Upaya Capai SDGs dan Jaga Lingkungan, Begini Kiat Dosen UMM Olah Limbah

Pertumbuhan industri yang pesat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sayangnya, ibarat pisau bermata dua, fenomena tersebut tidak hanya memiliki sisi positif, melainkan juga potensi bahaya bagi bumi dan manusia. Dr. Ahmad Mubin, M.T. dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan bahwa pada dasarnya, kehidupan masyarakat tidak pernah bisa lepas dari pengaruh industri. Pengolahan limbah juga akan berdampak pada kualitas air yang menjadi salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). “Kita tidak pernah bisa lepas dari industri. Semua yang kita gunakan sehari-hari lahir dari lingkup industri. Contohnya baju kita, tanaman di halaman rumah kita, semuanya hasil produk industri,” ujar pria yang akrab disapa Mubin tersebut. Ia melanjutkan, ketergantungan manusia pada dunia industri ini menyebabkan tingginya jumlah limbah yang diproduksi. Apalagi, banyak industri yang didirikan di dekat pemukiman warga. Padahal, idealnya pabrik dibangun di kawasan khusus industri. Hal tersebut akan memberikan manfaat yang besar bagi industri maupun masyarakat, termasuk dalam hal pengelolaan limbahnya. “Hadirnya kawasan industri itu sangat bermanfaat, karena disana dapat dibangun sistem penyaluran air limbah yang langsung terintegrasi sehingga dapat langsung diolah,” tambahnya. Adanya sistem penyaluran limbah cair yang terintegrasi dinilai efektif meningkatkan efisiensi waktu pengelolaan limbah. Begitupun juga untuk meminimalisir pencemaran lingkungan. Termasuk air di sekitar pemukiman industri. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan SDGs yakni air bersih dan sanitasi layak. Dengan begitu, masyarakat di sekitarnya akan aman dalam menggunakan air. “Dalam mengolah limbah cair, industri perlu memiliki standarisasi yakni minimal mencapai level 4, yakni air yang aman digunakan untuk pengairan pertanian. Dengan demikian, limbah cair yang dibuang tidak akan mencemari,” tambah Mubin. Selain sistem saluran air, dosen teknik industri itu juga menyampaikan, industri juga perlu memiliki sistem informasi yang baik terkait limbah yang dihasilkan. “Terkadang, pelaku industri malas untuk memikirkan pengolahan limbahnya. Padahal ada banyak limbah dari satu sektor industri yang sebenarnya dibutuhkan oleh sektor lainnya sebagai bahan baku. Contohnya saja kulit udang yang merupakan limbah dari industri makanan dan minuman, namun menjadi berkah bagi industri obat-obatan. Ini dapat dimanfaatkan untuk produksi berbagai macam obat,” ujar pria asli Gresik itu. Tak lupa ia berpesan, para stakeholder harus turut serta peduli dan memikirkan hal ini. Tidak hanya terbatas pada para pemangku kebijakan seperti pemerintahan. Namun tiap perusahaan juga harus paham dan mengerti tentang ini. Mereka adalah pihak yang bisa menentukan baik atau buruknya pengaruh industri terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. “Kesadaran adalah motor penggerak utama. Apabila setiap individunya sadar, maka sinergisitas tersebut bukan hal mustahil untuk direalisasikan,” pungkasnya. (Hil/Sil/Wil)
Begini Cerita Asyik Mahasiswa UMM Belajar Seni di Liverpool

Kuliah keluar negeri merupakan impian bagi banyak mahasiswa di Indonesia. Tidak hanya memuaskan secara akademik saja, tetapi juga memupuk pertumbuhan jati diri. Seperti yang disampaikan oleh Fasya Tiara Meilenia, Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil terbang Liverpool melalui program IISMA. Ia juga berbagi pengalaman menariknya selama satu semester belajar di University Of Liverpool dalam UMM Talks, 11 Agustus lalu. Faye bercerita, tidaklah mudah untuk bisa mendapatkan Beasiswa IISMA ke Kota Liverpool. Apalagi Inggris merupakan negara kedua paling banyak diminati oleh mahasiswa seluruh dunia untuk exchange. Semua berawal dari semangat Faye dengan program luar negeri. Dimulai