FPP UMM Siapkan Ketahanan Pangan untuk Kedaulatan Bangsa

Indonesia dikenal sebagai negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Tecatat oleh World Bank, Indonesia menduduki peringkat 18 dunia dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memegang peran penting dalam ketahanan dan kestabilan pangan dunia. Berkenaan dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) David Hermawan menyampaikan bahwa bidang akademik memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan formasi ketahanan pangan. “Saat ini Indonesia sedang membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten dalam menanggulangi ketahanan pangan di tahun 2030 nanti,” paparnya pada Program Bela Negara di Lapangan Rindam V Brawijaya Malang, Rabu (3/10). Selama tiga hari sejak Senin-Rabu (1-3/10) sekitar 1.000 mahasiswa baru FPP UMM ikut serta dalam Program Bela Negara. Kegiatan yang bekerjasama dengan Dodikjur Rindam V Brawijaya Malang tersebut diisi dengan berbagai kegiatan ruang dan lapang. Wakil Komandan Rindam V Brawijaya Kolonel Infanteri Bambang Sujarwo menguraikan bahwa seluruh peserta yang terdiri dari mahasiswa baru FPP UMM angkatan 2018 tersebut mendapatkan paparan materi terkait wawasan kebangsaan, cinta tanah air, dan mengenal Indonesia lebih jauh. Sedangkan untuk kegiatan lapang, mahasiswa-mahasiswa ini dilatih untuk disiplin, bertanggungjawab, dan bekerja keras. “Kami tidak hanya memberikan materi di dalam ruang saja, namun langsung juga diaplikasikan di lapangan,” ujar Bambang Selain sebagai bentuk kaderisasi human capital yang inovatif dan berdaya saing, melalui program ini FPP UMM juga ingin mematangkan teori-teori mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada mahasiswanya. Hal tersebut ditekankan oleh Dekan FPP UMM. “Keputusan untuk mengganti kegiatan di kelas dengan kegiatan aplikatif seperti ini karena kami benar-benar ingin menanamkan jiwa nasionalisme pada diri individu utamanya mahasiswa baru,” tegas pria yang juga dosen Prodi Perikanan tersebut. Rektor UMM Fauzan yang bertindak sebagai Inspektur Upacara pada upacara penghormatan Fauzan menyatakan bahwa kegiatan yang dilewati oleh mahasiswa-mahasiswa ini merupakan upaya UMM dalam membentuk karakter manusia Indonesia yang seutuhnya. “Setelah tiga hari dididik, ditempa, dan dibentuk di sini maka saat ini Anda semua mahasiswa yang ada di sini telah memiliki karakter manusia Indonesia seutuhya. Hal ini adalah modal penting bagi Anda semua,” kata Fauzan. Alaykartina Baginda mahasiswa Prodi Peternakan yang menjadi salah satu pesera mengaku sangat senang bisa dilatih oleh para anggota TNI yang ada di Dodikjur Rindam V Brawijaya ini. Ia tidak menyangkan bahwa di UMM juga akan belajar banyak tentang nasionalisme, bahkan langsung dari garda teerdepan penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Di awal saya merasa berat mau ke sini, karena saya pikir kenapa harus ikut acara seperti ini. Tapi semuanya berbanding terbalik sejak melewati hari pertama di sini,” ujar mahasiswi asal Blitar tersebut. (nis/sil)

