Mahasiswa Ekonomi Pembangunan UMM Juarai Investment Video Competition Tingkat Nasional, Kalahkan UI dan UGM

INVESTASI masih menjadi hal yang asing bagi kalangan muda saat ini. Banyak kalangan muda yang menganggap bahwa investasi hanya dilakukan saat sudah mapan ataupun pengusaha saja. Padahal, di era sekarang siapapun dapat berinvestasi dengan mudah, aman dan menguntungkan. Berangkat dari hal itu, Ratih, mahasiswa Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) meraih penghargaan pada ajang Week of Stock 2018. Dalam kegiatan yang diadakan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), (28/9) lalu, Ratih dan teman satu timnya, Andreas Marcela, menyabet juara 1 lomba Investment Video Competition. Untuk menjadi juara dalam lomba ini, Ratih mempersiapkan terlebih dahulu dalam hal mental dan juga pengetahuan. Ia mengaku sempat ciut nyali karena mengetahui pesaingnya berasal dari universitas ternama, seperti UI dan UGM. Selain itu, sebelum mengikuti lomba, ia juga melakukan riset mengenai investasi di kalangan anak muda. Risetnya itu diaplikasikan dalam bentuk video kampanye berdurasi 1 menit. Menurut mahasiswa semester 3 ini, investasi bukan hanya dilakukan oleh kalangan pengusaha saja. Mahasiswa juga bisa mulai berinvestasi sejak duduk dibangku kuliah. Investasi yang paling pas untuk muda, terang Ratih, seperti reksadana, investasi emas, beli saham dan investasi pendidikan. “Yang paling mudah saat ini investasi saham, karena kalangan muda sekarang sudah menggunakan android sehingga lebih mudah dalam memantau saham,” tambahnya. Tidak hanya mengajak kalangan muda untuk berinvestasi, aku Ratih, saat ini memang tengah gemar berinvestasi melalui emas. Dalam kesehariannya, ia selalu memantau harga emas, agar menunjang kegiatannya berinvestasinya. “Untuk anak muda sekarang yang juga sudah berinvestasi, mari kita tingkatkan perekonomian kita agar lebih maju. Dan untuk yang belum, investasi bukan hanya untuk pengusaha, kita mahasiswa juga perlu berinvestasi mulai sekarang,” ajaknya. (Humas UMM)
Mahasiswa FK Akan Dapat Pelatihan K3 dari Kemenkes RI

DALAM dunia kerja, aspek keselamatan menjadi perhatian tersendiri. Hal ini lebih dikenal dengan istilah Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Sabtu (13/10) pagi di Aula GKB IV, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) meneken nota kesepemahaman (MoU) dengan salah satu lembaga K3 yang berada dibawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Momen itu bersamaan dengan Pelantikan dan Sumpah Dokter UMM. MoU tersebut melengkapi muatan lokal yang sudah ada selama ini di FK UMM, yakni Kedokteran Industri Keluarga Islami. Salah satunya, di industri itu harus ada Hegene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes) yang meliputi kesehatan kerja, keselamatan kerja dan sebagainya,” jelas Dr. dr. Meddy Setiawan, Sp.PD, Dekan FK UMM. Perjanjian tersebut berbuah program bagi mahasiswa FK UMM. Nantinya, sambung Meddy, untuk Hiperkes, mereka akan menjalani pelatihan khusus selama satu pekan berupa perkuliahan, diskusi hingga kunjungan ke lapangan. Kerjasama ini akan berlangsung selama tiga tahun. Tidak menutup kemungkinan jika kedepan kerjasama ini akan terus diperbaharui. “Ini akan seterusnya, namun untuk saat ini diawali tiga tahun dulu,” tutur Dekan FK tersebut. (mir/can)
Psikologi UMM Terjunkan Relawan Psikososial untuk Bencana Palu

