UMM Perhatikan Keamanan Pangan saat Berkurban

Dalam Alquran surah Al-Kautsar [108] ayat 1-2 ditegaskan, setelah disebutkan kenikmatan yang besar, Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mendirikan shalat dan berkurban sebagai bukti rasa syukur atas nikmat-nikmat itu. Kurban tidak hanya sekedar menyembelih hewan dan membagikan hasil sembelihan. Kesehatan hewan kurban sebelum disembelih, saat disembelih, dan setelah disembelih juga perlu untuk perhatikan. Tahun ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyiapkan sebanyak tujuh ekor sapi dan 21 ekor kambing. Menurut Imbang Dwi Rahayu selaku Tim Pemantau Kesehatan Hewan Kurban, kali ini UMM tak hanya memperhatikan kesehatan hewan sebelum disembelih, namun juga saat dan sesudah penyembelihan. “Kesehatan itu tidak hanya dicek saat ternak hidup, namun kami juga melakukan pengecekkan saat dan sesudah disembelih,” papar Imbang. Lebih lanjut, Imbang juga menyampaikan bahwa dengan memperhatikan proses perawatan hewan kurban adalah upaya UMM dalam memerhatikan ketahanan pangan mengingat daging hewan kurban ini akan dikonsumsi oleh masyarakat. “Kita benar-benar memperhatikan keamanan dan kesehatan hewan-hewan kurban tersebut. Ini adalah upaya UMM dalam meningkatkan keamanan pangan,” tandasnya. Sementara itu, proses sebelum penyembelihan juga menjadi perhatian tim, salah satunya pada ketika perobohan hewan. Menurut Imbang, kesalahan perlakuan pada hewan kurban juga memengaruhi kualitas daging hewan kurban. “Perlakuan yang benar memengaruhi kualitas daging. Kalau hewan stress daging yang akan diolah tidak bisa menghasilkan daging yang layak dikonsumsi karena daging akan alot,” papar dosen Program Studi Peternakan tersebut. Penangan secara insan juga diberikan pada hewan-hewan kurban tersebut. Seperti pada saat proses awal penyembelihan, satu kali tebas di bagian lehar harus putus tiga jalur, utamanya jalur darah yang harus dengan cepat terputus. “Tata cara yang dianjurkan dalam Islam telah sesuai dengan cara-cara medis dalam pemotongan hewan. Jika dilakukan secara runtut dan benar, maka kualitas daging kurban akan terjamin,” tegas Imbang. (nis/sil)
Iduladha sebagai Momentum Bermuhasabah

Iduladha adalah salah satu momentum yang harus disambut dengan rasa syukur atas kenikmatan dalam hidup. Sejalan dengan hal tersebut, Rabu (22/8) pelataran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) penuh sesak dalam kekhusyukkan sholat Iduladha 10 Dzulhijjah 1439 H. Dalam pembukaan sebelum memulai sholat Iduladha, Ketua Pelaksana Kegiatan Kurban Rahmad Pulung Sudibyo melaporkan jumlah hewan kurban yang akan disembelih. “Patut kita syukuri, saat ini kita semua dapat membagikan rasa nikmat dan syukur kita dengan kembali melakukan penyembelihan hewan,” kata Pulung. Sebanyak tujuh ekor sapi dan 21 ekor kambing akan siap untuk disembelih. Daging hewan-hewan kurban tersebut juga akan dibagikan kepada masyarakat yang berada di sekitar Kampus III UMM. “Kami telah menyiapkan tujuh ekor sapi dan 21 kambing untuk disembelih. Semua hewan-hewan tersebut telah kami pastikan kesehatannya,” terang dosen Program Studi Agribisnis tersebut. Selepas menuntaskan ibadah sholat Iduladha, hadir di tengah jamaah sholat Iduladha Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Busyro Muqqodas. Pada tausyiah kali ini, Busyro mengajak masyarakat untuk kembali mengingat, mempelajari, dan mengamalkan akhlak