Karyawan Purnatugas Dididik Berwirausaha Tanaman Organik

UMUMNYA, orang Indonesia merasa inferior jelang masa purna tugas atau pensiun. Mereka kerapkali dirundung perasaan tak berguna dan tak dibutuhkan bagi lingkungan sekitar. Imbasnya, mereka tak siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di hari tua. Termasuk bagaimana memperoleh pemasukan untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun tidak demikian bagi karyawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Orang yang purna tugas adalah orang hebat, karena dia telah menuntaskan pengabdiannya kepada UMM,” demikian disampaikan Direktur UMM Farm Rahmad Pulung Sudibyo di Laboratorium Terpadu UMM membesarkan hati para karyawan jelang masa purna tugasnya, Sabtu (29/7). Rahmad sekaligus membocorkan kiat-kiat suksesnya bertani tanaman organik. Bagi Rahmad, berwirausaha adalah bagaimana seseorang dapat melihat peluang bisnis di manapun dan kapanpun. “Wirausaha adalah proses mental dalam diri seseorang untuk menghasilkan nilai tambah atau daya guna terhadap sumber daya yang tersedia dengan cara yang baru dan berbeda, melalui penerapan hasil kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menciptakan peluang dalam kehidupan,” bebernya. Meski berada di usia yang tak lagi muda, Rahmad mendorong untuk para peserta percaya diri memulai usaha. Dalam catatan sejarah, imbuh Rahmad, banyak tokoh dunia yang memulai usaha di hari tua dan berhasil. Rahmad mengisahkan kegigihan Kolonel Sanders, pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC. Dia memulai berbisnis di usia 66 tahun. Selain Rahmad yang berbagi kisah suksesnya lewat tanaman organik, dosen Fakultas Pertanian Peternakan UMM, Ganjar Adhywirawan Sutarjo juga berbagai kisah suksesnya lewat aplikasi budidaya ikan model Aquaponik. Aquaponik merupakan sebuah alternatif menanam tanaman dan memelihara ikan dalam satu wadah. Tak kalah penting, seluruh peserta juga diajak berpraktik langsung membuat medium bercocok tanaman organik dan aplikasi aquaponik. (can/han)

UMM dan Muhammadiyah Diminta Proaktif Bantu Muslim Rohingya

PAKAR hak asasi manusia (HAM) Internasional dari Oslo Coalition Norwegia Prof Tore Lindholm meminta Muhammadiyah secara umum dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara khusus untuk proaktif membantu minoritas Muslim Rohingya mendapatkan haknya sebagai warga negara untuk hidup aman dan damai. Bagi Tore, salah satu elemen HAM menjamin agar seorang pemeluk agama dapat diperlakukan secara adil oleh kelompok mayoritas. “Saya sangat kagum dengan gerakan Muhammadiyah, saya berharap organisasi ini, dengan berbagai kekuatan yang dimilikinya proaktif membantu Muslim Rohingya,” kata Tore pada acara Master-Level Course (MLC) on Sharia and Human Rights yang diadakan Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) UMM (27/7) di Hotel UMM Inn. Dalam konteks kerjasama dengan UMM, kata Tore, Oslo Coalition menekankan pentingnya kombinasi antara HAM dan syariah, mengingat Indonesia merupakan negara mayoritas Muslim. “Sebagai institusi yang berada di bawah organisasi yang besar, yaitu Muhammadiyah, saya kira UMM dapat berperan lebih dalam berbagai isu-isu pelanggaran HAM yang terjadi di berbagai belahan dunia, atau setidaknya di kawasan Asia Tenggara,” jelas Tore. Secara khusus Prof Tore Lindholm juga mengaku terkesan dengan Indonesia yang disebutnya sebagai negara demokrasi yang menjanjikan. “Kami (Oslo Coalition) bekerjasama dengan berbagai institusi di Indonesia, untuk bersama-sama meneliti, sejauh mana implementasi HAM bisa optimal di ruang publik,” ujar Tore. Tore menyampaikan apresiasinya terhadap PUSAM yang mampu mempertahankan terselenggaranya kegiatan yang baginya tidak biasa bagi kebanyakan masyarakat umum ini. “Adalah sebuah ide gila menyatukan syariah dan HAM, karena itu saya ucapkan selamat atas forum ini,” kata Tore pada para peserta. Kegiatan MLC sudah dimulai sejak 2011, dan kini memasuki angkatan ketujuh. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama PUSAM UMM dengan Oslo Coalition-Norwegian Center for Human Rights, the University of Oslo, Norwegia; International Center for Law and Religion Studies, Brigham Young University, Utah, USA; dan The Asia Foundation. Diungkapkan kepala PUSAM UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi, tujuan diselenggarakannya kegiatan ini di antaranya memberikan pemahaman kepada aktivis atau mahasiswa mengenai hubungan antara syariah dan HAM, dalam konteks harmoni, konflik, interaksi, dan respons terhadap berbagai isu kontemporer. “Sekaligus membuka kesadaran pada para pegiat HAM terhadap berbagai problem HAM di Indonesia, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan syariah atau hukum Islam,” terang Wakil Rektor I UMM ini. (can/han)

