30 Tahun KKN UMM, Jangkau 186 Desa di Jawa Timur

MEMASUKI tahun ke-30 program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Menteri Sosial Republik Indonesia, Khofifah Indar Parawansa dijadwalkan hadir di UMM untuk melepas keberangkatan 5.161 mahasiswa ke 186 desa KKN, Rabu (19/7). Direktur DPPM UMM, Prof Dr Sujono MKes menyatakan KKN UMM dimulai sejak tahun 1987. Program multidisipliner yang menggabungkan mahasiswa dari berbagai bidang ilmu ini menjadi bentuk tanggung jawab UMM sebagai perguruan tinggi untuk berkiprah memajukan masyarakat, khususnya masyarakat desa. Selain KKN reguler yang diadakan dua kali dalam setahun, DPPM UMM juga bekerja sama dengan berbagai instansi untuk penyelenggaraan KKN tematik. Misalnya dengan Kementerian Sosial untuk program pembangunan rumah tidak layak huni (rutilahu) dan kelompok usaha bersama (kube), Kemendikbud untuk program berantas buta aksara, Dikti untuk program KKN Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM), dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT). Selain itu, UMM juga berpartisipasi dalam KKN Nasional dan KKN Muhammadiyah. Tahun lalu, mahasiswa mengirimkan mahasiswa untuk program KKN Nasional di Gorontalo. Sedangkan, tahun 2017 UMM akan mengirimkan mahasiswa untuk mengikuti KKN Muhammadiyah di Palembang. Saat ini, UMM menjadi kampus dengan jangkauan daerah KKN terluas se-Jawa Timur, yakni 186 desa di 18 kabupaten. Sujono berharap, melewati usia perak ini, DPPM UMM akan terus mengembangkan desa jangkauannya untuk mengembangkan masyarakat di pedesaan. “Banyak kampus yang menghapus program KKN, tapi UMM harus terus melaksanakannya. Ini aksi nyata dari slogan ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. Potensi dan manfaat KKN sangat banyak bagi pengembangan masyarakat,” ujar Sujono. Selain pelepasan mahasiswa KKN, DPPM UMM juga akan meluncurkan buku ‘Membangun Negeri Melalui Kuliah Kerja Nyata’. Buku ini bermuatan tentang segala hal mengenai KKN, seperti profil desa binaan, program kerja, berbagai basis pelaksanaan KKN seperti sosial, budaya, agama, pendidikan, ekonomi, kewirausahaan, kesehatan, dan lingkungan, serta catatan sukses perjalanan KKN.  (ich/han)

