Dudung Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan di UMM: Gen Z Harus Ambil Peran Strategis

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkontribusi untuk Indonesia, termasuk dalam bidang pertahanan. Salah satunya menghadirkan Penasihat Khusus Presiden Indonesia Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. H. Dudung Abdurachman, S.E., M.M. pada 2 Juli lalu. Ia memberikan berbagai pesan bagi mahasiswa, terutama bagaimana anak muda mengambil peran strategis dalam pertahanan bangsa. Dalam paparannya, Dudung menekankan masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda. Gen-Z harus mampu menjadi agen perubahan yang berdaya saing global. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keunggulan teknologi yang dimiliki generasi ini belum tentu membawa dampak positif jika tidak diimbangi dengan karakter kuat, literasi budaya, dan pemikiran kritis. “Saya percaya masa depan Indonesia ada di tangan kalian. Tapi kalau tidak mempersiapkan diri mulai sekarang, Indonesia hanya akan jadi pasar bagi bangsa lain, bukan pemain utama. Internet itu bebas, tapi kalian harus bisa menyaringnya. Jangan hanya jadi pengikut arus—jadilah pembuat arus,” ujarnya. Ia juga menyoroti ancaman internal yang semakin nyata, seperti disinformasi, radikalisme, dan polarisasi sosial. Dudung mengungkap bahwa indeks kerentanan nasional Indonesia tergolong tinggi dan bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan jika generasi mudanya apatis terhadap kondisi sosial-politik. “Bonus demografi tidak menjamin keunggulan bangsa. Kalau kalian hanya cerdas secara akademik tapi lemah secara moral, justru bisa jadi bencana. Jangan hanya bangga dengan gelar, tapi bangun karakter. Jangan hanya pintar, tapi punya prinsip. Bangsa ini tidak dibangun oleh orang yang nyaman, tapi oleh mereka yang rela berjuang dan berkorban,” ungkap Dudung. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa sudah menjadi tradisi UMM untuk mendatangkan tokoh nasional dan internasional demi memberikan wawasan serta inspirasi. Khususnya bagi para mahasiswa yang akan memegang tonggak kepemimpinan masa depan. Adapun kali ini, Kampus Putih mendatangkan penasihat khusus presiden bidang pertahanan. “Selama karirnya, Pak Dudung tentu merasakan banyak pengalaman yang bisa dibagikan kepada para mahasiswa dan kemudian digunakan untuk mengabdi pada masyarakat. UMM senantiasa berjanji untuk dekat dengan masalah-masalah masyarakat dan menjadi pioner dalam memberiakn solusi terbaik,” tegasnya. Selain itu, Nazar juga menegaskan bahwa sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membangun kerjasama dan kolaborasi produktif. Utamanya demi kemaslahatan umat dan bangsa. UMM juga percaya bahwa kolaborasi menjadi simbol untuk menghadapi berbagai masalah. (vin/wil)

