Dialog Lintas Agama PSIF UMM Gandeng 45 Aktivis Muda se-Jawa Timur

SEBANYAK 45 aktivis muda se-Jawa Timur yang berasal dari latar organisasi dan agama yang berbeda berkesempatan menceritakan kisah multikultural dan multireligiusnya dalam forum Training on Interreligious Dialogue for Religious Youth Activists in East Java (28/8) di Aula Masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Forum ini digagas oleh Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM sebagai tindak lanjut dari program yang diikuti Kepala PSIF UMM Pradana Boy oleh King Abdullah bin Abdulaziz International Center for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID) yang berpusat di Wina, Austria. “Kami mengajak aktivis, terutama pemuda agar memiliki wawasan baru tentang konsep hubungan antaragama. Pemuda semestinya menjadi katalisator di tengah isu-isu intoleransi yang berkembang di masyarakat,” ujar Pradana. Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan ini Direktur Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang FX Armada Riyanto dan ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batu Nurbani Yusuf. “Dialog semacam ini memang sangat penting. Ini pengejawantahan nyata dari jargon ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila’,” ujar pria yang karib disapa Romo Armada itu. Sementara menurut Nurbani, dialog bukan semata persoalan pikir, melainkan lebih pada dialog hati. Sementara itu, sebagai sesama agama samawi, Islam dan Nasrani memiliki banyak kesamaan. Hal ini diungkapkannya melalui kisah Nabi Isa dengan 12 murid yang dikepung Yahudi selama 40 hari tanpa makan dan minum. “Kisah ini sama dengan yang dipelajari di Nasrani. Artinya, agama kita, Islam dan Nasrani ini sejatinya sama kalau kita kaji dari sisi sejarah,” ujar Nurbani. Pada kegiatan ini, peserta dari berbagai kalangan dan agama berbagi pengalaman tentang perbedaan agama, suku, atau keyakinan yang pernah dialaminya. Beberapa mahasiswa yang berasal dari daerah Timur Indonesia mengungkapkan toleransi beragama di daerahnya bukan menjadi masalah. Malah, umat Islam dan Nasrani saling bergotong-royong dalam berbagai kegiatan. “Harmoni itu memang tidak mungkin tanpa adanya perbedaan. Karena berbeda, maka harmoni itu ada,” ujar Pradana. (ich/han)

