Industripreneur Fest 2025

Bazar ini akan menampilkan produk makanan & minuman hasil kreasi Mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM Hari/ Tanggal : Rabu, 25 Juni 2025 Waktu : 08.00 – 16.00 WIB Tempat : Area Parkir Kantin Teknik GKB III UMM Yuk mampir ke booth Industri, temui banyak inovasi dan kreasi handmade Mahasiswa UMM !!!

Undangan Mahasiswa PMM Semester Ganjil

PELEPASAN KKN BERDAMPAK “Membangun Masyarakat Melalui KKN Berdaya Mewujudkan Kampus Berdampak” WAJIB HADIR Hari / Tanggal : Senin, 21 Juli 2025 Waktu : 07.00 WIB Tempat : Helipad UMM Dresscode : Berkaos putih, jaket PMM/KKN, Berkerudung putih, dan bawahan gelap   WAJIB HADIR GLADI BERSIH Hari / Tanggal : Minggu, 20 Juli 2025 Waktu : 15.00 WIB Tempat : Helipad UMM Dresscode : Berkaos putih, jaket PMM/KKN, Berkerudung putih, dan bawahan gelap

Kemdiktisaintek : Pusat Riset Unggulan Sawit UMM Harus Perkuat Indentitas di Indonesia di Kancah Global

SAWITKU-Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Khairul Munadi, memberikan apresiasi terhadap langkah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam mendirikan Pusat Riset Unggulan atau Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit. Dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, Khairul menyebutkan bahwa ini adalah langkah strategis dalam mendukung ekonomi hijau yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa transformasi pendidikan tinggi harus berfokus pada dampak nyata bagi pembangunan bangsa, termasuk melalui sinergi antara akademisi dan industri. CoE Kelapa Sawit UMM adalah contoh konkret kolaborasi yang berkontribusi antara akademisi dan industri. “Program ini sejalan dengan misi AstaCita untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi melalui penguatan riset, inovasi, dan tata kelola yang berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan,” ujarnya. Khairul juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai penggerak transformasi sosial-ekologis dan ekonomi, yang mengedepankan integritas akademik serta pemanfaatan teknologi. Menurutnya, kelapa sawit adalah simbol eksistensi Indonesia dalam percaturan ekonomi dan politik global. Oleh karena itu, kolaborasi antara berbagai pihak sangat penting untuk memastikan identitas tersebut memberikan dampak positif bagi bangsa dan dunia internasional. “CoE ini tidak hanya menjawab kebutuhan industri, tetapi juga memperkuat identitas sawit Indonesia di kancah global,” tambah Khairul. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa CoE Kelapa Sawit merupakan bagian dari program UMM PASTI (Pasti Lulus, Pasti Bekerja, Pasti Mandiri) yang bertujuan memastikan mahasiswa menguasai teori dan praktik secara seimbang. “Program CoE Kelapa Sawit hadir untuk menjembatani kesenjangan antara industri dan pendidikan tinggi. Inisiatif ini murni lahir dari kebutuhan industri, memastikan kolaborasi yang lebih erat dan berkelanjutan,” ungkapnya. Program CoE Kelapa Sawit UMM dirancang bekerja sama dengan dunia industri, untuk membekali mahasiswa di bidang agroteknologi, teknologi pangan, dan teknik industri dengan kompetensi teknis, manajerial, serta pemahaman tentang regulasi terkini di sektor kelapa sawit.*** Sumber: https://www.sawitku.id/sawitku/81414705780/kemdiktisaintek-pusat-riset-unggulan-sawit-umm-harus-perkuat-indentitas-di-indonesia

