UMM Dome Kini Dilengkapi ICU Mini Berstandar Fasilitas Kesehatan Utama Presiden

ICU mini yang terdapat di basement UMM Dome saat kunjungan Presiden RI, Joko Widodo di UMM LAZIMNYA, kunjungan Presiden Republik Indonesia (RI) ke daerah sekaligus diiringi berbagai standar perlengkapan dan fasitilitas kepresidenan, termasuk standar fasilitas kesehatan dan tim medis. Namun, lain halnya dengan lawatan Presiden Joko Widodo ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhir pekan lalu (3/6). Seusai Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) menilik kelengkapan fasilitas di Rumah Sakit (RS) UMM sehari sebelum kedatangan presiden (2/6), mereka pun memutuskan tak menerjunkan tim kesehatan lengkap seperti biasa. RS UMM pun lantas ditunjuk menjadi fasilitas kesehatan utama. “Setelah diperiksa oleh Paspampres, meninjau fasilitas dan kelengkapannya, lalu RS UMM ditunjuk jadi fasilitas kesehatan utama,” ujar wakil direktur RS UMM, dr Thontowi Djauhari NS MKes. Selain itu, merujuk pada surat edaran yang mengharuskan adanya ruang kesehatan dengan fasilitas lengkap, maka RS UMM pun menyiapkan sebuah ruangan di ujung basement dome dengan fasilitas setara ICU. “Kami menyebutnya ICU mini, karena fasilitasnya standar ICU, bukan sekedar IGD,” lanjut Thontowi. Peralatan standar ICU tersebut yakni adanya ventilator, alat hisap, peralatan akses vascular, peralatan monitor unvasif dan non-invasif, defibrillator atau alat pacu jantung, alat pengatur suhu, peralatan drain thorax, pompa infus dan syringe, lampu tindakan, tempat tidur khusus, serta peralatan portable untuk transportasi. ICU mini ini juga dilengkapi dengan seperangkat lembar observasi dan rekam medik. “Kami juga menyiapkan gelang bertuliskan nama Joko Widodo, andai tadi Pak Presiden ingin menilik ke sini,” ujar Thontowi. Meski dibangunnya ICU mini di basement UMM dDome diawali standar peraturan protokoler presiden, namun ternyata fasilitas ini dinilai baik untuk fasilitas kesehatan di area dome. “Jadi, kami putuskan ruangan dan fasilitas ini akan tetap di sini, tak dibongkar. Sehingga, ketika ada kegiatan mahasiswa atau kegiatan lain, fasilitas ini bisa tetap digunakan sebagai penunjang fasilitas kesehatan,” pungkas Thontowi. (ich)
Mendikbud: Tebarkan Spirit Al-Ma’un, UMM Jadi Gerakan Filantropi Muhammadiyah di Bidang Pendidikan
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menyatakan, spirit Al-Ma’un merupakan dasar filantropi Muhammadiyah yang tak hanya sebatas urusan memberi makan pada orang yang kurang mampu. Filantropi Muhammadiyah berupaya mengentaskan manusia dari tiga jenis kemiskinan, yakni miskin harta, miskin mental, dan miskin ilmu. Menurut mantar Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan menjadi poin penting untuk mengentaskan kemiskinan manusia akan ilmu. “Dengan mengentaskan manusia yang miskin ilmu, otomatis ilmu akan mengentaskan mereka dari kemiskinan akan sistem. Nantinya, dengan terlepas dari kemiskinan ini, manusia akan mampu mencari makan dan harta. Jadi, mengentaskan kemiskinan akan ilmu itu adalah kunci dari mengentaskan kemiskinan yang lain. UMM menjadi salah satu cara berfilantropi ala Muhammadiyah dengan mengentaskan kemiskinan ilmu ini,” paparnya. Menambahkan hal itu, sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr Abdul Mu’ti MEd menyatakan, gerakan filantropi harus anti ribet. “Ribet yang saya maksud bukanlah susah atau merepotkan, melainkan akronim dari Reaktif, Individualis, Belas kasihan, dan Temporal” paparnya dalam diskusi panel Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur tentang Filantropi sebagai Karakter Warga Muhammadiyah (4/6) di UMM Dome. Filantropi bermakna kedermawanan yang dikelola secara profesional untuk meningkatkan kesejahteraan orang banyak. Untuk itu, Mu’ti menegaskan filantropi tak boleh bersifat reaktif, yakni hanya bereaksi bila ada sesuatu yang terjadi, seperti bencana alam. Filantropi juga sebaiknya dilakukan bukan secara perorangan atau individualis, melainkan dikelola dengan baik oleh sebuah lembaga. “Contoh yang banyak di sekitar kita, perseorangan membagi-bagikan uang kepada orang banyak dengan cara berbaris. Ini yang dimaksud dengan nafsi-nafsi, individual dan sangat marak saat Ramadhan. Ini bisa menjadi sedekah yang karikatif, diperlihatkan kepada orang banyak dengan tujuan tertentu,” jelas Mu’ti. Selanjutnya, filantropi juga tak hanya dilaksanakan atas dasar belas kasihan dan temporal. Filantropi mesti dilandasi atas dasar keikhlasan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Dikatakan Mu’ti, puncak iman seseorang dapat dinilai salah satunya melalui kerelaannya untuk membagikan sesuatu yang masih dicintainya. Hal ini merujuk pada teologi Al-Ma’un yang menjadi dasar Muhammadiyah dalam melakukan banyak kegiatan sosial. “Muhammadiyah memahami surat Al-Ma’un sebagai dasar melakukan kegiatan sosial. Kedermawanan menjadi salah satu tolak ukur kualitas iman dan karakter orang yang bertakwa, yakni memberikan sebagian rezekinya pada orang lain,” urainya. (ich/han)
Ini Tiga Spirit Muhammadiyah Majukan Bangsa Menurut Haedar Nashir

KETUA umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Haedar Nashir MSi menekankan, bulan Ramadhan adalah media yang tepat untuk memupuk tiga karakter terpenting bagi keberagamaan Indonesia. Tiga kerakter tersebut yakni muroqobah, rif’ah, dan ukhuwah. Jiwa muroqobah ialah jiwa yang selalu mendekatkan diri pada Allah dan perasaan selalu diawasi oleh Allah. “Waspada untuk selalu melakukan kebaikan dan takut melakukan keburukan. Dengan memiliki karakter muroqobah, pemimpin-pemimpin bangsa tak akan melakukan kebaikan krena riya’ dan tidak melakukan keburukan ketika punya peluang,” urainya. Karakter kedua yakni rif’ah atau berjiwa mulia, luhur, dan utama. Mengutip hadis Nabi, Haedar mengungkapkan karakter rif’ah ini dapat terwujud dalam tiga hal, yakni menautkan kembali relasi dengan orang yang memutuskan, menghalalkan apa yang diharamkan orang pada diri kita, dan berbuat lembut hati pada orang yang berbuat bodoh. “Jika jiwa rif’ah dipraktikkan dalam kehidupan kebangsaan, meskipun ada dinamika, maka akan terbentuk masyarakat yang damai, bajik, dan selalu memupuk kebersamaan. Kalau ada yang menyulut sesuatu yg membuat kelompok kita terbakar, maka dengan jiwa rif’ah akan menjadi dewasa.” Karakter ketiga yakni ukhuwah, rasa persaudaraan yang selalu ingin berbagi untuk orang lain meski berbeda agama dan pilihan politik. Ukhuwah lahir dari semangat bahwa Allah menciptakan manusia dengan semangat untuk saling mengenal. “Pupuk dan rawat semangat hidup bersama dan mau berkorban,” tukasnya. Untuk itu, filantropi menjadi gerakan yang terus digiatkan Muhammadiyah. Usaha turut membangun bangsa melalui berbagai bidang dengan semangatukhuwah, turut berbagi dan menyejahterakan berbagai elemen masyarakat. Dalam konteks ini, Haedar menyebutkan UMM merupakan salah satu kampus kebanggan filantropi Muhammadiyah di Jawa Timur yang menjadi bagian penting dalam kiprahnya memajukan bangsa. “Dari kampus ini sudah lahir dua anak bangsa yang diwakafkan untuk berbagi mencerdaskan bangsa, yakni Pak Malik Fadjar dan Muhadjir Effendy,” ujarnya pada Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di UMM Dome (3/6). Sementara itu Ketua Umum PWM Jawa Timur Dr Saad Ibrahim MA dalam sambutannya mengatakan, semangat Muhammadiyah untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa termanifestasi dalam amal usaha di berbagai bidang. Di Jawa Timur, lanjutnya, amal usaha Muhammadiyah di antaranya 784 sekolah, 32 pondok pesantren, 6 universitas, dan 16 sekolah tinggi. (ich/han)