LK Ungkap Urgensi Wariskan Budaya Leluhur

MEDIA seperti tarian, lagu, kitab, dan bahasa, artefak dan bentuk peninggalan leluhur lainnya harus dikenalnya kepada generasi mendatang. Langkah tersebut penting lantaran kebudayaan kita mengandung nilai nilai luhur yang tidak dimiliki kebudayaan-kebudayaan baru, yang kecenderungannya menggerus kebudayan lokal yang notabene berkiblat ke Timur Seorang pakar Kebudayaan dari Jawaharlal Nehru University India, Dr. Ghautam menerangkan, bahwa Kebudayaan harus terus diwariskan dari generasi ke generasi. Cita-cita tersebut tidak bisa terwujud kecuali diajarkan melalui proses yang berlangsung sejak dini dan bertahun-tahun lamanya. “Bahkan seorang anak harus dikenalkan bahasa ibu sedari ia kecil. Hal itu dimaksudkan agar nilai-nilai luhur lebih merasuk ke dalam anak itu,” ungkapnya dalam Kajian Multidisipliner Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertajuk “Perspektif Budaya Tradisional dan Mancanegara dalam Membangun Karakter Bangsa”, Kamis (27/7). Sementara menurut Dwi Cahyo, SE. yang merupakan pegiat Budaya Malang, untuk menerapkan pembelajaran kebudayaan tidak serta merta begitu saja diajarkan. Belajar kebudayaan tidak bisa diajarkan secara instan, seperti membuat aplikasi yang menyediakan informasi seputar Budaya Malang, misalnya. Butuh pengkondisian atmosfer yang mendukung untuk menerapkan pembelajaran tersebut. “Aplikasi yang disedikan oleh aplikasi gadget misalnya, tidak akan memberikan dampak yang begitu besar terhadap pengetahuan anak-anak. Butuh keterlibatan panca indra, utamanya indra peraba dan penglihatan agar pengetahuan tersebut bisa sampai meresap ke hati. Misalnya mendirikan sebuah museum dan menyediakan infrastruktur yang mendukung pembelajaran budaya,” ungkap pria yang juga penggagas Festival Malang Tempo Doeloe ini. Iis Siti Aisyah, Ph.D., dari Lembaga Lembaga Kebudayaan yang turut menjadi panelis menjelaskan, bahwa tidak semua yang berasal dari Barat membawa dampak buruk, demikian sebaliknya. “Indonesia yang berkilblat pada budaya Timur mewarisi budaya luhur. Tapi karena terus dibombardir oleh budaya luar dan kita tidak mampu memfiternya, sehingga terjadi pergeseran. Utamanya pada generasi muda,” ungkapnya. (can/han)