dengan ikut Virtual Singapore Polytechnic (VSP) di akhir tahun 2021. Ternyata, pengalamannya sukses menjadi kandidat terpilih untuk mengikuti student exchange IISMA. Menariknya, di Liverpool, ia tidak mengambil studi yang berhubungan dengan jurusannya. Ia malah mengambil Kriminologi dan Musik, sehingga ia lebih banyak belajar tentang dua hal itu. Meski begitu, ia beruntung dibekali skill public speaking dan diskusi mumpuni dari UMM. Jadi, ia tidak kaget saat mengikuti pembelajaran di Inggris yang banyak berdiskusi dan aktif. Anak sulung itu mengaku terkendala dalam aspek komunikasi dengan masyarakat sekitar. Meski bahasa Inggrisnya cukup mumpuni, namun aksen dan campuran bahasa lokal membuatnya sempat kikuk. “Bahasa yang dipakai adalah campuran dari Inggris british dan bahasa asli penduduk Liverpool. Jadi cukup susah memahaminya, namun hal itu saya jadikan sebagai tantangan untuk berkembang,” tegasnya. Pilihannya untuk ke Liverpool bukan tanpa alasan. Ia yang menyukai film tentu ingin mengunjungi berbagai latar tempat yang biasa digunakan untuk film-film internasional. Misalnya saja Castile yang ada di kota Wales, museum yang ada di kota Chester dan beberapa tempat berbau seni serta barang bersejarah negara Inggris. “Kebetulan banyak tempat di Liverpool yang memang memiliki suasana pas untuk membaca. Jadi saya aktif mengunjungi berbagai lokasi mumpun ada kesempatan,” tegasnya. Menurutnya, belajar keluar negeri membuatnya menemukan sisi lain dari dirinya. Ia bisa lebih bisa terbuka dengan orang lain dan menerima pendapat berbeda. Ia juga paham bahwa dia bukan pemegang satu-satunya kebenaran. “Jangan pernah malas untuk mencari informasi dan juga belajar hal baru. Kesempatan emas hanya bisa datang bagi kita yang menjemput bukan datang secara tiba-tiba,”pungkasnya. (Ri/Wil)
800 Juta Orang Berpotensi Alami Nyeri Pinggang di 2050, Begini Kata Dosen Fisioterapi UMM

Sebuah studi baru dari jurnal The Lancet Rheumatology menerangkan bahwa 800 juta orang berpotensi mengalami sakit punggung bagian bawah atau nyeri pinggang pada 2050. Melihat fenomena tersebut, Rakhmad Rosadi, PT., Ph.D. selaku Dosen dan Praktisi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkat bicara. Menurutnya, saat fenomena sakit punggung bagian bawah sudah banyak terjadi di kalangan muda dan berdampak pada masa tua nanti. Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM itu juga menyampaikan beberapa faktor yang menyebabkan hal ini. Mulai dari penerapan gaya hidup yang kurang sehat, posisi mengangkat beban yang salah, hingga posisi duduk yang terlalu lama. “Sebenarnya ada banyak faktornya. Apalagi bagi mereka yang pekerjaannya banyak duduk di kursi dan meja. Biasanya dialami oleh pekerja kantoran yang bekerja selama tujuh hingga delapan jam sehari. Kemudian juga cara mengangkat beban berat dengan posisi yang salah seperti membungkuk. Hal ini diperparah dengan minimnya olahraga yang dilakukan oleh masyarakat,” jelasnya. Jika nyeri punggung yang dialami tidak segera ditangani, besar kemungkinan akan berdampak pada penurunan produkvifitas seseorang. Banyak orang yang menyepelekan nyeri punggung. Padahal akan berdampak signifikan dalam hidupnya. Melakukan hal sederhana yang biasanya mudah, kini akan kesusahan dan kerepotan. Muaranya tentu pada penurunan produktivitas. Rakhmad juga memberikan sederet tips untuk terhindar dari nyeri punggung bagian bawah dan mengurangi rasa sakitnya. Pertama, yakni menerapkan pola hidup yang sehat, termasuk rtyin berolahraga serta melakukan aktivitas ringan seperti berjalan kaki tiap hari. “Iya, nyeri punggung bagian bawah itu bisa dicegah dan diatasi. Bisa memulai dengan hal sederhana seperti stretching ringan pasca 30 menit duduk. Lebih bagus lagi jika disempatkan berolahraga 150 menit perminggu. Kalau dibagi semingggu lima kali, jadi sekitar 30 menit tiap hari,” jelasnya. Terakhir, ia sangat menyarankan agar seluruh masyarakat lebih memperhatikan posisi duduk. Meski terlihat remeh, tapi nyatanya bisa berdampak negatif bagi kesehatan. Begitupun dengan posisi tubuh saat mengangkat beban. Membungkuk dapat meningkatkan risiko nyeri punggung. Posisi terbaik untuk mengangkat beban berat adalah dengan jongkok. “Kita ammbil contoh saat kita mengangkat beban galon air yang penuh. Beratnya paling tidak 18-20 kilogram. Sebaiknya gunakan posisi jongkok saat mengangkat. Jangan biasakan mengambil posisi membungkuk karena itu berbahaya,” ujarnya. (Faq/Wil)
