Mahasiswa Asing Pilih UMM Karena Lingkungan Belajar dan Keunggulan Prestasi

TERLETAK di Kota Malang, Jawa Timur, yang dikenal sejuk dan nyaman untuk belajar, membuat mahasiswa asing dari berbagai negara memilih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai tujuan pilihan studi. Selain letak kota, keunggulan dan prestasi UMM yang termuat di website menjadi bahan pertimbangan utama mahasiswa asing. Hal tersebut disampaikan Dr Arif Budi Wurianto MSi, kepala unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM di sela opening ceremony atau kegiatan penyambutan terhadap 20 mahasiswa asing program beasiswa Darmasiswa RI dan 7 mahasiswa asing Kemitraan Negara Berkembang (KNB) yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (6/9). Sebanyak 27 mahasiswa tersebut adalah di antara 78 mahasiswa asing dari 16 negara yang menjadi bagian dari UMM tahun ini. Berbagai pertimbangan tersebut dipandang penting, lantaran menurut Arif, sistem penerimaan mahasiswa asing program Darmasiswa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika di tahun-tahun sebelumnya, pemerintah memberikan kuota pada masing-masing universitas, mulai 2017, mahasiswa dari berbagai negara bebas memilih universitas tujuan di Indonesia pada formulir aplikasi pendaftaran. Lebih lanjut, Arif menyampaikan, pemberlakuan sistem baru ini memberikan tantangan tersendiri bagi tiap universitas untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas untuk tetap dapat menjadi pilihan calon mahasiswa. “Berdasarkan hasil wawancara di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di negara asal mereka, alasan mereka memiliih kampus ini karena lokasi dan keunggulan prestasi UMM,” papar Arif. Tahun ini, total jumlah mahasiswa asing program Darmasiswa mencapai 670 orang yang tersebar di 63 berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sementara di UMM, mahasiswa Darmasiswa sebanyak 20 orang yang berasal dari tujuh negara, yakni Sudan, Palestina, India, Korea Selatan, Jepang, Thailand, dan Vietnam. Selain Darmasiswa, UMM juga menerima tujuh mahasiswa KNB dari Sierra Lione, Palestina, Afghanistan, Kamboja, dan Vietnam. Ketujuh mahasiswa tersebut mengambil program magister di UMM. “Jadi, ada dua program beasiswa sekaligus dari dua kementerian, yaitu beasiswa Darmasiswa RI dari Kemendikbud dan beasiswa KNB dari Kemenristek Dikti. Dua kementerian, dua beasiswa pada satu kampus yang sama, kita gabungkan dalam satu opening ceremony,” ujar Arif. Menyambut mahasiswa asing, UMM siap memberlakukan beberapa program mencakup pembelajaran bahasa, budaya, seni, dan lingkungan. Hal ini merujuk pada tujuan akhir pembelajaran Darmasiswa yang akan membentuk mahasiswa yang siap mempromosikan bahasa, budaya, dan seni Indonesia di negaranya masing-masing sebagai duta budaya. Pembelajaran bahasa akan berlangsung di kelas. Sementara untuk lebih mengenalkan mahasiswa pada lingkungan sekitar dan pariwisata, mahasiswa akan diajak berkeliling ke beberapa destinasi wisata di Kabupaten Malang dan kota Batu. Selain itu, mereka juga akan melakukan jelajah nusantara ke beberapa destinasi wisata di Jawa Timur. Tak hanya itu, untuk lebih mengasah jiwa kepedulian mahasiswa akan lingkungan dan penduduk sekitar, UMM telah merancang community service, yakni program kunjungan mahasiswa ke sekolah-sekolah, panti asuhan, atau yayasan anak cacat dan berkebutuhan khusus. “Saat ini mereka masih tinggal di asrama. Tapi, dalam waktu dekat mereka akan mencari rumah indekos. Ini penting untuk lebih mengenalkan mahasiswa dengan masyarakat sekitar, juga sebagai aplikasi pembelajaran budaya masyarakat Indonesia pada mahasiswa,” pungkas Arif. Dalam sambutannya, Wakil Rektor II Dr Nazaruddin Malik MSi menyambut dengan penuh semangat puluhan mahasiswa asing tersebut. “Kita akan memberikan banyak wawasan baru untuk teman-teman mahasiswa. Selamat datang di Indonesia, selamat datang di UMM, semoga selalu bahagia selama belajar,” sambut Nazaruddin. (ich/han)