PUSAM UMM Hadirkan Pelapor HAM PBB, Tinjau Implementasi HAM di Indonesia

PELAPOR hak asasi manusia (HAM) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Prof Heiner Bielefeldt menilai, pelanggaran HAM bisa terjadi di mana saja, dan melalui modus apa saja. Bisa lewat birokrasi, sekolah, tempat kerja, dengan melibatkan isu agama, kekerasan, dan terorisme. “Dalam konteks masyarakat Indonesia yang religius, tantangannya tentu lebih beragam, karena isunya bisa meluas pada pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan,” kata Heiner yang juga merupakan guru besar HAM di University of Erlangen, Jerman. Hal itu disampaikan Heiner pada salah satu sesi di perhelatan kursus selevel master atau Master-Level Course (MLC) on Sharia and Human Rights yang diadakan oleh Pusat Studi Agama dan Multikuluralisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 24 hingga 28 Juli 2017. Selain Heiner, para pakar HAM internasional yang hadir di antaranya Prof Tore Lindholm dan Lena Larsen PhD (Oslo Coalition, Norwegia), Prof Brett Scharffs (Bringham Young University, USA), Prof Jeroen Tempermen (Erasmus University Rotterdam, Belanda), dan Prof Mun’im Sirry (University of Notre Dame, USA). Beberapa pakar HAM nasional juga dihadirkan agar kontekstual dengan isu-isu terkini di Indonesia, di antaranya Prof Syamsul Arifin dan Cekli Setya Pratiwi LLM (UMM), Ihsan Ali Fauzi (the Asia Foundation), dan Dr Ahmad Nur Fuad (UIN Sunan Ampel Surabaya). Secara khusus Prof Tore Lindholm mengaku kagum dengan Indonesia yang disebutnya sebagai negara demokrasi yang menjanjikan. “Kami (Oslo Coalition) bekerjasama dengan berbagai institusi di Indonesia, untuk bersama-sama meneliti, sejauh mana implementasi HAM bisa optimal di ruang publik,” ujar Tore. Dalam konteks kerjasama dengan UMM, kata Tore, Oslo Coalition menekankan pentingnya kombinasi antara HAM dan syariah, mengingat Indonesia merupakan negara mayoritas Muslim. “Saya juga berharap pada UMM dan Muhammadiyah agar berperan dan ikut terlibat dalam isu-isu HAM internasional yang melibatkan agama, seperti yang terjadi pada Muslim Rohingya di Myanmar,” jelas Tore. Tore juga menyampaikan kebanggaannya terhadap PUSAM yang mampu mempertahankan terselenggaranya kegiatan yang baginya tidak biasa bagi kebanyakan masyarakat umum ini. “Adalah sebuah ide gila menyatukan syariah dan HAM, karena itu saya ucapkan selamat atas kehadiran Anda di forum ini,” kata Tore pada para peserta. Kegiatan MLC sudah dimulai sejak 2011, dan kini memasuki angkatan ketujuh. Kegiatan yang merupakan hasil kerjasama PUSAM UMM dengan Oslo Coalition-Norwegian Center for Human Rights, the University of Oslo, Norwegia; International Center for Law and Religion Studies, Brigham Young University, Utah, USA; dan The Asia Foundation ini diikuti 30 peserta terseleksi yang terdiri dari aktivis mahasiswa, dosen, peneliti, dan pegiat HAM yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Aceh, Yogyakarta, Banjarmasin, Jakarta, Riau, dan sejumlah kota di Jawa Timur. Salah satu peserta terbaik nantinya akan diberangkatkan ke Norwegia untuk kuliah singkat HAM di University of Oslo. Diungkapkan kepala PUSAM UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi, tujuan diselenggarakannya kegiatan ini di antaranya memberikan pemahaman kepada aktivis atau mahasiswa mengenai hubungan antara syariah dan HAM, dalam konteks harmoni, konflik, interaksi, dan respons terhadap berbagai isu kontemporer. “Sekaligus membuka kesadaran pada para pegiat HAM terhadap berbagai problem HAM di Indonesia, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan syariah atau hukum Islam,” terang Wakil Rektor I UMM ini. (can/han)

