Bukan Spoiler! Mahasiswa UMM Bakal Adu Akting di Film Yowis Ben 2

Kemeriahan dan kejutan Emtek Goes to Campus (EGTC) 2018 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memang tak ada habisnya. Kali ini, kabar membanggakan datang dari empat mahasiswa UMM yang bakal terlibat dalam pembuatan film Yowis Ben 2 besutan YouTuber kenamaan, Bayu Skak. Bayu Skak sebagai salah satu inspirator muda dalam gelaran EGTC hari ke-2, Rabu (27/9) kemarin, dalam pembicaraannya usai sesi tanya jawab mengajak empat peserta yang bertanya untuk turut terlibat dalam pembuatan film yang 80 persen menggunakan bahasa Jawa itu. Yowis Ben merupakan film drama-komedi Indonesia yang dirilis pada 22 Februari 2018. Film ini dibintangi oleh Bayu Skak, Brandon Salim, Cut Meyriska, Joshua Suherman, serta Tutus Thomson dan disutradarai oleh Fajar Nugros dan Bayu Skak sendiri. Sukses dengan yang pertama, Yowis Ben 2 tengah dipersiapakan untuk segera meluncur dan turut menghiasai layar lebar Indonesia. November 2018 mendatang keempat mahasiswa UMM yakni, Zendita Albion dan Nandiroh dari Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Sisilia Putri Syafira dari Jurusan Hubungan Internasional FISIP, dan Rio Perdana Dewan Daru dari Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik bakal menjalani proses syuting. “Sekarang mereka pasti cuma dapat kesempatan tampil sebentar aja di film. Tapi aku pengen mereka kaya aku pas dulu. Mereka harus termotivasi gimana biar ke depan bisa kaya aku,” ungkap Bayu di belakang panggung. (Humas UMM)
CEO Indonesia Medika Ajak Pemuda Indonesia Stop Mengkritik dan Mulai Cari Solusi

Jika ingin menikmati hidup pastikan melakukan tiga hal ini, yaitu bekerja di bidang yang disukai, bekerja di bidang yang dikuasai dan bagaimana pekerjaan tersebut dapat bermanfaat bagi orang lain. Hal ini disampaikan dr. Gamal Albinsaid CEO Indonesia Medika pada gelaran EMTEK Goes to Campus di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Selasa (26/9). “Jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati dan jangan korbankan mimpi hanya untuk recehan rupiah,” ujarnya menyemangati sekitar 6.000 mahasiswa yang hadir. Pria yang juga bergerak di dunia socialpreuneur ini menyampaikan, bahwa mengikuti passion menjadi salah satu hal yang menuntunya meraih beberapa prestasi dalam hidup. Gamal yang menyukai anak kecil, suatu ketika terketuk hatinya ketika melihat seorang anak pemulung yang harus meregang nyawa karena penyakit diare lantaran kekurangan dana untuk mengakses fasilitas kesehatan. Ternyata, kasus serupa sangat banyak terjadi di Indonesia. Menurut data yang ia peroleh, ada jutaan anak dibawah usia 5 tahun yang meninggal akibat kekurangan layanan kesehatan. Dari sini ia pun berinisiatif untuk mendirikan Indonesia Medika (Inmed) dan menjalankan berbagai program untuk membantu masyarakat kurang mampu dalam mengakses layanan kesehatan, salah satunya melalui asuransi sampah. “Kami membuat info untuk masyarakat kurang mampu memperoleh layakan dan informasi kesehatan. Untuk asuransi sampah, hanya dengan membayar sampah 10 ribu rupiah per bulan maka masyarakat akan dapat layanan gratis berobat hingga rawat inap,” ujar pria asli Malang tersebut membakar semangat para generasi muda. Selain melalui asuransi sampah yang dapat digunakan untuk berobat di Klinik Inmed, Gamal juga bergerak memberikan pengabdian terbaiknya melalui program siapapeduli.id dan homemedika.com. Siapapeduli.id merupakan platform pembiayaan kesehatan menggunakan pendekatan digital, sosial media dan gerakan kerelawanan. Sementara itu homedika.com menghubungkan antara tenaga kesehatan dengan masyarakat dalam rangka memberikan layanan kesehatan yang lebih mudah. Program ini bahkan telah berhasil mengumpulkan 500 relawan dan dengan total dana yang cukup besar. Bahkan, dana yang dikumpulkan pernah mencapai ratusan