UMM Ajak Diplomat Asing Bertani Mawar di Sidomulyo

DIPLOMAT asal Kazakhstan, Gaukhar Abdirova mengaku kagum terhadap ide menanam mawar menggunakan sekam padi yang dilakukan para petani mawar di Desa Sidomulyo, Batu, Jawa Timur. Diceritakan Gaukhar, di negaranya Kazakhstan petani menanam mawar menggunakan media tanah. “Sedangkan tanah di sana kurang bagus untuk menanam mawar. Sehingga, hasil panen mawar pun kurang maksimal. Melihat inovasi menanam mawar menggunakan sekam ini, Gaukhar tertarik menerapkan ide petani Batu di negaranya,” ujar Gaukhar saat mengikuti outing class (19/8) pada kegiatan the 12th Promotion to Indonesian Language and Culture for Foreign Diplomats Kemenlu RI yang dikelola oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain Gaukhar, kegiatan di luar kelas (outing class) menanam mawar batu juga dilakukan 11 diplomat asing lainnya yang juga didampingi sejumlah mahasiswa UMM. Pada kegiatan ini, tak hanya tertarik pada media tanam, Gaukhar juga terkagum-kagum pada mawar batik. Mawar batik adalah jenis mawar hasil persilangan dua warna sehingga tampak sepeti batik. Selain mawar batik, Gaukhar juga tertarik pada mawar yang biasa dipakai sebagai bahan pembuat parfum. Bahkan, menurut diplomat asal Iran, Saedar Shafiei, bunga mawar di negaranya juga dijuluki bunga Muhammadi. “Karena bunga ros ini harum, diibaratkan seperti wangi Nabi Muhammad,” ujar Shaifei dalam bahasa Inggris. Bersama dua pemilik kebun, Julianto dan Suyati, para diplomat asing ini turun langsung ke kebun untuk belajar berbagai hal terkait budidaya tanaman mawar. Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama membantu Suyati untuk menanam bakal mawar melalui penyetekan. Caranya, potong batang mawar yang sudah tua, lalu tanam pada polybag berisi sekam padi. Sekam harus penuh dan padat untuk menghasilkan bakal tanaman mawar yang baik. Penanaman awal ini membutuhkan waktu selama 40 hari. Setelah 40 hari, akan tumbuh akar dari potongan batang yang ditanam. Selanjutnya, batang akan dipindahkan ke polybag yang lebih besar selama dua bulan. Setelah itu, tanaman mawar siap diokulasi dengan mata tunas bunga mawar. Cukup sebulan, maka bunga mawar akan muncul dan siap dijual. Sementara itu, kelompok kedua bersama Julianto belajar memilah bakal tanaman mawar yang bagus dan yang mati. Tanaman yang mati lalu dipisahkan dari tanaman yang hidup untuk diganti dengan bibit yang baru. Selepas berkegiatan di kebun bunga mawar, mereka mengunjungi kebun pohon jeruk, dan kebun bunga bugenvil. Para diplomat juga diajak makan siang dengan suasana khas pedesaan. Makan siang digelar di tengah sawah, beralaskan terpal, menggunakan piring dari daun pisang yang dikerucutkan, dan tanpa sendok. Menu yang disajikan pun khas nuansa Jawa, seperti urap-urap, trancam, lodeh, tongkol balado, perkedel kentang, mendol, dan tak lupa kerupuk. “It is so fun,” ujar Leonardo Andres Gonzales Guzman, diplomat asal Kolumbia sambil tersenyum lebar. Salah satu pengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, Fida Pangesti mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk mengenalkan secara langsung kehidupan warga dan kegiatannya. Mayoritas penduduk di Desa Sidomulyo bekerja sebagai petani bunga. Sebelumnya, para diplomat dibekali wawasan tentang cara bertamu, menolak ajakan atau makanan yang tidak disukai, serta kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan orang Indonesia di rumah, seperti melepas sandal sebelum masuk rumah, atau budaya menggunakan toilet jongkok ketimbang toilet duduk. (ich/han)

Pascasarjana UMM Latih Para Guru Menulis Karya Ilmiah

SELAMA ini, guru-guru di sekolah hanya terbiasa membuat laporan saja sebagai evaluasi kegiatan belajar mengajar, padahal, menurut Guru Besar Ilmu Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Yus Mochamad Cholily MSi, ketika melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas, banyak temuan yang mereka dapatkan dan bisa dibuat penelitian, misalnya Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hal itulah yang membuat program studi Magister Pendidikan Matematika dan Pendidikan Bahasa Indonesia UMM berinisiatif untuk melatih dan mendampingi para guru guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 dan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kota Probolinggo agar bisa menulis karya ilmiah. “Tujuan jangka pendeknya, guru-guru diharapkan bisa membuat karya ilmiah yang bisa dibuat prosiding. Sedangkan, tujuan jangka panjangnya, guru bisa memberi sumbangan yang bagus dengan menulis di jurnal nasional maupun internasional,” ujar Yus. Program yang dilakukan oleh dua prodi di Pascasarjana UMM ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemenag). Bersama tim, kepala prodi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Dr Ribut Wahyu Eriyanti MSi MPd memberikan media pada guru-guru dari kedua sekolah tersebut diberikan media untuk membeberkan temuan di kelas yang kemudian dilakukan penelitian. Salah satu yang diajarkan dalam pelatihan ini ialah telaah model proposal PTK secara berkelompok. Sebelumnya, dua kegiatan telah dijalankan program Magister Pendidikan Matematika dan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia. Ialah pelatihan K13 untuk bagi guru-guru MAN 2 Kota Probolinggo yang diselenggarakan di kota Batu dan pelatihan membuat media solar cell sebagai media pembelajaran bagi guru-guru MAN 2 dan MTsN Kota Probolinggo yang dilaksanakan akhir bulan Juli lalu. Tak hanya dengan sekolah di Probolinggo, berbagai pelatihan juga telah dilaksanakan terlebh dahulu pada guru-guru di beberapa sekolah di Trenggalek dan Banyuwangi. “Kadang dari UMM yang mengunjungi sekolah, tak jarang juga mereka yang belajar ke UMM. Silahkan saja, kami sangat terbuka untuk saling berbagi ilmu,” imbuh Yus. Sebagai kepala prodi Magister Pendidikan Matematika, Yus mengungkapkan dirinya memberlakukan kewajiban menulis kepada mahasiswanya. Salah satunya melalui mata kuliah Publikasi Ilmiah. “Mahasiswa Magister Pendidikan Matematika diwajibkan menulis untuk dimunculkan pada jurnal. Harapannya, karya tulis mahasiswa UMM ini bisa berguna untuk masyarakat. Ini bagian dari tanggung jawab akademik UMM pada masyarakat,” katanya. Selain kewajiban menulis ilmiah, Yus mengungkapkan prodi Magister Pendidikan Matematika juga rutin menggelar seminar nasional dan internasional. Terakhir yakni Seminar Internasional Pendidikan Matematika yang digelar awal Agustus lalu. Tahun ajaran baru ini, prodi Magister Pendidikan Matematika menerima 21 mahasiswa baru. (ich/han)

