Program UMM Pasti Beri Kepastian Wali Mahasiswa Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen penuh menciptakan sumber daya manusia (SDM) terbaik dan unggul. Salah satunya melalui Center for Future Works (CFW) dan Center of Excellent (CoE). Hal itu ditegaskan oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. saat menyambut wali mahasiswa baru pada 22 Juli 2023 lalu di Dome. Fauzan, begitu ia kerap disapa, menegaskan, program itu juga menjadi upaya Kampus Putih untuk menyambut bonus demografi 2045. SDM yang unggul bisa dilahirkan jika ada fasilitas dan program yang diberikan. Saat ini, ada lebih dari 54 CoE yang sudah dijalankan oleh UMM dan jenisnya variatif. Menariknya, para mahasiswa juga bisa menyiapkan diri untuk lulus cepat sejak semester 2 melalui jalur bebas skripsi. Banyak mekanisme yang bisa diambil, mulai dari jalur penelitian, pengabdian masyarakat, publikasiartikel ilmiah, dan karya lainnya. Usaha itu juga menjadi salah satu manifesto dari slogan dari UMM. Yakni UMM Pasti, pasti lulus, pasti bekerja, dan pasti mandiri. “Kami tidak pernah membatasi minat dan bakat dari anak-anak bapak dan ibu. Kami berikan berbagai macam mekanisme untuk ekuivalensi tugas akhir skripsi. Jadi nantinya, putra putri bapak ibu sekalian bisa lulus dari UMM tanpa skripsi,” katanya. Adapun UMM sudah menyiapkan berbagai fasilitas dan unit usaha yang bisa dikunjungi oleh para orangtua saat singgah di Malang. Misalnya saja Rayz Hotel, Taman Rekreasi Sengkaling, hingga My Dormy Hostel yang akan selalu memberikan diskon khusus. Selain itu juga Medical Center (UMC) dan Rumah Sakit sebagai sebagai fasilitas kesehatan yang dapat digunakan oleh seluruh mahasiswa. Ada lebih dari 13 unit usaha yang bisa dikunjungi dan dimanfaatkan. Sementara itu, salah satu wali mahasiswa baru, Umi Kuslum mengaku, fasilitas yang disediakan membuatnya menyekolahkan anaknya di UMM. Apalagi semua ditunjang dengan sarana prasarana yang lengkap. Mulai dari laboratorium yang mumpuni, kelas yang nyaman, dan lainnya. Bahkan kalau merasa lelah, mahasiswa bisa menghibur diri dengan perahu bebek di danau atau juga berkunjung ke taman rekreasi sengkaling yang dimiliki kampus. “Harapan saya untuk anak muda cukup singkat namun berbobot. Jangan pernah meremehkan pendidikan. Maksimalkan segala peluang dan kesempaan yang ada” pungkas wali mahasiswa jurusan Keperawatan itu. (Faq/Wil)
Rakernah Tarjih Muhammadiyah di UMM: Susun Fikih Lansia dan Budaya Berkemajuan

Islam dalam Muhammadiyah bukan hanya berada pada tingkat ucapan saja, tapi juga perbuatan konkret. Hal itu ditegaskan oleh Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. H. Hamim ilyas, M.Ag. dalam Pembukaan Rapat Kerja Tingkat Pusat dan Seminar Nasional. Agenda itu diselenggarakan pada 21 Juli 2023 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Lebih lanjut, Hamim berharap, rapat kerja ini tidak hanya menghasilkan daftar rencana saja, tapi betul-betul dapat mencetuskan program kerja yang dapat dilaksanakan .”Rapat kerja ini juga sebagai persiapan launching kalender Islam global di Pekalongan yang bertepatan dengan 100 tahun terbentuknya majelis tarjih. Pekalongan dipilih sebagai tempat peluncuran karena memiliki nilai sejarah kuat, yakni daerah di mana majelis tarjih dibentuk,” ungkapnya. Menurutnya, Muhammadiyah juga memiliki keinginan untuk mendirikan rumah bagi lansia. Di mana rumah tersebut akan menjadi