UMM dan Kemendikbud Kenalkan Aplikasi KBBI Berisi Bahasa Daerah

Di samping sebagai alat komunikasi dan identitas seseorang, bahasa adalah alat pemersatu bangsa. Bahasa yang baik adalah bahasa yang terus mengalami penambahan kosa kata serta berhasil diaplikasikan dalam lisan maupun tulisan. Mengingat pentingnya hal tersebut Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI menggelar kegiatan diseminasi bahasa Indonesia. Mengusung tema Diseminasi Pedoman Acuan Kemahiran Berbahasa, Kamis (20/9) kegiatan menghadirkan Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Badan Bahasa Hurip Danu Ismadi, Kepala Sub Bidang Pedoman dan Acuan Badan Bahasa Atikah Sholihah dan Kepala Balai Bahasa Jawa Timur Mustakim. Pada kesempatan ini Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Badan Bahasa Hurip Danu Ismadi menyampaikan, Badan Bahasa mengembangkan berbagai pedoman guna meningkatkan kemahiran berbahasa Indonesia pada masyarakat. Hal ini sesuai apa yang terkandung dalam UU No. 24 yang memuat empat amanah utama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. “Empat amanah tersebut adalah pengembangan bahasa dan sastra, kedua pembinaan bahasa dan sastra, ketiga pelindungan bahasa dan sastra daerah dan yang keempat menjadikan fungsi bahasa Indonesia  sebagai bahasa internasional,” sambungnya. Untuk mengembangkan bahasa Indonesia seiring perkembangan zaman, Badan Bahasa saat ini telah membuat dua alternatif dalam mengakses Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), yaitu online dan offline. Untuk via online dapat diakses melalui website dan aplikasi KBBI, sementara offline dapat menggunakan KBBI versi cetak. Berdasarkan perkembangan teknologi terkini, Badan Bahasa mendapatkan data bahwa sekitar 25 juta orang mengakses KKBI secara online. Hal ini wajar, mengingat penggunaan KBBI online dirasa lebih mudah dari pada versi cetak yang memiliki ketebalan sekitar 20 cm, dengan berat sekitar 3 kg dan jumlah halaman yang mencapai 2.014. “Kalau membawa kamus itu kemana-mana punggung kita bisa sakit,” kelakarnya. Khusus aplikasi KBBI, selain mudah digunakan pada aplikasi ini juga terdapat fitur bahasa asli dari berbagai daerah di Indonesia. Bukan hanya mampu mencari arti sebuah kata dari bahasa derah, aplikasi ini juga memungkinkan kita memberikan tanggapan secara interaktif. “Kamus interaktif bisa diakses dan bisa memberikan akses terhadap penambahan kosa kata di KBBI kita. Ini gratis, bisa diunduh kapan saja,” terangnya. Sejalan dengan Danu, Rektor UMM Fauzan menyampaikan bahwa perkembangan bahasa tidak lepas dari perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Keberadaan bahasa juga tidak bisa disembunyikan dari derasnya arus globalisasi. “Bahasa memang tidak bisa berada dalam ruang yang tertutup. Bahasa menjadi  bagian yang kena dan mengenai perkembangan teknologi di dunia ini, apapun bentuknya,” katanya. Kegiatan diseminasi bahasa ini diikuti guru, dosen, mahasiswa, duta bahasa, serta para pegiat bahasa. Fajar salah satu peserta yang juga seorang duta bahasa di salah satu kampus negeri menyampaikan apresiasinya pada acara ini. Ia mengungkapkan bahwa dewasa ini, sosialisasi bahasa Indonesia penting bagi anak muda yang lebih menyukai penggunaan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari. “Masyarakat Indonesia sekarang kurang peka dan bangga terhadap bahasa sendiri. Mereka cenderung menggunakan bahasa asing dalam kesehariannya. Saya berpesan pada teman-teman untuk menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar di media sosial, saat presentasi, dan di semua kegiatan yang kita lakukan,” pungkasnya. (apn/sil)

Peserta LEx UMM Ciptakan Prototipe Mesin Pencetak bagi Pengusaha Alat Dapur di Junrejo Batu