Peluang Institute Pendidikan Vokasi di Era 4.00

Menyambut revolusi industry 0.4, keahlian khusus dibutuhkan seseorang dalam menghadapi globalisasi, khususnya dalam dunia perdagangan, utamanya untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Hal ini yang membuat kursus-kursus singkat mulai dari bartender, koki, hingga make up artis menjadi serbuan para anak muda hingga ibu-ibu rumah tangga. Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Ir. Ananto Kusuma Seta M.Sc, PhD menyampaikan fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dibelahan dunia lain. Hal ini menurut Ananto, dapat menjadi sebuah peluang bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendirikan Institut Pendidikan Vokasi (IPV). Selain alasan tersebut, Ananto juga menyampaikan bahwa saat ini berdasarkan survey yang dilakukan, ada sebanyak 20 Ceo Top Indonesia mengaku tidak mendapatkan lulusan Perguruan Tinggi sesuai dengan apa yang dikehendaki. Ini sangat disayangkan, karena berarti hanya sedikit dari lulusan yang bekerja sesuai dengan bidangnya. “Ini menjadi pengantar untuk kita mendirikan Institute Pendidikan Vokasi UMM dengan tagline Creating moment,  progressing talent. IPV ini nantinya memiliki visi pelopor dalam pemajuan talenta,”ujarnya pada Lokakarya Pendidikan Vokasi “Tantangan dan Prospek Pendidikan Vokasi pada Perguruan Tinggi di UMM, (3/10). Menguatamakan kualitas lulusan, nantinya IPV UMM direncanakan akan mengangkat tata CREATIVE yakni Care,  Religious,  Entrepreunersh,  Agile,  Teamwork, Inovative, Visionary dan Exellence. “Alasan lainnya kita betul-betul ingin memanfaatkan Industri 4.0. Kedua menurunkan angka pengangguran, ketiga meningkatkan daya saing global, memanfaatkan bonus geografi, bonus demografis kita harus diubah dari yang konsumtif jadi produktif serta kelima meningkatkan eksport tenga kerja terampil. Ini seperti kerjasama kita dengan Jepang itu,”tambahnya. Nantinya IPV akan melayani berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum dewasa, anak-anak lulusan SMA/SMK dan jug civitas akadenika UMM sendiri. “Nantinya mereka akan mendapatkan kecakapan lulusan berupa soft skill,  jiwa kreatif dan entrepreuner,  berketrampilan jamak, adaptif dan pembelajaran sepanjang hayat serta  global citizenship,”katanya. Direncanakan menyediakan pendidikan yang terus beririsan dengan kemajuan zaman, IPV sesuai rencana akan memiliki 5 sekolah dengan berbagai bidang peminatan, sekolah disain dan media misal program peminatan interaktif disain, sekolah TIK dan elektronika, sekolah bisnis dan manajemen, sekolah kesehatan dan hospitality misal dengan peminatan halal pastry dan baking dan sekolah agribisnis misal peminatan landscape. “ Sehingga nantinya anak itu punya disain masa depan sesuai dengan passionnya sendiri,” tambah Ananto. Selain didisain istmewa dalam kurikulumnya, IPV nantinya direncanakan juga sebagai kampus dengan multi stakeholder,  integrated facilities,  e-Manajemen,  dan Green Environment dengan menggunakan semua yang serba canggih dengan less paper. “Nanti bisa juga bekerjasama dengan kampus Singapura misalnya.  Disana kan kekurangan mahasiswa.  Ini bisa kita ajak kerjasama. Misalnya mereka mengirimkan dosen untuk mengajar vokasi disini,” pungkasnya.(sil)

