Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si., Dosen Berprestasi yang Produktif Menulis dan Meneliti

KESERIUSAN Prof Dr Ishomuddin MSi mendalami sosiologi masyarakat Islam membuatnya dinobatkan sebagai dosen berprestasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Meneliti, mengajar dan mengabdi pada masyarakat sudah menjadi rutinitas bagi saya. Tujuannya, untuk bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya. Ketekunan Ishomuddin dalam menulis dan menebarkan ilmu ia buktikan dengan menerbitkan tulisan-tulisannya di berbagai jurnal nasional maupun internasional. Kegiatan menulis dan meneliti menjadi hal tak terpisahkan dari kehidupan pribadinya. Pengabdiannya dalam dunia sosial sciencedibuktikkan dengan banyaknya karya yang bisa dibaca oleh semua orang. Ishommuddin telah menerbitkan 21 buku dan masih akan bertambah terus, yang sebagian besarnya membahas tentang sosiologi masyarakat Islam. Pemikirannya yang sangat mendalam dan fokus tersebut menjadikan dirinya dikukuhkan sebagai guru besar di bidang sosiologi masyarakat Islam. Ishomuddin berhasil menyelesaikan studi strata II (S2) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan program doktoralnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Dengan fokus studi Islam dan kebudayaan, menjadikan bapak dari tiga anak ini tertarik untuk melakukan penelitian dan menulis di bidang sosiologi masyarakat Islam, politik Islam dan juga pendidikan Islam. Hingga kini, hasil penelitiannya tidak hanya bisa dinikmati oleh orang Indonesia saja, namun juga bisa dirasakan oleh masyarakat internasional. Sedikitnya 12 artikel internasional telah Ishomuddin tulis untuk menebarkan keilmuan yang dimilikinya. Pada tahun 2016, Ishomuddin telah menerbitkan enam jurnal internasional dan akan bertambah lagi dalam waktu dekat. Bahkan, ia menyatakan tiga bulan dari sekarang akan terbit juga artikelnya dalam jurnal internasional. Kepekaannya dalam bidang sosiologi masyarakat Islam direspon banyak pihak. Ishomuddin seringkali diundang dalam beberapa seminar internasional sebagai pembicara. Salah satunya, Pada 26 Maret 2016 lalu, Ishomuddin berbicara tentang ASEAN Muslims Faced Globalization and The Global Issues. Materi itu ia sampaikan pada forum seminar internasional “Global Issues of South-Asia Community”, di Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM). “Ilmu memang tidak baik jika dimiliki sendiri namun perlu, bahkan harus untuk disebar. Melalui penelitian, menulis, publikasi jurnal nasional dan internasional, saya berusaha untuk menyebarkan ilmu ke masyarakat luas,” ujarnya. Ishomuddin berkeyakinan bahwa penelitian dan publikasi hasil penelitiannya merupakan wujud kongkrit dari tanggungjawab seorang ilmuan. (jal/han)
Gathering Darmasiswa RI, 60 Mahasiswa UMM Dampingi Ratusan Mahasiswa Asing

SEBANYAK 60 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari berbagai program studi mendapatkan kesempatan berharga untuk menjadi buddy atau rekan pendamping bagi 540 mahasiswa asing dari 78 negara. Mereka mendampingi mahasiswa asing itu pada kegiatan International Gathering dalam rangka penutupan program Darmasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud RI). Selama tiga hari, Senin-Rabu (8-10/5), ke-60 mahasiswa UMM ini bertugas menemani dan mengarahkan mahasiswa asing peserta Darmasiswa selama gathering di UMM, berkunjung ke Balai Among Tani Kota Batu, hingga wisata ke Gunung Bromo. “Kita berikan ruang pada mahasiswa untuk memiliki pengalaman serta jaringan internasional,” jelas Dimas Arif Prassetyo, salah satu panitia International Gathering tersebut. Dimas menjelaskan, antusiasme mahasiswa untuk menjadi pendamping peserta ini sangat tinggi. Hal itu terbukti dengan pendaftaran awal. Setidaknya 150 mahasiswa mendaftarkan dirinya untuk menjadi buddy. Setelah