Rector Cup UMM 2017 Resmi Dibuka, Mahasiswa Siap Rebut Piala Rektor

KOMPETISI tahunan di bidang olahraga, seni, dan penalaran untuk memperebutkan piala Rektor kembali digelar. Secara resmi, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka ajang Rektor Cup pada Sabtu (4/3) di dome UMM. Pada gelaran kali ini, Rektor Cup mengambil tema “Aktualisasi Mahasiswa sebagai Penguat Daya Saing Bangsa”.  Hal ini disebutkan ketua pelaksana Rektor Cup Drs. Wiyono MM sebagai simbol bahwa melalui karya-karya dan kompetisi, mahasiswa akan digembleng untuk bersaing secara positif. “Pada ajang ini mahasiswa diberikan tempat yang seluas-luasnya untuk mengekpresikan bakat dan minatnya,” jelas Wiyono. Rektor UMM Fauzan dalam pembukaannya berpesan agar tiap-tiap fakultas mengedepankan persaudaraan, bukan permusuhan. “Yang terpenting bukan memenangkan pertandingan dengan mengorbankan lawan, tapi selalu kedepankan dimensi sosial dan kemanusiaan. Junjung tinggi sportivitas dan rasa saling menghargai, tetap satu atap sebagai mahasiswa UMM,” ungkapnya. Setelah resmi dibuka dengan pemukulan gong, Fauzan menerima piala bergilir dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) sebagai juara umum Rektor Cup tahun lalu. Piala inilah yang akan diperebutkan oleh 10 fakultas pada tahun ini. Rektor juga mengambil nomor undian tim voli yang akan bertanding di dome segera setelah kegiatan pembukaan tersebut. Rektor Cup akan  diselenggarakan pada 4 Maret hingga 29 April mendatang.  Mahasiswa dari 10 fakultas di UMM akan berkompetisi di 25 cabang olahraga, seni, dan penalaran. Bahkan, Fauzan menambahkan, tim yang memenangkan cabang olahraga tertentu akan bertanding melawan tim dosen dan karyawan. “Kembangkan solidaritas, junjung tinggi sportivitas, hargai yang terbaik,” pungkas Rektor. (ich/jal)

Fasilitasi Mahasiswa dan Dosen Belajar Bahasa Inggris, UMM Hadirkan Toastmaster

DALAM rangka memfasilitasi mahasiswa dan dosen meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya, American Corner Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan sebuah organisasi non profit yang bergerak di bidang komunikasi dan kepemimpinan, Toastmasters Indonesia menggelar kelas di American Corner UMM (4/3). Kepala American Corner Dr. Habib MA menyatakan, Toastmasters merupakan organisasi yang sangat menunjang setiap mahasiswa bahkan dosen untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Menurut Habib, mahasiswa maupun dosen masih sangat perlu untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris setiap waktu. “Saya dulu 20 tahun berdiam di Amerika, dan sekarang masih perlu ditingkatkan juga dengan forum seperti ini,” jelasnya. Sebelumnya UMM pernah melakukan kerjasama serupa pada 2008 lalu.  Habib juga menjelaskan, Toastmasters merupakan kelas yang sangat jarang bisa diadakan di universitas. Untuk saat ini, di Malang hanya Universitas Ma-Chung yang mengadakan Toastmasters secara rutin. “UMM akan segera mengadakan juga, tapi tergantung animo dari mahasiswa dan dosen,” imbuh Habib. Habib mengharapkan animo mahasiswa dan dosen untuk mempelajari bahasa Inggris tinggi. Ke depannya, lanjut Habib, akan diakan toastmasters untuk memfasilitasi mahasiswa dan dosen agar terbiasa berbicara menggunakan bahasa Inggris. “Terkadang kita berbicara tidak seluruhnya benar. Grammar misalnya, dalam berbicara masih sering kita kurang tepat penggunaan grammarnya. Jadi perlu dilatih dari sini,” ungkap Habib. Senada dengan Habib, Asisten rektor bidang kerjasama UMM Soeparto menyatakan, Toastmasters merupakan komunitas yang mengajarkan banyak tentang berbicara di depan umum. “Perlu kebiasaan dan lingkungan yang bagus agar public speakingnya semakin bagus,” kata Soeparto. Dalam public speaking, lanjut Soeparto, setiap orang benar-benar dapat mengatur publik sekaligus dapat mengatur apa yang akan dibicarakan. “Ini perlu untuk kebutuhan internasional yang saat ini juga sedang digencarkan kampus,” jelasnya. (jal/can)