Mahasiswa Asing Kembangkan Tanaman Organik di Kampung Temas

SETELAH delapan hari mengikuti Design Thinking Camp (DT Camp) pada 28 Agustus hingga 4 September 2017, sebanyak 40 mahasiswa yang terdiri dari 20 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan 20 mahasiswa asing akan kembali ke aktivitasnya masing-masing. Diharapkan, kegiatan DT Camp dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa lintas negara itu halam hal design thinking dan pengelolaan tanaman organik. DT Camp merupakan gelaran hasil kerjasama International Relations Office (IRO) UMM dengan dengan Kampung Wisata Temas. Sebanyak 20 mahasiswa asing tersebut, disebut Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri Soeparto, berasal dari Istanbul Sehir University (Turki), Yangoon University (Myanmar), Tongren University (Tiongkok) dan Rajamanggala University of Technology(Thailand). “Semua universitas tersebut merupakan mitra UMM,” kata Soeparto. Pada kegiatan in, tak hanya terfokus pada pendidikan dan pelatihan saja, namun para peserta langsung diajak turun lapang. Mereke melihat bagaimana pengelolaan tanaman organik, mengamati masalah, dan dibimbing untuk membuat prototype konsep penyelesaian masalah. Pada penutupan DT Camp (4/9), hasil turun lapang itu langsung dipresentasikan pada pihak pengelola Kampung Wisata Temas. Soeparto menjelaskan, pemilihan tema pertanian ini bukan tanpa alasan. Pemilihan tema bertujuan untuk mengenalkan tren tanaman organik Indonesia pada mahasiswa khususnya mahasiswa asing. “Menurut riset, yang mencari tanaman organik kebanyakan merupakan para orang tua untuk menyembuhkan penyakit . Padahal, tanaman organik sebenarnya khasiatnya lebih dari itu”, paparnya. Soeparto ini menambahkan, selain berbasis community involvement (keterlibatan komunitas), kegiatan ini juga bertujuan untuk mengenalkan Indonesia pada dunia. Hal tersebut dapat dilihat dari setengah jumlah peserta yang merupakan mahasiswa asing yang diundang langsung oleh UMM,” lanjut Soeparto. Selain untuk tujuan tersebut, kegiatan DT Camp juga diselingi dengan pengenalan budaya, meliputi permainan dan seni tradisional seperti tarian, pembuatan topeng malangan, kuliner, hingga prosesi pernikahan adat Jawa. Salah satu mahasiswi asing asal Turki, Sumaya, mengaku sangat terkesan dengan budaya Indonesia yang diperkenalkan. “Selain mendapatkan materi design thinking secara detail, saya juga mendapatkan pengetahuan tentang budaya Indonesia. Saya suka orang Indonesia, budayanya, terlebih lagi makanannya,” kelakar mahasiswi Istanbul Sehir University jurusan Teknik Industri ini. (riel/han)
Segarnya Suasana Kampus Putih