Dilaksanakan ke-lima kalinya, program rutin Learning Express (LEx) yang diadakan International Relation Office (IRO) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tetap sukses mencetuskan ide-ide yang luar biasa. Bekerja sama dengan Singapore Polytechnic  (SP) dengan menggunakan metode Design Thinking, membuat LEx tampil berbeda dengan program community service lainnya. “Yang membedakan LEx dengan community service lainnya adalah peserta memakai metode design thinking dalam diskusi mereka,” papar koordinator LEX UMM, Aditya Pratama. Berangkat dari ide untuk merancang produk yang mudah dibuat, simpel, murah dan bertahan lama, salah satu kelompok Learning Express UMM, Wooden Kitchen, sukses mendapat perhatian dari pemilik usaha pembuatan alat-alat dapur di Desa Junrejo, Batu. Prototipe yang diciptakan 18 orang yang terdiri dari mahasiswa Singapore Polytechnic dan mahasiswa UMM tersebut sangat diapresiasi Syaiful si pemilik usaha. Mengutamakan keselamatan pekerja, kelompok ini membuat sebuah prototipe alat yang lebih efisien untuk membuat produk alat-alat dapur. Mereka mendisain sebuah rangkaian mesin pencetak peralatan dapur yang dilengkapi dengan penutup transparan. Alat tersebut dapat bekerja lebih efisien dan nyaman untuk para pekerja karena para pekerja tidak perlu memakai masker dan alat keamanan lainnya untuk menghindari serpihan kayu dari sayatan saat membentuk peralatan dapur. Selain itu, demi menjaga kinerja yang sistematis kelompok ini juga mendesain tempat kerja yang lebih terorganisir mengingat saat ini tempat kerja tersebut berbeda-beda. Misalnya tempat pemotongan menuju pengeringan kayu memakan sekitar 10 menit perjalanan. Peserta LEX ini juga tidak setengah-setengah dalam membantu para pengusaha ini. Mereka juga membuatkan pasar untuk Syaiful di sosial media seperti Instagram dan Website. Hal ini sangat membantu Pak Syaiful dalam memasarkan produknya. Melalu website udrizky.neocities.org dan  instagram udrizky1, yang merupakan nama putri Syaiful, mereka berharap akan semakin banyak yang kenal serta membeli produk ini. Benar saja, pucuk dicinta ulam tiba. Hanya dalam waktu tiga hari, Syaiful berhasil mendapat oderan sekitar 100 buah telenan untuk dikirim ke Jakarta. “Kami berharap bisnis ini akan meningkat dan sukses kedepannya, “ pungkas Yan Heng, mahasiswa SP senang. Terakhir, menyempurnakan pengabdiannya, kelompok ini membuat excel sheet untuk memudahkan Syaiful dalam mengelola keuangan usaha miliknya. Mereka juga mengajarkan bagaimana cara mengoprasikan sekaligus membuatkan buku panduan cara mengoprasikan excel sheet tersebut. “Karena kami dari fakultas yang berbeda, ini memudahkan kami dalam mengembangkan ide tersebut. Ada yang dari bisnis, kami membuat excel sheet, ada yang dari teknik kami membuat protipe nya. Kami satukan ide tersebut dalam satu mindset,” tutup Kieran, mahasiswa SP. (Humas UMM)

UMM dan Kemendikbud, Ajak Masyarakat Pertahankan Bahasa Daerah Melalui Karya Film