amal bagi Muhammadiyah. Oleh karena itu, rapat kerja ini juga mengadakan seminar tentang gerontologi, yang akan membahas tentang penuaan dan orang tua. “Ini juga menjadi langkah baru bagi Majelis Tarjih dalam menyusun Fikih Lansia. Para ahli dan akademisi akan datang dan membahas berbagai aspek terkait penuaan, kesehatan lansia, peran sosial, dan kebutuhan khusus mereka,” jelas Hamim. Ia menegaskan, Islam adalah ucapan dan perbuatan, sehingga apa yang akan diseminarkan dan diskusikan harus diamalkan. “Pengamalannya disesuaikan dengan tradisi Muhammadiyah yaitu dalam bentuk lembaga. Sehingga bukan usaha perseorangan tapi milik bersama dari kerja bersama. Kita juga sedang menyusun Fikih Budaya Berkemajuan sebagai bentuk komplementasi terhadap pembangunan ekonomi yang telah dilakukan oleh negara,” tegasnya. Di sisi lain, Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Saad Ibrahim, M.A. menyampaikan mengenai hikmat utama dari assabiqunal awwalun. Yaitu bagaimana kemudian manusia memahami dengan sebaik-sebaiknya mengenai falsafah dan ilmu pengetahuan. “Menurut saya, jika hikmat itu ditujukan kepada konteks yang lebih pragmatis dan berkaitan dengan dengan kehidupan, maka puncak dari hikmat itu bisa kita personifikasi pada ilmu fiqih yang telah dilahirkan oleh para imam. Salah satunya Imam Syafi’i yang dikenal dengan syarhus sunnah,” ungkap Saad. Menurutnya, perlu digarisbawahi bahwa ilmu fiqih yang dilahirkan oleh para imam sudah ditetapkan dengan matang. Sehingga menurutnya, kedua hal tersebut menjadi penting untuk membawa kembali kemajuan islam dalam konteks keindonesiaan dan universal. Maka karena itu, majelis tarjih dan tajdid memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Apalagi majelis ini akan menjadi basis untuk semua pengetahuan lain seperti ilmu astronomi, fisika, dan ilmu lainnya. (Zak/Wil)
Ingin Menyekolahkan Anak ke Pesantren? Ini Tips Dosen UMM

Belakangan ini, banyak masyarakat yang berbondong-bondong memilih pesantren sebagai tempat menimbu bagi anaknya. Pesantren dianggap mampu memberikan pendidikan yang holistic, mulai dari sisi keilmuan, agama, hingga adab dan etika. Terpaan era digital juga menjadi alasan para orangtua was-was dengan masa depan anaknya. Fenomena itu menarik perhatian Dosen Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag. Menurutnya, pesantren adalah lembaga pendidikan yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Keterikatannya juga sangat kuat karena memiliki kotribusi bagi sumber daya manusia di Indonesia. Utamanya, dari segi akidah maupun akhlak. “Di Kementerian Agama sendiri tercatat ada lebih dari lima ribu pesantren yang berada di Jawa Timur. Belum lagi di daerah lain, ,” tandasnya. Menurut Fatoni, ada tiga pertimbangan yang dapat digunakan orangtua maupun calon santri saat memilih pesantren. Pertama, menetapkan tujuan anak atau calon santri. Jika ingin menjadi penghafal Alquran maka carilah pesantren yang memiliki program hafalan di dalamnya. Kemudian jika bertujuan menjadi pakar ilmu agama, misalnya literatur keislaman klasih, maka bisa mencari pesantren yang menyediakan sistem pembelajaran berdasarkan kitab kuning atau gundul. “Jika tujuannya adalah ingin anak menjadi calon intektual ulama, maka carilah pesantren yang memadukan antara pendidikan kepesantrenan dengan pendidikan formal. Biasanya pesantren terkait mengintegrasikan ilmu-ilmu umum dengan ilmu agama khas