baru larut dalam sorak dan tepuk tangan, menutup rangkaian Pesmaba dengan kenangan indah yang sulit dilupakan. Dalam salah satu bait lagunya Teramini, Ghea menyampaikan pesan penuh motivasi ‘Ingin menyerah, namun hati kecilku terus berbisik. Bertahanlah, ingat kau sudah sampai sejauh ini’. Untaian kata itu menjadi simbol keteguhan hati dan semangat baru bagi mahasiswa UMM yang akan memulai perjalanan akademiknya. Penampilan Ghea pun menutup acara dengan kesan hangat, optimis, dan membekas di hati seluruh peserta. Selain itu, UMM juga menghadirkan Talk Show Inspirasi Pesmaba dengan menghadirkan komika sekaligus aktris, Aci Resti. Kehadirannya di Kampus Putih, berhasil memantik semangat ribuan mahasiswa baru yang akan menempuh perjalanan akademik empat tahun ke depan. Pemeran Prita dalam Film Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan itu menceritakan perjalanan karirnya. Berawal sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan peminatan Broadcasting, Ia justru menemukan panggilan hati di dunia stand up comedy. Disitulah Ia menemukan dunianya. Aci mengaku sempat menjadi introvert dan takut suaranya tak terdengar. Melalui stand up comedy, kata-kata dan pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dan didengar dengan caranya sendiri. “Padahal aku pemalu banget. Suara cempreng sering diledekin, tapi justru dari sana aku belajar percaya diri. Pertama kali naik panggung tahun 2015, rasanya deg-degan luar biasa. Tapi kuncinya, terus berani dan jam terbang,” ungkapnya. Aci juga membagikan tips public speaking, terutama bagi mahasiswa ‘introvert’. Menurutnya, kepercayaan diri bisa dilatih dengan niat, persiapan matang, serta berani mencoba. Kita yang menentukan identitas diri sendiri. Kelak, badai, tantangan, dan rintangan dihadapan akan datang. Tetap pegang teguh prinsip hidup dan jangan mudah terbawa arus adalah kunci. Lewat kisah dan pengalamannya, Aci mengajak mahasiswa baru UMM untuk terus menggali potensi, berani mencoba hal baru, dan menjadikan setiap proses sebagai pijakan menuju masa depan. Menjadi mahasiswa adalah suatu kebanggaan, sekaligus kesempatan besar untuk menentukan masa depan. Di sisi lain, penutupan meriah itu disambut baik oleh para mahasiswa baru UMM, termasuk Muhammad Rizki yang merupakan mahasiswa teknologi pangan. Menurutnya, sajian tampilan dari UMM ini menjadi penyemangat bagi maba untuk menagwali perkuliahan. Proses pembukaan bersama Wamen Diktisaintek, acara inti, hingga penutupan Pesmaba dengan Ghea serta Aci Resti sangat membekas di pikirannya. “Pesmaba gen 25 ini benar-benar memberikan semangat bagi kami untuk memulai perkuliahan di UMM. Semoga perjalanan studi kami lancar dan diberi kesuksesan di masa depan,” kata mahasiswa asal Bandung itu. (din/wil)
Haedar Nashir di Penutupan Pesmaba UMM: Jadilan Manusia Unggul yang memiliki Akhlak

Indonesia boleh bangga dengan ribuan kampus dan jutaan mahasiswa baru setiap tahunnya. Namun, pertanyaan besarnya adalah, apakah semua itu otomatis melahirkan generasi berkarakter? Pertanyaan itulah yang seakan dijawab oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., saat penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara yang dilaksanakan pada 12 September itu diikuti oleh ribuan mahasiswa baru Kampus Putih. “Bangsa ini tidak akan kuat hanya dengan infrastruktur atau teknologi canggih, tapi dengan akhlak manusianya. Ilmu tanpa iman akan melahirkan kesombongan, sementara iman dan akhlak menjadikan hidup bermakna. Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya. Ia juga mengingatkan mahasiswa baru agar mengubah cara pandang tentang pendidikan tinggi. Menurutnya, kuliah di UMM adalah bagian dari mata rantai perjuangan Muhammadiyah yang diakui dunia, bukan sekadar pilihan pragmatis. “Jangan pernah merasa kuliah di tempat lain lebih tinggi. Kampus ini telah melahirkan tokoh-tokoh nasional yang diambil negara karena keilmuan dan integritasnya,” ujarnya. Hal serupa juga ditegaskan Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Ia menekankan bahwa tantangan mahasiswa kini tidak hanya datang dari ruang kuliah, tetapi juga dari derasnya arus digitalisasi dan pergaulan bebas. Menurutnya, banyak mahasiswa di Indonesia terjebak dalam gaya hidup konsumtif, rendahnya literasi, hingga sikap apatis terhadap masalah bangsa. “Kalau Anda hanya sibuk pada kesenangan sesaat, Anda akan menjadi generasi yang hilang arah. Mahasiswa harus kritis, punya daya saing, tapi tetap berpijak pada nilai agama dan etika. Jangan biarkan lingkungan digital atau pergaulan salah arah merampas masa depan Anda,” ujarnya. Suasana penutupan semakin hidup dengan kesan dari mahasiswa baru. Avdila Ayurahmadani, mahasiswa Ilmu Keperawatan asal Blitar, mengaku mendapatkan pengalaman berharga selama Pesmaba. “Seru banget, karena Pesmaba UMM ini berbeda dari yang lain. UMM juga inovatif dalam mengemas acara, apalagi selalu menghadirkan bintang tamu spesial di akhir sehingga penutupan terasa lebih meriah. Harapannya, aku bisa survive di sini, punya teman yang mengerti, terus belajar mengembangkan soft skill maupun hard skill, dan betah di Malang tanpa homesick,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan pentingnya rasa bangga berkuliah di UMM. “Selamat datang di Kampus Putih. Jadilah generasi unggul yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjunjung nilai kemanusiaan dan keislaman. Kebanggaan itu akan menentukan cara Anda berprestasi,” ucapnya. Dengan berakhirnya Closing Ceremony Pesmaba bertema ‘Generasi Penguat Ketahanan Pangan dan Energi Negeri’, ribuan mahasiswa baru UMM resmi memulai langkah akademiknya. (vin/wil)
Kaji UU TNI, Mahasiswa Hukum UMM Menangi Ajang Debat Nasional

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim debat “Ki Hadjar Dewantara” yang beranggotakan Nanda Deshinta M.P, Ahmad Munawwir Al Ihsan, dan Reskhy Mulydar angkatan 2024 dari Program Studi Hukum berhasil meraih Juara 2 pada ajang nasional Law Fest Vol. 2, Agustus lalu. Dengan mengusung tema besar perlombaan ‘Reformasi Hukum Menuju Indonesia Emas’, kompetisi ini mempertemukan tim-tim debat terbaik dari berbagai universitas di Indonesia. Tim UMM yang seluruh anggotanya merupakan mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2024 tampil sebagai salah satu finalis setelah melewati serangkaian seleksi ketat. Format perlombaan menggunakan sistem debat Asian Parliamentary, yang membagi peran tiap pembicara mulai dari landasan filosofis, juridis, hingga sosiologis. Reskhy Mulydar, selaku ketua delegasi mengatakan saat final, mereka ada di posisi kontra atas mosi ‘Legalisasi Peran Militer dalam Sektor Non-pertahanan melalui Revisi UU TNI berpotensi mengancam prinsip-prinsip HAM’. Perjalanan menuju final bukan tanpa tantangan. Setelah babak penyisihan yang berlangsung secara daring pada, tim Ki Hadjar Dewantara harus melawan tiga tim berbeda dalam satu chamber sebelum akhirnya melaju ke semifinal dan final secara luring. “Kendala terbesar ada pada keterbatasan waktu riset, terutama ketika menghadapi mosi final yang bersifat impromptu. Kami hanya diberi 15 menit untuk mencari rujukan di podium, jadi sempat merasa tertekan,” katanya. Meski begitu, kerja keras mereka membuahkan hasil. Tim UMM berhasil menempati posisi Juara 2 dengan selisih tipis 10 poin dari lawan, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh anggota tim. Persiapan intensif yang mereka