melalui proses wawancara, diumumkanlah 60 mahasiswa untuk menjadi buddy. Setiap buddy memiliki tugas mendampingi peserta serta mempromosikan UMM pada seluruh peserta international gathering itu. Karena ini adalah acara internasional, lanjut Dimas, UMM ingin memberikan yang terbaik pada seluruh peserta. Maka dari itu panitia juga menyeleksi mahasiswa yang dipandnag mumpuni untuk melakukan tugas tersebut. Dengan seringnya mahasiswa UMM dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan internasional, menurut Dimas, hal itu dapat membantu UMM untuk mencapai kampus yang dengan rekognisi internasional. “UMM sedang berusaha untuk memperoleh pengakuan internasional, maka mahasiswa menjadi kompenen pendukung dan kita berikan kesempatan untuk bergaul dengan mahasiswa internasional,” ungkap Dimas yang juga staf International Relations Office (IRO) UMM ini. Tidak hanya mendapatkan pengalaman dan jaringan internasional, 60 buddy itu juga akan diberikan sertifikat setelah selesainya acara ini. “Kita berikan sertifikat setelah seluruh rangkaian acara terlaksana sebagai salah satu penghargaan pada mahasiswa sekaligus menjadi bekal ke depannya jika meneruskan di dunia internasional,” pungkasnya. (jal/han)
Minat Baca Turun, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Terus Galakkan Literasi Sastra
HINGGA saat ini, minat baca masyarakat Indonesia, bahkan mahasiswa sebagai salah satu masyarakat ilmiah, turun drastis. Merespon hal itu, Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dra Tuti Kusniarti MSi MPd menjelaskan, gerakan literasi sastra sangat perlu digalakkan untuk mendekatkan sastra dengan masyarakat dan mahasiswa. Salah satunya, yaitu dengan gelaran seminar nasional literasi sastra yang diadakan prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM bekerjasama dengan Himpunan Sarjana Kesustraan Indonesia (HSKI) Komisariat Malang pada Selasa (9/5) di Auditorium UMM. Bagi Tuti, membaca erat kaitannya dengan aktivitas literasi. “Bacaan sastra juga sangat sedikit peminatnya sekarang. Ini merupakan momen untuk membangkitkan kembali pentingnya literasi sastra terutama pada mahasiswa kami,” jelas Tuti. Menurut Tuti, literasi sastra sederhananya adalah membaca. Namun tidak hanya membaca, tapi perlu ada implementasi dari membaca tersebut. Membaca sastra juga harus membaca makna yang ada di dalamnya. Dengan mengangkat tema “Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Gerakan Literasi Sastra”, Tuti berharap, dengan membaca sastra beserta makna di dalamnya maka mahasiswa bisa membaca manusia dan bagaimana harus berbuat untuk manusia lainnya. Dengan dihadiri 350 peserta dari seluruh Indonesia, pada seminar nasional ini akan dibagi beberapa sesi parallel yang mana setiap sesi parallelnya ada pemakalah yang mempresentasikan tulisannya. Selain peserta dari seluruh Indonesia, di antaranya 40 mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia juga menjadi pemakalah. Dengan melatih mahasiswa dalam presentasi dan penulisan ilmiah dapat membuat mahasiswa berani untuk mengeluarkan ide dan karyanya. “Ke depannya setelah seminar nasional ini, akan digenjot lagi penulisan ilmiah, salah satunya adalah pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM),” jelasnya. Hadir juga dalam seminar nasional ini, staf ahli Kemendikbud RI Prof Dr Djoko Saryono MPd, ketua umum HISKI Pusat Prof Dr Suwardi Endraswara MHum dan ketua Asosiasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Jawa Timur Dr Arif Budi Wurianto MSi. (jal/han)
Tampilkan Kesenian Indonesia, Ratusan Mahasiswa Asing Angkat Kearifan Lokal

