Ini Tiga Strategi UMM Perluas Kemitraan Internasional

  MERASAKAN atmosfer internasional adalah salah satu keunggulan menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain lantaran banyaknya mahasiswa asing dan event berskala internasional, mahasiswa UMM juga dimanjakan dengan banyaknya peluang beasiswa luar negeri dan prestasi internasional yang bisa diraih. Menurut Rektor UMM Fauzan, kuatnya nuansa internasional itu tak terjadi begitu saja. Ada proses panjang di balik itu, di antaranya yaitu ikhtiar memperkuat mutu akademik dan memperluas jejaring kerjasama. “Saat ini kita telah bekerjasama dengan lebih dari 130 institusi dan universitas dari 37 negara,” terangnya. Asisten Rektor Koordinator Bidang (Askorbid) Kerjasama Luar Negeri Soeparto menjelaskan, luasnya kemitraan itu karena UMM menerapkan tiga strategi internasionalisasi, yaitu waterfall strategy (strategi air terjun), wheel strategy (strategi melingkar), dan sprinkler strategy (strategi percikan). “Pada strategi air terjun, mitra pertama kami menghubungkan pada mitra kedua, lalu mitra kedua pada mitra ketiga dan seterusnya. Contohnya adalah kerjasama UMM dengan Auckland University of Technology (AUT) yang menghubungkan kami pada The Association of Southeast Asian Institutions of Higher Learning (ASAIHL), lalu dari ASAIHL kami bermitra dengan Chulalongkorn University,” papar Soeparto. Sedangkan strategi melingkar yaitu jejaring berbasis konsorsium, misalnya keterlibatan UMM dalam konsorsium Erasmus+ yang terdiri dari 54 universitas di 19 negara Asia dan Eropa serta konsorsium Australian Consortium for In-Country Indonesia Studies (ACICIS) yang beranggotakan 22 universitas ternama di Australia. Adapun strategi percikan yaitu penjajakan langsung yang dilakukan UMM pada institusi di luar negeri. Tak heran, kacakapan dalam mengelola jejaring ini membuat UMM seringkali dipercaya menjadi tuan rumah dalam sejumlah event internasional. Terakhir, pekan lalu (8-11/5), UMM dipercaya mengelola International Gathering mahasiwa program Darmasiswa RI yang diikuti 540 mahasiswa asing dari 78 negara. Sementara itu Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi menerangkan, mahasiswa UMM juga dapat memperluas pergaulan internasional melalui program-program kemitraan yang dibangun kampus ini. Misalnya setiap semester, lanjut Syamsul, mahasiswa UMM berkesempatan menjadi buddy atau partner bagi mahasiswa asing untuk melakukan proyek bersama. Sebagai contoh melalui program Learning Express (LEx) bermitra dengan Singapore Polytechnic dan Kanazawa Institute of Technology (KIT) Jepang. Para buddy terbaik selanjutnya dikirim ke Jepang dan Singapura untuk melanjutkan proyek di sana dengan beasiswa dari Tamasek Foundation. Selain itu mahasiswa juga dapat memanfaatkan kerjasama internasional UMM untuk studi singkat di luar negeri. Misalnya melalui kemitraan UMM dengan konsorsium Erasmus+, mahasiswa UMM dapat belajar selama enam bulan hingga satu tahun di salah satu kampus di Eropa. Kesempatan summer camp di China, kursus bahasa Mandarin dan beasiswa master dan doktor dari Confucius Institute juga bisa diperoleh mahasiswa UMM. Atmosfer internasional itu memotivasi mahasiswa UMM untuk berprestasi di kancah internasional. Seperti halnya yang baru saja diraih tim robot UMM yang berjaya di kontes robot internasional di Amerika Serikat dengan menjadi juara satu dan dua serta poster terbaik kategori robot berkaki, mengalahkan para finalis dari Kanada, Tiongkok, Israel, Portugal, Uni Emirat Arab, dan tuan rumah Amerika Serikat. (can/han)