lakukan, mulai dari riset jurnal hingga berlatih membangun argumen pro dan kontra dari delapan mosi yang diberikan, terbukti menjadi bekal penting di panggung debat nasional tersebut. Selain prestasi, pengalaman ini juga memberikan pelajaran berharga bagi para mahasiswa. Menurutnya, kunci utama dalam tim debat bukan hanya riset yang matang, tetapi juga kekompakan. “Hal yang paling perlu dipersiapkan adalah chemistry antaranggota. Kita tidak boleh mementingkan ego masing-masing, karena debat itu kerja sama,” ujar Reskhy. Tak berhenti di situ, Ia dan tim yang aktif dalam komunitas riset dan debat UMM menargetkan prestasi lebih besar ke depan. Tahun ini, ia menargetkan bisa mengumpulkan lima trofi dari berbagai ajang, dengan tiga di antaranya sudah berhasil diraih. Inspirasi terbesar baginya datang dari buku Limitless Mind karya Jo Boaler. Salah satu kutipan yang ia pegang erat adalah bahwa ‘Hambatan terbesar untuk perubahan positif adalah keraguan pada diri sendiri.” Dari sanalah motivasinya dan tim terus tumbuh untuk menorehkan prestasi, membanggakan diri, universitas, dan almamater UMM di kancah nasional. (bil/wil)
Pengakuan Maba UMM dari Tangerang hingga Lombok tentang Pesmaba

Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Gen 25 memberikan kesan mendalam bagi banyak mahasiswa baru. Salah satunya Qonita, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang senang bisa melihat berbagai atraksi unik dan memukau. Menurut mahasiswi asal Tangerang itu, pelaksanaan Laser Show dan Flashlight Mob membuatnya takjub dengan beragam formasi. Pesmaba yang dilaksankan 9-12 September itu menjadi salah satu momen yang paling memorable baginya. Formasi-formasi yang dibentuk di antaranya, peta wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke, lambang burung garuda, bangunan ikonik Gedung Kuliah Bersama (GKB) UMM dan lainnya. Bahkan ia juga turut membentuk lambang ‘Pita Hitam’ yang diiringi dengan menyanyikan bersama lagu ‘Ibu Pertiwi’ yang tak hanya keren, tetapi juga mengandung berjuta makna mendalam. Gema nyanyian dan alunan irama nada lagu yang menjadi salah satu favoritnya tersebut membuat suasana terasa hangat, meski di tengah gelap dan dinginnya malam. Di saat yang sama, Ia juga harus mengerahkan konsentrasi dan fokus terhadap instruksi, agar hasilnya memuaskan. Selain itu, Ia juga merasa bersyukur bisa bertemu dan mendapat banyak teman dari berbagai daerah lainnya. “Jujur, seru banget! Ini adalah momen yang sangat berharga bagi saya sebagai mahasiswa baru UMM. Meski di tengah kota perantauan, saya bertemu dengan banyak teman baru dan tidak merasa sendirian. Terimakasih UMM, semoga bisa terus on top dan bisa membentuk kami para mahasiswa menjadi generasi unggul yang paha ketahanan pangan serta energi,” katanya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Suryaindah, Ia sangat bersemangat dan merasa senang berkesempatan ikut serta dalam Pesmaba UMM yang telah dinanti-nantikannya selama lebih dari 4 bulan. Pesmaba tahun ini tak hanya menghadirkan flashlight mob yang memukau, tetapi juga menampilkan inovasi khas UMM. Mahasiswa baru diajak menyaksikan pacu jalur versi UMM menggunakan sepeda kayuh bebek ikonik kampus putih. Tak kalah menarik, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Divisi Mahasiswa Pecinta Alam (Dimpa) ikut memeriahkan dengan mengibarkan bendera Maba Gen 25 UMM. Melintas di atas danau menggunakan perahu karet yang dikayuh bersama. “Pokoknya ini jadi mood booster bagiku karena keren banget. Oh iya, ada SwanUMM yang lucu juga. Semoga ke depan semakin banyak pengalaman seru yang bisa kita rasakan di sini,” tambahnya. Gelaran Upacara Pembukaan Pesmaba UMM juga mendapatkan antusias hebat dari para mahasiswa baru Gen’25 UMM. Salah satunya Rauhil Miskiyah, mahasiswa baru dari Fakultas Psikologi UMM asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ia menyebut bahwa, UMM sangat serius dalam memberikan dan membentuk awal yang baik bagi para mahasiswa. Tak hanya itu, berbagai kincir angin turut menghiasi Heliped UMM, bukti tekad kuat UMM dalam membentuk generasi penerus bangsa yang berdaya dalam mendukung ketahanan pangan dan energi, selaras dengan tema Pesmaba yang digaungkan. (din/wil)