Riset Pertanian Organik UMM Diminati Mahasiswa Asing

KEBERHASILAN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan klaster tanaman organik di sejumlah daerah menarik minat mahasiswa mancanegara. Selama sepekan, mulai 28 September hingga 5 Oktober, sebanyak 48 mahasiswa yang di antaranya berasal dari Turki, China, Myanmar, dan Thailand, akan belajar pertanian organik dari guru besar pertanian UMM, Prof Dr Ir Indah Prihartini MP. Pembelajaran ini dikonsep dalam program Design Thinking (DT) Camp yang diselenggarakan International Relations Office (IRO) UMM bekerjasama dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Republik Indonesia. Tak hanya materi di kelas, peserta juga diajak mengamati langsung pengelolaan pertanian organik di desa  Kampung Wisata Tani (KWT) di Kelurahan Temas, Kota Batu. “Hasil belajar teori juga pengamatan langsung di lapangan diterapkan dalam bentuk prototype yang akan didiskusikan di kelompok masing-masing,” terang Aditya Pratama Putra, salah satu koordinator DT Camp saat diwawancarai usai pembukaan program, Senin (28/8). Selain belajar tanaman organik, peserta juga bakal dikenalkan dengan kebudayaan Indonesia. Di antaranya belajar Tari Topeng Malangan, permainan tradisional Jawa, dan membuat salah satu panganan khas Indonesia. Menariknya, peserta juga diajak merasakan langsung atmosfer budaya Indonesia dengan menghadiri resepsi pernikahan masyarakat lokal di Kediri, Jawa Timur. Mereka juga diwajibkan mengenakan pakaian tradisional masing-masing negara. (can/han)