UMM Inisiasi Penerapan Smart Village di Jawa Timur

MELALUI kerjasama dengan organisasi jaringan pemuda internasional Head, Heart, Hands, and Health (4H) Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi inisiator dalam mewujudkan smart village yang akan diterapkan di sejumlah daerah di Jawa Timur dalam waktu dekat. Presiden 4H Indonesia Prof. Laode Masihu Kamaluddin, M. Sc, M. Eng dalam lawatannya ke UMM Jumat (3/3) menerangkan, smart village merupakan gagasan yang sudah dilakukan di berbagai negara. Ia menyebutkan, Amerika Serikat, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Thailand dan beberapa negara di Eropa sudah menerapkan sistem smart village ini. Dalam konsepnya, Perguran Tinggi (PT) secara aktif dilibatkan dalam mewujudkan smart village tersebut. “PT diberi tanggungjawab penuh untuk melakukan smart village,” jelas Laode. Tidak bekerja sendiri, PT juga harus menggandeng pengusaha, pemerintah dan juga masyarakat untuk menjalankan program tersebut. Tujuannya dibangun smart village untuk mensejahterakan masyarakat desa. Targetan yang paling sederhana, setiap kepala keluarga di satu desa berpenghasilan 6,6 juta per bulan. “Dalam satu desa nantinya akan memiliki 4 sumber penghasil uang seperti sawah, peternakan sapi, green house dan desa wisata,” ungkapnya di hadapan seluruh kepala program studi dan jajaran dekanat seluruh fakultas. Dengan memaksimalkan seluruh fasilitas yang semuanya dibuat oleh masyarakat desa itu sendiri, maka desa secara mandiri akan menjadi desa wisata yang bakal menaikkan penghasilan warga desanya. “Selain itu, investor maupun pengusaha dapat tertarik datang ke desa untuk menanamkan modalnya,” jelas Laode yang merupakan Rektor Universitas Lakidende (Unilaki) itu. Dengan ekonomi yang mandiri, masyarakat desa dapat dengan sendirinya membangun desa. Jika setiap desa menerapkan sistem smart city itu, maka di dalam desa paling tidak uang akan berputar di dalam desa sebesar 23,8 Miliar per tahun. Program smart village ini juga mendapat dukungan dari Direktorat Peningkatan Saran dan Prasarana Kementerian Desa RI. Dalam kesempatan tersebut juga ditandatangi nota kesepahaman (MoU) antara UMM dan 4H Indonesia. Kerjasama yang dilakukan yaitu membangun sinergi dalam kegiatan pengembangan pemuda, ketahanan pangan dan pedesaan di Jawa Timur. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Fauzan menyatakan, UMM akan mendukung program tersebut lewat kebijakan pengembangan program kemahasiswaan yang mencintai desa dan mengembangkan pedesaan. Selain itu, UMM akan mendukung sarananya, baik pengetahuan maupun teknologi di bidang pertanian, serta pengembangan tanaman pangan. “UMM akan mendorong mahasiswa untuk mengabdi pada masyarakat khususnya di desa dan di bidang pertanian,” ungkap Fauzan. (jal/can)

