Di UMM, Kemendikbud Sosialisasikan Kebijakan Pendidikan Keluarga
MENYIKAPI berkembangnya kecanggihan teknologi, maraknya kasus kekerasan pada anak, dan makin menyebarnya peredaran narkoba di lingkungan pelajar mendorong Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) susun program utama pelibatan keluarga di satuan pendidikan. Program utama ini lantas disosialisasikan pada berbagai elemen di auditorium hotel UMM Inn, Rabu (24/5). Program utama pelibatan keluarga di satuan pendidikan tersebut di antaranya anjuran orang tua untuk mengantar anak di hari pertama sekolah. Hal ini, menurut Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, Dr Sukiman MPd adalah hal yang penting untuk membangun kepercayaan anak dan memotivasi anak lebih semangat belajar. Di depan 150 peserta seminar, Sukiman lalu menyanyikan lagu Hari Pertama Masuk Sekolah. “Hari ini hari pertamaku, hari pertama ke sekolah, senangnya hatiku diantar ayah ibu, pergi berangkat ke sekolah, senangnya hatiku bertemu teman baru, guru baru, tentulah ramah, ayo ke sekolah, ayo ke sekolah,” demikian lirik yang dinyanyikan Sukiman diikuti oleh peserta. Program utama lainnya yaitu pertemuan orangtua siswa minimal 2 kali tiap semester untuk membahas perkembangan dan kendala anak di sekolah, adanya pendidikan parenting oleh paguyuban wali murid, mendatangkan alumni sekolah untuk memberi motivasi saat pembinaan upacara bendera, dan mengadakan pameran karya dan pentas seni di akhir tahun. Peran keterlibatan keluarga, lanjut Sukiman, penting digalakkan karena akan menimbulkan dampak psotif yang besar pada anak. “Akan meningkatkan keinginan anak untuk melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi,” tutur Sukiman. Anak yang enggan melanjutkan sekolah, meski secara finansial tergolong cukup, bisa jadi disebabkan oleh kurangnya keterlibatan orang tua secara emosi. “Jadi, faktor kemiskinan itu sejatinya bukan faktor utama. Anak dari keluarga kurang sejahtera juga bisa memiliki motivasi belajar dan prestasi yang tinggi bila orang tua terlibat,” tegas Sukiman. Sementara itu, staff bidang pendidikan Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK) yang juga istri Mendikbud, Suryan Widati, SE MSA Ak mengungkapkan miris menyaksikan kasus yang muncul di kalangan pelajar, baik pelajar yang mulai mengenal narkoba, kekerasan, bahkan pornografi. Di antara penyebab munculnya kasus-kasus ini adalah anak yang mulai mengenal gawai dan orang-orang yang eksis di media sosial dan menyebarkan nilai-nilai kurang positif pada masyarakat, khususnya pelajar, yang lantas dijuluki artis. “Masalah yang muncul pada anak bukan menjadi tanggung jawab sekolah semata. Kesinambungan orang tua, sekolah, dan masyarakat adalah mutlak,” tegas Widati. Oleh karenanya, menjadi hal yang urgen untuk diperhatikan mengenai kegiatan anak sepulang sekolah sebelum sampai di rumah. “Komunikasi antara orang tua dengan guru kelas wajib dijaga untuk memantau anak-anak kita,” pesan Widati. 150 peserta yang hadir yakni para stakeholder di dunia pendidikan, baik secara langsung maupun tak langsung. Di antaranya, kepala PAUD, kepala sekolah TK, SMP, dan SMA se-kota Malang, lurah, camat, PKK, Aisyiyah, dan dinas pendidikan. Selain Sukiman dan Widati, pemateri di sesi kedua yakni Staff Khusus Kemendikbud Nasrullah S Sos MSi dan dekan Fakultas Psikologi yang juga psikolog perkembangan anak Dr Iswinarti MSi. (ich/han)
