Outing Class Energi Alternatif UMM Dukung Pembelajaran Tematik

ENERGI alternatif yang dimiliki Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi daya tarik bagi banyak pihak, termasuk bagi siswa sekolah dasar (SD) untuk mengembangkan pembelajaran tematik terpadu pada kurikulum 2013. Hal itu pula yang melatari SD Muhammadiyah 9 Malang berkunjung ke UMM, Rabu (13/9). Beberapa area yang dikunjungi para siswa tersebut di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH), Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspa-IPTEK), Laboratorium Terpadu Fakultas Pertanian dan Peternakan, dan Panel Surya. Kegiatan ini dikemas dalam outing class berbasis edukasi energi alternatif. Menurut guru pendamping kelas SD Muhammadiyah 9, Novita Dwi Lestari, kunjungan ke UMM ditujukan untuk memberikan pengalaman pada para siswa tentang kekayaan sumber energi yang ada di sekitar mereka. “UMM memiliki banyak tempat edukasi pemanfaatan energi alternatif, itulah mengapa kami mengunjungi kampus ini,” ungkapnya. Pada setiap kunjungan ke tempat-tempat tersebut, siswa mendapatkan penjelasan tentang fungsi, manfaat, dan cara kerja energi alternatif tersebut. Antusiasme para siswa nampak dari banyak pertanyaan yang diajukan di setiap unit energi alternatif UMM. Sementara itu Kepala Laboratorium Terpadu UMM Rahmad Pulung Sudibyo mengatakan, program seperti ini akan terus diupayakan, sebagai bagian dari pengabdian UMM terhadap kalangan pendidikan. Di Laboratorium Terpadu, siswa diajak untuk mecoba menyalakan api yang berbahan bakar biogas sebagai salah satu energi alternatif milik UMM. (nis/han)
Prodi Ilmu Pemerintahan Pertahankan Akreditasi A

KABAR menggembirakan kembali datang dari salah satu program studi (Prodi) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setelah sebelumnya Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia berhasil memperoleh Akreditasi A, baru-baru ini Prodi Ilmu Pemerintah (IP) juga mempertahankan akreditasi prodinya dengan predikat A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). “Dipertahankannya akreditasi ini didukung dengan upaya peningkatan mutu Prodi IP UMM, rencana pengembangan yang visioner, menerapkan visi, misi, sasaran, strategi, untuk selanjutnya dijadikan sebagai motivasi peningkatan mutu program studi yang kompetitif, kredibel dan berkualitas,” terang Ketua Prodi IP UMM Hevi Kurnia Hardini, MA.Gov. Ditambahkan Hevi, upaya peningkatan dan pengembangan Prodi ini tidak hanya didukung dengan kegiatan internal, namun juga kegiatan eksternal di luar kampus. Juga, didukung oleh seluruh civitas akademika di lingkungan prodi, baik itu oleh dosen maupun oleh mahasiswa. Adapun bentuk dukungan ini diwujudkan dalam pengabdian dan bimbingan teknis (Bimtek) yang dilakukan oleh dosen di berbagai lembaga pemerintahan dan kelompok masyarakat. “Sedangkan wujud kegiatan mahasiswa yang dilakukan di luar kampus adalah terwujudnya kiprah mahasiswa dalam event Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Juli silam, dan berbagai organisasi kemahasiswaan,” tukasnya. Diakuinya, quality assurance yang dimiliki Prodi IP UMM juga sangat membantu mengevaluasi kinerja. Dengan adanya evaluasi tersebut, Prodi IP UMM berusaha untuk meningkatkan kualitasnya sehingga ketika ada penilaian akreditasi atau assessment tidak dirasakan kendala yang berarti. “Quality Assurance sebenarnya mempersiapkan program studi secara internal, sehingga siap untuk maju di tahap audit eksternal atau assessment lapangan. Upaya penyusunan dokumen program studi