UMM Gelar Tes Camaba Gelombang II

RIBUAN calon mahasiswa baru memadati kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengikuti tes tulis dan wawancara jalur reguler gelombang II, Senin (17/7). Total peserta tes sebanyak 7.393 dari jumlah pendaftar online sebanyak 11.833. Secara keseluruhan, jika digabung dengan tes gelombang I, total jumlah pendaftar online yaitu 24.860 camaba. Ribuan mahasiswa tersebut berasal hampir merata dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Diperkirakan, total bakal calon mahasiswa yang mendaftar di tes reguler gelombang III bisa melampui 30 ribu pendaftar. Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi saat ditemui di kantornya menerangkan, kuota mahasiswa baru yang bakal diterima secara keseluruhan tidak berbeda dengan tahun sebelumnya yakni berkisar antara 7000 hingga 7500 orang. Untuk kuota penerimaan tes reguler gelombang II serta tes reguler gelombang lainnya, akan disesuaikan dengan passing grade masing-masing program studi (prodi) di tiap fakultasnya. Dilanjutkan Syamsul, prodi yang pasti tidak membuka pendaftaran lagi yakni Pendidikan Kedokteran. “Jumlah mahasiswa yang akan diterima nantinya disesuaikan dengan kemampuan sumber daya manusia dan infrastruktur UMM. Kalau dari segi infrastruktur, upaya peningkatan yang dilakukan di antaranya merampungkan kelengkapan interior GKB IV. Nantinya, gedung ini akan digunakan bagi mahasiswa pascasarjana,” terang Syamsul. September mendatang, gedung 9 lantai ini akan digunakan perkuliahan sebagaimana mestinya. Tes dikonsentrasikan di sejumlah gedung di Kampus III UMM. Gedung yang dipakai di antaranya untuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Hall Dome UMM, Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kesehatan (FIKES) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, Fakultas Psikologi di Basement Dome UMM , Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di lantai 1-4 di GKB 2, Fakultas Pertanian Peternakan di lantai 5-6 GKB 2, Fakultas Agama Islam (FAI) di Auditorium BAU, Fakultas Hukum (FH) di Masjid Lantai 3-4, serta Fakultas Teknik (FT) dikonsentrasikan di gedung baru yakni GKB IV lantai 4-9. Untuk mengantisipasi kecurangan, UMM turut mengerahkan keamanan tambahan. Sebanyak 25 personel Kepolisian Resor (Polres) Malang diterjunkan. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan tes berjalan sebagaimana mestinya. Rektor UMM Fauzan juga turut menyidak sejumlah sudut gedung di kampus III yang dijadikan tempat tes. Disampaikan Fauzan, berdasarkan pantauan langsungnya di lapangan, tidak ada indikasi atau laporan kecurangan yang dilakukan calon mahasiswa baru. “Prinsipnya kami komitmen pada peningkatan kualitas. Komitmen itu diawali dari proses penerimaan mahasiswa sampai proses jalannya pembelajaran. Kalaupun calon mahasiswa tidak memenuhi kualifikasi yang telah ditentukan, ya mohon maaf. Jadi bukan karena siapa dan berapa, tapi mereka diterima di UMM murni karena prestasinya. Prestasi itu direpresentasikan dalam bentuk hasil tes ini,” tandas Fauzan saat ditemui di sela sidak. (can/han)

