China Corner UMM Sediakan Beasiswa Summer Camp Hingga Master dan Doktor

BELUM genap setahun berdiri, tepatnya pada Mei 2016, China Corner UMM telah menunjukkan kiprah pentingnya. Lembaga ini menjadi wadah bagi mahasiswa UMM yang ingin belajar tentang budaya Tiongkok maupun melanjutkan pendidikan ke Negeri Tirai Bambu tersebut. Kepala Kantor Hubungan Luar Negeri (KHLN) UMM Dr Abdul Haris MA mengungkapkan, program inti China Corner ialah memberi beasiswa pada mahasiswa melalui summer camp hingga program studi lanjut, master dan doktor. Syaratnya pun tak rumit, yaitu terdaftar sebagai mahasiswa Confusius Institute, dengan ikut belajar bahasa Mandarin di China Corner sampai mengantongi sertifikasi pada level tertentu. Untuk summer camp, target yang harus dicapai yaitu level 2, percakapan sehari-hari. Sedangkan untuk program master atau doktor, targetnya level 4, meliputi percakapan akademik. Terkait summer camp, mahasiswa UMM diberi kesempatan belajar bahasa dan kebudayaan Tiongkok secara langsung di negaranya selama satu bulan. “Mahasiswa semester 1 sampai 4 bisa mengikuti kursus hingga level 2 untuk bisa ikut summer camp. Tapi, untuk mahasiswa di atas semester 6 tidak ada salahnya mengikuti kursus hingga level 4, sehingga begitu skripsi selesai dan lulus sarjana, bisa langsung berangkat ke Tiongkok untuk program master,” urai Haris. Sementara itu koordinator China Corner Karina Sari menuturkan, pertengahan tahun ini China Corner akan memberangkatkan sekitar 50 mahasiswa ke Tiongkok dalam program Summer Camp. “Ini luar biasa. Belum ada setahun China Corner berdiri, sudah mampu menyiapkan 50 mahasiswa untuk berangkat di Cina. Sebelum berangkat, pada Maret nanti mereka akan menjalani tes akhir dari kursus yang mereka ikuti,” imbuh Karina. Kursus bahasa Mandarin ini dibimbing secara langsung oleh pengajar dari Confusius Institute yang merupakan yayasan milik pemerintah yang diketuai langsung oleh wakil presiden Republik Rakyat Tiongkok. “Seminggu dua kali pertemuan. China Corner menyiapkan jadwal, mahasiswa bisa menyesuaikan jadwalnya,” imbuh Karina. (ich/han)

UMM Segera Gelar Kompetisi Pengetahuan Tiongkok

DALAM waktu dekat, China Corner UMM akan menggelar The First Chinese Bridge Competition, yakni lomba pengetahuan umum Tiongkok untuk pelajar SMA sederajat se-Indonesia. Sama halnya dengan lomba pengetahuan umum Tiongkok yang digelar November 2016 lalu, sistem lomba ini pun melalui jalur online.  Rencananya, menurut koordinator China Corner Karina Sari, kompetisi ini akan diadakan dua bulan, mulai Februari hingga April 2017. Hadiahnya tak tanggung-tanggung, 20 peserta dengan skor tertinggi akan mendapatkan kesempatan mengunjungi Tiongkok selama sepuluh hari. Sebelumnya, pada kompetisi serupa yang digelar Konsulat Jenderal China di Surabaya akhir tahun lalu, tiga mahasiswa UMM berhasil meraih juara pertama dan ketiga. Bahkan, UMM juga meraih juara untuk kategori perguruan tinggi dengan peserta lomba terbanyak, yakni 332 mahasiwa. Lantaran sejumlah gelar tersebut, UMM berhasil menjadi juara umum pada kompetisi yang diikuti 20 universitas terpilih se-Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali dan NTT. Dalam hal ini peran China Corner UMM sangat signifikan, karena telah membangun atmoster positif bagi mahasiswa untuk mengenal khazanah kebudayaan China. Dijelaskan Karina, China Corner memang didirikan sebagai jembatan mahasiswa UMM untuk belajar ke Tiongkok dan sebaliknya, bagi mahasiswa Tiongkok yang ingin menimba ilmu di UMM. Beruntungnya, ruang lingkup China Corner lebih luas dibandingkan corner-corner lain yang telah terbentuk lebih dulu di UMM. Hal ini lantaran China Corner berada langsung di bawah Confusius Institute, pengawasan kedutaan, dan boleh mengadakan perjanjian kerjasama dengan kampus-kampus di China secara langsung. Di samping itu, China Corner juga diberi keleluasaan untuk mengembangkan sayap. “China Corner hadir sebagai pintu yang siapa saja bisa menggunakannya. Manfaatkan, ambil ilmunya, dan tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Semuanya gratis karena beasiswa,” tukas Karina. (ich/han)

