Fahd Pahdepie: Narasi yang Baik Bisa Mengubah Hidup Seseorang

Narasi adalah bentuk pertarungan yang nyata di dunia ini. Demikian dismpaikan Fahd Pahdepie, penulis dan entrepreneur muda yang menjadi pembicara pada Taaruf Mahasiswa Baru dan Seminar Nasional, Sabtu (8/9). Sekitar 900 mahasiswa baru (Maba) dari seluruh fakultas di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memadati ruang aula Gedung Kuliah Bersama (GKB 3) UMM untuk menghadiri acra ini. Gelaran ini merupakan bentuk perkenalan maba dengan organisasi kepemudaan serta kebanggaan Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Bertemakan Peran Mahasiswa dalam Menjawab Tantangan di Era Milenial, Fahd memberikan bekal banyak dari pengalaman pribadinya. Ia pin menguraikan, bagaimana kekuatan narasi yang dibangun dapat membuat seseorang bertahan hidup. “Cerita adalah daya tawar kita. Cerita adalah sesuatu yang membuat kita bertahan hidup. Anda bisa berada di sini karena kualitas cerita dari hidup anda,” ujarnya Sabtu (8/9). Fahd yang saat kuliah juga seorang immawan, yakni sebutan untuk kader IMM, mengajak peserta seminar untuk percaya dengan kekuatan gagasan. Bila tidak dikelola dengan benar, gagasan mampu menghasilkan tindakan yang salah. Fahd pun kemudian membagikan kisah ‘Bang Tato’ yang merupakan kisah nyata seorang preman pasar yang tah berhijrah. “Dalam kasus radikalisme terorisme, orang-orang seperti Bang Tato banyak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menjadi panglima,” kata Fahd. Melalui kisah Bang Tato, sebagai generasi milenial, Fahd ingin agar peserta juga dapat mengambil hikmah bahwa gagasan yang ada dalam pikiran seseorang bisa membuat mereka berubah dan membawa perubahan. Terlepas dari perubahan itu baik atau buruk. “Kekuatan narasi bisa merubah orang. Seperti halnya Bang Tato, dia punya satus baru, dia bisa pindah dari yang dulunya dianggap sampah masyarakat menjadi orang yang mempunyai pekerjaan dan seterusnya,” terangnya. Sri Yunita Mauliza, maba asal Lombok jurusan psikologi yang menjadi peserta dalam acara tersebut mengungkapkan kepuasannya menghadiri acara ini. “Ini sangat mendidik, menarik, dan memotivasi. Pembicara yang didatangkan pun tak tanggung-tanggung, banyak sekali hal-hal yang pelajari pada seminar ini,” pungkasnya.(apn/sil)
Abdullah, Maba UMM Asal Yaman yang Sempat Tertahan Di Perbatasan Daerah Konflik

Semangat untuk melanjutkan pendidikan mengalahkan segala hambatan. Demi cita-cita, apapun akan dilakukan. Semangat ini juga hidup di diri Abdullah, mahasiswa baru (Maba) Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Yaman. Berhasil meraih beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia Abdullah harus berjuang untuk bisa sampai di UMM guna menempuh studi masternya. “Saya pernah sekali berkunjung ke UMM dan saya berpikir kampus ini adalah pilihan terbaik untuk saya segera menyelesaikan jenjang pendidikan master saya,” paparnya, Sabtu (8/9). Ia mengisahkan, untuk bisa sampai di UMM, ia membutuhkan waktu tak kurang dari 11 hari perjalanan. Padahal, jika dalam keadaan normal waktu yang dibutuhkan hanya empat hari. “Saya ada permasalahan kelengkapan surat izin di daerah perbatasan Oman dn Yaman sehingga harus menunggu,” jelas mahasiswa Program Studi Magister Manajemen UMM tersebut. Menanti keluarnya surat ijin melewati perbatasan hingga sepekan, tak mematahkan semangat Abdullah. Saat itu ia berpikir bahwa harus tetap pergi ke Indonesia, karena baginya UMM telah menanti