Menyelami Spiritualitas dalam Buku Karya Mahasiswa FK

BAGI pemahaman kebanyakan orang, spiritualitas semata hanya dimiliki oleh mereka yang beragama atau menganut keyakinan tertentu. Sesungguhnya tidak demikian. Spiritual lebih bersifat universal, artinya tidak terikat dengan agama tertentu. Kalaupun agama yang seseorang anut mencirikan nuansa spiritual, justru sangatlah baik dan lebih lengkap. Demikian dituturkan Ikhwan Marzuqi, mahasiswa semester lima program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dalam peluncuran dan bedah buku ketiganya berjudul “Spiritual Enlightenment: Kenali, Cintai dan Sayangi Pencerahan Spiritual,” di Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang, Ahad (16/7). “Bagi yang menganut agama, spiritual memiliki makna untuk memahami sebuah keikhlasan hati yang senantiasa mengabdi kepada Tuhan, atau kepada semesta bagi yang tidak memiliki agama. Pengabdian tersebut akan memberikan sebuah perasaan tersendiri untuk menyelami hakikat kehidupan, serta mengerti peran-peran kita sebagai khalifah-Nya di muka bumi,” ungkap mahasiswa asal Pamekasan, Jawa Timur ini. Dalam buku setebal 184 halaman ini Ikhwan, begitu Ia akrab dikenal, memuat 3 bab yakni Mengenali, Mencintai dan Menyayangi. Tiga bab ini, kata Ikhwan, sebenarnya berawal dari sebuah pepatah yang kemudian dirangkainya dalam bentuk buku untuk mencapai pencerahan spiritual. Pepatah itu yakni, “Tak kenal maka tak cinta, tak cinta maka tak sayang”. “Untuk lebih memberikan kesan yang mendalam pada ranah spiritual, buku ini berisi tentang berbagai renungan, langkah-langkah, dan arahan untuk menerapkannya dalam semua bidang kehidupan,” terangnya. Dengan diterbitkannya buku “Spiritual Enlightenment”, total Ikhwan telah menelurkan 3 buah buku. Dua buku lainnya yang Ikhwan tulis sejak masih berstatus sebagai mahasiswa baru di antaranya Heart Journey dan Inner Peace. Namun begitu, kedua judul buku ini tidak sampai diterbitkan oleh penerbit mayor seperti buku ‘Spiritual Enlighment’ yang tengah dibedah ini. Diakuinya, kegemarannya menulis dimulai saat Ia mengikuti program wajib asrama selama sepekan yang diikuti seluruh mahasiswa baru UMM, yakni Program Pelatihan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK). Salah satu materi yang Ikhwan dapat adalah materi tentang kepenulisan. Ikhwan merasa termotivasi, dan dari sanalah dirinya mulai menseriusi dunia kepenulisan. Kegandrungannya mengikuti berbagai pelatihan motivasi spiritual mendorongnya untuk mengangkat tema-tema tulisan seputar spiritualitas. Sejak jenjang sekolah menengah atas, Ikhwan sudah getol mengikuti berbagai pelatihan motivasi spiritual. Bahkan Ia mengaku menuntaskan setiap jenjang pelatihan yang ada. Buku-buku seputar spiritualitas juga lahap dihabisinya. Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengapresiasi Ikhwan saat turut memenuhi undangan peluncuran buku tersebut. Menurutnya, Ikhwan sangat luar biasa karena berani mengangkat tema yang biasanya ditulis manusia yang telah matang dalam menjalani kehidupannya. “Menulis tentang spiritualitas itu nggak gampang, lho! Kebanyakan buku itu memuat tentang apa yang ada di luar diri kita, sehingga lebih mudah memahaminya. Sementara berbicara tentang spiritualitas, adalah objek yang ada di dalam diri kita. Ketika seorang penulis memilih objek spiritualitas dalam karya tulisnya, maka sang penulis akan banyak menulis pengalamannya sendiri,” kata Syamsul. Orang yang tidak memiliki pengalaman spiritualitas, imbuh Syamsul, tidak mungkin bisa menuliskan bahasan seputar tema tersebut. Untuk dapat mendalami spiritualitas, seseorang setidaknya harus berada pada usia matang, yakni pada usia 40 tahun. Hal itu menurut Syamsul, sejalan dengan filosofi hidup bahwa hidup itu dimulai pada usia tersebut. Di usianya yang baru menginjak 21 tahun pada April 2017 ini, Ikhwan menjelma sebagai sosok manusia dewasa sebelum waktunya. Ketertarikan Syamsul juga pada tema spiritualitas yang diangkat pada buku tersebut. Diakuinya, tema-tema demikian juga tengah Ia dalami. “Mudah-mudahan pertemuan yang mambahas tema-tema ini tidak berhenti sampai di sini. Saya harap ada forum tatap muka lanjutan untuk sharing ihwal spiritualitas,” tukasnya. Dalam waktu dekat, buku “Spiritual Enlightenment” ini juga rencananya akan kembali dibedah di UMM bersamaan dengan peluncuran buku terbaru Syamsul Arifin berjudul “KaRen: Sebuah Novel”. (can/han)