Jelang Semester Genap, Mahasiswa Asing UMM Ikuti Orientasi

SEBANYAK 23 mahasiswa asing program Learn and Teach mengikuti Orientation Day di auditorium Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (8/2). Mereka berasal dari 11 negara, yakni Polandia, Portugal, Ukraina, Turki, Spanyol, Slovakia, Tiongkok, dan Rumania. Berbeda dengan program lainnya yang sebagian besar dimulai pada semester ganjil, program Learn and Teach kali ini dimulai pada semester genap. Mereka akan menjadi bagian dari UMM selama 6 hingga 12 bulan. Di sini, selain mendalami bahasa Indonesia di unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, mereka juga berkesempatan membagi ilmunya dengan mahasiswa UMM mengingat kebanyakan mereka berkualifikasi master. Asisten Rektor UMM Bidang Kerjasama, Soeparto, menyambut gembira kedatangan para mahasiswa tersebut. “Selamat datang di Indonesia, selamat datang di UMM,” ujarnya. Selain diperkenalkan dengan UMM dan prestasi-prestasinya, para mahasiswa ini juga dibekali sistem pembelajaran di UMM, informasi perihal keimigrasian, dan yang terpenting, yaitu budaya hidup masyarakat Indonesia, khususnya Malang. Mengenai hal ini, Soeparto mengapresiasi cara berpenampilan mereka. “Dulu saya pernah memberikan teguran pada mahasiswa asing belum beradaptasi dengan cara berpakaian di Indonesia. Terima kasih, hari ini teman-teman memakai pakaian yang rapi dan menyesuaikan dengan budaya UMM sebagai kampus Islam,” terang Soeparto diiringi senyum mahasiswa. Disebut Soeparto, ini merupakan salah satu upaya mempercepat rekognisi internasional UMM, yakni memperbanyak mahasiswa asing yang fasih berbahasa Indonesia. Selain itu, meningkatnya jumlah mahasiswa asing yang menempuh studi di Indonesia juga menjadi salah satu indikator internasionalisasi kampus. (ich/han)