UMM Juarai Kontes Robot Pemadam Api Tingkat Regional

SETELAH menjuarai kontes robot tingkat internasional di Amerika Serikat April lalu, kini Tim Robotika Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyabet juara dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) 2017 tingkat regional. Pada gelaran tahunan kali ini, Tim Robotika Dome UMM menjuarai pada kategori Kompetisi Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI). Hanya dalam waktu 14,79 detik robot bernama Dome UMM berhasil menyelesaikan misinya, yaitu memadamkan api yang ada di area lomba. Bertempat di Universitas Brawijaya, UMM melawan 34 universitas dari wilayah Jawa Timur, Bali dan Papua. Pada kategori KRPAI, robot memiliki misi untuk mencari dan memadamkan api lilin secara otomatis tanpa dikendalikan oleh manusia di area lapangan. Area yang menjadi lapangan tanding berbentuk simulasi interior suatu rumah, sedangkan peletakan lilin dan garis mulai robot ditentukan oleh juri saat itu juga. “Robot milik tim Dome UMM memiliki kecepatan yang sangat cepat, sehingga kami bis amemadamkan api dengan akurat,” jelas Khusnul Hidayat, dosen pembimbing Tim Dome UMM. Pada perlombaan yang dihelat 6 Mei 2017 itu, Tim Dome UMM diwakili oleh 4 mahasiswa yaitu Imam Hanafi, Abdul Syukron, Alfan Ahmadillah Fauzi, dan Rokhmansyah. Keempatnya merupakan mahasiswa program studi (prodi) Teknik Elektro, Fakultas Teknik (FT) UMM. Menurut Khusnul, robot tersebut juga menggunakan sensor flame UVTRON-R9454 yang sangat baik mendeteksi api dan cahaya. Khusnul menjelaskan, sensor ini hanya menangkap cahaya Ultra Violet (UV) dengan jangkau spectrum 185 milimeter sampai 260 milimeter. Jangkauan tersebut hanya dimiliki oleh gas api, artinya robot itu tidak akan salah mendeteksi api lilin. Kecepatan yang dimiliki itu, Robot Dome UMM dapat mengalahkan berbagai universitas di kategorinya. “Bahkan kami mencetak waktu 12 detik pada sesi pertama untuk memadamkan api,” ungkapnya. Pada robot yang dirancang oleh Tim Robotika UMM itu, Robot Dome UMM dilengkapi dengan 8 sensor ultrasonic dan dua sensor infra merah sebagai sensor jarak jauh. Dengan banyaknya sensor yang dimiliki tim robotika UMM sangat mudah mengetahui dengan tepat posisi lilin. Berhasilnya UMM meraih juara 1 tingkat regional, maka tim robotika UMM akan meneruskannya pada tingkat nasional. Kompetensi tingkat regional yang telah dilalui memberikan banyak evaluasi yang akan diperbaiki oleh tim kedepannya. 8 Juli 2017 mendatang, Tim Dome UMM akan bertanding melawan universitas se-Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. “Kami mempelajari seluruh kelebihan dari tim lainnya untuk menjadi evaluasi dan perbaikan untuk maju dalam tingkat nasional mendatang,” pungkas Khusnul. (jal/han)