Gaji hanya Numpang Lewat? Mungkin Ini Alasannya

Para fresh graduate yang baru saja mendapatkan pekerjaan seringkali menggunakan gajinya tanpa pikir panjang. Membeli barang-barang yang sebenarny tidak begitu dibutuhkan dan hanya mengedepankan gengsi. Hal itu membuat mereka kesulitan untuk menabung sebagian pendapatannya. Fenomena itu menarik perhatian Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kenny Roz, S.Kom., MM. Menurutnya, salah satu kesalahan keuangan yang umum dilakukan anak-anak muda adalah mengesampingkan perencanaan anggaran. “Banyak dari mereka yang beralasan terlalu sibuk dengan altivitas sehari-hari. Ada juga yang menganggap perencanaan anggaran tidak memberikan efek apa-apa dan lain sebagainya. Padahal, ini menjadi langkah efektif untuk memetakan pendapatan yang sudah didapat. Mana yang bisa dibelanjalan dan mana yang bisa ditabung,” jelasnya. Kenny, begitu ia kerap disapa, melanjutkan, rencana anggaran merupakan alat yang kuat dalam mengelola keuangan. Namun, sayang bayak banyak dari mereka hanya mengandalkan intuisi atau perkiraan kasar tanpa benar-benar merinci pengeluarannya. Sehingga mereka merasa kesulitan bahkan jauh sebelum hari gajian tiba. “Siapa saja, terutama anak muda harus mulai dengan mencatat setiap keluar masuknya uang. Kemudian mengkategorikannya secara akurat. Langkah ini dapat membantu untuk mengidentifikasi mana pengeluaran yang tidak perlu,” tambahnya. Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah adopsi gaya hidup yang tidak sesuai dengan kapasitas finansial. Hanya karena teman-teman atau lingkungan media sosial menunjukkan gaya hidup tertentu, bukan berarti kita harus mengejar hal yang sama tanpa mempertimbangkan dampak keuangan jangka panjang. Namun fenomena sebaliknya terjadi. Anak-anak muda mudah termakan gengsi dan akhirnya memaksakan diri untuk membeli barang-barang branded atau makanan fancy yang sebenarnya bukan kebutuhan penting. Dalam tatanan solusi, edukasi keuangan menjadi hal yang paling penting terutama bagi generasi muda. Peran lembaga pendidikan sangat strategis untuk bisa meningkatkan kesadaran. Selain itu, anak-anak muda memang seharusnya aktif mencari tahu bagaimana mengelola keuangan dengan benar dan sesuai. “Sayangnya, hari ini banyak anak muda yang belajarnya trial and error. Sehingga tidak jarang mereka rugi dan kehilangan banyak uang dari pendapatan,” katanya mengakhiri. (Lai/Sil/Wil)
Ayca, Tiktokers yang Bercerita Kuliah di UMM Jalur Influencer

Hanya ada sedikit kampus yang membuka pendaftaran jalur influencer. Salah satu yang menarik perhatian adalah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Calon mahasiswa tidak perlu mengikuti tes dan bisa langsung seleksi kemudian diterima. Hal itu juga yang dirasakan Dinda Nur Aisyah, Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi UMM. Ia membagikan pengalaman bagaimana asyik dan mudahnya jalur influencer UMM di acara UMM Talks, awal Agustus ini. Ayca, begitu ia kerap disapa menceritakan, awalnya ia belum merencanakan ingin melanjutkan pendidikan perkuliahannya di UMM. Namun saat asyik bermedia sosial, ia melihat UMM membuka penerimaan mahasiswa baru jalur influencer. Karena penasaran, ia mencari informasi lebih lanjtu di website. “Waktu itu aku nge-stalk website resmi UMM dan melihat ada banyak banget jalur pendaftarannya, termasuk