UMM Hadirkan 233 Peneliti, Produk Riset Bisa Pecahkan Persoalan Masyarakat

BANYAKNYA produk riset dari dosen maupun mahasiswa yang belum terimplementasi di masyarakat membuat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinisiatif menggelar Seminar Nasional dan Gelar Produk (SenasPro) 2017 dengan tema “Festival Kebangsaan: Inovasi-Hilirisasi Hasil Riset dan Pengabdian Masyarakat Menuju Indonesia Berkemajuan” pada 17-18 Oktober 2017. “Perguruan tinggi adalah gudangnya para ilmuan yang setiap tahun membuat penelitian, salah satu hasilnya adalah produk riset. Namun realitanya, belum banyak produk-produk riset tersebut yang dapat terimplementasi secara fungsional di masyarakat,” paparnya pada pembukaan SenasPro 2017, Selasa (17/10) di UMM Dome. Padahal kenyataanya, lanjut Fauzan, banyak sekali masalah mendasar yang belum dapat diselesaikan secara mandiri oleh masyarakat. Fauzan juga menghimbau setiap perguruan tinggi harus ikut ambil bagian memecahkan berbagai persoalan di masyarakat. “Kami ingin, setiap perguruan tinggi harus mengambil peran sebagai problem solver di masyarakat,” tambahnya. Kegiatan SenasPro diikuti 233 peneliti dan pengabdi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Juga menyajikan 40 stan gelar produk usaha mikro kecil menengah (UMKM), termasuk milik mahasiswa UMM dan Universitas Ma Chung, serta dihadiri 47 perusahaan yang langsung meninjau stan-stan produk riset dan UMKM tersebut. Seremoni pembukaan juga turut dihadiri oleh ketua komunitas Indonesia Tionghoa (INTI) Agus Endra dan Rektor Universitas Ma Chung Dr Chatief Kunjaya MSc di mana kedua lembaga tersebut merupakan mitra kerjasama dalam kegiatan ini. Ketua Pelaksana SenasPro 2017, Ir M Irfan MT menambahkan, selain bertujuan mempercepat terwujudnya hilirisasi produk riset dan pengabdian di lingkungan perguruan tinggi, kegiatan ini juga bertujuan untuk ikut andil mempersiapkan bangsa Indonesia dalam ASEAN Economic Community. “Setiap tahun tantangan global bangsa Indonesia semakin berat. Harapannya, kegiatan ini akan ikut andil memperkuat bangsa Indonesia terlebih lagi dalam ASEAN Economic Community yang sudah diberlakukan,” jelas Irfan. Sementara itu, Agus Endra selaku ketua INTI dibuat terkesan dengan gelaran SenasPro 2017 yang dinilainya sangat kental dengan nuansa kebangsaan. “Menyenangkan, melihat kita dari latar belakang yang berbeda-beda, namun tetap bisa bersinergi dalam kegiatan ini,” ucapnya. (iel/han)
Empat Laboratorium UMM Raih ISO 9001 dan ISO 17025

SEBANYAK empat laboratorium milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih akreditasi ISO dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) pada 20 September 2017 lalu. Laboratorium yang dimaksud yaitu Laboratorium Nutrisi, Laboratorium Bioteknologi, Laboratorium Biologi, dan Laboratorium Ilmu Teknologi Pangan (ITP) yang meraih ISO 9001. Sementara itu uji sertifikasi yang meraih ISO 17025 yaitu pengujian proxima dari Lab Nutrisi, uji total gula dan uji protein dari Lab Bioteknologi, uji total plate count (TPC) dari Lab Biologi serta uji antosianin dari Lab ITP. ISO itu sendiri merupakan organisasi internasional untuk standarisasi yang diakui dunia. Kepala Laboratorium Sentral UMM Dr Ir Elfi Anis Saati MP menjelaskan, pencapaian ini perlu diapresiasi. “Dalam sertifikasi akreditasi kali ini, keempat laboratorium tersebut tidak hanya mendapat pengakuan ISO 9001 saja yang menyangkut tentang standar manajemen mutu, namun juga mendapat pengakuan ISO 17025 