KORBAN bencana pasti mengalami trauma. Trauma inilah yang mesti diobati agar para korban dapat menjalani kesehariannya secara normal seperti sediakala. Melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bakal memberangkatkan sejumlah relawannya ke daerah terdampak bencana di Palu, Sulawesi Tengah untuk melakukan pelayanan psikososial. Dekan Fakultas Psikologi UMM, Muhammad Salis Yuniardi, S. Psi, M. Psi, Ph. D, Psikolog. menerangkan, pekan depan ia akan mulai mengutus mahasiswa-mahasiswa terbaiknya untuk memberikan pelayanan psikososial kepada korban bencana di Palu dan sekitarnya. “Saat ini sedang dalam tahap pembekalan, minggu depan sudah siap berangkat bersama MDMC ke Palu,” terang Salis saat diwawancarai Kamis (11/10) siang. Dilanjutkan Salis, Fakultas Psikologi secara kosisten menurunkan tenaga-tenaga terbaiknya untuk memberikan pelayanan psikososial kepada korban-korban bencana maupun konflik. Dimulai dari Konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Konflik Poso, Tsunami Aceh dan yang baru-baru ini di Gempa Lombok. Para relawan telah dibekali langsung beragam kompetensi oleh Laboratorium Psikologi Terapan (LPT) Psikososial UMM. Sebagai ganjaran, keberangkatan para relawan itu bakal dikonversikan menjadi nilai ke sejumlah mata kuliah. “Mereka yang berangkat ini berhak mengkonversikan nilainya ke Kuliah Kerja Nyata (KKN) ataupun Mata kuliah Psikologi Terapan. Bagi yang sudah mengambil skripsi, bisa menjadikan Palu sebagai objek penelitiannya,” tutur Salis saat ditemui di ruang kerjanya. Para relawan yang bertugas di Palu selama tiga sampai empat pekan, musti siap dengan berbagai keterbatasan di lapangan. Pesan Salis, keterbatasan inilah yang nantinya akan menjadi tantangan serta melatih kepekaan para relawan. Maka dari itu, sambung Salis, pembekalan dilakukan sedemikian rupa demi mempersiapkan para relawan tangguh. (mir/can)
Panggilan Kemanusiaan, RSU UMM Kirim Tenaga Medis Ke Donggala

RUMAH Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM) mengirim empat relawan yang terdiri dari satu dokter dan tiga perawat ke Donggala, Sulawesi Tengah. Terhitung sejak Selasa (9/10) lalu, keempat relawan tersebut terjun langsung ke salah satu wilayah terdampak bencana untuk dua minggu kedepan. “Pastinya akan dikondisikan dengan kebutuhan di sana. Seandainya dua minggu dirasa kurang, ya, kita akan menarik relawan yang ada di sana dan mengirim relawan yang lain. Karena kita juga perlu menyesuaikan pekerjaan yang ada di sini,” terang dr. Viva Maiga Mahliafa Noor selaku Kepala Bidang Humas dan Kemitraan RSU UMM. Dikatakan Viva, RSU UMM selalu mengirim relawan ketika ada bencana. Karena sesuai dengan visi dari Rumah Sakit Islam yang menjunjung visi kemanusiaan. Dalam penanganan bencana ini, sambung Viva, para relawan tidak mempertimbangkan imbalan sama sekali. “Asal para korban bisa diobati, mereka lega,” kata Viva saat diwawancarai di ruangannya, Rabu (10/10) siang. “Selain mengobati dan merawat korban yang terluka, mereka juga membantu menangani gangguan psikisnya agar para korban gempa bisa tetap semangat dan survive,” terang Viva. Pemberangkatan relawan ini berada dibawah pengawasan Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Hinggi rilis ini dikeluarkan, penanganan krisis kesehatan akibat Gempa dan Tsunami di pos layanan Desa Labean Kecamatan Balaesang Kabupaten Donggala, pos di mana RSU UMM, Dompet Dhuafa serta TNI Angkatan Laut bertugas, telah melakukan pelayanan kepada 273 pasien. Nama-nama relawan dari RSU UMM yang diberangkatkan di antaranya; dr. Ki Ageng Nico Prasetyo Nugroho (dokter IGD), Nur’aini, S.Kep. Ns (Perawat Pelaksana), Sandy Dewanto, A.Md.Kep (Perawat Pelaksana), Imam Fitrianto, S.Kep.Ns (Perawat Pelaksana). Relawan yang diberangkatkan sebelumnya telah dilatih dan dibina oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) sehingga mereka sudah terlatih dalam menangani korban bencana. Selain dari RSU UMM, rumah sakit Ahmad Dahlan Kediri juga mengirim empat relawan yang terdiri dari satu dokter dan tiga perawat. (usa/can)