Rektor Himbau Orang Tua Wali Berperan Dorong Mahasiswa Aktif Organisasi

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan menghimbau pada orang tua wali mahasiswa agar memotivasi putra-putrinya untuk aktif dalam organisasi di kampus. Hal ini disebut Rektor sejalan dengan budaya mutu yang tengah dikuatkan UMM melalui peningkatan prestasi mahasiswa. “Saya berharap bapak-ibu bisa memotivasi putra-putrinya agar menjadi aktivis, untuk mengikuti unit-unit kemahasiswaan di UMM di berbagai bidang,” pesan Fauzan. Dengan menjadi aktivis dan mengikuti kegiatan kemahasiswaan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), lanjut Fauzan, mahasiswa UMM akan mendapatkan banyak keuntungan. “Misalnya kesempatan meraih beasiswa dan terbebas dari kewajiban mengerjakan tugas akhir skripsi. Tentunya, hal ini diseimbangkan dengan nilai akademik mahasiswa di bangku kuliah,” kata Fauzan saat kegiatan silaturrahim pimpinan UMM dengan orang tua wali mahasiswa baru gelombang III, Ahad (27/8) di Hall UMM Dome. Fauzan mencontohkan tiga mahasiswa Teknik Elektro UMM yang mendapatkan dukungan penuh dan apresiasi dari UMM atas raihan prestasinya di kancah internasional, yakni juara kontes robot internasional di Amerika Serikat. Ketiga mahasiswa ini terbebas dari tugas akhir. Juga, delapan mahasiswa Ilmu Komunikasi yang tergabung dalam kelompok praktikum Guys Pro yang berhasil mengubah kampung kumuh menjadi Kampung Warna-warni Jodipan. “Mahasiswa silahkan bergabung dengan UKM sesuai minatnya. Ada 35 UKM yang tersedia, mulai dari penalaran, seni, olahraga, hingga keagamaan. Prinsip ‘Tiada Hari Tanpa Prestasi, Tiada Prestasi yang Tidak Dihargai’ benar-benar diterapkan di UMM. Mahasiswa yang berprestasi membawa nama baik kampus, pasti akan kami beri apresiasi. Terlebih, mahasiswa yang memiliki nilai akademik yang bagus,” urai Fauzan. Selama masa kuliah, Fauzan berharap orang tua terus menjalin komunikasi yang baik dengan pihak kampus, terlebih dengan dekanat atau dosen di program studi mahasiswa. Hal ini bertujuan sebagai kontrol orang tua atas aktivitas putra-putrinya di kampus. “Maraknya berita tentang penyalahgunaan narkoba di lingkungan mahasiswa menjadi hal yang harus kita bentengi bersama. Oleh karena itu, orang tua harus terus mengontrol kegiatan putra-putrinya,” pesan Fauzan. Pada penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2017-2018, pendaftar UMM mencapai 26.640 orang. Dari jumlah ini, UMM hanya menerima 7500 mahasiswa. Selepas silaturrahim dengan pimpinan universitas, kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan orang tua mahasiswa baru dengan pimpinan di tingkat fakultas. Hadir dalam pertemuan ini jajaran rektorat, Badan pembina Harian (BPH), dan dekanat dari 10 fakultas. Orang tua maba yang hadir berasal dari hampir semua provinsi di Indonesia. “Terima kasih, Bapak Ibu sudah menyempatkan hadir di kampus putih ini,” ucap Fauzan. (ich/han)