E Awards Pamerkan Prestasi Siswa Sekolah Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH Education (ME) Awards merupakan ajang tahunan yang dilaksanakan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Ajang ini diharapkan menjadi apresiasi akan prestasi dan karya siswa-siswa sekolah Muhammadiyah. ME Awards 2017 secara resmi dibuka oleh Ketua PWM Jawa Timur Dr M Saad Ibrahim MA, Sabtu (23/9) di UMM Dome. Pada kegiatan pembukaan juga diumumkan sekolah-sekolah pemenang dari tiga kategori yaitu Muhammadiyah Inspiring School, Muhammadiyah Excellent School, Muhammadiyah Outstanding School . Selain itu, SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo dan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi juga berkesempatan untuk melakukan launching buku karya guru dan siswa dari dua sekolah tersebut. Pujian dan rasa bangga disampaikan ketua Disdakmen Jawa Timur Arbaiyah Yusuf MA. “Hal ini sangat membanggakan dan juga merupakan suatu penghargaan bagi Muhammadiyah karena secara aktif mendukung kegiatan literasi untuk membentuk generasi muda yang bewawasan luas,” kata Arbaiyah. Acara pembukaan dilanjutkan dengan Education Conference oleh Prof Dr Din Syamsuddin dan diikuti para guru berprestasi dari beberapa perguruan Muhammadiyah se-Jawa Bali. Din berbicara tentang penguatan pendidikan karakter bagi generasi muda sebagai tugas wajib bagi Muhammadiyah untuk meciptakan generasi milennial yang religius. Sementara itu, sebanyak 2200 peserta dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas memgikuti rangkaian olimpiade akademik dan non-akademik di antaranya Lomba Islam dan Kemuhammadiyaan (Ismu) Arab, Ismu Inggris, IPA, Matematika, Inovasi Media, Majalah, dan Robotika. (nis/han)
Bupati Bojonegoro Raih Gelar Doktor di UMM

INISIASI masyarakat lokal dapat menjadi inspirasi dan solusi bagi demokrasi dalam konteks nasional. Hal itulah yang coba diangkat oleh Bupati Bojonegoro, Suyoto, saat promosi gelar Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang berlangsung di Auditorium UMM, Sabtu (23/9). Bagi Suyoto, satu di antara penyebab demokrasi menjadi belum efektif karena demokrasinya hanya bersifat prosedural sehingga hanya menghasilkan konflik. Karena itu, melalui riset disertasinya tentang Rukun Kematian di Desa Pajeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Suyoto ingin menekankan, bahwa nilai-nilai lokal di desa itu bisa menjadi buah demokrasi sekaligus inspirasi bagi bangsa. Disertasi berjudul “Konstruksi Pemaknaan Ritual Kematian sebagai Perwujudan Nilai-Nilai Kebajikan Sosial dalam Perspektif Bergerian” itu mengungkap tentang bagaimana masyarakat Desa Pajeng melakukan transformasi, dengan menafsir ulang tentang ritual kematian menjadi pemahaman baru, lalu melembagakannya dalam bentuk rukun kematian, sehingga melahirkan kemanfaatan sosial Melalui disertasinya, Suyoto menyebut bahwa masyarakat Desa Pajeng semula tergugah karena kematian seorang warga bisa menjadi beban bagi keluarganya, karena ada “kewajiban sosial” memenuhi serangkaian ritual kematian yang menguras dana. “Ritual itu dipandang warga desa sebagai aktivitas yang memiskinkan dan tidak produktif, yang miskin malah akan semakin miskin,” ujar Suyoto. Berdasar fakta itulah, kata Suyoto, warga desa menggagas pembentukan Rukun Kematian (RK) untuk memperbarui praktik ritual kematian, dengan memastikan agar warga yang miskin tidak semakin miskin. Selain itu, juga memastikan agar RK memiliki manfaat bagi kepentingan bersama. Setelah adanya RK ini, beban keluarga yang sanaknya meninggal tidak hanya berkurang, namun juga sangat terbantu. “Misalnya apabila ada orang yang meninggal, maka warga tidak ada yang bekerja di sawah, semua datang untuk membantu ritual