jalur influencer itu. Awalnya tidak percaya sih kalau ada jalur semacam itu. Tapi saat dibuka ternyata beneran ada,” katanya. Untuk memastikan jalur influencer yang ada di UMM, Ayca bahkan mengunjungi UMM bersama ayahnya sekalian berkeliling melihat fasilitas kampus. “Tanpa berpikir panjang, aku dan ayah akhirnya setuju setelah melihat dan mendengarkan biaya dan fasilitas yang akan aku dapatkan. Waktu itu, aku dapat 100% SPP Semester 1 dan diskon alumni Muhammadiyah. Jadi biaya yang seharusnya lebih dari 20 juta, aku hanya bayar sebanyak 13 juta. Lumayan bannget kan?” ujar gadis asal sidoarjo itu. Lebih lanjut, Ayca mengatakan ia juga akan mendapatkan diskon lagi jika IP yang ia dapatkan 3,8 atau lebih. Maka dari itu, sampai saat ini Ayca selalu mempertahankan IP yang ia punya dengan cara tidak pernah bolos kelas dan selalu rajin mengumpulkan tugas. Ia menegaskan bahwa kuliah selalu lebih utama walaupun ia telah mendapatkan penghasilan dari menjadi konten kreator dengan follower 500 ribuan lebih di Tiktok. Ayca juga sempat memberikan sederet tips untuk menjadi konten kreator. Salah satunya dengan rutin memposting konten dan juga update konten yang sedang trending. Waktu unggahan juga harus diperhatikan. Menurutnya, tiga hal itu bisa meningkatkan kemungkinan untuk viral dan views yang tinggi. Anak bungsu itu juga menceritakan bahwa menjadi influencer merupakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Apalagi ia awalnya hanya iseng mengunggah konten A Day In My Life di Tiktok. Ternyata ia mendapatkan ribuan viewers. Dari situlah Ayca mulai dikenal banyak orang. “Jangan pernah malu dan takut untuk memulai membuat serta mengupload konten. Kalau belum apa-apa sudah malu, bagaimana mau maju? Saat ini, segalanya bsia dijadikan konten. Mulai saja dulu, karena kita tidak akan pernah menyangka rezeki akand atang dari mana,” pungkasnya. (Ri/Wil)
Pakar Psikologi UMM : Luka Psikis Masa Kecil Harus Diobati

Seringkali pembahasan inner child ramai di jagat media sosial. Adapun Inner child adalah sifat kekanak-kanakkan yang terkait dengan pengalaman atau luka masa lalu yang belum mendapat penyelesaian. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Hudaniah S.Psi. M.Si. menyampaikan bahwa luka tersebut harus diobati. Hal ini akan berkaitan dengan kualitas diri di masa yang akan datang. “Ketika tidak diobati, mungkin bisa saja sembuh. Tetapi butuh waktu lama dan meninggalkan bekas yang dalam. Bekasnya ini bisa berdampak pada kehidupan pribadi, seperti overthinking, penilaian egatif tentang diri sendiri dan menjadi orang yang tidak menyenangkan. Bahkan berakibat pada tidak diterima oleh lingkungan sosial, kurang peka dan lain-lain,” ujarnya. Salah satu masalahnya adalah pengasuhan yang kurang tepat dan optimal saat masa kecil. Misalnya saja mengalami kejadian traumatis. Baik itu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), penelantaran, hingga pengabaian. “Luka-luka ini perlu diobati dengan beberapa langkah. Pertama yakni dengan menjalin dukungan sosial. Mendapatkan dukungan dari teman-teman, keluarga, atau bergabung dalam kelompok dukungan dapat membantu individu merasa tidak sendirian dalam menghadapi perjalanan pemulihan,” tambah Hudan. Selain itu, terapi dan konseling juga dapat dilakukan. Meminta bantuan dari profesional seperti psikolog atau konselor dapat membantu individu untuk mengatasi trauma dan emosi yang terpendam. Dalam sesi terapi, individu diberikan kesempatan untuk berbicara dan meresapi perasaan mereka dengan dukungan dan panduan yang tepat. “Yang terakhir adalah praktek pemaafan. Memaafkan diri sendiri dan orang tua yang terlibat dalam masa lalu adalah langkah penting dalam memutus siklus negatif. Pemaafan membantu melepaskan beban dan memungkinkan individu untuk melangkah maju,” tandasnya. Hudan juga berpesan ke siapa saja yang punya luka masa lalu untuk terus berusaha menjadi