Berita Pramono Anung: Kalau Mau Melihat Indonesia, Lihatlah UMM

SEKRETARIS Kabinet Republik Indonesia, Dr Ir Pramono Anung MM mengaku terharu saat menyaksikan seorang dirigen wanita berjilbab, dengan pakaian adat Dayak memimpin lagu kebangsaan Indonesia Raya pada gelaran Wisuda ke-85 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di UMM Dome, Sabtu (26/8). “Kalau mau melihat Indonesia, lihatlah UMM,” kata Pramono Anung dalam orasi ilmiahnya. Bagi Pramono, apa yang ditampilkan UMM ini merupakan bagian dari revolusi mental yang diwujudkan secara simbolik. Kombinasi simbol wanita berjilbab, pakaian adat, dan lagu kebangsaan adalah tampilan pendidikan karakter dalam masyarakat Indonesia yang plural. “Saya sungguh terharu melihat dirigen tadi. Simbol pendidikan karakter ini sejalan dengan tujuan pemerintah,” paparnya. Paralel dengan hal itu, Pramono mengatakan, kini sektor pembangunan bangsa tak lagi terpusat di Jawa, tak lagi Jawasentris, melainkan menyeluruh menjadi Indonesiasentris. “Untuk itu, pemuda dituntut kreatif, inovatif, dan menjadi generasi yang optimis,” papar Doktor lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran ini di hadapan 1.745 wisudawan. Momen wisuda ini sekaligus kedatangan ketiga Pramono Anung di UMM. Menurutnya, civitas akademika mesti bangga dengan dua tokoh bangsa, yakni Dewan Pertimbangan Presiden Abdul Malik Fadjar dan Mendikbud Muhadjir Effendy, masing-masing merupakan ketua dan wakil ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM yang juga hadir pada wisuda kali ini. “UMM harus bangga. Tidak semua kampus punya tokoh menteri sekaligus Dewan Pertimbangan Presiden dan menjadi pengurus di universitas yang sama,” ujar Pramono. Selain Pramono Anung, wisuda kali menjadi lebih spesial karena turut dihadiri 12 diplomat asing dari Afrika Selatan, Fiji, Iran, Jepang, Kamboja, Kazakhstan, Kolumbia, Laos, Papua Nugini, Spanyol, Sri Lanka, dan Zimbabwe. Kehadiran mereka di UMM merupakan bagian dari program the 12th Promotion to Indonesian Language and Culture for Foreign Diplomats Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI yang diamanahkan pada unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM. Pada momen ini, Rektor UMM sekaligus mengucapkan selamat atas rangkain prestasi mahasiswanya yang kian gemilang. Di antara lulusan UMM yang dikukuhkan sebagai wisudawan, disebut Rektor, terdapat Nabila Firdausiyah, inisiator Kampung Wisata Jodipan (KWJ) yang menjadi lulusan terbaik di fakultasnya, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), dan Ikhlal Aldhi Wijaya, salah satu tim robot yang menjadi juara dunia pada kontes robot internasional di Amerika Serikat (AS) yang menjadi lulusan terbaik di prodinya, yaitu Teknik Elektro. Berkat prestasi itu, UMM diundang oleh Presiden Joko Widodo untuk pada Festival Prestasi Indonesia 2017 untuk menerima Apresiasi Ikon Prestasi Indonesia. Pada gelaran ini, diumumkan pula wisudawan terbaik universitas, di jenjang diploma, sarjana, dan pascasarjana. Wisudawan terbaik program diploma diraih Dewi Purnama Aristia dari prodi D3 Keuangan dan Perbankan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dengan total IPK 3,86. Wisudawan terbaik program sarjana diraih Dwi Prasetiyo dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) dan Syariah Isnaini dari Fakultas Agama Islam (FAI), keduanya meraih IPK 3,97. Sementara wisudawan terbaik program pascasarjana diraih oleh Haron Sa-Lae dari program Magister Sosiologi dengan raihan IPK 3,81. Di akhir orasi ilmiahnya, Pramono Anung tak lupa menginspirasi dan memotivasi wisudawan agar meraih prestasi, bermimpi besar, dan tak kehilangan fighting spirit untuk meraihnya. “Sebagai fresh graduate, wisudawan bisa memilih menjadi PNS, pegawai swasta, atau entrepreneur. Tapi, yang paling penting ialah spirit memanfaatkan kesempatan di era millennium ini sangat tak terbatas,” tuturnya. Pramono menjelaskan, bisnis start up Indonesia diakui dunia sebagai yang terbaik. “Saudara punya kesempatan itu. Sebagai pemuda, kreativitas jadi hal utama. Orang yang tak punya mimpi, makaia kehilangan fighting spirit. Sekarang, terwujud atau tidaknya mimpi tergantung pada kalian. Doa orang tua dan kerja keras adalah yang utama. Cara berpikir zaman saya dan saudara sudah jauh berbeda, jadi cara berpikir saudara tak boleh terbelenggu aturan dogmatis. Bermimpilah jadi apa saja,” tandas Pramono menyemangati mahasiswa. (ich/han)

Inisiasi Kampung Wisata Jodipan, Nabila Firdausiyah Kini Jadi Lulusan Terbaik

SIAPA tak tahu Kampung Wisata Jodipan (KWJ)? Kampung kumuh di bantaran Sungai Brantas, Kelurahan Jodipan yang kini berubah wajah menjadi wisata baru favorit di Kota Malang yang dikenal dunia. Adalah Nabila Firdausiyah, salah satu aktor di balik viral-nya kampung warna-warni itu. Nabila adalah ketua kelompok praktikum mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Guys Pro, yang menjadi inisiator KWJ. Putri kelahiran Probolinggo, 2 Juni 1995 ini tak hanya inspiratif karena mampu menginisiasi perubahan di Jodipan, ia pun sangat sukses secara akademik. Hal itu terbukti. Pada wisuda UMM ke-85 yang berlangsung besok, Sabtu (26/8), Nabila dikukuhkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang sangat membanggakan, yakni 3,93. “Alhamdulillah, semenjak kuliah saya memang inginnya tidak hanya dapat pengalaman di dalam kampus, tapi juga di luar kampus. Bersyukurnya saya bisa ikut gabung di Eskalator UMM (komunitas peminat public relations/PR),” terangnya saat diwawancarai Jumat (25/8). Tak heran. proyek pemberdayaan kreatif di Kampung Jodipan juga mendapat perhatian khusus dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Kesuksesan itu lantas menarik minat stasiun televisi swasta Metro TV mengundang tim Guys Pro UMM yang diwakili Nabila untuk tampil berbagi inspirasi di acara talkshow “Kick Andy”. Selain kesuksesan tersebut, sejak menimba ilmu di Kampus Putih, Nabila banyak memenangkan berbagai kompetisi di bidang PR, sesuai dengan minat yang digelutinya saat ini. Beberapa raihan telah dicapainya di antaranya finalis besar lomba PR di Universitas Atmajaya Jogjakarta dan juara tiga Marketing Communication di Universitas Katolik Widaya Mandala Surabaya 2016, finalis lomba PR Universitas Airlangga Surabaya 2015, juara tigaMarketing Communication Universitas Multimedia Tangerang, finalis Marketing Communication lomba PR Communication Awards Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Juara tiga Marketing Communication Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya 2014. “Kesuksesan adalah titik keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Sehingga tak hanya menjadi manusia yang berguna di dunia, namun juga menjadi bagian dari tugas sebagai hamba Allah,” tukasnya. Pasca lulus, Nabila rencananya masih akan menjalankan proyek kreatif lainnya di Kota Malang. (can/han)