Mobil KaCa UMM Sambut Kunjungan Ratusan Siswa Sekolah Dasar Di UMM

PERGURUAN tinggi nyatanya bukan cuma tempat belajarnya mahasiswa. Pada Rabu (10/10) pagi, rombongan SD Muhammadiyah 04 Kota Batu mengitari Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menumbuhkan minat membaca lewat media perpustakaan berjalan itu. Pembelajaran yang dilakukan di depan Laboratorium Biologi UMM itu, membuat mereka semakin semangat belajar karena belajar dengan suasana baru. “Saya senang belajar di sini karena banyak temannya,” terang Heidy Kurnia Atmadja, anak kelas satu SD Muhammdiyah 04 Kota Batu. Selain membaca buku, mereka juga menonton kisah Nabi Musa di layar besar yang berada di belakang Mobil KaCa UMM. Setelah membaca dan menonton mereka mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka. “Karena di dalam kurikulum ada banyak tema-tema pembelajaran, ada gemar menari, olah raga dan membaca. Nah kalau kegiatan ini masuk dalam tema gemar membaca,” terang Hima Arinazulfinta selaku Wali Kelas. Setelah selesai berkunjung dan mengerjakan tugas gurunya, rombongan anak-anak ini berkumpul dengan rapi. Mereka bersiap-siap untuk difoto. Ketika difoto mereka dengan semangat kompak meneriakkan, “WE LOVE UMM!” Untuk diketahui, Mobil KaCa UMM ini mulai mengaspal sejak 2017. Boleh dibilang, Mobil KaCa bukan mobil biasa. Pasalnya, di mini bus ini terdapat beragam koleksi buku soal ilmu pengetahuan, cerita dan literatur lainnya. ”Memang, sebenarnya tujuan dari mobil ini untuk membumikan semangat literasi di desa-desa setiap hari Kamis. Di dalamnya ada layar kaca dan seperangkat multimedia yang digunakan sebagai media pembelajaran,” terang Maharina Novia Zahro, selaku staf Humas dan Protokoler UMM. (usa/can)
FKIP UMM Resmi Miliki Program Pendidikan Profesi Guru

FAKULTAS Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terpilih sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang berhak membuka program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Amanah ini dipercayakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Surat Keputusan nomor 710/ KPT/ I/ 2018. Ketua PPG FIKP UMM Tri Sakti Handayani menerangkan, kepercayaan yang diberikan Kemenristekdikti pada UMM tidak lepas dari keberhasilan FKIP UMM pada proses pelaksanaan program PPG di tahun 2017. “Sebenarnya dikabulkannya permohonan UMM untuk membuka prodi PPG ini sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan PPG di UMM. Saat itu kita masih sebatas mendapatkan mandat untuk penugasan saja,” terang Tri Sakti saat diwawancarai di ruangannya Senin, (8/10) siang. Dalam skemanya, program PPG UMM berhak membuka enam bidang studi. Di antaranya Pendidikan Biologi, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), serta Pendidikan Matematika. Penentuan bidang studi tersebut ditentukan berdasarkan pada capaian akreditasi program studi yang dimiliki FKIP UMM. “Seluruh bidang studi yang ada di PPG UMM ini berdasarkan program studi yang dimiliki oleh FKIP UMM,” imbuh Tri Sakti. Program PPG UMM tersebut akan mengaplikasikan tiga skema, yaitu PPG Pra-Jabatan, PPG Dalam Jabatan, dan PPG Hybrid Learning. “Antar universitas akan menerapkan skema PPG yang berbeda,” ujar salah satu dosen prodi Pendidikan Kewarganegaraan ini. Dibukanya Prodi PPG di UMM sekaligus melengkapi program pendidikan keprofesian sebelumnya. Di antaranya; Pendidikan Profesi Apoteker, Fisioterapi, Ners dan Insinyur. (nis/can)