Presiden Jokowi Dikukuhkan sebagai Keluarga Kehormatan UMM

KEHADIRAN Presiden RI Joko Widodo di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam rangka Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu (3/6), dinilai Rektor UMM Fauzan sangat relevan dengan citra UMM sebagai kampus kebangsaan. Pada momen ini, Presiden Jokowi lantas dikukuhkan sebagai keluarga kehormatan UMM yang ditandai dengan penyematan “Jas Merah” almamater UMM oleh Ketua Badan Pembina UMM Abdul Malik Fadjar. Kehadiran Jokowi di yang bertepatan dengan Pekan Pancasila ini menjadi momentum bagi UMM untuk memperkuat tagline UMM yang sangat bernuasa kebangsaan, yaitu “Jas Merah Kampus Putih”. Terlebih, bagi Fauzan, kehadiran Presiden ini sangat kontekstual mengingat sebagaimana disebut Jokowi, Pekan Pancasila diupayakan untuk menguatkan dan memperkenalkan ulang dasar-dasar Pancasila, serta menarik minat anak muda terhadap Pancasila, sehingga diharapkan seluruh komponen bangsa dapat menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Karena salah satu sasarannya anak muda, maka penguatan Pancasila oleh Presiden bisa langsung dirasakan oleh kaum muda Muhammadiyah se-Jawa Timur serta mahasiswa UMM yang berlatar keragaman etnis, suku, bahkan agama. Ini penting, karena melalui anak muda, upaya memviralkan spirit Pancasila menjadi lebih mudah dan cepat dilakukan,” kata Fauzan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang pada kesempatan ini menyampaikan hikmah Ramadhan mengatakan, salah satu bukti kiprah kebangsaan UMM adalah dengan menghibahkan dua tokohnya pada bangsa. “Pak Malik Fadjar dan Pak Muhadjir Effendy adalah dua tokoh yang dihibahkan UMM pada bangsa,” kata Haedar. Selain Jokowi dan Haedar, sejumlah tokoh yang hadir antara lain Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Abdul Malik Fadjar, Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PWM Jawa Timur M Saad Ibrahim, Walikota Malang Mochamad Anton, dan sejumlah tokoh lainnya. (can/han)
Kunjungi UMM, Jokowi Ajak Warga Muhammadiyah Perkuat Karakter Bangsa

PRESIDEN Republik Indonesia Joko Widodo mengajak warga persyarikatan Muhammadiyah dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengembalikan karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa besar. Hal itu disampaikan Presiden saat menghadiri Kajian Ramadhan 1438 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di UMM Dome, Sabtu (3/6). Bagi Jokowi, hal-hal yang perlu ditingkatkan yaitu etos kerja, produktivitas, kedisiplinan, serta etika berbangsa dan bernegara. Namun, Jokowi mengakui bahwa Muhammadiyah memiliki semua elemen itu. “Semual hal itu ada di Muhammadiyah. Karena itu saya mengajak seluruh pengurus dan warga Muhammadiyah untuk berkonsentrasi kepada hal-hal yang positif,” kata Jokowi. Jokowi juga mengingatkan pentingnya semangat ukhuwah di tengah bangsa yang memiliki keragaman suku, agama, ras, dan golongan. “Mari kita gunakan momen ini untuk menguatkan lagi semangat kita, ukhuwah Islamiyyah kita, ukhuwah wathoniyyah kita, dan mengisi setiap ruang-ruang itu untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya. Kehadiran Jokowi di UMM yang bertepatan dengan Pekan Pancasila ini menjadi momentum bagi Muhammadiyah untuk memperkuat kiprah kebangsaan yang telah melampaui satu