Berkat LSO Robotika, Ikhlal Aldhi Wijaya Harumkan Indonesia di Kancah Dunia

SUKSES harumkan nama Indonesia di kancah dunia dengan menjuarai kontes robot internasional di Amerika Serikat (AS) tak membuat Ikhlal Aldhi Wijaya melupakan prestasi akademik. Terbukti, mahasiswa program studi (prodi) Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diwisuda besok, Sabtu (26/8), berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,60 sehingga dinobatkan sebagai lulusan terbaik di prodinya. “Berkesempatan kuliah di UMM sangat menyenangkan. Kampus sangat memfasilitasi mahasiswa untuk berkarya, tak hanya bagi yang sudah berprestasi, tapi juga bagi mereka yang baru berproses mengikuti perlombaan. Selain itu, hubungan antara dosen dan mahasiswa terjalin keakraban, sehingga mahasiswa merasa nyaman dalam kegiatan akademis,” ujarnya. Pengalaman paling berkesan Ikhlal selama mahasiswa adalah ketika di final Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) 2017 di AS, ia bersama dua rekannya sesama mahasiswa Teknik Elektro UMM, Salis Muchtar Fadhilah dan Imam Fatoni, berhasil mengalahkan para finalis dari Kanada, Tiongkok, Israel, Portugal, Uni Emirat Arab, dan tuan rumah AS sehingga menjuarai kontes robot internasional tersebut. Berkat keberhasilannya, Ikhlal bersama Rektor UMM dan dua rekannya itu diundang oleh Presiden Joko Widodo pada Festival Prestasi Indonesia 2017 untuk menerima Apresiasi Ikon Prestasi Indonesia. Kisah di balik rangkaian prestasi Ikhlal tak terjadi begitu saja. Cerita itu bermula di awal kuliah, ketika ia bergabung dengan Lembaga Semi Otonom (LSO) Robotika UMM. Ikhlal berkisah, robot pertama buatannya dulu hanya bisa berjalan sesuai lintasan yang ditentukan. “RobotLine Follower namanya, cuma bisa mengikuti garis lintasan saja,” kenang mahasiswa asal Balikpapan ini. Tak berhenti di situ, Ikhlal terus termotivasi, lantaran baginya membuat robot merupakan kegiatan yang menakjubkan. “Orang yang bisa buat robot itu keren!” serunya. Proses menjadi juara dunia juga tak mudah dilalui. Ikhlal menuturkan, bersama dua temannya, mereka harus menyingkirkan banyak lawan dari universitas lain yang sangat berpengalaman di bidang robotika. Awalnya, setiap universitas mengajukan proposal tentang robot yang akan dibuat. Setelah proposal disetujui, setiap tim harus melaporkan perkembangannya. Tidak semua proposal yang disetujui lolos ke tingkat regional. Pada Kontes Robot Indonesia (KRI) tingkat regional tersebut, tim UMM berhasil masuk tiga besar dan berhak mewakili Jawa Timur dan Bali di tingkat nasional. Setelah sukses di tingkat nasional, baru kemudian Ikhlal dan timnya dipercaya mewakili Indonesia bersaing dengan robot-robot dari seantero dunia. “Kesempatan menuju tingkat Internasional tidak kami sia-siakan, tepat setelah itu kami langsung bersiap melawan robot dari negara lain. Alhamdulillah, segala usaha kami berbuah manis dengan menjadi juara dunia,” tuturnya. (can/han)