Jenderal Dudung Ajak Mahasiswa UMM Sambut Bonus Demografi 2045

Malang (beritajatim.com) – Ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memadati UMM Dome pada Rabu (2/7/2025) dalam gelaran Studium Generale bersama Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. H. Dudung Abdurachman, S.E., M.M., Penasihat Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Pertahanan Nasional. Jenderal Dudung menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya nasionalisme, kesiapan menghadapi bonus demografi 2045, dan menjaga persatuan bangsa. Menurut Jenderal Dudung, Presiden RI Bapak Prabowo Subianto menaruh harapan besar kepada generasi muda sebagai penggerak utama pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, sejak dini, generasi muda Indonesia telah mulai dibekali berbagai program, termasuk pemenuhan gizi, demi mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. “Bonus demografi 2045 hanya akan menjadi anugerah jika kita berhasil mencetak SDM yang potensial, mumpuni, berkarakter, dan memiliki kredibilitas. Jika tidak, justru akan menjadi bencana. Akan banyak pengangguran, ketimpangan, bahkan potensi konflik,” ujarnya di hadapan peserta. Jenderal Dudung juga menekankan bahwa perjuangan untuk meraih kemerdekaan Indonesia tidak mudah. Ia mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak melupakan sejarah dan jasa para pendiri bangsa. “Negara ini tidak dibangun dalam semalam. Ada darah, air mata, dan semangat nasionalisme yang tak tergantikan. Karena itu, kita semua harus menjaga idealisme dan rasa cinta tanah air. Indonesia adalah bangsa besar yang harus kita jaga bersama,” katanya, penuh semangat. Mengambil contoh dari sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika seperti Irak, Iran, Libya, Mesir, Yaman, hingga Afghanistan, Dudung mengingatkan betapa perpecahan bisa terjadi hanya karena perbedaan kecil, bahkan antar aliran dalam satu agama. Di tengah keragaman Indonesia yang luar biasa, dengan lebih dari 17 ribu pulau, enam agama resmi, dan ribuan suku serta budaya, bangsa Indonesia dinilai sangat rentan terpecah jika tidak berpegang pada nilai-nilai Pancasila. “Pancasila adalah kunci kita. Ia menyatukan perbedaan yang sangat besar. Jangan sampai karena kepentingan golongan, kelompok, atau individu, persatuan kita tergoyahkan,” tegas mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat tersebut. Dalam konteks itu, generasi muda diminta untuk tidak menjadi rumput yang mudah goyah diterpa angin. Sebaliknya, mereka harus menjadi tonggak kebangsaan, pemersatu, dan penjaga keharmonisan bangsa ke depan. Saat pembukaan, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa kuliah umum ini merupakan bagian penting dalam membekali mahasiswa. Mahasiswa UMM harus punya bekal kebangsaan dan daya juang, selain juga bekal ilmu. “Inspirasi, semangat, dan keteladanan seperti yang ditunjukkan oleh Bapak Jenderal Dudung adalah bekal berharga bagi kita semua dalam menyongsong masa depan. Di UMM, kami meyakini bahwa bangsa besar lahir dari kerja sama dan kolaborasi produktif untuk kemaslahatan umat, terutama bangsa Indonesia,” ujar Nazaruddin. Foto BeritaJatim.com Ia menambahkan bahwa UMM berkomitmen untuk selalu hadir di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa. Menurutnya, mahasiswa UMM dididik untuk menjadi pionir perubahan dengan landasan nilai Islam, kebangsaan, dan keilmuan. “Kampus ini punya visi yang jelas: dari Muhammadiyah untuk bangsa. Mahasiswa hari ini adalah pemimpin esok. Karena itu, setiap pertemuan seperti ini adalah bagian dari proses pembentukan karakter pemimpin masa depan Indonesia,” tambahnya. Mengakhiri kuliah umum, seluruh sivitas akademika UMM memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih setinggi-tingginya kepada Jenderal Dudung atas kesediaannya berbagi inspirasi dan pengalaman hidup. Harapannya, nilai nasionalisme yang dibawa dalam kuliah umum menjadi bekal bagi mahasiswa UMM. “Semoga ini menjadi amal baik bagi Bapak Jenderal Dudung dan memberi semangat baru bagi kita semua untuk menatap masa depan Indonesia dengan lebih optimis,” tutup Rektor UMM. (dan) Sumber: https://beritajatim.com/jenderal-dudung-ajak-mahasiswa-umm-sambut-bonus-demografi-2045