yang merupakan standar akreditasi laboratorium pengujian dan kalibrasi,” jelasnya. Elfi juga menjelaskan, dengan adanya pengakuan ISO 17025 tersebut, keempat laboratorium akan lebih kredibilitas dalam mengeluarkan hasil uji laboratorium, terutama di luar aktivitas belajar mengajar. “Selain melayani pengujian oleh mahasiswa dan dosen, laboratorium juga melayani pengujian dari pihak luar, termasuk masyarakat umum, lembaga negara, swasta dan UMKM,” paparnya. Di UMM sendiri, kata Elfi, total terdapat 42 laboratorium yang terdiri dari 25 laboratorium eksakta dan 17 laboratorium sosial. Saat ini, Laboratorium Sentral UMM juga tengah mempersiapkan beberapa laboratorium sosial di antaranya adalah Laboratorium Psikologi, Laboratorium Bahasa dan Laboratorium Ilmu Komunikasi untuk mendapatkan sertifikasi ISO 9001. Ke depan, UMM juga mempersiapkan beberapa laboratorium pendukung seperti Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) yang sudah diinstruksikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah kepada UMM untuk meraih ISO. “Untuk mendukung LPH, Laboratorium Sentral juga akan fokus untuk mempersiapkan akreditasi laboratorium pengujian dan kalibrasi yang lain, seperti pengujian lemak babi dan asam amino babi pada suatu produk. Beberapa laboratorium yang akan dipersiapkan antara lain Laboratorium Farmasi dan Kimia,” tambah dosen jurusan ITP tersebut. (iel/han)
UMM Pertahankan Akreditasi A

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mempertahankan akreditasi institusi A. Hal itu berdasarkan surat keputusan (SK) dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) bernomor 3289/SK/BAN-PT/Akred/PT/IX/2017. Raihan itu disebut Rektor UMM Fauzan merupakan buah dari corporate culture yang dibangun UMM.
UMM Gelar Produk Riset, Pertemukan UMKM dengan Investor

SELAMA dua hari, 17-18 Oktober 2017, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Universitas Ma Chung dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) menggelar Seminar Nasional dan Gelar Produk (SenasPro) 2017. Digelar di UMM, kegiatan ini memuat festival inovasi, gelar produk dan seminar nasional dengan tema “Festival Kebangsaan: Inovasi-Hilirisasi Hasil Riset dan Pengabdian Masyarakat Menuju Indonesia Berkemajuan”. Dipilihnya Festival Kebangsaan sebagai tajuk utama SenasPro bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan salah satu langkah konkret semangat UMM untuk membangun bangsa. Rektor UMM, Fauzan, mengatakan bahwa semangat yang dibawa di festival ini merupakan semangat untuk mengangkat rasa nasionalisme kebangsaan. “Semangat yang kita bawa dalam festival ini adalah semangat untuk mengembalikan trah dan rasa nasionalisme di tengah krisis identitas yang sedang melanda bangsa Indonesia,” jelasnya. Suasana kebangsaan tercermin dari para peserta. Pada kegiatan tahunan yang diprakarsai Direktorat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (DPPM) ini, ada 190 orang peneliti dari berbagai bidang keilmuan dari seluruh Indonesia. Puncaknya, pada sub acara tersebut, akan diselenggarakan parallel season bagi para peserta seminar. Kegiatan ini juga mengundang beberapa pembicara pakar di bidangnya, antara lain; Dr. Ir. Jumain Appe, M.Si. (Dirjen Penguatan Inovasi-Kemenristek Dikti), Dr. Indra Wahidin (Wakil Ketua Perhimpunan INTI), Dr. Bayu Prawira, Hie (Executive Director Intellectual Bussiness Community), Jhon Hardi,ST., M.SM., CSM (Konseptor dan Pendiri Forum CSR Jawa Timur), Prof. Dr. Rahayu Hartini, SH, M.Si., M.Hum., (Guru