Alhamdu Ramadhan, Wisudawan Terbaik yang Jago Debat Bahasa Inggris

TAK hanya pandai di kelas, tapi juga langganan juara kompetisi debat Bahasa Inggris. Itulah Alhamdu Ramadhan, wisudawan terbaik UMM pada gelaran wisuda periode II tahun 2017 yang berlangsung hari ini (16/5). Alhamdu adalah lulusan prodi Hubungan Internasional (HI) yang meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99. Andu, demikian ia akrab disapa, mengaku selama kuliah akrab dengan IP sempurna, 4,00. “Alhamdulillah hanya semester satu yang IP tidak sempurna, selebihnya 4,00,” ujarnya. Selama kuliah, Andu sempat menjabat sebagai wakil ketua periode 2014-2015. Melalui ILF pula, Andu mendulang banyak prestasi. Di antaranya, juara satu lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional di UIN Malang, juara dua kompetisi debat terbuka tingkat regional, dan juara tiga debat bahasa Inggris pada event yang digelar Angkatan Laut. Andu juga pernah menjadi pembicara terbaik pada East Java Varsities English Debate dan belum lama ini Andu mengikuti kompetisi debat internasional pada Malaysia Debate Open. Di bidang akademik, Andu menjadi lima besar mahasiswa berprestasi di UMM tahun 2016. Mahasiswa asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengaku tak punya tips tertentu untuk jadi wisudawan terbaik. Bahkan, Andu tak pernah menargetkan IPK sempurna tiap semesternya. “Saya hanya selalu membaca materi sebelum masuk kelas. Minimal 30 menit sebelum masuk kelas, saya membaca,” tuturnya. Andu lebih memilih memaksimalkan pembelajaran di kelas dengan dosen dan bertanya bila ada yang belum dipahami, ketimbang harus bekerja keras menjelang ujian. “Kerjakan semua tugas, jangan bolos, dan yang terpenting adalah jaga komunikasi dengan dosen,” katanya. Akhir-akhir  ini, mahasiswa yang mengangkat “Transpacific Partnership Agreement di Selandia Baru” sebagai tema skripsinya ini lebih banyak menjalani hari dengan membimbing adik tingkatnya di ILF untuk persiapan lomba debat serta menjadi juri pada event-event lomba debat Bahasa Inggris di Malang. Ke depan, Andu bermimpi melanjutkan pendidikannya di Selandia Baru. “Secara politik, Selandia Baru relatif stabil. Saya juga ingin melanjutkan apa yang jadi penelitian skripsi saya tentang Selandia Baru,” harapnya. (ich/han)

Menkominfo Rudiantara Hadiri Wisuda UMM

SEBANYAK 1255 lulusan UMM, hari ini (20/5) dikukuhkan dalam gelaran Wisuda ke-84 di UMM Dome. Wisuda kali ini merupakan periode kedua dari empat periode wisuda yang diselenggarakan UMM di tiap tahunnya. Mereka yang dikukuhkan adalah lulusan dari Diploma 3, Sarjana Strata 1 dan Sarjana Strata 2. Meneruskan tradisi sebelumnya, UMM kembali menghadirkan tokoh nasional dalam setiap gelaran wisuda maupun perhelatan penting lainnya. Adalah Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara yang hadir memberi orasi selama satu jam pada para wisudawan beserta undangan. Kehadiran Menkominfo sekaligus meninjau fasilitas laboratorium terkait yang dimiliki UMM, di antaranya yaitu Laboratorium Ilmu Komunikasi (Lab Ikom) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Laboratorium Teknik Informatika (Lab TI) di Fakultas Teknik (FT). Secara keseluruhan,UMM memiliki 42 laboratorium yang terdiri dari 25 laboratorium eksakta dan 17 laboratorium sosial. Seperti dijelaskan Kepala Lab Ikom UMM, Jamroji, di laboratorium ini, selain keunggulan dalam hal ketersediaan alat-alat teknologi komunikasi yang mumpuni, desain praktikum bagi mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi dirancang berbeda dengan praktikum pada umumnya. “Kalau yang lain praktikumnya baru sebatas simulasi, kita praktikumnya real case dan real client di luar kampus. Mahasiswa diterjunkan langsung ke lapangan untuk menyelesaikan persoalan klien dengan aktivitas-aktvitas yang real juga,” terangnya. Konsep inilah yang kemudian ia sebut dengan link and match. “Diharapkan setelah mahasiswa lulus dan terjun di dunia kerja, mahasiswa sudah tidak perlu penyesuaian dan adaptasi lagi karena telah ditunjang desain praktikum dan ketersediaan alat yang baik di sini,” tukasnya. Sementara itu, di tengah maraknya virus Malware Ransomware, salah satu upaya yang diwujudkan Lab TI UMM yaitu kerjasama dengan organisasi nirlaba internasional Indonesia Honeynet Project (IPH). “Laboratorium ini melalui sokongan IPH mengembangkan security resource bernama Honeypot yang sengaja dibuat untuk diselidiki, diserang, atau dikompromikan dari upaya peretasan oleh hacker  terhadap sistem informasi,” kata kepala Lab TI UMM Eko Budi Cahyono. (can/han)