kematian, seperti gali makam, bikin penduso. Tidak perlu ada yang memerintah, semua berjalan sendiri-sendiri, jadi yang bekerja semuanya guyub dan rukun semuanya,” tutur Suyoto. Bagi Suyoto, tafsir ulang ritual kematian di Desa Pajeng ini menjadi contoh dari dialog generatif yang terjadi melalui tiga tahap, yang dimulai dengan antem-anteman atau debat kusir akan suatu persoalan, lalu berlanjut pada forum kongkow, cangkrukan, dan jagongan secara informal. Dan terakhir, terjadi forum rembukan di mana masyarakat melahirkan konsensus baru. “Ini adalah buah demokrasi yang sangat berharga bagi bangsa ini,” kata Suyoto. Kelulusan Suyoto sebagai gelar doktor dipromotori oleh Prof Dr Hotman Siahaan, sementara co-promotor yaitu Prof Dr Ishomuddin MSi, Dr Wahyudi MSi dan Dr Rinekso Kartono MSi. Sebelum menempuh gelar doktor di UMM, Suyoto sebelumnya juga menamatkan program master di kampus ini, tepatnya di Program Master Sosiologi UMM pada 1996. Sementara dari sisi riwayat karir, sebelum menjadi Bupati Bojonegoro, Suyoto pernah menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik pada 2000-2004 dan dosen tetap Fakultas Agama Islam UMM pada 1990-2000. (rid/han)
LK Bangun Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

DIREKTUR Kesenian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Dr Restu Gunawan MHum mengatakan, hubungan antara pendidikan dan seni budaya tidak bisa dipisahkan. Kedua aspek tersebut harus saling mendukung satu sama lain. “Satu-satunya jalan membangun kebudayaan yaitu melalui pendidikan, begitu pula sebaliknya,” kata Restu pada kegiatan Seminar Nasional Pendidikan Karakter yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (20/9). Kegiatan bertema “Membangun Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Budaya” ini merupakan hasil kerjasama antara Lembaga Kebudayaan (LK) UMM dengan Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UMM. Drs Joko Widodo MSi selaku penanggung jawab kegiatan menilai, lemahnya karakter bangsa menjadi ancaman bagi eksistensi negara ini. “Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat cepat memberikan dampak yang beragam, baik positif maupun negatif. Terlebih jika bangsa Indonesia tidak memiliki karakter yang kuat. Hal tersebut merupakan tantangan nyata bagi dunia pendidikan,” ujarnya. Joko Widodo berharap seminar ini akan memberikan dampak signifikan bagi pendidikan karakter, khususnya melalui dimensi budaya. ”Harapannya, seminar ini dapat merumuskan dan mendeklarasikan rekomendasi pendidikan berkarakter bangsa dan juga dapat mendeklarasikan terbentuknya komunitas pegiat pendidikan karakter bangsa berbasis budaya,” jelas Joko dalam sambutannya. Seminar dihadiri 251 orang yang terdiri dari para guru, dosen, mahasiswa S1 dan S2, serta pemerhati pendidikan dan kebudayaan. Tiga pembicara ahli turut hadir, di antaranya sastrawan dan budayawan Indonesia Prof Dr Sumito A Sayuti, pakar pendidikan Prof Dr Wahyudi Siswanto MPd dan Kepala LK UMM Dr Daroe Iswatiningsih MSi. (iel/han)
Kolaborasi Mahasiswa UMM dan Singapura Tingkatkan Produksi UMKM di Desa Temas