pesantren,” tambahnya. Pertimbangan selanjutnya saat menentukan pesantren adalah menentukan model yang diinginkan. Secara umum, pesantren dibagi menjadi dua, yakni tradisional dan modern. Tradisional atau salafi biasanya menekankan pada kitab-kitab kuning atau kitab gundul. Bahkan model pesantren ini melarang santrinya untuk mengenyam pendidikan formal supaya lebih fokus menguasai kitab-kitab. Jika santri ingin mendapatkan pendidikan formal, biasanya santri diminta mencari di luar pesantren. Model lainnya adalah model modern. Di sini santri tidak hanya belajar ilmu keislaman saja namun juga diajarkan ilmu-ilmu umum tentang teknologi maupun bahasa. Dalam kata lain, model modern ini tidak hanya menitikberatkan untuk belajar kitab-kitab kuning saja. “Setelah menetapkan tujuan dan model pesantren orangtua atau calon santri harus melihat rekam jejak dari pesantren yang akan dipilih. Misalnya dengan melihat alumni yang ada. Apakah banyak yang berhasil atau sukses dan mampu bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Terakhir Fatoni mengingatkan, menurutnya kunci sukses sebuah pesantren adalah sistem belajarnya. Kemudian juga kualitas alumni, kiprah pimpinan pondok serta jasanya di masyarakat. Jika pesantren itu baru dan belum memiliki alumni, orang tua bisa datang langsung ke lokasi untuk mengecek dan observasi. Melihat secara langsung, apakah pesantren tersebut sesuai dengan apa yang diinginkan. (Nov/Wil)
Sepuluh Langkah Ampuh Atasi Stroke ala Dosen FK UMM

Stroke merupakan penyakit yang menyebabkan kecacatan nomor satu di dunia dan menyebabkan menyebabkan ganguan fungsi otak. Jika dikategorikan, terdapat dua kelompok dari stroke, yaitu stroke penyumbatan dan stroke perdarahan. Stroke penyumbatan terjadi apabila pada pembuluh darah di otak kita tersumbat oleh penebalan dinding pembuluh darah akibat kerak lemak. Sementara stroke perdarahan jika terjadi pecahnya pembuluh darah otak. “Baik stroke penyumbatan maupun perdarahan ini sama-sama mengakibatkan otak tidak mendapatkan suplai makanan dan oksigen kemudian menyebabkan adanya gangguan fungsi,” jelas Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Annisa Nurul Arofah, Sp.S, M.Biomed. Gejala-gejala yang harus diwaspadai pada serangan stroke antara lain apabila pasien mengeluhkan gangguan keseimbangan secara mendadak atau gangguan penglihatan. Begitupun dengan wajah yang tidak simetris satu sisi, atau muncul kelemahan pada satu sisi tubuh. Hal tersebut merupakan tanda bahaya yang menyebabkan pasien harus segera ditangani. Annisa menegaskan, stroke dapat menyerang berbagai kalangan usia. Kebanyakan kasus terjadi berkat faktor-faktor yang mendukung seperti tekanan darah tinggi atau hipertensi, diabetes serta kolesterol yang tinggi. Perubahan pola hidup juga menyebabkan stroke ini dapat dialami oleh orang-orang yang berusia muda. Pada perempuan, terutama yang bisa mengalami stroke akibat alat kontrasepsi (KB) yang mengandung hormon dengan disertai faktor resiko lain, seperti adanya obesitas, peningkatan kolesterol, atau diabetes. Merokok juga merupakan salah satu dari faktor resiko terjadinya stroke. Ada dua jenis faktor resiko, yaitu resiko yang tidak dapat dimodifikasi dan yang dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara lain ras, usia, dan jenis kelamin. Pertama, ras asia memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terkena serangan stroke dibandingkan dengan ras