dirinya untuk berproses dan mencari pengalaman. “Selama satu minggu berada di perbatasan dengan suhu 40 derajat, tapi saya tetap semangat untuk berangkat ke UMM,” jelasnya. Menjadi salah satu dari 7500 Maba UMM adalah kebanggan tersendiri bagi Abdullah. Ia ingin segera mendapatkan pengalaman baru seperti yang telah diperoleh teman-temannya semasa studi di Indonesia, khususnya UMM. “Saya sangat senang berteman dengan teman-teman di Indonesia, mereka banyak merubah saya dan saya ingin memperoleh pengalaman baru saat di UMM,” tandasnya. Tahun 2018 ini, tidak kurang dari 192 mahasiswa asing kuliah di UMM. Seluruh mahasiswa asing tersebut melalui beberapa program di antaranya Regular Mandiri, Beasiswa Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), Beasiswa Darmasiswa, UMM Partial Scholarship, Learning Express (LEx), Confusius Institute, dan Internship. Kehadiran mahasiswa asing ini semakin menguatkan visi internasional UMM mejadi a local campus with an International touch. (nis/ sil)
Pesmaba UMM, Usung Semangat dan Spektakuler Asian Games 2018

“…Setiap saat setiap waktu Keringat basahi tubuh Ini saat yang kutunggu Hari ini ku buktikan Ku yakin aku kan menang Hari ini kan dikenang Semua doa kupanjatkan Sejarah kupersembahkan…” Lagu berjudul Meraih Bintang milik penyannyi Via Vallen ini memang tidak hanya enak didengar. Lirik yang terkandung didalamnya tentang kesungguhan yang dibangun dalam diri, menyalakan semangat berkompetisi. Lihat saja bagaimana Official Theme Song Asian Games 2018 ini mampu mengantar kontigen Indonesia meraih medali hingga melebihi target. Menduduki posisi 4 dari 45 negara yang mengikuti pesta olahraga ini, Indonesia berhasil mengumpulkan 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu. Semangat lagu ini juga bergaung dalam Gelaran Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) 2018 Universitas Muhammadiyah Malang. Dikemas menyenangkan dengan konsep yang lekat dengan generasi millenial, Pesmaba UMM berhasil mengantarkan para calon pemimpin bangsa yang baru saja memasuki dunia perkuliahan dengan semangat menyongsong masa depan tanpa tanpa perpelocoan. Pesmaba dibuka secara resmi pada Senin, (3/9) dengan pembentukan flash mob yang menampilkan enam formasi spektakuler bertema kebangsaan yakni Merah-putih, KH Ahmad Dahlan, Logo UMM, Students Today, Leaders Tomorrow, Peta Indonesia dan Pray for Lombok. Tidak kalah dengan Tari Rotoh Jaroe yang menampilkan 1.600 penari dengan konsep kolosal pada pembukaan Asian Games 2018 18 Agustus lalu, Jas Mob UMM yang dibentuk dari formasi 7.500 mahasiswa baru juga berhasil viral di berbagai media sosial. Jamroji, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM yang juga menjadi konseptor dibalik Formasi Jas Merah mob menyampaikan, tak hanya menjadi sebuah mahakarya, Jas Merah Mob ini juga membawa berbagai pesan yang ingin disampaikan pada khalayak luas. “Salah satunya Pray for Lombok yang juga diikuti oleh aksi donasi untuk Lombok. Ini untuk menunjukkan kepedulian pada negeri ini. Donasi nantinya akan kami salurkan melalui Lazismu,” ujar Jamroji. Selain berhasil meneriakkan semangat kebangsaan pada hari pertama pembukaan, Pesmaba kali ini juga muncul dengan berbagai kejutan yang mengangkat kreativitas generasi Y. Pada pembukaan di dalam ruangan atau indoor, para peserta dibuat terperangah oleh penampilan Rektor UMM Fauzan yang sebelum masuk ke Hall Dome UMM, tampak menaiki pesawat glider dari bandara ke lapangan dekat GKB 