Perkuat Citra Kampus Wisata, UMM Kini Punya Duta Wisata

SETELAH melalui tahap karantina pada 13 Mei lalu, akhirnya terpilih dua orang Duta Wisata Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2017 pada perhelatan Grand Final, Kamis malam (18/5). Nadya Rifta mahasiswa Ilmu Komunikasi 2016 dan Nata Renaldi, Ilmu Komunikasi 2015 dinyatakan keluar sebagai pemenang dalam ajang menguji kompetensi serta wawasan terhadap budaya dan pariwisata itu. Sementara, Adeana Disty mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional 2015 dan Arif Pangestu, mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan angkatan 2016 dinyatakan sebagai Runer Up. Gelaran yang diselenggarakan di Aula Bugenville Taman Rekreasi Sengkaling UMM ini sekaligus menandai diluncurkannya agenda tahunan baru Lembaga Kebudayaan (LK) itu. Sebelumnya, sepuluh finalis yang terdiri dari mahasiswa UMM berbagai daerah di tanah air ini tampil di hadapan penonton dan dewan juri. Penjurian meliputi aspek karakter, public speaking dan wawasan wisata UMM dan ditambah oleh pertunjukan talenta dari masing-masing finalis. Pemilihan Duta Wisata UMM 2017 dilakukan dalam 3 tahap. Yang pertama adalah tahap karantina yang telah dilaksanakan pada tanggal 13 Mei 2017. Dalam tahap karantina, calon finalis diberikan 3 materi yaitu: character building, public speaking & rhetoric, serta wawasan wisata UMM. Kepala Lembaga Kebudayaan UMM, Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. menerangkan, kedua pasang pemenang akan menjadi wakil UMM untuk mengenalkan budaya dan cinta pariwisata Indonesia khususnya yang terdapat di UMM. “Selain itu, mereka yang terpilih secara otomatis menjadi bagian dari LK UMM dan mengamban tanggung jawab untuk mengembangkan juga memperkenalkan kepada khalayak luas beberapa kebudayaan juga wahana wisata yang dimiliki UMM, seperti Taman Rekreasi Sengkaling UMM dan Sengkaling Kuliner,” katanya. Ditambahkan Daroe, mereka juga nantinya akan didelegasikan sebagai wakil UMM dalam ajang serupa di kancah nasional maupun internasional. “Perhelatan ini merupakan kerjasama Lembaga Kebudayaan UMM dan PEO Event Organizer. PEO Organizer sendiri merupakan kelompok praktikum 2 dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM yang mengambil peminatan Public Relations,” ungkap Ketua Kelompok PEO Rilha Hayuning Sakti Pamungkas. (can/han)