Pesmaba UMM Resmi Dibuka, Lahirkan Generasi Ketahanan Pangan dan Energi

Suara riuh sorak-sorai mahasiswa baru memenuhi helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jaket almamater merah dengan logo khas UMM, berpadu dengan topi yang baru saja disematkan secara simbolis, menjadi penanda dimulainya perjalanan panjang mereka sebagai mahasiswa Kampus Putih Generasi 2025. Perjalana mereka dimulai dengan ikut aktif di Penengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM, sejak 9 September 2025 ini. Tidak hanya mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air, beberapa mahasiswa asing juga ikut dalam barisan formasi Gen 25 yang memenuhi lapangan helipad. Selain itu, Pesmaba juga dibuka secara simbolik dengan menyalakan turbin kincir angin sebagai bukti tema Pesmaba tahun ini, ‘Ketahanan Pangan dan Energi Negeri’. Semangat mereka makin menggebu ketika prosesi dilanjutkan di Hall Dome UMM, menandai bahwa Pesmaba tahun ini bukan sekadar seremonial, tetapi sebuah momentum lahirnya Generasi Penguat Ketahanan Pangan dan Energi Negeri. Mengawali Stadium General, Wakil Menteri Diktisaintek sekaligus Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., memberikan pesan mendalam. Menurutnya, mahasiswa baru adalah generasi yang tengah memasuki fase penting dalam hidup, bukan lagi siswa, melainkan insan akademis dengan tanggung jawab moral yang jauh lebih besar. “Saudara sekarang telah menyandang predikat mahasiswa. Itu artinya ada beban etik, tanggung jawab moral, dan pola pikir yang harus berubah. Kuliah bukan mencari nilai, tapi mencari kehidupan. Ilmu dan keahlian yang kalian miliki harus berdampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Ia juga mengingatkan jangan hanya seperti ular yang berganti kulit tanpa perubahan makna. Tetapi, jadilah kupu-kupu, yang setelah berproses, hadir membawa manfaat, menjadi sosok yang diperhatikan, dan memberi kebaikan. Itulah evolusi yang harus ditempuh melalui pendidikan di UMM. “Pentingnya berorganisasi sebagai sarana pembelajaran kepemimpinan juga tak kalah penting. Maka dari itu, jangan sampai ada mahasiswa UMM yang tidak pernah ikut organisasi. Di sinilah kalian ditempa, baik untuk menjadi pemimpin formal maupun informal. Ini bagian dari pembelajaran kehidupan,” ujarnya. Lebih jauh, Fauzan mengingatkan bahwa Gen 25 akan berperan besar dalam menyongsong bonus demografi dan Indonesia Emas 2045. “Empat tahun ke depan, ketika kalian lulus, usia kalian masih sangat produktif. Inilah momentum strategis untuk menjadi generasi emas yang mengawal Indonesia menuju negara maju,” pungkasnya. Sambutan penuh energi kemudian datang dari Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Ia menegaskan bahwa semangat tersebut harus dibawa sepanjang perkuliahan. Karena datang ke kampus ini bukan untuk main-main. Ada tekad besar yang harus dipegang adalah belajar keras, disiplin, dan mengeksplorasi semua pengalaman yang diberikan kampus ini. Mengingat jargon yang dimiliki UMM yakni pasti lulus ‘tepat waktu, pasti bekerja, dan pasti mandiri’. “Tak hanya itu, akar spiritualitas dalam proses juga tidak boleh dilupakan. Belajar itu penting, tapi jangan lupa meningkatkan ibadah dan akhlak. Di sinilah kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter,” ujarnya. Dengan dimulainya Pesmaba Gen 25, ribuan mahasiswa baru resmi menjadi bagian dari keluarga besar UMM. Mereka diharapkan mampu memanfaatkan seluruh kesempatan, baik akademik maupun non-akademik, untuk menyiapkan diri sebagai generasi yang tangguh, kreatif, dan bermanfaat bagi bangsa. (vin/wil)