PUSAM UMM Ajak Mahasiswa Viralkan Pesan Perdamaian di Media Sosial

AKHIR-akhir ini, media sosial ramai cuitan-cuitan berorientasi kebencian. Media sosial dipakai sebagai alat propaganda politik demi menjatuhkan individu atau kelompok lain. Merespon fenomena ini, Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) UMM menggelar seminar bertajuk “Urgensi Narasi Perdamaian di Tengah Masyarakat Multikultural”, Selasa (23/5) di auditorium hotel UMM Inn. Tema seminar tersebut dipilih selaras dengan tujuannya, yakni untuk membangun wawasan para pemuda sebagai pengguna aktif media sosial agar memenuhi media sosial dengan pesan perdamaian dan kebaikan, bukan sebaliknya. Hal ini disampaikan staff program PUSAM, Nafi’ Muthohirin, MA Hum. Disampaikan Nafi’, tulisan-tulisan yang banyak beredar di berbagai media sosial akhir-akhir ini bukan tiba-tiba ada. Tulisan-tulisan tersebut sengaja dibuat oleh kelompok terorganisir dan memiliki tendensi tertentu. Fenomena ini tak hanya merebak sejak Pilkada DKI beberapa bulan lalu, tapi bahkan sudah dimulai pada Pilpres 2014 lalu. Mewaspadai hal ini, Nafi’ berpesan pada mahasiswa, utamanya aktivis dan jurnalis. Pasalnya, di kota-kota besar, banyak organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga survey yang merekrut dan mempekerjakan wartawan sebagai  ghost writer yang memproduksi tulisan-tulisan meyakinkan padahal bodong yang lalu banyak berkembang di masyarakat. “Tulisan-tulisan inilah yang kemudian mempersepsi masyarakat untuk membenci individu atau kelompok tertentu dengan tujuan politis. Ini bukan tulisan natural semacam opini yang kita tulis di akun pribadi, melainkan sengaja dibuat,” urai Nafi’. Oleh karenanya, Nafi’ yang juga dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM ini menilai intoleransi yang di dunia nyata terwujud melalui kekerasan fisik, di media sosial termanifestasi dalam intoleransi verbal. Hal ini lebih berbahaya karena mendoktrin cara berpikir seseorang. Hadir sebagai pemateri dalam seminar ini adalah Direktur HAM dan Pengembangan Asia Foundation, Budhy Munawar Rachman, direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Paramadina Jakarta Ihsan Ali Fauzi, dan dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Dr Vina Salviana MSi. Dalam paparannya, Ihsan Ali menyatakan bahwa rekonsiliasi di Indonesia seringkali gagal dilakukan. Kemampuan masyarakat Indonesia untuk memaafkan dan melupakan kesalahan dinilai rendah. “Tema narasi perdamaian berasal dari prinsip Islam yang mengandung nilai-nilai perdamaian. Banyak kosakata dalam Al-Quran yang menyinggung tentang perdamaian, misalnya pemilihan kata kebaikan, perdamaian, dan keamanan. Pula tradisi Islam klasik yakni sejarah nabi, sahabat, dan para tabi’in yang dijadikan teladan dalam berperilaku damai. Hate speech di media sosial menjadi satu kasus yang harus diperhatikan, tapi kasus lain seperti di Poso dan kekerasan fisik bisa didamaikan melalui prinsip-prinsip perdamaian menurut Islam,” beber Ihsan Ali. Selain itu, Budhy Munawar berpesan sebagai pembaca, masyarakat harus cerdas memverifikasi tulisan yang beredar di media sosial. Masyarakat cerdas tak mudah dipengaruhi artikel bohong. Nilai melalui judul, terlihat memojokkan atau mempunyai tendensi tertentu, atau tidak,” jelasnya. Pun, sebagai pemuda, mahasiswa mesti kritis terhadap apa yang muncul di media sosial. Prinsip damai bisa dipelajari dalam rangka menegoisasikan sebuah konflik. Penuhi media sosial dengan pesan perdamaian dan kebaikan. Seminar ini diikuti oleh 60 peserta dari berbagai kampus di Jawa Timur,termasuk penerima beasiswa HAM dari PUSAM. (ich/han)

Kembali Jadi Yang Terunggul, UMM Dipercaya Jadi Kampus Asuh

KEBERHASILAN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Anugerah Kampus Unggulan (AKU) yang kesepuluh kalinya membuat kampus ini mendapat kepercayaan dari Direktorat Penjaminan Mutu Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset dan Tekhnologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk menjadi Perguruan Tinggi (PT) Asuh. Bersama 26 PT se-Indonesia, UMM menjadi kampus asuh bagi universitas yang masih belum terakreditasi A. Dengan begitu, UMM menjadi perpanjangan tangan dari Kemenristek Dikti untuk ikut membantu memperbaiki mutu dan kualitas PT di Indonesia. Kepala Badan Pengelola dan Pengendali Akreditasi (BPPA), Dr Ainur Rofieq MKes menyatakan, sebelumnya UMM diberi kesempatan mengajukan proposal yang menyatakan bahwa UMM siap menjadi PT Asuh bagi universitas yang berada pada klaster dua dan tiga. Berdasarkan arahan Belmawa, UMM memilih dua universitas yang akan dibimbing agar mendapatkan akreditasi lebih baik. “Kami memilih Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dan Universitas Ronggolawe Tuban (UNIRO) untuk menjadi kampus yang akan diasuh,” jelasnya. Sebanyak 22 program studi (prodi) yang berada di dua universitas tersebut akan diasuh untuk dinaikkan tingkat akreditasinya. Semua yang dibimbing, lanjut Ainur, adalah prodi yang masih memiliki akreditasi C. Ada tiga aspek yang menjadi titik tekan yaitu sistem penjaminan mutu internal, tata kelola dan tata pamong, serta manajemen pengelolaan akreditasi prodi dan institusi. Selama enam bulan terhitung Juni hingga November 2017, UMM akan mengadakan kegiatan yang mendorong meningkatnya mutu dan kualitas 22 prodi di UMSIDA dan UNIRO. Bekerjasama dengan delapan satuan penjaminan mutu UMM, BPPA akan menggelar workshop, pendampingan serta pelatihan dalam mengurus akreditasi. Lebih dari itu, UMM akan memfasilitasi dalam bentuk magang yang akan dijalani dua PT tersebut. “Magangnya nanti akan ditempatkan di beberapa prodi UMM yang terakreditasi A selama sepekan. Tujuannya agar dua kampus itu mempelajari secara mendetail tentang sistem akreditasi,” ungkap Ainur. Hal yang paling penting dalam proses kampus asuh ini adalah terbangunnya sistem penjaminan mutu di PT tersebut. Menurut Ainur, penjaminan mutu harus terbangun di institusinya maupun prodinya. Dengan begitu, maka akan terbangun budaya penjaminan mutu yang sistematis. Bukan tanpa alasan UMM ditunjuk Kemenristek Dikti untuk mengurus PT lain. Ainur menjelaskan, selain UMM secara institusi telah terakreditasi A, UMM merupakan salah satu PT yang sudah memiliki kredibilitas dalam menerapkan tiga aspek di atas. Selain itu, dengan menjadi kampus asuh, UMM juga diuntungkan. Diantaranya UMM mendapatkan pengakuan dari Kemenristek Dikti terkait mutu institusi. Selain itu, dengan menjadi kampus asuh, UMM secara tidak langsung memperkenalkan sistem dan mutunya kepada universitas se-Indonesia. “Kita memperkenalkan ke khalayak bahwa UMM memiliki akreditasi dan mutu yang sangat baik, sehingga Kemenristek Dikti memberikan kepercayaannya untuk menbimbing kampus lainnya,” pungkasnya. (jal/han)