UMM Fokus Bangun Ikon Berbasis SDM

SEBANYAK 47 dosen kontrak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti Capacity Building and Commitment Training yang diadakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) UMM selama 2 hari, Jumat hingga Sabtu (3-4/3). “Saudara bekerja di UMM itu harus dengan iklim kerja yang menggembirakan dan menyenangkan, karena lewat iklim kerja yang demikian akan muncul kreativitas dan inovasi,” kata Fauzan saat membuka acara di Ruang Sidang Senat UMM, Jumat (3/3). Selain membangun ikon fisik berupa bangunan serta memperindah lingkungan kampus, UMM juga tengah berupaya membangun ikon berbasis Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu bentuk implementasinya yakni melalui pemetaan kepakaran dan akselerasi guru besar. “Dosen muda juga harus mulai memikirkan dirinya mau dispesifikasikan ke kepakaran apa. Jadi mulai sekarang perbanyaklah menulis, baik buku maupun penelitian,” ujar Fauzan. Fauzan juga berpesan kepada seluruh peserta untuk menyegerakan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Fauzan menekankan, sedapat mungkin para dosen dapat menempuh pendidikan di luar negeri. “Saya menjamin, kalau Saudara mendapat beasiswa di luar negeri, Saudara bakal langsung diangkat menjadi dosen tetap,” ungkapnya. Sementara itu, Kepala BPSDM, Prof. Dr. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si menerangkan, tujuan diselenggarakannya kegitan ini antara lain diharapkan  dosen muda dapat saling mengenal antara satu dengan lainnya. Tak kalah penting, gelaran tersebut juga sekaligus meningkatkan solidaritas sebagai bagian dari corps dosen UMM. “Muaranya, diharapkan saudara-saudara sekalian juga dapat meningkat loyalitasnya kepada Muhammadiyah utamanya kepada UMM,” katanya. Dilanjutkan Jabal, tujuan lain diselenggarakannya kegiatan ini yakni membekali seluruh dosen kontrak dengan berbagai pengetahuan peningkatan kapasitas serta pembangunan komitmen kerja di UMM. Di hari pertama, peserta dibekali sejumlah materi berkaitan spirit membangun keloyalitasan pengabdian di Muhammadiyah dan UMM. Di hari berikutnya, peserta dibekali materi pengembangan kompetensi personal dan sosial lewat kegiatan outbond yang diadakan di Apple Sun Training Center, Kota Batu. Kegiatan dikemas lewat konsep edutainment atau proses pembelajaran yang memadukan antara muatan pendidikan dan hiburan secara harmonis, sehingga aktivitas pelatihan berlangsung menyenangkan.(can/ich)

Terima Dana PHBD, UKM FDI UMM Kembangkan Pantai Ungapan

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) terus mendorong civitas akademikanya untuk mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Setelah Kampung Warna Warni Jodipan garapan mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi UMM, kini giliran Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Ilmiah (UKM FDI) yang melakukan pengabdian kepada masyarakat lewat pemanfaatan keunikan salah satu destinasi wisata di Malang Selatan yaitu Pantai Ungapan. Ketua tim pengabdian masyarakat UKM FDI, Agung Kariono menjelaskan, pengabdian masyarakat tersebut terselenggara karena bantuan dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Belmawa Ristekdikti) melalui programnya yaitu Program Hibah Bina Desa (PHBD). “Dari 300 proposal yang masuk ke Belmawa Ristekdikti hanya 120 tim yang lolos termasuk salah satunya UKM FDI ini,” jelas Agung, sapaan akrabnya. Belmawa Ristekdikti, lanjut Agung, memberikan dana kepada UKM FDI sebesar 40 juta untuk melakukan pengabdian di tempat yang sesuai dengan proposal, yaitu Pantai Ungapan.  Berdasarkan hasil survey, Pantai Ungapan merupakan satu satunya pantai yang menjadi pertemuan antara laut dan sungai. Muara tersebut biasanya dimanfaatkan oleh wisatawan untuk berenang karena arusnya yang tidak terlalu deras. Selain itu, Agung juga menjelaskan Pantai Ungapan merupakan destinasi wisata yang tidak terawat dengan baik awalnya. Sampah berserakan, dan tepi pantai terlihat sangat kotor. Akibatnya wisatawan enggan singgah ke pantai tersebut. “Akhirnya kami berfokus pada pengolahan limbah yang dapat menaikkan perekonomian masyarakat di sekitar pantai,” ungkap mahasiswa prodi Teknik Industri UMM tersebut. Lewat program “Limbahku Berkahku”, UKM FDI melakukan berbagai program untuk meningkatkan jumlah wisatawan. “Kalau tidak ada wisatawan otomatis tidak ada yang membeli ke warung-warung warga, maka dari itu kami membuat strategi untuk meningkatkan perekonomian dengan pengolahan sampah,” jelas Agung. Beberapa program yang dilakukan di antaranya pelatihan pengelohan sampah dan penerapannya. Pengelohan sampah yang dilakukan yakni menjadikan sampah yang ada di pesisir pantai menjadi pupuk tanaman. Selain itu, untuk menarik kembali pengunjung dibuatlah ikon baru untuk pantai tersebut. Tulisan “Pantai Ungapan” dengan warna merah berdiri di daerah pesisir pantai. Dengan dipasangnya ikon tersebut, wisatawan lebih tertarik lagi datang ke Pantai Ungapan karena ikon tersebut dapat terlihat dari ujung jalan. Tidak hanya pantai yang direvitalisasi, UKM FDI juga memperbaiki tempat wisata Gunung Getun yang berdekatan dengan pantai. Menaiki Gunung Getun tidak terlalu sulit, tingginya hanya 50 meter. Dari atas Gunung Getun dapat terlihat bentang pemandangan disekitar Pantai Ungapan dan Pantai Bajul Mati.  “Kami juga memasang ikon dengan tulisan ‘Gunung Getun’ di atasnya, jadi wisawatan tertarik naik dan berfoto diatas gunung,” imbuh mahasiswa asli Malang tersebut. (jal/can)