Film dapat menjadi alat untuk mempertahankan budaya asli sebuah daerah. Sayangnya, hingga saat ini jumlah film yang mengangkat budaya, termasuk menggunakan bahasa daerah hanya bisa dihitung jari. Hal tersebut lantaran, sebagian besar para pelaku perfilman sulit keluar dari zona nyaman untuk memberikan suatu karya yang berbeda. “Kalau sekarang di Indonesia lagi ada film ramai satu, misal horor, semua bikin horor. Dulu cinta-cintaan ramai, semua bikin cinta-cintaan. Ini soalnya mereka gak bisa keluar dari zona nyaman. Jadi mereka bikin film yang dilingkaran-lingkaran itu saja,” ujar Produser dan Youtuber Bayu Skak pada Movie Talk yang bertemakan Film Indonesia: Antara Idealisme dan Industri di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Selasa (18/9). Lebih lanjut Bayu menguraikan, berbeda dengan negara maju seperti Amerika dan New Zealand, ketentuan penayangan film di bioskop Indonesia masih dipegang oleh para pemilik bioskop. “Jadi orang yang punya bioskop itu adalah dewa. Kalau di New Zealand atau Amerika yang nge-gong-in itu pemerintah. Pemerintah yang nonton dulu, misal ini Pusbangnya. Jadi kalau ini deal semua, bioskop-bioskop siap menanyangkan,” tambah Bayu. Lebih lanjut pria yang berhasil menelurkan film Indonesia pertama yang menggunakan bahasa Jawa dan tayang di bioskop di seluruh Indonesia bertajuk Yo Wis Ben ini menyampaikan, perjuangan untuk mengangkat bahasa daerah perlu terus dilakukan. Ia pun mengaku kekuatan tekadnya untuk membuat film berbahasa Jawa logat Malangan ini juga mendapat apresiasi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy. “Pak Menteri menyimpulkan bahwa ini bagus agar ke depan orang-orang menggunakan bahasa daerah disetiap karya filmya. Kita bisa berguru ke tetangga kita India. Disana itu setiap tahunnya film terus diproduksi. Bollywood, 20 persennya bahasa nasional, 80 persennya bahasa daerah. Ini kan tidak apa, yang penting ada subtitlenya,” urai Bayu. Apa yang disampaikan Bayu diamini oleh Ketua Prodi Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politi (FISIP) UMM M. Himawan Sutanto yang menjelaskan bahwa Indonesia menjadi negara yang masih minim menggunakan bahasa daerah pada berbagai film yang dihasilkannya. “Jika Korea Selatan memiliki puluhan sekolah film dan India ratusan sekolah film, Indonesia yang masih jarang. Kami berharap teman-teman, utamanya dari luar Jawa dan dari pulau-pulau yang terpinggirkan bisa mengembangkan film yang sifatnya lebih lokal, kuat dan matang,” katanya. Sementara itu Rudy Satrio Lelono seorang Praktisi Media dan Film menyampaikan, hingga saat ini dunia perfilman Indonesia maupun pemerintah terkait, tidak pernah melakukan riset khusus tentang film yang dikeluarkan di pasaran.  Padahal jika penonton ini diriset dengan jelas, para produser atau sutradara akan lebih mudah menentukan langkah untuk membuat yang selanjutnya. Meski demikian Rudi menekankankan pada para seniman film untuk mempertahankan keaslian karya yang dimiliki. “Kuncinya satu orisinalitas, kita jujur dengan ide dan karya kita,”urainya. Kepala Sub Bidang Apresiasi dan Penghargaan Pusbangfilm Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Robert menyampaikan bahwa saat ini pihak (Kemendikbud) siap mengapresiasi karya film dari para generasi muda Indonesia. “Dengan tangan terbuka kami akan selalu memberikan yang terbaik bagi film-film Indonesia. Silahkan jika nanti mengajukan proposal. Walaupun baru berdiri tiga tahun, kami siap terus berkembang bersama,”tegasnya Staf Khusus Bidang Komunikasi Publik Mendikbud Nasrullah menmbahkan Indonesia, khususnya Malang punya potensi besar untuk perkembangan perfilman Indonesia. Indonesia sendiri perlu kemajuan ekonomi dari industri kreatif. “Kita juga punya budaya yang harus dikenalkan kepada dunia. Saat ini kita memang berada diantara idealisme dan industri. Kita lumayan dalam perfilman, tetapi idealisme perfilman kita masih terseok-seok,” jelas Nasrullah. Di akhir acara,  sutradara film Darah Biru Arema Taufan Agustian menyampaikan agar para generasi muda tidak berhenti berkarya untuk menyampaikan ide yang ingin dibagikan. “Teruslah berkarya,  karena itulah yang membedakan kita dengan ayam,”pungkasnya.