Tertarik Program Pengabdian Masyarakat UMM, 12 Dosen Amerika Kunjungi UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi satu-satunya kampus di Jawa Timur yang menjadi jujugan dosen-dosen dari 12 kampus di Amerika Serikat yang tergabung dalam ASIA Network Faculty Enhancement Program (ANFEP), Senin (24/7). Kegiatan yang bekerja sama dengan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM ini dihelat di Auditorium Fakultas Ekonomi UMM. Co-director ANFEP, Prof Siti Kusujiarti PhD menyatakan, dipilihnya UMM lantaran karakteristiknya yang unik, yakni kampus di bawah yayasan Muhammadiyah yang bernapaskan Islam, namun tetap mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. “Utamanya, yang sering kami dengar adalah pengabdian masyarakat yang banyak dilakukan UMM. Kami ingin belajar itu,” ungkapnya. Program ini, lanjut Siti, bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan dan informasi pada dosen-dosen yang berkecimpung di Asian Studies. Nantinya, hasil dari ‘keliling kampus’ ini akan diintegrasikan dalam kurikulum di kelas serta penelitian-penelitian sesuai dengan spesialisasi dosen. Selain UMM, ada empat kampus lainnya yang dikunjungi ANFEP selama tiga minggu di Indonesia, yakni UIN Yogyakarta, Universitas Janabadra Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan Universitas Hindu Indonesia. Fokus tema yang ingin dipelajari di berbagai kampus yakni tentang masalah perubahan sosial, lingkungan, agama dan budaya. Di UMM, ke-12 dosen ini disuguhi presentasi tentang beberapa program penelitian, pengabdian masyarakat, dan pengembangan teknologi. Di antaranya, proyek UMM di bidang lingkungan yakni pembangunan PLTMH Sumber Maron di desa Karangsuko, kabupaten Malang. Dipaparkan kepala PLTMH UMM, Ir Suwignyo MT pada 2009, 1100 warga di sekitar Sumber Maron mengandalkan energi listrik dari PLN. Sejak dibangunnya PLTMH oleh UMM pada 2014, jumlah warga yang menggunakan listrik meningkat menjadi 1800. Presentasi juga dilakukan oleh kepala Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) UMM, Dra Thathit Manon Andini MHum terkait penelitian, seminar, dan talkshow yang kerap dilakukan LP3A tentang isu gender, perempuan, dan anak. Sementara, kepala unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) menguraikan tentang budaya lokal dan perbedaan agama di Malang. Perbincangan ini mengupas tentang harmoni kehidupan berbudaya di Malang dengan segala kekhasannya. Terakhir, presentasi dilakukan oleh dosen program studi Hubungan Internasional Tony Dian Efendy MA tentang komunitas Cina di Malang. Identitas yang majemuk mempengaruhi komunitas Cina di Malang. Ada lima macam identitas yang mempengaruhi komunitas Cina di Malang, yakni identitas sebagai WNI, identitas sebagai kelompok etnis, identitas berkaitan dengan agama, identitas berkaitan dengan daerah asal di Indonesia, dan identitas berkaitan dengan asal nenek moyang di Cina. Perbincangan ini membangkitkan antusiasme peserta lantaran beberapa dosen berasal dari etnis Cina, salah satunya Associate Professor of Asian Studies and Chinese Language Belmont University, Prof Qingjun Li PhD. Antusias profesor yang banyak melakukan penelitian tentang agama dan identitas ini tampak dari pertanyaan yang diajukannya. Ia juga menceritakan tentang Chinese immigrant di Amerika. Perihal kerjasama dengan ANFEP ke depan, Siti mengungkapkan UMM memiliki peluang yang besar. “Ini adalah awal dari kerjasama selanjutnya. Karena peserta berasal dari 12 kampus yang berbeda, jadi peluang untuk kerjasama antara UMM dengan masing-masing kampus tersebut bisa terjadi,” ujarnya. Dalam sambutannya, Wakil rRektor I Bidang Akademik UMM Prof Syamsul Arifin mengungkapkan, kerjasama internasional menjadi bidang yang selalu dikembangkan di UMM. Dengan Amerika Serikat, UMM telah bekerja sama di beberapa program di antaranya UMM pernah melatih 70 relawan dari organsisasi Peace Corps AS pada 2015 lalu. (ich/han)