Snack Diet Sunnah Kurma Isi Cokelat THAMR Produksi Mahasiswa UMM

Kurma. Buah asal negeri timur tengah ini akrab dan disukai para orang tua. Memiliki rasa manis dan banyak khasiat, sayangnya oleh-oleh khas jema’ah haji dan umroh ini tidak begitu diminati anak muda.<br /> Melihat fenomena ini, seorang mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Meita Hanifatus Shobiroh mencoba berkreasi membuat snack berbahan kurma yang dapat mencuri hati anak muda. Ia mengajak dua rekannya, Ulinnuha Lailanur Mawarni dan M. Guntur Purwodi yang merupakan salah satu mahasiswa kampus negeri di Malang, untuk berinovasi memproduksi Snack Diet Sunnah, Kurma Isi Cokelat THAMR.<br /> “Kita ingin mengenalkan bahwa kurma itu bukan hanya untuk lansia saja. Melalui produk kami, anak muda juga bisa menyukai kurma dengan berbagai varian rasa yang ditawarkan,” paparnya, Selasa (2/10).<br /> Selain menyajikan berbagai varian rasa, kemasan yang didesain cantik dan menarik serta harga yang terjangkau menjadi andalan Meita memasarkan produknya. Meita pun memaparkan beberapa kelebihan lain yang ditawarkan snack sehat ini seperti kaya serat, tanpa tambahan gula, dapat memperkuat tulang, mempercatik kulit, menjaga tekanan darah hingga memelihara kesehatan jantung.<br /> “Kurma ini juga tanpa bahan pengawet dan pemanis tambahan, soalnya dari kurmanya sendiri sudah manis banget, jadi para lansia tidak perlu khawatir diabetes. Meskipun tanpa pengawet buatan, kurma isi coklat THAMR bisa tahan satu tahun asal tidak terkena sinar matahari langsung,”paparnya.<br /> Menawarkan penganan nikmat dengan harga ekonomis, Kurma Isi Cokelat Thamr tersebut dijual dengan dua pilihan kemasan. Kemasan premium berisi 8 buah kurma seharga Rp. 8 ribu dan kemasan medium 0,5 kg seharga Rp. 50 ribu. Menggunakan sistem online, produk yang segera memiliki varian rasa keju ini sudah menjamah seluruh daerah di Pulau Jawa, Lombok hingga Sumatera. Meita pun mengantongi untung yang cukup lumayan mencapai jutaan rupiah setiap bulannya.<br /> “Kemarin lebaran itu kita kirim-kirim ke luar pulau juga, ke Lombok sampai ke Pekanbaru. Alhamdulillah sudah mencapai jutaan rupiah tiap bulannya,”pungkasnya. (aan/sil)

Entrepreunership Day UMM, Kupas Pentingnya Branding dalam Wirausaha

Untuk kesekian kalinya, Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa dan Alumni (PKMA) Biro Kemahasiswaan Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) mengadakan kerjasama dengan perusahaan terkemuka. Senin (1/10) di Aula BAU UMM, PKMA menggandeng Pizza Hut Delivery (PHD) dan Radio Puspita FM menggelar Entrepreneurship Day untuk berbagi pengalaman sukses mengelola jiwa entrepreneurship, khususnya kepada mahasiswa UMM yang getol berwirausaha. Pada kesempatan kali ini, PHD mendatangkan Christofel Angelo yang tak lain adalah Creative Director of JCK Enterprise.  Menghisupkan semangat berwirausaha para mahasiswa, Christofel berbagi pengalamannya dalam mem-branding berbagai produk. “Branding itu bukan soal tampilan, packaging dan teman-temannya. Branding adalah karakter yang ingin diperkenalkan kepada publik,” ujar Christofel. Ia juga menjelaskan, bahwa pada dasarnya hingga saat ini begitu banyak entrepreneur atau pengusaha yang salah mengartikan branding, hingga pada akhirnya usaha yang didirikan gulung tikar dalam waktu yang singkat. Agar berhasil membangun sebuah usaha Christofel menambahkan, seorang entrepreuner perlu melakukan berbagai pertimbangan yang matang. Apa yang dilakukan, semuanya harus berdasarkan riset dan product testing. Hal ini agar apa yang ditargetkan tak salah sasaran dan pada akhirnya merugi. Selain perencanaan yang matang, pria yang berkarir dalam bidang marketing consultant, sales dan online marketing ini juga menekankan bahwa dalam proses pemasaran, salah satu media yang paling murah dan mudah untuk digunakan adalah media sosial. Hal ini dapat diaplikasikan, utamanya untuk para pengusaha pemula. “Maksimalkan saja promo-promonya dengan rapi dan bagus menggunakan aplikasi-aplikasi mudah di android, ini untuk membuat kesan baik pada produkmu,” tekannya. Di akhir pria berkacamata ini berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tidak mendirikan sebuah usaha hanya lantaran sedang viral. Menurutnya, segala hal yang cepat naik juga akan cepat turun. Produk yang viral tidak memiliki prospek jangka panjang karena biasanya hanya akan muncul sesaat. Kepala PKMA UMM, Fien Zulfikariyati menyampaikan bahwa acara ini menjadi wadah bagi seluruh mahasiswa yang memiliki potensi di bidang kewirausahaan. “Mahasiswa harus diberi ruang untuk mengasah kompetensi berwirausaha, salah satunya dengan diadakannya forum-forum seperti ini,”tutupnya. (mir/sil)