4. Dalam video berdurasi 03.37 menit ala aksi Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo pada pembukaan Asian Games tersebut, tampak Rektor UMM Fauzan dengan setelan kemeja putih dan celana hitam rapi berdiri di salah satu hanggar pesawat. Tak lama kemudian, video yang dapat diakses melalui link http://bit.ly/AksiRektorUMM tersebut tersebut menampilkansebuah panggilan telepon masuk dan menginformasikan bahwa para mahasiswa peserta Pesmaba telah siap. Bergegas, Fauzan pun segera menuju sebuah pesawat terbang. Melengkapi alat komunikasi dan perlengkapan penerbangan lain, Fauzan kemudian lepas landas menuju Kampus III UMM dan mendarat di lapangan sepak bola sebelah GKB IV. Segera merapikan diri, sambil mengenakan jas hitam ia menuju UMM Dome dimana para mahasiswa baru (Maba) telah menunggu. Memboyong semangat gegap gempita Asian Games 2018, euforia Pesmaba makin terasa melalui penampilan Via Vallen di malam penutupan. Darah asli Jawa Timur ini, secara khusus diundang UMM untuk mengobarkan jiwa kompetisi mahasiswa. Harapannya, sama dengan capaian Indonesia pada Asian Games, melalui kepercayaan diri mahasiswa, prestasi dapat terus diukir. Hal ini seperti juga yang ditegaskan oleh Menteri Penidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, bahwa ada lima hal yang harus dimiliki oleh mahasiswa untuk menjadi sukses, yakni kemampuan berfikir kritis, kreatif dan inovatif, cakap berkomunikasi, kolaborasi dan yang terpenting percaya diri. “Dunia ini semakin tidak mentoleransi orang-orang yang tidak PD,”tandasnya. Kemeriahan Pesmaba UMM mencapai puncaknya di Helipad UMM, Kamis malam (7/9). Selain Via Vallen, hadir pula komedian stand up commedy Abdur Arsyad yang membuat semangat maba UMM semakin menyala. Sorak sorai mahasiswa diikuti tepuk tangan ketika nama Abdur dipanggil ke atas panggung. Komedian asal NTT yang mulai melejit setelah bermain di serial televisi NET berjudul Oke Jek ini merupakan salah satu alumni UMM ANGKATAN 2006. Tak hanya sekedar menghibur, kehadiran Abdur semalam juga untuk membagi insiprasi perjuangannya saat menjadi mahasiswa. Mengulang masa-masa saat awal memulai hidup di Malang dan belajar di kampus putih, matanya berkaca-kaca. Ia mengaku tak dapat membendung haru saat mengetahui bahwa pada tahun 2018 ini sudah cukup banyak mahasiswa UMM yang berasal dari daerah timur, tanah kelahirannya. “Saya dulu alumni FKIP dan saya betul-betul terharu melihat kalian yang dari Indonesia Timur bisa sampai disini, karena orang banyak banyak mengenal kita sebagai putera daerah yang tertinggal,” ujar Abdur. Menyambung Abdur, Via Vallen tidak kalah bersemangat menyambut para maba UMM. Disela-sela rehat antar lagu, Via pun berkisah bagaimana dulu ia sangat mengidamkan untuk bisa masuk ke kampus putih. “UMM ini salah satu kampus yang ingin saya masuki Pak,”ujarnya tak bisa menyembunyikan keterkejutan saat diberi dan dipasangkan jas almamater sebagai tanda keluarga kehormatan oleh Rektor UMM Fauzan. Dengan berkahirnya Pesmaba 2018 Fauzan menyampaikan selamat kepada para maba. Ia berharap, berbagai ilmu dan pengalaman yang didapat saat Pesmaba dapat mengantar para maba berada di titik strategis untuk mulai menata langkah terkait dunia perkuliahan selanjutnya. “Empat hari sudah saudara mengikuti acara pesmaba. Itu sebenarnya hanya bekal awal dan belum ada 20 % dari apa yang ada di UMM. Gunakanlah modal awal ini untuk membaca, mendalami, dan dan mengapresiasi kemudian berktualisasi,”tutupnya.