Maharesigana UMM Sukses Raih Juara Film Pendek Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengharumkan nama kampus di ajang internasional. Kali ini, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM sukses membawa pulang juara 3 kategori video di ajang U-Dare 1.0 USK Global Award On Disaster Resilience di Universitas Syiah Kuala Malaysia. Kompetisi ini dilaksanakan pada akhir November lalu. Berbekal film berjudul ‘Hijau’, mereka berhasil mengalahkan ratusan peserta lain dari berbagai negara. Fadhilah Azzahra Salsabila, salah satu produser menjelaskan bahwa film itu bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga alam. Apalagi belakangan banyak pohon yang ditebang secara liar dan mengakibatkan bencana banjir dan longsor. Adapun lokasi pengambilan gambar kebanyakan dilakukan di Gunung Bromo. Apalagi saat itu bertepatan dengan terbakarnya lahan Bromo beberapa waktu lalu. Timnya mengambil scene penanaman bibit pohon untuk memperlihatkan proses reboisasi kepada masyarakat. “Selain itu kami juga menampilkan beberapa scene yang memperlihatkan situasi gunung Bromo yang terbakar habis. Dhila, panggilan akrabnya, juga menceritakan bahwa mereka juga mengambil gamabr di salah satu rumah warga. Waktu pengambilan gambar memakan waktu sekitar dua hari dan proses editing selama satu minggu. “Short movie kami berdurasi enam menit. Meski terbilang lancar, tapi kami cukup kesulitan mencari talent utama yakni anak kecil. Namun berkat berbagai koneksi dan kenalan dari Maharesigana, akhirnya ada satu anak yang cocok memerankannya,” kata Dhila. Ia menegaskan, short movie yang mereka produksi cukup berbeda dengan peserta lain. Jika tim lain membuat video yang cenderung sebagai media edukasi, namun Maharesigana membuat film pendek yang memiliki alur cerita namun penuh dengan pesan yang bisa disampaikan. Menurutnya, hal itu mungkin jadi pertimbangan mereka bisa memenangkan penghargaan. Meski harus memeras keringat, namun ia dan tim merasa sangat bangga karena berbagai ilmu yang didapat di Maharesigana bisa disampaikan melalui sebuah film pendek. “Ilmu dan pengalaman yang kami miliki selama menjadi tim maharesigana bisa kami salurkan engan baik di short movie ini. Semoga bisa menjadi meia informatif bagi masyarakat untuk selalu menjaga alam sehingga anak cucu kita bsia menikmatinya juga,” pungkasnya. (ri/wil)

Seberapa Efektif Dakwah Online? Begini Kata Dosen FAI UMM

Di era yang semakin terkoneksi secara digital, berbagai sisi kehidupan mengalami kesesuaian. Tak terkecuali bidang dakwah. Mudahnya koneksi secara virtual, memberikan kesempatan untuk mengikuti kajian dakwah tanpa perlu hadir secara langsung. Bagi generasi milenial dan Z yang mahir teknologi, kajian keagamaan melalui jaringan menjadi jalan dakwah yang cukup efektif. Hal ini disampaikan Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nafik Muthohirin, S.Pd.I., MA. Hum. Hal tersebut dibuktikan dengan munculnya istilah “Ustaz Medsos” yang kerap tampil dengan gaya keren dan juga pembawaan dakwah yang mudah dipahami oleh kalangan muda. “Secara umum, hingga hari ini, dakwah Islam berbasis dalam jaringan sangat efektif menyasar kelompok menengah muslim, yang pada dasarnya pengguna aktif internet terbesar di Indonesia. Selain kehadiran ustaz medsos, kemunculan berbagai komunitas dakwah Islam di dunia maya, seperti One Day One Juz, Shift Pemuda Hijrah, dan fenomena anak muda hijrah lainnya, membuktikan bahwa media online sangat efektif sebagai ruang dakwah,” tambahnya. Meskipun Nafik setuju akan keefektifan dakwah melalui jejaring sosial, namun ia menyampaikan bahwa fenomena ini bukan tanpa tantangan. Menurut Nafik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Termasuk terkait fungsi pedagogis ustaz, kyai, ulama atau guru agama. “Kita bisa mendapatkan pengetahuan agama dari YouTube, Instagram atau berbagai potongan video ceramah yang bertebaran di grup-grup WhatsApp. Tapi sikap keteladanan dan pembentukan karakter dari seorang kyai atau ustaz di pesantren atau madrasah tidak akan kita dapatkan dari media-media tersebut,” tandasnya. Oleh karena itu, menurutnya, kajian Islam yang dilaksanakan secara online tidak bisa dijadikan sebagai pola pembelajaran agama yang utama karena menghilangkan aspek pedagogis tersebut. Selain itu, tidak semua konten dakwah Islam yang tersebar di media sosial memberikan pesan yang mendamaikan. Banyak juga konten dakwah Islam yang sengaja dibuat oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan permusuhan dan kebencian terhadap kelompok maupun agama lain. Bahkan juga mengampanyekan politik identitas, berisikan doktrin terorisme dan radikalisme keagamaan. “Konten maupun dakwah Islam berbasis online merupakan ruang belajar alternatif yang baik. Namun masyarakat masih perlu kedalaman literasi atau belajar dari seorang ahli agama yang otoritatif, misalnya dari ulama-ulama Muhammadiyah atau NU,” tegasnya. Di akhir, Nafik berpesan meskipun seorang ustaz telah popular dan digandrungi masyarakat, namun isi ceramahnya harus ditelaah lebih dalam. “Untuk memastikan hal tersebut seseorang dapat memperdalam melalui literatur keagamaan yang ada,” pungkasnya. (rev/wil)