abad. Terlebih, jika dilihat dari sisi historis, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah telah bahu membahu, turut membangun fondasi bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan. Gelaran ini sekaligus mengukuhkan Presiden Jokowi sebagai keluarga kehormatan UMM yang ditandai dengan penyematan “Jas Merah” almamater UMM oleh Ketua Badan Pembina UMM Abdul Malik Fadjar. Pasca acara, Jokowi tak segan menyapa dan bersalaman dengan mahasiswa dan peserta Kajian Ramadhan sebelum kembali bertolak ke Jakarta. Bagi Fauzan, kehadiran Presiden di UMM ini sangat kontekstual dengan Pekan Pancasila yang dicanangkan pemerintah. Pekan Pancasila, sebagaimana disebut Jokowi, diupayakan untuk menguatkan dan memperkenalkan ulang dasar-dasar Pancasila, serta menarik minat anak muda terhadap Pancasila, sehingga diharapkan seluruh komponen bangsa dapat menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Karena salah satu sasarannya anak muda, maka penguatan Pancasila oleh Presiden bisa langsung dirasakan oleh kaum muda Muhammadiyah se-Jawa Timur serta mahasiswa UMM yang berlatar keragaman etnis, suku, bahkan agama. Ini penting, karena melalui anak muda, upaya memviralkan spirit Pancasila menjadi lebih mudah dan cepat dilakukan,” kata Fauzan. Selain Jokowi, sejumlah tokoh yang hadir antara lain Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PWM Jawa Timur M Saad Ibrahim, Walikota Malang Mochamad Anton, dan sejumlah tokoh lainnya. Bagi Muhammadiyah, spirit yang ditebarkan Jokowi sejalan dengan semangat filantropi yang dikembangkan Muhammadiyah berbasis teologi Al-Ma’un. Sebagai wujud filantropi itu, Muhammadiyah kini memiliki 24.953 lembaga pendidikan usia dini, dasar dan menengah, 176 perguruan tinggi, 2.119 lembaga kesehatan, 525 panti sosial, 11.198 rumah ibadah, serta tanah seluas 20.945.504 meter persegi. (can/han)
Buka Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur, Jokowi Beri Petuah Kebangsaan

MEMANFAATKAN momen Pekan Pancasila, Presiden RI Joko Widodo menghadiri Kajian Ramadhan 1438 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu (3/6), di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk memberikan petuah kebangsaan. Presiden mengisahkan, dulu Indonesia merupakan bangsa yang besar dan disegani bangsa lain. Bahkan kepeloporan Indonesia terletak di berbagai dimensi, utamanya di aspek pendidikan dan pembangunan. Namun, belakangan kecenderungannya, Indonesia lambat laun makin tertinggal di berbagai aspek karena terus-menerus mengurusi hal-hal yang terlampau menyita perhatian. Oleh sebab itu, Presiden Jokowi menilai perlunya mengembalikan karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa besar. Yakni kembali pada etos kerja yang tinggi, kembali pada produktivitas yang tinggi, kembali pada kedisiplinan kita yang tinggi, kembali kepada etika berbangsa dan bernegara yang tinggi, serta kembali kepada etika bermasyarakat yang tinggi. “Semual hal itu ada di Muhammadiyah. Karena itu saya mengajak seluruh jajaran pengurus dan anggota untuk bersama-sama mengajak lingkungannya untuk kembali pada etika berbangsa dan bernegara dan etika bermasyarakat yang baik, sehingga kita bisa kembali konsentrasi kepada hal-hal yang positif,” kata Jokowi yang disambut riuh tepuk tangan peserta yang memadati Hall UMM Dome UMM. Bagi Jokowi, ada tiga hal penting yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Pertama, kesadaran tentang keberagamaan yang telah diberi ruang sebesar-besarnya oleh negara. “Oleh sebab itu, mari kita gunakan ruang yang besar ini untuk mengembalikan lagi semangat ukhuwah kita, ukhuwah Islamiah kita, ukhuwah