UMM Gelar Expo Mahasiswa Perikanan se-Indonesia

PROGRAM studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jadi tuan rumah rangkaian Expo Perikanan Mahasiswa Nasional (Expimnas) 2017 yang digelar selama dua hari, Senin- Selasa (22-23/5). Kegiatan yang digelar di Auditorium UMM ini diikuti 120 mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia dari berbagai universitas se-Indonesia. Ketua pelaksana kegiatan, Fidi A. Rusda Hafidi menyatakan, kegiatan utama Expimnas yakni expo perikanan yang dihelat di Helipad. Namun, tak hanya pameran produk, kegiatan juga dibarengi dengan seminar dan diskusi nasional serta workshop. Senin (22/5), seminar dan diskusi nasional mengambil tema “Terlena, Potensi Negara Kepulauan” menghadirkan empat pakar perikanan. Ialah dosen Perikanan UMM, Dr Ir David Hermawan, pakar budidaya perikanan yang juga eks staff ahli Kementerian Kelautan dan Perikanan Dr Ir Maheno Sri Widodo, Divisi Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Rusdianto, dan ketua umum Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Jawa Timur, Ir Sudarlin. Berbagai hal tentang perikanan dibahas dalam seminar dan diskusi nasional ini. Utamanya mengenai isu yang sedang ramai diperbincangkan, yakni larangan menggunakan cantrang dan rumpon sebagai alat tangkap ikan. Sementara, keduanya menjadi alat utama yang digunakan nelayan di pantai utara dan pantai selatan. David selaku pemateri pertama mengungkapkan cantrang dan rumpon tak menjadi penyebab kerusakan ekosistem seperti yang banyak digaungkan akhir-akhir ini. Cantrang dan rumpon sebatas menjadi shelter alias rumah singgah bagi ikan lintas samudera. Di hari kedua, Selasa (23/5), delegasi dari masing-masing kampus diajak untuk mengikutiworkshop. Ada tiga jenis workshop yang diadakan, yakni workshop aquascape atau seni menanam tanaman dalam air yang akan dipandu oleh komunitas aquascape Malang danworkshop budidaya kakap putih oleh Balai Perikanan Situbondo. Peserta juga terjun langsung membuat bionatural dan pembuatan tambak. Di helipad, sebanyak 35 stan yang terdiri dari mahasiswa dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memamerkan produknya, baik produk pengolahan ikan maupun teknologi terkait perikanan. Dalam hal ini, Himapikani bekerja sama dengan UMKM di kota dan kabupaten Malang. Sebelumnya, lomba esai diadakan sebagai rangkaian Expimnas 2017. Lomba esai dimulai sejak 1 Februari hingga 1 Mei. 3 pemenang dan 1 juara harapan akan diumumkan pada puncak kegiatan. Sekjen Himapikani yang juga mahasiswa UMM, Afan Arfandia mengungkapkan, mahasiswa perikanan mesti tahu dan peka akan isu-isu yang merebak di dunia perikanan. Ia berharap, Expimnas tak hanya jadi ajang kumpul-kumpul, tapi juga media diskusi dan transformasi ilmu. (ich/han)