Pakar UMM Sebut Puasa Media Sosial Jadi Langkah Jitu Atasi Gangguan Mental

Sama pentingnya dengan kesehatan fisik, kesehatan mental juga memiliki peran yang krusial bagi seseorang. Dewasa ini, banyak yang beranggapan bahwa generasi minelial dan Z adalah generasi yang mudah rapuh dan rentan terkena gangguan mental. Melihat fenomena tersebut, Alfiah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A. selaku dosen psikologi UMM ikut angkat bicara. “Hidup ditengah perkembangan zaman yang serba modern ini memang penuh tantangan, namun kita tidak bisa langsung menilai bahwa generasi milenial dan generasi Z adalah generasi yang lemah,” ujar Alifah mengawali. Setiap generasi, menurutnya, memiliki kesulitannya masing masing dalam menjalani hidup. Bagi kaum milenial dan gen Z, hidup dengan kondisi teknologi yang pesat adalah salah satu tantangannya. Mereka kerap dihadapkan pada kehidupan yang seolah-olah nyata, padahal itu hanya dunia maya. Semua sibuk mengunggah pencapaian dan kesuksesannya di media sosial. Tanpa sadar, hal itu membuat mereka sering membandingkan hidup dengan orang lain. Bahkan tak jarang membuat mereka merasa insekyur. Lebih lanjut, Alifah menjabarkan dalam sudut pandang psikologi, kondisi ini akan sangat berbahaya. Bukan tidak mungkin juga mengganggu kesehatan mental. “Kesehatan mental itu erat kaitannya dengan sejahtera atau wellbeing yang turunannya adalah menerima, bersyukur, juga iklas,” ujarnya Karenanya, hal yang paling penting dalam mental health menurut Alifah adalah menerima diri. Memahami  bahwa di dunia, ada beberapa hal yang memang tidak bisa dikontrol. Perlu disadari pula bahwa setiap diri memiliki kemampuan untuk memberikan batasan atas apapun. Demi menjaga kesehatan mental, seseorang berhak menarik diri dan bersikap cuek pada hal-hal yang memang menggangu tujuan hidup. Alifah juga mengingatkan bahwa kesehatan mental adalah kunci bahagia hidup. Menerima diri, kontroling emosi, hidup di lingkungan yang positif, bijak bersosial media dan tidak banyak membandingkan hidup dengan orang lain menjadi ‘keahlian’ yang perlu dikuasai seseorang. “Kalau sudah merasa mental kita rapuh bahkan mengarah ke stres yang berlebihan, cobalah untuk puasa sosial media,” tambahnya. Puasa sosial media merupakan salah satu terapi psikologis yang sudah  teruji dapat mengembalikan semangat serta kekuatan diri seseorang. Puasa media sosial merupakan upaya kongkret dalam menjaga kesehatan mental di tengah perkembangan teknologi. “Dengan berpuasa medsos, kita akan terbiasa untuk lebih bersyukur atas apa yang kita miliki, memiliki waktu untuk refleksi diri, fokus pada orang sekitar yang kita cintai, dan tidak membandingkin hidup dengan orang lain,” tutupnya. (rin/wil)