wathoniyah kita, dan mengisi setiap ruang-ruang itu untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara kita,” ujarnya. Di bidang pendidikan, kita ingin membangun sumber daya manusia. Karena persaingan yang makin sengit antar negara. Oleh sebab itu, pendidikan harus dilandasi pada nilai-nilai agama, moralitas, etika, integritas, dan mentalitas yang baik. “Percuma anak-anak kita pandai tapi nilai-nilai itu tidak ada. Tidak ada artinya,” katanya. Tak kalah penting, yang ketiga, kata Jokowi, yakni memperteguh nilai-nilai persaudaraan. “Keberagaman di Indonesia merupakan takdir yang telah Allah berikan kepada kita. Anugerah ini yang senantiasa harus kita jaga,” ungkapnya. Gelaran tersebut sekaligus mengukuhkan Presiden Jokowi sebagai keluarga kehormatan UMM yang ditandai dengan penyematan jas almamater UMM oleh Ketua Badan Pembina UMM Abdul Malik Fadjar. Pasca acara, Jokowi tak segan menyapa mahasiswa dan peserta Kajian Ramadhan di lapangan parkir barat Masjid AR Fachrudin UMM sebelum kembali bertolak ke Jakarta. Selain Jokowi, sejumlah tokoh yang hadir antara lain Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PWM Jawa Timur M Saad Ibrahim, Walikota Malang Mochamad Anton, dan sejumlah tokoh lainnya. (can/han)
Viralkan Spirit Pancasila, Presiden Jokowi Dijadwalkan Kunjungi UMM

PRESIDEN RI Joko Widodo dijadwalkan hadir pada Kajian Ramadhan 1438 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang akan berlangsung besok, Sabtu (3/6), di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kedatangan presiden yang bertepatan dengan Pekan Pancasila ini menjadi momentum untuk memperkuat kiprah kebangsaan Muhammadiyah yang telah melampaui satu abad. Rektor UMM Fauzan mengatakan, kedatangan Presiden ini sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang telah meneguhkan negara Pancasila sebagai darul-ahdi wasy-syahadah. “Darul-ahdibermakna bahwa negara kita ini merupakan hasil konsesus nasional, yang melintasi keragaman etnis, agama, bahkan kekuatan politik dan golongan. Sementara darusy-syahadah menegaskan bahwa tanah air ini adalah bukti kesaksian kita atas Indonesia yang merdeka, yang harus dijaga bersama menuju negeri yang makmur, adil dan bermartabat.” Terlebih, tambah Rektor, jika dilihat dari sisi historis, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah telah bahu membahu, turut membangun fondasi bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan. “Benang merah itu yang coba kita perkuat. Apalagi, UMM ini kan salah satu amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan yang telah mengukuhkan diri sebagai kampus kebangsaan. Jadi konteks kehadiran Pak Jokowi ini sangat relevan,” kata Fauzan. Bagi Fauzan, kehadiran Presiden di UMM ini sangat kontekstual dengan Pekan Pancasila yang dicanangkan pemerintah. Pekan Pancasila, sebagaimana disebut Jokowi, diupayakan untuk menguatkan dan memperkenalkan ulang dasar-dasar Pancasila, serta menarik minat anak muda terhadap Pancasila, sehingga diharapkan seluruh komponen bangsa dapat menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Karena salah satu sasarannya anak muda, maka penguatan Pancasila oleh Presiden bisa langsung dirasakan oleh kaum muda Muhammadiyah se-Jawa Timur serta mahasiswa UMM yang berlatar keragaman etnis, suku, bahkan agama. Ini penting, karena melalui anak muda, upaya memviralkan spirit Pancasila menjadi lebih mudah dan cepat dilakukan,” kata Fauzan. Selain Jokowi, sejumlah tokoh yang dijadwalkan menjadi narasumber yaitu Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Mendikbud Muhadjir Effendy, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Abdul