ini bertujuan melaksanakan reakreditasi dan untuk mempertahankan akreditasi A,” ungkapnya. Ke depan, Prodi IP UMM juga bakal menggenjot perluasan kerjasama internasional yang telah dimulai sebelumnya. Selain itu, sebagai bentuk dukungan terhadap program internasionalisasi UMM, mahasiswa Prodi IP UMM juga mendorong mahasiswanya untuk mengikuti kursus bahasa asing agar mudah mengakses berbagai tawaran beasiswa maupun internship. “Selain kerjasama internasional bagi dosen dan mahasiswa, berikutnya adalah memperluas jaringan program magang riset. Karena program ini cukup memberikan poin yang sangat signifikan. Karena itu, kita punya program menempatkan mahasiswa program riset terstruktur, baik di beberapa lembaga kementerian dan pemerintah Jawa Timur, juga tentunya Malang Raya,” tukasnya. (can/han)
Lagi, Mahasiswa UMM dan Singapura Kolaborasi Ciptakan Teknologi Baru

MULAI Selasa (12/9) hingga dua pekan ke depan, sebanyak 34 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan 31 mahasiswa Singapore Polytechnic (SP) akan melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Kota Batu, Jawa Timur, melalui skema program bernama Learning Express (LEx). Program yang didanai Tamasek Foundation ini dikelola langsung oleh International Relations Office (IRO) UMM. Saat ini, menurut koordinator LEx UMM Karina Sari, program ini telah memasuki tahun ketujuh. LEx diadakan dua kali setahun, yakni setiap bulan Maret dan September, di mana setiap batch mengusung proyek yang berbeda. Pada batch kali ini, tiga proyek yang menjadi fokus LEx yakni kampung pisang, produksi bawang goreng, dan produksi jamu tradisional. Kolaborasi 65 mahasiswa ini bertugas menciptakan teknologi baru dalam tiga proyek tersebut. “Terkait teknologi apa yang akan mereka ciptakan, semua itu berdasarkan hasil analisis problem yang mereka temukan di lapangan. Dari analisis nanti akan dibuat solusi untuk menyelesaikan permasalahan itu,” ujar Karina. Sebelum menciptakan teknologi baru, sejumlah peserta LEx UMM telah mengikuti pelatihan design thinking di Singapore. Selanjutnya, tiga proyek yang berlangsung dua minggu ke depan akan menjadi media aplikasi pelatihan design thinking yang didapatkan mahasiswa UMM di Singapore tersebut. Output-nya, kata Karina, bekerja sama dengan Laboratorium Teknik UMM mahasiswa akan menciptakan alat untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan pekerjaannya. “Tujuannya, teman-teman baik dari UMM maupun SP akan aware dengan permasalahan yang ada di masyarakat. Karena sebagai mahasiswa, yang sulit itu justru kembali ke masyarakat. LEx hadir sebagai media belajar agar nantinya ketika lulus, siap terjun menyelesaikan problem-problem ada di masyarakat,” ujar Karina. Karina mencontohkan pada proyek LEx sebelumnya, kolaborasi mahasiswa UMM-SP menghasilkan alat berupa prototype dryer atau mesin pengering. Dryer ini sangat bermanfaat untuk mempercepat proses produksi miniatur truk di desa Temas, Batu. “Jadi memang fokus program ini untuk menghasilkan alat yang berguna bagi masyarakat, ingin melakukan program inovasi sosail yang cepat dan tepat kebermanfaatannya,” tutur Karina. Salah satu peserta LEx UMM, Miarti Amanah Riesky mengaku tertarik mendaftar LEx lantaran ingin menjadi mahasiswa yang lebih terbuka dengan dunia luar, baik masyarakat lokal maupun asing. “Ingin belajar memahami cara berpikir orang lain dan problem solving karena program ini mengajarkan kita berpikir cepat dalam menyelesaikan masalah,” harap mahasiswa Hubungan Internasional UMM ini. Tak hanya itu, sebagai bonus keikutsertaan ini, peserta LEx juga akan mendapatkan sertifikat yang diakui secara internasional. Nantinya, sertifikat ini dikatakan Karina akan dapat bermanfaat dalam berbagai hal. “Misalnya akan mendaftar beasiswa, sertifikat ini akan berpengaruh,” ujar Karina. (ich/han)