SUASANA kampus putih Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bersih dan segar menjadi daya tarik utama mahasiswa baru ketika pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini. Tak heran, UMM memiliki ruang terbuka hijau (RTH) yang sangat luas, yang di antaranya tampak jelas pada banyaknya taman di berbagai area kampus. Wakil Rektor II UMM Dr Nazaruddin Malik MSi mengatakan, pembangunan taman di lingkungan kampus dimaksudkan agar mahasiswa dan seluruh civitas akademika nyaman berada di kampus. “Suasana nyaman ini penting karena dapat membuat pikiran mahasiswa lebih segar, semangat belajar lebih tinggi, dan lebih mudah terinspirasi,” ujarnya. Suasana ini juga disebut Nazaruddin merupakan bagian dari upaya UMM menjadi kampus eduwisata. Upaya tersebut turutdidukung topografi UMM yang unik dan menarik, beserta pemandangan pegunungan Panderman dan gunung Arjuno yang mengitari kampus. “Di tengah kampus juga ada danau yang sangat indah, dan di berbagai titik terdapat gazebo-gazebo yang menjadi tempat favorit mahasiswa belajar bersama, atau sekedar melepas lelah,” jelasnya. Secara spesifikKepala Biro Administrasi Umum (BAU) UMM Dr Ir Sunarto MT memaparkan, program pengelolaan taman di UMM ini sekaligus merupakan tindak lanjut dari anjuran pemerintah tentang bangunan perguruan tinggi. Pemerintah menekankan, luas tanah untuk bangunan maksimal 60 persen sementara 40 persen sisanya harus menjadi RTH meliputi taman dan jalan. “Menariknya, UMM justru melampaui itu. Dari 16 hektar tanah di lingkungan kampus, UMM hanya menggunakan 40 persen sebagai bangunan, sedangkan 60 persen sisanya diprioritaskan menjadi RTH”, jelas Sunarto. Bahkan, ke depan, seluruh taman di UMM akan memiliki tema yang berbeda-beda. Seperti di area tengah, yaitu sekitar Helipad UMM dan depan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 memiliki tema taman warna-warni ditambah tulisan “Love UMM”. “Love UMM sudah menjadi ciri khas kampus ini beberapa tahun terakhir, sehingga kita aplikasikan konsep itu di taman-taman,” pungkas Sunarto. Keberadaan taman-taman itu direspon positif banyak kalangan, termasuk mahasiswa baru, salah satunya mahasiswi asal Nganjuk Rifatul Khoiriyah. Rifatul mengaku senang melihat lingkungan kampus yang menurutnya akan sangat mendukung studinya. “Di sini lingkungannya sejuk dan rimbun, jadi banyak pilihan untuk belajar selain di dalam kelas,” tuturnya. (riel/han)
Sanghyun Kim, Kenali UMM Karena Prestasi Internasional

PRESTASI internasional yang diraih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah membuka jalan bagi Sanghyun Kim untuk menjadi mahasiswa baru di kampus ini. Mahasiswa asal Busan, Korea Selatan ini mengenal UMM salah satunya melalui prestasi Paduan Suara Mahasiswa Gita Surya UMM saat menjuarai Choral Busan Festival and Competition empat tahun lalu di Korea Selatan. “Iya, saya pernah tahu kelompok paduan suara UMM pernah juara lomba di Busan. Ini bagus sekali, bisa memenangkan kompetisi itu. Padahal sulit sekali,” kata Kim sambil mengacung-acungkan jempolnya. Selain karena prestasi itu, Kim mengaku juga mendapatkan rekomendasi dari kakak seniornya di Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan. Saat itu kakak seniornya di BUFS pernah mendapatkan beasiswa Darmasiswa RI di salah satu kampus di Malang. “Saya direkomendasikan oleh kakak senior saya untuk belajar di UMM. Dulu dia juga belajar di Malang, tapi bukan di UMM. Tapi saya disarankan untuk belajar di UMM. Katanya UMM bagus,” ujar mahasiswa yang sebelumnya mengambil program studi Indonesia-Malaysia di BUFS ini. Ketika pertama kali datang ke kampus ini, Kim mengaku langsung menyukai UMM, karena keramahan orang-orangnya dan kesejukan udaranya. “Banyak orang baik di sini. Saya belum keliling semua kampus, tapi saya suka danaunya, sejuk. Bagus sekali kampusnya,” kesan Kim. Menariknya, Kim bertekad tak mau berbicara dalam bahasa Inggris maupun bahasa Korea selama di Indonesia. Ia akan berusaha berbicara bahasa Indonesia. “Ya, saya harus bicara bahasa Indonesia,” tekadnya sambil tersenyum lebar. (ich/han)