Pemisahan Antara Pemilu Nasional dan Lokal, Begini Tanggapan Dosen UMM

PWMU.CO – Pemisahan antara pemilu nasional dan lokal dinilai sebagai manuver besar yang bisa memperkuat demokrasi lokal. Namun sekaligus hasil putusan Mahkamah Konstitusi ini membuka risiko konstitusional dan ketidakefektifan tata kelola politik. Kebijakan ini bukan hanya soal pemisahan jadwal, tetapi menyangkut struktur kekuasaan, arah kebijakan, dan kepercayaan publik terhadap sistem politik. Menurut dosen senior PPKn Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Nurul Zuriah MSi, pemisahan ini memang bisa menciptakan ruang kontestasi yang lebih sehat. Isu-isu lokal tidak akan lagi tertutup oleh dominasi narasi nasional. Pemilih juga dapat lebih fokus pada rekam jejak dan kapabilitas kandidat di tingkat daerah. Namun, ia menilai bahwa dampaknya terhadap stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan tidak bisa dianggap remeh. Tanpa sinergi antara caleg pusat dan daerah, partai politik harus bekerja dua kali lebih keras dan mahal untuk menggalang dukungan publik. “Koalisi antara pusat dan daerah bisa tidak sejalan. Ini membuka ruang disharmoni kebijakan, yang berisiko memecah arah pembangunan nasional dan daerah,” jelasnya. Beban anggaran politik juga akan membengkak. Dua siklus pemilu berarti dua kali kampanye, dua kali logistik, dan dua kali pengamanan. Meskipun beban teknis penyelenggara seperti KPU dan Bawaslu lebih ringan, masyarakat bisa mengalami kejenuhan politik karena terlalu sering dimobilisasi. Permasalahan paling mengkhawatirkan adalah persoalan konstitusional. UUD 1945 menyebut pemilu dilakukan setiap lima tahun. Sementara putusan Mahkamah Konstitusi memberi jeda antara pemilu nasional dan lokal hingga 2,5 tahun. Ini menimbulkan ketimpangan masa jabatan dan berpotensi menyebabkan kekosongan jabatan legislatif maupun eksekutif. “Kalau tidak diantisipasi, bisa terjadi pelanggaran konstitusi. DPRD bisa menjabat melebihi lima tahun, atau malah terjadi kekosongan tanpa mekanisme pengganti,” ujarnya. Oleh karena itu, diperlukan rekayasa konstitusional berupa revisi undang-undang atau amendemen terbatas untuk menutup celah hukum ini. Pemerintah juga harus segera menyusun regulasi transisi yang tegas dan implementatif, bukan sekadar administratif. Jika dijalankan dengan sistematis, pemisahan ini bisa meningkatkan kualitas kaderisasi dan representasi politik. Partai punya waktu lebih panjang menyiapkan kandidat terbaik, dan kandidat lokal bisa bersinar tanpa ‘menumpang tenar’ pada popularitas pusat. Namun, Nurul menekankan bahwa semua itu hanya bisa tercapai kalau masyarakat aktif, kritis, dan tidak lagi hanya ikut arus. “Pemilu harus jadi alat perbaikan kehidupan masyarakat, bukan sekadar agenda politik lima tahunan,” pungkasnya. Dengan demikian, pemisahan pemilu nasional dan lokal memerlukan perencanaan yang matang dan implementasi yang efektif untuk menghindari risiko konstitusional dan meningkatkan kualitas demokrasi. (*) Sumber: https://pwmu.co/436845/07/16/pemisahan-antara-pemilu-nasional-dan-lokal-begini-tanggapan-dosen-umm/

Tim Maharesigana UMM Juara 2 Lomba LDP Tingkat Nasional di Jambore Relawan Muhammadiyah-Aisyiyah 2025

Malanginspirasi.com – Tim relawan Maharesigana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih Juara 2 dalam Lomba Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Tingkat Nasional. Kompetisi yang digelar sebagai bagian dari Jambore Relawan Nasional Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-3 ini berlangsung pada 26–29 Juni 2025 di Karanganyar, Jawa Tengah. Lomba ini menjadi ajang pembuktian kapasitas relawan muda dalam memberikan pelayanan psikososial yang responsif, empatik, dan berbasis kebutuhan penyintas bencana. Dalam pelaksanaannya, tim LDP Maharesigana UMM yang beranggotakan 3 orang. Ketiganya adalah Rahma Aldina Rafina Putri, Fadlila Risang Maulana, dan Fadhila Azzahra. Mereka menyajikan rancangan program layanan psikososial yang kontekstual dan tepat sasaran. Program tersebut meliputi asesmen cepat, intervensi psikososial awal, serta pendampingan kelompok rentan secara kreatif dan profesional. Rahma Aldina, selaku Koordinator Tim Lomba LDP sekaligus Ketua Kontingen Maharesigana UMM, menyampaikan rasa bangga atas pencapaian timnya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama dan komitmen seluruh anggota tim yang telah mempersiapkan diri dengan serius. “Kami sangat bersyukur dan bangga atas pencapaian ini. Namun, lebih dari sekadar lomba, Jambore ini adalah ruang belajar bersama. Bukan sekadar ajang bersaing, tetapi juga momentum untuk saling bertukar ilmu dan memperkuat kolaborasi dalam penanganan kebencanaan, terutama di sektor layanan dukungan psikososial,” ujar Rahma. Tim LDP Maharesigana UMM menunjukkan skema program yang telah disusun di Lomba LDP Tingkat Nasional di Jambore Relawan Muhammadiyah-Aisyiyah 2025. Sementara itu, Indra Ferry, selaku Pembina Maharesigana UMM, turut memberikan apresiasi dan menyoroti pentingnya dukungan kelembagaan dalam mengembangkan potensi relawan mahasiswa. “Capaian ini adalah bukti nyata bahwa mahasiswa mampu berkontribusi secara profesional dalam isu-isu kemanusiaan, khususnya layanan psikososial. Kami dari pembina tentu akan terus mendorong dan mendampingi Maharesigana UMM agar menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana yang inklusif dan berkelanjutan,” ungkapnya. Apresiasi juga disampaikan Wakil Ketua MDMC/Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Indrayanto. Ia menilai peran mahasiswa relawan sangat penting dalam penguatan sistem kebencanaan Muhammadiyah. “Kelompok mahasiswa relawan yang ada di Universitas Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ini menjadi kekuatan yang strategis dalam proses membangun pengurangan risiko bencana, kesiapsiagaan, dan penanganan darurat bencana,” ujarnya. Pencapaian ini menjadi motivasi bagi Maharesigana UMM untuk terus meningkatkan kapasitas dan kontribusinya. Juga komitmen dalam mencetak relawan tangguh dan berdaya baik di tingkat lokal maupun nasional.