Maba UMM Ini Sukses Menangi Medali Voli di POMNAS Banjarmasin

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak hentinya memberikan kabar gembira dengan membawa pulang prestasi membanggakan. Kali ini, mahasiswa baru jurusan informatika Fakhri Ziddan Akbar bersama timnya berhasil meraih medali perak pada Cabang Olahraga Voli Pasir Putra dalam ajangPekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XVII Kalimantan Selatan, Kota Banjarmasin November lalu. Ziddan, begitu ia kerap disapa, menjadi salah satu wakil dari Jawa Timur. Ia bercerita, saat karantina timnya berada di satu grup bersama dengan perwakilan DKI Jakarta Sulawesi Utara, dan Banjarmasin. Mereka berhasil lolos dari babak grup dan masuk babak semifinal melawan Sulawesi Selatan. “Alhamdulillah kami bisa sukses mengalahkan mereka. Sayangnya, pada babak final kami harus mengakui keunggulan tim Jawa Tengah. Meski begitu kami, khususnya saya masih bersyukur bisa membawa pulang medali perak,” katanya. Kemenangan itu tidak diraih dengan jalan yang mudah. Ziddan mengatakan bahwa mereka berlatih dengan keras. Hal itu juga didorong motivasinya untuk bisa membuktikan bahwa timnya bisa mengalahkan berbagai tim lain yang lebih kuat. “Berlari lebih dari empat kilo setiap hari kemudian dilanjutkan dengan bermain voli di pinggir pantai menjadi rutinintas yang harus kami jalani setiap hari. Ditambah lagi dengan latihan fisik yang menguras tenaga,” ujar Ziddan. Sebenarnya, latihan yang ia jalani tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukannya bersama atlet-atlet di UMM. Apalagi Kampus Putih juga senantiasa memberikan berbagai dukungan untuk pengembangan potensi dan minat mahasiswanya. Selain itu, makanan yang ia konsumsi saat persiapan harus dijaga dengan baik. Maka dari itu, selama karantina mereka dilarang memakan makanan tinggi minyak dan gula. Hal itu tak lepas dari efeknya yang bisa mengganggu performa atlet. Adapun voli juga bukan dunia yang baru bagi Ziddan. Apalagi mengingat ayahnya adalah atlet voli veteran di Jawa Timur. Ayahnya pula yang menjadi pendukung dan inspirasi paling besar baginya. “Ayah memberikan support yang luar biasa bagi saya dan bisa mengantarkan saya hingga titik ini. Saya ingin mengikuti jejaknya dan tekad ini sudah saya simpan sejak duduk di bangku SMP. Semoga akan ada banyak juara lain yang bisa saya raih di berbagai kompetisi, baik regional, nasional, bahkan juga internasional,” pungkasnya mengakhiri. (ri/wil)

PPG UMM Luluskan 468 Guru, Siapkan Hadapi Era Society 5.0.

Awal Desember ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kukuhkan 468 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG). Menariknya, para mahasiswa PPG yang hadir merupakan pemuda-pemudi dari berbagai daerah seperti seperti Jawa Timur, Papua, Sulawesi, Sumatera, Nusa tenggara, dan daerah-daerah lain di Indonesia. Turut hadir Direktur dan Tenaga Kependidikan Madrasah Direktorat jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Dr. Muhammad Zain, S.Ag., M.Ag. Dalam sambutannya, ia memberikan selamat kepada mahasiswa lulusan PPG dalam jabatan bagi guru madrasah mata pelajaran umum. Ia menegaskan bahwa sebagai seorang tenaga pendidik, mereka harus memiliki totalitas dalam mengajar. “Maksudnya, guru harus memberikan pendidikan yang terbaik dan mampu mencetak generasi yang mampu menghadapi perubahan,” tambahnya. Menurutnya, nantinya tenaga pendidik harus dapat mengkolaborasikan antara manusia dan kecerdasan buatan (AI). Apalagi mengingat bahwa dunia saat ini menginginkan kemampuan seseorang dalam menggunakan kecanggihan teknologi. Era ini disebut dengan era society 5.0. Zain mengatakan, anak-anak usia dini kini sudah tersentuh dengan berbagai kecanggihan sehingga bisa dengan mudah mengakses miliaran informasi. Jika anak-anak didik tidak diarahkan dengan baik, maka kemungkinan besar mereka akan terjebak di hal-hal negatif. Psikis mereka juga terganggu dan akhirnya melahirkan aksi-aksi perundungan, pelecehan, dan lain sebagainya. Oleh karenanya, Zain menyarankan bahwa teknologi seperti kecerdasaan buatan harus sedini mungkin dipahami oleh setiap individu guru. Hal ini juga dapat dikolaborasikan sebagai bahan ajar yang asyik di kelas. Apalagi dalam pembelajaran, seorang guru memang harus menghadirkan cinta agar dapat membangkitkan hipokampus pada otak, yang berperan untuk menghubungkan emosi ke dalam ingatan. “Ketika murid merasa bahagia, bagian kecil dalam otak yang disebut hipokampus akan aktif dan memudahkan anak untuk mengingat pelajarannya,” sebutnya. Di sisi lain, Sekretaris Panitia Nasional Kemenag RI Dr. H. Mustofa Fahmi, S.Pd., M.Ed. mengajak seluruh lulusan PPG UMM untuk terus istiqomah dalam memebrikan layanan pendidikan terbaik bagi anak bangsa. “UMM ini sejak 2018 sudah istiqomah mencetak lulusan PPG sebanyak lebih dari 2000 orang. Hal ini juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya,” katanya. Ia berharap, para lulusan bisa memanfaatkan ilmunya di berbagai daerah dan mampu memperlihatkan sikap responsif akan perubahan yang ada. Ia menegaskan bahwa alumni PPG UMM memang dikenal sebagai guru yang memiliki profesionalitas, etos kerja tinggi, semangat, dan komitmen di manapun ia bekerja. (tri/wil)