terpuji Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. “Pada kesempatan yang mulia ini, mari bersama kita pahami kembali makna ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan tentang kenikmatan bersyukur,” terangnya. Sementara itu, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2010-2011 ini juga menyampaikan bahwa kita dapat memaknai ayat-ayat yang bermakna metaforik tersebut dalam kehidupan bersosial dan bernegara. “Saat ini kita dihadapkan pada persoalan tuna moral, banyak hal-hal yang menjadikan kita terkadang menjadi insan yang lupa diri,” jelas Busyro. Jika dalam kisahnya Nabi Ibrahim dapat menerima ketentuan Allah SWT dengan lapang dada, maka momentum perayaan ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial semata. “Kisah Nabi Ibrahim adalah kisah yang harus sering-sering kita ingat dan amalkan, tentang kelapangan dalam menerima garis hidup yang telah ditentukan oleh Allah SWT,” tutur Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah tersebut. Diakhir, Busyo mengingatkan untuk tak terus mengevaluasi diri dan menjadikan momen-momen sakral seperti ini sebagai penanda untuk terus menjadi insan yang mulia dihadapan Allah SWT. (nis/sil)
Susul Kampung Warna-Warni, Discover Gresik Akan Jadi Mega Proyek Garapan Mahasiswa Ikom UMM

Setelah sebelumnya sukses menggarap berbagai kawasan menjadi destinasi bernilai kemanfaatan sosial, Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) kembali merancang sebuah program unggulan berbasis pemaksimalan potensi lokal. Program ini diintegrasikan dengan praktikum mahasiswa peminatan Public Relations (PR). Bermula dari kekaguman atas suksesnya Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) garapan Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMM, rombongan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kabupaten Gresik meminta secara khusus Prodi Ilmu Komunikasi UMM untuk menerapkan konsep serupa di sejumlah kawasan di Kabupaten Gresik. Lalu, melalui diskusi kedua belah pihak tercetuslah sebuah program bertema “Discover Gresik”. “Awalnya mereka ingin sejumlah kawasan ini dijadikan serupa Kampung Warna-Warni Jodipan. Hanya saja kami menyampaikan kepada mereka, bahwa setiap daerah memiliki potensinya masing-masing. Sehingga treatment-nya akan berbeda antara satu kawasan dengan kawasan lainnya. Intinya kami tidak ingin latah,” ungkap Arum Martikasari, M.MedKom, Koordinator Praktikum Menejemen Strategi PR Prodi Ilmu Komunikasi UMM, Selasa (21/8). Lima kawasan yang bakal jadi objek garapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM di antaranya Desa Kramat Inggil melaui konsep Eco Green Village, Kelurahan Kemuteran melalui konsep Night Market, Kelurahan Kroman melalui konsep Wisata Pelabuhan, Kelurahan Penelingan melalui konsep Cultural and Heritage, serta Kelurahan Sukodono melalui konsep Sentra Kuliner. Kesempatan untuk menggarap klien khusus ini nantinya tidak didapat semua kelompok praktikum. Mereka yang lolos penilaian secara konsep yang akan benar-benar menindaklanjuti garapan lima kawasan ini, termasuk mencari sumber pendanaan juga mendampingi masyarakat hingga garapan proyek ini selesai. Diperkirakan semua program akan mulai berjalan September bulan depan. “Kami berharap dengan skema praktikum seperti yang diterapkan ini, lulusan Prodi Ilmu Komunikasi dapat memiliki kompetensi atau skill yang bisa diujikan saat sertifikasi keprofesian. Sehingga ketika diuji, mereka tinggal menunjukan portofolio yang mereka miliki,” ungkap Arum. (can/sil)