Pelantikan Pengurus Wilayah dan Pengurus Komisariat APTISI Wilayah VII Jawa Timur

MELANJUTKAN pengabdian sosial untuk memperjuangkan eksistensi perguruan tinggi swasta (PTS), Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah VII Jawa Timur menggelar acara Pelantikan Pengurus Wilayah, Pengurus Komesariat dan Halal Bihalal APTISI Wilayah VII Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin 24 Juli 2017. Hadir dalam acara tersebut, Rektor UMM, Ketua APTISI Pusat Budi Djatmiko, Ketua APTISI Wilayah VII Jawa Timur, Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur, serta Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul). Ketua APTISI Wilayah VII Jawa Timur Suko Wiyono  menyampaikan, dewasa ini keberadaan PTS tidak kalah dengan perguruan tinggi negeri (PTN). Bahkan hampir diseluruh daerah, peningkatan kualitas dan mutu PTS terlihat jelas. Melalui kerjasama para Pengurus APTISI yang semakin baik Suko yakin secara bertahap PTS mampu bersaing dan menjadi lebih baik dari pada PTN. ”Menjadi tugas pengurus, bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas PTS, terutama kualitas sumber daya manusianya,”tandasnya. Menambahkan Suko, Ketua APTISI Pusat Budi Djatmiko menyampaikan penting kiranya bagi komisariat-komesariat di APTISI Wilayah VII Jatim untuk bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan bebagai cara, salah satunya dengan menyampaikan info-info PTS serta masalah global yang sedang dihadapi kepada pemimpin daerah, khususnya dalam dunia pendidikan. “Sehingga nanti jika ada info–info PTS di masa mendatang dan juga masalah –masalah global ada dapat disampaikan kepada rektor dan diteruskan kepada gubernur,”jelasnya. Suko mencontohkan, PTS-PTS yang ada di wilayah Jawa Barat. Berdasarkan pengamatannya, melalui penilaian yang dilakukan pada setiap semester, hampir seluruh PTS di Jabar memiliki alokasi pemecahan masalah untuk diselesaikan bersama koordinator kopertis serta gubernur. Bukan hanya Jabar, beberapa daerah lain juga tengah melakukan hal yang sama. Suko pun bercita-cita agar PTS di Jatim juga memiliki semangat yang sama. “Alhamdulillah PTS di Jabar sudah berbenah. Kemarin-kemarin ini juga di Lampung. Mudah-mudahan hal ini juga bisa dicapai oleh APTISI Jawa Timur,”tegasnya. Melengkapi Suko, Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur, Suprapto menekankan perlunya memperkuat kerjasama terutama dalam peningkatan kualitas mutu pendidikan. Selama ini, Kopertis Wilayah VII Jatim selalu menjadi nomor I secara nasional. Prestasi ini hendaknya terus dijaga dan diperthankan. “Ayo kita mantapkan kualitas pendidikan di Jatim agar selalu dan selalu bagus secara nasional, ”katanya. Bangga dengan prestasi yang dicapai perguruan tinggi di Jatim, Gus Ipul mengapresiasi terus meningkatnya jumlah lulusan PT yang diserap oleh pasar tenaga kerja. Jika pada sekitar tahun 2014 sekitar 14 persen lulsusan PT di Indonesia terserap didunia kerja, angka ini meningkat di tahun 2016 dengan total sekitar 40 persen. “Yang membanggakan sebetulnya, tahun 2016 lulusan PT se –Jatim, yang diserap pasar tenaga kerja mencapai 80 persen. Target kita ke depan, 99 persen lulusan PT bisa diserap pasar tenaga kerja,”tambahnya. Melanjutkan paparannya, Gus Ipul menegaskan bahka dengan jumlah total sekitar 550.000 mahasiswa, dunia perguruan tunggi perlu bersiap-siap dalam menyambut era digitalisasi. Pada era ini, masyarakat memerlukan generasi yang paham teknologi dengan baik. Pihak PT harus mengenalkan teknologi kepada mahasiswa agar para mahasiswa dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. “Saya titipkan kepada Bapak, Ibu dan saudara-saudara sekalian masa depan Jawa Timur dengan menghadirkan PT yang berkualitas dan bermutu,”pesannya. Di akhir Gus Ipul menyampaikan posisi strategis APTISI sebagai wadah untuk PTS saling belajar dan bertukar fikiran dalam penalaran. Dengan terus memperbaiki kualitas, sesungguhnya antara PTS satu dengan yang lain tidak perlu berebut mahasiswa. Kualitas yang baik, akan membuat mahasiswa tertarik dengan sendirinya. Hal ini yang kemudian menjadi PR bersama, agar PTS mampu berimprovisasi dalam mengelola kampusnya. “Kalau PTS harus pandai pencak silat, artinya pandai dalam meningkatkan mutu, mencari uang dan lain-lain. Saya bangga dan senang, karena di era yang penuh kompetisi seperti ini hal tersebut bukanlah hal yang mudah,”pungkasnya. (sil/han)