Raker FKIP: Mantapkan Pelaksanaan KPT, Dorong Internasionalisasi

SELAMA tiga hari (5-7/2) di Kawasan Wisata Pantai Senggigi Lombok, sebanyak 80 dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan Rapat Kerja (Raker) Tahunan. Raker difokuskan pada Penyusunan Capaian Pembelajaran (CPL) dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT). Pada kesempatan ini, juga dilakukan sosialisasi block grant penelitian dan pengabdian masyarakat tahun 2017-2018. Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi yang turut hadir pada kegiatan ini menegaskan, penyusunan CPL dan RPS yang dilakukan FKIP ini harus terus didorong sebagai upaya internasionalisasi fakultas dan universitas. “Sumber Daya Manusia (SDM) harus menjadi fokus penting, agar rasio dosen-mahasiswa ideal. Harus juga diperhatikan peningkatan kualitas dosen dengan kualifikasi doktor dan guru besar, dan bertambahnya publikasi internasional yang terindex scopus,” jelas Syamsul. Sementara itu Dekan FKIP UMM Dr Poncojari Wahyono MKes menjelaskan, perubahan penerapan kurikulum ini tentu menjadi langkah strategis FKIP sebagai pelopor pelaksanaan KPT di UMM. Dengan adanya CPL, maka standarisasi bahan kajian, proses pembelajaran, dan evaluasi menjadi lebih terukur. Poncojari menambahkan, dengan terlaksananya KPT tahun ini, berarti mahasiswa dapat menyelesaikan perkuliahannya pada semester 7. “Beberapa mata kuliah dilebur menjadi mata kuliah baru, sehingga jumlah SKS yang ditempuh semakin singkat,” ungkap doktor di bidang Biokimia ini. Pada sesi pemaparan RPS masing-masing prodi, semua prodi menyatakan siap memgimplementasikan KPT dengan jumlah SKS antara 140-146. Untuk pengembangan fakultas, pengelolaan dibagi menjadi tiga bidang, yaitu bidang 1 (akademik), bidang 2 (manajemen dan infrastruktur) dan bidang 3 (kemahasiswaan). Di bidang akademik, selain pendidikan dan pengajaran, FKIP tengah memperkuat kerjasama, percepatan akreditasi prodi, publikasi ilmiah dosen, pengembangan laboratorium, optimalisasi penelitian dan pengabdian masyarakat, hingga credit transfer lintas perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Sedangkan dalam hal manajemen, FKIP akan terus meningkatkan profesionalisme dosen dan karyawan, termasuk mengikutkan karyawan dalam pelatihan. Adapun bidang kemahasiswan, FKIP akan terus meningkatkan prestasi mahasiswa serta mencanangkan penulisan PKM dengan memasukkannya dalam format tugas mata kuliah. Diharapkan, bidang ini juga mampu menjadi pusat informasi beasiswa bagi mahasiswa, baik dalam maupun luar negeri. Pada kegiatan Raker ini, juga dilakukan sosialisasi block grant penelitian dan  pengabdian masyarakat, yang di antaranya memuat; program pengiriman dosen ke sekolah, penelitian dan pengabdian masyarakat, lesson study, dan seminar. Termasuk penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis institusi yang berorientasi pada Standar Nasional Kompetensi Guru (SNKG). Selanjutnya, FKIP akan menjalin kerjasama dengan peserta SNKG seluruh Malang Raya untuk peningkatan kualitas guru seluruh bidang studi di FKIP. Raker ditutup dengan launching RPS yang secara simbolis diserahkan oleh dekan FKIP kepada Wakil Rektor I, sebagai bukti kesiapan FKIP UMM menyongsong berlakunya KPT. (rin/han)

FAI UMM Kupas Islam Asia Tenggara:Hadirkan Dubes Arab Saudi dan 29 Peneliti Lintas Negara