KOMBINASI kearifan lokal dan nuansa internasional begitu terasa pada kegiatanInternational Gathering 540 mahasiswa asing peserta Darmasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin-Rabu (8-10/5). Sekalipun berasal dari 78 negara berbeda, pada event ini terlihat jelas bahwa mereka tidak canggung dengan budaya lokal khas Indonesia. Ratusan mahasiswa asing itu tampak lihai ketika bergantian diberi kesempatan unjuk kebolehan menampilkan berbagai kesenian khas Indonesia, mulai dari tarian, lagu-lagu daerah, memainkan alat musik tradisional, hingga musikalisasi puisi. Beberapa tarian yang ditampilkan mahasiswa asing yaitu tari topeng, yakni tari kicir-kicir, tari kecak, tari golek sri katon, tari krono rojo, tari rampak rebana, dan tari randai. Mereka juga tampak lihai memainkan alat-alat musik karawitan Jawa seperti gong, gendang, gambang, bonang, demung, seruling, kempul, dan peking. Demikian pula ketika melakukan musikalisasi puisi dan lagu-lagu kebangsaan Indonesia. Salah satu mahasiswa asal Perancis, Solenn Hus mengaku terkesan dengan keanekaragaman budaya Indonesia yang tak ditemuinya di negara lain. Baginya, Indonesia adalah negara yang tak pernah terpikir di benaknya untuk dikunjungi. Namun, sejak kunjungan pertamanya bersama keluarga ke Indonesia pada 2009, Solenn berubah pikiran. Di matanya, Indonesia adalah negara yang istimewa. Inilah yang mendasari Solenn memilih program studi Bahasa Indonesia di kampusnya di Perancis. “Indonesia amat luar biasa. Suku, bahasa, penduduk yang ramah, dan kekayaan budayanya tak pernah saya temui di negara lain. Pertama kali saya ke Indonesia pada 2009, sejak itu saya berlibur ke Indonesia setiap tahun. Saya jatuh cinta dengan tradisi kebudayaan Sulawesi, Bali, dan Lombok. Saya bisa belajar banyak dari negara dengan penduduk Muslim terbanyak. Berbeda-beda, tetapi tetap satu. Bhinneka Tunggal Ika,” urai Solenn sambil tersenyum. Pada momen pertunjukan budaya, mahasiswa Darmasiswa UMM mengolaborasikan puisi, tarian, dan musik dalam musikalisasi puisi. Carolina Ximena Carderas Carva Cho dari Chili dan Cipriano Amaral dari Timor Leste merefleksikan perjuangan pemuda Indonesia narasi berdirinya Boedi Utomo, organisasi pergerakan pemuda pertama di Indonesia melalui pembacaan narasi, empat mahasiswa asal Thailand, Jerman dan Malaysia membacakan puisi, enam mahasiswa dari Sudan, Jepang, Thailand, Kamboja, Korea Selatan dan Vietnam menyanyikan lagu Indonesia Jaya, serta enam mahasiswa dari Jerman, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan Vietnam membawakan tarian khas Indonesia, yakni tari kicir-kicir. Sementara itu mahasiswa asing STIE Malang Kucecwara menampilkan tarian khas Malang yakni tari topeng. Tak hanya itu, mahasiswa Darmasiswa Bali dari tiga kampus memamerkan kemampuannya menarikan tarian khas Bali, Tari Kecak. Mereka berasal dari Universitas Udayana, Politeknik Negeri Bali, dan IKIP Saraswati Bali. Tak kalah memukau, di akhir acara, gabungan mahasiswa Darmasiswa Yogyakarta yang terdiri dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Universitas Sanata Darma, P4TK Seni dan Budaya Universitas Ahmad Dahlan. Puluhan mahasiswa bule ini mempersembahkan kebolehan mereka memainkan alat-alat musik karawitan Jawa seperti gong, gendang, gambang, bonang, demung, seruling, kempul, dan peking. Puluhan mahasiswa ini juga membawakan Tarian Golek Sri Katon, Tari Krono Rojo, memainkan Gendang Ketawang Ambono, dan Gending Wasono. Meski bukan warna negara Indonesia, namun kemampuan mereka memainkan alat music tradisional ini patut diacungi jempol. Bahkan, jika tak melihat siapa yang memainkan, alunan musik yang terdengar begitu halus layaknya dimainkan pribumi. Penampilan ini disambut dengan gemuruh tepuk tangan dan pujian dari seluruh mahasiswa Darmasiswa RI serta undangan yang hadir. (ich/han)
Lomba Vlog, Menulis Jurnal dan Permainan Tradisional Warnai Gathering Darmasiswa