Bersama JICA Jepang, FKIP Perluas Implementasi Lesson Study

MELANJUTKAN implementasi model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan atau Lesson Study, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) menggelar workshop bertajuk Learning Community for Better Future Educations, Sabtu (22/7). Di Kota Batu sendiri, implementasi Lesson Study sebenarnya sudah dilakukan sebelumnya. Di antaranya di tahun 2011 yaitu SMA Negeri 2 Kota Batu dan SMA Muhammadiyah 3 Kota Batu. Workshop yang dihadiri guru tingkat dasar hingga menengah atas se-Kota Batu ini, terang ketua tim Lesson Study Nur Widodo, merupakan upaya perluasan penerapan Lesson Study. Menurut Nur Widodo, acara ini merupakan upaya timbal balik para alumni program Short-term Training on Lesson Study (STOLS) yang diberikan JICA kepada para dosen UMM untuk memperdalam Lesson Study di Jepang selama 1 bulan. “Ini merupakan komitmen kami sebagai alumni,” katanya. “Meski sumber pendanaan yang didapat sudah berhenti, kami berupaya supaya program ini tidak selesai begitu saja. Sampai saat ini kita berupaya untuk melanjutkan kegiatan tersebut secara mandiri,” ungkapnya. Hadir pula para calon peserta yang dinyatakan lolos dan berhak mengikuti kegiatan internship di Jepang untuk memperdalam Lesson Study. Selain itu, turut hadir perwakilan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Madiun, IKIP Kediri, serta sejumlah dosen dari UMM sendiri. Beberapa materi yang diberikan di antaranya Collaborative Learning Melalui Lesson Study oleh Nur Widodo. dan materi “Observasi Kelas” pada Lesson Study-Learning Community oleh dosen program studi Biologi FKIP UMM Rr. Eko Susetyarini. Sementara, perwakilan dari JICA Widi berharap, setelah mengikuti workshop ini, peserta dapat memahami dan mempratikkan konsep Lesson Study dengan lebih baik di kelas. “Selain itu, diharapkan peserta juga dapat menemukan ide-ide baru sewaktu mengajar. Sehingga selain kemampuan cara mengajar anda dapat meningkat, juga dengan pelatihan dan pengetahuan tersebut, menimbulkan komunitas belajar yang aktif untuk pendidikan yang lebih baik di masa depan,” tukasnya. Workshop ini sekaligus dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara FKIP dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Batu. Langkah tersebut dilakukan, dijelaskan Nur Widodo, untuk sosialisasi dan pengimplementasian Lesson Study. Program ini, imbuh Nur Widodo, tengah difokuskan di wilayah Kota Batu. (can/han)