juta rupiah untuk membantu operasi seorang bayi pasien pendarahan otak. “Jadi yang punya facebook jangan hanya dipakai untuk pajang foto selfie saja ya. Program ini usianya pendek tapi sudah membantu lebih dari ratusan orang di Indonesia,”ujarnya. Terakhir Gamal berpesan kepada para mahasiswa yang tengah berada dalam masa-masa terbaik untuk terus memelihara passion dalam berkarya. Ia pun berharap agar para mahasiswa tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang dimiliki di usia emas ini. “Masa muda ibarat matahari yang paling terang. Jadi jangan sia-siakan masa ini. Tugas pemuda Indonesia bukan lagi mengkritik tapi tugas kita melahirkan solusi. Percayalah jika kita sempurnakan niat maka Tuhan akan sempurnakan pertolongan-Nya,” pungkas pria yang telah banyak meraih berbagai penghargaan nasional dan internasional, salah satunya “The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur” dari Pangeran Charles di Inggris setelah menyisihkan 511 wirausaha peserta dari 90 negara. Apa yang disampaikan dr. Gamal sejalan dengan Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. yang juga menegaskan bahwa mahasiswa adalah kekayaan bangsa yang perlu dijaga dan dipelihara untuk masa depan Indonesia. “Pagi ini kita berdiri dihadapan ratusan milenial yang dimiliki UMM dan mereka ini adalah aset untuk kemajuan bangsa ini,”tandasnya.
Dude Herlino Bagi Kiat Sukses Berwirausaha ke Ribuan Mahasiswa UMM

Siapa tak kenal Dude Herlino? Aktor tampan ini tetap cemerlang meski telah merambah dunia lain, yakni berwirausaha. Dude Herlino membagi kisah suksesnya menyeimbangkan kesibukannya di dunia peran dan wirausaha pada sesi Inspiring Session Emtek Goes to Campus (EGTC) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (26/9). Tak banyak yang tahu, Dude sempat membuka warung Mie Ayam hingga restoran Susi. Meski kerap menemui kegagalan, Dude tak pernah kapok dengan usaha kuliner. Kini ia membuka sebuah usaha oleh-oleh khas Yogyakarta, Yogya Scrummy. Kini, usahanya makin dikenal masyarakat Yogyakarta sejak membuka sejumlah outlet, termasuk membuka jasa reseller dan pop up di beberapa titik di Yogyakarta. Berkat usaha tersebut Dude telah membuka peluang usaha bagi ratusan orang. Tak hanya berorientasi keuntungan, di balik usahanya itu, Dude juga punya misi mulia. Di antaranya memberdayakan kelompok Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di sekitaran Yogyakarta. Juga, memproduksi konten-konten video untuk mempromosikan destinasi wisata di Yogyakarta dan sekitarnya melalui saluran YouTube. “Saya ingin bekerjasama dengan pengusaha di Yogya, terutama dengan UKM yang sudah lama di Yogya. Selain itu, misi saya adalah memberikan support para UKM di Yogya untuk sama-sama maju,” kata Suami dari aktris Alyssa Soebandono ini. Tak hanya sinergi dengan UKM, Dude ingin melalui usahanya itu dapat memberikan dampak sosial kepada masyarakat Yogyakarta. “Alhamdulillah, kami sudah bisa menyediakan ambulans gratis. Membantu sekolah yang kondisinya kurang baik. Komitmen kami dapat memberikan manfaat kepada masyarakat yang lebih luas lagi,”tambahnya. Kegagalan demi kegagalan dihadapi Dude di dunia akting maupun wirausaha. Meski begitu, Dude tetap berkukuh pada pendiriannya dan yakin Allah pasti memberi jalan. “Untuk menuju ke satu titik yang kalian impikan, tidak selamanya perjalanan itu mudah. Ada masa mudahnya, ada masa terpuruknya. Itu wajar,” ungkapnya. “Pertama yakni keberanian atau mental yang kokoh. Kedua harus tahu apa yang mau dijual. Yang nggak kalah penting juga harus paham strategi marketing-nya. Dunia digital sangat luar biasa. Sekarang hanya bermain online, pendapatannya sudah sangat luar biasa,” kisahnya. Tidak lupa Dude berpesan, dalam mempersiapkan rencana usai studi mahasiswa hendaknya tidak pernah menghilangkan keinginannya untuk berwirausaha dan belajar