Amati, Tiru, Modifikasi jadi Kunci Sukses Alumni UMM CEO Click Indonesia

Pernah mendengar nama Ferri Uno? Alumni Program Studi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bernama asli Ferri Jubair tersebut menjadi salah satu pengusaha muda Indonesia yang suskses membangun perusahaan digital, Click Indonesia. Perusahaan manajemen konten dan media sosial yang secara khusus membuat konten spesial yang sesuai dengan audiensnya dan memastikan keterlibatan jangka panjang melalui media sosial tersebut, saat ini telah berkembang pesat. Bersama tim profesional yang dibentuk, Click Indonesia membangun merek yang efektif dan menciptakan kehadiran media sosial yang menarik untuk publik figur terkenal dari berbagai kalangan, baik pemerintah, entitas komersial  maupun perusahaan. Ferri menguraikan, perjalananya menuju titik ini bukan suatu hal yang mudah. Bertekad untuk mandiri sejak masih mahasiswa, pemuda kelahiran Amsterdam Belanda ini telah menjajal berbagai keberuntungan untuk menjadi seorang entrepreuner. Ia pernah mencoba usaha di bidang kuliner. Sayangnya, dua kali membuka bisnis di bidang tersebut keberuntungan belum berpihak pada pria asal Malang tersebut. “Saya buka bisnis di Malang pada bidang kuliner dua kali, tapi memang saya belum beruntung di sana. Akhirnya saya lamar-lamar untuk mencari opportunity lain,” jelasnya. Mantap berhijrah, pria yang baru 13 tahun tinggal di Indonesia ini memulai karir barunya di Jakarta pada tahun 2015. Ia memutuskan untuk “belajar” dan bekerja dengan orang-orang yang dianggap sesuai dengan minatnya. Tak membutuhkan waktu lama, berkat kredibilitasnya dalam bekerja, Ferri memperoleh kesempatan untuk bergabung pada sebuah proyek milik Mark Winkle yang bekerjasama dengan Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) pada tahun yang sama. “Setelah diterima, bersama Mister Mark Winkle saya mendapat kepercayaan untuk merumuskan Message House untuk Ibu Retno (red. Menteri Kemenlu),” papar Ferri. Memberikan kinerja terbaik, Ferri dan tim berhasil merumuskan Empat Pilar Message House untuk Kemenlu. Usai keberhasilan tersebut, empat bulan berselang, Ferri memutuskan untuk berdiri sendiri dengan membangun sebuah perusahaan perintis (startup.red). “Saya empat bulan ikut Mister Mark Winkle. Kalau ikut orang itu jangan lama-lama. Jangan lupa implementasikan ATM yaitu amati, tiru, modifikasi,” kata Ferri. Diakui Ferri, keyakinannya untuk mulai membuka bisnis baru juga tidak terlepas dari inspirasi yang didapat dari intensitas pertemuannya dengan Ilham Habibie, putra pertama Presiden BJ. Habibie. Ilham menilai, Ferri memiliki potensi besar untuk mengembangkan kreativitasnya. Penyataan ini membuat Ferri makin mantap hingga pada tahun 2016, ia resmi membuka startup barunya Click Indonesia. “Setelah sering bertemu dengan Pak Ilham Habibie, saya lihat perusahaan digital milik beliau dan saya pikir peluang membuka perusahaan seperti itu sangat besar lalu terciptalah Click Indonesia,” ungkap Ferri yang menjabat sebagai CEO and Communication Consultant Click Indonesia ini. Dikenal memiliki pribadi yang sangat berambisi, selebgram yang digadang-gadang memilki tampilan mirip dengan Sandiaga Uno ini tak pernah menyangka bahwa ia akan kembali ke UMM karena mendapat undangan sebagai seorang alumnus yang dikenal sukses mengejar mimpinya. “Kalau dipikir-pikir lagi, lima tahun yang lalu, saya tidak punya pandangan bahwa akan kembali ke UMM dan menjadi tamu yang diakui sebagai mahasiswa sukses mengejar mimpinya. Mungkin ini adalah salah satu bentuk dukungan saya untuk UMM, memberikan motivasi kepada para mahasiswa untuk terus mengejar mimpi,”pungkas Ferri. (nis/ sil)