Tes Camaba Gelombang Dua, GKB IV Mulai Digunakan

TES penerimaan calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelombang dua yang berlangsung Senin (17/7) ditandai dengan mulai beroperasinya gedung baru UMM, yaitu Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV berlantai sepuluh. Sebelumnya, UMM telah memiliki GKB I, II, dan III yang masing-masing berlantai enam. Dengan total jumlah peserta tes tulis sebanyak 7386 camaba di gelombang ini, 1800 di antaranya akan menggunakan GKB IV. Sekalipun masing rampung 80 persen, namun kepala Biro Administrasi Umum (BAU) UMM Dr Ir Sunarto MT menyebutkan, GKB IV akan digunakan perdana mulai lantai 4 hingga lantai 8. Selain GKB IV, lokasi tes yang digunakan yaitu UMM Dome, GKB I, II, dan III, Aula Masjid, dan Aula Biro Administrasi Umum (BAU). Di antara ribuan pendaftar itu, 200 di antaranya merupakan pendaftar jalur bidik misi. GKB IV, menurut Sunarto, akan rampung 100 persen pada September 2017, yang terdiri dari 9 lantai utama dan 1 lantai basement. GKB IV akan mulai digunakan untuk kegiatan belajar mengajar untuk perkuliahan tahun ajaran baru 2017/2018. “Tinggal penyempurnaan saja di beberapa bagian dan menambahkan perlengkapan di tiap kelas, tapi secara keseluruhan sudah siap digunakan,” ujar Sunarto. Rencananya, lantai satu hingga tiga gedung ini akan digunakan untuk kantor dan ruang perkuliahan pascasarjana, lantai empat hingga delapan akan digunakan sebagai ruang perkuliahan S-1 dan sebagian kecil pascasarjana, dan lantai dasar digunakan sebagai kafetaria dan area hotspot. Sedangkan lantai paling atas yakni lantai sembilan akan digunakan sebagai aula berkapasitas 1200 orang. “Aula bisa menampung 1200 orang, tapi bisa juga digunakan untuk kegiatan yang membutuhkan ruangan lebih kecil. Ada pintu yang bisa dioperasikan secara fleksibel, kalau butuh ruangan kecil pintu penyekat bisa ditutup, kalau butuh ruang besar bisa dibuka, jadi bisa terbagi menjadi empat ruangan kecil,” imbuh Sunarto. Sedikit berbeda dengan gedung kuliah sebelumnya yang dominan berwarna putih, GKB IV dikombinasikan dengan warna merah dan abu-abu. Pemilihan warna ini, kata Sunarto, sesuai dengan jiwa UMM, yakni jas merah. Sementara, untuk lahan parkir menuju GKB IV, mahasiswa maupun dosen bisa menempatkan kendaraannya di sebelah selatan jembatan baru. Selain itu, akan dibangun pula jembatan setapak untuk berjalan kaki dari parkiran tersebut menuju GKB IV. Tak hanya itu, di bagian timur GKB IV akan dilengkapi dengan jogging track di samping stadion UMM yang menghubungkan Rusunawa hingga gerbang GKB IV. Fasilitas ini akan memudahkan mahasiswa yang tinggal di Rusunawa atau indekos di belakang kampus saat akan menuju ke GKB II, III, maupun IV. (ich/han)

Mahasiswa UMM Buat Kaos Bernuansa Kearifan Lokal

SLOGAN ‘Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing’ rupanya benar-benar diterapkan oleh sekelompok mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pasalnya, kelompok yang terdiri dari lima mahasiswa ini menciptakan kaos bermuatan bahasa dan budaya lokal Banyuwangi sebagai karya ilmiah yang mereka ajukan pada gelaran Pekan Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K). Karya yang diberi nama Kaos Beranimasi Muatan Bahasa Osing (KOBONG) Glow in the Dark ini menjadi salah satu dari 38 karya PKM UMM yang mengikuti monitoring dan evaluasi (monev) eksternal di Universitas Negeri Malang (UM) (12/7). Salah satu anggota tim, Robby Cahyadi mengungkapkan karya PKM-K yang dibuatnya bersama tim mendapat apresiasi dari tim peninjau monev. Menurutnya, ini karena sejumlah keunggulan yang dimiliki, yakni bahan kaos yang digunakan berstandar distro, bahasa yang memiliki filosofi, mengangkat budaya lokal, dan tulisan di bagian belakang kaos dapat menyala dalam gelap (glow in the dark).“Tidak ada pertanyaan yang diajukan untuk Kobong Glow in the Dark, Alhamdulillah. Kita optimis untuk bisa maju ke PIMNAS,” ujar Robby. Karya ini terbilang unik karena menggabungkan ide desain visual dengan bahasa dan budaya lokal. Bagian depan karya ini adalah gambar-gambar budaya khas Banyuwangi, seperti blangkon atau barong. Menariknya, gambar-gambar ini dikemas dalam bentuk animasi tiga dimensi. Tulisan Gemelaring yang berarti ‘terus berproses sampai sukses’ menghiasi bagian depan kaos di atas gambar tiga dimensi. Di bagian belakang kaos, terdapat tulisan Using Ngewod Selawase yang berarti Bahasa Banyuwangi tidak akan mati selamanya. “Sasarannya adalah semua usia, baik anak-anak maupun orang lansia, jadi kami buat desain yang bagus untuk semua usia,” imbuh mahasiswa semester 4 ini. Sejauh ini, Kobong Glow in the Dark sudah dipesan oleh banyak orang. Kaos ini juga sudah bermitra dengan beberapa distro dan agen penjual pakaian di Rembang, Tuban, dan Pasuruan. Berbekal modal 10 juta dari Dikti, kini laba yang dikantongi lima mahasiswa ini mencapai enam juta. Bukan hal mudah untuk membuat karya yang dijual seperti sekarang, mereka butuh hingga lima kali penyempurnaan. “Kami buat pertama, lalu ada masukan dari pembeli, kami perbaiki lagi, sampai lima kali,” kisah Robby. Terkait strategi pemasaran, Robby mengaku mereka memanfaatkan semua media sosial, seperti Blackberry Messenger (BBM), whatsapp, line, dana kun Instagram Kobong Glow in the Dark dengan nama @kobong-gemelaring. Tim ini beranggotakan lima mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yakni Robby Cahyadi, Rosidi Hadi Siswanto, Rani Rahmawati, Dewi Larasetiani, dan Risnawati. Meski tak semuanya berasal dari Banyuwangi, namun mereka menyiasatinya dengan membuat kamus bahasa Osing untuk mendukung kemampuan mereka mempelajari bahasa Osing, sehingga memperkaya kosakata dalam membuat kaos. (ich/han)