Bangun Iklim Wirausaha, UMM Hadirkan Pengusaha Sukses

DALAM rangka memberikan contoh nyata wirausaha pada mahasiswa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak sekedar mengembangkan infrastruktur di lingkungan kampus. Lebih dari itu,  UMM juga mengembangkan income center di berbagai bidang. Salah satu tujuannya, agar bisa membangun iklim wirausaha bagi mahasiswa sekaligus sebagai pendukung bagi  yang hendak memulai berwirausaha. Demikian disampaikan Rektor UMM Fauzan dalam kuliah tamu yang dihadiri Deputi Bidang SDM Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI, Prakoso Budi Susetyo, SE, MM. Kuliah tamu bertema “Membangun Wirausaha Muda” ini digelar di Theater Dome UMM, Kamis (23/2). Tak hanya itu, UMM juga kerap menghadirkan pengusaha-pengusaha nasional untuk memberikan semangat dan teladan pada mahasiswa dalam bidang kewirausahaan. Prakoso Budi Susetyo, dinilai sebagai salah satu pengusaha yang mampu memberikan semangat itu. Pria yang tetap bergaya muda di usianya tersebut ‘terpaksa’ memulai wirausaha karena orangtuanya meninggal saat ia masih sekolah. Ia memulai dengan membongkar mobil lalu merakitnya kembali. Sejak itulah, bidang otomotif menjadi bisnis yang ditekuninya hingga saat ini. “Sebagai mahasiswa UMM, penghasilan di bawah 10 miliar harusnya sudah biasa,” ujar Budi. Hal ini lantaran menurutnya, jumlah mahasiswa aktif UMM yang mencapai angka 30.000 merupakan lahan strategis untuk berwirausaha. Dalam kesempatan ini, Budi juga berbagi tips untuk memulai atau mengembangkan wirausaha. Budi menganalogikan, sebagai wirausahawan, tangan harus mau kotor. Artinya, tidak perlu bergaya seorang bos bila belum menjadi bos sesungguhnya. Selain itu, wirausahawan juga mesti mau memberi saran pada pelanggan dan yang paling penting ialah menyisihkan pendapatan untuk mereka yang kurang mampu. “Jangan lupa sisihkan, makin besar disisihkan, akan makin kaya,” pesannya. Rektor UMM Fauzan menambahkan, UMM memberi kesempatan pada mahasiswa untuk melakukan penelitian dan memamerkan produk usahanya. Syaratnya pun tak sulit, yakni tercatat sebagai mahasiswa di atas semester 2, memiliki riset unggulan dan rekayasa teknologi. Kemudian akan ada reviewer dari dosen sebelum dipamerkan. Fasilitas lainnya, UMM juga menghadirkan pelaku industri yang akan memberikan saran padaproduk mahasiswa itu.Program ini akan dimulai pada tahun ajaran 2017-2018 mendatang. “UMM akan beri wadah dan hak paten. Selain punya penghasilan, mahasiswa juga tak perlu garap skripsi kalau bisa membuat wirausaha seperti ini,” ujar Fauzan disambut tepuk tangan mahasiswa. Fauzan menegaskan, mimpi besarnya adalah mahasiswa UMM sudah menjadi orang hebat, baik saat menjadi mahasiswa maupun setelah lulus. “Mahasiswa bisa kaya sebelum lulus, itu salah satu mimpi besar saya,” pungkas Fauzan. (ich/jal)

Tingkatkan Kualitas SDM, FIKES UMM Gandeng TMU untuk Program Magister dan Doktoral