Nuansa Kebangsaan Warnai Pesmaba UMM

SELAMA empat hari, Senin hingga Kamis (4-7/9), sebanyak 7.609 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikui kegiatan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba). Di antaranya juga terdapat 78 mahasiswa asing dari 16 negara, yaitu Afganistan, Cina, India, Jepang, Jerman, Kamboja, Korea Selatan, Laos, Libya, Malaysia, Polandia, Rusia, Sierra Leone, Sudan, Thailand, dan Vietnam. Pesmaba dibuka dengan upacara di Heliped UMM (4/9) yang begitu kuat dengan nuansa kebangsaan. Nuansa itu ditunjukkan di antaranya melalui flashmob bernuansa merah putih dengan formasi lambang Burung Garuda, tulisan “UMM for Indonesia” dan “Jas Merah Kampus Putih”, serta formasi kepulauan Indonesia. Nuansa ini, disebut Rektor UMM Fauzan, sejalan dengan tema Pesmaba 2017 yaitu “Meneguhkan Karakter Kebangsaan untuk Indonesia Berkemajuan dan Bermartabat”. Dengan tema ini, Rektor berharap, maba tak hanya mengenal UMM secara fisik, tapi sekaligus menginternalisasi perasaan mental dan ideologi menyatu dengan UMM. Pemilihan flashmob bernuansa kebangsaan sejalan dengan tagline UMM “Jas Merah Kampus Putih”. Tagline ini tak hanya bermakna harfiah lantaran mahasiswa mengenakan jas berwarna merah dan kampus UMM dominan warna putih, tetapi juga mengingatkan akronim yang dikenalkan presiden pertama RI Soekarno tentang “Jas Merah” yang bermakna; jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Sedangkan kampus putih bisa bermakna kampus yang amanah, optimistik dan mencerahkan. Dengan nuansa tersebut, Rektor berharap para maba UMM siap menjadi generasi muda terbaik dan pemimpin bangsa di masa depan. “Saat ini boleh jadi saudara hanya menjadi mahasiwa UMM. Tetapi di masa mendatang, saudaralah yang akan menjadi pemimpin di negeri ini,” ujar Fauzan. Karakter itu semakin kuat dengan hadirnya Danrem 083/Baladikajaya Kolonel Inf Bangun Nawoko sebagai inspektur upacara dan Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjen Pothan) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia Dr Sutrimo yang memberikan kuliah umum sebelum dimulainya prosesi Pesmaba di masing-masing fakultas. Selain ciri merah putih pada flashmob di heliped, atmosfer kebangsaan kembali terasa ketika maba memenuhi hall UMM Dome selepas upacara pembukaan. Mahasiswa yang duduk di pelataran ruangan dome diminta membentuk formasi merah-putih, sementara yang duduk di tribun atas membentuk formasi bertuliskan “We Love UMM” bercorak merah-putih. Pada pidatonya, Fauzan juga turut mendorong para maba untuk meneruskan estafet prestasi yang sebelumnya telah diraih mahasiswa UMM. Seraya memotivasi maba, Fauzan bercerita bahwa pekan lalu UMM baru saja menerima Apresiasi Ikon Prestasi Indonesia dalam perhelatan Festival Prestasi Indonesia 2017 lantaran tim robot UMM menjuarai kontes robot internasional di Connecticut Amerika Serikat. (can/han)
Maba UMM Warisi DNA Perjuangan Tokoh Muhammadiyah