Parlemen Australia Resmikan #AussieBanget Corner UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kedatangan tamu istimewa. Rombongan parlemen Australia secara khusus menyambangi kampus putih untuk meresmikan Pojok Australia atau #AussieBanget Corner di Perpustakaan Pusat UMM, Rabu (12/7). Hadir memimpin rombongan Kevin James Andrews, anggota parlemen Australia yang beberapa kali menduduki berbagai posisi menteri, di antaranya Menteri Pertahanan dan Menteri Pelayanan Sosial. Selain menyediakan pelbagai buku dan informasi beasiswa Australia, tak kalah penting, pusat informasi Australia ini juga memberi akses langsung bagi para civitas akademika dan masyarakat umum untuk dapat menjangkau perpustakaan digital nasional Australia. Pengunjung #AussieBanget Corner juga dapat mempelajari skema kerjasama yang tengah dilakukan Indonesia dan Australia. “UMM adalah kampus yang mengagumkan. Saya berharap berdirinya #AussieBanget Corner di UMM semakin menguatkan kerjasama kami dengan Indonesia,” kata Kevin saat diwawancarai seusai meresmikan #AussieBanget Corner UMM. Kevin tidak datang sendirian. Ia didampingi sejumlah anggota parlemen lain, di antaranya Catherina Elizabeth O’Toole, Kenneth Desmond O’Dowd, Cameron James Isaac Hill, serta senator Kimberley Jane Kitching. Keberadaan #AussieBanget Corner ini sekaligus melengkapi keberadaan corner-corner lainnya, seperti American Corner, Saudi Arabian Corner, Thailand Corner, serta China Corner yang telah berdiri lebih dulu di UMM. Sementara itu, diterangkan Rektor UMM Fauzan, #AussieBanget Corner merupakan salah satu bentuk implementasi kelanjutan kerjasama UMM dan Australia sejak 1994. Kerjasama strategis lain yang dilakukan UMM dan Australia yaitu melalui program Australian Consortium For In Country Indonesian Studies yang merupakan konsorsium beranggotakan 22 universitas ternama di Australia. Ketertarikan rombongan parlemen Australia pada UMM itu juga ditunjukan lewat lawatan mereka ke Kampung Warna-Warni Jodipan yang merupakan garapan mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi UMM. Usai bersafari di kampung yang dulunya dikenal dengan kawasan kumuh itu, Kevin mempertimbangkan bakal menggunakan konsep pemberdayaan serupa di Australia. “Kampung Warna-Warni Jodipan gaungnya sudah mendunia. Saya tertarik untuk berkunjunjung ke sini untuk mengadopsi konsep pemberdayaannya, dan mendengarkan langsung dari konseptornya. Saya sangat mengapresiasi karya mahasiswa UMM ini ,” kata Kevin. Selain di UMM, pendirian #AussieBanget corner juga lakukan di sejumlah perguruan tinggi di Bali, Makassar, Medan, Surabaya dan Yogyakarta. (can/han)