Kuasai Regional LIMA Football EJC 2018, UMM Maju ke Tingkat Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil unggul di laga hari terakhir LIMA Football: McDonald’s East Java Conference (EJC) 2018, Minggu (16/9) dari lawannya Universitas Brawijaya (UB). Pertandingan berlangsung seru dan mendebarkan dimana pada babak pertama, UB sempat unggul pada menit ke-19. Terpacu, UMM segera melakukan serangan balasan. Pada menit ke-30, tim berkostum biru ini bisa menahan imbang skor sementara menjadi 1-1 via tendangan Jaenal Abidin. Hal ini membuat UB kembali memberi jarak. Gol dari Oky Handi Krisfin pada menit ke-42 menutup babak ini, sekaligus mengubah kedudukan menjadi 2-1. Tak surut semangat, pada babak kedua, Amad Rifal mencetak gol saat injury time dan memberikan satu poin penting untuk UMM dan menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Tak hanya menyelamatkan tim dari kekalahan, satu angka tersebut juga memastikan gelar juara LIMA Football:McDonald’s EJC jatuh ke tangan UMM. Prestasi ini sekaligus membawa Kampus Putih melaju ke fase nasional yakni LIMA Football Nationals pada 18-25 September 2018 di Stadion Gelora Brantas. Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sepak Bola UMM Haris Tofly menyampaikan, capaian ini merupakan buah kerja keras tim yang tak kenal menyerah. Menghadapi tujuh tim lain di pertandingan nasional besok (18-19/9), Haris mengaku tak ada persiapan khusus yang dilakukan. Sejauh ini, mental tim yang terus diperkuat. “Persiapannya lebih banyak ke mental, selain itu kita lakukan pemulihan otot-otot kaki. Dari pada didinginkan ke es lebih baik berendam di Taman Sengkaling UMM. Ini agara cepat pulih karena sebelumnya mereka main tiap hari.  Sistem kompetisinya penuh Jawa Tengah dan Jawa Timur,” urai Haris. Menampilan performa terbaik dengan berbekal 20 pemain, Haris dan tim mengaku optimis meski technical meeting untuk mengetahui jadwal pasti pertandingan dan lawan main baru dilaksanakan malam ini (17/9). “Waktunya mepet. Kami bersiap saja. Lawan yang agak menantang adalah tim dari Universitas Negeri Jakarta karena disana ada Fakultas Ilmu Olah Raga. Jadi secara fisik memang sudah bagus,”ujarnya. Esok, akan ada delapan tim yang bertanding di LIMA Football Nationals diantaranya Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Universitas Padjajaran Bandung dan Universitas Brawijaya Malang.

Kuliah Tamu Teknik Industri Datangkan Prof. Polandia Tanamkan Pentingnya K3 pada Mahasiswa

Memulai awal perkuliahan semester baru, Program Studi (Prodi) Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kuliah tamu dengan mendatangkan Prof. Dr. Hab. Eng. Marek Mlynezak seorang pengajar dari Wroclaw University of Science and Technology, Polandia Jumat, (14/9) di Aula BAU. Sejalan dengan misi Prodi Teknik Industri yakni menyelenggarakan pendidikan dalam bidang perancangan, penginstalasian, dan perbaikan sistem integral yang terdiri dari manusia, material, peralatan, informasi dan sumber daya lainnya, kuliah tamu ini diharapkan menambah wawasan mahasiswa. “Harapannya anak-anak paham bahwa materi yang kita ajarkan di UMM itu tidak jauh beda dengan yang ada di luar negeri. Materinya juga sama, langkahnya juga sama. Jadi jangan khawatir, UMM itu berkelas dan sama dengan universitas luar,” ujar Sekretaris Prodi Teknik Industri Dian Palupi Restuputri, ST. Dalam acara tersebut, Prof. Marek menjelaskan banyak hal, salah satunya tentang  Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Ia menyampaikan bagaiman pentingnya K3 selain pekerjaan dan proyek yang tengah dikerjakan itu sendiri. “Mahasiswa teknik industri tidak hanya perlu mempelajari masalah produksi saja melainkan juga mempelajari penanganan resiko kerja sehingga tercipta lingkungan kerja yang aman, efektif, maupun efisien. Mengenai K3 dan Hazard merupakan kondisi yang bisa menimbulkan bahaya, yang bisa mencederai human,”ujar Dian memetik apa yang disampaikan oleh Prof. Marek. Salah satu peserta kuliah tamu, Oriza mengaku bahwa apa yang disampaikan Prof. Marek pernah dipelajarinya di kelas. Tetapi, implementasi, perhitungan, dan beberapa hal yang dijelaskan lebih mendetail dan hal ini membuatnya mendapatkan wawasan baru. “Poin yang saya ingat, bagaimana K3 yang berlaku di Polandia sangat bagus karena mengutamakan masalah safety atau keamanan. Tidak hanya untuk mencari keuntungan semata, karena menurut saya kalau hanya mencari keuntungan tanpa adanya keselamatan, maka bisa menurunkan keuntungan dari sebelumnya,”katanya. (apn/sil)