lebih baik.”Teruslah bergerak. Kita bukan seperti donat yang diam saja bisa berkembang. Pahami bahwa segala situasi yang kita hadapi tidak semuanya yang seperti kita inginkan. Dengan begitu kita bisa terus belajar dari pengalaman sehingga menjadi individu yang lebih matang dan berdaya,” imbuhnya. Terakhir dia menyampaikan agar rantai ini terputus, perlu ada persiapan bagi para calon orang tua sebelum memutuskan untuk menikah. Ini semua berawal dari keputusan pernikahan, regulasi solusi dalam pernikahan, manajemen konflik dan tujuan pernikahan itu sendiri. “Harus disadari adanya konsekuensi yang muncul pasca pernikahan, termasuk kehadiran anak. Bagaimana orang tua memaknai kehadiran anak. Orang tua harus mengorbankan waktu hingga kebutuhan finansialnya. Ini kalau tidak disipakan bahaya. Anak bisa jadi pelampiasan orang tua yang tidak matang,” pungkasnya. (Azm/Sil/Wil)
Mahasiswa UMM Gagas Painting House, Melukis dengan Bahan Alami

Kreativitas seni kini semakin berwarna dan beragam. Salah satunya hasil kerja mahasiswa prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yakni inovasi seni lukis menggunakan bahan alami melalui ‘Painting House’. Inovasi ini tidak hanya mendapat perhatian, tetapi juga berhasil meraih pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Diktiristek. Tim tersebut beranggotakan Muhammad Rafly Ragil Adi Putra, Aprilisfiya Handayani, Saaul Mufidah, Sinta Krismaya, dan Caterina Aruli Iskandar. Keberhasilannya tidak terlepas dari peran dosen pendamping yaitu Aviani Widyastuti, S.E., AK.CA., M.SA. ‘Painting House’ merupakan sebuah usaha yang bergerak di sektor seni dengan fokus pada penjualan produk kesenian seperti lukisan. Selain itu juga workshop dan menawarkan jasa kursus melukis dengan pendekatan yang berbeda. Program ini menggunakan media seperti kanvas, topi, hijab, dan bahkan daun kering. Sampai saat ini, proyek ini mampu menarik perhatian karena inovasinya dalam menciptakan cat alami dari kunyit, wortel dan daun telang. Aprilisfiya Handayani, anggota tim ‘Painting House’, menjelaskan, upaya ini dilakukan untuk mengurangi dampak limbah cat kimia konvensional yang sulit terurai. “Konsep ini hampir mirip dengan teknik eco printing, di mana daun yang ditumbuk dapat memberikan motif unik pada permukaan kanvas. Lain halnya jika ingin mendapatkan warna kuning. Pakai kunyit yang awalnya diparut, lalu diambil sarinya,” jelasnya. Lebih dari sekadar menjadikan seni inspiratif, ‘Painting House’ juga berperan dalam mendukung pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12 terkait produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Serta, poin 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. “Melalui Painting House, para seniman jalanan yang belum memiliki pekerjaan tetap dapat mengambil peran sebagai instruktur melukis. Hal itu tentu dapat membuka peluang pekerjaan baru dan berkelanjutan,” tambahnya. Dalam panggung seni yang semakin inovatif, proyek ini menjelma menjadi wadah untuk menggali kreativitas. Mendukung seniman jalanan, mengurangi dampak lingkungan, dan menjadikannya langkah positif dalam menghiasi dunia seni di Malang. (Lai/Sil/Wil)
Puluhan Peserta CoE English for Hospitality UMM Dikirim Magang Hotel Berbintang

Antusiasme para tamu terlihat jelas saat mahasiswa CoE English for Hospitality Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menampilkan kebolehannya. Penampilan itu merupakan bagian dari pembukaan Profesional Internship CoE English for Hospitality, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Turut hadir mitra Dunia Usaha dan Duni Industri (DUDI) dan sederet perewakilan guru SMA se-Malang Raya dalam agenda yang dilaksanakan 10 Agustus itu. Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Drs. Jarum, M.Ed mengatakan, peserta CoE adalah mahasiswa yang sudah diseleksi dengan maksimal. Mereka juga sudah mendapatkan teori dan praktik kompetensi. “Alhamdulillah 29 mahasiswa akhirnya terpilih karena memiliki daya tahan yang bagus sehingga bisa bertahan di kelas CoE ini. Kemudian semester selanjutnya mereka akan langsung bekerja secara nyata di tempat mitra DUDU yang telah bermitra dengan UMM. Ada Samara Hotel & Resort Batu, The Onsen Hot Spring Resort Songgoriti, Aston Inn Batu, dan lainnya,” ungkap Jarum. Lebih lanjut, ia menjelaskan, CoE English for Hospitality ini dirancang tidak sekedar memberikan teori maupun praktek saja, tapi juga memiliki target agar para mahasiswa ini bisa langsung direkrut oleh para mitra. Selain itu, CoE ini juga terus mengembangkan mitranya ke Surabaya, Yogyakarta dan juga Bali. Sehingga ke depannya ada 13 mitra yang bergabung dengan program inj. “Kami juga sedang menggaet dan bekerjaaama dengan SMK yang ada di Malang. Dengan begitu, akan semakin banyak SDM yang bisa langsung dijaring industri. Dalam waktu dekat, kami juga akan membuka CoE baru yakni CoE english for young learner,” tambahnya. Di sisi lain, General Manager at Samara Hotel & Resort, Arif Purnomo Saputra mengapresiasi program ini. Menurutnya, CoE ini membantu mahasiswa untuk mendapatkan pembelajaran dan praktek mumpuni, utamanya dalam hal hospitality. “Saya kaget karena para peserta sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Sekarang mereka sudah bisa greeting dengan baik, smiling serta grooming. Mereka sudah paham bahwa bekerja di perhotelan adalah pekerjaan jasa yang harus sangat baik,” tambahnya. Arif berharap, para mahasiswa yang akan magang ini bisa menunjukkan ilmu yang sudah mereka dapat. Jika mereka bisa menampilkan performa yang baik, tidak menutup kemungkinan bisa langsung direkrut. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. menyampaikan, CoE memang dibuat untuk menjawab tantangan perkembangan perguruan tinggi. Ini juga menjadi bagian dari upaya UMM untuk memastikan lingkungan belajar yang nyaman, berkompetisi, serta kepastian bekerja. “Selamat untuk CoE English for Hospitality UMM. Semangat dan lakukan yang terbaik dalam menjalankan proses magang di mitra DUDI, kami berharap kalian juga terus menjaga nama baik Kampus Putih,” harapnya mengakhiri. (Zak/Wil)
Di UMM, Ketua Ombudsman RI Diminta Soroti Administrasi Scopus Jadi Syarat Kepangkatan Dosen

Publikasi scopus seharusnya dihapuskan sebagai syarat wajib guru besar di Indonesia. Hal tersebut ditegaskan oleh Dr. Suharsiwi, M.Pd dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) naskah akademik administrasi kepangkatan dosen. Diskusi yang diikuti perwakilan doktor dari universitas se-Indonesia itu diselenggarakan oleh Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang UMM) pada 9 Agustus 2023 lalu. Suharsiwi selaku Koordinator Penulisan Naskah Akademik mengatakan, penelitian memang merupakan salah satu tugas dosen untuk memenuhi kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi. Utamanya untuk mengembangkan dan menyebarkan ilmu sebagai kontribusi. Namun, perlunya internasionalisasi publikasi dalam bentuk publikasi terindeks scopus nyatanya memiliki catatan-catatan negatif. “Tuntutan publikasi scopus membuat sebagian dosen akhirnya memilih jalur pintas, Sehingga muncul jurnal predator, perjokian karya ilmiah, hanya sekedar menumpang nama, dan lain sebagainya. Hal tersebut semakin diperparah saat seorang dosen telah menerbitkan jurnal terindeks scopus tetapi jurnal tersebut berstatus discontinued. Hal itu menyebabkan dosen mengalami kerugian biaya dan pengorbanan selama proses menulis sehingga akhirnya mengambil cara pintas,” jelasnya. Adapula efek lain dari praktik negatif penerbitan jurnal terindeks scopus. Yaitu adanya arogansi personal atau kelompok terhadap yang lain, yang mengakibatkan dunia akademik tidak kondusif. Hal-hal seperti itu tidaklah sesuai dengan semangat integritas dan akhlak yang seharusnya menjadi marwah pendidikan. Oleh