Sekolah Swasta dan Negeri Harus Terus Berinovasi

Seiring perkembangan zaman, tantangan yang dihadapi sekolah negeri dan swasta semakin beragam mulai tingkat SD hingga SMA. Hal ini menuntut pihak seolah, baik negeri maupun swasta untuk terus meningkatkan kualitas. Khusus bagi sekolah swasta, kemandirian dalam pengelolaan sekolah menjadi hal yang utama. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan, dewasa ini sekolah swasta tidak bisa lagi hanya mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), karena pada dasarnya tujuan berdirinya sekolah swasta berangkat dari semangat membangun negeri. “Ini pentingnya kemampuan entrepreuner bagi sekolah swasta,”ujarnya pada Kuliah Umum Pendidikan Karakter dalam Rangka Menyiapkan Profesional Pendidik di Era Refolusi Industri 4.0. yang diselenggarakan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Aula Lt. 9 GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang Kamis (6/9). Lebih lanjut dihadapan 500 peserta Muhadjir menyampaikan, dengan semangat membangun dan memberikan yang terbaik sekolah swasta dapat melakukan berbagai inovasi, misalnya dalam hal pendanaan yakni dengan mendapatkan dana dari orang tua wali. Jika kualitas seolah baik, maka para orang tua wali dipastikan tidak akan keberatan memberikan dana kepada pihak sekolah. Selain itu, memanfaatkan jaringan dengan alumni juga menjadi jalan lain untuk membuat posisi sekolah semakin bermutu. Ia pun mencontohkan, bagaimana UMM berhasil membangun berbagai amal usaha dan merekatkan hubungan dengan alumni untuk memberikan fasilitas terbaik tanpa membebankan seluruh biaya kepada mahasiswa. “Ini UMM juga alumninya sudah banyak yang sukses dan kasih beasiswa buat adik-adik mahasiswanya. Jadi sekolah bapak ibu pun bisa. Alumni, terutama yang sudah tua kan banyak yang sukses. Panggil mereka untuk kembali pada almamaternya, agar semanagat pengabdiannya juga hidup kembali,”urai Muhadjir. Pria yang juga pernah menjabat sebagai Rektor UMM ini menambahkan, tantangan yang muncul tak hanya menghadang sekolah swasta. Bagi sekolah negeri sendiri, jika tak pandai menjaga kualitas pendidikannya lama-kelamaan juga bisa ditinggalkan oleh masyarakat. “Karena nanti kalau masyarakat tidak puas dengan pelayan publik dia akan pilih swasta. Tapi kalau swasta hanya mengandalkan dana bos ya gak bisa berkembang,”tandasnya. Sementara itu, staf ahli Mendikbud Bidang Pembangunan Karakter Arie Budhiman menyampaikan pentingnya penguatan pendidikan karakter dimulai dari kepala sekolah hingga bapak dan ibu guru yang mendidik anak-anak menjadi generasi Indonesia berkarakter. “Aktor-aktor pendidikan yang sangat menentukan, yakni kepala sekolah, pengawas, komite sekolah, dan termasuk ekosistem pendidikan dan tentunya guru. Harus menjadi teladan, harus menginspirasi, menjadi motivator. Guru adalah sebagai garda terdepan. Poinnya di situ,” pungkasnya. (apn/sil)
Jamroji, Sosok di Balik Jas Merah Mob UMM yang Viral di Media Sosial

Hadirnya mahakarya tujuh formasi flashmob Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) 2018 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang viral di media sosial tidak terlepas dari tangan dingin dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Jamroji, M.Comms. Berkat kreativitasnya, pria alumni Curtin University Australia ini berhasil menciptakan gambar dan tulisan dengan menggerakan lebih dari 7.500 mahasiswa baru (Maba) dalam sejumlah formasi. Hebatnya untuk membentuk ketujuh formasi tersebut yakni Merah-putih, KH Ahmad Dahlan, Logo UMM, Students Today, Leaders Tomorrow, Peta Indonesia dan Pray for Lombok, Jamroji tak perlu ilmu khusus. Ia mengaku hanya belajar secara otodidak. “Saya belajar flashmob otodidak. Saya menemukan sendiri cara yang efektif, efisien dan presisi membuat formasi itu,” terang Jamroji, Rabu (5/9). Menjadi flashmob yang keempat, Jamroji mengaku persiapan yang dilakukan pada tahun ini terbilang pendek, total hanya membutuhkan waktu selama enam hari. Dengan dibantu 20 orang mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, ia pun mengeksekusi konsep yang disetujui pihak kampus untuk direalisasikan. “Karena ini sudah yang keempat dan tempatnya sama, maka bisa dibilang waktu persiapannya singkat. Saya dapat surat tugas 20 Agustus 2018, lalu saya mulai membuat enam sketsa di komputer dalam waktu dua hari. Setelah sketsa disetujui, saya dan tim melakukan griding di Helipad,” ujar pria yang juga menjadi inisiator Kampung Warna-Warni Jodipan Malang tersebut. Meski bukan yang pertama kali, diakui Jamroji, tidak mudah menyempurnakan sebuah flashmob. Dalam mengeksekusi proyek ini, ia perlu melibatkan sekitar 20 orang mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM untuk membantu mulai dari proses desain hingga penataan posisi Maba. Hal tersulit menurutnya, ada pada proses mencocokkan sketsa formasi dengan grid di excel. Selain itu proses griding di Helipad juga memiliki tantangan tersendiri, karena membutuhkan ketelitian dan ketelatenan dalam memasang lebih dari 7.000 lakban sebagai penanda formasi. “Yang tak kalah sulit adalah menata barisan untuk ribuan Maba ini,” imbuhnya. Memiliki kekhasan dibanding flashmob lain, UMM tetap mempertahankan tradisi tanpa alat bantu peraga. Flashmob UMM hanya memanfaatkan atribut yang sudah melekat pada mahasiswa baru, yaitu seragam putih-putih, almamater dan topi. Inilah sebabnya mengapa flashmob UMM disebut sebagai Jas Merah Mob. Tak hanya sekedar membuat formasi, Jas Merah Mob juga berbagai membawa pesan yang ingin disampaikan pada khalayak luas. Salah satunya Pray for Lombok yang juga diikuti oleh aksi donasi untuk Lombok. “Ini untuk menunjukkan kepedulian pada negeri ini. Donasi nantinya akan kami salurkan melalui Lazismu,” pungkas Jam. Sukses menciptakan karya kreatif melalui Flashmob Pesmaba dan Kampung Warna-Warni Jodipan, Jamroji kini tengah mempersiapkan mega proyek lain yakni Discover Gresik dengan target merubah sebuah kawasan biasa menjadi daerah dengan berbagai konsep wisata.