Malik Fadjar: Masjid AR Fachruddin UMM Harus Jadi Pusat Membangun Peradaban

BULAN Ramadhan selayaknya menjadi momen tepat mengembalikan peran masjid sebagai pusat membangun peradaban Islam. Hal itu disampaikan Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) yang juga Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. dalam pengajian jelang Ramadhan 1438 Hijriyah di Masjid AR. Fachruddin UMM, Jumat (19/5). “UMM melalui Masjid AR. Fachruddin harus mampu menghadirkan wajah Islam yang mendamaikan dan mencerdaskan. Bulan Ramadhan adalah momen tepat untuk mewujudkannya,” kata Malik di hadapan civitas akademika UMM usai pelaksanaan Salat Jumat. Dibangunnya Masjid AR. Fachruddin, imbuh Malik, merupakan hasil pergumulan panjang UMM untuk mewujudkan Islam yang berkemajuan. “Didirikannya Masjid AR. Fachruddin memberikan harapan pada pembangunan manusia Indonesia, khususnya umat Islam,” ungkapnya. Rasulullah memulai gerakan dakwahnya melalui Masjid, ditandai dengan dibangunnya Masjid Quba, masjid pertama yang didirikan Rasulullah dalam perjalanan Hijrah dari Mekah ke Madinah. Begitu pula pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Masjid juga memiliki posisi penting dalam Islam. Meski pembangunan Masjid di tiap daerah begitu menjamur pada beberapa dekade ini, namun demikian disayangkan Malik, Masjid yang ada sekarang tidak serta-merta membawa kedamaian batin. Demikian disampaikan Malik saat mengenang dinamika dakwah masjid di Malang di era 60-an, saat atmosfer spiritual lebih dominan ketika itu. “Terutama sejak momen Pilkada beberapa waktu lalu. Masjid jadi tempat yang penuh dengan ujaran kebencian. Sebaliknya, Masjid harus dikembalikan pada fungsi mendasarnya, yakni sebagai pusat membangun peradaban, serta dapat membawa ketenangan batin bagi jama’ahnya,” ungkapnya. Selain itu, jelang pelaksanaan ibadah puasa, Malik juga menghimbau kepada jamaah untuk mempersipkan segala sesuatunya. Bagi Malik, persiapan itu bukan hanya tentang kesiapan fisik dan persiapan-persiapan material lainnya. “Jelang puasa, kita perisiapan mendalam, khususnya rohani, agar dapat menangkap makna mendasar dalam berpuasa, yakni membangun keimanan dan ketakwaan,” tandas Malik. (can/han)