ASKII sebagai Optimalisasi Wadah Tukar Pengalaman dan Pengelolaan Sentra HKI
Mengingat pentingnya keberadaan Sentra-sentra Kekayaan Intelektual (KI) di Indonesia, mendorong terbentuknya Asosiasi Kekayaan Intelektual Indonesia (ASKII) tanggal 30 Oktober 2017 silam. Baru berumur 11 bulan, ASKII telah banyak melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti pelatihan terkait penyelenggaraan dan pengelolaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) serta melakukan kerjasama dengan beberapa sentra Kekayaan Intelektual (KI) di Indonesia. Ketua ASKII, Dr. Budi Agus Riswandi S. H., M. Hum. mengungkapkan pentingnya keberadaan sentra KI di perguruan tinggi. Dalam perkembangannya baik perseorangan maupun lembaga ternyata sangat membutuhkan wadah sentra KI untuk sarana bertukar pengalaman, pengetahuan, serta penguatan satu sama lain antara anggota KI. “Ketika kita diundang oleh dirjen KI untuk mengadakan rapat koordinasi sentra KI Indonesia di Malang waktu itu di usulkan dalam forum supaya dibentuk asosiasi sentra kekayaan intelektual Indonesia. Dari forum itu akhirnya dibentuk tim formatur salah satunya adalah saya. Kemudian beberapa anggota lain dari berbagai perguruan tinggi, dan dari tim formatur tersebut selama kurang lebih 4 sampai 6 kali pertemuan mempersiapkan pembentukan asosiasi,” papar Budi tentang perjalanan terbentuknya ASKII, Selasa (21/8) di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam rapat Kerja Nasional ini, ASKII memperteguh kembali rencana program serta kapasitas anggota mengenai pengelolaan HKI di masing-masing unit sentra HKI. Juga hari ini ditetapkan anggota ASKII 113 orang yang terdiri dari perwakilan lembaga maupun perseorangan. Sentra KI di UMM sendiri telah berdiri tahun 2002 dan menjadi lembaga paling senior dari perguruan tinggi lainnya. Keberadaan Sentra KI di UMM tidak jauh dari pemikiran Dr. Ir. Maftuchah, MP yang merasa pentingnya memiliki lembaga Sentra HKI. “Saya kira penting keberadaan lembaga ini. Kekayaan intelektual itu bukan hanya sekedar pencatatan, hasil teknologi, intelektualitas, ini masalah regulasi internasional juga. Indonesia masih tergolong lamban di banding negara lain. Saya berpikir sentra HKI dibuat menjadi lembaga akan lebih bagus, sehingga yang dulunya kami SK-nya sebagai panitia berubah menjadi pengurus dan berdiri di UMM tahun 2002,” terang Ketua Sentra HKI UMM tahun 2002-2017, Maftuchah, MP. Sejalan dengan pemikiran Maftuchah, Budi mengharapkan ASKII akan terus berkembang menjadi lembaga yang tidak hanya diisi oleh kalangan akademisi, peneliti, ilmuwan, tetapi para industriawan. Tujuannya untuk mengoptimalisasikan guna mensejahterakan masyarakat benar-benar dapat diwujudkan. (apn/sil)
Jumlah Pendaftar Melonjak, Peserta Tes Gelombang III UMM Capai 3.000 Camaba

Tes Gelombang III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berlangsung Senin (20/8).Total pendaftar pada tes Gelombang III ini mencapai 3.079 calon mahasiswa baru (camaba). Berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 10.30 tes tulis dilanjutkan dengan tes wawancara yang berakhir pukul 12.30 WIB. “Untuk pengumuman tes ini nanti tanggal 24 Agustus,” ujar Kepala UPT Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), Dr. Saiman, M.Si. Sementara itu, Wakil Rektor 1 UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin mengatakan bahwa pada setiap penerimaan mahasiswa baru, UMM menetapkan kuota berbeda-beda. Untuk Gelombang I terdapat kuota sebanyak 30 persen, Gelombang II sebanyak 40-50 persen dan Gelombang III sebanyak 15-20 persen. Seperti sebelumnya, Gelombang II menjadi puncak pendaftar terbanyak. “Jumlah total pendaftar meningkat hingga 35 persen dari tahun lalu. Hal ini karena UMM telah berupaya menerapkan standar Kemenristekdikti guna menjadi perguruan tinggi terbaik. Misalnya, dari segi SDM kita terus pacu, kompetensi dan kualifikasi. Kami juga terus menerus menyekolahkan dosen ke jenjang doktoral. Kemudian kami juga fasilitasi penelitian. Ke depan UMM akan selalu mencari solusi terhadap permasalahan di era disrupsi agar semakin banyak yang mendaftar ke UMM,” terangnya. Sementara itu, salah seorang camaba asal Kediri, Mita Yuliana mengharapkan Tes Gelombang III yang diikutinya ini dapat membuahkan hasil yang baik. “Saya ambil jurusan Ilmu Hukum. Meskipun sedikit takut nggak lolos dan mengecewakan orang tua, saya tetap optimis dan yakin kalau saya diterima,” ungkapnya. Tes Gelombang III dibuka untuk semua program studi (prodi) dari Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Fakultas Hukum, Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Agama Islam serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis kecuali Fakultas Kedokteran. Total peserta yang akan diterima secara keseluruhan Gelombang I, II dan III sebanyak 6.000-7.000 mahasiswa. (apn/sil)
Penutupan HUT RI ke-73 Keluarga Besar UMM, Semarak dalam Suasana Kekeluargaan
Tak kalah meriah, penutupan agenda Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke 73 begitu dinanti-nantikan seluruh staf, karyawan, dosen, dan partime UMM. Meskipun acara berlangsung malam hari yang dingin, penonton tetap antusias hingga akhir acara. Rektor UMM memberikan apresiasi terhadap semua yang hadir dalam acara. Semakin meriah dengan penampilan tari Nyawijing Tekad yang berarti menyatukan tekad. Tari ini menceritakan tekad menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Konsep acara bernuansa family ghatering menambah keakraban dalam suasan kekeluargaan cpara dosen dan karyawan. “Penghargaan di acara penutupan sengaja kami konsep family ghatering, sehingga nuansa guyub tercipta antar karyawan UMM,” ungkap Kepala Sekretariat Rektorat, Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed. Momen kebersamaan malam Minggu, (18/8) di hellyped UMM bertambah syahdu dengan lantunan musik persembahan band-band internal kampus yang anggotanya dosen dan mahasiswa sembari menantikan acara pengumuman pemenang lomba. Berikut pemenang juara pertama dari masing-masing perlombaan. Juara 1 Kupas Bawang dan Apel dimenangkan oleh Musafak dari Unit Bisnis UMM Lembaga Sertifikasi Profesi. Juara 1 Gobak Sodor dimenangkan oleh Keamanan II. Juara 1 Bentengan dimenangkan oleh UMM Inn. Juara 1 Congklak dimenangkan oleh saudari Ai dari unit Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Juara 1 Egrang dimenangkan oleh saudari Puji dari unit Taman Wisata Sengkaling. Juara 1 Egrang beregu dimenangkan oleh unit Taman Wisata Sengkaling. Juara 1mirip pahlawan dimenangkan oleh Unit Bengkel Rinjani. Juara 1 Volly dimenangkan oleh Unit Taman rekreasi sengkaling. Juara 1 Senam Gemu Fa Mi Re dimenangkan oleh Unit Taman Rekreasi Sengkaling. Juara 1 Benthik dimenangkan oleh Unit Keamanan. Juara 1 Supporter terheboh dimenangkan oleh Uni Taman Rekreasi Sengkaling. Juara 1 Sementara itu, untuk Wefie dimenangkan oleh Lab. Bank Syariah. Juara 1 Film Pendek dimenangkan oleh Laboratorium Fakultas Hukum dan Juara 1 Selfie dimenangkan oleh Fitroh Nila dari Laboratorium Biologi. Di akhir penutupan, sorak sorai peserta menyambut kemenangan juara umum dari semua perlombaan. Juara umum tersebut diraih oleh juara bertahan, Taman Rekreasi Sengkaling.(apn/sil)