DIREKTUR Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjen Pothan) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemenhan RI) Dr Sutrimo menyatakan mahasiswa baru (maba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah orang-orang yang istimewa. Pasalnya, mereka merupakan orang-orang terbaik yang mewarisi semangat juang tokoh Muhammadiyah. Dikatakan Sutrimo, tokoh-tokoh pendiri Muhammadiyah sejak awal pergerakannya telah memelopori gerakan Islam yang berkemajuan dan progresif. Sementara UMM, menurut pandangan Sutrimo, merupakan kampus yang visi-misinya sejalan dengan visi-misi tokoh pendiri Muhammadiyah. “Visi-misi tokoh pendiri Muhammadiyah sejalan dengan visi-misi UMM. Secara otomatis, DNA perjuangan tokoh Muhammadiyah mengalir dalam darah mahasiswa baru UMM,” ujar Sutrimo saat kuliah umum pembukaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) di hall UMM Dome, Senin (4/9). Alumni SMA Muhammadiyah Kudus tersebut mengungkapkan, sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM), tak ayal UMM akan mengembangkan mahasiswanya untuk percaya diri, mandiri, berintegritas, ulet, tak pantang menyerah, dan berjiwa Pancasilais. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan muatan kemurnian ajaran Islam yang menjadi ruh Muhammadiyah. “Anda sangat beruntung bisa kuliah di kampus Muhammadiyah. Saya hanya sempat mengenyam pendidikan Muhammadiyah di SMA,” pungkas Sutrimo. (ich/han)
Prodi Ekonomi Pembangunan Kembangkan Kurikulum Berbasis Karir

MEMASUKI usia yang kian matang yaitu 30 tahun, Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembanguan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kian serius memperkuat mutu akademik. Salah satunya yaitu melalui pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan karir. Hal itu menjadi topik utama dalam temu alumi Prodi Ekonomi Pembangunan yang berlangsung Sabtu (2/9) di Sengkaling Kuliner UMM. “Temu alumni ini bukan semata-mata untuk melepas rasa kangen karena sudah berapa lama tidak bertemu. Tetapi ada tujuan penting yang ingin kita raih dari pertemuan kita di setiap periodiknya. Khususnya adalah kita ingin menjalin kerjasama dengan para alumni untuk bisa memberikan kontribusi yang positif, terutama bagi rancangan kurikulum kita ke depannya,” kata Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Dr Sidik Sunaryo SH M.Si MHum pada kesempatan menghadiri gelaran temu alumni. Lebih lanjut Sidik menerangkan, mahasiswa semester 7 UMM selama satu semester bakal mendapat perkuliahan berbasis karir yang dikemas dalam format program Career Day. Sidik menginginkan, penyusunan kurikulum ini agar relevan dengan kebutuhan di lapangan yang sesuai dengan kebutuhan stakeholder. Mengacu pada negara lain, khususnya sejumlah negara tetangga, bagaimana agar lulusan yang dihasilkan bisa terserap dengan mudah di pasar kerja, yaitu dengan mamadukan aktifitas akademik, dengan kegiatan magang industri ataupun institusi. “Kerjasama UMM dengan dunia industri tidak akan mulus kalau tidak ada dukungan regulasi, baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi. Oleh karenanya, bagi alumni yang menjabat di pemerintahan, kami berharap adanya suatu regulasi yang menuntut setiap pelaku industri di bawah pemerintahannya agar bisa menerima mahasiwa-mahasiswa fakultas ekonomi untuk tidak hanya magang selama satu bulan, agar pengalaman yang didapat lebih matang,” tukasnya. Dalam gelaran tahunan itu, sejumlah tamu penting juga hadir memeriahkan acara. Salah satunya Bupati Pasuruan yang sekaligus menjabat Ketua Ikatan Alumni Prodi Ekonomi Pembangunan UMM, Irsyad Yusuf SE MMA. Serta dilakukan penyematan tanda jasa pengabdian kepada sejumlah dosen atas dedikasinya kepada FEB UMM. Di antara mereka yang diberi penghargaan yakni Dr Dwi Wahluyo M.Si (alm), serta Dr Wahyu Hidayat Riyanto MM. (can/han)
Rektor UMM: Idul Adha, Pelajaran Kebermaknaan Hidup