FAKULTAS Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di lingkungan fakultasnya. Salah satunya dengan bekerjasama dengan Taipei Medical University (TMU) dalam program magister dan doktoral. Dengan menggandeng TMU, FIKES UMM mengirimkan dosennya untuk belajar lebih lanjut dalam bidang studi ilmu kesehatan. Hal tersebut disampaikan saat presentasi beasiswa dari TMU, Senin (27/2) di Auditorium UMM. Dekan FIKES UMM, Yoyok Bekti Prasetyo, S. Kep, M. Kep, Sp. Kom menyatakan, presentasi beasiswa ini merupakan tindaklanjut dari kunjungan UMM ke TMU pada November 2016 lalu. TMU merespon positif, sekaligus tertarik bekerjasama dengan UMM dikarenakan sudah ada dosen UMM yang belajar di universitas swasta tertua di  Taiwan tersebut. Dengan berangkatnya dosen FIKES UMM untuk berlajar  di TMU semakin memperkuat SDM di lingkungan fakultas. Sebanyak 11 dosen nantinya akan dikirim ke TMU untuk kemudian menempuh studi magister dan doktoral. “Semua terdiri dari program studi Farmasi, Keperawatan dan Fisioterapi,” jelas Yoyok. Bukan tanpa alasan memilih TMU sebagai tempat tujuan, lanjut Yoyok, ada beberapa kelebihan dan kesamaan antara TMU dan UMM. Konsentrasi TMU sangat jelas yaitu fokus di bidang kesehatan. Entah itu kesehatan masyarakat, keperawatan, fisioterapi,  dan beberapa disiplin ilmu kesehatan lainnya. “Selain itu, TMU merupakan universitas dengan peringkat 47 se Asia dan peringkat 122 di QS World University Rangking,” ungkap Yoyok. Dalam kesempatan tersebut juga dilangsungkan proses wawancara dosen FIKES UMM yang akan melanjutkan studinya di TMU. “Proses wawancara dilangsungkan hari ini juga, dan nantinya yang lolos akan diumumkan dan langsung mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari TMU hari ini juga,” imbuhnya. Selain presentasi beasiswa  dan rekrutmen, dilangsungkan juga kuliah tamu oleh TMU yang diwakili oleh  Prof Ya-Wen Chu dari College of Public Health and Nutrition. Salah satu yang banyak diuraikan Ya-Wen Chiu adalah peralihan dari Millenium Developmental Goals (MDGs) menuju Sustainable Developmental Goals (SDGs). MDGs. Dalam hal ini, Ya-Wen Chiu membahas lebih dalam mengenai keprihatinannya perihal angka kematian pasca melahirkan yang tinggi di sejumlah negara. Menurutnya, sebagian besar kematian ibu disebabkan oleh beberapa hal, seperti pendarahan, komplikasi, atau penyakit berbahaya semisal malaria dan HIV. “Latar belakang peningkatan kematian ibu, yakni memiliki banyak anak, rendahnya tingkat pendidikan, usia yang terlalu muda atau terlalu tua saat hamil dan melahirkan, atau mengalami diskriminasi gender,” jelasnya dihadapan mahasiswa FIKES dan FK UMM. (jal/can)