Besar Hukum Bisnis UMM), Hero Wijayadi (Meme Florist Go Digital), Andy Djojo Budiman (Integrated Retail Application/ IREAP), Djoko Kurniawan (Bisnis Konsultan) dan Abraham Lembong (Investor Advisor). Festival kebangsaan juga membuka ruang antara Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) milik masyarakat maupun milik mahasiswa yang memiliki inovasi dengan pengusaha-pengusaha dalam gelar produk dan inovasi. Terkait sub acara yang akan diselenggarakan di Hall Dome UMM itu, ketua pelaksana Festival Kebangsaan, Ir. M. Irfan, MT, menyatakan hal ini merupakan kesempatan emas bagi kedua belah pihak. “Hal ini merupakan kesempatan emas bagi UMKM dan pengusaha yang terlibat. Bagi UMKM, mereka dapat memamerkan inovasinya, dan bagi para pengusaha, mereka dapat mencari tempat untuk berinvestasi,” terangnya. Kurang lebih ada 50 produk dari UMKM masyarakat maupun mahasiswa yang siap memamerkan inovasinya. (iel/han)
Silaturrahim Kebangsaan, UMM Rajut Harmoni dengan Komunitas Tionghoa

SILATURRAHIM Kebangsaan yang digelar melalui kolaborasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Ma Chung, dan Ikatan Tionghoa Indonesia (INTI) pekan lalu (11/10) diharapkan dapat menghadirkan harmoni bangsa dalam kemajemukan. UMM sebagai amal usaha Muhammadiyah diharapkan menjadi bagian dari proyek perdamaian tersebut. Rektor UMM Fauzan mengatakan, UMM berpedoman bahwa rasa nasionalisme akan terus digalakkan untuk ikut serta mengambil peran mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itulah, kegiatan Silaturrahim Kebangsaan ini bertujuan untuk mengerucutkan perbedaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. “Kegiatan ini merupakan bentuk sinergi UMM untuk meningkatan rasa kesatuan atas nama persaudaraan sebangsa. Karena kita berada di lingkungan perguruan tinggi, perwujudan wawasan kebangsaan tidak hanya sebatas artificial,” tutur Fauzan pada sambutan pembukaan Silaturahmi Kebangsaan di Auditorium UMM. Dijelaskan Kunjaya, Rektor Universitas Ma Chung, Silaturahim Kebangsaan bertujuan untuk bersatu membangun kemajuan bangsa menghindari destruksi di tengah kemajemukan Indonesia. “Karena Indonesia dibentuk oleh perbedaan, maka kita bekerjasama untuk mengisi kekurangan masing-masing dari pebedaan itu sehingga tercipta kehidupan berbangsa yang harmonis,” jelasnya. Pada kegiatan Silaturahim Kebangsaan ini juga dibahas tentang rencana-rencana tindak lanjut. “Setiap merencanakan hal yang baik dan berdampak positif maka harus bersifat sustainable agar dampaknya bisa dirasakan oleh generasi-generasi selanjutnya,” ungkap Agus Endra, Koordinator INTI Malang. (nis/han)
UMM Kembangkan Ekonomi Hijau Kepulauan Sapeken

MELALUI program Ipteks bagi Wilayah-Corporate Social Responsibiliy (IbW-CSR) yang disponsori Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), tim dosen Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan terhadap nelayan dan petani rumput laut di Kepulauan Sapeken, kecamatan paling timur dan terjauh di Kepulauan Madura. Kegiatan tersebut menggandeng Kangean Energy Indonesia (KEI Ltd), perusahaan minyak dan gas (migas) terbesar di Jawa Timur, yang beroperasi di kepulauan Sapeken dan Raas Sumenep. Sebagai upaya membina perguruan tinggi lokal, UMM juga menggandeng STKIP PGRI Sumenep. Dua pulau yang menjadi percontohan yaitu Pulau Pagerungan Kecil dan Pulau Sadulang Besar. Ketua tim IbW-CSR UMM, Drs Nurwidodo MKes menjelaskan, berdasarkan hasil observasi dan riset oleh