Perkuat Branding Desa Edukasi, Mobil Kaca Mengaspal Ke Desa Ngijo

Perkuat Desa Edukasi Seperti biasanya, setiap bulannya Mobil Kamis Membaca (Kaca) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengaspal mulai dari sekolah SD, SMP, SMA hingga ke desa-desa. Kali ini, Mobil Kaca UMM mengaspal bersama mahasiswa Program Studi (Prodi) Kesejahteraan Sosial (Kesos) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM yang sedang mendampingi program pengembangan literasi di dusun Ngepeh desa Ngijo Karangploso pada Kamis (13/9). Keberadaan Mobil Kaca yang turun pada hari itu menjadi oase bagi anak-anak desa Ngijo. Bukan hanya mendekatkan buku pada anak-anak, Mobil Kaca juga membawa berbagai program menarik yang dapat menambah wawasan bagi mereka. Ridlo Setyono, Koordinator Mobil Kaca mengungkapkan bahwa ada tiga program yang dijalankan kali ini. “Kami membawa tiga macam program yang cocok dengan kondisi anak-anak disini. Ada Aku Jurnalis, program pembelajaran jurnalistik tingkat awal bagi anak-anak, English for Young Learner  yakni pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak, juga program ayo dolanan yang mengajak anak-anak bermain ketangkasan melalui outbound,” tuturnya. Bukan tanpa sebab kenapa desa ini dipilih. Informasi yang didapatkan dari Ria Aprilina, salah satu warga desa yang menggagas komunitas Omah Sinau (happy village) mengaku bahwa minat belajar di desa ini terbilang rendah. Untuknya,  perlu ada gerakan agar generasi selanjutnya tidak sama dengan generasi sebelumnya yang cenderung enggan memperdalam wawasan. Kebisaan anak-anak desa Ngijo yang lebih menggandrungi permainan di smartphone  dari pada membaca, menjadi sedikit teredukasi dengan kehadiran Mobil Kaca. Ria yang juga merupakan supervisor setting mahasiswa Kesos tersbut mengaku bahwa dengan adanya kegiatan mobil kaca sangat membantu memperluas wawasan bagi anak-anak disini.  “Anak – anak menjadi lebih tahu tentang pentingnya membaca melalui kelas jurnalistik, mereka juga merasakan pembelajaran Bahasa Inggris yang interaktif, serta bermain namun tetap ada asupan yang edukatif,” jelasnya. Tidak berhenti pada program ini saja, secara berkala mahasiswa Kesos kedepannya akan terus bergerak mewujudkan Kampung Edukasi Ngepeh dengan berbagai kegiatan literasi yang lain.  Uci Uzila sebagai ketua pelaksana merasa bahwa dengan kedatangan mobil kaca ini menjadi menegas bahwa akan ada banyak pengembangan literasi ditempat ini.  “Konsep mobil kaca ini memahamkan kami bahwa belajar tidak terpaku dengan ruang saja namun juga bisa di tempat terbuka dengan kelas sederhana sehingga kami yakin untuk memperluas wawasan dapat dilakukan dengan mudah dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu,”tutupnya.