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan mengatakan, Idul Adha merupakan pelajaran untuk memberi makna dalam hidup. Disebut Fauzan, syariat berkurban menekankan pembagian dagingnya kepada mereka yang berhak menerima. “Ajaran yang bisa kita petik adalah, kita dianjurkan untuk selalu berbagi kenikmatan kepada orang lain. Tuntutan agar hidup menjadi bermanfaat bagi yang lain merupakan suatu keharusan bagi orang yang mengaku beriman,” kata Fauzan saat menjadi khatib shalat Idul Adha 1438 Hijriyah yang berlangsung di Heliped UMM, Jumat (1/9). Rektor juga menegaskan, kebermaknaan hidup tidak sebatas pada pemberian yang sifatnya material, tetapi juga hal yang immaterial atau tak berwujud, seperti keikhlasan dan keridloan. Daging dan darah bukanlah sesuatu yang paling utama, melainkan keikhlasan dalam berkurban. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridloan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai keridloan Allah. Untuk ibadah haji pun demikian, kita diperintahkan untuk ikhlas, bukan cari gelar dan cari sanjungan,” tutur Fauzan. Dengan mengutip salah satu hadis Nabi tentang haji, Fauzan mempertegas penyampaiannya, bahwa barangsiapa yang berhaji karena Allah dan tidak berkata seronok dan tidak berbuat kefasikan, maka pulang ke negerinya sebagaimana dilahirkan oleh ibunya. “Ini berarti berkurban dan berhaji bukanlah ajang untuk pemameran kekayaan, pemameran kekuasaan, atau riya kepada yang lain,” tukasnya. Di akhir khutbahnya Fauzan kembali mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan bersama kejadian yang dialami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Fauzan juga berharap agar semua pihak mampu memetik pelajaran dari peristiwa itu, sehingga dapat menjadi manusia yang unggul dan bermakna bagi, baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negara. Sementara itu, terkait penyediaan hewan kurban di UMM, disampaikan ketua panitia Idul Adha Suyatno, UMM telah menyiapkan 9 ekor sapi dan 33 ekor kambing. Tahun ini, lanjutnya, UMM juga mendistribusikan hewan kurban yang sebagian besarnya dibagikan ke desa binaan UMM. “Sumber hewan kurban sendiri dari internal karyawan dan dosen UMM serta Baitul Mal UMM 6 ekor sapi dan 17 ekor kambing. Sisanya dari rekanan, sponsor dan perseorangan,” terang Suyatno. Adapun pelaksanaan Idul Adha di UMM, selain di Heliped UMM Kampus III ini, shalat juga dilakukan di lapangan parker Kampus II dengan khatib Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan M Yus Cholily. (can/han)
Dilatih UMM, Diplomat Asing “Luwes” Menari dan Membatik

MELALUI kegiatan the 12th Promotion to Indonesian Language and Culture for Foreign Diplomats Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RepubIik Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) lewat unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) berkesempatan melatih dan mendidik 12 diplomat asing untuk mengenal bahasa dan budaya Indonesia. Tak hanya itu, para diplomat itu juga diajarkan untuk mengaplikasikannya dalam bentuk karya dan praktek kesenian. Mereka dilatih karawitan, menari, membatik, mendalang, memainkan alat musik tradisional, dan pariwisata. Di pelajaran membatik, bahkan tiap diplomat diminta membuat dua karya motif batik. Karya pertama mereka buat di atas kain persegi panjang dengan motif yang sudah tersedua, dan karya kedua mereka menggambar sendiri motifnya, lalu membatik motif yang telah mereka rancang itu. Berbagai hasil karya mereka itu ditampilkan pada pameran sekaligus closing ceremony yang berlangsung Selasa malam (29/8) di Sengkaling Kuliner UMM. Di gelaran itu, pertunjukan seni tari