Teliti Obat untuk Udang, Mahasiswa UMM Menangi Dua Medali Pimnas

Kabar membanggakan kembali hadir. Kali ini tim perwakilan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) rebut kemenangan dalam dua kategori sekaligus di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-36 di Bandung. Pada ajang yang dilaksanakan awal Desember itu, Tim tersebut sukses meraih medali emas kategori poster terbaik serta medali perunggu kategori presentasi program kreativitas mahasiswa riset eksakta (PKM-RE). Lely Ayu Puspandari selaku ketua tim sangat bangga dan bahagia atas prestasi yang timnya menangkan. Mereka mengangkat tema Potensi Bakteriofage Hepatopankreas dan Serasah Mangrove sebagai Inovasi Teknologi Kontrol Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease Penyebab Kematian Total Litopenaeus Vannamei. Latar belakang dilipihnya tema itu karena mereka melihat adanya penurunan jumlah produksi udang vaname beberapa tahun ke belekang. Salah satu alasan terbesarnya yakni penyalim AHPND yang terjadi di tambak udang. Padahal udang merupakan ekspor andalan Indonesia. “Pencegahan penyakit ini masih belum efektif. Sehingga kami menawarkan solusi lewat penelitian kami ini,” jelas Ayu. Terkait persiapan, mahasiswi akuakultur itu menjelaskan, timnya sudah melakukan persiapan yang matang sejak jauh-jauh hari. Termasuk berlatih presenstasi dan membuat desain poster yang menarik dan informatif. Ia merasa beruntung karena Kampus Putih UMM memebrikan dukungan penuh bagi mahasiswa yang lolos Pimnas. Baik dari aspek materiil maupun non materiil. “Bisa dibilang, persiapan kami cukup singkat namun kami memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Untungnya Biru kemahasiswa UMM menyediakan beragam kebutuhan sejak sebelum, saat, hingga pasca mengikuti rangkaian acara Pimnas. Kami juga berterimakasih pada Bapak Soni Andriawan yang membimbing kami dengan sabar dan juga atas arahan yang bagus,” ungkapnya. Terakhir, ia berpesan pada seluruh anak-anak muda, termasuk mahasiswa UMM, untuk terus menelurkna inovasi. Terutama penemuan-penemuan yang bisa memajukan dan membangun negeri. Menurutnya, tidak perlu ragu dan takut menunjukkan minat serta bakat yang dimiliki. “Apalagi UMM senantiasa memberikan wadah terbaik bagi mahasiswanya. Ada puluhan bahwan ratusan kegiatan yang bisa diikuti,” pungkasnya. Ayu tidak sendiri meraih kemenangan itu. Ia ditemani Ike Trisdayanti dan Thesa Lonicha Kitvirul A’ini dari prodi Akuakultur Salsabila Roihanah dari prodi Pendidikan Biologi. (*faq/wil)