UMM Diminta Dampingi Pengembangan Kluster Pertanian Organik di Situbondo

MENILIK keberhasilan pendampingan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di sejumlah daerah di Jawa Timur, Bupati Sitobondo melalui Kepala Dinas Pertanian secara khusus meminta tenaga ahli dari Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) UMM, yaitu Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P. untuk mengembangkan kluster pertanian organik, Kamis (20/7). Sebelumnya, Guru Besar FPP UMM ini sejak tahun 2012 hingga 2017 telah mendampingi Kabupaten Bondowoso untuk mengembangkan hal yang sama. Bahkan melalui tangan dingin Indah, Kabupaten Bondowoso saat ini tengah mengurus sertifikasi internasional agar produksi bisa diekspor. Ini juga yang ingin dikerjakan di Kabupaten Sitibondo melalui kerjasama tersebut. “Nota kesepahaman yang akan dijalankan antara UMM dan Kabupaten Sitobondo nantinya tidak hanya sebatas pada pertanian organik, tetapi juga direncanakan akan merambah pada kerjasama lain. Untuk kerjasama lainnya akan dibicarakan secara teknis pada periode-periode berikutnya,” kata dosen berprestrasi 2011 Kopertis Wilayah VII ini. Secara informal, imbuh Indah, pihaknya sudah intens berkomunikasi dengan Bupati Sitobondo terkait rencana kerjasama tersebut. Setelah melihat potensi yang ada di Kabupaten Sitobondo, Indah pada akhirnya menyetujui kerjasama yang akan ditindaklanjuti dalam waktu dekat ini. Ditargerkan Agustus mendatang kerjasama tersebut sudah terealisasi. “Prinsipnya saya lihat potensinya dulu, dari potensi itu kemudian saya kembangkan pertanian organiknya sesuai potensinya. Sehingga nantinya kluster yang terbentuk itu mencirikhas kan daerahnya, mencirikan potensinya. Sehingga tidak ada beban biaya di luar potensinya. Artinya apa yang kita produksi bersadarkan internal input,” ujarnya. Kekayaan Sitobondo diakui Indah sangat banyak dari Gunung hingga laut. Diterangkan Indah, sebetulnya telah ada kelompok-kelompok tani yang mengembangkan pertanian padi organik. Namun demikian, Bupati Sitobondo berharap potensinya lebih dapat dioptimalkan dengan keterlibatan UMM di dalamnya. Selain disaksikan Rektor UMM Fuzan, pertemuan tersebut juga dihadiri Asisten 2 Bidang Perekonomian Pertanian, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Kepala bagian Pemerintahan, Kepala Bagian Hukum, juga dari Bagian kepegawaian Daerah, dan Kesekretaratan Daerah Kabupaten Sitobondo. (can/han)