Bersama NUS dan UKM, PSIF UMM Inisiasi Kuliah di Tiga Negara

BERSAMA dua universitas ternama di Asia Tenggara, yaitu National University of Singapore (NUS) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi serial kuliah bersama (joint lecture series) yang akan diadakan bergantian di Malaysia, Indonesia dan Singapura. Tema besar kuliah bersama di tiga negara ini yaitu “Nusantara Bergerak”. Nusantara di sini, menurut sekretaris PSIF UMM Subhan Setowara, merujuk pada lingkaran kepulauan Melayu di mana Indonesia, Malaysia, dan Singapura termasuk di antaranya. “Sekalipun menurut banyak orang Indonesia, nusantara hanyalah Indonesia, harus diakui menurut akar sejarahnya Malaysia dan Singapura juga merupakan bagian dari nusantara,” ungkap Subhan. Malaysia menjadi host perdana serial kuliah ini yang berlangsung pada Ahad (7/10) di Gedung Gerakbudaya, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia. Hadir sebagai penyaji kuliah Dr Faisal Tehrani dari Akademi Alam dan Tamaddun Melayu (ATMA) UKM, Dr Azhar Ibrahim Alwee dari Malay Studies NUS, dan Dr Pradana Boy dari UMM. Kuliah seri berikutnya akan diadakan di UMM dan NUS. Di setiap kuliah, akan ada penyaji pakar dari masing-masing tiga negara tersebut. Subhan menjelaskan, kolaborasi akademik lintas negara ini amat penting karena di antara negara-negara yang menjadi bagian dari bangsa nusantara kadangkala terlibat ketegangan dan klaim. “Hal itu terjadi karena pemahaman sebagian besar masyarakat akan hakikat nusantara tidaklah cukup. Untuk mengatasi persoalan ini, berbagai ikhtiar perlu digalakkan, salah satunya melalui ikhtiar akademik,” tuturnya. Selain dimaksudkan sebagai ajang pertukaran gagasan dan wacana kritis lintas negara, serial kuliah bersama ini diharapkan dapat melahirkan kesadaran emansipatif; yaitu rasa peduli dari warga nusantara untuk sama-sama bergerak membawa perubahan progresif di negara-negara tersebut. “Kuliah nantinya bisa disampaikan dalam bahasa Melayu, bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris,” ujar Subhan. Mata kuliah yang diangkat, lanjut Subhan, akan meliputi topik-topik nusantara yang bersifat interdisipliner meliputi tema-tema kebudayaan, tradisi keagamaan, kesusasteraan, kesenian, keilmuan dan pendidikan tinggi, politik dan institusi, sejarah dan kemasyarakatan, pembangunan dan ekonomi, lingkungan dan tema-tema lain yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat nusantara. (han/sil/can)
Tak Pandang Bulu Beri Layanan Terbaik, 70% Pasien RSU UMM Merupakan Peserta BPJS

SETELAH tiga tahun melayani pasien Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan, Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM) kembali mendapat kunjungan rekredensial dari BPJS Kesehatan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengecek keabsahan seluruh pelayanan, kelengkapan, sarana prasarana dan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki untuk disesuaikan dengan format yang sudah ditentukan oleh BPJS Kesehatan. Kepala Humas dan Kemitraan RSU UMM dr. Viva Maiga Mahliafa Noor, MMRS menyampaikan bahwa kesempatan ini juga menjadi momen evaluasi dimana pihak BPJS melakukan pengecekan