Laser Show dan Flashlight Mob Sambut Ribuan Mahasiswa Baru UMM

Kilatan cahaya terlihat memukau di gedung GKB dan Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 8 September 2025. Cahaya flash dari smartphone ribuan mahasiswa baru UMM sukses membentuk pola garuda, bintang, pulau-pulau Indonesia, dan lainnya. Ini menjadi sambutan perdana bagi ribuan mahasiswa baru (maba) UMM Gen 25. Ada lebih dari 25 formasi yang dilakukan oleh maba dan ditutup dengan laser show yang memberikan pesan untuk negeri. Jamroji, M.Comms. selaku koordinator flashlight mob menjelaskan, UMM memang terus memberikan inovasi yang berbeda. Adapun formasi flashlight mob ini sudah dilakukan UMM sejak tiga tahun ke belakang. Ia mengatakan bahwa Kampus Putih memang dikenal sebagai pionir flashlight mob dan sekarang ditambah dengan terobosan Laser Show. Menariknya, Jamroji mengatakan bahwa flashloght mob memiliki banyak kelebihan ketimbang papermob yang banyak kampus lakukan. Salah satunya dari aspek ekonomi dan biaya. Misalnya, rata-rata papermob memerlukan 25.000 rupiah tiap mahasiswa. Jika ada 10.000 mahasiswa, maka total biaya yang harus dikeluarkan bisa mencapai 250 juta rupiah. Sementara flashlight mob yang UMM lakukan berbiaya sangat rendah karena hanya memerlukan flash dari smartphone masing-masing mahasiswa. “Selain itu lebih dingin dan tidak panas karena pelaksanaannya malam hari. Berbeda jika papermob yang harus berpanas-panasan. Hasilnya juga lebih dramatis dan prosesnya sangat cepat. Yang paling penting, flashlight mob ini tidak menimbulkan sampah dan limbah yang mana mencerminkan kecintaan kita pada bumi,” kata Jamroji menambahkan. Sementara itu, Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. menambahkan bahwa laser show dan flashlight mob ini menjadi bentuk simpati UMM atas kondisi negeri sekaligus upaya memanjatkan doa agar Indonesia bisa damai dan sejahtera. Terkait Laser Show, ia menegaskan bahwa dari tahun ke tahun, UMM memang selalu memberikan hal yang baru. Tahun lalu mereka menyajikan water show sebagai penampilan menarik. Dua tahun sebelumnya, Kampus Putih juga menampilkan pesta udara bagi mahasiswa barunya. Ada berbagai bentuk dan konfigurasi dalam penampilan Laser Show UMM. Dimulai dengan garuda, bentuk peta Indonesia, beragam hashtag, mengenang lima tahun wafatnya guru bangsa dan founding father UMM Malik Fadjar. Keseruan-keseruan itu ditutup dengan berbagai lagu, musik, dan kembang api di akhir acara. Hal unik lain yakni bagaimana UMM mengajak para mahasiswa untuk menyanyikan lagu Ibu Pertiwi dengan konfigurasi Laser Show peta Indonesia. Ini bagian dari empati UMM atas kondisi bangsa belakangan ini. Bahkan ada konfigurasi memanjatkan doa yang dibalut dalam hashtag #untukIndonesiayangDamaidanSejahtera. “Kami selalu mencoba memberikan sambutan terbaik bagi generasi UMM, khususnya Gen 25 pada tahun ini. Kami juga ingin memberikan penghormatan yang edukatif dan menyenangkan. Penampilan Laser Show ini bukan sekadar hal baru, tapi kami juga ingin menonjolkan sederet ikon seperti gedung GKB UMM dan maskot SwanUMM yang dikemas dalam penampilan ini,” pungkasnya. (wil)
Didampingi UMM, Warga Lapas Bikin Buku dan Dibedah