Amcor UMM Gelar Kompetisi Sains Pelajar, Tiga Terbaik ke Amerika

MEWADAHI kreativitas dan inovasi pelajar Indonesia, American Corner (AmCor) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kompetisi sains pelajar tingkat nasional, yaitu Youth Eco-Tech National Competition 2017. Kompetisi yang berlangung dua hari ini (7-8/9) diadakan bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika di Indonesia. Diikuti 54 tim dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari berbegai daerah di Indonesia, ajang ini menghasilkan 11 tim finalis. Hasilnya, tiga tim terbaik diberikan kado spesial, yaitu diberangkatkan ke Amerika Serikat untuk mengikuti Science Tour selama lima hari. Tiga tim yang beruntung tersebut yaitu Juara 1 diraih SMKN 2 Koba Bangka Belitung dengan inovasi Magicbox Holtikultura, juara 2 oleh SMKN 8 Malang dengan karya Automatic Plant Treatment System, dan juara 3 diraih SMKN 5 Surabaya dengan karya Budidaya Aquaponik dari Air Limbah. Kompetisi sains ini, disebut staf AmCor UMM Heru Wibowo, sangat menarik karena mengusung konsep ramah lingkungan. Sebelas finalis terpilih tidak hanya memamerkan hasil karya mereka saja, namun juga mempresentasikan di hadapan Cultural Attache US Embassy Jakarta, Karen Schinnerer. Selepas kompetisi, diadakan workshop tentang strategi penemuan teknologi ramah lingkungan oleh dosen program studi Biologi UMM Dr Ir Aniek Iriany MP. (nim/han)
Milad Keempat, RS UMM Resmikan Unit Hemodialisa dan Poli Psikologi

MENINGKATNYA jumlah penyintas penyakit gagal ginjal menjadi perhatian Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) untuk meningkatkan layanannya. Setelah melalui rangkaian visitasi pada bulan Mei dan terbitnya rekomendasi operasional pada bulan Juli, RS UMM meresmikan unit hemodialisa (HD) dan poli psikologi, Sabtu (9/9). Peresmian unit HD RS UMM menyusul diterbitkannya Surat Izin Praktik (SIP) unit HD RS UMM oleh Dinas Kesehatan provinsi Jawa Timur pada bulan Agustus lalu. Peresmian ini dilangsungkan bersamaan dengan tasyakuran milad keempat RS UMM di aula lantai dua gedung penunjang RS UMM. Meski begitu, menurut Direktur RS UMM, Prof Dr dr Djoni Djunaedi Sp PD KPTI, unit HD sudah memberikan pelayanan pada masyarakat sejak dua bulan lalu. Unit HD RS UMM memiliki enam mesin yang mampu melayani hingga 24 pasien dalam sehari. Satu mesin beroperasi sebanyak dua shift dan tiap shift melayani empat pasien. Djoni menyatakan, peresmian ini akan banyak bermanfaat melayani pasien yang ingin melakukan cuci darah. “Prevalensi pasien jatuh ke gagal ginjal di kota Malang mencapai 650 ribu orang. Kalau dalam sehari RS UMM bisa melayani hingga 24 pasien, maka diharapkan ini akan memenuhi kebutuhan pasien. Saat ini unit HD UMM masih membuka satu shift, karena keterbatasan jumlah perawat,” ujar Djoni. Dikatakan Djoni, RS UMM merupakan rumah sakit pertama yang mengantongi surat izin legal dari provinsi. Beberapa RS yang sudah mengoperasikan unit HD sebelumnya masih dalam pengajuan izin legal. Selama ini, imbuh Djoni, pasien yang membutuhan layanan hemodialisa berasal dari berbagai daerah, seperti Blitar, Pasuruan, maupun Sidoarjo. Hal ini, dikatakan Djoni karena di beberapa RS daerah belum memiliki layanan hemodialisa. “Selain