Ini Cara UMM Sambut Generasi Millenial

Sebuah video viral di link http://bit.ly/AksiRektorUMM. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan dengan setelah kemeja putih dan celana hitam rapi terlihat berdiri di salah satu hanggar pesawat. Tak lama kemudian, sebuah panggilan telepon masuk dan menginformasikan bahwa para mahasiswa peserta Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) telah siap. Bergegas, Fauzan pun segera menuju sebuah pesawat terbang berjenis glider dengan latar belakang pesawat Hercules. Melengkapi alat komunikasi dan perlengkapan penerbangan lain, Fauzan kemudian lepas landas menuju Kampus III UMM dan mendarat di lapangan sepak bola sebelah GKB IV. Segera merapikan diri, sambil mengenakan jas hitam ia menuju UMM Dome dimana para mahasiswa baru (Maba) telah menunggu. Adegan di atas terekam dalam video kedatangan rektor yang didisain khusus untuk menyambut para Maba UMM 2018. Usai diputarnya video, Fauzan lalu muncul dari Gate A dan memasuki Hall Dome UMM bersama Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Mahfud MD, Ketua Badan Pembina Harian UMM A Malik Fadjar dan Para Pejabat Rektorat. Kedatangan mereka disambut gegap gempita oleh para Maba. Bahkan, banyak diantara mahasiswi yang berteriak histeris. Rektor UMM Fauzan menyampaikan, dikonsep istimewa, video ini menjadi salah satu upaya kampus putih untuk mendekatkan diri secara psikologis dengan mahasiswa baru yang merupakan generasi Y atau biasa disebut generasi millennial. “Ini khusus untuk mahasiswa baru, yang bagaimanapun mereka adalah generasi milenial,” ujar Fauzan, Selasa (4/9). Memberikan penampilan terbaiknya, Fauzan tidak menggunakan pemeran pengganti atau yang biasa disebut dengan stuntman. Karenanya, pria kelahiran Kediri ini mengaku sempat deg-degan lantaran baru pertamakali menaiki pesawat dengan kapasitas dua orang tersebut. “Saya naik pesawat itu beneran walaupun dredek,”ujarnya sambil tertawa. Jika biasanya masa orientasi mahasiswa menjadi hal yang mengkhawatirkan karena akrab dengan perpeloncoan, berbeda dengan apa yang ada di UMM. Tak hanya penuh inspirasi karena mendatangkan beberapa sosok pemimpin bangsa, gelaran Pesmaba juga dipenuhi euforia khas anak muda. Sebelumnya, dengan semangat nasionalisme 7.500 Maba ini berhasil membentuk Jas Merah Mob dengan tujuh formasi bertema kebangsaan dan kepedulian terhadap musibah gempa Lombok. Adapun formasi tersebut adalah Merah-putih, KH Ahmad Dahlan, Logo UMM, Students Today, Leaders Tomorrow, Peta Indonesia dan Pray for Lombok. Formasi ini merupakan karya istimewa konseptor dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM, Jamroji. Memaparkan konsep penerimanaan Maba 2018 Fauzan menyampaikan bahwa tidak banyak hal yang berubah. Perbedaan justru ada dikenaikan passing grade tahun ini. “Yang membedakan adalah kualifikasi. Tahun ini kita mampu meningkatkan pasing grade penerimaan masing-masing jurusan. Ini menjadi gejala yang bagus kaitannya dengan input. Jadi tidak bisa main-main karena dalam sisi input kita sudah dalam level yang berkualitas,” tandas Fauzan. (sil)
Danrem dan Mahfud MD Bekali Ideologi Mahasiswa Baru UMM 2018