KEGIATAN International Gathering yang diikuti 540 mahasiswa asing di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama tiga hari (8-11/5) diwarnai dengan sejumlah perlombaan, di antaranya yaitu lomba penulisan jurnal bahasa Indonesia, lomba video blog (vlog), dan lomba permainan tradisional. Dimas Arif Prassetyo, panitia International Gathering menyatakan, perlombaan ini bersifat edukatif, gunanya untuk mengevaluasi hasil pendidikan bahasa, seni dan budaya Indonesia yang dipelajari para mahasiswa asing peserta program Darmasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI). Seluruh peserta telah mempelajari bahasa, seni serta budaya Indonesia selama satu tahun. “Dikemas dengan perlombaan, kita berharap dapat mengevaluasi hasil belajar dengan cara yang lebih menyenangkan,” ujar Dimas. Lomba penulisan jurnal bahasa Indonesia menjadi kompetisi paling bergengsi dan berhadiah paling besar. Mahasiswa program Darmasiswa diwajibkan menuliskan jurnal dalam bahasa Indonesia dengan tema besar “Catatan Darmasiswa: Hidup dan Kehidupan”. Mereka diminta menuliskan tentang pengalaman hidup selama satu tahun di Indonesia dan kesan selama mempelajari bahasa, seni serta budaya Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, bagi mahasiswa yang berhasil menjadi juara akan diberikan hadiah tiket pulang ke negara asal secara gratis. Tidak hanya itu, perlombaan yang digelar oleh Kemdikbud ini akan memberikan hadiah berupa perpanjangan waktu untuk mendalami tentang Indonesia lebih lama lagi. Lebih bagus lagi, sebanyak 21 pemenang yang keluar dalam perlombaan penulisan jurnal ini akan diajak mengeksplor keindahan Indonesia di Raja Ampat dan Papua Barat. Tak mau kalah, UMM selaku tuan rumah acara penutupan program Darmasiswa juga menginisiasi dua jenis perlombaan lainnya, yaitu lomba vlog dan lomba-lomba permainan tradisional yang terdiri dari lomba bakiak, lomba kata berbisik dan lomba rangku alu. “Kesemuanya memiliki nilai-nilai yang ingin kita lihat setelah mereka belajar selama satu tahun pada program Darmasiswa ini,” ungkap Dimas yang juga staff International Relations Office (IRO) UMM. Tiga perlombaan tersebut dilombakan pada hari kedua, Selasa (9/5) di Heliped UMM. Satu contoh pada lomba kata berbisik. Lomba tersebut menuntut mahasiswa program Darmasiswa untuk mengingat kembali pelajaran Bahasa Indonesia yang sudah dipelajari. “Kami ingin melihat kekompakan setiap universitas, dan juga kita ingin melihat bagaimana hasil belajar Bahasa Indonesianya,” ungkapnya. Lebih meriah lagi, UMM mengadakan perlombaan vlog yang diikuti setiap universitas. Dimas menjelaskan, vlog yang dilombakan terdiri dari tiga kategori yaitu, kategori vlog promosi kuliner di daerah tempat tinggal selama di Indonesia, kategori promosi pariwisata Indonesia dan kategori promosi Indonesia di negara asalnya masing-masing. Hingga saat ini, sudah ada 20 universitas yang mengirimkan vlognya. “Semua video berdurasi satu menit. Video-video itu diunggah di akun instagram UMM yaitu @ummcampus. Penilaiannya dari jumlah likes video tersebut,” pungkasnya. (jal/han)
Iringan Reog dan Perkusi Sambut Kedatangan 540 Mahasiswa Asing Peserta Darmasiswa

KEDATANGAN 540 mahasiswa asing peserta penerima beasiswa Darmasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) disambut meriah dengan iringan reog dan perkusi, Senin (8/5). Kedatangan mahasiswa dari 78 negara itu dalam rangka International Gathering sebelum mereka kembali ke negaranya masing-masing setelah satu tahun belajar bahasa dan budaya di Indonesia. Rombongan mahasiswa asing yang baru turun dari bis langsung disambut seni tari Reog Ponorogo Sanggar Tari Sardulo Djojo. Arak-arakan semakin meriah setelah rombongan kembali disambut iringan musik perkusi dari Kelompok Musik Grebeg Pidisia setelah sampai di Heliped UMM. Setelah berfoto bersama sejenak di heliped, rombongan beserta iringan Reog dan Kereta Naga yang membawa pemain perkusi mengawal rombongan