Spesial, 12 Diplomat Asing Hadiri Wisuda UMM

SUASANA Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-85 yang berlangsung besok (26/8) bakal terasa lebih spesial karena dihadiri langsung 12 diplomat asing dari Afrika Selatan, Fiji, Iran, Jepang, Kamboja, Kazakhstan, Kolumbia, Laos, Papua Nugini, Spanyol, Sri Lanka, dan Zimbabwe. Sebelumnya, para diplomat itu juga turut serta dalam perayaan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada 17 Agustus 2017 di Heliped UMM. Kehadiran mereka di UMM merupakan bagian dari program the 12th Promotion to Indonesian Language and Culture for Foreign Diplomats Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI yang diamanahkan pada unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM. Selama sebulan, yaitu sepanjang bulan Agustus, BIPA UMM bertugas mendidik para diplomat itu agar menyatu dengan masyarakat dan kearifan lokal Indonesia. Dikatakan Kepala BIPA UMM Dr Arif Budi Wurianto MSi, kegiatan para diplomat meliputi dua skema, yaitu pengembangan khazanah budaya Indonesia di dalam kelas dan kegiatan di luar kelas (outing class)tiap akhir pekan dengan berkunjung dan tinggal di rumah warga maupun bertamasya ke sejumlah tempat wisata. Arif menjelaskan, selain belajar bahasa Indonesia, para diplomat itu juga diajarkan tentang karawitan, menari, membatik, mendalang, memainkan alat musik tradisional, dan pariwisata. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, setelah di pekan awal mereka mempelajari kosakata dan tata bahasa, pada dua pekan akhir mereka diajarkan tentang cara bertamu, jual-beli, tawar-menawar, serta kebiasaan-kebiasaan orang Indonesia. Mereka juga belajar mengenal makanan khas, sistem keluarga di Indonesia, hingga hobi dan olahraga yang biasa dilakukan orang Indonesia. Agar wawasan itu lebih mengena, pada outing class, mereka diajak menginap di rumah warga dan mengikuti kegiatan tuan rumah. Misalnya pada akhir pekan lalu di Desa Sidomulyo, Kota Batu, Jawa Timur. Berhubung penduduk Sidomulyo mayoritas bekerja sebagai petani bunga, para diplomat lantas ikut berkebun dan mengolah tanaman. Tak hanya itu, untuk mengaplikasikan pengetahuan tentang jual-beli dan tawar-menawar harga, beberapa diplomat juga diajak oleh tuan rumahnya untuk belanja ke pasar. Sebelumnya, mereka juga telah diajak mempelajari potensi wisata di Café Sawah Desa Pujon Kidul Kabupaten Malang, lalu di Coban Rondo Kota Batu, dan Pantai Gili Ketapang Kabupaten Probolinggo. Diplomat asal Papua Nugini, Martinez Wasuak mengaku kagum akan ide Café Sawah di Pujon Kidul. “Bagus sekali, ini memberdayakan petani dan masyarakat setempat. Sangat indah, terima kasih UMM saya diajak mengunjungi tempat ini. Saya berharap bisa membuat seperti ini (Café Sawah) di negara saya, karena di sana tidak ada tempat seperti ini,” ungkapnya takjub. Yang menarik, hasil dari mempelajari khazanah Indonesia selanjutnya diwujudkan dalam bentuk karya dan praktek kesenian. Misalnya pelajaran membatik, di mana tiap diplomat diminta membuat dua karya motif batik. Karya pertama mereka buat di atas kain persegi panjang dengan motif yang sudah tersedua, dan karya kedua mereka menggambar sendiri motifnya, lalu membatik motif yang telah mereka rancang itu. Berbagai hasil karya mereka akan ditampilkan pada pameran sekaligus penutupan pada Selasa (29/8) mendatang. Pramono Anung Beri Orasi Ilmiah Selain dihadiri 12 diplomat asing, wisuda kali ini juga menghadirkan Sekretaris Kabinet RI, Dr Ir Pramono Anung Wibowo MM, untuk memberi orasi ilmiah pada 1744 wisudawan. Pramono dikenal sebagai pelobi ulung yang menjadi jembatan Presiden Jokowi dalam mengkomunikasikan kebijakan-kebijakannya pada masyarakat, hingga rekan dan lawan politik. Keahlian Doktor lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran ini dalam manajemen dan komunikasi politik tak perlu diragukan lagi. Karena itulah, kehadiran Pramono diharapkan dapat menginspirasi lulusan UMM. Jam terbang, jaringan, dan pengalamannya bisa menjadi pelajaran berharga bagi para wisudawan sebelum pada akhirnya terjun di dunia kerja. Kehadiran Pramono sekaligus melanjutkan tradisi UMM menghadirkan tokoh-tokoh bangsa di kampus ini. Pada 2017 saja, setidaknya sejumlah tokoh telah datang ke UMM, di antaranya Presiden Joko Widodo, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menkominfo Rudiantara, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin, mantan Mendikbud Mohammad Nuh dan mantan Menko Perekonomian Chairul Tanjung. Selain tentunya Mendikbud Muhadjir Effendy dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Abdul Malik Fadjar yang memang menjabat Badan Pembina Harian (BPH) di UMM. (ich/han)