berwirausaha ini khususnya dari Rasulullah serta tokoh-tokoh lain dalam Islam. “Abdurahman Bin auf, Utsman bin Affan dan tokoh-tokoh Islam lainnya yang juga berwirausaha. Dengan berwirausaha, kita mempunyai kebebasan finansial. Dengan berwirausaha, kita melatih pikiran kita untuk terbiasa dengan kompetisi,” seru Dude. Terakhir, ia berpesan kepada seluruh peserta EGTC agar menggunakan masa muda, khususnya saat menjadi mahasiswa untuk mulai memikirkan bidang entrepreneur apa yang bisa dijalankan. “Dan untuk lebih memotivasi kalian, bacalah kisah-kisah perjuangan orang-orang sukses,” tandasnya. (can/sil)
Campus Market di EGTC 2018, Ruang Apresiasi Pengusaha Muda UMM

Sebagai salah satu pilihan baru generasi muda untuk dapat memenuhi pundi-pundi keuangan sekaligus sebagai jalan untuk menjadi mandiri, menjadi pengusaha muda merupakan pilihan yang harus dicoba oleh setiap generasi millenial. Minat generasi muda pada bidang ini disambut baik oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui agenda Campus Market. Bersamaan dengan digelarnya EMTEK Goes to Campus (EGTC) 2018, sebanyak 58 usaha milik mahasiswa UMM berjajar untuk disuguhkan pada para pengunjung acara yang mendatangkan banyak pembicara berskala nasional tersebut. Menurut Koordinator Acara Campus Market Mohammad Isnaini, digelarnya Campus Market ini menjadi salah satu bentuk apresiasi UMM kepada para pengusaha muda yang juga menempuh pendidikan di UMM. “Campus Market yang hadir di tengah EGTC kali ini merupakan salah satu bentuk apreasiasi kami kepada pengusaha muda yang ada di UMM,” papar pria yang juga Sekertaris Humas dan Protokoler UMM tersebut. Dibuka sejak Rabu hingga Kamis (26-27/9), Campus Market dipadati para pengunjung yang ingin membeli atau hanya sekadar melihat produk-produk karya mahasiswa UMM. Salah satunya ialah Verina Ayu mahasiswa baru UMM ini mengaku sangat senang dengan keberadaan Campus Market ini, karena bisa melihat produk karya mahasiswa UMM secara langsung yang sebelumnya hanya bisa dilihat melalui media promosi. “Dulu saya masuk UMM itu karena lihat produk mahasiswa UMM yang dipromosikan lewat iklan-iklan saja,” terang mahasiswa Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) tersebut. Tak hanya memperoleh antuasisme dari para mahasiswa sebagai pengunjung, Campus Market ini juga disambut baik oleh para pengusaha yang juga mahasiswa UMM salah satunya ialah Miftakhurrohmah Zaky Al Makin. Mahasiswa Psikologi UMM ini mengaku sangat bersemangat dapat mengisi salah satu stand pada acara Campus Market ini. “Saya sangat senang bisa bergabung di Campus Market ini, acara seperti ini adalah wadah bagi kami mahasiswa yang juga pengusaha muda untuk bisa berkembang,” jelasnya. Tak hanya memfasilitasi mahasiswa dalam mempromosikan produk-produknya, UMM juga sejak lama telah membentuk karakter pengusaha kepada para mahasiswa melalui program Karier dan Kewirausahaan. (nis/sil)
Mahasiswa Bahasa Inggris Saling Pamer Media Pembelajaran di ELMO 2018

Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar English Language and Education Department Media Expo (ELMO) 2018 di lantai 3,5 GKB I, Rabu (26/12). Pameran media pembelajaran ini merupakan rangkaian akhir dari mata kuliah Media dan Sumber Belajar. Mata kuliah ini diampu Laila Hikmah Nurbatra, MA., M. EdLead. Dan Eka Listianing Rahayu, M. AppLing. Salah satu dosen pengampu mata kuliah, Laila memaparkan, event ini digelar sebagai wadah mahasiswa yang sedang mengampu matakuliah media dan sumber belajar. Yakni, diminta membuat desain media pembelajaran Bahasa Inggris. Pada ELMO tahun ini, peserta mencapai 60 kelompok. Setiap kelompok diberikan kebebasan untuk menentukan alat serta materi apa yang akan disajikan dalam media pembelajaran tersebut. “Yang terpenting, selain harus menarik juga harus dapat menunjang proses belajar mengajar di kelas nantinya. Laila mengaku terkejut dengan media pembelajaran yang dipamerkan,” sambung Laila. Menurutnya, mahasiswa sangat kreatif dalam mengaplikasikan materi Bahasa Inggris dan penggunaan teknologi. Sehingga media pembelajaran yang dipamerkan sangat beragam dan melebihi ekspektasinya. “Variasi media pembelajarannya sangat banyak, mulai dari bentuk kerajinan, boneka, software aplikasi komputer juga gawau, video blog atau Vlog, hingga Augmented Reality,” pungkas Laila. Salah satu peserta, Faiza mengungkapkan, mengaku sangat senang dengan ikut berpartisipasi dalam ELMO 2018. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat bagus untuk melatih kreatifitas mahasiswa. “Karena dalam matakuliah ini kami dituntut bagaimana caranya mempermudah proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris, dengan media yang menarik dan sekreatif mungkin,” ujarnya. (iel/can)
Lengkapi Profil Diri Generasi Digital, Graduate Mentorship EMTEK Hadir di UMM

Kembali hadir, Emtek Goes To Campus (EGTC) 2018 kali ini menyambangi Kota Malang, tepatnya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 25-27 September 2018. Menghadirkan berbagai macam agenda, EGTC yang berlangsung di kampus putih ini menyita banyak perhatian dari berbagai kalangan. Tak hanya mahasiswa, beberapa orang yang telah bekerja dalam bidang digital pun turut hadir dalam acara ini. Salah satunya adalah Putri Mardika, salah satu member dari perusahaan perintis berbasis digital yang bergerak dalam bidang pertanian ini mengaku antusias untuk hadir. Kegiatan ini diakuinya sangat menarik, khususnya bagi mereka yang baru belajar di dunia bisnis digitial. “Waktu tahu akan ada di UMM, saya langsung buru-buru daftar. Belum lagi lihat agendanya yang sangat menarik sekali untuk saya yang baru belajar bisnis digital,” terangnya. Mengusung tema Shaping The Future, EGTC bersama UMM tak hanya menyuguhkan agenda dalam ruangan, namun juga memberikan peluang bagi mahasiswa UMM yang akan membuka usahanya dalam Campus Market yang akan berlangsung Rabu-Kamis (26-27/9) di pelataran Dome UMM. Sejalan dengan tema acara, pada hari pertama EGTC hadir pada sesi Graduate Mentorship Program yakni Vice President of Group Human Resources (HR) EMTEK Pieter Andrian. Pieter yang memulai karirnya di PT Astra Internasional ini membagikan jurus-jurus untuk bisa menghadapi persaingan dunia kerja yang tidak lagi hanya dengan manusia melainkan mesin digital. “Manusia memiliki empat kecerdasan yang dibutuhkan untuk bisa menjadi modal dalam menyaingi artificial intelligence (AI),” paparnya. Lanjutnya, menurut Pieter empat kecerdasan itu adalah emosi, imajinasi dan kreatifitas, etika atau spiritual, dan intuisi. Pieter juga secara langsung menguraikan sartu persatu kecerdasan tersebut sambil memberikan games kepada para peserta untuk lebih memahamkan materinya. Ia juga menegaskan, pentingnya keceradasan emosi bagi seseorang. “Orang-orang yang sadar diri akan bertanggungjawab terhadap keputusan yang telah diambilnya. Ini yang namanya memiliki kecerdasan emosi,” tambahnya. Tak berhenti dengan keseruan untuk mempersiapkan diri sebagai human resources di era digital, EGTC yang bekerjasama dengan UMM ini juga menghadirkan Muhammad Fikri Head of Community Management Bukalapak. Fikri memaparkan tentang kekayaan dan kemudahan para generasi Z dalam mengakses internet untuk memperoleh informasi. Baginya tidak ada alasan lagi bagi para generasi digital native ini untuk ketinggalan informasi. “Setiap pagi, hal yang kita lakukan untuk pertama kali adalah membuka smartphone. Tujuannya apa? Untuk memperoleh informasi,” papar alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada tersebut. Fikri juga menanamkan keyakinan pada para peserta bahwa teknologi digital akan terus maju. Sejalan dengan hal tersebut, keputusan untuk dapat beradaptasi ada di tangan masing-masing individu sendiri sebagai manusia digital. Jika ingin maju, maka harus mencari tahu. “Banyak informasi yang bisa kita akses untuk memperoleh informasi untuk masa depan usaha kita, misal cara sukses untuk menjadi pelapak semua bisa dipelajari,” terang Fikri. (Humas UMM)