ke titik akhir rute kirab budaya di Hall UMM Dome. Staf Ahli Kemdikbud Bidang Pembangunan Karakter, Arie Budiman yang mewakili Mendikbud RI mengungkapkan kebahagiaan dan kebanggaannya lantaran peserta Program Darmasiswa RI telah menunjukkan kemampuan berbahasa Indonesia dan cakap memperagakan ragam seni budaya Indonesia dalam perhelatan tersebut. “Satu tahun bukanlah waktu yang lama untuk mengenal Indonesia dengan seni budaya yang luar biasa ragamnya dan untuk menjadi fasih berbahasa Indonesia. Namun waktu yang sempit tersebut telah membuat peserta Darmasiswa cakap melakukan kedua hal tersebut,” ungkapnya. Di sisi lain, Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Internasional Kemdikbud RI Ir Suharti MA PhD dalam sambutannya menyampaikan terimakasih atas partisipisasi semua pihak dalam gelaran yang menandai ditutupnya program beasiswa Darmasiswa RI tahun ajaran 2016/2017 ini. “Mudah-mudahan apa yang sudah dipelajari oleh semua peserta, betul-betul bermanfaat dan menjadikan ilmu itu sebagai ilmu yang berguna,” ungkap Suharti. Sementara, Rektor UMM mengajak peserta yang telah menuntaskan program beasiswa Darmasiswanya untuk dapat melanjutkan belajar bahasa dan kebudayaan Indonesia bersama 340 mahasiswa asing yang tengah belajar di UMM. Dalam seremonial penutupan program Darmasiswa RI ini juga ditampilkan beragam kesenian hasil belajar peserta selama mengikuti program Darmasiswa RI tahun ajaran 2016/2017. Mulai dari tari tradisional, musikalisasi puisi, hingga stand up comedy. (can/han)
PUSAM Kenalkan Living Values Education Pada Mahasiswa Pascasarjana UMM

BEKERJAMA dengan The Asian Foundation (TAF), Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan workshop Living Values Education (LVE) yang dihadiri oleh mahasiswa pascasarjana program magister Ilmu Agama Islam UMM dengan konsentrasi Hak Asasi Manusia (HAM) dan Syariah. Acara diadakan selama dua hari, Jumat-Sabtu (5-6/5) bertempat di UMM Inn. Dengan mengangkat tema “Memahami HAM dan Toleransi Beragama di Indonesia”, PUSAM ingin memberikan pemahaman terhadap mahasiswa agar menghidupkan nilai-nilai pada setiap aktivitas sehari-hari. Dikrektur PUSAM UMM, Prof Dr Syamsul Arifin MSi menyatakan, ini merupakan tahun keempat PUSAM dan TAF melakukan kerjasama. “Pada tahun ini PUSAM dan TAF menggarap isu tentang HAM dan LVE. LVE ini merupakan pendidikan menghidupkan nilai,” jelasnya. Pada workshop kali ini, lanjut Syamsul, peserta diberikan pengetahuan menghidupkan nilai HAM dan toleransi beragama melalui pendidikan karakter. Syamsul menjelaskan, fenomena yang terjadi saat ini kekerasan atas nama agama terjadi di berbagai tempat dalam kurun waktu tiga dekade terakhir. Mengutip data dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), ada 95 tindakan pelanggaran kasus kebebasan beragama yang terjadi selama tahun 2015 terhitung mulai Januari hingga November. Keterkaitan antara HAM dan LVE menjadi sebuah keharusan, karena HAM sejatinya adalah tentang nilai. Menurut guru besar sosiologi agama itu HAM adalah bentuk penghargaan sesama manusia, dengan diberikan materi tentang LVE maka pengetahuan tentang HAM akan lebih kuat. “pemahaman serta memperkenalkan LVE dan HAM sebagai pendekatan dalam pendidikan karakter di Indonesia dikuatkan dalam workshop ini,” ungkap Syamsul. Menariknya dalam workshop ini, setiap peserta dilatih dengan membuat skema tentang multikulturalisme dalam sebuah masyarakat. Menggambarkan tentang bagaimana seharusnya kehidupan beragama antara satu agama dengan agama lainnya. Dalam workshop tersebut PUSAM juga menghadirkan pemateri dari berbagai universitas yang mempunyai pengalaman dalam bidang advokasi dan bidang HAM. Di antaranya dari Universitas Islam Negeri (UIN) Gunung Djati Bandung dan Universitas Paramadina, workshop ini ingin mengintegrasikan pendekatan LVE dengan menjadikan focus HAM dalam Tri Dharma perguruan tinggi. (jal/han)