UMM Buka Pendaftaran Program Profesi Insinyu

MULAI September 2017 ini, UMM secara resmi akan membuka pendaftaran Program Profesi Insinyur. Hal itu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (SK Menristekdikti) Nomor 200/KPT/I/2017. Kewenangan membuka program studi tersebut diatur dalam amanat Undang-Undang (UU) No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsiyuran juga sekaligus untuk memenuhi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Dekan Fakultas Teknik (FT) UMM, Ir Sudarman MT menerangkan, syarat untuk membuka program tersebut setidaknya UMM harus memiliki enam tenaga kependidikan yang terkualifikasi sebagai Insinyur Profesional Madya yang diperoleh dari Persatuan Insinyur Indonesia (PPI). Saat ini, UMM telah memiliki sembilan Insinyur Profesional Madya. Pemilihan UMM sebagai salah satu penerima mandat untuk membuka program profesi didasarkan beberapa kriteria, seperti sudah terakreditasi A atau B, memiliki Fakultas Teknik, Pertanian, atau Matematika dan IPA (MIPA). “Dari hasil seleksi Kementerian itulah, didapatkan 40 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang ditunjuk mengawali pembukaan program profesi ini,” ujarnya. Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kemenristek DiktiDrIrPatdono SuwignjoMEngScdalam surat penugasan penyelenggaraan Program Profesi Insinyur kepada UMM mengatakan, pertimbangan memilih UMM karena kemampuan dan pengetahuan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berkualitas. “Pembukaan program ini untuk menyiapkan sumberdaya manusia yang memiliki pengetahuan yang mencukupi dalam bidang pendidikan tinggi profesi insinyur,” tulisnya. Yang bisa mengikuti program profesi ini, bisa dari lulusan sarjana teknik, pertanian, sains terapan, maupun para pekerja yang berprofesi di bidang keinsinyuran. Tiap kampus hanya diberi jatah 100 mahasiswa saja tiap angkatan. Sementara, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi mengungkapkan kesyukurannya karena dalam satu tahun ini UMM mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk membuka dua program studi profesi sekaligus, sebelumnya UMM telah membuka Program Profesi Ners. “Dengan pendidikan keprofesian ini mereka akan semakin kompenten. Dengan kompetensi yang makin meningkat, maka diharapkan semakin mudah diakui dalam dunia kerja karena dianggap profesional di bidangnya,” terangnya. Dengan demikian, UMM telah memiliki 57 program studi. Mulai dari diploma 3, Strata 1, 2 dan 3 serta pendidikan profesi. Ke depan, imbuh Syamsul, UMM bakal menambah program studi pendidikan profesi untuk ilmu eksak. Pembukaan Program Profesi Insinyur di UMM ini melengkapi program-program profesi lain yang berdiri sebelumnya, seperti Profesi Psikolog, Profesi Dokter, Profesi Perawat, Profesi Akuntan,dan Profesi Apoteker.“Dengan dibukanya sejumlah prodi keprofesian ini, diharapkan ke depan UMM dapat menjadi center of excellent,” tukas Syamsul. (can/han)