Bisnis Kaw Kaw Thai Tea, Mahasiswa UMM Kumpulkan Omzet Rp 65 Juta Per Bulan

Ade Damar Kusuma, Galang Yudhamara dan M. Andik Ikhsan Setiawan, mahasiswa Program Studi Akutansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menjadi mahasiswa yang tidak hanya sukses di bangku perkuliahan tetapi juga berhasil dalam dunia bisnis beromzet puluhan juta rupiah melalui brand minuman Kaw Kaw Thai Tea. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, Ade mengaku ketiganya pernah mencoba bisnis minuman jus buah, namun mengalami kegagalan karena faktor perubahan musim yang tidak terprediksi, merugikan usahanya yang bahkan belum sempat berkembang. “Sebelumnya tahun lalu mencoba jus buah, namun mengalami kegagalan. Memasuki bulan Oktober dan waktu itu musim penghujan, buah-buahan cepat busuk sehingga kami mencari usaha yang lain,” tutur Ade, Senin (24/9). Selanjutnya ketiga mahasiswa ini pun mencari peruntungan dengan menjajal jenis minuman yang berbeda. Melihat tren yang sedang berkembang adalah Thai Tea, ketiganya lalu mencoba untuk membuat racikan yang nikmat dan khas. Kemudian kurang lebih selama satu bulan, Andik melakukan riset pada bahan-bahan yang digunakan. Tidak jarang, kegagalan menemukan resep terjadi hingga berulang kali. Tidak patah arang, setelah kurang lebih sebulan mencari komposisi yang pas, ketiganya lalu sepakat untuk membuka kios Thai Tea dengan merk Kaw Kaw. “Waktu itu masih hits Thai Tea. Kita juga lihat bahan bakunya tidak cepat busuk. Selain itu juga belum banyak yang menjual di jalanan. Thai Tea kebanyakan di mal,” terangnya. Telaten terus mengembangkan usahanya, minuman yang dibandrol dengan harga berkisar Rp.10.000- Rp 12.000 tersebut saat ini telah memiliki 30 cabang, 10 diantaranya milik sendiri dan 20 lainnya dikelola pihak lain melalui sistem franchise. Puluhan cabang tersebut tersebar di berbagai kota seperti Malang, Ngawi dan Probolinggo. Tidak tanggung-tanggung, minuman yang menyediakan empat varian rasa yakni original, original Milo, green tea dan green Milo ini setiap bulannya mampu mengumpulkan omzet hingga Rp. 65 juta. “Keunggulan bisnis kami terletak pada produk yang lebih kental, hadir dengan harga mahasiswa dan dijual di jalanan. Pemasukan kotor keseluruhan sekitar 65 juta tiap bulannya,” tambah Ade. Tidak hanya lihai mengembangkan usaha, Ade dan teman-temannya juga menjadi bukti bahwa bisnis bukan pembatas prestasi. Ditanya perihal perkuliahan, Ade mengaku tidak pernah ada kendala. Bahkan Andik, yang baru saja menyelesaikan kuliahnya menjadi salah satu mahasiswa terbaik di jurusannya. “Andik dapat cumlaude IPK terbaik. Saya dan Galang juga akan menyusul insyaallah tepat waktu,” pungkasnya. (apn/sil)
Berbekal Kemampuan Bahasa Inggris, Alumni UMM Ini Raih Omzet Milyaran Rupiah dari Bisnis E-Commerce

Siapa bilang alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hanya bisa jadi guru? Umi Tursini, Ph.D contohnya. Alumni sukses Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMM ini karirnya justru berkibar dalam dunia usaha. Mengembangkan bisnis online mengandalkan konsep market place, Umi berhasil meraih omzet hingga Rp. 1 Milyar setiap bulannya berkat penjualan produk dengan brand Salvo andalannya. “Kemampuan Bahasa Inggris menjadi salah satu yang memudahkan perkembangan bisnis saya, “ujarnya Jumat (21/9). Menuturkan perjalanan usahanya, Umi menguraikan bahwa bisnis ini awalnya dimulai dari hobi berbelanja online ketika dirinya menempuh pendidikan doktor di Universitas New South Wales, Australia. Menjadi penggemar belanja online, lambat laun muncul