eropa. Kedua, semakin bertambahnya usia maka semakin tinggi pula resiko terjadinya stroke. Wanita usia subur memiliki hormon yang melindungi dari stroke. “Jadi ketika sudah menopause, resikonya lebih tinggi mengalami stroke. Ketiga, laki-laki lebih banyak mengalami stroke yang tipe perdarahan. Lalu untuk faktor yang bisa kita modifikasi atau bisa dijaga yaitu dengan mengatur pola hidup. Seperti menjaga diri agar tidak hipertensi, diabetes, kolesterol yang tinggi, obesitas, merokok, dan konsumsi minuman keras,” tegasnya. Ada sepuluh langkah yang diberikan Annisa untuk mencegah stroke. Pertama adalah mengontrol tekanan darah. Kedua ialah latihan jasmani dengan berolahraga ringan selama 30 menit setiap hari dan paling tidak dilakukan lima hari dalam satu minggu. Ketiga, diet sehat dan seimbang, yakni mengatur jenis makanan yang dikonsumsi seperti bahan rendah lemak, sayur, buah-buahan, serta porsi antara karbohidrat, lemak dan proteinnya seimbang. Keempat dan kelima adalah menurunkan kolesterol dan mengukur berat badan serta indeks pinggang dengan panggul. Keenam, menghindari rokok, baik itu menjadi perokok aktif maupun pasif. Ketujuh menghindari alkohol karena kandungannya meningkatkan produksi lemak yang memicudan berisi zat-zat pengganggu fungsi pembuluh darah. “Yang kedelapan dan kesembilan yakni mengenali denyut nadi serta mnejaga gula darah dalam tubuh. Terakhir, yakni penghasilan dan pengetahuan, yakni menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan menyerang stroke,” pungkasnya mengakhiri. (Dev/Wil)
Hasil Magang di Jepang, Mahasiswa UMM Ajari Cara Tanam Stroberi yang Manis

Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah mengirimkan banyak mahasiswanya untuk magang kerja ke berbagai negara, termasuk Jepang. Salah satu mahasiswa yang sudah merasakannya adalah Mehiyar Ramadhan, mahasiswa Jurusan Agribisnis. Ia bahkan berbagi pengalamannya selama tiga tiga bulan di Negeri Sakura. Di sana, ia diajari cara mengelola greenhouse yang baik agar tanaman di dalamnya dapat tumbuh sehat dan menghasilkan produk berkualitas. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah menanam buah stroberi. “Tanaman yang ada di greenhouse tetap harus diberikan pestisida untuk mencegah hama tanaman. Kami juga diajarkan tips rahasi menanam stroberi yanpa haris membeli bibit baru. Bahkan dijamin buahnya terus tumbuh manis seperti direndam air gula,” katanya. Pemuda asli Pontianak itu menjelaskan, tanaman stroberi yang bisa terus tumbuh itu berkat rana (tunas) dari tanaman sebelumnya yang dipindahkan ke dalam polybag kecil. Di dalamnya, berisikan tanah yang dicampur pupuk kandang dan kimia. Selain itu juga pupuk mineral yang berasal dari gilingan tulang ikan, cangkang telur, dan juga cangkang kerang laut yang ditabur di atas tanah. Menurut mehiyar, tanaman buah stroberi perlu dirawat seperti manusia. Misalnya saja perawatannya yang eksklusif sehingga tanamannya bisa merasa nyaman. Setelah berbuah, Mehiyar kini juga tahu cara pengelompokan stroberi berdasarkan kualitas. “Disana kualitas produk itu bisa dilihat dari packaging. Apalagi di Jepang, grade produk termasuk stroberi menjadi aspek penting untuk menaikkan harga jual,” ujarnya. Anak terakhir dari tiga tiga bersaudara itu juga merasa magang di Jepang memberikan banyak manfaat. Meski jauh dari keluarga, ia mendapatkan banyak skill dan ilmu baru yang mungkin tidak bisa ia dapatkan di Indonesia. “Alhamdulillah saya dinilai memberikan kesna positif dan kemungkinan besar akan dipanggil kembali untuk bekerja di negeri sakura setelah lulus,” pungkasnya. Adapun program magang Jepang UMM ini bekerja sama dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) untuk memudahkan penempatan [ara mahasiswa. Khususnya dalam pertanian. Selama tiga bulan, mahasiswa magang akan mendapatkan kesempatan terjun langsung di perkebunan atau sawah. (Ri/Wil)