Istimewa! Wisuda Ke-83 UMM Dihadiri 2 Menteri dan Sederet Tokoh Bangsa Sekaligus

PERHELATAN wisuda ke-83 periode I tahun 2017 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terbilang istimewa. Pasalnya sejumlah tokoh bangsa hadir dalam gelaran yang mengukuhkan 947 wisudawan dari program diploma, sarjana, dan pascasarjana ini. Di antaranya Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Dr. (HC) Susi Pujiastuti untuk memberikan orasi. Selain Susi, wisuda juga dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan , Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang juga ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. H.A. Malik Fadjar, CEO CT Group Dr. (HC) Chairul Tanjung, serta Komisaris Utama Bank Mega Syariah,  Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh yang merupakan mantan Menteri Pendidikan Nasional Indonesia tahun 2009 hingga 2014. Dalam orasi ilmiahnya Susi menyampaikan, kedaulatan ekonomi kelautan adalah harga mati bagi bangsa Indonesia. Mengutip pernyataan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Susi menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi memunggungi lautan. “Air dan lautan adalah masa depan bangsa Indonesia. Berbicara masa depan itu bukan tentang bicara anak-cucu kita saja, tapi anak dan cucu dari anak-cucu kita. NKRI tidak boleh hilang dalam masa seratus tahun pun,” kata Susi di hadapan para wisudawan dan orang tua wisudawan. Indonesia yang wilayahnya 2/3 adalah air atau lautan telah mengklaim dirinya sebagai agriculture country. “Kita membangun dengan skenario land base development. Kita lupa bahwa 70 persen wilayah kita adalah air. Perbatasan yang membatasi serta melindungi kedaulan negara kita adalah 99,7 persen juga air,” ujar Susi. Karena skenario yang salah dan ide yang tidak sesuai dengan fakta geografis Indonesia, membuat Indonesia jauh tertinggal dalam pembangunan dunia kemaritiman. “Bahkan lebih parah lagi, selama beberapa dekade, ribuan kapal-kapal dari negeri tetangga sehari-harinya melaut dan mengambil ikan serta sumber daya laut Indonesia.  Kita seolah membiarkan,” tegas Susi. Hasil sensus pada 2003 sampai 2013 menunjukan bahwa angka rumah tangga nelayan Indonesia turun dari sebelumnya 1 juta 6 ratus, hanya tinggal menjadi 800 ribu saja. Sehingga jika diprosentasikan pendapatan rumah tangga nelayan hilang 50 persen. “Karena hidup sebagai nelayan, sudah tidak lagi mencukupi atau mendapatkan hasil yang bisa untuk menopang hidup. Karena ikannya makin tidak ada,” imbuh Susi. “Jadi ilegal unreported dan unregulated fishing ini telah terjadi bertahun-tahun. Tidak pernah ada industri perikanan di Indonesia timur jalan karena pabriknya hanya pabrik bangunan saja, sementara kapal ikan langsung tangkap, langsung bawa pergi saja,” ujar Susi. Dengan demikian, peran serta ilmuan-ilmuan, tokoh masyarakat termasuk para sarjana untuk melakukan visibility study, bagaimana membuat agar Indonesia sebagai central gravity itu dapat terlaksana. “Tentu kita juga perlu banyak terobosan-terobosan baru,” ungkap Susi. Sementara itu, pendiri dan pemilik CT Corp Chairul Tanjung memberi kiat sukses menghadapi segala bentuk ketidakpastian yang musti dihadapi para lulusan UMM dalam menghadapi era revolusi 4.0 atau revolusi industri ke-4.  Menurutnya, pesatnya kemajuan teknologi dan informasi bisa jadi merupakan salah satu ancaman bagi kemajuan sumber daya manusia Indonesia. “Bayangkan, sebentar lagi manusia akan digantikan oleh robot. Pekerja pabrik tidak akan dibutuhkan lagi, karena robot akan menggantikannya. Bahkan peran suami atau istri bisa digantikan oleh robot,” kata Chairul. Untuk bisa menang dalam persaingan, lanjut Chairul, yang dibutuhkan oleh para lulusan adalah inovasi, kreativitas, dan interpreneursip. Tanpa ketiganya kita tidak akan menang dalam persaingan,” ujar Chairul. Gelaran penting tersebut sekaligus dilakukan penandatanganan naskah kerjasama antara UMM dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia tentang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di Bidang Kelautan dan Perikanan. Serta, penandatangan naskah kerjasama  antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tentang Pengembangan Sumber Daya bidang kelautan dan perikanan melalui pendidikan dan kebudayaan.  Terkait kehadiran pendiri sekaligus pemilik CT Corp, UMM memanfaatkan momen tersebut dengan turut serta membangun sinergi bisnis antara keduanya. Susi Pudjiastuti dan Chairul Tanjung sekaligus dikukuhkan sebagai keluarga besar UMM yang ditandai dengan penyematan jas almamater UMM. (can/rina)