keingintahuannya terkait seluk beluk bisnis online. Ia pun iseng-iseng mencari tahu, utamanya untuk bisnis yang mengandalkan konsep market place. Berdasarkan pengamatan Umi, ternyata dari 100% transaksi online, yang menggunakan market place hanya 2% dari jutaan warga Indonesia. Ini merupakan sebuah peluang yang sangat besar bagi siapapun yang ingin mengembangkan bisnisnya. “Padahal dengan hanya 2 persen itu usaha saya ini sudah berkembang cepat,” jelas Umi. Umi melanjutkan, bahwa menggunakan E-Commerce dengan konsep market place merupakan bisnis yang zmenjanjikan. Hal ini terbukti dimana hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, ia telah memiliki 3 gudang besar untuk menyimpan berbagai produk tas, sepatu hingga sandal, yang setiap harinya mendapat 1.000 hingga 4.000 orderan. “Pengguna internet nggak mungkin berkurang, tapi selalu bertambah. Saya yakin kedepannya market place jauh menjanjikan. Brand produk saya namanya Salvo, Salvo dalam bahasa inggris artinya tembakan yang bertubi-tubi. Filosofinya, semoga orderannya banyak,” terang Umi yang juga aktif sebagai dosen salah satu kampus swasta ini. Hingga September 2018 ini, hampir semua market place ditekuni Umi seperti Lazada, Tokopedia, Shoppie, Zilingo, dan sejenisnya. Bahkan, saat ini Salvo menjadi produk nomor 1 di Jawa Timur dan Top Seller nomor 5 di Indonesia. Ia pun berhasil mendayagunakan sekitar 200 pengrajin tas, sepatu dan sandal untuk membantu memenuhi suplai produknya. Selain kemauan yang sungguh-sungguh, Umi mengaku kemampuan berbahasa Inggris juga menunjang keberhasilannya. Berbekal bahasa internasional ini, ia mampu menjalin kerjasama dengan banyak CEO dari dalam dan luar negeri. Di akhir Umi membeberkan, seiring perkembangan teknologi peluang usaha sebetulnya sangat banyak dan ada di mana saja. Hanya tidak semua orang mau memulai langkah. “Everyone punya keinginan, tapi yang mau menjalankan atau action itu yang susah. Jadi bagi yang ingin mulai berbisnis, bisa dengan memanfaatkan market place,” tutupnya. (apn/sil)
UMM Ajak Masyarakat Siapkan Konsep Urban Farming Sambut Zaman Millenial

Fishedupark Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memberikan sumbangsih kepada masyarakat yang ingin belajar dalam dunia perikanan. Kali ini Fishedupark mengadakan pelatihan budidaya ikan lele sistem bio natural (Biona) dan akuaponik dengan tema “The Real Urban Farming” pada Sabtu (22/9) di Laboratorium Perikanan UMM. Peserta yang hadir tidak hanya dari kalangan mahasiswa, namun juga dosen, penyuluh dan praktisi dalam dunia perikanan. Pada pelatihan ini, peserta mendapat edukasi dan bukti mengenai konsep real urban farming yang berisi cara budidaya lele system Biona, pembenihan lele berdasarkan standart Cara Pembenihan Ikan Yang Baik (CPIB) dan juga praktek persiapan media air dan akuaponik. Hadir dalam kegiatan tersebut Ganjar Adhy Wirawan, S.Pi., MP dan Riza Rahman Hakim, S.Pi., M.Sc selaku pemateri, keduanya merupakan dosen Perikanan UMM. Menurut Ganjar konsep urban farming perlu disosialisasikan dan diaplikasikan mengingat di zaman milenial saat ini Indonesia sudah mulai mengalami pergeseran masyarakat yang secara produktif mampu menghasilkan produk pangannya sendiri. Disamping itu masyarakat muda Indonesia juga sudah mulai kurang berminat pada sektor perikanan. Padahal di negara lain, hal ini justru sedang mengalami peningkatan. “Tidak hanya itu, pemanfaatan lahan-lahan sempit seperti di kota-kota misalnya juga jadi alasan. Masyarakat dituntut untuk maksimal dalam memanfaatkan lahan sempit serta air yang terbatas agar dapat diolah dengan baik. Sehingga kita harus mengkonsepkan urban farming itu sendiri,” imbuh Ganjar dalam paparan materinya. Secara mendalam, tujuan dari diadakannya kegiatan ini adalah memberikan edukasi dan bukti nyata kepada masyarakat mengenai konsep real urban