tim Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) UMM, tim dosen Biologi UMM, dengan difasilitasi Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas-KEI Ltd terungkap bahwa daerah tersebut menyimpan potensi bahari dan pesisir yang sangat besar. “Sayangnya, pihak-pihak yang seharusnya memiliki kebijakan pengembangan potensi, seperti pemerintah daerah, belum peka terhadap potensi tersebut. Masyarakat Kepulauan Sapeken semakin tertinggal karena minimnya perhatian,” kata Nurwidodo. “Mengingat adanya tren penangkapan hasil laut yang melewati batas wajar, penangkapan ikan dengan bahan kimia dan bom ikan, serta perusakan habitat ikan, maka pendampingan masyarakat untuk membudidayakan rumput laut sekaligus mengolah pasca panen merupakan wujud ekonomi hijau,” paparnya. Senada dengan itu, Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., pakar lingkungan hidup UMM yang juga anggota tim IbW-CSR UMM mengungkapkan bahwa selama ini di beberapa pulau masyarakat mulai membudidayakan rumput laut. Masyarakat yang biasanya menangkap ikan hiu, berburu penyu, dan menangkap ikan dengan potassium serta bom mulai mengubah kebiasaannya. “Kepedulian UMM sangat luar biasa. Masyarakat mulai merasakan imbas positif. Berbagai pelatihan dan penyadaran telah dilakukan. UMM juga memberikan alat pengolah rumput laut menjadi tepung dan alat pembuatan snack rumput laut, dengan biaya mencapai sembilan puluh juta rupiah,” ujar Bapak Hanip Suprapto, Manager Public Government Affair KEI. (*/han)
Silaturrahim Kebangsaan, UMM Rajut Harmoni dengan Komunitas Tionghoa

SILATURRAHIM Kebangsaan yang digelar melalui kolaborasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Ma Chung, dan Ikatan Tionghoa Indonesia (INTI) pekan lalu (11/10) diharapkan dapat menghadirkan harmoni bangsa dalam kemajemukan. UMM sebagai amal usaha Muhammadiyah diharapkan menjadi bagian dari proyek perdamaian tersebut. Rektor UMM Fauzan mengatakan, UMM berpedoman bahwa rasa nasionalisme akan terus digalakkan untuk ikut serta mengambil peran mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itulah, kegiatan Silaturrahim Kebangsaan ini bertujuan untuk mengerucutkan perbedaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. “Kegiatan ini merupakan bentuk sinergi UMM untuk meningkatan rasa kesatuan atas nama persaudaraan sebangsa. Karena kita berada di lingkungan perguruan tinggi, perwujudan wawasan kebangsaan tidak hanya sebatas artificial,” tutur Fauzan pada sambutan pembukaan Silaturahmi Kebangsaan di Auditorium UMM. Dijelaskan Kunjaya, Rektor Universitas Ma Chung, Silaturahim Kebangsaan bertujuan untuk bersatu membangun kemajuan bangsa menghindari destruksi di tengah kemajemukan Indonesia. “Karena Indonesia dibentuk oleh perbedaan, maka kita bekerjasama untuk mengisi kekurangan masing-masing dari pebedaan itu sehingga tercipta kehidupan berbangsa yang harmonis,” jelasnya. Pada kegiatan Silaturahim Kebangsaan ini juga dibahas tentang rencana-rencana tindak lanjut. “Setiap merencanakan hal yang baik dan berdampak positif maka harus bersifat sustainable agar dampaknya bisa dirasakan oleh generasi-generasi selanjutnya,” ungkap Agus Endra, Koordinator INTI Malang. (nis/han)
UMM Kembangkan Ekonomi Hijau Kepulauan Sapeken