Indahnya Jawa Timur dalam Karya Fotografi Mahasiswa Asing UMM

BAGI mahasiswa asing, potret kehidupan kota-kota di Indonesia begitu indah. Aktivitas-aktivitas masyarakat di jalan seperti pedagang, keindahan alam seperti gunung, pantai, dan coban, serta keramahan penduduk lokal menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Berawal dari rasa penasaran itu, mahasiswa-mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pameran foto bertajuk East Java Through the Eyes of Foreigners, alias Jawa Timur di Mata Orang Asing. Sebanyak 25 foto dipamerkan di area kantin lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama (GKB) I mulai Kamis hingga Sabtu (17-20/5). Kedua puluh lima foto ini merupakan foto terpilih dari sekitar 50 foto yang diterima oleh kurator. Semuanya merupakan jepretan 11 mahasiswa asing yang tengah belajar di UMM. Ditanya perihal budaya Indonesia, Albina Gaisina, mahasiswa asing asal Rusia menganggap budaya adalah hal yang sangat penting. Budaya tak melulu soal tradisi yang ada di masyarakat, tapi juga aktivitas-aktivitas di pelosok desa yang beragam di tiap daerah. “Budaya akan menunjukkan pada kita perkembangan sebuah negara. Dan fotografi menjadi bagian penting untuk mendokumentasikan perkembangan ini,” ujarnya di antara foto-foto yang dipamerkan. Kurator foto sekaligus dosen prodi Ilmu Komunikasi UMM, Rahadi mengatakan, ada beberapa hal yang jadi acuan untuk menyeleksi foto yang layak dipamerkan, yakni kesesuaian tema, permainan warna, komposisi, dan angle yang diambil. Ada 3 tema foto pada foto yang dipamerkan, yakni portraid, landscape, dan street life. Dari foto yang ditampilkan, Rahadi mengaku ini di luar ekspektasi. “Mereka adalah orang asing yang jalan-jalan ke seantero Jawa Timur. Dengan minimnya bahasa Indonesia yang dikuasai, tapi foto-foto yang dihasilkan di luar ekspektasi saya,” ujarnya bangga. Selain dipamerkan di UMM, foto-foto ini juga akan dipamerkan di area Ijen Car Free Day, Ahad (21/5) esok, tepatnya di depan Gereja Ijen. Di sana, dari 25 foto yang ditampilkan, akan diambil 3 jepretan terbaik pilihan kurator. Ketiganya akan mendapatkan imbalan berupa publikasi di media online nasional. Untuk menghasilkan puluhan foto ini, butuh waktu hampir 2 bulan bagi Albina dan 10 mahasiswa asing lain untuk mengambil gambar ke berbagai daerah di Jawa Timur sekaligus persiapan pameran. Mahasiswa yang juga berprofesi sebagai financial analyst di negaranya tak lain adalah penggagas ide digelarnya pameran ini. “Di Indonesia, kalian melihat satu sepeda motor dinaiki 3-4 orang mungkin hal yang biasa, tapi bagi kami orang luar negeri, ini adalah hal yang baru dan begitu luar biasa. Kami ingin melihat Indonesia, melihat East Java sebagai orang luar negeri. Kami juga ingin masyarakat Indonesia melihat sudut pandang kami dalam melihat Indonesia. Bukan sekedar melihat kami bule. We have so much opinion about Indonesian’s culture,” ungkapnya antusias. (ich/han)

Sepuluh Tahun Raih AKU, Waktunya UMM Berkompetisi dengan Kampus Luar Negeri

  UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mempertahankan prestasinya dengan kembali meraih Anugerah Kampus Unggul (AKU) 2017 pada gelaran Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta Kopertis Wilayah VII Jawa Timur di Hotel JW Marriot Surabaya, Rabu (17/5). Hingga saat ini terhitung sudah 10 tahun berturut-turut UMM bertengger menduduki posisi pertama dan menyisihkan beberapa kampus swasta lain di Kopertis Wilayah VII Jawa Timur. “Selamat untuk UMM. Meski demikian, UMM tetap harus hati-hati karena banyak yang juga menginginkan posisi ini,” ujar Suprapto, Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur. Lebih lanjut Suprapto menyampaikan, secara garis besar ada beberapa poin penilaian yang membuat UMM unggul dan menduduki posisi nomor satu. Pertama kerjasama UMM baik internal maupun eksternal yang dijalin sebuah perguruan tinggi. “Bagaimana kerjasamanya dengan internal, regional, nasional dan luar negeri,”tandasnya. Selanjutnya, yang juga menjadi poin penilaian adalah kualitas tata kelola, kualitas tenaga pengajar, dan kualitas mahasiswa. Apakah mahasiswa hanya kuliah saja atau juga aktif dalam hal lain. “Ada atau tidak produk-produk atau prestasinya,”tambah Suprapto. Terus menduduki posisi pertama dan beberapa kali meraih penghargaan AKU Kartika yakni anugerah yang diberikan kepada perguruan tinggi yang selama tiga tahun berturut-turut meraih AKU, Suprapto berpesan agar UMM terus bersemangat dalam mengembangkan sayapnya. “Untuk yang meduduki posisi pertama, seperti UMM bukan waktunya lagi untuk berkompetisi dengan yang ada di wilayah kopertis VII tapi dengan yang nasional, bahkan terutama dengan yang ada di luar negeri,”tegasnya. Rektor UMM, Fauzan menyampaikan adanya penghargaan ini merupakan  bagian tak terpisahkan dari upaya UMM meraih rekognisi nasional. Untuknya Fauzan berpesan agar seluruh civitas akademika UMM tidak terlena dan terus tiada henti berinovasi. “Ini tidak harus dimaknai sebagai sesuatu yang final tetapi ini adalah sebuah cambuk untuk melakukan sesuatu yang lebih inovatif dan  terus berpegang teguh pada kerja inovasi,”tambahnya. Unggul dengan poin sebesar 766,80 UMM mengalahkan Universitas Surabaya di posisi dua dengan perolehan poin sebesar 662,15 dan Universitas Widya Mandala Surabaya diposisi tiga dengan poin 613,66. (sil/han)