SEBANYAK 29 peneliti berkesempatan mempresentasikan papernya pada International Seminar on Islamic and Arabic Education in Southeast Asia (Seminar Internasional Pendidikan Islam dan Bahasa Arab di Asia Tenggara) yang diadakan oleh Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) selama dua hari (3-4/2) di Auditorium UMM. Keseluruhan makalah mengulas tema-tema seputar dinamika pemikiran dan pengembangan studi Islam dan bahasa Arab di Asia Tenggara. Selain 29 peneliti itu, hadir pula Duta Besar (Dubes) Arab Saudi untuk Indonesia Osamah Mohammed Alshuibi dan Direktur Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama RI Prof Dr Amsal Bakhtiar MA pada sesi pleno pertama. Sementara pada pleno kedua, menghadirkan Dr Abdul Hafis Hiley (Lukmanulhakeem Foundation, Yala Thailand), Dr Asraf Israqi Jamil (University of Malaya), dan Prof Dr Tobroni MSi (Magister Agama Islam UMM). Kegiatan ini juga diwarnai penandatanganan dua memorandum of understanding (MoU), yaitu antara UMMdanUniversitas Malaya, serta antara Prodi BahasaFAI UMMdan Prodi Bahasa Arab Universitas Jambi.Diharapkan, dua MoU tersebut dapat mengembangkan studi Islam dan bahasa Arab pada masing-masing universitas. Pada kegiatan ini, Osamah memaparkan materi “Mind Mapping Pendidikan Islam di Asia Tenggara selamaEra kontemporer”. Disampaikan Osamah, Arab Saudi berperan besar terhadap penyebaran pengajaran Bahasa Arab di lingkup Asia Tenggara, khususnya Indonesia. “Upaya yang dilakukan salah satunya dengan mendirikan Lembaga Ilmu Pengatahuan Islam dan Arab(LIPIA),”papar Osamah. Meski awalnya LIPIA hanya menyelenggarakan program pendidikan Bahasa Arab, sejalan perkembangannya, LIPIA akhirnya menjadi lembaga yang berkembang pesat. “Karena pada dasarnya ilmu bahasa tidak bisa lepas dari budaya yang membentuknya,dan pembentukan budaya itulah yang dilakukan LIPIA,” kata Osamah. Sementaraitu,Amsal Bakhtiarmenyampaikan materi “Pendidikan Islam di Indonesia: Antara Peluang, Harapan, dan Tantangan dalam Perkembangan Globalisasi”.Ada duaproblem utama penyelenggaraan pendidikan Islam di Indonesia. Pertama, masih kurangnya angka partisipasi kasar (APK) lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Dalam catatan Amsal, kurang dari 32 persen APK SLTA yang mampu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. “10 persen dari yang 32 itu ada di perguruan tinggi agama Islam. Artinya, baru sekitar 720 ribu jumlah mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam,” kata Amsal. Anak-anak usia kuliah, yakni 18 sampai 23 tahun, sekitar 21 juta jumlahnya. “Tapi hanya 7 juta yang mampu melanjutkan ke bangku kuliah. Dan hanya 700 ribu yang memilih perguruan tinggi Islam. Selebihnya memutuskan melanjutkan ke perguruan tinggi dibawah naungan Kemenristek Dikti atau lembaga dan kementerian lain. Selebihnya yang 68 persen memilih ke dunia kerja,” paparnya. Problem kedua, lanjut Amsal, masih rendahnya kualitas lulusan perguruan tinggi Islam, sehingga daya saing lulusan masih sangat bervariasi. “Berdasarkan data Diktis, jumlah program studi agama Islam di Indonesia sebanyak 3600. Meski jumlahnya banyak, namun kualitasnya amat jauh berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Gap ini yang kemudian menjadi perhatian kita. Tantangan kedua ini jauh lebih berat dibanding tantangan pertama,” paparnya. Atas dasar tersebut, lanjut Amsal, Diktis mencanangkan program Rukun Diktis. Yakni, pertama meningkatkan kualitas akademis yakni yakni meningkatkan kemampuan para pengajar. “Karena ustadz atau pengajar itu lebih penting daripada metode. Salah satu program yang digiatkan Diktis yakni dengan menciptakan 5000 doktor,” ujarnya. Langkah kedua menurut Amsal, dengan meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Langkah ketiga yakni meningkatkan riset dan publikasi. “Langkah keempat yakni pengunaan pada pendanaan. Muhammadiyah menjadi satu-satunya andalan kita dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Terakhir,yang harus jadi perhatian yakni infrastruktur,” terangnya.(can/han)

Bersama PTM Se-Indonesia, UMM Susun Silabus Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing

SALAH satu upaya mempercepat rekognisi internasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Aisyiyah (PTA) yaitu memperbanyak mahasiswa asing yang fasih berbahasa Indonesia. Di sinilah pentingnya peran unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dalam memberikan pembelajaran yang berkualitas bagi mahasiswa internasional. Mendukung hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi pembentukan silabus pembelajaran BIPA melalui Workshop dan Seminar Pengembangan Silabus BIPA Praktis Model PTM yang digelar selama tiga hari sejak Rabu hingga Jumat (1-3/2). Kegiatan ini diikuti oleh PTM dan PTA se-Indonesia di Hotel UMM Inn. Workshop ini merupakan bentuk tindak lanjut dari pertemuan Kantor Urusan Internasional (KUI) PTM pada 2015 lalu. Pada forum tersebut, PTM yang hadir membeberkan pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia di kampusnya. Keputusannya, KUI dengan BIPA akan merumuskan kurikulum dan silabi yang akan diaplikasikan di tiap kampus. Kepala Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK), Prof Emi Emilia PhD yang hadir sebagai pembicara utama menyatakan peluang PTM untuk mengembangkan BIPA tergolong besar. Pasalnya, semakin hari permintaan untuk mengembangkan bahasa Indonesia di berbagai kampus di banyak negara makin meningkat. Universitas-universitas yang telah lama memiliki program BIPA juga terbantu dengan permintaan pengembangan bahasa Indonesia di luar negeri ini. Selain itu, BIPA disebut sangat strategis sebagai sarana diplomasi karena memberi sumbangsih pada pemerintah untuk menyebarkan bahasa Indonesia di kancah internasional. Mahasiswa asing yang belajar di PTM, terutama UMM berasal dari berbagai negara. Sehingga, dengan mempelajari bahasa Indonesia beserta budayanya, maka persebaran bahasa Indonesia dan nama kampus tempat belajar akan semakin mudah. Hal tersebut diungkapkan kepala BIPA UMM, Dr Arif Budi Wurianto, MSi dalam sambutannya. Wakil rektor I UMM, Prof Dr Syamsul Arifin MSi dalam pembukaannya menyatakan, PTM di Indonesia hendaknya meningkatkan kesadaran dalam upayanya meraih pengakuan internasional. Indikator pencapaian tersebut antara lain yakni meningkatnya jumlah mahasiswa asing yang dimiliki PTM serta kualitas dosen dan mahasiswa yang diakui secara internasional melalui penelitian dan konferensi berskala internasional. Dalam materi yang dipaparkannya, Prof Emil berharap, tiap kampus tak sekedar memiliki unit BIPA, melainkan menjadikan BIPA sebagai program studi. Hal ini berangkat dari fakta belum adanya kampus di Indonesia yang memiliki prodi BIPA dan minimnya penelitian terkait BIPA, sehingga metode pembelajaran BIPA belum mengikuti pembelajaran mutakhir. “Bahasa Indonesia berpeluang untuk menjadi bahasa internasional. Hal ini karena peminat pembelajar bahasa Indonesia cukup banyak. Di Universitas Al-Azhar Mesir sudah membuka prodi BIPA,” imbuhnya. Emi menambahkan, PTM dan lembaga di perguruan tinggi akan bermitra dengan PPSDK untuk memajukan bahasa Indonesia. Tahun ini, PPSDK kembali mengirimkan 47 tim pengajar ke 13 negara. Selain sebagai sarana diplomasi kebahasaan dan bahasa internasional, bahasa Indonesia juga bisa menjadi sarana pariwisata karena dengan mengembangkan BIPA, maka akan mengkatkan motivasi wisatawan untuk datang ke Indonesia. (Humas UMM)

UMM Raih Penghargaan PTS Favorit Radar Malang Awards

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) baru saja meraih penghargaan kategori pendidikan sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Terfavorit tipe AAApada Radar Malang Awards2017. Event penghargaan ini dihelat oleh salah satu media massa jejaring Jawa Pos, yaitu Radar Malang. Diraihnya penghargaan ini sekaligus mempertegas predikat UMM sebagai kampus swasta terunggul pada level lokal, regional, maupun nasional. Pada level Jawa Timur, UMM selama sembilan kali beruntun, yaitu sejak 2008 hingga 2016, menjadi universitas paling unggul versi Kopertis VII. Sementara pada level nasional, UMM sejak 2013 meraih akreditasi institusi A oleh BAN-PT. Penyerahan penghargaan ini diberikan pada Selasa (31/1) malam di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM) bersama 10 kategori lainnya. Total, sebanyak 31 penghargaanbrand terfavorit diserahkan malam penganugrahan itu. Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad mengungkapkan, ada alasan kuat mengapa Radar Malang perlu membuat penghargaan seperti ini. “Harus ada favourite brand.Media harus bisa memberikan parameter dan ukuran,” seperti dilansir koran harian Radar Malang edisi Kamis(2/2). Parameter itu, lanjut Kurniawan, barangkali akan berguna bagi masyarakat. Terutama bagi mereka yang akan membuat keputusan untuk membeli atau menggunakan produk-produk tertentu, baik itu properti, elektronik, jasa, maupun kuliner. Sementara itu, Project Officer Radar Malang Award 2017 Mardi Sampurno menyatakan, penentuan brand terfavorit menggunakan 3 metode. Antara lain, pengumpulan balot atau potongan kuisioner koran Jawa Pos Radar Malang, vote via website, dan likes Instagram. (can/han)