UMM Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Olimpiade Sains Nasional 2025

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional (OSN) jenjang SMA tahun 2025. Ajang bergengsi tingkat nasional ini diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).   Kepala Puspresnas, Dr Maria Veronica Irene Herdjiono MSi, menyampaikan bahwa pemilihan Kota Malang dan UMM sebagai lokasi pelaksanaan OSN telah melalui proses seleksi yang ketat dengan mempertimbangkan aspek teknis dan substansial. “Dari sisi akomodasi, transportasi, dan kelengkapan kota, Malang dianggap ideal untuk menunjang kegiatan nasional seperti OSN. Selain itu, kota ini juga memiliki atmosfer pendidikan yang kuat,” ujarnya, Rabu (16/7/2025). Tahun ini, Puspresnas menggelar 17 ajang prestasi nasional, lima di antaranya secara luring, termasuk OSN. UMM dipilih sebagai lokasi utama OSN setelah melalui seleksi terbuka yang mempertimbangkan kesiapan institusi dan daya dukung kampus. “UMM menjadi salah satu universitas yang paling responsif dan siap menyelenggarakan acara ini secara menyeluruh. Potensi serta kesiapan mereka sangat besar,” jelas Maria. Ia menambahkan, UMM aktif dalam pengembangan talenta pelajar dari berbagai jenjang, serta berkontribusi besar dalam penyediaan sarana-prasarana, publikasi, hingga tim panitia yang solid. “Kontribusi UMM sangat berarti, termasuk dalam urusan teknis dan promosi kegiatan. Keterlibatan aktif ini menjadi indikator utama keberhasilan penyelenggaraan OSN nanti,” ucapnya. OSN jenjang SMA 2025 akan menguji siswa dalam sembilan mata pelajaran strategis: kimia, fisika, matematika, biologi, informatika, astronomi, ekonomi, geografi, dan kebumian. Maria menyatakan, bidang-bidang ini menjadi fondasi penting bagi peningkatan daya saing sains dan teknologi Indonesia di tingkat global. “OSN bukan sekadar ajang kompetisi, tapi batu loncatan menuju kancah internasional. Tahun ini, Indonesia berhasil meraih dua medali perak dan dua perunggu di International Chemistry Olympiad (IChO),” tambahnya. Terkait jumlah peserta, OSN 2025 akan diikuti lebih dari 540 siswa dari seluruh provinsi di Indonesia, didampingi oleh 38 ketua kontingen. “Jumlah ini masih bisa bertambah tergantung dinamika dan kesiapan daerah. Namun sejauh ini, 540 peserta sudah terkonfirmasi,” jelas Maria. Seluruh peserta akan difasilitasi secara maksimal selama berada di Malang, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga aspek keamanan. Maria menutup pernyataannya dengan harapan besar terhadap pelaksanaan OSN di UMM. “Kami berharap ajang ini tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga memberikan dampak nyata dalam pengembangan potensi dan karakter anak bangsa,” pungkasnya.

Batas Akhir Pembayaran DPP UAS Semester Genap 2025

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry’s standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.