Punya 85 Anak Binaan, Alumni UMM Ini Terima Tiga Penghargaan Nasional

TAK heran ketika alumni Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Aripin, diganjar banyak penghargaan nasional. Aripin saat ini memiliki 85 anak binaan, 21 di antaranya bahkan telah memiliki usaha sendiri dan empat di antaranya berhasil melanjutkan kuliah. Hal itu berkat Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar yang didirikannya pada 2014. Hingga tiga tahun berdiri, Aripin telah menerima penghargaan selama tiga tahun beruntun, yakni pada ajang penganugerahan Pemuda Pelopor Nasional di Bidang Pendidikan, Wirausaha Kreatif di ajang Satu Indonesia Award, serta Yayasan Berprestasi Nasional. “Saya teringat wasiat ibu saat mendirikan yayasan. Kini saatnya saya membalas semua kebaikan yang ibu berikan pada saya dengan berbuat baik pada orang lain,” ujarnya mengenang sang ibu yang telah berpulang pada Idul Adha 2015. Pria kelahiran Banjarmasin, 27 Februari 1987 ini adalah sosok sederhana, begitu pula dengan kehidupan keluarganya. Bapaknya seorang tukang becak dan pemulung yang mengumpulkan sampah dan botol plastik. Keprihatinannya itu menggerakan hati Aripin untuk juga memberdayakan puluhan anak di yayasan yang didirikannya bersama kedua temannya, yaitu Hermanto dan Siti Nurbaya. Sesuai namanya, imbuh Aripin, Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar diharapkan menjadi generasi kreatif juga pintar. “Saya ingin anak-anak di yayasan ini memiliki kreativitas dan pintar, sehingga mereka mampu meraih masa depan yang lebih baik,” katanya saat diwawancarai dalam kesempatan menyambangi almamater kebanggaannya UMM, Kamis (24/8). Sejak 2016, Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar telah berbadan hukum. Aripin mengatakan uang untuk membayar notaris supaya yayasannya mendapatkan legalitas secara hukum dikumpulkan sedikit demi sedikit dari tabungannya. “Alhamdulillah, sejak awal Januari 2016, Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar sudah berbadan hukum,” katanya. Sambil menjalankan yayasannya, dari sebuah ruangan kecil di salah satu bagian rumahnya, Aripin membuka usaha yang dibaginya ke dalam empat bidang. Pertama, bidang teknik. Pada bidang ini, dia mengerjakan pembuatan garasi, teralis, tangga, dan kanopi. Bidang kedua adalah kerajinan. Rupa-rupa kerajinan berbahan dasar bekas dia kerjakan. Dia menyulap barang-barang bekas yang dikumpulkannya dari sejumlah tempat, seperti velg sepeda, drum dan ban mobil bekas menjadi sofa, lemari dan lain-lain. Sendok plastik pun dia jadikan lampu hias. Begitu pula kawat bekas, dia jadikan bunga bonsai. Hal yang sama dia lakukan pada koran bekas. Dari bahan tersebut, dia membuat tas belanja. Untuk memasarkan produk-produk kerajinan usaha, Aripin menuturkan, dia bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banjarmasin. Produk-produk kerajinan usaha juga ia pasarkan secara online. “Selain di Indonesia, produk-produk kerajinan usaha yang kami hasilkan, kami pasarkan ke Jepang, Korea, Nepal, Singapura, dan Malaysia,” katanya. (can/han)