Mahasiswa UMM Raih Juara Dua Kontes Robot Indonesia

TIM Robot Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi. Kali ini, tiga mahasiswa program studi Teknik Elektro UMM, yakni Imam Hanafi, Abdul Syukron, dan Alfan Achmadillah Fauzi berhasil meraih juara dua pada Kontes Robot Indonesia (KRI) kategori Robot Pemadam Api yang berlangsung di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada 8-9 Juli 2017. Robot UMM yang diberi nama Dome menjadi runner up karena sejumlah keunggulan. Pembimbing lapangan yang juga dosen Teknik Elektro UMM Khusnul Hidayat menyatakan, robot milik UMM unggul dalam hal kecepatan dan mapping. “Robot Dome memiliki kecepatan tertinggi di Indonesia setelah ITS. Selain itu, dalam hal mapping, robot Dome juga tidak mengalami kebingungan dalam pemetaan arena, mengenali room, berjalan mencari titik api, maupun kembali ke titik start,” ujar Khusnul saat ditemui di depan Workshop Robotika UMM. Meski begitu, beberapa hal menjadi evaluasi robot Dome. Saat ini, akurasi robot Dome dalam menyemprot air ke titik api belum sepenuhnya lurus berhadapan. Ada kemiringan sekira 20 derajat. Robot Dome saat ini menggunakan alat penyemprot air (nozzle) berukuran kecil. “Kelebihannya, air yang keluar dari lubang nozzle tidak terlalu banyak, sehingga jika api belum padam, maka persediaan air bisa lebih lama,” urai Khusnul. Sistem pemadaman dan penyemprotan api juga akan dievaluasi. Pada robot Dome, bahan yang digunakan sebagai pemadam api adalah air. Menurut peraturan KRI, ada dua bahan yang dibolehkan untuk memadamkan api, yaitu air dan gas. Peraturan ini sedikit berbeda dengan tahun lalu yang membolehkan angin sebagai pemadam api. “Tahun lalu, kami menggunakan angin sebagai pemadam. Tahun ini, robot Dome terhitung baru karena mencoba menggunakan air. Sehingga, memang masih perlu evaluasi lagi,” terang Alfan. Robot Dome membutuhkan waktu 23 detik untuk mencari titik api dan memadamkannya di sesi pertama dan  80 detik di sesi kedua. Di sesi ketiga, UMM gagal memadamkan api. Menurut Khusnul, hal ini salah satunya disebabkan oleh jenis lilin yang berbeda dengan yang digunakan saat latihan. “Struktur bahan pembuat lilin berbeda, sumbunya juga lebih keras, warna lilin ini tampak lebih transparan dibandingkan lilin biasanya. Ini yang tidak kami prediksi sebelumnya,” ujar Khusnul. Selisih poin yang diraih UMM tak berbeda jauh dengan yang diperoleh Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) sebagai juara tiga, yakni 0,8. Sementara, UGM yang mampu mematikan api berhak atas juara pertama. Salah satu anggota tim robot UMM, Alfan mengungkapkan UMM berhasil memadamkan api di sesi pertama dan kedua. “Di sesi kedua, selisih poin UMM dengan PENS hanya 0,8. Tapi di sesi ketiga, UMM tidak berhasil memadamkan api. Ini yang jadi evaluasi kami,” terang Alfan. Robot Dome memiliki dimensi panjang 27 cm, lebar 28 cm, dan tinggi 26 cm dengan kapasitas air 50 ml. Dimensi ini menjadikan robot Dome sebagai robot dengan ukuran terkecil dibandingkan robot kampus lain. Ke depan, ada kemungkinan robot Dome mengubah ukuran nozzle yang dipakainya dan mengubah bahan pemadam, yakni menggunakan gas. “Semua akan kami pertimbangkan karena ada kelemahan dan kelebihannya. Kelebihan menggunakan gas karena ia mampu memadamkan api dari jarak cukup  jauh, mencapai 1,5 meter. Sedangkan jika ukuran nozzle besar, air akan cepat habis,” pungkas Khusnul. (ich/han)