ulang, apakah RSU UMM sudah sesuai dengan syarat untuk klasifikasi RS UMM Type C. “Ini semuanya nanti dicocokkan, untuk kerjasama kita (RSU UMM dan BPJS Kesehatan.red) ke depan,” ujar Viva Sabtu, (6/10). Lebih lanjut Viva menguraikan, selain untuk evaluasi BPJS Kesehatan juga akan melihat, apakah ada perubahan maupun penambahan pelayanan dan tambahan fasilitas sesuai dengan data yang disampaikan. “Hasil ini sesuai apa tidak, lalu apa saja sarana prasarana yang dimiliki, nanti akan jadi bagian dari MoU baru. Dengan ini mereka jadi tahu RSU UMM ada fasilitas apa saja,” tambah Viva. Tidak pilih-pilih dalam memberikan pelayanan, sejak menerima peserta BPJS Kesehatan pada 2015 lalu, tercatat jumlah pasien RSU UMM yang menggunakan program BPJS Kesehatan tidak kurang dari 70 % dari total keseluruhan pasien. Kedepannya Viva berharap kerjasama yang dijalin anatara BPJS Kesehatan dan RS UMM dapat terus berjalan dengan baik. Pihaknya sendiri akan terus melakukan berbagai macam terobosan dan peningkatan kualitas untuk memperkuat kepercayaan masyarakat kepada RSU UMM. “Kami melakukan perbaikan untuk semua kepersertaan, pelayanan BPJS Kesehatan sendiri kita coba menambahkan inovasi-inovasi baru supaya lebih dipercaya lagi oleh BPJS untuk menambahkan peserta lagi. Dan semoga RSU UMM dapat mengelola dengan baik seluruh kepersertaan BPJS Kesehatan ini,” tandasnya. Rekredensial pelayanan peserta BPJS Kesehatan di RS UMM (1/10) lalu menjadi syarat perpanjangan kerjasama pelayanan kesehatan fasilitas kesehatan tingkat II. Hadir pada kegiatan ini, Kepala Unit Manajemen Pelayanan Kesehatan BPJS Malang dr H Munaqib MM AAAK beserta staf, Perwakilan PERSI Korwil Malang serta Direksi dan jajaran manajemen RSU UMM. (can/sil)
Magang di PT Virama Karya, Mahasiswa Teknik Sipil UMM Dipersiapkan Jadi Konsultan

SIAPA bilang teknik sipil hanya bisa kerja di lapangan? Ternyata mahasiswa program studi (prodi) Teknik Sipil juga bisa menjadi seorang konsultan. Hal itu disampaikan langsung Direktur PT. Virama Karya (PERSERO), Melany Legitasari, usai menandatangai nota kesepemahaman dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (4/10). “Konsultan adalah ahli yang tugasnya memberi petunjuk, pertimbangan atau nasihat dalam suatu kegiatan,” jelas Melany. Dilanjutkan Melany, lulusan Teknik Sipil sangat berpeluang untuk menjadi konsultan dalam sebuah pembangunan. Untuk menjadi seorang konsultan, tambah Melany, seorang ahli harus melalui tahapan keprofesian. Dimulai dari engineer muda, selanjutnya tenaga ahli, team leader, dan seterusnya. “Minimal 16 tahun bekerja dulu baru bisa jadi konsultan,” terang Melany. Melany menjelaskan bahwa PT. Virama Karya (PERSERO) adalah perusahaan konsultan dengan spesialisasi pada bidang pelayanan jasa teknik dan manajemen bidang transportasi jalan dan jembatan. Perusahaan ini sekarang berada di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Lulusan teknik sipil yang mempunyai kemampuan yang baik dalam menerapkan pengetahuan ketekniksipilan dan pengetahuan managerialnya akan sangat dibutuhkan untuk menjadi konsultan pembangunan,” paparnya. Melalui penandatangan kerjasmaa antara kedua belah pihak, mahasiswa Prodi Teknil Sipil UMM berkesempatan untuk magang di PT. Virama Karya (PERSERO). Di tahun 2014, Prodi Teknik Sipil mengirim dua mahasiswanya untuk magang di proyek PT Virama Karya. Yakni di supervisi air minum Umbulan, juga di Detail Engineering Design (DED) Jalan Lingkar Timur Sidoarjo. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. berharap kerjasama yang dibangun antara UMM dan PT. Virama Karya (PERSERO) bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Jajaran pengurus UMM juga Mahasiswa. (aan/can/sil)