Arlinda Silva Prameswari, Ubah Virus Jadi Media Terapi Kanker

SELAMA ini manusia mengenal virus sebagai embrio penyebab penyakit. Namun, apa jadinya bila virus malah berubah fungsi menjadi media terapi penyakit kanker? Itulah yang sedang dikerjakan Arlinda Silva Prameswari, mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UMM yang baru saja meraih Juara I Mahasiswa Berprestasi Tingkat Kopertis VII Jawa Timur. Virus yang sedang dimodifikasi Arlinda bernama Adenovirus serotype 5 (Ad5), yakni salah satu virus yang berperan terhadap lima hingga sepuluh persen infeksi saluran napas pada anak-anak dan orang tua, juga infeksi saluran kencing. Untuk mengubah virus Ad5 menjadi media terapi, ada tiga tahapan yang harus dilakukan Arlinda. Pertama, ia harus melakukan penghapusan gen. Pada virus, ada beberapa gen yang berfungsi sebagai senjata bagi virus. “Agar virus bisa dipakai untuk terapi, maka senjatanya harus dihilangkan, yaitu dihapus gennya,” ujar Arlinda menganalogikan. Kedua, Arlinda mengubah susunan genetik asam basa. Pada kanker prostat, Ad5 tak bisa bereplikasi secara selektif karena jumlah reseptornya rendah. Padahal, cara virus masuk ke sel tubuh ialah melalui reseptor tersebut. Pada literatur yang dikajinya, ada reseptor yang meningkat jika kankernya parah. Untuk itu, Arlinda perlu mengubah susunan asam basanya. Tahapan ketiga yakni enkapsulasi. Virus yang telah dimodifikasi akan dikapsul menggunakan polimer posphoethylen glycol (PEG). Virus merupakan suatu agen infeksius, oleh karenanya akan secara cepat dieliminasi dari sistem tubuh oleh imun. Untuk itu, enkapsulasi pada virus bertujuan untuk memperpanjang proses terapi yang dilakukan virus di dalam sel menjadi lebih lama karena akan mengelabui sistem imun tubuh. Sementara itu, cara yang dilakukan untuk memasukkan virus ke dalam tubuh yakni melalui injeksi yakni disuntik lewat arteri. Sejauh ini, pengobatan kanker kerap menggunakan kemoterapi. Kelemahannya, kemoterapi akan menyerang sel sehat dan sel kanker. Sebaliknya, kelebihan menggunakan Ad5, ketika ia disuntikkan ke dalam tubuh, ia hanya menyerang sel kanker saja. Mahasiswa asal Lamongan ini mengaku memulai risetnya sejak November 2016 dan menggunakan hingga 70 jurnal internasional dan nasional sebagai referensinya. Ada berbagai tahapan yang harus dilaluinya hingga meraih juara pertama mahasiswa berprestasi di Jawa Timur dan siap melaju ke tingkat nasional. Mahasiswa yang juga menjadi chief of editor pada Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia (JIMKI) ini mesti berlomba dengan 45 peserta dari berbagai kampus hingga tersisa 10 besar. Seleksi tersebut antara lain seleksi administrasi, presentasi hasil riset, klarifikasi piagam penghargaan, kemampuan menulis dan berbicara dalam Bahasa Inggris, hingga wawancara kepribadian. Tak heran jika predikat mahasiswa berprestasi se-Jawa Timur diraihnya. Di samping kuliah, mahasiswa semester 6 ini juga aktif sebagai pengurus harian Badan Analisis dan Penalaran Ilmiah Nasional (BAPIN) di bawah Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) sebagai reviewer pada JIMKI sebelum diteruskan ke reviewer dokter spesialis. Di FK, mahasiswa yang bercita-cita menjadi dokter spesialis jantung ini juga bergelut di bidang jurnalistik dan aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). (ich/han)

Syuna Salimdra, Lulus Kedokteran UMM di Usia 18 Tahun

MISI mulia Syuna Salimdra untuk bermanfaat bagi masyarakat melapangkan jalannya untuk menjadi dokter muda di usia yang sangat belia, yaitu 18 tahun. Pada prosesi wisuda yang berlangsung di UMM hari ini (20/5), Syuna yang lahir pada 8 Mei 1999 ini dikukuhkan sebagai dokter muda. Proses akademiknya berlangsung cepat karena ia mengikuti kelas akselerasi dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Kemantapannya memilih Fakultas Kedokteran (FK) sudah ia tetapkan sejak duduk di bangku SMA. Bagi Syuna, dokter merupakan pekerjaan sangat mulia karena bisa menolong banyak orang. “Saya melihat dokter dapat menyelamatkan hidup banyak orang, dari situ kemudian ketertarikan saya dimulai,” ungkapnya. Ketika SMA, Syuna mengaku tak ada metode khusus dalam belajar, selain rajin dan tekun. Ketika memasuki perguruan tinggi, tempo belajarnya ia sesuaikan. Selama lima semester, Syuna dipercaya untuk menjadi asisten dosen di laboratorium skill FK UMM. “Saya jadi asisten dosen mulai semester tiga sampai semester tujuh. Ternyata mengajar enak juga, apa yang diajar bisa lebih mudah diingat,” ujar pria yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anastesi ini. Syuna membuat tugas akhir dengan mengangkat fenomena penjual makanan yang menggunakan minyak jelantah untuk menggoreng. Dengan mengangkat judul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Pepaya Terhadap Perbaikan Histopatologi Sel Hepar Tikus Putih Yang Diinduksi Minyak Jelantah”, Syuna mencoba meneliti kerusakan hati yang disebabkan konsumsi makanan yang digoreng dengan minyak jelantah. Dalam risetnya, Syuna membagi tikus putih dalam dua kelompok. Yang pertama diberi minyak jelantah saja, sedangkan kelompok kedua diberi minyak jelantah dan ekstrak daun pepaya. Hasilnya mengejutkan, ekstrak daun pepaya memang bisa tapi belum terlalu efektif. “Observasinya selama dua minggu, lalu saya bedah, kemudian diambil hatinya lalu diperiksa secara mikroskopik, baru dilihat perbedaan pada sel hatinya. Kelompok mana yang selnya lebih normal dan mana yg lebih rusak,” cerita putra dari pasangan Buntoro Salimdra dan Marzuqoh tersebut. Pria yang aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK UMM ini menjelaskan, penelitiannya ini bisa dimanfaatkan untuk manusia. Menurutnya, hati tikus memiliki kerja yang sama dengan hati manusia. Sehingga, jika konsumsi minyak jelantah secara terus menerus dapat merusak hati tikus, maka juga dapat merusak hati manusia. “Jika ekstrak daun pepaya dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada hati tikus maka demikian halnya pada hati manusia,” jelas Syuna.