MELALUI program Ipteks bagi Wilayah-Corporate Social Responsibiliy (IbW-CSR) yang disponsori Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), tim dosen Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan terhadap nelayan dan petani rumput laut di Kepulauan Sapeken, kecamatan paling timur dan terjauh di Kepulauan Madura. Kegiatan tersebut menggandeng Kangean Energy Indonesia (KEI Ltd), perusahaan minyak dan gas (migas) terbesar di Jawa Timur, yang beroperasi di kepulauan Sapeken dan Raas Sumenep. Sebagai upaya membina perguruan tinggi lokal, UMM juga menggandeng STKIP PGRI Sumenep. Dua pulau yang menjadi percontohan yaitu Pulau Pagerungan Kecil dan Pulau Sadulang Besar. Ketua tim IbW-CSR UMM, Drs Nurwidodo MKes menjelaskan, berdasarkan hasil observasi dan riset oleh tim Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) UMM, tim dosen Biologi UMM, dengan difasilitasi Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas-KEI Ltd terungkap bahwa daerah tersebut menyimpan potensi bahari dan pesisir yang sangat besar. “Sayangnya, pihak-pihak yang seharusnya memiliki kebijakan pengembangan potensi, seperti pemerintah daerah, belum peka terhadap potensi tersebut. Masyarakat Kepulauan Sapeken semakin tertinggal karena minimnya perhatian,” kata Nurwidodo. “Mengingat adanya tren penangkapan hasil laut yang melewati batas wajar, penangkapan ikan dengan bahan kimia dan bom ikan, serta perusakan habitat ikan, maka pendampingan masyarakat untuk membudidayakan rumput laut sekaligus mengolah pasca panen merupakan wujud ekonomi hijau,” paparnya. Senada dengan itu, Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., pakar lingkungan hidup UMM yang juga anggota tim IbW-CSR UMM mengungkapkan bahwa selama ini di beberapa pulau masyarakat mulai membudidayakan rumput laut. Masyarakat yang biasanya menangkap ikan hiu, berburu penyu, dan menangkap ikan dengan potassium serta bom mulai mengubah kebiasaannya. “Kepedulian UMM sangat luar biasa. Masyarakat mulai merasakan imbas positif. Berbagai pelatihan dan penyadaran telah dilakukan. UMM juga memberikan alat pengolah rumput laut menjadi tepung dan alat pembuatan snack rumput laut, dengan biaya mencapai sembilan puluh juta rupiah,” ujar Bapak Hanip Suprapto, Manager Public Government Affair KEI. (*/han)
UMM Siapkan Beras Organik Situbondo Masuki Pasar Internasional

GURU Besar Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Dr Ir Indah Prihartini berharap pertanian organik di Kabupaten Situbondo dapat berdampak pada pemasaran beras organik secara nasional dan internasional. Karena itulah, UMM melalui tim yang dipimpin Indah Prihartini mulai intens melakukan pendampingan pertanian organik di Kabupaten Situbondo. Hal tersebut sekaligus menindaklanjuti penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UMM dengan Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Situbondo pada 5 Oktober lalu. Sebelumnya, Bupati Situbondo Dadang Wigiarto bahkan telah meminta agar UMM mengirimkan tenaga ahli untuk mendampingi pengembangan kluster pertanian organik. Pendampingan yang dilakukan UMM meliputi perencanaan pengembangan padi organik, menentukan lokasi pengembangan sesuai dengan potensi wilayah, pengembangan SDM pada kelompok tani berupa pelatihan, serta pendampingan budidaya pertanian organik dari hulu hingga hilir. “Juga mengontrol produktivitas tanah dan tanaman, kualitas padi yang dihasilkan, hingga manajemen kelompok tani sebagai pelaku organik,” jelas Indah. Setelah memperoleh kualitas padi organik yang baik, langkah selanjutnya ialah mensinergikan kelompok tani Kabupaten Situbondo dengan lembaga atau perusahaan yang telah bergerak di bidang penjualan beras organik. Tak hanya padi organik, nantinya Indah akan membidik tanaman tebu