Malik Fadjar, dan Wakil Ketua MUI Yunahar Ilyas, Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mantan Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto Y Thohari Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Ketua PWM Jawa Timur Saad Ibrahim, dan sejumlah tokoh lainnya. Asisten Rektor Koordinator Bidang (Askorbid) Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang juga menjadi penanggungjawab Kajian Ramadhan 1938 H Mohammad Nurhakim menjelaskan, kajian Ramadhan ini diharapkan berdampak positif bagi keutuhan bangsa maupun untuk kepentingan umat, “Karena dihadiri sejumlah tokoh bangsa, semoga ini bisa lebih merekatkan semua elemen bangsa, serta menguatkan kembali titik-titik simpul umat ini dari ketegangan-ketegangan yang sempat menguji keutuhan Indonesia belakangan ini,” kata Nurhakim. Melalui tema “Spirit Al-Ma’un: Teguhkan Gerakan Filantropi”, lanjut Nurhakim, konteks filantropi yang hendak disampaikan pada gelaran ini tidak lagi pada tataran verbal semata, lebih dari itu, gelaran ini berupaya mengajak seluruh warga Persyarikatan untuk mengejawantahkan filantropi dalam aksi nyata. Nurhakim mencontohkan aksi nyata Muhammadiyah yang dibuktikan dengan banyaknya amal usaha yang dimilikinya. Disebut Nurhakim, Muhammadiyah memiliki 24.953 lembaga pendidikan usia dini, dasar dan menengah, 176 perguruan tinggi, 2.119 lembaga kesehatan, 525 panti sosial, 11.198 rumah ibadah, serta tanah seluas 20.945.504 meter persegi. “Semua amal usaha itu merupakan filantropi yang dedikasinya untuk bangsa,” tuturnya. (can/han)
UMM, Kampus Wisata Berwawasan Global

SUASANA Kota Malang, Jawa Timur, yang sejuk memikat mahasiswa dari berbagai daerah dan negara kuliah di kota ini. Daya tarik ini pula yang menginspirasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membangun kampus bernuansa rekreatif, atau edupark. Konsep kampus wisata diharapkan dapat membuat pikiran penghuninya fresh, sehingga lebih cemerlang dalam melahirkan ide-ide kreatif. Suasana yang segar dan menyehatkan, menurut Rektor UMM Fauzan, merupakan perwujudan UMM sebagai kampus green and cleanyang dicanangkan di semua lini. Hal ini, kata Fauzan,turutdidukung topografi UMM yang unik dan menarik, yang bisa membuat penghuninya merasa nyamandan terinspirasi. Bagaimana tidak, memasuki gerbang kampus UMM, mahasiswaakan disuguhi pemandangan yang indah, alamiah dan menyegarkan. Dari kejauhan, tampak pegunungan Panderman dan gunung Arjuno mengitari kampus. “Viewini menjadi spot foto yang sangat digandrungi mahasiswa,” kata Fauzan. Di depan gedung kuliah utama, terdapat danau kampus yang indah, dikelilingi gazebo-gazebo yang menjadi tempat favorit mahasiswa untuk belajar bersama, atau sekedar melepas lelah. Mahasiswa juga bisa mengitari kampus dengan sepeda pancal yang disediakan di sejumlah titik. Bergerak ke arah Barat, melewati gedung bundar UMM Dome, saat ini tengah dibangun jalan yang akan menghubungkan dengan salah satu unit usahaUMM paling ikonik, yaitu Taman Sengkaling UMM. Sementara ke arah Timur, terdapat stadion UMM berdampingan dengan kawasan konservasi tumbuhan langka Arboretum. Lebih dari itu, Wakil Rektor II UMM Nazaruddin Malik menjelaskan, kampus ini turut memanfaatkan keindahan alam untuk pengembangan akademik. Nazar mencontohkan sungai Brantas yang membelah kampus ini. “Aliran sungaiBrantas inikita manfaatkan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sehingga bisa menghemat beban biaya listrik hingga 25 persen,” terang Nazar. Selain itu, di UMM, mahasiswa tak hanya bisa menikmati, tapi juga sekaligus mempelajari ratusan pohon yang berada di lingkungan