Rektor Minta Fungsionaris Mahasiswa Berperan Strategis Bagi Bangsa

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan meminta agar seluruh elemen organisasi di lingkungan UMM memiliki wawasan, mampu membaca tantangan-tantangan masa depan, dan membawa organisasi berperan strategis di wilayah nasional dan regional agar bermakna bagi bangsa Indonesia. “Itu sejalan dengan jargon UMM, dari Muhammadiyah untuk Bangsa”, ujar Fauzan selepas melantik pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas dan Fakultas, Senat Mahasiswa Universitas dan Fakultas, serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) se-UMM periode 2017-2018, Rabu (12/7) di Theater UMM Dome. Pelantikan turut dihadiri Wakil Rektor I dan II UMM, jajaran Dekanat, Ketua Jurusan dan Ketua Program Studi, Kepala Biro, Staf Ahli Kemahasiswaan dan Kepala Bagian, serta Ketua Komisi Pemilu Raya Universitas (KPRU) UMM. Pelantikan dimulai dengan pembacaan Surat Keputusan Pengangkatan SEMU, BEMU, dan UKM masa bakti 2017-2018 oleh Wakil Rektor III UMM Sidik Sunaryo. Dalam pengarahannya, Rektor UMM juga tak lupa berpesan fungsionaris mahasiswa serius dalam mengemban amanat, turut membangun kepercayaan masyarakat dengan menunjukkan prestasi-prestasi dan memiliki tanggung jawab sosial. (nim/han)

Jadi Kampus Asuh, UMM Bimbing UMSIDA dan Uniro Tuban

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini mendapat tugas baru untuk menjadi kampus asuh bagi dua perguruan tinggi (PT) di Jawa Timur, yaitu Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dan Universitas PGRI Ronggolawe Tuban (UNIRO). Hal ini sekaligus menindaklanjuti penunjukan Kemenristek Dikti pada UMM dan 26 PT terbaik se-Indonesia untuk menjadi kampus asuh bagi universitas yang masih belum terakreditasi A. Dimulainya tugas baru itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UMM dengan dua kampus tersebut, Selasa (11/7) di Auditorium UMM. Kepala Badan Pengelola dan Pengendalian Akreditasi (BPPA) UMM, Dr Ainur Rofieq MKes mengatakan UMM akan membimbing UMSIDA dan UNIRO berupa program pengendalian mutu, baik Sistem Pengendalian Mutu Internal (SPMI) maupun Sistem Pengendalian Mutu Eksternal (SPME). “Rencananya, bidang SPMI yang kami berikan ada lima, yaitu pendidikan dan pembelajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, tata kelola, dan kerja sama, sedangkan SPME terkait dengan akreditasi institusi dan akreditasi prodi. SPME dan SPMI saling terkait, karena nilai SPME yang baik tak lepas dari poin-poin penilaian pada SPMI,” ujar Rofieq. Meski telah merumuskan rencana pembimbingan, tapi UMM tetap mengacu pada hasil need analysis dan Focus Group Discussion yang dilakukan setelah MoU. Rofieq menambahkan, hal ini lantaran kebutuhan tiap kampus berbeda. “Misalnya Uniro yang akreditasi institusi masih C, dan UMSIDA sudah B. Juga, Uniro yang memiliki 13 prodi berakreditasi C dan UMSIDA hanya 7 prodi,” imbuh Rofieq. Program pembimbingan ini akan dilakukan hingga November 2017 mendatang. Menanggapi hal ini, Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya menyatakan tak ingin momen ini hanya menjadi formalitas, melainkan harus realitas. “Satu-satunya pilihan yakni harus berhasil. UMM membuka peluang selebar-lebarnya untuk belajar. Silahkan UMSIDA dan Uniro magang di masing-masing program studi yang sesuai, nanti kita juga bisa gelar workshop di kedua universitas,” terang Fauzan. Rektor berharap berlangsungnya program ini dapat menjadi instrumen strategis dalam menciptakan trust masyarakat baik untuk UMM maupun perguruan tinggi asuh, sehingga output-nya dapat meningkatkan akreditasi institusi dan akreditasi jurusan. Lebih lanjut, Rofieq menjelaskan, Kopertis selalu memberikan penilaian bagi PT yang membina kampus lain yang secara akreditasi dan mutu ada di bawahnya. Tak hanya itu, penilaian ini akan menjadi media UMM untuk mempertahankan AKU Kartika. “Jika berhasil membimbing dua kampus asuh itu, UMM akan dapat poin tambahan. Jadi sama-sama menguntungkan,” pungkas Rofieq. (ich/nim/han)