karena RS UMM sudah mampu melakukan itu, pasien gagal ginjal juga semakin banyak. Jadi alangkah lebih baiknya kalau RS UMM mampu memberi pelayanan itu,” ungkap Djoni. Wakil Rektor II UMM Dr Nazaruddin Malik MSi dalam sambutannya mengatakan, memasuki usia empat tahun, RS UMM terus berupaya memosisikan sebagai RS terbaik. “Ini tidak hanya mengusung misi kesehatan, tapi lebih dari itu juga misi dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karenanya, harus direfleksikan dalam upaya memperbarui level, tentunya ke arah yang lebih baik,” tukas Nazar. Hal tersebut, selain melalui pengembangan jajaran sumber daya manusia, juga tak lepas dari peran seluruh stakeholders. “Kolaborasi, sinergi, dan tanggapan yang responsif harus dimiliki seluruh elemen untuk memajukan rumah sakit ini, baik dokter, pengelola, rekan kerja, dan utamanya customer,” katanya. Ke depan, Djoni berharap RS UMM akan dapat mewujudkan target memiliki poli endoskopi dan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD). “Kita juga ingin segera dapat memberi layanan untuk penyakit jantung, kemoterapi kanker, dan gawat paru. Ahlinya sudah ada, tinggal kita siapkan saja. Semoga ke depan segera terwujud,” pungkas Djoni. (ich/han)
LK Terlibat Pendirian Pusat Budaya di New Zealand

LEMBAGA Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terlibat dalam pendirian Auckland University of Technology-Indonesian Center (AUTIC) di New Zealand. Lembaga ini merupakan hasil inisiasi bersama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI dengan Auckland University of Technology (AUT). Karena itulah pada peresmian AUTIC di Auckland, New Zealand, pada akhir Agustus (30/8), sekretaris LK Dr Iis Siti Aisyah MT dan pegiat LK Arina Restian MPd turut serta bersama rombongan Kemdikbud. Selain peresmian tersebut, selama sepekan di Auckland, tim LK juga berkunjung ke sejumlah komunitas Muslim dan komunitas kultural di kota itu. Di antara komunitas yang dikunjungi yaitu Warna Indonesia, komunitas ID-NZ dan Himpunan Umat Muslim Indonesia Auckland (Humia). Sebagai apresiasi atas kiprah sejumlah komunitas tersebut, LK telah menyiapkan buku “Diaspora Pejuang Budaya” yang disusun oleh Iis Siti Aisyiah beserta tim, untuk seri New Zealand. Terkait AUTIC, Iis Siti Aisyah berkisah, ide pendiriannya dilatari pengamatan adanya beberapa komunitas pegiat budaya Indonesia di Auckland. Hal itu lantas diapresiasi oleh Kemendikbud RI, sekaligus sebagai media promosi budaya Indonesia. Gagasan tersebut disambut cepat oleh Kemendikbud untuk direalisasikan lebih dengan melibatkan KBRI New Zealand di Wellington. “Alhamdulillah, pada 30 Agustus 2017, AUTIC dibuka secara resmi oleh Dubes RI Bapak Tantowi Yahya dan Bapak Mc. Cormack, Rektor Auckland University of Technology . Pada kesempatan itu, juga ada serah terima satu set gamelan Jawa, Tifa Papua dan lukisan kayu Papua antara wakil Kemdikbud dan AUT, “ papar Iis. Sementara pada kesempatan yang sama, LK UMM menyerahkan Buku Batik Jawa Timur yang diterbitkan LK UMM, CD Tari Bedhayan Gagrak Sumirat yang diciptakan Arina Restian, serta lima karakter Topeng Malangan, “AUTIC akan berisikan berbagai informasi tentang Indonesia, dan pelatihan-pelatihan budaya,” jelas Iis. (frid/han)
UMM Terapkan Blended Learning