kampus. Dengan aplikasi Finding A Tree yang bisa diunduh di PlayStore android, mahasiswa bisa mengenali masing-masing jenis tumbuhan via barcode. Kampus ini, kata Nazar, setidaknya memiliki 41 jenis tanaman, termasuk di antaranya palem, tabepuya, dan cemara. Atmosfer Internasional Nuansa itu tak hanya memikat mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, namun juga dari beragam negara. Wakil Rektor I UMM Syamsul Arifin menguraikan, pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2016 saja, UMM menerima 188 mahasiswa asing yang berasal dari 18 negara, yaitu Australia, Chile, China, Jepang, Jerman, Kamboja, Korea Selatan, Polandia, Rumania, Sierra Leone, Singapura, Slovenia, Spanyol, Sudan, Thailand, Timor Leste, Uzbekistan, dan Vietnam. Mahasiswa UMM juga dapat memperluas pergaulan internasional melalui program-program kemitraan yang dibangun kampus ini. Misalnya setiap semester, lanjut Syamsul, mahasiswa UMM berkesempatan menjadi buddy atau partner bagi mahasiswa asing untuk melakukan proyek bersama. Misalnya melalui program Learning Express (LEx) bermitra dengan Singapore Polytechnic dan Kanazawa Institute of Technology (KIT) Jepang. Para buddy terbaik selanjutnya dikirim ke Jepang dan Singapura untuk melanjutkan proyek di sana. LEx merupakan salah satu program yang dibiayai Tamasek Foundation. Selain itu mahasiswa juga dapat memanfaatkan kerjasama internasional UMM untuk studi singkat di luar negeri. Misalnya kemitraan UMM dengan konsorsium Erasmus Mundus dan Erasmus+ yang terdiri dari 54 universitas di 19 negara Asia dan Eropa. Melalui beasiswa Erasmus, mahasiswa UMM dapat belajar selama 6 bulan hingga satu tahun di salah satu kampus di Eropa. Kesempatan summer camp di Cina, kursus bahasa Mandarin dan beasiswa master dan doktor dari Confucius Institute juga bisa diperoleh mahasiswa UMM. Syamsul menambahkan, UMM juga bermitra dengan Australian Consortium for In-Country Indonesia Studies (ACICIS) yang beranggotakan 22 universitas ternama di Australia dan Sakura Foundation untuk memberi kesempatan mengikuti Sakura Science Program ke Jepang selama dua pekan. UMM bahkan saat ini memiliki corner-corner hasil kerjasama dengan pemerintah di sejumlah negara, di antaranya American Corner, Saudi Arabian Corner, Thailand Corner, dan China Corner. Corner-corner yang terletak di Perpustakaan UMM ini menjadi pusat informasi, pengembangan wawasan, sekaligus wadah bagi mahasiswa UMM yang ingin studi di negara-negara tersebut. UMM juga memiliki UMM Corner di Thailand, sebagai pusat informasi tentang UMM dan Indonesia. Dalam waktu dekat,UMM Corner juga akan dibuka di sejumlah negara lain.Sementara untuk memfasilitasi mahasiswa asing yang kuliah di UMM, terdapat unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), agar sebelum kuliah reguler, mahasiswa asing sudah fasih berbahasa Indonesia. (ich/han)
Mahasiswa UMM Desain Jembatan Penghubung Kampung Jodipan-Kesatrian
MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali ikut “membangun” Kota Malang. Setelah Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) sukses menyedot perhatian khalayak dan meningkatkan perekonomian warga sekitar, UMM kembali bekerjasama dengan Pemerintah Kota Malang dan produsen cat tembok Decofresh membangun jembatan penghubung Kampung Jodipan dan Kampung Kesatrian. Jika sebelumnya, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM menjadi penggagas KWJ, kali ini giliran mahasiswa dari Jurusan Tehnik Sipil yang unjuk gigi dalam mendesain jembatan. “Ada potensi kampung sebelah Jodipan, yaitu Kampung Kesatrian dikembangkan juga. Maka dibutuhkan sarana untuk