UMM Teken MoU dengan IUM Amerika dan ICSSQS Saudi Arabia

LAWATAN Rektor Islamic University of Minnesota (IUM) Amerika Serikat, Prof Dr Waleed Edrees A Menesse, dan DirekturInternational Commission on Scientific Signs in Quran and Sunnah(ICSSQS) Saudi Arabia, Sheikh Mohammed Dhabyan S. Al-Sulami, ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dilanjutkan dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara para pihak, Selasa (31/1) Kepala Kantor Hubungan Luar Negeri (KHLN) UMM, Dr Abdul Haris MA menyatakan, UMM akan bekerjasama dengan IUM Amerika dalam hal akademik. Kesepakatan yang dilakukan di antaranya pertukaran mahasiswa, dosen dan staf yang berminat mempelajari lebih dalam tentang Islam di Amerika. Pertukaran tersebut dilakukan tanpa adanya penyetaraan ijazah antara kedua universitas. “Semua kesepakatan akan dijalankan tahun ini,” tegas Haris. IUM juga memberikan pilihan sistem pembelajaran yang sangat fleksibel. Haris memaparkan, ada beberapa sistem pembelajaran yang digunakan kampus tersebut, seperti tatap muka, telekonferensi hingga belajar melalui website. Dalam pertukaran mahasiswa, nantinya UMM akan memanfaatkan sistem pembelajaran telekonferensi. Ada 200 pakar Islam yang akan mengajar via telekonferensi nantinya. “IUM dan UMM akan memanfaatkan kesempatan tersebut. Jadi mahasiswa tidak perlu datang ke Amerika langsung. Melalui telekonferensi mahasiswa UMM bisa belajar dengan dosen dari universitas Islam yang berasal dari negara Islam seperti Qatar dan Saudi Arabia,” papar Haris. Rektor IUM Waleed Edrees berharap kerjasama yang terjalin bisa meningkatkan kualitas pendidikan di UMM maupun di IUM. “Amerika membutuhkan dukungan dan apresiasi dari muslim Indonesia dalam berbagai hal. Bidang akademik menjadi salah satu lahan untuk berdakwah di Amerika, khususnya di Minnesota,” papar Waleed. Tak lupa, Rektor IUM juga memberikan kuliah tamu tentang Islam di Amerika era Donald Trump: Tantangan dan Harapan. Waleed menjelaskan, sejarah masuknya Islam ke Amerika sejak pertama kali, hingga perkembangan Islam yang sangat pesat di Amerika. “Dulu di Amerika hanya ada 3 masjid. Ukurannya pun tidak seberapa luas, tapi sekarang sudah ada 70 masjid dan masih akan terus bertambah,” ujar Waleed. Selain dengan IUM Amerika, UMM juga melakukan kerjasama dengan ICSSQS Saudi Arabia yang akan dimanfaatkan untuk penelitian. Penelitian yang dilakukan, lanjut Haris, akan berfokus pada mukjizat sains dalam al-Quran dan as-Sunnah. Dalam jangka panjang, UMM akan memasukkan ilmu tentang al-Quran dan as-Sunnah dalam kurikulum mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyah (AIK). “UMM akan mengadopsi beberapa hal tentang ilmu al-Quran dan as-Sunnah kemudian dimasukkan dalam kurikulum AIK,“ kata Haris. (jal/han)