Pembukaan Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) 2018/2019 resmi dimulai dengan gelaran upacara di Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (3/9). Pesmaba merupakan kegiatan resmi yang diadakan tiap tahun oleh kampus putih UMM untuk mengenalkan seputar kehidupan kampus mulai dari dunia akademik, ekstrakulikuler hingga fasilitas yang tersedia. Dalam upacara tersebut, Komandan Komando Resor Militer 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Bagus Suryadi Tayo selaku inspektur upacara berpesan kepada mahasiswa baru tentang berbagai tantangan di era yang pesat perkembangan teknologi ini. Beberapa diantaranya soal narkoba dan penggunaan media sosial yang fungsinya banyak disalah gunakan. Misalnya, sarana menyebar berita bohong dan membuka peluang berkembangnya paham-paham baru radikalisme. “Saya ingin mengajak adik-adik mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa untuk dapat lebih bijaksana dalam menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi,” tuturnya. Usai upacara pembukaan yang juga dimeriahkan dengan Jas Merah Mob dengan formasi bertema kebangsaan Merah-putih, KH Ahmad Dahlan, Logo UMM, Students Today Leaders Tomorrow, Peta Indonesia dan Pray for Lombok acara dilanjutkan di UMM Dome. Dibuka dengan penampilan video kedatangan Rektor UMM Fauzan yang dikemas istimewa dengan mengendarai pesawat khusus, acara diisi dengan orasi ilmiah oleh Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Mahfud MD. Dalam sambutannya, Mahfud berpesan pada mahasiswa baru agar dunia perkuliahan dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak hanya mengejar sarjana melainkan juga menjadi sujana, yakni orang yang berbudi dan bijaksana. “Jangan cukup menjadi sarjana, tetapi jadilah cendekiawan yang bukan hanya pintar tapi baik budi dan hatinya,” ujar Mahfud. Mahfud pun menekankan pentingnya budi pekerti luhur yang harus dimiliki mahasiswa. Menurutnya tidak jarang pejabat pemerintahan yang sarjana tetapi tidak memiliki sujana. Salah satu efeknya, menyebabkan maraknya korupsi dimana-mana. Ia pun menyanjung A. Malik Fadjar mantan rektor UMM yang beberapa kali dipercaya menduduki jabatan menteri sebagai sosok yang inspiratif bagi generasi muda. “Pak Malik harus anda ambil sebagai role model. Karena tangan dinginnya beliau membesarkan UMM, menjadi Menteri Agama, Menteri Pendidikan Nasional Indonesia , Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Pak Malik ini pinter, setiap bicara dikutip media, para pejabat juga sering datang konsultasi tapi sikapnya masih bersahabat,”tambahnya. Rektor UMM Fauzan menyampaikan, hadirnya Kolonel Inf Bagus Suryadi Tayo dan Mahfud MD diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi para mahasiswa baru. Ia pun mencontohkan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) dan Senat Universitas (Semu) yang dapat menjadi salah satu pijakan untuk melatih jiwa kepemimpinan. “Kami harap nantinya saudara-saudara akan ada di depan sini, menjadi Ketua BEMU untuk mengawali langkah sebagai negarawan. Pak Mahfud ada di tengah-tengah kita semata-mata dimaksudkan untuk berbagi inspirasi dengan saudara-saudara. Kelak minimal seperti beliau, entah laki-laki maupun perempuan menjadi pemimpin bangsa ini,”tegasnya. Pada tahun ajaran baru 2018/2019 UMM menerima sebanyak 7.500 baru dengan total mahasiswa asing sekitar 100 orang dari 30 negara. Selama empat hari ke depan Senin (3-6/9) mereka akan mengikuti berbagai rangkaian acara untuk mempercepat proses adaptasi dengan kehidupan kampus. (Humas UMM)
Mantap, Tajamkan Empati Kebangsaan Mahasiswa Baru Bentuk Formasi UMM for Lombok