menghubungkan keduanya,” ujar Kepala Humas UMM, Rina Wahyu Setyaningrum, Rabu (10/5). Mengusung konsep jembatan kaca sebagai penerapan nilai estetikanya, jembatan sepanjang 25 meter tersebut akan membentang di atas Sungai Brantas. Menggunakan fondasi beton bertulang, peletakkan beton cor, serta kontruksi baja castella, jembatan tersebut sengaja dirancang bagi para pejalan kaki. Memiliki lebar 1,5 meter, baik warga maupun pengunjung kedua kampung tersebut dipastikan merasa nyaman melaluinya meski harus saling berpapasan. “Jadi orang masih merasa longgar,” tambah Rina. Mulai dibangun pada April 2017 lalu, pengerjaan jembatan yang didesain oleh Aji Pangestu dan Khairul Ahmad, tim perancang jembatan dari Mahasiswa Teknik Sipil UMM tersebut rencananya akan selesai dalam dua bulan masa pengerjaan. “Peletakkan batu pertama sudah dilakukan. Rencananya dalam dua bulan pengerjaannya selesai,” tambah Rina. Lebih lanjut Rina menyampaikan, ide pembangunan jembatan gantung Kampung Jodipan-Kampung kesatrian muncul saat Kampung Jodipan terus mengalami perkembangan yang pesat. Melihat hal tersebut, Rekktor UMM, Fauzan berinisiatif untuk mengembangkan juga Kampung Kesatrian di seberang sungai. Untuk itu, Fauzan menugaskan tim untuk mendesain jembatan tersebut. “Awalnya ada tiga desain. Setelah presentasi ke Bapak Walikota Abah Anton, dipilih satu itu yang kemudian digunakan sampai sekarang,” tambah Rina. Setelah final memilih desain jembatan, selanjutnya penanganan pembangunan jembatan Jodipan-Kesatrian diserahkan pengerjaannya pada pihak pemerintah Kota Malang. Berbagai komunikasi dibangun, termasuk dengan Balai Besar Sungai Provinsi, dan Jasa Tirta. “Setelah berbagai proses itu izinnya keluar,” tutupnya. (sil/han)
Follow Up Mata Kuliah Penyutradaraan, Mahasiwa Pentaskan Drama
PROGRAM Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar pementasan drama sebagai tugas akhir mata kuliah Penyutradaraan selama sepekan, Ahad-Jumat (21-25/5) di area parkir depan lapangan basket. Ketua pelaksana kegiatan, Eko Andrianto Saputra mengatakan ada enam tema yang diangkat dalam pementasan drama ini. Keenamnya lalu ditelurkan dalam beberapa judul karya, di antaranya Dukun-dukunan, Barabah, Mega-mega, Pamit, dan Bila Malam Bertambah Malam. Karya ‘Pamit’ yang dipentaskan Rabu (24/5) salah satunya, ialah karya yang diambil dari naskah RT Nol RW Nol karya penyair legendaris Indonesia, Iwan Simatupang. Ada enam kelompok dari tiga kelas yang melakukan pementasan. Tiap kelompok terdiri dari 20 orang. Selain pementasan drama, pada Jumat (2/6) juga digelar Malang Penganugerahan untuk mengumumkan pemenang kategori aktor dan aktris terbaik, setting terbaik, ilustrasi terbaik, dan pemeran pendukung terbaik. Kesulitan yang paling berarti menurut Eko yakni tenaga dan pikiran, karena harus bekerja ekstra keras untuk menyusun properti dan pengaturan cahaya karena pementasan dilakukan di luar ruangan (outdoor). Tak hanya itu, panitia juga mesti pintar mencari cara agar suara terdengar padat dan jelas meski aktor dan aktris berperan tanpa menggunakan mikrofon. Meskipun begitu, menurut mahasiswa semester 6 ini, melalui pementasan drama ini, mahasiswa PBSI lebih mengenal secara lekat dengan teman yang berbeda kelas. “Kalau biasanya hanya sekedar mengenal, kali ini kita lebih memahami karakter masing-masing teman selama bekerja sama menyusun penyelenggaraan pementasan ini,” ujarnya. Meski digelar di area parkir dan duduk beralaskan karpet saja, tapi menonton tampak memadati area yang disediakan. Bahkan, tak cuma mahasiswa PBSI, penonton juga datang dari mahasiswa jurusan lain dan kalangan umum. (ich/han)