Diikuti 540 Mahasiswa dari 78 Negara, Ini Rangkaian Acara Gathering Darmasiswa di UMM

SEBELUM kembali ke negaranya masing-masing, sebanyak 540 mahasiswa asing dari 78 negara yang selama setahun terakhir belajar di berbagai kampus di Indonesia, akan mengikuti International Gathering di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin-Kamis (8-11/5). Ke-540 mahasiswa tersebut merupakan penerima beasiswa Darmasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia. “Ini adalah bagian dari soft diplomacy. Mereka disiapkan menjadi duta Indonesia di berbagai belahan dunia,” kata Ketua Panitia International Gathering, Soeparto. Selama kegiatan, para warga asing itu mendapatkan penguatan informasi tentang bahasa, budaya, dan pariwisata Indonesia. Tak hanya pembekalan, mereka juga akan menampilkan berbagai pertunjukan, seperti nyanyian daerah, lagu-lagu nasional, hingga menari. “Pengalaman menampilkan budaya Indonesia ini akan berguna kelak di negara masing-masing, ketika mereka diundang untuk tampil pada kegiatan kedutaan besar Indonesia,” jelas Soeparto yang juga Asisten Rektor UMM Bidang Kerjasama ini. Sementara itu Koordinator Sie Acara Muhammad Isnani menjelaskan, rangkaian kegiatan dimulai dengan kirab peserta Darmasiswa di hari pertama (8/5) dari depan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 2 UMM melewati Heliped UMM dan diakhiri di UMM Dome yang menjadi lokasi utama penyelenggaraan kegiatan. Di hall UMM Dome, acara pembukaan diwarnai dengan Welcoming Dance Reog dan Gita Surya UMM, serta penampilan dari para mahasiswa asing di antaranya tari topeng, tari kecak, tari rampak rebana, tari randai, dan musikalisasi puisi. Di malam harinya, para mahasiswa asing itu beranjak menuju Balai Kota Batu untuk makan malam bersama Walikota. Di hari berikutnya, Selasa (9/5), acara kembali dilanjutkan dengan kegiatan seni-budaya seperti pentas musik, tarian dan komedi tunggal oleh perwakilan mahasiswa asing di Theater UMM Dome, serta dilanjutkan dengan perlombaan permainan tradisional di Heliped UMM. Malamnya, bertempat di Sengkaling Kuliner UMM, diadakan nonton bareng video blog (vlog) karya mahasiswa asing peserta Darmasiswa dan pengumuman pemenang lomba vlog. Menutup rangkaian acara, lanjut Isnani, pada Rabu (10/5), para peserta diajak ke destinasi wisata Gunung Bromo. Di sana, para warga asing itu akan menikmati sunrise di Pananjakan, explore Gunung Bromo, dan menyaksikan pertunjukan seni budaya Pasuruan. Dari Gunung Bromo, para mahasiswa itu kembali ke UMM di hari berikutnya, Kamis (11/5). Soeparto menerangkan, terpilihnya UMM sebagai tuan rumah event bergengsi ini tak hadir begitu saja. UMM mendapatkan amanah dari Kemdikbud RI sejak 2015 silam. Hal ini dikatakan Soeparto berdasarkan berbagai pertimbangan, di antaranya lokasi yang strategis, kelengkapan infrastuktur dan fasilitas serta sumber daya manusia. “Hal ini menjadi poin penting bagi UMM untuk mencapai rekognisi internasional,” kata Soeparto. Untuk mendukung kegiatan ini, sebanyak 85 mahasiswa UMM dari berbagai program studi ikut andil sebagai pendamping (buddy) bagi mahasiswa asing. Selain menambah pengalaman, para buddy ini akan punya kans lebih besar dalam hal jejaring internasional. “Mereka akan mendapatkan poin kredit yang akan menjadi pertimbangan tersendiri ketika mereka ingin mengikuti pertukaran atau studi ke luar negeri,” pungkas Soeparto. (ich/han)
Naikkan Standar Kelulusan, Peminat UMM Justru Meningkat