Semnas PGSD UMM-Uhamka: Mentalitas Global Diperlukan Bagi Guru Kekinian

DI TENGAH pesatnya arus globalisasi, seorang guru dituntut untuk bisa beranjak dari mentalitas konvensional menuju mentalitas global. Demikian disampaikan Guru Besar Universitas Prof Dr Hamka (Uhamka) Prof Dr Suswandari MPd pada Seminar Nasional (Semnas) “Peningkatan Kompetensi Calon Guru dalam Menghadapi Tantangan Global” yang diadakan atas kerjasama Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Uhamka di Hall UMM Dome, Senin (30/1). “Mentalitas global yakni sikap percaya diri, disiplin, menghargai waktu, menghargai prestasi dan karya orang lain, kerja keras dan orientasi kerja pada prestasi, teliti dan cermat, serta terbuka. Sebaliknya, guru juga harus meninggalkan segala mental konvensional, yakni ketergantungan pada orang lain, melanggar, apa adanya, ketidakpercayaan diri, dan yang lebih parah yaitu mental jajahan,” kata Suswandari. Jika mental global itu diterapkan di tiap individu guru, maka secara otomatis, lanjut Suswandari, jati diri guru abad 21 dapat diwujudkan. “Yakni mereka yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan sebagai tuntutan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Memiliki akhlak mulia, mandiri, demokratis, bertanggungjawab terhadap sikap dan perilaku, juga berilmu, cakap dan kreatif. “Guru yang hebat adalah guru yang dapat menstimuli siswanya untuk terus bertanya. ” tukas Suswandari. Sementara itu sekretaris Asosiasi Perhimpunan Dosen PGSD se-Indonesia yang juga dosen UMM, Dr Endang Poerwanti MPd mengatakan, seorang guru abad 21 juga wajib memiliki kompetensi dalam reading, writing and arithmetic untuk memahami gagasan melalui berbagai media kekinian. Guru juga harus fleksibel dan dinamis. Tak kalah penting, kata Endang, guru harus mampu mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dalam menyajikan aktivitas pembelajarannya. Disampaikan Endang, kunci peningkatan kulitas pendidikan terletak pada peningkatan kualitas profesionalisme guru. Bagi Endang, guru profesional yakni guru yang memiliki keahlian, bertanggungjawab, dan rasa kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yang kuat. “Guru juga harus memiliki kualifikasi kompetensi yang memadai berupa kompetensi berupa kompetensi intelektual, sosial operasional, dan perilaku moral dan profesional,” jelas Endang. Sehingga, untuk mewujudkan guru yang profesional, kesesuaian antara keahlian dengan pekerjaan mutlak dijalankan. Dijelaskan Endang, guru yang bermutu ialah mereka yang dapat membelajarkan murid-muridnya dengan tuntas dan benar. “Selain itu mutlak juga diperlukan keahlian, baik dalam penguasaan secara tuntas disiplin ilmu yang diajarkan, metodologi, dan pendekatan pembelajaran,” papar Endang. Namun demikian, upaya itu tidak akan berhasil jika tidak diselaraskan dengan kesejahteraan guru yang memadai. “Seorang profesional harus mampu mencurahkan sebagian besar perhatiannya terhadap upaya-upaya profesional. Upaya profesional ini didukung oleh penghasilan dan kesejahteraan yang memadai,” ungkap Endang. (can/han)

UMM-Uhamka Kolaborasi Gelar Seminar Nasional PGSD

PROGRAM Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta menggelar seminar nasional “Peningkatan Kompetensi Calon Guru dalam Menghadapi Tantangan Global” hari ini (30/1) di UMM Dome. Ketua pelaksana seminar, Ima Wahyu Putri Utami MPd menyatakan, kegiatan ini adalah program rutin tiap semester bermitra dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) lain. Pada penyelenggaraan kali ini, peserta melonjak drastis dibanding kegiatan sebelumnya saat bekerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. “Peminatnya melampaui 1000 orang,” ujarnya. Tak hanya dihadiri mahasiswa PGSD UMM dan Uhamka, seminar juga terbuka untuk mahasiswa non-PGSD, termasuk mahasiswa pascasarjana, guru, dosen, maupun kalangan umum di luar UMM dan Uhamka. Pemateri kunci pada kegiatan ini yakni dosen PGSD UMM yang saat ini menjabat sekretaris Asosiasi Himpunan Dosen PGSD Indonesia Dr Endang Poerwanti MPd dan guru besar Uhamka Prof Dr Suswandari MPd. Selain pembicara kunci, juga ada sejumlah pemakah yang terdiri dosen maupun mahasiswa magister. “Karena memang ada beberapa kampus yang mensyaratkan mahasiswa magister untuk memiliki karya yang diprosidingkan sebagai syarat penyusunan tesis,” imbuh Ima. Ketua Program Studi PGSD UMM Dr Ichsan Anshory MPd berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan silaturrahim antarkampus, terutama kampus Muhammadiyah. Mahasiswa juga bisa dapat ilmu dan pengalaman tambahan dari kampus lain. “Materi-materinya bermuatan kompetensi global agar para peserta siap menghadapi tantangan pendidikan di masa depan,” ujarnya. (ich/han)