SEBANYAK 31 mahasiswa Singapore Polytechnic (SP) dan 34 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil membuat tiga prototipe yang dapat membantu produksi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Desa Temas, Kota Batu, Jawa Timur. Produksi yang dimaksud yaitu produksi bawang goreng, jamu tradisional, dan pisang. Tiga prototipe itu dirancang kolaborasi 65 mahasiswa SP dan UMM selama sepekan, yaitu 12-19 September 2017 melalui program Learning Express (LEx). Hasilnya, prototipe berupa teknologi tepat guna itu dipamerakan di Aula Perpustakaan UMM, Selasa (19/9) yang turut dihadiri perwakilan dari Desa Temas. Semula, 65 mahasiswa itu dibagi tiga kelompok secara acak. Setelah itu mereka diharuskan meriset secara detil agar bisa menemukan inti permasalahan. Dari produksi bawang goreng, peserta berhasil memodifikasi sebuah meja untuk mengatasi bawang merah yang berjatuhan saat dipotong-potong. Dengan meja itu, pemotongan bawang merah juga menjadi lebih cepat dan higienis. Pada produksi jamu tradisional, peserta membuat prototipe alat pemeras jamu agar proses pembuatan jamu lebih cepat dan higienis. Sementara ampas sisa perasan jamu diolah menjadi permen dan beberapa produk yang punya nilai ekonomi tinggi. Terakhir, penjual pisang, mahasiswa membuat prototipe tempat menjual pisang yang dimodifikasi secara mekanik pada terpal yang digunakan untuk menghindarkan pisang dari panas dan hujan. Selain itu, juga dibuat prototipe meja yang bisa berputar agar proses pemberian karbit lebih cepat dan mudah. Asisten Rektor UMM Bidang Kerjasama, Soeparto, menjelaskan program ini ke depan tidak akan berhenti disini. Hasil prototipe kegiatan LEx ini akan ditindaklanjuti lagi. “Harapannya, prototipe yang sudah diusulkan peserta akan dikembangkan di Singapore dan Jepang serta diuji oleh dosen secara ilmiah. Untuk peserta juga diharapkan menindaklanjuti kegiatan ini langsung ke desa dan tentu didampingi oleh dosen-dosen pendamping,” tambah Soeparto. Jarren Toh Jing Jie, salah satu peserta LEx asal Singapura mengaku sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Ia juga merasa mendapatkan banyak pengalaman yang tidak akan ia dapatkan di kampus. “Kegiatan ini sangat menarik. Di sini kami bisa saling bertukar ilmu dengan teman-teman peserta lain terutama dengan mahasiswa UMM. Selain pembuatan prototipe yang sudah saya pelajari di kampus, di sini saya juga banyak belajar tentang ilmu budaya, sosial dan pemasaran. Sesuatu yang akan jarang saya dapatkan sebagai anak teknik,” ujar mahasiswa jurusan Teknik Penerbangan, Singapore Polytechnic ini. Selain dari peserta, kesan positif juga didapat oleh warga Desa Temas. Saudi, salah satu warga Temas mengaku sudah menganggap para peserta Lex seperti keluarga. Meskipun hanya seminggu berbaur dengan peserta ia mengatakan sudah saling terbuka perihal permasalahan yang ada di desa. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami para pemilik UMKM. Selain dibantu dalam permasalahan-permasalahan produksi, kami juga diberikan strategi-strategi pemasaran untuk UMKM kami terutama untuk pisang, bawang goreng dan jamu tradisional. Harapannya, untuk mahasiswa dari Singapura Polytechnic dan UMM bisa mengembangkan produk-produk lokal Indonesia ke depannya,” jelas Saudi yang datang sebagai salah satu perwakilan Desa Temas. (iel/han)
UMM Gandeng Tujuh Kampus UK Gelar Pameran Pendidikan

SEBANYAK tujuh perguruan tinggi di Britania Raya (UK) hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui gelaran UK-Indonesia Collaboration Forum and Fair, Senin (18/9). Tujuh kampus tersebut yaitu De Montfort University Leicester, University of Dundee, University of Westminster, Durham University, Harper Adams University, University of Bradford, dan Swansea University. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara lembaga EdUKIndo dan UMM. Kolaborasi kedua lembaga ini juga menghadirkan delegasi Kantor Urusan Internasional dari sejumlah kampus di Indonesia untuk berdialog tentang perluasan kemitraan internasional. Dalam diskusi ini, tiap-tiap kampus saling berbagi tentang riset dan pengembangan di kampusnya. Pada kesempatan ini, kepala program studi Hubungan Internasional (HI) Gonda Yumitro SIP MA berbagi kisah tentang jaringan kerjasama di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), khususnya prodi HI. “Di UMM, juga di FISIP, kerjasama dengan berbagai universitas mancanegara sudah lama terjalin. Sejauh ini, kerjasama paling banyak dilakukan dengan kampus-kampus di Asia melalui MoU. Melalui kolaborasi seperti ini, kerjasama dengan kampus-kampus di UK diharapkan dapat terjalin,” ujar Gonda. Belum lama ini, imbuh Gonda, salah satu artikelnya juga dimuat di sebuah jurnal internasional terindeks Scopus. Hal ini menarik perhatian University of Westminster. “Kampus kami berbasis pada riset. Jadi, mahasiswa-mahasiswa yang produktif dalam hal riset akan sangat bagus,” ujar Dr Panos Hahamis dari University of Westminster. Pameran pendidikan UK bukan yang pertama kali digelar di UMM. Menurut kepala Internasional Relation Office (IRO) UMM Dr Abdul Haris MA, kegiatan ini memiliki empat tujuan. “Mengenalkan kolaborasi internasional UMM pada mahasiswa dan masyarakat umum, memberi kesempatan mahasiswa asing untuk melakukan exchange program di UMM, salah satu upaya peningkatan rekognisi internasional, serta langkah strategis menuju world class university,” terang Haris. (ich/han)
Kemah Nasional PTM se-Indonesia Garap Desa Bendosari Jadi Objek Ekowisata

PERKEMAHAN Bakti Racana Muhammadiyah Nasional (Kembaramunas) ketiga yang dihelat di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi ajang Pramuka Pandega dari 23 Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia meningkatkan kepedulian kepada masyarakat. Selama sepekan, 18- 23 September 2017, para Pramuka Pandega itu akan fokus menggarap Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang dijadikan objek ekowisata. Kegiatan tersebut merupakan Program Kerja Dewan Racana Pangkalan UMM, dan hasil musyawarah Pandega PTM se-Indonesia tentang pelaksanaan Kemah Racana Muhammadiyah Nasional kedua di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 24 September 2016 silam. Tak sekedar dikemas dalam format perkemahan pada umumnya, kegiatan Kembaramunas 3 ini meliputi sejumlah kegiatan pengabdian Pramuka Pandega kepada lingkungan dan masyarakat Kabupaten Malang. Di antaranya pembekalan materi terkait bakti fisik dan nonfisik. “Peserta diberi persiapan materi tentang bagaimana pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di Desa Bendosari,” terang Ketua Pelaksana, Siti Nurahmah saat ditemui usai upacara pembukaan di Heliped UMM, Senin (18/9). Pembekalan materi tersebut, imbuh Siti, nantinya diimplementasikan lewat keterlibatan peserta dalam pembuatan dan pengembangkan fasilitas untuk menunjang keindahan, kualitas serta nilai jual Kampung Ekowisata Bendosari. Salah satunya lewat penanaman beberapa tanaman pendukung di kawasan pohon pinus untuk dijadikan Taman Hutan Pinus. Tak hanya itu, peserta juga diberi edukasi tentang pemerahan susu sapi serta pengolahan limbah kotoran sapi yang nantinya akan dikembangkan menjadi biogas. Gelaran tersebut sekaligus diadakan Seminar Nasiona bertajuk “Aktualisasi Peran Penegak Pandega dalam Pengabdian Masyarakat” yang menghadirkan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Nasional Gerakan Pramuka, Prof. Dr. Suyatno, M.Pd., Dewan Kerja Penegak Daerah Jawa Timur, Binar Bintang Putra Ananta, S.Pd, serta anggota kehormatan Pramuka UMM, Syamsul Hadi, S.Pt. (can/han)
Mahasiswa UMM Dituntut Sadar Energi