Menkominfo Rudiantara Ajak Mahasiswa UMM Wujudkan Indonesia sebagai Macan Asia

BERKACA dari pengalaman berbagai krisis dan kebangkitan ekonomi yang pernah dialami Indonesia, kualitas sumber daya manusia selalu menjadi benteng terkuat untuk menahan krisis yang lebih parah. Akan menjadi apa bangsa kita pada tahun 2030 atau 2050, tergantung kepada apa yang kita semaikan hari ini dan kemarin. “Satu rupiah bahkan triliunan dolar yang kita kumpulkan pada tahun 2030 atau 2050, adalah tuaian dari satu rupiah yang kita tanamkan hari ini. Satu rupiah yang telah dijejalkan para orang tua ke dalam saku para wisudawan-wisudawati yang diterima pada masa-masa kuliah adalah investasi yang akan dipanen bangsa ini di masa yang akan datang,” ungkap Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia dalam gelaran wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-84 di Hall UMM Dome, Sabtu (20/1). Sekitar tahun 1990, imbuh Rudi, Indonesia digadang menjadi ‘Macan Asia’. Bahkan Indonesia sempat disejajarkan dengan ‘macan-macan’ lain seperti Hongkong, Korea Selatan, Singapura, Taiwan dan lainnya. Idiom semacam ini digunakan untuk menggambarkan negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi yang didorong oleh keberhasilan industrialisasinya. “Sayangnya, krisis keuangan pada tahun 1997 meredupkan sementara mimpi kita untuk menjadi ‘Macan’.  Bahkan pada periode ini, kita justru harus berjuang mengatasi krisis yang merembet ke ranah yang sifatnya multidimensi,” ujar Rudiantara yang pada kesempatan tersebut dikukuhkan sebagai keluarga kehormatan UMM. Namun demikian, lanjut Rudiantara, dongeng tentang prospek ekonomi Indonesia yang sangat potensial untuk menjadi ‘macan’ di kawasan Asia, tidak pernah musnah sama sekali. Meski dampak dari krisis itu masih tetap bisa dirasakan hingga saat ini, Rudianto mengajak para hadirin untuk terus membangun optimisme, bahwa Indonesia akan meraih mimpinya sebagai ‘Macan’ di kawasan Asia. “Saatnya kita menatap ke depan, ke arah cakrawala yang lebih cerah. Tak ada alasan untuk berkeluh kesah, karena tak kurang publikasi dan penelitian tentang ekonomi global yang dilakukan lembaga-lembaga peneliti dan konsultan ekonomi internasional yang menyebut betapa besarnya potensi ekonomi kita dalam konteks ekonomi dunia,” paparnya. Sebuah proyeksi dari penelitian yang dirilis pada Februari 2017 menyebutkan, pada tahun 2030, Indonesia akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar ke-9 di dunia berdasarkan Gross Domestic Product (GDP) atau Market Exchange Rate-nya. “Pada tahun 2030 ekonomi Indonesia nilainya sekitar 2,4 triliun dolar Amerika, yang pada tahun 2016 lalu nilainya adalah hampir 1 triliun dolar Amerika, 950 Miliar kurang lebih. Di tahun 2030 nanti, nilainya akan meningkat menjadi 2,5 kali lipat,” tukasnya. Sementara itu, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang juga ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof Abdul Malik Fadjar MSc yang turut memberikan amanat  dalam wisuda mendorong, momen wisuda yang bertepatan dengan peringatan Kebangkitan Nasional, UMM diharapkan menjadi garda depan menjaga nasionalisme Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Dipundak anda lah nantinya, kelangsungan, kelestarian dan kesejahteraan bangsa ini,” tandasnya. Gelaran yang mengukuhkan 1255 wisudawan dari program diploma, sarjana, dan pascasarjana ini sekaligus dilakukan penyerahan Piala Anugerah Kampus Unggulan (AKU) dan Kartika oleh Prof Dr Suprapto Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Surabaya kepada Rektor UMM. Juga, penganugerahan Kepala Sekolah SMU/SMA/MA wisudawan terbaik dan pemberian beasiswa kepada mahasiswa tim robot UMM sebagai juara dalam ajang The 2017 Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. (can/han)