UMM Segera Sulap Kawasan Selatan Jatim Park 3 Jadi Kampung Hijau

Siapa tak tahu kemasyhuran Kampung Warna-Warni Jodipan di Kota Malang? Kampung tematik garapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menginspirasi berbagai pihak untuk turut menyulap kawasannya menjadi destinasi wisata menarik. Belum juga selesai UMM menggarap proyek ‘Discover Gresik’, yakni proyek mem-branding lima kawasan di Kabupaten Gresik, Program Studi Ilmu Komunikasi UMM kembali diminta untuk menggarap kawasan di selatan komplek wisata Jatim Park 3, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Permintaan itu diterima langsung dosen Ilmu Komunikasi, Jamroji, yang merupakan salah satu tokoh di balik suksesnya Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ). Kabar itu disampaikan Jamroji Sabtu  (29/9). Rencananya, mulai Oktober 2018 nanti UMM dan Jatim Park Group bakal mengintegrasikan 89 rumah di selatan area Jatim Park 3 menjadi kawasan wisata edukasi bernama Kampung Hijau. Berkolaborasi dengan apik, proyek ini kembali akan bekerjasama dengan PT. Indana Paint sebagai perusahaan penyedia cat untuk KWJ. “Banyak permintaan kepada kami untuk mengubah kawasannya menjadi objek wisata serupa KWJ. Karena tiap daerah punya potensinya masing-masing. Bahkan bisa jadi lebih besar potensinya ketimbang Jodipan,” imbuh Arum Martikasari, dosen Prodi Ilmu Komunikasi. Selain bakal menyulap kampung menjadi warna-warni, di tiap rumah juga bakal dipasang  tanaman hidroponik, atau budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah. Tenik ini menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. “Apapun yang dilakukan mereka (mahasiswa praktikum, red.) itu based on research. Anak-anak Jodipan saja riset di sana selama dua minggu. Door to door ke rumah warga. Harus mendapatkan insight (wawasan.red) dulu dari sana. Menyampaikan maksud Indana di sana juga,” kata Arum. Dilanjutkan Arum, tiap karya keatif dalam praktikum seperti hadirnya kawasan KWJ, prinsip yang senantiasa diterapkan adalah untuk menumbuhkan potensi. itu bukan disuapin, tapi dipancing. Bukan kita yang bawa ikannya ke mereka, tapi kita sediakan saja pancingannya ke mereka. Itu bagian dari usaha kami untuk membuat mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM menjadi berbeda dengan yang lain,” imbuh Arum. (can/sil)

Perkuat Jiwa Wirausaha, UMM Ajak Mahasiswa Pamerkan Produk Kebanggaan di Matos Expo 2018