MULAI semester ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bakal menerapkan blended learning atau pembelajaran campuran. Blended learning merupakan model pembelajaran yang memadukan antara tatap muka (face to face), melainkan juga kelas online (internet dan mobile learning). Koordinator program blended learning UMM Prof Dr Yus Mochamad Cholily MSi mengatakan, pelaksanaan program ini lantaran kian berkembanya sosial media, khususnya di kalangan anak muda. “Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi informasi sudah merambah ke dunia pendidikan. Oleh karena itu sangat disayangkan jika hal tersebut tidak didukung dengan model-model perkuliahan yang memanfaatkan teknologi ini,” ungkap Yus. Penggunaan blended learning, imbuh Guru Besar Ilmu Pendidikan Matematika UMM ini, kian banyak diadopsi di sekolah, perguruan tinggi, universitas, dan industri di seluruh dunia. Menurutnya, pembelajaran campuran akan mendorong proporsi kursus sekolah menengah secara online mencapai presentase 50 persen pada 2019. Selain itu, blended learning di perguruan tinggi akan menjadi salah satu metode pembelajaran baru. “Model pembelajaran meliputi program berbasis web, kolaborasi perangkat lunak, dan menejemen sistem jaringan. Selain itu, juga memuat sejumlah aktivitas termasuk belajar tatap muka, e-learning, dan aktivitas belajar mandiri. Ini memungkinkan peserta didik memadukan pengalaman belajar tatap muka dengan pembelajaran online. Teknologi informasi berpotensi meningkatkan efektivitas pembelajaran lantaran internet dapat memberikan akses sumber belajar tak terbatas,” paparnya. Penerapan blended learning ini diterangkan Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi, hanyalah salah satu upaya UMM memajukan proses pembelajaran. Berbagai upaya perlu ditingkatkan sebagai bagian dari tingginya kepercayaan pada UMM, di antaranya pengakuan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dengan nilai A dan perolehan sertifikasi internasional di tingkat ASEAN sebagai associate member of AUN-QA. Atas dasar itu, disebut Syamsul, UMM giat merevitalisasi Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) agar proses pembelajaran berjalan sesuai standar nasional. Selain itu, implementasi KPT merupakan prasyarat bagi perguruan tinggi yang tengah meningkatkan rekognisi internasional. Dengan begitu, imbuh Syamsul, mahasiswa UMM memiliki kualifikasi yang bagus. “Sejatinya, kami ingin memberikan dua kepastian kepada mahasiwa UMM. Kepastian pertama agar mahasiswa kami bisa lulus tepat waktu. Kepastian kedua yakni bagaimana agar lulusan kami bisa terserap di dunia kerja,” tandasnya. (can/han)
LK Dorong Penguatan Karakter Berbasis Budaya

SETIAP dua bulan sekali, Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) rutin melakukan kajian interdisipliner membahas ragam topik dengan pendekatan budaya. Salah satu topik yang intens diangkat yaitu penguatan pendidikan karakter melalui pelatihan bagi para guru Sekolah Dasar (SD). Ketua LK Dr Daroe Iswatiningsih MSi mengatakan, berbagai kegiatan yang dilakukan LK merupakan bagian dari komitmen menyebarkan kebudayaan di berbagai segi, terutama di bidang pendidikan. “Harus disadari, pendidikan merupakan arena masuk yang strategis dalam menanamkan nilai-nilai pada manusia Indonesia,” kata Daroe. Salah satu kegiatan LK terkait hal tersebut yaitu Pelatihan untuk Guru SD se-Malang Raya untuk 100 guru SD (24/8) “Pelatihan untuk guru yang diadakan LK bukan hanya kali ini. Beberapa kali kajian multidisipliner LK juga selalu mengundang para guru. Hal ini sebagai media sharing dan pengayaan bagi para guru yang mulia,” kata Daroe. Hadir sebagai pemateri pada kegiatan tersebut kepala Dinas Pendidikan Kota Malang DraZubaidahMMyang menyampaikan materi tetang “Kebijakan Pendidikan Penguatan