Tepis Stereotip, UMM Ungkap Peran Etnis Tionghoa Bagi Bangsa

PEMAHAMAN tak lengkap mengenai keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia membuat jarak yang besar dengan etnis lainnya. Padahal, peran mereka begitu banyak dan strategis bagi terbentuknya bangsa ini. Hal tersebut disampaikan Didi Kwartanada, ahli sejarah Tionghoa Indonesia sekaligus Direktur Yayasan Nabil dalam seminar dan bedah buku ‘Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi Bagi Pembangunan Bangsa’, di Convention Hall Sengkaling Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa malam (16/5). Menurut Didi, salah satu contohnya, hingga kini tak banyak yang tahu bahwa ada empat keturunan etnis Tionghoa yang menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). “Ketika Indonesia akan diproklamasikan pada masa akhir pendudukan Jepang, dalam BPUPKI ada empat orang Tionghoa yang ikut membidani lahirnya UUD 1945,” jelasnya. Keempat tokoh tersebut adalah Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw, MR Tan Eng Hoa. Liem Koen Hian, kata Didi, selain mengusulkan warga Tionghoa otomatis menjadi warga negara Indonesia setelah merdeka, dia juga tokoh yang mengusulkan kebebasan pers. Adapun Mr. Tan Eng Hoa, merupakan tokoh pengusul pasal mengenai kebebasan berserikat. “Ada demo, aksi masa, itu awalnya sebenarnya berasal dari sini,” lanjut dia. Selain fakta sejarah itu, masih banyak peran etnis Tionghoa lainnya dalam pembentukan bangsa Indonesia. Didi menjelaskan, berdasarkan penelitian sejarawan Dennys Lombard, ada empat budaya besar yang memiliki pengaruh mendasar terhadap kebudayaan Nusantara. Salah satunya Tionghoa. Mereka berperan dalam penciptaan teknologi yang meningkatkan kehidupan masyarakat, khususnya bidang pertanian, bahan makanan, alat dapur, teknologi kuliner, pakaian, dan teknologi pertambangan. Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si saat turut menjadi panelis mengapresiasi peluncuran buku setebal 1500 halaman (3 jilid) ini. Menurutnya, pengetahuan-pengetahuan tentang Etnis Tionghoa harus terus diproduksi, baik dari sisi sejarah, budaya, termasuk kontribusi orang Tionghoa bagi bangsa Indonesia. “Betapapun suka atau tidak suka, Etnis Tionghoa itu punya kontribusi. Dan pengetahuan semacan ini harus didiseminasikan, sehingga relasi kebangsaan ini akan menjadi rajutan yang bagus,” tandas Syamsul. Turut hadir dalam agenda tersebut segenap jajaran pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Malang Raya. (can/han)