Mahasiswa Saat Ini Harus Pandai Temukan Solusi

Menyongsong Revolusi Industri 4.0, Panitia Pengenalan Studi Mahaisswa Baru (Pesmaba) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyahb Malang (UMM)menghadirkan aktivis lingkungan Ranitya Nurlita pada hari kedua Pesmaba di Hall Dome UMM. Pada kegiatan ini, Ranitya yang pernah menempuh pendidikan di Intitute Pertanian Bogor (ITB), serta sudah malang melintang dalam hal isu-isu lingkungan tersebut, mengajak mahasiswa baru FISIP UMM terus produktif dan berperan dimasyarakat luas. “Mahasiswa Fisip UMM harus menjadi mahasiswa yang bermanfaat bagi banyak orang.Jika sudah lulus harus produktif semua, tidak hanya kuliah pulang tapi harus tahu apa masalah di masyarakat serta bisa memberi solusi,” ujar wanita asal Bojenegoro ini. Ranitya, yang menjadi pembicara utama Pesmaba FISIP UMM hari ke duaini telah lama malang melintang dan kaya pengalaman sebagai pekerja sosial. Saat ini, ia juga menjadi Founder ASEAN Reusable Bag Campaingn yang bergerak dalam inovasi permasalahan lingkungan. Ranitya pun berpesan agar mahasiswa baru Fisip UMM tidak gagap teknologi serta menggunakan media sosial dengan cara positif. Aktifis lingkungan ini juga menyampaikan agar mahasiswa baru FISIP UMM mempunyai projek inovasi terutama berbasis teknologi. Penting juga untuk tetap memelihara semangat pengabdian bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. “Kita harus selalu penasaran dan ingin tahu terhadap apa yang bisa disumbangkan oleh generasi mudabagi masyarakat,”tambahnya. Sebelumnya, Panitia Pesmaba FISIP UMM2018 mengangkat tema Revitalisasi Peran Mahasiwa Sebagai Modal Sosial di Era Revolusi Industri 4.0”. Topik ini dirasa menjadi permasalahan sosial masyarakat yang hangat akhir-akhir ini. Pada tahun 2018, jumlah mahasiswa baru FISIP UMM mengalami peningkatan menjadi1.550maba. Ini menjadi jumlah tertinggi dari seluruh fakultas di UMM.

Tahun 2018, 9 Ribu Mahasiswa Indonesia Kuliah di AS

Dewasa ini, banyak orang Indonesia yang berlomba-lomba untuk kuliah di luar negeri dengan dalih kualitas pendidikan yang lebih baik. Tidak jarang diantaranya yang menjatuhkan pilihan di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Pada tahun 2018 ini, terdapat sekitar 9 ribu mahasiswa Indonesia menempuh studi di negeri tersebut. Hal ini disampaikan Christine Getzler Vaughan, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Konsulat Jenderal AS Surabaya. Christine demikian panggilan akrabnya menyampaikan bahwa saat ini ada sekitar 9000 orang Indonesia menempuh pendidikan di AS untuk jenjang S1, S2, dan S3. Jumlah ini terbilang sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa asal Tiongkok yang mencapai kisaran 100.000 orang. Ia pun berharap, melalui pameran pendidikan yang digelar EducationUSA Indonesia pada hari ini Kamis (13/9) di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), di semakin banyak mahasiswa asal Indonesia yang melanjutkan studinya di AS. “Setelah pameran ini, saya harap jumlah mahasiswa Indonesia di AS akan meningkat. Kami memberi kesempatan kepada mereka yang mempunyaI potensi besar untuk berkuliah di Amerika,” tandasnya. Pada kesempatan kali ini, EducationUSA Indonesia, menggandeng sebanyak 22 universitas ternama di Amerika untuk berpartisipasi dalam pameran, diantaranya Arizona State University, Marymount University, Michigan State University, Pennsylvania State University, University of Colorado dan New York University. Konsulat Jendral Amerika untuk Indonesia Timur, Mark McGovern menyampaikan bahwa tujuan diadakannya pameran pendidikan ini adalah untuk memperkenalkan universitas-universitas yang ada di Amerika kepada para mahasiswa Indonesia, khususnya di Malang. “Selain itu juga kami ingin mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan AS di bidang pendidikan,” katanya. Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin M.Si. menyambut baik apa yang disampaikan oleh McGoven. Secara khusus Syamsul pun berharap, pameran kali ini dapat memperluas peluang mahasiswa UMM untuk menempuh pendidikan di AS. “Ini adalah keempat kalinya UMM menjadi tuan rumah diadakannya pameran pendidikan USA. Saya berharap, kedepannya akan ada banyak mahasiswa UMM yang berminat melanjutkan pendidikan di Amerika,” pungkasnya. Pameran pendidikan USA atau yang dikenal dengan USA Education Fair merupakan acara rutin yang digelar setiap tahun dan terbuka untuk umum. Memasuki tahun keempat ini, pameran akan diadakan di dua kota di Indonesia, yakni Malang dan Jakarta. (lus/sil)