Lulusan UMM Berpeluang Jadi Perawat Profesional di Jepang

DUA alumni Program Diploma Tiga (D3) Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sobaruddin Subekti dan Muhammad Fattahu, yang saat ini bekerja sebagai tenaga keperawatan di Jepang berkesempatan membagi ilmunya pada mahasiswa D3 Keperawatan UMM (10/7) di sela masa liburannya di Indonesia. Subekti dan Fattahu merupakan dua dari tujuh alumni D3 Keperawatan UMM yang saat ini bekerja di sejumlah rumah sakit dan lembaga kesehatan di Jepang. Subekti bekerja di Sangenjaya Hospital sementara Fattahu di Central Otaku, keduanya terletak di Tokyo. Mereka bekerja di Jepang melalui program kerjasama pemerintah Indonesia dan Jepang. Bagi Subekti, kualitas lulusan D3 Keperawatan UMM sudah sangat mumpuni untuk bersaing secara profesional dengan lulusan luar negeri. “Pengetahun dan pengalaman yang kita dapat selama kuliah di UMM sudah lebih dari cukup untuk bersaing dengan perawat dari Filipina maupun Jepang sendiri. Kendala kita hanya bahasa saja, dan itu bisa dilatih,” ujarnya saat sharing pengalaman di Auditorium Kampus II UMM. Pengalaman bekerja di luar negeri bagi mereka sungguh mengesankan. Selain merasakan suasana baru dengan budaya dan gaya hidup berbeda, dari sisi pendapatan juga cukup tinggi, terlebih jika dibandingkan dengan gaji perawat di Indonesia. Gaji pertama seorang perawat bisa mencapai Rp 19 Juta, sedangkan biaya hidup berkisar antara Rp 8 hingga 9 juta saja. Subekti malah digaji mencapai Rp 35 juta karena sudah memperoleh registered nurse (RN) sebagai perawat profesional. Diakui Subekti, perawat yang telah memiliki RN memang digaji dua kali lipat karena telah dianggap profesional dan sudah bisa menangani pasien secara langsung. RN merupakan sertifikasi nasional bagi perawat di Jepang yang juga diakui secara internasional. Untuk memiliki RN, seorang perawat harus mengikuti ujian keperawatan yang sepenuhnya berbahasa Jepang. “Bahkan, ini juga berlaku bagi perawat yang lulus kuliah di Jepang. Mereka pun tidak mudah untuk lulus ujian ini dan bisa mendapatkan RN. Dari segi persentase, hanya 10 persen perawat yang bisa lolos ujian ini,” jelas Subekti. Selain Subekti dan Fattahu, pada bulan Februari lalu, alumni D3 Keperawatan UMM lainnya yang juga bekerja di Jepang, Micky Herera, sempat mengunjungi adik-adiknya di UMM untuk memberikan motivasi dan inspirasi. Seperti halnya Subekti, Micky juga termasuk di antara sedikit perawat yang sudah mendapatkan RN dari pemerintah Jepang. Sekalipun mereka lulusan D3, namun di Jepang kualifikasi mereka disetarakan dengan S1. Dengan adanya RN ini, mereka juga berkesempatan bekerja di Eropa, karena RN di Jepang diakui secara internasional. Menindaklanjuti banyaknya alumni yang saat ini bekerja di Jepang, Kepala Program Studi D3 Keperawatan UMM, Reni Ilmiasih, mengatakan akan memperkuat kurikulum agar alumninya siap bersaing secara internasional. “Selain di Jepang, ada juga beberapa alumni kita yang bekerja di Arab Saudi, Taiwan, Australia, dan sebagainya. Untuk itu, kurikulumnya coba kita perkuat agar adik-adiknya bisa mengikuti jejak mereka,” paparnya. Di kurikulum, kata Reni, sudah ditambahkan mata kuliah wajib bahasa asing, yaitu bahasa Jepang dan bahasa Arab, selain bahasa Inggris tentunya yang sudah menjadi program universitas. “Selain kurikulum, kemitraan dengan berbagai universitas dan lembaga luar negeri juga kita perkuat. Yang pasti, kita sudah siap untuk menghasilkan alumni yang bertaraf internasional,” pungkasnya. (dis/han)