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar tes tulis bagi 2.756 calon mahasiswa baru (camaba) jalur reguler gelombang I, Senin (8/5). Setelah melakukan tes tulis, camaba langsung mengikuti tes wawancara di masing-masing program studi (prodi). Sementara, hasil tes tulis dan wawancara akan diumumkan pada Jumat (12/5) mendatang. Sebelumnya, sebanyak 2.844 camaba dinyatakan diterima akhir bulan lalu (28/4). Jumlah ini merupakan camaba yang lolos melalui jalur undangan dari total 9.108 peminat. Meski dinyatakan lolos tanpa tes tulis, camaba yang tersaring melalui jalur prestasi akademik maupun non-akademik ini wajib mengikuti tes wawancara dan herregistrasi pada Selasa hingga Kamis (2-4/5) pekan lalu. Sekretaris unit Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM, Dr Moh Mahfud Effendi menyatakan, jumlah mahasiswa yang diterima melalui jalur undangan ini meningkat dibandingkan tahun lalu. “Peningkatan mencapai 146%, tahun lalu jumlah yang diterima sebanyak 1.944. Tahun ini, meski standar nilai rata-rata naik dari 75 menjadi 80, tapi antusias camaba untuk mendaftar di UMM juga meningkat,” terang Mahfud. Mahfud menambahkan, tes wawancara dilakukan untuk mengetahui kualitas dan motivasi calon mahasiswa baru sesuai dengan kebutuhan masing-masing prodi. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin menyatakan meski mengalami peningkatan, jumlah peminat UMM terbilang stabil di tiap tahunnya. Ia juga mengatakan, UMM tetap menomorsatukan kualitas mahasiswa yang akan diterima, baik melalui jalur undangan maupun reguler. “Meski diterima tanpa tes tulis, tapi kualitas mahasiswa yang diterima jalur undangan tetap menjadi poin utama. Peminat UMM meningkat tiap tahunnya, standar nilai pun meningkat, tes wawancara adalah salah satu cara untuk mengetahui kualitas mahasiswa tersebut,” ujarnya. (ich/han)
Sekolah Kader PMW Jatim, Siapkan Generasi Pejuang dan Pembaharu

DI TENGAH pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta beragam isu yang mengiringinya, warga Muhammadiyah dituntut mengantisipasi hal-hal baru yang dapat mengancam. Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr Agus Purwanto dalam pembukaan Sekolah Kader Tarjih Muhammadiyah di Ruang Sidang Senat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (6/5). Gelaran tahunan ini merupakan agenda amanat Musyawarah Wilayah PWM Jawa Timur. “Muhammadiyah khususnya Majelis Tarjih yang mengusung gerakan pembaharuan harus mengawal setiap problem yang tengah terjadi di masyarakat. Bukan sekedar permasalahan keagamaan saja, melainkan Muhammadiyah juga harus responsif menjawab permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia,” kata Agus yang juga merupakan Pengajar Pascasarjana Fisika di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini. Selain itu, Agus juga mengajak seluruh warga persyarikatan untuk menyeragamkan pemahamannya seputar perjuangan yang tengah dilakukan. Gelaran Sekolah Kader Tarjih Muhammadiyah ini, imbuh Agus, sebagai usaha mewujudkannya. “Ikhtiar yang tengah dilakukan Muhammadiyah justru tidak tersosialisasikan dengan baik di kalangan warga persyarikatan sendiri. Misalnya inisiasi Muhammadiyah yang memotori penanggalan global,” ungkapnya. Sementara, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin saat turut memberikan sambutan menerangkan, salah satu tantangan saat ini adalah bagaimana memperbanyak dan memperkuat kader. Gelaran Sekolah Kader Tarjih Muhammadiyah dinilai Syamsul lebih strategis dan produktif untuk mewujudukan cita-cita tersebut. “Hal ini sejalan dengan UMM yang memposisikan dirinya sebagai sekolah pengkaderan,” tukasnya. Dalam gelaran 2 hari ini, peserta mendapatkan 8 materi, di antaranya Astronomi untuk Hisab-Ru’yah, Penentuan Awal Bulan Qomariyah, Penentuan Awal Bulan Qomariyah Perspektif Ormas-Ormas Islam, Manhaj Tarjih dan Studi Ushul Fikih, serta materi Paham Agama Menurut Muhammadiyah di hari pertama. Sementara di hari kedua, peserta mendapat pemahaman seputar Manhaj Tarjih, Studi Al Quran dan Al Hadits dalam Muhammadiyah, serta Praktik Istinbath Hukum Islam. (can/han)