karena itu, Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta itu dan tim penyusun naskah akademik berharap, temuan-temuan dari hasil kajian dapat dievaluasi dan direalisasikan oleh Ombudsman. Sehingga bisa segera memberikan perubahan kebijakan yang lebih membantu tenaga pendidik atau dosen. Utamanya dalam kinerja publikasi, pencapaian guru besar dan lain sebagainya. Sementara itu, Ketua Ombudsman RI Dr. Mokh Najih, M.H. menanggapi bahwa Ombudsman siap mengkaji naskah akademik tersebut. Dengan begitu, temuan par dosen tidak hanya berhenti dalam bentuk laporan saja. Tetapi juga bisa direalisasikan dan dapat bermanfaat bagi penyelenggaraan perguruan tinggi. “Ombudsman memang mempunyai peran dan tanggung jawab penting dalam konteks penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Hal tersebut termaktub dalam UU Ombudsman nomor 37 tahun 2008 sebagai lembaga negara yang mengawasi terhadap penyelenggaraan pelayanan publik. Semua yang termasuk dalam pelayanan publik akan diawasi termasuk dari perguruan tinggi,” terang Najih. Oleh karena itu, ia berharap perguruan tinggi bisa terus berkolaborasi serta bersinergi dengan Ombudsman. Sehingga penyelenggaraan pelayanan publik yang baik bisa terwujud. Menurutnya, diskusi seperti ini merupakan kesempatan yang bisa terus dipertahankan. Saling bahu-membahu mewujudkan kualitas penyelenggaraan pendidikan yang terbaik. (Zak/Wil)
Adif, Mahasiswa Vokasi UMM Sukses Juarai Festival Film Nasional

Kabar membanggakan hadir dari D3 Keperawatan, Fakultas Vokasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adalah Adif Adriansyah, mahasiswa semester tiga yang sukses meraih juara pertama sinematografi terbaik pada Film Festival Nasional pada Akhir bulan lalu. Adif sapaan akrabnya, berhasil mengalahkan lebih dari 50 tim dari berbagai kampus di seluruh Indonesia. Adif bercerita, topik yag diangkat dekat dengan kehidupan masyarakat. Yakni bagaimana mereka saling berjaung dan bahu membahu untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. “Pembahasan kami dalam film itu didesain dengan simple, namun berbobot. Kami juga mengutip kalimat filosofi yakni urip iku urup dan menjadikannya judul film. Pengambilan filosofi tersebut juga dilatar belakangi dengan melihat kondisi saat ini. Banyak anak muda individualis yang acuh terhadap lingkungan sekitar, serta masih mengedepankan keegoisan,” ujarnya Adif menuturkan, dalam memanifestasikan fiolosofi itu, filmnya menyajikan nilai-nilai perjuangan para pahlawan indonesia dalam merebut kemerdekaan. Dilanjutkan dengan implementasi yang dapat dilakukan anak muda di era sekarang. Dengan penyajian yang ringan, ia yakin para penonton bisa menangkap maksud dan isi dari film itu. “Isi filmnya ada terkait dengan perjuangan pahlawan saat berjuang melawan penjajah. Nilai urip itu urup sangat jelas terpampang dalam perjuangan mereka. Lalu dilanjutkan dengan adegan seorang ayah menasehati anaknya agar lebih bisa bersosialisasi dan hidup guyup rukun dengan kawannya,” jelas Adif. Sebagai tambahan, makna filosofis dari urip iku urup yakni, manusia dilahirkan di dunia bukan untuk berdiri sendiri, berkuasa dan semua hanya untuk diri sendiri. Namun, manusia lahir untuk saling memberi, saling menolong dan saling membantu sesama tanpa ada rasa pamrih. Ia juga tak lupa memberikan motivasi kepada para mahasiswa lain yang memiliki potensi, khususnya dalam dunia perfilman. Menurutnya, mereka tidak perlu minder dengan kemampuan yang dimiliki atau jurusan yang tidak sejalur dengan kesukaan. Yang paling penting adalah konsistensi serta kemauan untuk terus belajar. “Meskipun saya ini mahasiswa D3 Keperawatan, namun dunia videografi masih menjadi hobi yang saya senangi. Tetap bisa berkarya lewat hobi, jadi karya dan prestasi tidak harus linier dengan jurusan kuliah. Tujuan utama saya adalah untuk tetap bisa menghasilakn karya,” tutupnya mengakhiri. (Faq/Wil)