Tahun ini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan kesempatan lebar bagi para mahasiswa untuk berwirausaha. Tidak hanya berlatar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tetapi dari seluruh fakultas bisa mengikuti kesempatan wirausaha muda. Kesempatan melatih jiwa usaha ini ditunjukkan dengan penyelenggaraan pameran mahasiswa UMM mulai dari acara Campus Market sebagai salah satu rangkaian acara Emtek Goes to Campus (EGTC)  (26-27/9) September hingga Pameran Produk mahasiswa yang di selenggarakan di pusat perbelanjaan Malang Town Square (Matos) (28/9). “Kami mengharapkan diadakannya pameran di Matos ini sebagai pengalaman baru dan ruang belajar berwirausaha. Dengan mengikuti pameran di tempat yang seperti ini, maka adik-adik mahasiswa dapat mengasah keberanian,” ungkap Wakil Rektor III UMM, Sidik Sunaryo dalam sambutannya. Sidik menambahkan, semua kegiatan yang telah disusun dalam beberapa hari tersebut tidak lain ingin membantu mahasiswa menyalurkan jiwa wirausaha muda. Sementara itu perwakilan Matos, juga menyampaikan keinginan untuk kedepannya terus dapat membangun kerjasama dengan UMM. “Semoga kerjasama ini terus berlanjut sehingga mahasiswa ketika ke Matos selain berkunjung juga dapat memberikan inspirasi lewat perform mereka di sini. Mahasiswa membawa kontribusi positif yang bisa ditiru oleh teman-temannya,” ujar Fifi Trisjanti, Mall Director Matos. Pada pameran produk mahasiswa kali ini, terdapat 14 stand yang diisi dengan karya cipta mahasiswa, produk makanan maupun minuman, dan produk barang unik seperti sepatu bordir, tas berbahan daun pandan dan lontar, serta produk tanaman hias minimalis.

Tiga Mahasiswa UMM Lolos EGTC News Presenter Competition Tingkat Nasional

Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) lolos Emtek Goes to Campus (EGTC) News Presenter Competition Tingkat Nasional. Mereka adalah Mar’atun Sholikhah, Agnia Addini dan Bertia Salma Mentari. Sebelumnya, ketiganya berhasil menyisihkan 125 peserta yang lain setelah melalui tiga hari masa penyisihan. Pada hari pertama, ke 125 peserta disaring menjadi 28 orang semi finalis, di hari kedua dikerucutkan menjadi 10 dan pada hari terakhir dipilih 5 finalis terbaik. Tiga orang tersebut bersama dua mahasiswa asal salah satu PTN di Malang ini nantinya akan berkompetisi lagi dengan masing-masing 5 finalis lain dari 5 kota yaitu, Semarang, Malang, Jogja, Surabaya, dan Bandung. “Hari pertama, kami bebaskan masing-masing materi pada peserta. Di hari kedua dan ketiga, kami yang berikan materi dan mereka berkompetisi di panggung utama disaksikan para peserta EGTC,” terang David Rizal, salah seorang reporter dan presenter Liputan 6 SCTV yang juga merupakan alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM. David menyampakan, masing-masing babak penyisihan dinilai melalui beberapa kriteria, yakni penampilan (good looking), kemampuan presenting dan live report, dan terakhir wawasan peserta. “Setelah melalui babak penyisihan, lima terbaik News Presenter Competition yang akan mengikuti lomba lanjutan di tingkay nasional,”ujarnya. Salah satu  finalis Mar’atun Sholikhah atau akrab dipanggil Ika mengaku bahwa keberhasilannya kali ini merupakan hasil dari usahanya yang tak kenal meyerah. Ia bahkan mengaku telah mengikuti ajang bergengsi ini lima kali. “Aku udah lima kali ikut. Dulu ikut sejak semester dua dan terus mencari informasi tentang EGTC hingga akhirnya aku tahu kalau EGTC akan ada di UMM,” ujar Ika. Mempersiapkan perlombaan banyak cerita dari para peserta. Mulai dari permasalahan kostum, hingga kebingungan mencari materi berita sebanyak-banyaknya. “Aku baru bisa tidur jam 01.00 WIB dan aku sebenarnya pesimis karena dibanding peserta lain, aku sendiri yang pertama kalinya ikut ini dan tidak memiliki pengalaman sebanyak Ika dan Aris,” pungkas Agnia, yang merupakan mahasiswa Hubungan Internasional UMM. Sejak tahun 1997, Emtek Goes to Campus (EGTC) yang dulunya bernama SCTV Goes to Campus hingga kini tetap menyisir kampus-kampus negeri maupun swasta di Indonesia. Selama tiga hari (25-27/9) EGTC News Presenter Competition digelar di Umm. Pendaftar tidak hanya mahasiswa asal Malang tetapi juga berbagai kota lain di Jawa Timur seperti Surabaya dan Kediri. (apn/sil)