Mahasiswa UMM Sulap Hutan Kota Malabar Jadi Destinasi Eduwisata

HUTAN identik dengan tempat yang seram dan dihuni hewan liar. Namun, di tangan lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hutan tak lagi terkesan seram, malah sebaliknya. Mereka berhasil membuat hutan nampak ceria dan menyenangkan, bahkan menjadi tempat pariwisata dan hutan edukasi. Itulah wajah baru Hutan Kota Malabar di tengah Kota Malang, Jawa Timur. Lima mahasiswa UMM tersebut yaitu Mohammad Arifin Murian, Nurna Hidayati Ningsih, Racha Pratama Supriyadi, Nurwahyudi dan Sahara Fristy Mirandani. Melalui Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P) mereka berhasil melakukan inovasi dengan penambahan aksesoris hutan seperti payung berwarna, lampion serta penyedian kasur gantung (hammock). Ketua tim PKM-P, Mohammad Arifin Murian menyatakan, penambahan aksesoris yang diberikan bertujuan untuk menambah nilai estetika serta menjadikan Hutan Kota Malabar lebih berwarna. Selain penambahan aksesoris, lima mahasiswa tersebut juga menyediakan tongkat narsis (tongsis) yang disediakan gratis, papan foto yang berisikan kalimat persuasif untuk berkunjung ke Hutan Kota Malabar secara gratis. “Kami yakin dengan penambahan aksesoris ini dapat meningkatkan jumlah wisatawan serta menambah daya tarik masyarakat khususnya mahasiswa,” ujar Arifin. Penambahan payung serta lampion mampu menyegarkan kembali wajah hutan kota Malabar ini selain itu juga kerap kali para pengunjung menjadikan payung serta lampion tersebut sebagai tempat favorit mereka untuk berswafoto. Dengan mengusung judul “Terapi Self Potrait Penerapan Sistem Ekowisata Pada Kawasan Hutan Kota Malabar Malang sebagai Daya Tarik Wisatawan”, Arifin dan timnya ingin mem-branding dan mempromosikan Hutan Kota Malabar pada masyarakat luas. Tidak hanya aksesoris yang ditambahkan lima mahasisa tersebut. Lebih lanjut, Arifin menambahkan, timnya juga memberikan edukasi kepada para pengunjung tentang fungsi hutan sebagai paru-paru dunia, habitat burung dan juga sebagai sarana edukasi tentang penghijauan. Menurut mahasiswa program studi Kehutanan itu, masyarakat secara umum masih belum banyak yang memahami fungsi hutan. “Setelah kami lakukan survey, ternyata sebagian orang masih belum mengetahui tentang pentingnya hutan ditengah kota ini. Maka kami rasa perlu adanya edukasi pada masyarakat,” ungkap Arifin. Terlebih lagi, Hutan Kota Malabar juga dapat dimanfaatkan masyarakat hanya untuk sekedar beristirahat, bercengkrama bahkan dimanfaatkan untuk olahraga. Bagi Arifin dan timnya, semua fasilitas yang dibuat merupakan bentuk nyata mahasiswa sebagai agen perubahan yang dapat bermanfaat bagi masyarakat keberadaannya. “hasil penelitian ini merupkan salah satu sumbangsih nyata kami kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga dan memelihara hutan di tengah kota,” pungkasnya. (jal/han)