ditampilkan oleh enam diplomat dari enam negara berbeda. Penampilan mereka berhasil memukau pemirsa yang hadir malam itu. Selain menampilkan tarian, mereka juga mempersembahkan kesenian lain, seperti pembacaan puisi, menyanyi. Juga, para diplomat itu diuji untuk berpidato menggunakan bahasa Indonesia di depan hadirin. Salah satu Diplomat asal Kamboja Cheng Linna, yang ikut nenampilkan seni tari Topeng Malangan mengaku ia baru belajar menari pada awal Agustus ini, ketika dimulainya program ini. Diakui Cheng, pengalaman di UMM ini sangat berkesan. Menurut Cheng, Malang memiliki banyak spot menarik untuk ditelusuri. Ketertarikan Cheng pada budaya Indonesia makin menjadi, setelah mengunjungi sejumlah museum di Malang. Ia menjelaskan, terdapat beberapa kesamaan bentuk peninggalan sejarah utamanya arca yang ada di Indonesia dan negara asalnya, Kamboja. Lewat situ, Ia berencana membuat artikel mengangkat benang merah keterhubungan sejarah Indonesia dan Kamboja di masa lampau. Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (RI) Eko Hartono mengaku puas dengan penyelenggaraan program kerjasama antara Kemenlu dan UMM itu. “Terutama kami lihat bahwa Diplomat yang belajar Bahasa Indonesia di UMM merasa sangat puas dengan proses pembelajarannya. Selain itu, mereka juga merasa puas dengan suasana lingkungan yang sangat baik,” ungkapnya. Dilanjutkan Eko, dengan penilaian demikian, Kemenlu RI akan mempertimbangkan secara positif untuk melanjutkan kerjasama lewat skema kerjsama yang lain dengan UMM. “Misalnya kita perpanjang sedikit masa pendidikan agar pembelajaran lebih efektif, atau bentuk lain. Intinya kami puas dengan UMM,” tandasnya. (can/han)
Sumitomo Foundation Jepang Ajak UMM Riset Bersama

DALAM kunjungannya ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Rabu (30/8) Sumitomo Foundation Jepang mengajak UMM untuk bersinergi melakukan penelitian. Program Officer Planning Department the Sumitomo Foundation, Mr Kenichi Hamaya menyatakan kedatangannya ke kampus putih lantaran menemukan nama beberapa dosen UMM yang pernah melakukan penelitian bersama The Sumitomo Foundation di database-nya. “Kami ingin mengajak UMM melakukan penelitian bersama di berbagai bidang, mulai saintifik hingga humaniora,” ujar Kenichi. Sementara itu, Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM Soeparto menyatakan kerjasama ini salah satunya juga didasarkan pada keprihatinan akan banyaknya tradisi dan budaya Indonesia yang tergerus arus modernisasi. “Kalau kita amati, Jepang sebagai negara maju tapi tetap terjaga keaslian budaya dan tradisinya. Sementara, Indonesia dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, mengapa banyak tradisi dan budaya yang seakan luntur,” ungkap Soeparto. Meskipun, lanjut Soeparto, penelitian ini nantinya tak hanya mencakup bidang humaniora semata, melainkan terbuka lebar untuk semua bidang. Pendaftaran untuk melakukan sinergi penelitian tersebut dibuka sejak 1 September hingga 31 Oktober 2017. Selama kurun waktu tersebut, Soeparto memproyeksikan akan ada minimal 10 proposal dari UMM yang didaftarkan. Kerjasama UMM dengan Jepang bukan yang pertama kali dilakukan. Sebelumnya, UMM bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA)menggelar workshop bertajuk Learning Community for Better Future Educations, akhir Juli lalu. Selain itu, beberapa perawat lulusan Ilmu Keperawatan UMM juga tersebar di beberapa rumah sakit di Jepang. Beberapa di antaranya bahkan sudah mengantongi registered nurse (RN) sebagai perawat profesional. (ich/han)