Pakar Pendidikan UMM Sebut Sistem Zonasi Sekolah Miliki Tujuan Bagus

Pada 2017, muncul kebijakan sistem zonasi untuk proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di berbagai tingkat sekolah. Kebijakan tersebut juga mengubah persyaratan penerimaan calon peserta didik sekolah negeri. Lantas apakah zonasi membawa perubahan positif dalam ruang lingkup pendidikan? Mengenai hal itu, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah malang (UMM) Prof. H. Akhsanul In’am, Ph.D. memberikan penjelasannya. Menurutnya, sistem zonasi memiliki tujuan yang bagus. Yakni agar anak-anak dapat melakukan pembelajaran tanpa adanya unsur pilah-pilah berdasarkan kepintaran yang mereka miliki. Selain itu juga berefek pada pemerataan kualitas guru tanpa melihat popularitas sekolah. Lebih lanjut, ia menegaskan beberapa hal yang harus diperhatikan dari sistem zonasi. Salah satunya yakni para pengajar harus mampu memberikan kuliatas pengajaran yang sama pada setiap sekolah, sehingga para siswa tidak merasakan perbedaan. Menurutnya, setiap sekolah akan memiliki input siswa yang bervariatif. Hal itu akan membuat pengalaman pendidik tidak jauh berbeda. “Mereka harus mengajar dan mendidik siswa yang berbeda beda tingkat kecerdasannya. Para pengajar juga harus mampu memaksimalkan potensi siswa dan mendorong mereka di level terbaik. Hal yang perlu kita pahami adalah, sistem zonasi memiliki dampak positif dan negatif. Maka perlu adanya pengembangan dan perbaikan. Saya rasa, pada dasarnya setiap sekolah memiliki tingkat kualitas pendidikan tak jauh berbeda. Tergantung dari kualitas pengajaran dan pendidikan yang diberikan oleh guru di setiap sekolah terkait,” tambahnya. Meski begitu, sistem zonasi ini tidak luput dari tantangan. Salah satunya tekait jarak sekolah bagi calon siswa. Misalnya saja saat siswa ingin bersekolah di sekolah A meski berbeda zonasi karena lebih dekat dengan rumah. Namun karena kebijakan itu, mereka tidak bisa melakukannya dan malah masuk di sekolah yang jauh dari rumah karena dianggap masih di satu zonasi. Beruntung, masalah ini sudah mendapatkan solusi dengan mengurangi persentasi penerimaan dari sistem zonasi. Yakni paling sedikit 70 persen untuk sekolah dasar (SD), 50 persen untuk sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Sehingga peluang calon siswa untuk bersaing di jalur reguler membesar karena kuotanya bertambah. Kecurangan juga harus mendapat perhatian khusus. Menurut In’am, penitipan calon siswa ke para petinggi yang dilakukan sejumlah oknum harus ditiadakan. Sehingga persaingan sehat antar siswa dalam upaya masuk ke sekolah bisa tumbuh. “Semua sistem yang sudah dibangun ini akan sia-sia jika di dalamnya masih terdapat kecurangan-kecurangan yang merugikan sebelah pihak. Mari ajarkan nilai moral yang sesungguhnya kepada para penerus bangsa,” tegasnya. (Fat/Wil)
Keren, Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Pendeteksi Kualitas Udara