Mahasiswa FH UMM Juarai Debat Nasional Legal Expo 2017

DELEGASI debat Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini memenangkan kompetisi debat hukum nasional. Febriansyah Ramadhan beserta kedua temannya, Gurnita Ning Kusumawati dan Anita Diar Farukhi menyabet juara pertama dalam ajang Legal Expo 2017 yang diadakan Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atmajaya Jakarta, 11 Mei lalu. Setelah dinyatakan lolos di fase semifinal dengan menyisihkan Universitas Hasanudin, tim ini selanjutnya melenggang ke babak final dan berhadapan dengan Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Sebagai juara pertama, ketiganya diganjar uang pembinaan sebesar 10 juta rupiah. Menariknya sebelum berangkat mengikuti lomba, ketiganya telah menyelesaikan sepuluh topik yang dipersiapkan panitia. “Kami punya prinsip menang sebelum bertanding. Jadi topik apapun yang didapat nantinya ketika technical meeting, kami sudah siap menyelesaikannya,” ungkapnya saat diwawancarai di UMM (13/5). Jika biasanya riset dikerjakan oleh tim khusus, pada ajang kali ini seluruh pengerjaan dilakukan sendiri oleh para debater. “Pertimbangannya karena ini merupakan kali pertama bagi saya dan Anita ikut lomba, berbeda dengan Gurnita yang sudah berpengalaman sebelumnya. Jadi kami harus merasakan bagaimana menyusun argumen dan mempertahankannya. Sehingga saat perform kita bisa benar-benar mendalami dan menjiwai. Kalau jam terbangnya sudah banyak baru kita akan berkolaborasi dengan tim riset, ” kata mahasiswa semester 6 asal Provinsi Lampung ini. Diakui Ferdiansyah, lomba ini baru merupakan batu pijakan untuk target menang di ajang Debat Konstitusi Mahasiswa yang diselenggarakan Mahkamah Konstitusi (MK) bulan Juni mendatang. Di tahun sebelumnya, delegasi UMM dikukuhkan sebagai pemenang di tingkat Regional Timur. “Tahun ini kami harus bisa juara nasional,” pungkasnya. (can/han)

MoU dengan PPM Manajemen, Pengguna TAEP Milik UMM Kian Meluas

TES kemampuan bahasa Inggris milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Test of Academic English Profeiency (TAEP), kian dilirik berbagai pihak. Yang terkini, Language Center (LC) UMM baru saja melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan PPM Manajemen Jakarta. MoU diwakili Kepala Divisi Asesmen Sumber Daya Manusia (SDM) PPM Manajemen Aditayani I Kukila MPsi dan Rektor UMM Fauzan, yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (10/5). Kepala LC UMM, Dr Masduki MPd menyatakan, TAEP merupakan alat tes bahasa Inggris yang asli dimiliki UMM. Kesepakatan yang dijalankan oleh UMM dan PPM Manajemen ini merupakan kesepakatan di tahun kedua sejak tahun 2016 lalu. Tahun sebelumnya, sebanyak 13.800 yang tersebar di 10 kota se-Indonesia menggunakan tes tersebut untuk seleksi karyawan. “Tahun ini sebanyak 16.835 peserta yang tersebar 30 kota di Indonesia akan menggunakan tes ini sebagai pengukur kemampuan bahasa inggrisnya,” jelasnya. Menurut Masduki, TAEP mengakomodir kebutuhan masyarakat secara umum dan Muhammadiyah khususnya untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris. Salah satu keistimewaan yang ditawarkan UMM melalui TAEP ini adalah pada kemampuan listening-nya. Pada TAEP, peserta tes diperdengarkan suara bukan dari penutur aslinya. Menurut Masduki, seringkali pekerja tidak berinteraksi langsung dengan penutur aslinya. “Sebanyak 85 persen karyawan tidak berinteraksi dengan penutur asli. Jadi kami fasilitasi itu pada kemampuan listening bukan dari penutur aslinya dan itu terbukti sangat membantu karyawan dalam memenuhi kebutuhan kerja,” jelasnya saat penandatangan nota kesepahaman tersebut. Selain itu keunggulan lainnya adalah dari segi harga yang terjangkau untuk semua golongan. Hingga saat ini, tes TAEP ini sudah dapat digunakan oleh seluruh civitas akademika UMM yang ingin melakukan pertukaran mahasiswa, dosen maupun karyawan UMM. Salah satunya hasil TAEP ini dapat digunakan untuk memenuhi syarat Erasmus+ yang diselenggarakan oleh Uni Eropa. Tidak hanya itu, hasil tes TAEP juga diterima oleh berbagai perguruan tinggi di China. Ke depan, Masduki berharap, tes TAEP dapat digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan internasional. “Dalam waktu dekat, produk UMM ini akan digunakan oleh lembaga pendidikan Muhammadiyah se-Indonesia,” tutupnya. (jal/han)