Mensos Khofifah Minta Mahasiswa UMM Turun Gunung Membina Desa

MENTERI Sosial (Mensos) Republik Indonesia, Khofifah Indar Parawansa hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk melepas keberangkatan 5.151 mahasiswa Kelompok Kerja Nyata (KKN), Rabu (19/7) di Hall UMM Dome. Kedatangan Mensos sekaligus memperingati 30 tahun program KKN UMM yang telah berlangsung sejak 1987. Setelah melepas mahasiswa KKN dengan memakaikan jaket almamater pada dua perwakilan mahasiswa secara simbolis, Khofifah lalu menyampaikan kuliah tamu sebagai pengantar sekaligus bekal pada mahasiswa UMM yang akan mengabdi di desa sebulan ke depan. Dalam ceramahnya, Khofifah memaparkan tentang pemetaan potensi desa. Khofifah berpesan agar mahasiswa KKN peka terhadap lingkungan sekitar dan bisa mem-break down potensi tersebut menjadi aksi nyata. “Hal sederhana yang ditemukan di desa bisa menjadi sesuatu yang substantif. Dengan putra-putri kampus ‘turun gunung’, sama dengan mengikuti jejak KHA Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah,” ujar Khofifah menganalogikan. Saat ini, enam kabupaten di Jawa Timur terindikasi mengalami gizi buruk. Untuk itu, program Desa Sejahtera Mandiri diupayakan menjadi media untuk mengurangi luasnya daerah yang terkena gizi buruk tersebut. “Sebanyak 63 persen penyebab disabilitas adalah kurang gizi. Hal ini bukan hanya harus dicegah saat ibu hamil, melainkan gaya hidup saat remaja sudah harus diperhatikan,” ungkap Khofifah. Selain itu, imbuh Khofifah, kepekaan mahasiswa tak hanya pada urusan pengembangan desa melalui program-programnya, melainkan juga penanaman nasionalisme dan keagamaan. “Mahasiswa KKN kalau melihat ada indikasi penyebaran radikalisme dan nilai-nilai anti Pancasila, tak peduli apa program studi yang diambil di bangku kuliah, langsung saja bertindak untuk meluruskan dan menanamkan nilai-nilai yang benar,” lanjut menteri yang juga ketua Muslimat NU ini. KKN terpadu UMM digelar dua kali dalam setahun. Program multidisipliner yang menggabungkan mahasiswa dari berbagai bidang ilmu ini menjadi bentuk tanggung jawab UMM sebagai perguruan tinggi untuk berkiprah memajukan masyarakat, khususnya masyarakat desa. Direktorat Penelitain dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM sebagai pengelola KKN UMM juga bekerja sama dengan berbagai instansi untuk penyelenggaraan KKN tematik. Direktur DPPM UMM Prof Dr Sujono MKes mencontohkan, dengan Kementerian Sosial UMM terlibat program pembangunan rumah tidak layak huni (rutilahu) dan kelompok usaha bersama (kube), dengan Kemendikbud kerjasamanya pada program berantas buta aksara, serta dengan Dikti untuk program KKN Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM), dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT). Selain mengirimkan mahasiswa KKN ke 186 desa di 18 kabupaten/kota di Jawa Timur, kali ini UMM juga mengirimkan mahasiswa KKN ke Palembang. Hal ini menjadikan UMM sebagai kampus dengan jangkauan daerah KKN terluas se-Jawa Timur. Sujono menyatakan, UMM akan terus mengembangkan desa jangkauannya untuk mengembangkan masyarakat di pedesaan. Ini aksi nyata dari slogan ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. Potensi dan manfaat KKN sangat banyak bagi pengembangan masyarakat,” pungkas Sujono. (ich/han)

Kabupaten Donggala Bakal Terapkan Konsep PLTMH UMM

KONSEP pengelolaan energi di Universitas Muhammadiyah Malang ternyata menyedot perhatian sejumlah daerah. Salah satunya Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Kemarin, Bupati Donggala Drs Kasman SH beserta rombongan berkunjung ke UMM dan langsung diterima Rektor Fauzan, Selasa (18/7). Bentuk pengelolaan energi yang diminati, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Selain melihat pengoperasian PLTMH, rombongan juga hendak menjalin kerja sama dengan UMM, salah satunya di bidang pendidikan. Sebagaimana diketahui, UMM merupakan Kampus Pelopor Energi Baru Terbarukan. “Pencanangan Donggala sebagai kota wisata dalam beberapa bulan ke depan diyakini bakal  memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Segala bentuk perencanaan itu harus ditopang dengan penyediaan infrastruktur yang baik. Salah satunya di sektor energi,” demikian disampaikan Kasman di sela lawatannya menilik kesuksesan pengelolaan PLTMH 1 dan 2. Ia berharp, UMM sebagai pelopor Energi Baru Terbarukan (EBT) dapat juga diterapkan pengoperasiannya di Kabupaten Donggala. Pengembangan sektor jasa dengan menggenjot pariwisata akan memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat,” kata Kasman. Ia juga meyakini bahwa pencanangan Donggala sebagai kota wisata yang direncanakan Agustus 2017 nanti akan terlaksana dengan baik. Pemkab Donggala, sebut dia, telah merencanakan dan menyiapkan anggaran untuk pelaksanaan perencanaan itu. Selain belajar pengelolaan dan penerapan PLTMH, rencananya Kabupaten Donggala juga akan melakukan berbagai kerjasama lain dengan UMM. Utamanya di bidang pendidikan. (can/han)