Seperti yang kita ketahui, udara menjadi elemen yang sangat vital bagi makhluk hidup. Kualitas udara yang baik, pasti akan sangat berpengaruh kepada kehidupan makhluk hidup yang sehat. Begitu sebaliknya, kualitas udara yang buruk, juga akan berpengaruh kepada kesehatan kita semua. Maka dari itu, mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan alat pengukur kualitas udara. Menariknya, alat ini mampu memberikan notifikasi ke komputer dan ponsel lewat aplikasi serta email tentang kualitas udara secara realtime. Bahkan mampu mengukur kadar oksigen, karbondioksida, karbon monoksida, ammonium, suhu, serta kelembapan udara secara realtime. Taris Fakhran Hawarai, koordinator tim UMM itu mengungkapkan, alat pengukur kualitas udara ini menggunakan pemrograman fuzzy logic sebagai pemberi keputusan. Dengan begitu, alat bisa memberikan keputusan apakah udara tersebut baik atau tidak. Adapun mereka menggunakan indikiator standar internasional. “Setidaknya terdapat 27 aturan fuzzy yang nantinya akan memproses sensor mq135. Dari situ kita bisa mendeteksi kadar dari karbon monoksida, karbon dioksida, dan ammonium yang terdapat di lokasi. Dilanjutkan dengan memberikan keputusan terkait indeks kualitas udara yang ada, mulai dari taraf baik, sedang, hingga buruk. Kemudian alat tersebut juga memberikan notifikasi pada aplikasi Blink yang ada pada ponsel serta komputer dan juga memberikan pesan via email,” jelasnya. Menariknya, alat itu sudah diuji di berbagai lokasi di Kota Malang, termasuk daerah Sigura-gura. Taris menegeaskan bahwa keakuratan dari alat ciptaannya berada di kisaran 90% dengan membandingkan alat tersebut dengan alat-alat pendeteksi udara yang ada. Sekaligus membandingkan data realtime suhu dan kelembapan udara dari BMKG. “Sejauh ini, tingkat kesalahannya kurang dari 10%. Sementara jika dibandingkan dengan data kelembapan serta suhu di BMKG, hanya memiliki selisih 5% saja,” tambahnya. Lebih lanjut, alat tersebut hanya membutuhkan daya rendah dalam pengoperasiannya. Yakni menggunakan 5 volt atau menggunakan baterai litium untuk menghidupkanya. Biaya produksinya juga cukup terjangkau di kisaran Rp500 ribu rupiah. Nantinya, alat ini akan mereka kembangkan dengan membuat website khusus yang dapat diakses bebas oleh masyarakat umum. Titik penempatan alat juga akan ditambah untuk memperluas jangkauan. (Faq/Wil)
Dosen UMM 11 Tahun Kaji Terorisme, Sebut Ekonomi jadi Salah Satu Alasan Utama

Tak mudah bagi para mantan teroris untuk kembali ke masyarakat. Ada beberapa tantangan yang kerap jadi kendala. Dari sisi sosial, sebagian masyarakat masih memiliki rasa curiga terhadap para mantan teroris. Bahkan beberapa mantan teroris memilih untuk pindah dan tidak pulang ke kampung halaman. Hal itu ditegaskan Gonda Yumitro, SIP. MA. Ph.D. selaku dosen Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, sikap masyarakat memasang jarak dengan mantan teroris ini membuka peluang bagi mereka untuk kembali ke kelompok radikalnya. Apalagi sebagian dari mantan teroris ini awalnya terlibat dengan kelompok radikalisme akibat pergaulan. “Kedua, dari sisi ekonomi. Rata-rata para mantan teroris ini mengalami masalah secara ekonomi. Faktornya macam-macam, termasuk karena pendidikan yang kurang,” ujarnya. Adapun ia memang tengah meneiti terkait model comprehesive collaboration deradikalisasi mantan teroris di Jawa Timur. Utamanya melalui pendekatan sosial ekonomi. Gonda pernah