Semangat generasi muda peduli bangsa menggema di Heliped Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Minggu, (2/9). Pada Pra Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pra Pesmaba) 2018, sebanyak 7500 mahasiswa baru UMM berkumpul dan membentuk Jas Merah Mob dengan berbagai formasi bertema kebangsaan antara lain Merah-putih, KH Ahmad Dahlan, Logo UMM, Students Today Leaders Tomorrow, Peta Indonesia dan yang istimewa adalah Pray for Lombok. Rektor UMM Fauzan menyampaikan, Jas Merah Mob ini menjadi salah satu media untuk meneguhkan kembali semangat para generasi muda, khususnya para mahasiswa baru UMM agar memiliki komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan. Karenanya, tema yang ditampilkan mengusung suasana kebangsaan. “Jadi bukan sekedar memberitahukan identitas UMM, tapi juga menegaskan bahwa UMM harus menjadi bagian dari masyarakat yang bertanggung jawab atas keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandasnya. Menguraikan keistimewaan salah satu formasi yakni UMM for Lombok, Fauzan menambahkan bahwa ini menjadi bentuk empati UMM terhadap bencana gempa yang terjadi di Lombok. Melalui Jas Merah Mob tersebut UMM memvisualisasikan kepedulian, disamping juga mengirimkan tenaga dan bantuan dalam bentuk lain ke sana. “Kita harus mengingatkan kepada masyarakat luas, bahwa apa yang terjadi di Lombok itu tidak boleh hanya dirasakan oleh mereka yang ada di sana saja, tetapi yang lain juga harus ikut merasakan, termasuk generasi baru yang juga harus kita perkenalkan empati,”ujarnya. Pesmaba UMM dilaksankan Senin-Kamis (3-6/9). Gelaran ini menjadi wadah untuk penciptaan psikologis mahasiswa baru agar cepat beradaptasi dengan dunia kampus. Melalui Pesmaba diharapkan proses adaptasi mahasiswa dalam masa transisi berlangsung lebih cepat. “Karena seperti kita tahu mereka ini kan anak-anak SMA, yang berbeda culture dengan mahasiswa. Dalam rangka menjembatani itu, maka Pesmaba adalah jawabnnya. Pesmaba ini isinya pengenalan, mulai fasilitas, studi, infrastruktur yang mendukung, termasuk juga bagaimana nanti ketika dia menjadi mahasiswa UMM,” papar Fauzan. Pada Pra Pesmaba hari ini, Fauzan menyampaikan harapannya kepada para peserta dan panitia agar pelaksanaan Pesmaba dapat berlangsung menyenangkan. Tak lupa ia pun mengingatkan para mahasiswa baru untuk mulai membangun visi dan mimpi untuk mencapai cita-cita masing-masing. Bukan hanya itu, semangat berkompetisi juga ditegaskannya agar dapat selalu hidup didalam diri para mahasiswa. Fauzan menguraikan, selama 10 tahun UMM terus meraih Anugerah Kampus Unggul (AKU) dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah 7 Jawa Timur. Capaian membanggakan ini juga berkat prestasi para mahasiswa. Dalam kurun waktu satu tahun, tak kurang dari 600 prestasi mahasiswa ditorehkan. Selanjutnya menjadi konsekuensi logis untuk universitas memberikan penghargaan dan bantuan finansial maupun akademik bagi mahasiswa berprestasi tersebut. “Jika nanti saudara dapat menunjukkan suatu kinerja yang terukur, UMM tidak segan-segan memberikan reward. Ini dalam rangka memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk berkompertisi,”pungkasnya. Selain Jas Merah Mob yang membentuk berbagai formasi istimewa tersebut, pada Pra Pesmaba ini para mahasiswa baru juga meneriakkan yel-yel selama pembentukan formasi, yang berbunyi Satu Nusa Satu Bangsa Indonesia dan Al-Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku.(Humas UMM)
Teknik Mesin UMM Siapkan 3 Mobil Andalan Sambut KMHE 2018