Selalu berupaya berdampak dan berdaya, UMM kembali gandeng Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Malang. Bertekad wujudkan pemberdayaan dibalik pemidanaan, Lembaga Kebudayaan (LK) UMM Launching dan Bedah Buku Antalogi Cerpen “Liku Luka Di Aksara Besi Bisu” pada 3 September 2025. Buku ini merupakan karya dari Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) LPP Malang. Hadir sebagai pembedah Dosen Sastra Dr. Tengsoe Tjahjono, M. Pd dan Dosen Sastra FKIP UMM Dr. Purwati Anggraini, S.S., M. Hum, serta dihadiri juga oleh para akademisi, mahasiswa, dan sastrawan. Tengsoe, demikian Ia dikenal, mengapresiasi para penulis yang telah menghasilkan suatu masterpiece dari keterbatasan ruang dan waktu. Terkesan, Tengsoe menyoroti prolog yang diekseskusi menggunakan diksi sastra yang indah. Beragam cerita dari berbagai kisah perjalanan para warga binaan dibalik jeruji menjadi nyata melalui runtaian kata yang disusun dari rintihan hati penulis. Lebih dari sekedar fiksi, Ia menemukan aspek emosional kemanusiaan (Humaniora), psikologi, dan sosiologis di dalam buku tersebut. Ini juga dapat dikaji melalui pendekatan Antropologi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), apalagi untuk melihat segi antropologi potret kehidupan para WBP di Lapas. Lebih lanjut, Tengsoe tertarik membahas tentang judul buku yang merupakan perpaduan sempurna dari dua subjudul cerpen yang berbeda. Yakni, “Liku Luka” yang mengisahkan tentang pengakuan dan perjalanan menjalani kehidupan di Lapas. Sedangkan, cerita “Aksara Besi Bisu” melukiskan tentang ekspresi dan kerasnya beribu suara yang tersimpan dibalik besi bisu (jeruji) sebagai media keluh kesah mereka. Lebih lanjut, Tengsoe sangat support dan mendorong para penulis untuk terus menulis dan terus berkarya ke arah yang positif. “Jadilah penulis, terbitkan cerpen sebanyak-banyaknya, lalu setelah lulus dari Lapas bisa menemukan banyak kawan, membangun suasana kehidupan yang positif, dan kembali diakui eksistensinya di tengah masyarakat,” harap Tengsoe. Sementara itu, Purwati mengaku sangat terkesan dan emosional setelah membaca buku ini. Menurutnya, antologi ini bukan hanya refleksi diri bagi penulis maupun pembaca, tetapi juga menjadi bukti bahwa perempuan di dalam penjara tetap mampu menulis sebagai cara untuk mengobati luka, menggugat diri, dan menyalakan kembali harapan yang sempat redup. Ia berharap setelah keluar dari Lapas, para warga binaan mendapat pendampingan lanjutan karena banyak ketakutan besar yang mereka rasakan pasca bebas. Lebih jauh, Ia menilai buku ini juga penting dijadikan bahan kajian akademik, baik untuk riset maupun program pengabdian mahasiswa dan dosen, dengan perspektif beragam disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, bahasa dan sastra, hingga ilmu komunikasi. Di sisi lain, Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, Yunengsih, Bc. IP., S. Sos., M.H., menyampaikan terimakasih dan harapan tulus terhadap kontribusi UMM dalam kolaborasi aktif yang sudah berjalan. Ia berharap, sinergi baik ini terus terjalin dan senantiasa berlanjut, sehingga lahir buku-buku hebat lain kedepannya. Berkat pembinaan dari Kampus putih, warga binaan LPP Kelas IIA Malang dapat menghasilkan beberapa karya literasi yang diharapkan memberikan banyak manfaat. Sesuai judulnya, buku ini bukan hanya berisi tentang cerita perjalanan, tetapi juga memuat curahan hati, penyesalan, kegelisahan, ketakutan, dan harapan. Kepala Pusat Studi Kebudayaan UMM Dr. Daroe Iswatiningsih, M. Si. menyebut tujuan kolaborasi positif ini adalah wujud UMM khususnya memaksimalkan dampak Pusat Studi Kebudayaan sebagai akademisi yang bekerjasama dengan Lapas dan masyakarakat umum. Ini menguatkan kondisi literasi yang perlu diperkenalkan secara luas dan patut diapresiasi tinggi. Karya ini merupakan buku keempat dalam proses perjalanan kolaborasi Lembaga Kebudayaan (LK) UMM dan LPP Malang. “Saya berharap, buku ini tidak hanya menjadi sebuah dokumen saja bagi para penulis, tetapi juga sebagai media informasi luas kepada masyakat umum. Selamat kepada 38 penulis yang telah sukses menerbitkan 416 halaman dalam satu buku yang penuh makna,” ungkapnya. (din/wil)