Tyrender, Terobosan Mahasiswa UMM yang Lolos ke Ajang Inovasi Dunia

Pernakah anda mengamati bahwa ban kendaraan, khususnya angkutan barang harus secara berkala diganti? Ya, ban-ban kendaraan ini lambat laun mengalami pengikisan akibat gesekan. Kebanyakan usia ban angkutan barang hanya berkisar satu atau dua tahun, bahkan kurang. Padahal, harga masing-masing ban mencapai jutaan rupiah. Berangkat dari keprihatinan terhadap para supir dan pengusaha alat transportasi karena lekas terkikisnya ban kendaraan, Haryo Widya Darmawan mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan sebuah konsep inovasi canggih Tyrender. Tidak disangka, melalui alat ciptaannya ini, Haryo demikian panggilan akrabnya, bahkan berhasil melangkah ke Seoul Internastional Invention Fair (SIIF) di Seoul Korea Selatan pada 6-9 Desember 2018 mendatang. Acara ini merupakan kompetisi inovasi internasional yang diselenggarakan Korea Intellectual Property Organization (KIPO) dan Korea Invention Promotion Association (KIPA). Haryo menuturkan, Tyrender buatannya merupakan sebuah alat penurun temperature gesekan pada ban. “Alat ini untuk menurunkan temperature berlebih yang timbul akibat gesekan ban dengan permukaan. Fungsi finalnya, untuk memperpanjang usia ban,”ujarnya Rabu (12/9). Lebih dalam mahasiswa semester lima tersebut menguraikan, ada beberapa kondisi yang membuat ban mengalami pengikisan yakni permukaan jalan, kecepatan kendaraan dan beban yang diterima. Selain itu, suhu berlebih yang terjadi akibat gesekan yang dialami ban, juga menjadi salah satu pemicu cepatnya ban menipis. Alat yang ia desain ini akan meminimalisir hal tersebut. Terdiri dari rangkaian dari tangki air, controller, pompa dan nozzle yang didisain sedemikian rupa, Tyrender secara otomatis akan menyemprotkan air ketika temperatur ban melebihi batas. Dengan demikian, usia ban dapat lebih lama. “Alat ini nanti akan dipasang dibawah fender (spakbor.red) dan tepat di atas ban. Saat temperature ban mencapai suhu tertentu yang berlebih, nozzle akan menyemprotkan air dengan sistem spray dan menyeluruh. Jadi tidak di satu tempat saja,”tambahnya. Setelah suhu kembali ke batas angka normal, maka alat ini akan berhenti menyemprotkan air secara otomatis. Haryo pun mencontohkan, jika pada awal berjalan ban akan memiliki temperature 30 derajat, lalu saat berjalan naik menjadi 35 derajat dan saat melaju kencang menjadi 40 derajat, alat ini akan secara otomatis mengembalikan suhu ban ke 35 derajat. “Secara otomatis, spray akan mati jika suhu sudah kembali,”tandasnya. Menjadi salah satu perwakilan Indonesia pada ajang bergengsi yang diikuti 30 negara di dunia tersebut Haryo saat ini tengah menyempurnakan rancangannya sembari menyiapkan berbagai dokumen yang diperlukan. Meski berkompetisi dengan berbagai orang dengan bermacam latar belakang profesi dari seluruh dunia ia tetap yakin dan optimis. “Ada berbagai macam kategori, beberapa diantaranya contruction, electric, hingga mechanical controller. Saya ikut mechanical controller. Ini peserta kompetisinya tidak hanya pelajar dan mahasiswa, tetapi juga ada yang berasal dari tenaga profesional di perusahaan-perusahaan ternama, misalnya Pertamina,” tandasnya. Tahun 2017 lalu, kompetisi pada ajang SIIF, Indonesia berhasil membawa pulang tiga medali emas, lima medali perak, dan enam medali perunggu. Haryo pun berharap keberangkatannya nanti dapat mempersembahkan hasil yang terbaik untukuniversitas dan Indonesia. “Pokoknya saya yakin saja dan memberi yang terbaik,”pungkasnya. (sil)