Sebentar lagi ajang berskala nasional Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE)akan digelar 13 November 2018 di Universitas Negeri Padang. Kontes tersebut merupakan kompetisi yang diadakan tiap tahun oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Menyambut even bergengsi ini, Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah mempersiapkan 3 tim yang akan berkompetisi. Tiga tim itu terdiri dari dua tim campuran dengan anggota laki-laki dan perempuan serta satu tim yang seluruh anggotanya perempuan. Ditemui di kantor, Sekertaris Prodi Teknik Mesin Iis Siti Aisyah, menyampaikan bahwa tiga tim tersebut berasal dari Lembaga Semi Otonom (LSO) Mecatron. “Tiga tim yang insyaallah kita ikutkan dalam lomba berasal dari LSO Mecatron. Sedangkan jenis mobil yang nanti diikutkan dalam lomba adalah Urban (City Car) Listrik, Proto (Kapsul) Listrik, dan Urban (City Car) Hybrid,” ungkap Iis Sabtu (1/9). KMHE adalah ajang inovasi dan kreativitas mahasiswa-mahasiswa di seluruh perguruan tinggi Indonesia. Tim UMM sendiri telah melakukan persiapan selama satu bulan untuk membuat setiap mobil hemat energi tersebut dengan beberapa tahapan. “Tahap pembuatan ini dimulai dari mendesain mobil dalam bentuk 3D, simulasi aero dinamik guna menghitung koefisien drag atau hambatan udara dan terakhir merakit satu persatu bahan menjadi kesatuan utuh berbentuk mobil,” urainya. Sementara itu, Mohammad Jufri, Pembina LSO Mecatron menambahkan ada 5 hal yang harus disiapkan saat membuat mobil hemat energi yaitu, body, rangka, pengereman, kemudi dan mesin. “Yang membedakan setiap mobil itu mesinnya. Setiap mesin mempunyai sumber energi yang berbeda,” jelas Jufri. Lebih dalam Jufri menyampaikan, mobil dengan teknologi hybrid saat ini masih sangat jarang diikutsertakan dalam lomba karena tingkat kesulitannya lebih dibanding listrik. Ini menjadi peluang dan semangat tersendiri bagi Tim UMM untuk unggul di KMHE 2018. “Dengan ini kami optimis akan mendapatkan hasil terbaik pada kompetisi nasional November mendatang,”pungkas Jufri. Persiapan yang dilakukan ketiga tim menjadi bekal bagi UMM untuk kembali mengukir prestasi dalam inovasi mobil hemat energi di KMHE mengikuti jejak pendahulunya, Mobil Listrik Genetro Suryo. Pada 2017 lalu, Genetro Suryo berhasil menduduki peringkat empat besar nasional tahun 2017 dalam gelaran KMHE. Mobil listrik yang diusung Sang Surya Eco Energy Team UMM juga melenggang pada ajang Shell Eco-Marathon Asia di Singapura 8-11 Maret 2018 lalu.
Melalui Program UMM Pasti, Rektor Jamin Mahasiswa Lulus Tepat Waktu

Tradisi silaturrahmi wali mahasiswa baru gelombang 2 dan 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali digelar Jumat (31/8). Berlokasi di dome UMM, wali calon mahasiswa baru (Camaba) tahun akademik 2018/2019 yang berasal dari seluruh penjuru daerah di Indonesia berkumpul. Memberikan sambutan Rektor UMM, Fauzan menyampaikan ucapan selamat datang di kampus UMM sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Jawa Timur. Fauzan mengungkapkan di tahun 2018 ini terjadi peningkatan mahasiswa baru yang cukup signifikan. “Tahun 2018 ini, tercatat 19.000 pendaftar UMM dan yang dapat kami terima sejumlah 7.500 orang, ” ujar Fauzan. Berupaya selalu memberikan yang terbaik, oleh pihak kampus peningkatan tersebut diimbangi dengan berbagai fasilitas yang disempurnakan. Tak hanya dalam segi fasilitas, Fauzan juga meyakinkan para wali orang tua mahasiswa bahwa pembentukan hasil lulusan yang baik juga dilakukan melalui berbagai program, salah satunya dengan program UMM Pasti. Program tersebut merupakan sebuah upaya dari UMM untuk meluluskan mahasiswa dalam waktu 3,5 dan 4 tahun, pasti mandiri dan pasti bekerja. “Saya pastikan putra putri bapak bisa lulus 4 tahun kemudian,” kata Fauzan. Menyambut perkembangan dunia karir mahasiswa yang semakin beragam di era millennial, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan meluncurkan program UMM Pasti, yakni Pasti Lulus 4 Tahun, Pasti Bekerja dan Pasti Mandiri. Melalui program ini Fauzan yakin, lulusan UMM akan mampu berkompetisi di dunia luar bahkan sebelum menyelesaikan studinya.(Humas)