Gubernur Akademi AL di Wisuda UMM: Pemuda Jadi Senjata Keselamatan Negara

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar prosesi wisuda di Dome UMM pada kamis, 4 September 2025. Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, wisuda kali ini menekankan pesan mendalam mengenai lahirnya generasi pemimpin baru yang berintegritas, berempati, serta memiliki visi global di tengah tantangan geopolitik dan transformasi dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Akademi Angkatan Laut, Laksamana Muda Dr. (C) Dato Rusman SN., SE., M.Si., M.Tr. Opsla. Ia menegaskan bahwa prosesi wisuda bukan sekadar penanda kelulusan, tetapi momentum lahirnya generasi baru yang harus siap menghadapi dinamika global yang semakin kompleks. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara kepulauan, namun hingga kini hampir 90 persen alutsista masih bergantung pada luar negeri. Kondisi ini dinilai rentan bagi pertahanan nasional, terutama di tengah konflik global dan potensi krisis energi serta pangan. “Hari ini kita merayakan lahirnya generasi baru pemimpin bangsa. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Karena itu, pemimpin muda Indonesia harus berintegritas, berani mengambil risiko, dan memiliki visi global,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa perebutan jalur laut dan energi terbarukan akan menjadi isu sentral di masa depan. Siapa yang menguasai selat strategis seperti Malaka, Sunda, dan Lombok akan menguasai perdagangan dunia. Sementara itu, transisi energi dan kebutuhan pangan berkelanjutan akan menentukan daya saing bangsa. “Gunakan ilmu pengetahuan sebagai senjata demi kemaslahatan bangsa dan negara. Di balik berbagai ancaman keamanan maritim, krisis energi, dan ketidakpastian global, selalu ada peluang yang bisa diraih. Energi terbarukan, ketahanan pangan, serta jejaring global adalah ruang strategis yang harus kalian isi dengan keberanian dan inovasi, tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa,” ujarnya. Pesan serupa juga disampaikan Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd yang juga merupakan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia. Ia menekankan bahwa setelah menyelesaikan pendidikan formal, wisudawan akan memasuki ‘kampus kehidupan’ yang lebih luas, tanpa batas ruang dan waktu. “Setelah ini, Anda tidak lagi diukur dengan jumlah SKS, tetapi dengan prestasi kehidupan. Ukirlah kampus kehidupan dengan potensi yang Anda miliki, dan jangan cemari dengan hal-hal yang merusak masa depan,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., mengingatkan pentingnya menumbuhkan empati di tengah transformasi besar yang tengah dihadapi bangsa. Menurutnya, empati adalah fondasi penting yang harus dimiliki lulusan perguruan tinggi agar mampu menjadi pribadi tangguh dan adaptif. “Proses pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan pintar di atas kertas, tetapi juga pribadi yang kuat secara emosional dan mampu memahami orang lain. Empati adalah modal utama menuju Indonesia Emas 2045,” kata Nazar. Ia menambahkan, UMM berkomitmen melahirkan alumni dengan joy of learning, keberanian menghadapi kegagalan, serta kepedulian sosial. Dengan modal tersebut, para lulusan diharapkan tidak hanya menjadi tenaga profesional, tetapi juga agen perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat luas. (din/wil)