mendengar dari salah satu mantan teroris bahwa ia hanya sempat menempuh sekolah beberapa tahun sebelum masuk penjara. Lalu ketika keluar dari penjara, mereka menyadari bahwasannya terbatas secara ekonomi dan skill. Padahal kehidupan mereka harus tetap berjalan. “Hal itu membuka peluang jaringan teroris aktif untuknya mengajaknya kembali dengan iming-iming bantuan ekonomi,” sambungnya. Di Malang sendiri jejaring teroris menurut Gonda cukup kuat. Bahkan Malang menjadi lokasi yang sangat strategis. Alasannya, Malang dikenal sebagi kota Pendidikan dan para teroris ingin berburu kader. Kedua, Malang dikenal sebagai kota wisata. Kondisi ini memungkinkan para teroris leluasa untuk bergerak dan berkoordinasi karena kontrol sosial masyarakatnya lebih rendah. “Semisal mereka ingin menyewa villa untuk berkoordinasi pun orang akan mengira bahwa mereka hanya ingin berwisata,” katanya. Gonda pun menegaskan bahwa dalam program deradikalisasi atau penetralan pemikiran-pemikian bagi individu yang sudah terpapar radikalisme, dibutuhkan kerjasama semua elemen. Bukan hanya pemerintah dan masyarakat, pendekatan sosial dan ekonomi pun harus diterapkan. “Para mantan teroris ini jangan dilepas begitu saja, sebab mereka paham ideologi teroris serta mengetahui jejaringnya. Secara sosial, harus ada perubahan model dalam memperlakukan mereka, termasuk secara ekonomi. Orang kalau sudah bermasalah dengan ekonomi, maka yang lainnya jadi ikut bermasalah juga. Karena sebagain orang yang membunuh, merampok dan lainnya itu disebabkan oleh faktor ekonomi,” katanya. Urusan teroris tidak sesederhana yang dikira. Banyak masyarakat menganggap mereka sebagai orang yang kasar, suka membunuh dan menghalalkan segala cara dikehidupan nyata. Namun faktanya tidak seperti itu. Mereka melalui proses yang panjang untuk menjadi teroris. Banyak faktor, seperti keluarga, pendidikan, ekonomi, pergaulan, dan faktor lain yang mendasari. “Saya kerap mengundang mantan teroris ke kelas untuk berbagai cerita. Tujuannya agar mahasiswa bisa lebih antisipasi, bahwa ternyata mereka yang menjadi teroris itu awalnya bukan karena kemauan sendiri,” jelas Gonda yang sudah 11 tahun mengkaji terorisme. (Dev/Wil)
Selesaikan Magang, Ketua Peradi Malang Yakin Alumni CoE Asisten Advokat UMM Mumpuni

Berbagai firma hukum merasa terbantu dengan adanya program Center of Excellence (CoE) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hal itu ditegaskan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Advokat Indonesia (DPC Peradi) Malang Iwan Kuswardi, S.H. dalam Lokakarya dan Evaluasi Magang CoE Sekolah Asisten Advokat, 15 Juli lalu. “Para mahasiswa yang dikirim ke puluhan firma hukum di Malang sangat antusias dan cekatan. Dari situ, saya yakin saatmenyelesaikan magang kerja, mereka sudah memiliki bekal yang cukup untuk bersaing nantinya di dunia kerja,” tegasnya. Lebih lanjut, Iwan juga mengapresiasi para peserta CoE yang turut menyelesaikan banyak kasus yang diberikan saat proses magang. Adapun mereka dikirim ke lebih dari 20 kantor hukum di Malang, beberapa kantor hukum di Surabaya, dan juga di Jakarta. Menurut Iwan, CoE Sekolah Asisten Advokat perlu dipertahankan, utamanya dalam menjamin masa depan para mahasiswa hukum. Hal itu tak lepas dari materi yang tidak hanya terdiri dari buku saja, tapi mereka langsung diterjunkan ke berbagai kasus. Bahkan juga diajak ke pengadilan saat menghadapi perkara. “Ada