Dari Turun Lapang hingga Aksi Solidaritas untuk Lombok Menggema di Kampus Putih

Sejak terjadi gempa pertama pada Minggu (29/ 7), relawan silih berganti hadir memberikan uluran bantuan untuk para korban gempa bumi yang terjadi di Lombok. Hal tersebut menggugah pemikiran-pemikiran civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk turut andil dalam penyelamatan para korban gempa. Mulai dari diturunkannya tim dari Lembaga Pelaksana Teknis (LPT) Psikososial UMM, Tim Medis Rumah Sakit Umum (RSU) UMM hingga penguatan karakter mahasiswa baru melalui aksi solidaritas formasi flashmob Pray for Lombok. Diakui oleh Rektor UMM Fauzan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut adalah salah satu media untuk meneguhkan kembali semangat para generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan. “Jadi bukan sekedar memberitahukan identitas UMM, tapi juga menegaskan bahwa UMM harus menjadi bagian dari masyarakat yang bertanggung jawab atas keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandasnya. Lebih lanjut, berangkat dua pekan setelah gempa pertama tim LPT Psikososial UMM menggarap empat program utama dalam penangangan penyintas, di antaranya Psikoedukasi, Terapi, Forum Group Discussion (FGD), dan Distract Activity. Seluruh kegiatan tersebut dijelaskan oleh Ahmad Hendra Purwanto Koordinator LPT Psikososial UMM adalah bentuk penangangan penyintas bencana alam secara psikologis. “Kita punya empat program utama yang ditujukan untuk mengembalikan kestabilan para penyintas,” terang mahasiswa Psikologi UMM tersebut. Bersama dua belas anggota, LPT Psikologi UMM juga membuka kelas Trauma Healing bagi anak-anak. Kegiatan pada Trauma Healing  di antaranya mengajak anak-anak untuk bermain, belajar bersama, membacakan dongeng, dan kegiatan-kegiatan literasi lainnya. “LPT Psikologi memang terfokus pada pemulihan psikologis para penyintas, tidak hanya orang tya tapi juga anak-anak,” tegas Hendra. Bersama dengan turunnya Tim LPT Psikologi, UMM juga menurunkan tim medis yang tergabung di RSU UMM. Sempat mengalami beberapa kali gempa saat melaksanakan tugas, Tim Medis RSU UMM berhasil menyusuri 10 dusun dan desa yang berada di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara. Disampaikan oleh salah satu anggota tim medis, Sandy Dewanto saat melakukan penyisiran korban ti medis mengalamin beberapa kesulitan seperti akses jalan yang rusak dan keterbatasan obat-obatan. “Sejak kita di sini, kita sudah mengalami beberapa kali gempa. Tapi akhirnya kita berhasil ke beberapa dusun dan desa di dua kabupaten,” papar perawat Tim Medis RSU UMM tersebut. Tim Medis RSU UMM tim kedua setelah sebelumnya tim pertama yang terdiri dari Tim Medis Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan dan Rumah Sakit (RS) Pembina Kesehatan Umum (PKU) Bima. Berdasarkan hasil penyisiran selama sembilan hari, Tim Medis UMM bersama Relawan MDMC menemui banyak sekali korban-korban yang masih sangat sulit akses penanganannya sehingga masih bertahan di posko-posko yang jauh dari pusat medis. “Sembilan hari di sana kita setiap hari masih menemukan banyak korban yang belum tertangai karena memang akses jalan yang sulit,” kata Sandy. Seiring dengan semangat dua tim yang telah mewakili UMM secara langsung di lapangan, aksi solidaritas untuk saudara sebangsa juga menggema di pada pembukaan ageda Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (PESMABA) UMM pada Minggu (2/9). Melalui formasi flashmob Pray for Lombok, mahasiswa UMM berasal dari Lombok berhasil menggalang dana bantuan dari peserta PESMABA sebesar Rp. 50.000.000, 10 RM, dan 20 Bath. Bantuan dana tersebut disalurkan melalui Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LASIZMU) Kabupaten Malang. “Dana yang terkumpul ini adalah salah satu bentuk aksi nyata untuk menerjemahkan salah satu formasi Jasmerahmob yaitu Pray for Lombok,” ungkap Moh. Isnaini Sekertaris Humas UMM sekaligus tim perancang konsep Jas Merah Mob. (nis/isn)