Euforia Kommaksi, Ikom UMM Siap Menantang Era Industri 4.0

Perkembangan teknologi saat ini bergerak dengan cepat. Hal ini erat kaitannya dengan kreativitas dan inovasi yang diciptakan oleh sumber daya yang berkualitas, sehingga insan komunikasi dapat menjawab tantangan untuk menghadapi pergerakan teknologi dan persaingan di Era Industri 4.0 dengan lebih produktif dan mandiri. “Tidak hanya itu, selanjutnya Insan Komunikasi harus dapat berjejaring dan pengembangan karakter, yang pada akhirnya akan membuat mental generasi muda siap menerima tantangan industri 4.0,” demikian disampaikan Himawan Soetanto, Ketua Program Studi (prodi) Ilmu Komunikasi (Ikom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam konferensi pers gelaran Komunikasi Beraksi (Kommaksi), Kamis (4/10). Kommaksi menjadi moment apresiasi karya mahasiswa dari berbagai praktikum tiga konsentrasi pada Prodi Ikom UMM yakni Public Relations, Journalism and Media Studies, dan Audio Visual Communication. Sederet acara digelar selama empat hari berturut-turut, diantaranya Exhibition, Workshop PR, Film dan Jurnalistik, Movie and Coffee Festival dan seminar Kata Masa dengan pemateri super menarik dan berpengalaman, serta Awarding Night sebagai puncaknya. Konferensi internasional Kata Masa melalui tema “Converegence of Technology, Entertainment & Design: Empowering Indonesia” mengajak kalangan muda Indonesia beradaptasi dalam menghadapi persaingan dunia komunikasi, khususnya untuk menghadapi Era Industri 4.0. Bekerjasama dengan NAVA+ Group, acara ini berlangsung interaktif. “Tujuan dari kolaborasi NAVA+ Group dan Prodi Ilmu Komunikasi UMM ini agar peserta dapat mengikuti perkembangan komunikasi yang berbasis ilmu pengetahuan, kreatifitas, inovasi, inspirasi dan juga edukasi yang berdampak positif kepada masyarakat sekitar,” terang Maneha Widarso director of operations Nava+ Group. Dalam kegiatan ini, Kommaksi mengundang praktisi-praktisi di bidang komunikasi dari empat negara, yaitu Farris Baharom (Malaysia), Tok Tien Eu (Malaysia), Nancy Lin (Indonesia), Terence Wong (Singapura), dan Mehdi Lamloum (Tunisia). Para pemateri tersebut memaparkan pengalaman kerja masing-masing dan berbagi cerita mengenai tantangan dalam menghadapi Era Industri 4.0 dengan perspektif berbagai macam negara. Menurut Nancy Lin, generasi muda saat ini adalah manusia cerdas penuh gagasan, manusia yang mampu memberdayakan kreativitas untuk menggerakkan banyak hal. Dengan daya, upaya kemampuan, ide dan gagasan dalam bentuk konten kreatif, mereka akan menjawab tantangan Era Industri 4.0. Konten kreatif sendiri, salah satunya hadir dikarenakan manusia menuntut perubahan. “Intinya untuk bisa membuat konten kreatif harus bisa merumuskan tujuan dengan baik,” tandasnya. Pada malam penutupan Kommaksi, dilakukan juga penandatanganan dengan beberapa instansi untuk meningkatkan daya saing mahasiswa Ikom. Diantaranya dengan Nava Group yang membuka peluang magang dan kerja bagi mahasiswa Ikom serta Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) Gresik untuk praktek mahasiswa PR membranding Gresik menjadi kota wisata bertajuk Discover Gresik. “Saya berterimakasih kepada seluruh pihak yang mau datang kesini untuk menandatangani MoU, semoga kerja sama kita bisa kita manfaatkan sepenuhnya,” pungkas Himawan. (Humas UMM)