farming. Peserta diedukasi bagaimana mampu memproduksi ikan air tawar, khususnya ikan lele yang berkualitas baik dari sisi kesehatan maupun mutu produknya. Kegiatan ini juga untuk meningkatkan kegemaran masyarakat terhadap produk perikanan, serta mengenalkan secara teknis Jurusan Perikanan FPP UMM kepada kepada masyarakat. Di lain kesempatan, Fadhilah Purna Agustin salah satu peserta pelatihan merasa sangat tertarik dan teredukasi dengan kegiatan ini, utamanya dalam pemanfaatan lahan yang ada. “Saya sangat tertarik dengan system Biona dan akuatik ini, karena saya ingin memanfaatkan kolam yang saya punya. Selain itu dengan adanya kegiatan ini, saya teredukasi mengenai system budidaya produk perikanan, manajemen pakan dan edukasi-edukasi lainnya,” papar salah satu peserta asal Plaosan, Kabupaten Malang tersebut. (bel/sil)
Termotivasi dengan Kakak Tingkat Hingga Menyabet Juara 1 Legal Opinion Law Competiton 2018
Komunitas Riset dan Debat Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki misi untuk meningkatkan mutu akademik mahasiswa yang tergabung di dalamnya. Hal ini yang mendasari komunitas tersebut untuk berproses bersama dalam kegiatan-kegiatan pada bidang kompetensi riset dan debat hukum yang dilakukan di dalam universitas maupun luar universitas. Kali ini, Komunitas Riset dan Debat berhasil mengantarkan dua timnya lolos pada tahap seleksi di Andalas Law Competition 2018 yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Andalas. Ialah Ratu Julhijah (19) mahasiswi asal Nusa Tenggara Barat yang berhasil keluar sebagai Juara 1 Legal Opinion Andalas Law Competition 2018 yang diselenggarakan pada (16-19/9) di ranah minang. Ratu berhasil menyabet juara dengan pendapat hukumnya yang berkaitan dengan permasalahan konflik sosial pertambangan panas bumi yang terjadi di wilayah Batu Bajanjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sebelumnya ia telah mengirimkan bahan presentasi pada saat proses penyeleksian yang dilakukan pada sebulan sebelumya. Tak lama kemudian ia lolos seleksi dan dipanggil untuk mempresentasikan opini tersebut di depan dewan juri (18/9). Ia menyampaikan opini tentang legalitas izin PT Hitay Daya Energi dan PT dilihat secara hukum positif tidak memiliki izin usaha akan tetapi telah melakukan usaha lebih dulu. Berdasarkan hal tersebut, ia pun merekomendasikan para pejabat tinggi melakukan pengujian izin di PTUN. Mahasiswa Fakultas Hukum semester lina ini pun berhasil mengalahkan tujuh finalis lainnya dari berbagai universitas di Indonesia. Ratu sendiri mengikuti kompetisi tersebut karena motivasi awal ingin bisa menuliskan mengenai pendapat hukum yang sesuai dengan program studi yang ia ambil. Tidak hanya itu, ia juga mengaku termotivasi dengan progres kakak tingkatnya dalam mengikuti kompetisi-kompetisi legal opini. “Yang benar-benar menjadikan motivasi buat saya adalah saya melihat progres kakak tingkat saya, Febriansyah Ramadhan yang setiap kali ada kompetisi selalu ikut, baik penulisan dan legal opini. Jadi saya benar-benar termotivasi dan dalam kompetisi ini saya juga dibimbing olehnya,” tuturnya. Kompetisi ini merupakan pengalaman baru bagi Ratu dalam bidang karya tulis. Sebelumya beberapakali ia telah menjuarai kompetisi debat, salah satunya kompetisi debat regional timur dan kompetisi debat Mahkamah Konstitusi Nasional. Terakhir, ia juga bersyukur telah mengharumkan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang di tingkat nasional kali ini dan berharap kedepannya ada peningkatan mutu akademik setiap mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Riset dan Debat. “Alhamdulillah, kami sangat senang sudah bisa membanggakan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang. Kedepannya kami akan berproses bersama-sama dengan anggota Komunitas Debat dan Riset dalam peningkatan mutu aademik anggota kami.” ujarnya.