Karakter”, seorang dalang dan penulis buku wayang dari ISI Yogjakarta Dr Junaidi MHum, membawakan materi “Penguatan Karakter melalui Media Wayang”, serta dosen Ilmu Komunikasi UMM Dra Frida Kusumastuti MSi tentang “Media Massa sebagai Media Pembelajaran”. Pada kesempatan ini, Zubaidah memberi contoh tentang penanaman karakter siswa. Misal, perlu diperdengarkannya lagu-lagu nasional sebelum belajar. Selain itu, setiap waktu tertentu guru olahraga bisa masuk ke kelas-kelas untuk mengajak siswa senam ringan supaya tidak ngantuk. Pada sesi tanya jawab, Zubaidah menyimak dan mencatat aspirasi para peserta, khususnya guru dari Kota Malang. Sementara Junaidi tampil menarik dengan bahasa khas pedalang dan membawa contoh karakter-karakter wayang. “Wayang bisa digunakan untuk menguatkan karakter. Mengenalkan gajah, misalnya bisa dibuat wayang gajah. Selain tentu saja kita mengenalkan tokoh-tokoh wayang sebagai warisan budaya Jawa,” papar Junaidi. Pada sesi pelatihan, Junaidi menayangkan bagaimana cara mengenalkan keluarga, tentang keturunan. Dicontohkan dengan keluarga Pandawa dan Kurawa. Bahkan untuk mengenalkan wayang lebih luas, Junaidi juga mengembangkan lakon wayang berbahasa Indonesia. Pada kesempatan yang sama, Junaidi memamerkan enam buku karyanya yang berkaitan dengan wayang sebagai media pembelajaran dan pembentukan karakter, baik untuk anak-anak maupun remaja. Sementara itu pemateri terakhir Frida Kusumastuti menyampaikan bahwa media massa tidak bisa lepas dari dunia anak-anak. Media massa juga bisa digunakan sebagai media pembelajaran, baik itu dalam bentuk penugasan, pengisi waktu luang di sekolah, dan sebagai materi pengajaran di kelas. Dijelaskan Frida, fungsi guru sebagai fasilitator sangat penting jika media massa digunakan, mengingat kini juga banyak konten media massa yang tidak sehat. Frida menyontohkan Upin Ipin merupakan contoh konten media yang bagus karena mengajarkan karakter berani mengemukakan pendapat, budaya konfirmasi, kebersamaan, saling menolong sesama, kasih sayang pada yang lemah dan muda, serta menghormati yang lebih tua. “Bahkan konten yang kurang sehat pun dengan penjelasan guru bisa diambil nilai-nilai positif,” kata Frida. Acara pelatihan diakhiri dengan pelatihan praktis menggunakan wayang sebagai media pembelajaran, dan setiap peserta mendapatkan bahan peraga karakter wayang dari kertas dari LK UMM. (frid/han)
Fatin Shidqia Lubis, Kado Spesial Penutupan Pesmaba
PENAMPILAN penyanyi Fatin Shidqia Lubis pada puncak acara penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2017, Sabtu (7/9) di UMM Dome, menjadi kado spesial bagi kesuksesan penyelenggaraan Pesmaba yang berlangsung selama empat hari, yaitu pada 4 hingga 7 September 2017. Pada penutupan Pesmaba, Fatin Shidqia Lubis melantunkan delapan lagu, termasuk hits “Dia Dia Dia”, “Aku Memilih Setia” dan cover lagu Bruno Mars “Grenade”. Selain bernyanyi, Fatin pun tak lupa berbagi pengalamannya menggapai mimpi. Ia berkisah, kegigihan dan dukungan orang tua adalah dua faktor yang membuatnya lebih mudah mewujudkan impiannya. Ditemui usai penampilannya, Fatin mengaku senang mendapat kesempatan tampil di UMM untuk pertamakalinya. Diakuinya, antusiasme mahasiswa membawa gairah tersendiri yang membuatnya bisa tampil maksimal. “Crowd-nya seru banget. Bikin nagih, bikin nggak mau nyelesain lagu. Pokoknya seneng banget, semoga dapet kesempatan perform di UMM lagi,” ungkapnya. Selepas acara, Fatin juga menyempatkan diri berfoto-foto di salah satu taman kampus yang ber-letter “Love