Kepiting Halal atau Haram Dikonsumsi? Begini Kata Dosen FAI UMM

Kepiting, makanan laut yang lezat, telah lama menjadi incaran para pencinta kuliner di berbagai belahan dunia. Namun, bagi umat Islam, selain cita rasa yang lezat, ada pertimbangan yang lebih dalam terkait dengan hukum memakan kepiting. Lalu apakah konsumsi kepiting termasuk dalam ranah halal atau tidak? Jamal, S.HI., M.Sy., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang mengatakan bahwa tidak ada dalil pasti yang mengatur terkait hukum membunuh serta mengonsumsi kepiting tersebut. Perbedaan pendapat mengenai kehalalan mengonsumsi kepiting timbul karena bunyi hadis Nabi Muhammad SAW mengenai keharaman membunuh katak. Sebagian ulama mengambil kesimpulan bahwa keharaman membunuh katak dikarenakan ia hidup dalam dua alam. “Nah berangkat dari kesimpulan tersebut, sebagian ulama berpendapat bahwa hewan yang hidup dalam dua alam dilarang untuk dibunuh sehingga secara tidak langsung pun dilarang untuk di konsumsi. Tapi yang perlu diingat bahwa sebenarnya seluruh makanan itu halal asalkan terdapat dalil yang mengharamkan nya,“ ujar dosen yang akrab disapa Jamal tersebut. Menurutnya, Allah SWT pun telah menjelaskan dengan gamblang mengenai kriteria hewan yang haram untuk di konsumsi. Diantaranya yakni bangkai hewan, darah, daging yang disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT, hewan bertaring dan ada beberapa hadis yang mengharamkan mengkonsumsi hewan yang memakan kotorannya sendiri. Beberapa kriteria tersebutlah yang harus diperhatikan sebelum mengkonsumsi daging hewan. “Mengenai kepiting itu sendiri, hasil daripada istinbath hukum menyatakan halal untuk dikonsumsi. Pernyataan tersebut berdasar pada hadis Rasulullah yang berbunyi, ‘ Telah dihalalkan bagi kamu dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dua darah itu adalah hati dan limpa’ Hadis Riwayat Ibnu Majah No. 3314. Nah, karena kepiting termasuk hewan laut maka ia dihalalkan untuk di konsumsi,” ungkapnya. Terakhir, Jamal menegaskan, meskipun kepiting halal di makan bukan berarti seseorang akan berlaku semena-mena dan berlebihan sehingga tidak memperhatikan aturan lainnya. Seseorang tetap perlu memperhatikan manfaat dari mengonsumsi makanan tersebut dan sangat menekankan agar tidak berlebihan. “Karna sesuatu yang berlebihan itu justru yang tidak baik dan tidak diperbolehkan,” pungkasnya. (rev/wil)