Maksidaya UMM Angkat Eksotisme Budaya Indonesia Timur

BUDAYA Indonesia Timur eksotis dan beragam. Namun, belum semua budaya itu terekspos apik dan mendapat perhatian penuh. Hal ini mendasari Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang (LK UMM) melalui Malam Ekspresi Seni dan Budaya (Maksidaya) memilih tema Indonesia Timur untuk penampilan-penampilan yang disajikan di atas panggung (19/5). Digelar di helipad UMM, beberapa penampilan yang dipentaskan yakni Tari Soya-soya Sisi yang dibawakan 6 mahasiswa dari Organisasi  Daerah (orda) Ternate Maluku Utara. Tari Soya-soya Sisi menceritakan tentang perang di Ternate pada zaman penjajahan. Ada salah satu gerakan yang menyimbolkan masyarakat yang tengah mengangkat mayat korban perang dan mengusir penjajah. Tak hanya tarian, Orda Ternate Maluku Utara juga menyuguhkan kuliner khas Ternate, yaitu kue pelita. Sebutan kue pelita mengandung kisah sejarah bagi Ternate. Kue yang terbuat dari terigu, santan,  dan gula merah dan dicetak di atas daun pisang berbentuk mangkuk kecil ini hadir sejak zaman lampu (pelita) belum masuk di Ternate. “Daun berbentuk mangkuk lonjong ini biasanya dipakai sebagai alas lilin yang jadi alat penerang atau pelita utama penduduk Ternate saat itu,” terang Fistiqlal, mahasiswa asal Ternate yang tengah magang di FPP UMM. Selain Orda Ternate, ada juga Orda Mataram yang menampilkan tarian Gandrung, perkusi, dan aksi presean. Mereka juga menyuguhkan kuliner dan benda-benda khas Lombok seperti nasi puyung, tas tenun, serta kain songket. Sementara itu, Orda Ikatan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (Ikami Sulsel) membawakan tarian Mapapenda dan menyediakan es pisang ijo sebagai kuliner khas Sulses. Orda lain yakni dari Sumbawa yang membawakan tarian Samalewa. Asisten rektor bidang akademik, Dr Budi Suprapto MSi menyatakan, Maksidaya yang merupakan program rutin Lembaga Kebudayaan (LK) UMM yang sangat bagus bila terus dikembangkan. Pasalnya, menurut Budi, LK menjadi salah satu lembaga di UMM yang paling produktif. Salah satu bentuk produktivitasnya adalah pagelaran kebudayan semisal Maksidaya. Ke depan, Budi berharap selain pagelaran budaya, LK mulai menginventarisasi nilai budaya, minimal yang berkembang di Malang Raya. “Contohnya bahasa walikan. Sepengetahuan saya, belum ada yang mengkaji bahasa khas Malang ini secara ilmiah, baik dimensi historis maupun sosial budaya. Kalau LK bisa mengkaji tentang bahasa walikan ini, akan memberi konstribusi menyejarah bagi masyarakat Malang,” harapnya Budi. Tak hanya itu, Budi juga berharap LK mampu mendokumentasikan beragam budaya dengan lebih baik. “Sehingga UMM bisa menjadi database kebudayaan di Jawa Timur,” imbuhnya. Pada gelaran Maksidaya kali ini, LK bekerja sama dengan kelompok praktikum Public Relation “Palace” prodi Ilmu Komunikasi UMM. Rijal Choirudin, ketua pelaksana sekaligus anggota kelompok praktikum menyatakan tiap-tiap Orda akan mendapatkan kompensasi berupa plakat. Hal ini merupakan apresiasi dari panitia akan generasi muda yang masih peduli dengan budaya daerah. “Budaya itu identitas suatu bangsa. Percuma mengaku mahasiswa sebagai agen perubahan kalau tidak menciptakan aksi untuk perubahan bagi bangsanya sendiri,” tegas mahasiswa semester 6 itu. Selain penampilan Orda, UKM Fotografi Focus UMM juga memamerkan hasil jepretan anggotanya tentang makanan tradisional. Berbagai stan makanan tradisional juga berjajar di area helipad. Pagelaran yang diadakan malam menjelang wisuda ini dapat menjadi salah satu alternatif hiburan bagi orang tua mahasiswa yang akan menghadiri wisuda pada Sabtu (20/5) hari ini. (ich/han)