UMM”. Fatin berharap mahasiswa baru UMM nyaman kuliah di kampus ini sehingga dapat meningkatkan kualitas dirinya. “Semoga betah-betah di UMM. Semoga di UMM bisa ketemu sama orang-orang yang membangun. Juga, semoga UMM bisa menjadi universitas yang bisa membuat mahasiswa-mahasiswanya menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” tukasnya. Seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, pada gelaran penutupan juga diumumkan pemenang panitia penyelenggara Pesmaba terbaik di tingkat fakultas. Fakultas Psikologi menjadi penyelenggara terbaik dengan nilai 851, disusul Fakultas Ilmu Kesehatan di peringkat kedua dengan nilai 829,50 dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan nilai 807,69 di peringkat ketiga. Diumumkan pula para pemenang lomba foto #JadiMabaUMM, lomba vlog #BanggaJadiMabaFakultasmu dan lomba foto foto live report #PesmabaUMM2017. (can/han)
Yudi Latief: UMM Miniatur Indonesia

KEPALA Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Yudi Latief, secara khusus menyebut Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai miniaturnya Indonesia. Hal tersebut lantaran dirinya takjub setelah mengetahui keterwakilan mahasiswa dari masing-masing daerah di Indonesia ada di UMM. “Belum pernah saya datang ke kampus, dan semua suku ada. Tapi di UMM, semua suku ada,” kata Yudi Latif pada penutupan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM 2017. Sabtu (7/9) di UMM Dome. Kehadiran Yudi Latif tak lepas dari Apresiasi Ikon Prestasi Indonesia yang diberikan Presiden Joko Widodo pada UMM melalui UKP-PIP. Dalam amanatnya, Yudi menekankan, sebagai perekat keragaman suku dan agama, Pancasila merupakan titik temu, titik pijak, dan titik tuju dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. “Tanpa Pancasila, masa depan bangsa Indonesia menjadi kabur dan tidak jelas arah dan tujuannya,” kata Yudi. Selain mengajak mahasiswa baru UMM untuk menghayati Pancasila sebagai landasan kehidupan bebangsa dan bernegara, Yudi juga menekankan urgensi internalisasi nilai di tiap segi kehidupan, utamanya menghadapi dunia perkuliahan. “Jangan cuma menjadi textbook thinker, jangan cuma belajar ilmu-ilmu akademik dan keterampilan semata. Tapi berikan nilai, karena nilai itu yang memberikan kita panduan ke depan. Belajar agama sesungguh hati, belajar Pancasila agar bisa menghargai keragaman,” ungkapnya. Yudi lantas menutup orasinya dengan mengajak kepada seluruh mahasiswa baru untuk senantiasa menghayati, memahami dan mengamalkan Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. “Belajar ilmu setinggi-tingginya, dengan itu kita bisa menjadi seorang profesional yang berhati mulia, membawa bangsa ini untuk saling bersatu. Warna bisa saling bersatu, rasa bisa saling bersambung, rizki bisa saling berbagi, demi kebahagiaan hidup kita bersama, di bawah landasan nilai Pancasila,” pungkasnya. Penegasan UKP-PIP soal Pancasila sekaligus menyempurnakan nuansa kebangsaan Pesmaba UMM. Pada pembukaan Pesmaba, mahasiswa UMM sukses menampilkan empat flashmob bercorak kebangsaan, yaitu formasi lambang Burung Garuda, tulisan “UMM for Indonesia” dan “Jas Merah Kampus Putih”, serta formasi kepulauan Indonesia. Selain Yudi, turut hadir pada kegiatan ini anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI Abdul Malik Fadjar, penasehat khusus UKP-PIP Romo Benny Susetyo, serta Rektor UMM Fauzan dan jajaran pimpinan universitas maupun fakultas. Pada kesempatan ini, UMM melalui Rektor juga turut menyematkan jas almamater UMM pada Yudi Latif. (can/han)