Belum Setahun Berdiri, Pojok Statistik UMM Raih Penghargaan dari BPS Nasional

Meski belum genap setahun berdiri, Pojok Statistik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mendulang prestasi di level nasional. Berkat kontribusi dan keaktifannya, Pojok Statistik UMM mendapatkan penghargaan bergengsi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional, 4 Desember 2023. Adapun penghargaan itu langsung diterima oleh Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. di Jakarta. Tim Pojok Statistik UMM Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto, SE., ME. menjelaskan, ada beberapa kategori yang dilombakan dalam ajang tersebut. Kampus Putih UMM berhasil memberikan impresi baik dan mengalahkan 108 pojok statistik se-Indonesia. Semua itu berkat beragam kegiatan, aktivitas dan keterlibatan mahasiswa di setiap prosesnya. “Kami memang aktif melibatkan survey dan mendiseminasikan hasilnya. Berbagai data dikumpulkan para mahasiswa yang terlibat kemudian dibuat poster. Hingga akhirnya kami unggah di web pojok statistik. Kami sangat bangga pula karena melihat kenyataan bahwa meski pojok statistik UMM belum setahun berdiri, tapi kiprahnya sudah diapresiasi,” tambahnya. Yudi, begitu ia kerap disapa, melanjutkan bahwa aktivitas pojok statistik terinspirasi sistem Center of Excellence (CoE) yang sudah dijalankan UMM. Para mahasiswa disebar dan diminta turut aktif di BPS maupun survey-survey. Salah satunya survey terkait potensi desa dana memberikan rekomendasi apa saja potensi produk yang bisa dikemangkan di desa-desa terkait. Kegiatan ini, kata Yudi, juga menjadi embrio untuk mendirikan CoE baru di prodi Ekonomi Pembangunan (EP). “Satu dari sekian potensi desa yang menarik adalah potensi pengembangan anggrek di salah satu desa di Kota Batu. Kemudian nanti bisa ditindaklanjuti melalui pelatihan pengembangan produk hingga proses pemasaran,” katanya. Terakhir, Dosen EP itu berharap Pojok Statistik UMM bisa kembali meraih penghargaan di tahun depan. Apalagi dengan komitmennya untuk mengoptimalkan program satu data dan terintegrasi. Begitupun dengan jangkauannya yang semakin meluar ke berbagai daerah lain. Sementara itu, Direktur Diseminasi Statistik BPS Dwi Retno Wilujeng W.U. mengatakan, ada lebih dari 600 tamu yang hadir dan meramaikan malam penghargaan itu. Mulai dari pihak kementerian, lembaga, pemerintah daerah, akademisi, pengusaha, hingga para awak media. Menurutnya, agenda seperti ini diharapkan bisa meningkatkan koordinasi dan kerjasama BPS dengan berbagai pihak yang ada. Terutama dalam upaya penyediaan dan pemanfaatan data untuk membangun negeri bersama. (*wil)

Dosen HI UMM: Perlu Kajian Menyeluruh sebelum Membangun Smelter di Papua

Wacana pendirian smelter atau industri pemurnian hasil olahan PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan terus berdengung. Havidz Ageng Prakoso, S.IP., M.A. selaku Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyampaikan, meski digadang-gadang menjadi salah satu jalan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya, pembangunan smelter ini juga perlu diimbangi beberapa pemahaman. Salah satunya adalah kesadaran akan efek yang akan muncul. “Kesadaran terkait aktivitas pertambangan dari hulu sampai hilir akan selalu meninggalkan sisi positif dan negatif, tergantung perspektif masing-masing terkait ini. Hal tersebut harus dikaji secara menyeluruh ,” ujarnya. Ageng menjelaskan bahwa ada berbagai manfaat yang akan didapatkan jika smelter Papua ini terealisasi. Salah satunya sebagai kompensasi pemerintah pusat terhadap ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah, serta meminimalisir isu ketidakmerataan. Sejak berdirinya Indonesia sebagai negara kesatuan, ini menjadi isu yang cukup sentral bahkan menjadi isu internasional yang dibawa oleh para aktivis.  “Disinilah peran pemerintah dipertaruhkan dalam mengakomodir keinginan, kebutuhan dan tuntutan dari masyarakat Papua dan Papua Barat. Meskipun tentu akan selalu menimbulkan pro kontra dari berbagai pihak,” tambahnya. Ageng menambahkan, dalam perpektif global, wacana pembangunan smelter ini memiliki kesesuaian dengan program Sustainable Development Goals (SDG’s). Utamanya jika dinilai dari beberapa nilai yang sejalan, seperti pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, inovasi dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan, serta kemitraan untuk mencapai tujuan. Proses panjang tuntutan pembangunan smelter di Papua telah dikaji secara intensif. Pada tahun 2021 lalu menjadi tahap awal sinyal positif terhadap rencana pembangunan smelter di wilayah Papua. Pemerintah pusat telah merumuskan perencanaan pembangunan antar stakeholder, baik dari PTFI maupun dengan BUMN. “Saya yakin dalam setiap pembangunan yang dilakukan pemerintah selalu memiliki banyak pertimbangan atas apa yang akan terjadi kedepannya. Semoga saja pembangunan smelter Papua mampu memberikan kontribusi yang positif, tidak hanya bagi pemerintah tetapi juga bagi masyarakat lokal. Apalagi mereka yang berhadapan dan merasakan langsugn aktivitas smelter. Harapannya, langkah ini mampu meminimalisir konflik yang terjadi. Baik konflik horizontal maupun vertical serta konflik terhadap lingkungan,” pungkasnya. (*wil)