beberapa hal yang memang perlu dievaluasi agar CoE ini bisa dikembangkan dan dijalankan dengan lebih baik lagi. Namun, saya kira hanya ada sedikit saja karena para peserta dan mahasiswa sangat aktif bertanya dan mengimplementasikan teori yang didapat,” katanya menambahkan. Di sisi lain, Dekan Fakultas Hukum UMM Prof. Dr. Tongat, S.H. M.Hum. mengatakan bahwa ia ingin melihat hasil nyata dari mahasiswa yang telah menyelesaikan kelas CoE. Ia tidak ingin program tersebut disia-siakan oleh peserta. Apalagi sebanyak maksimal 40 SKS mata kuliah akan diekuivalensi lewat CoE ini. “Magang CoE ini adalah perantara yang bagus. Utamanya agar mahasiswa dapat melatih dan mempersiapkan diri untuk bekerja dan melanjutkan menjadi seorang advoat. Apalagi UMM juga memiliki Program Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) yang telah bekerja sama dengan Peradi,” ungkapnya. (Ri/Wil)
UMM Gandeng Perusahaan Singapura untuk Kembangan SDGs

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergerak cepat mengembangkan berbagai potensi daerah dan menebar manfaat ke sesama. Terbaru, UMM menggandeng T.S.D Consulting LLP dari Singapura. Keduanya menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada 17 Juli lalu dan merumuskan berbagai program serta terobosan. Founder TSD, Aldrin Tee menjelaskan bahwa pihaknya memiliki misi untuk menyelesaikan berbagai masalah dunia. Termasuk di dalamnya poin-poin sustainable development goals (SDG’s). Namun tidak hanya terbatas pada SDG’s, ia memiliki tiga poin utama lain yakni lingkungan, sosial, dan pemerintahan. “Kami sudah membangun berbagai kerjasama dengan banyak negara. Misalnya saja dengan Filipina, Brazil, India, Taiwan, dan lainnya. Total ada belasan negara dan lebih dari 50 partner di belahan dunia,” jelasnya. Aldrin, begitu ia kerap disapa, menegaskan, dalam kerjasama ini para pihak bisa saling bertukar ilmu dan pengalaman. Salig bekerjasama untuk memberikan dampak positif bagi dunia. Jadi, kolaborasi anatr elemen seperti universitas, pemerintah, dan bahkan juga bisnis komersial akan bisa memberikan dampak besar. Salah satu yang Aldrin sebut adalah komunitas pelindung pohon bakau yang ada di Tuban. Bekerjasama dengan sekolah dan juga sosok Ali Manshur yang sudah berupaya menjadi mangrove dari 30 tahun lalu, mereka membangun komunitas. Rencananya, tidak hanya menumbuhkan komunitas tersebut di Tuban, tapi juga akna dikembangkan di berbagai wilayah. Ia juga menilai bahwa kerjasama dengan UMM menjadi langkah apik. Ada banyak sektor yang bisa dikembangkan. Utamanya dalam upaya menghasilkan program spin off, yakni berbentuk produk dan jasa. “Kebanyakan riset hanya disimpan di perpustakaan dan tidak memberikan dampak signifikan. Maka, kita akan menggaet perusahaan untuk menciptakan produk maupun jasa yang benar-benar nyata. Apalagi dengan adanya Center of Excellence (CoE),” katanya. Di sisi lain, kepala CoE UMM, Prof. Dr. Ir. Damat, MP. IPM. mengatakan bahwa ruang lingkup kerjasama tersebut sangat luas. Salah satu yang bisa dikolaborasikan adalah berbagai kegiatan penelitian dan pengabdian dari UMM. Misalnya saja pengembangan pembangkit listrik tenaga mikro hidro. Selain itu juga aspek agrikultur yang meiputi produktivitas lahan, penggunaan pestisida berlebihan dan seret lainnya. “Tentu ada diskusi lebih lanjut agar bisa merumuskan ide-ide konkret dan bisa langsung diimplementasikan,” pungkasnya mengakhiri. (Wil)