DEKAN Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) Ir Sudarman MT menyatakan, produksi dan konsumsi energi di yang tidak berimbang di Indonesia membuat FT UMM menuntut mahasiswanya agar sadar energi dengan berkontribusi dalam mengembangkan energi baru terbarukan. “Mahasiswa UMM kami tutut peduli pada cadangan migas kita. Sejak 2007, FT UMM selalu mendorong mahasiswa mengembangkan energi baru terbarukan,” tutur Sudarman pada kegiatan Migas Goes to Campus yang diadakan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Migas ESDM) di UMM, Jumat (15/9). Sampai saat ini, UMM mengembangkan energi baru terbarukan pada air dan mikrohidro. “Sejauh ini sebatas air dan mikrohidro. Angin dan migas belum,” imbuhnya. UMM juga mengembangkan photovoltaic untuk menyokong penerangan di area UMM. Pengembangan ini, dikatakan Sudarman dapat memasok kebutuhan listrik UMM hingga 20 persen di 30 unit. Jika dirupiahkan, setara dengan penghematan 20 hingga 50 juta per bulan. “Setara 200 kwh atau 200 rumah,” terang Sudarman. Ke depan, UMM berencana akan mengembangkan energi lain, salah satunya yang terdekat ialah bahan bakar nabati dari minyak jarak yang merupakan tindak lanjut dari pengembangan yang sudah dimulai tahun 2007 silam. “Di bawah laboratorium mikrobiologi, kerja bareng FT,” papar Sudarman. Kegiatan Migas Goes to Campus ini, Sekjen Migas ESDM Susyanto SH MHum, bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan pada civitas akademika terhadap program-program kementerian ESDM di sektor migas. Juga, sebagai media untuk mendapatkan ide-ide cemerlang dari mahasiswa maupun civitas akademika akan penemuan energi baru dan terbarukan. Menurut Susyanto, di era 90-an, komoditi migas menyumbang kontribusi nomor dua setelah pajak. Sekarang, hasil ini menurun. Indonesia tak lagi bisa menggantungkan migas sebagai komoditi untuk pendapatan negara. Tahun 2021, diprediksi sektor migas masih mendominasi prosentase pendapatan negara. Sementara di tahun 2015, sektor migas hanya akan digunakan sebesar 22 persen dari penggunaan sebelumnya sebesar 24,29 persen. Fakta ini berbanding terbalik dengan posisi Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya minyak dan gas cukup besar. Saat ini, imbuh Susyanto, produksi migas sebesar 820 barrels of oil per day (BOPD). Hal ini tidak berbanding lurus dengan konsumsi migas sebesar 1,6 juta BOPD. Sementara, pertumbuhan konsumsi migas meningkat mencapai tiga persen per tahun. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan, sejauh ini Indonesia masih mengimpor hingga 780 BOPD. “Jika tidak ada penemuan potensi migas baru, maka proyeksi produksi minyak hingga 2050 akan terus menurun. Oleh karenanya, kami di kementerian ESDM berpimpi tahun 2025 harus mandiri migas dan tidak impor lagi,” ujar Susyanto. (ich/han)
UMM dan Education USA Kembali Bermitra Gelar Pameran Pendidikan

KULIAH di Amerika Serikat (AS) menjadi pilihan menarik bagi banyak mahasiswa Indonesia. Hal itu membuat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali bekerja sama dengan Education USA menggelar pameran pendidikan dan beasiswa AS, yang digelar Kamis (14/9) di UMM Dome. Sebelum pameran, acara dimulai dengan seminar tentang akses pendidikan ke AS. Pameran diikuti 15 universitas di AS dan sejumlah sejumlah lembaga pemberi beasiswa. Hadir membuka acara ini, Konsul Jenderal Amerika Serikat, Heather Variava. Menurut Heather, saat ini terdapat sembilan ribu mahasiswa di AS yang berasal dari Indonesia. Baginya, keberadaan mahasiswa Indonesia merupakan suatu kehormatan bagi AS. Para mahasiswa