Doktrin Mahasiswa UMM untuk Sukses, Adji Watono: If I can do, you can do also

Pemilik kerajaan bisnis periklanan Dwi Sapta Grup, Adji Watono, hadir menggugah ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada gelaran Emtek Goes to Campus (EGTC) Di Hall Dome UMM, Kamis (27/9) siang. Adji hadir dalam sesi CEO Talk and Inspiring Practitioners. Kesuksesannya menahkodai hampir 37 tahun Dwi Sapta Group, terangkum dalam prinsip hidup yang Adji anut sedari muda. Di antaranya fight until the end, semangat untuk sukses dan kaya serta passion “Saya harus kaya” dan “Saya harus sukses”. Ia pun berpegang teguh pada pendirian yang dipegangnya, bahwa apapun pekerjaan yang dilakukan harus menjadi yang terbaik dan nomor 1. Mengutip tokoh panutannya, Robert Toru Kiyosaki, Adji menerapkan prinsip 4B: Think Big, Dream Big, Action Big, Result Big. “If I can do, you can do also,” ujar Adji meyakinkan para mahasiswa bahwa dengan segala keterbatasan yang dihadapi, jangan sampai membunuh impian-impian yang telah dibuat. “Kamu mesti punya keyakinan kepada kemampuan diri sendiri, you are to be succes!” serunya. Berkat sepak terjangnya mengembangkan usaha, Adji bahkan sempat dibuatkan buku biografi tentang perjalanan kesuksesan membangun kerajaan bisnis  iklannya. Buku biografi berjudul “Kisah Sukses TUKANG FOTO menjadi BOSS ADVERTISING: Pengalaman 35 tahun Membangun Dwi Sapta” yang terbit di tahun 2016 tersebut, banyak membongkar resep-resep dan strategi Dwi Sapta dalam membangun merek klien-klien yang ditanganinya. Selain membagikan cerita jatuh-bangunnya mendirikan kerajaan bisnis, Adji juga berbagi rahasia di balik dapur, sehingga perusahaan pemasarannya mampu bertahan di tengah gempuran era digitalisasi. “Ialah digital, creativity, and ideas can make you to be success,” tandasnya. (can/sil)

FKIP UMM Mulai Program PPG Dalam Jabatan Batch 2

Sebanyak 109 Guru Dalam Jabatan dari seluruh Indonesia mengikuti orientasi Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Batch 2 di Aula BAU UMM, Kamis (27/9). Koordinator program Trisakti Handayani menyampaikan, para peserta tersebut nantinya akan mengikuti rangkaian kegiatan yang terdiri dari pengayaan materi dan praktik. “Selama lima minggu peserta akan mengikuti pengayaan materi di kelas dan dilanjutkan dengan praktek lapangan selama tiga minggu,” ujarnya. Sementara itu dalam sambutannya Dekan FKIP UMM Poncojari Wahyono menegaskan agar peserta selalu mengedepankan keseriusan dan kesungguhan dalam nuansa kegembiraan. “Ini agar seluruh peserta, bapak ibu guru yang mengikuti program berhasil dengan memuaskan,”tambahnya. Rektor UMM Fauzan dalam pengarahannya menekankan bahwa seorang guru adalah pejuang bagi bangsa karena mampu mengantarkan putra-putri orang lain meraih sukses, disamping mendidik anak kandung sendiri. “Bapak dan ibu guru adalah kunci keberhasilan pendidikan Indonesia,” tandasnya. Fauzan juga menyampaikan, pentingnya posisi guru sebagai manajer dalam manajemen pengelolaan sumber daya manusia dalam dunia pendidikan. Ia pun berpesan agar para guru tidak lelah terus membina anak didiknya, terutama dalam hal budi pekerti. “Pendidikan yang utama adalah tentang adab. Anak-anak sekarang kalau mencaci maki lewat pesan merasa tidak berdosa, apalagi pakai motor seenaknya saja tanpa memperhatikan keadaan jalan,”tandasnya. (Humas UMM)