Pesan Din Syamsudin di UMM Jelang Tanwir Muhammadiyah

KETUA Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015 Prof. Dr. Din Syamsudin, MA  menekankan pentingnya memperteguh watak gerakan Islam moderat Muhammadiyah di tengah pergulatan ideologi-ideologi dunia. Hal itu disampaikan Din saat dirinya didaulat sebagai pembicara kunci dalam gelaran Seminar Pra-Tanwir di Auditorium BAU UMM, Rabu (22/2). Belakangan, dunia tengah dihadapkan pada situasi yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai great disruption atau gangguan besar. Terutama karena adanya kerusakan-kerusakan yang bersifat akumulatif dalam kehidupan dunia. “Baik kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketidakadilan, kesenjangan, sampai kekerasan dalam segala bentuknya, termasuk juga kegoncangan cultural tsunami atau banjir budaya,” sebut Din. Demikian juga, perang ideologi yang mengajawantah pada perang budaya adalah situasi yang niscaya terjadi, termasuk dalam internal sebuah agama. Terutama terkait dengan perbedaan pemahaman tentang adanya ajaran-ajaran beragama yang melahirkan madzhab-madzhab maupun aliran-aliran yang berbeda. “Adalah karena kitab suci termasuk al Quran menurut saya memiliki watak ambivalen, yakni ayat-ayatnya dapat ditafsirkan. Ada ayat-ayat yang cenderung ditafsirkan dalam konteks yang positif, dan juga ada ayat-ayat yang cenderung dipahami secara negatif,” imbuh Din. Din berpesan, sebagai organisasi masyarakat Islam yang mendeklarasikan diri sebagai gerakan wasathiyah, Muhammadiyah diharapkan mampu memberikan solusi lewat jalan-jalan moderat atau konstitusional, bukan jalan yang ditempuh oleh gerakan ekstrimis Islam. Sementara itu, Tanwir yang merupakan lembaga musyawarah tertinggi Peryarikatan Muhammadiyah setelah Muktamar akan mengangkat tema ‘Kedaulatan dan Keadilan Sosial Menuju Indonesia Berkemajuan’. Menyinggung pelaksanaan sidang Tanwir Muhammadiyah Din berharap, warga Muhammadiyah tetap pada pengembalian pemahaman Islam moderat yang selama ini dinilai Din sudah baik.  Sementara, kolokium dalam rangka menyambut Tanwir Muhammadiyah di Ambon 24-26 Februari 2017 mendatang itu mengahadirkan sejumlah pembicara. Di antaranya, Prof. Syafiq A. Mughni dipanel dengan Prof. Dr. Masdar Hilmy yang membahas materi ‘Peneguhan Identitas Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Moderat’. Di sesi kedua, seminar sehari ini juga menghadirkan Prof. Dr.  Munir Mulkhan, Dr. Sugiarti, M.Si, Dr. Budi Suprapto, M.Si. yang membahas materi ‘Muhammadiyah dan Kedaulatan Kebudayaan di Zaman Revolusi Digital’. (Humas UMM)

Ignasius Jonan: UMM Kampus Pelopor Penerapan EBT

KONTRIBUSI Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus pelopor Energi Baru dan Terbarukan (EBT) diapresiasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) Ignasius Jonan. Hal itu disampaikan Jonan pada perhelatan kuliah umum dan workshop bertajuk “Capacity Building Energi Terbarukan” yang merupakan rangkaian acara Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang ESDM Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah se-Indonesia di UMM, Selasa (21/2). Dijelaskan Jonan, EBT dilaksanakan untuk menurunkan harga listrik agar dapat dijangkau masyarakat kecil. Saat ini, kata Jonan, setidaknya terdapat 2.500 desa di Indonesia yang belum teraliri listrik. Selain itu, sebanyak 350 ribu rumah juga belum bercahaya saat malam hari. “Pada 2017 ini pemerintah menargetkan 95.729 rumah di Indonesia bagian timur teraliri listrik. Sementara pada 2018 mendatang, listrik akan dialirkan ke 255.250 rumah di 15 provinsi di Indonesia,” terang Jonan. Jonan berharap, Pemuda Muhammadiyah dapat bersinergi dengan pemerintah untuk mensosialisasikan program tersebut. “Jika Pemuda Muhammadiyah ingin membantu kami mensosialisaikan program itu  ke 250 ribu desadi Indonesia, maka kami siap anggarkan dananya,” imbuh Jonan. Menjawab tantangan Jonan, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan siap membantu pemerintah mensosialisasikan program strategis Kementerian ESDM itu. “Dari workshop ini juga akan lahir gerakan pemuda sadar energi yangkami sebut dengan Mujahid Sadar Energi,” imbuh Dahnil dalam sambutannya. Sebagai bentuk tindak lanjut dari pelaksanaan workshop ini, Pemuda Muhammadiyah juga akan menjadikan beberapa desa sebagai percontohan untuk menggunakan EBT berupa PLTMH. Di sisi lain, Rektor UMM Fauzan menjelaskan, dalam bidang energi UMM telah mendapatkan pengakuan internasional di tingkat Asia berupa ASIAN Energy Award. Dengan adanya PLTMH, biogas dan pembangkit listrik tenaga matahari (solar cell), dapat turut membantu mengurangi biaya operasional perkuliahan mahasiswa UMM. (lil/can)