ini merupakan duta kebudayaan dan pendidikan bagi dua negara ini mengingat Indonesia dan AS merupakan negara yang memiliki banyak keragaman budaya. Ini merupakan kali kedua Education USA mempercayakan UMM sebagai tempat pelaksanaan kegiatan pameran. Heather mengungkapkan, sebuah kebanggaan dapat berkolaborasi dengan UMM, kampus yang memiliki banyak prestasi Internasional. Kerjasama UMM dengan AS sejak lama telah terjalin karena UMM memiliki American Corner yang menjadi pusat informasi bagi mahasiswa UMM maupun warga Malang. UMM juga beberapa kali menjadi host dan pendamping bagi program pemerintah Amerika seperti Peace Corps dan US Army. Sementara itu Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi menyatakan, kemitraan yang terus dibangun dengan AS menjadikan UMM sebagai pintu utama masyarakat luas, khususnya kota Malang untuk memperoleh informasi tentang pendidikan dan budaya Amerika. Pameran Pendidikan AS merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa UMM dan umum yang ingin melanjutkan pendidikan di sana. Mengingat saat ini, pemerintah Indonesia telah memfasilitasi banyak beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. (nis/han)
Forum Perpustakaan PTMA Nasional Rumuskan Strategi Literasi

SEBANYAK 20 pengurus dan kordinator wilayah (korwil) Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (FPPTMA) mengikuti rapat kerja nasional (rakernas) di Perpustakaan Pusat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (13/9). Mereka berasal dari berbagai PTMA se-Indonesia. Rakernas ini diselenggarakan sebagai tindak lanjut dari musyawarah nasional yang digelar beberapa waktu lalu. Terkait kegiatan ini, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin menyatakan, 10 perpustakaan di lingkungan PTMA telah berhasil mendapatkan akreditasi A. “Rakernas ini penting untuk merumuskan strategi pengembangan kualitas tiap-tiap perpustakaan,” ujar Syamsul. Hal ini dikatakan Syamsul untuk menyikapi perubahan fungsi perpustakaan di era digital native serta mempersiapkan diri memberi pelayanan terbaik pada pemustaka. Fenomena saat ini, imbuh Syamsul, bukan lagi rahasia tentang banyaknya mahasiswa membuat karya tulis dengan copy-paste. “Saat ini kita dihadapkan pada apa yang disebut dengan problem literasi dan pemikiran destruktif. Untuk itu, kita tidak bisa mengelola perpustakaan secara biasa-biasa saja. Perpustakaan harus punya daya panggil,” tukas Syamsul. Sementara itu, kepala Perpustakaan UMM Prof Dr Dyah Roeswitawati MS dalam sambutannya mengungkapkan, selain untuk menjalin silaturrahim, Rakernas ini mengandung urgensi untuk menjembatani peningkatan kualitas dan kelayakan perpustakaan di masing-masing PTMA. “PTMA yang perpustakaannya sudah berakreditasi A dapat berbagi ilmunya dan saling membimbing PTMA yang perpustakaannya belum meraih akreditasi A. Berjalan untuk saling membantu demi kemajuan bersama,” kata Dyah. Perpustakaan UMM telah meraih akreditasi A sejak 2015. Ke depan, perpustakaan UMM akan menyelenggarakan pelatihan literasi informasi bagi civitas akademika. “Untuk memberi keterampilan bagaimana mencari, menemukan, dan mengevaluasi informasi dari media internet yang beretika. Jadi informasi yang didapatkan di internet tidak langsung comot, tapi kita memiliki pengetahuan bagaimana mencari informasi yang benar, dan paham tentang plagiarisme,” ujar Dyah. Hadir dalam Rakernas ini pengurus dan korwil dari berbagai daerah. Di antaranya dari Sorong Papua, Lampung, Banjarmasin, DKI Jakarta, korwil Jawa Tengah, korwil Jawa Timur, dan korwil Jawa Barat. (ich/han)