organik yang dinilai memiliki banyak manfaat. Di samping itu tebu menjadi tanaman potensial karena 50 persen kawasan Situbondo ditumbuhi tanaman tebu, serta terdapat tiga pabrik gula di sana. Secara umum, dosen berprestasi Kopertis Wilayah VII ini berharap kesejahteraan petani Kabupaten Situbondo dapat meningkat. Peningkatan kesejahteraan dilihat dari harga beras yang baik, diikuti dengan kualitas produktivitas beras yang juga baik. “Kualitas dan kuantitas beras organik yang baik ini ditentukan oleh proses budidaya yang juga baik dan kami akan mendampingi hingga itu terwujud,” ujarnya. Sejalan dengan harapannya, Indah mengaku bahwa project ini memberi nilai tambah bagi UMM karena terdapat laboratorium lapang sebagai fasilitas mahasiswa dan dosen mengembangkan kompetensi pertanian organik. (nim/han)
Studi S3 di Belgia, Alumni UMM Ini Ingin Aktif di Muhammadiyah Jerman Raya

KESUKSESAN Lufi Kartika Sari berlanjut. Alumni Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2003 itu kini menempuh studi S3 di Brussel, Belgia. Sebelumnya, Lufi sempat mengenyam beasiswa Erasmus Mundus kerjasama UMM dengan Komisi Uni Eropa. Tahun 2010, ia bersama teman seangkatan dari Fakultas Hukum, Roy Irawan, menempuh studi pertukaran pelajar di Trento, Italia. “Alhamdulillah studi saya terus berlanjut berkat kerjasama UMM dengan Erasmus itu,” kata Lufi ketika ditemui di sela-sela Pembukaan Acara Europalia di Brussel, Belgia, Selasa (10/10/2017). Di ajang Europalia Lufi sangat terkesan karena kerinduan akan budaya Indonesia sedikit terobati. Gelaran budaya Indonesia yang berlangsung selama empat bulan di Eropa ini memang menanpilkan berbagai karya seni budaya yang mengagumkan. Bagi warga Eropa ini adalah kesempatan sangat baik untuk mengenal Indonesia. “Sangat senang, apalagi ketemu banyak orang Indonesia. Saya juga ketemu dosen bahkan rektor saya yang sekarang jadi Mendikbud,” ungkap Lufi senang. Lufi menempuh studi S3 di Vrije Universiteit Brussel mengambil jurusan Ilmu Pendidikan. Kini ia memasuki tahun ketiga. “Disertasi saya akan meneliti profesionalisme guru terutama di daerah tertinggal. Sumberdata saya banyak saya ambil dari UMM dan berharap bisa mengakses data dari Kemdikbud,” tuturnya. Gadis asal Probolinggo ini mengaku bangga pernah menjadi bagian dari UMM. Apalagi ia sudah banyak memperoleh prestasi juga berkat kuliah di UMM. Berbagai negara dikunjunginya berkat beasiswa Erasmus Mundus. “Saya sangat ingin membantu mengenalkan UMM kepada dunia. Saya siap membantu jika UMM ingin membangun kolaborasi dengan kampus saya di sini,” kata alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini. Sesekali Lufi masih menyempatkan diri berkomunikasi dengan teman-temannya di Malang. Satu di antara yang paling dikenalnya adalah Subhan Setowara yang pernah menjadi dosen favoritnya. Sampai saat ini Lufi masih menjadi bagian dari komunitas yang dibangun oleh Subhan yang juga staf Humas UMM itu. “Saya juga aktif di PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) Jerman Raya. Juga aktif di PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Belgia,” ungkap Lufi tentang kesukaannya bergabung dalam komunitas yang produktif. Lufi kini tak hanya menguasai bahasa Inggris, tapi juga Belanda, Itali dan Belgia. Ketika bertemu Lufi di Brussel, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, menyatakan kesannya. “Di mana-mana ketemu alumni UMM, di dalam dan di luar negeri,” tutur Mendikbud yang juga mantan rektor UMM ini bangga. (nas)