Tambah Bekal Lulusan Keperawatan, UMM Datangkan Pengajar Ahli Asli Jepang

Kerjasama antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Mate-care co. Ltd terus berlanjut. Kali ini terimplementasi dengan diselenggarakannya program belajar bahasa Jepang sekaligus praktik dalam merawat pasien lanjut usia (lansia). Jika sebelumnya program persiapan kemampuan berbahasa dan kompetensi pendukung ditujukan untuk para lulusan keperawatan, mulai tahun ajaran baru ini mahasiswa semester 1 keperawatan UMM akan langsung mendapatkan bekal tersebut. “Periode ini mahasiswa keperawatan yang berada di semester 1 akan dibekali bahasa Jepang, sehingga begitu lulus langsung bisa dikirim ke Jepang. Program ini berlangsung selama 8 bulan. Untuk para lulusan, dilaksanakan sebelum mereka diberangkatkan ke Jepang,” jelas Koordinator Asisten Khusus Rektor UMM, Tulus Winarsunu Sabtu, (18/8) di Kampus 1 UMM. Istimewanya, salah satu pengajar dalam program ini langsung didatangkan dari negeri sakura, ia adalah Yamamoto dari Kobe International University. Pengalaman pria ini dalam dunia keperawatan tak bisa dipandang sebelah mata. Lebih dari 10 tahun, Yamamoto berkecimpung di sebuah rumah sakit lansia ternama di Jepang. “Saya pernah terkena penyakit kanker kemudian dioperasi dan dirawat di rumah sakit lansia. Saya kemudian bekerja di sana dan dari situlah saya tahu banyak permasalahan yang dihadapi para lansia,” ungkap Yamamoto. Tidak hanya Yamamoto, Dr. S. Sugiura dari Reitaku University juga tertarik dengan UMM. Sugiura berencana mengikuti jejak Yamamoto untuk melakukan kerjasama dikemudin hari. “Perihal konkrit kerjasama nantinya belum bisa saya jawab sekarang, tapi saya pastikan akan membawa pesan dari rektor UMM untuk disampaikan kepada rektor saya di Jepang untuk didiskusikan kepada petinggi-petinggi,” terangnya. Kerjasama UMM dan Mate Care bertujuan salah satunya untuk mempersingkat waktu tunggu kerja bagi mahasiswa. Ini sejalan dengan semangat program UMM Pasti, yakni Pasti Lulus empat tahun, Pasti Bekerja dan Pasti Mandiri. Melalui bekal kompetensi yang diberikan, UMM memastikan lulusannya siap terjun ke dunia kerja dan terus berkarya. (apn/sil)
Kunjungi LK UMM, Anak Muda Taiwan Share Cara Keren Lestarikan Bahasa Daerah
Menggunakan bahasa daerah atau yang sering juga disebut dengan bahasa ibu, menjadi sesuatu yang jarang lagi dilakukan oleh para remaja. Anak muda zaman now cenderung gengsi memakai bahasa ini. Mereka akan lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang sama terjadi juga di Taiwan. Fenomena ini kemudian menarik Meinong People Assosiation Taiwan yakni sebuah gerakan kampanye masyarakat tentang kebudayaan Meinong, sebuah kota di Taiwan untuk membuat anak muda kembali mencintai bahasa daerahnya, Bahasa Hakka. Sabrina, salah satu anggota MPA yang juga menjadi pengurus kantor TransAsia Sister Assosiation Taiwan (TASAT) menyampaikan, ditengah era modern saat ini menjadi tugas bersama untuk membuat para generasi penerus bangsa mencintai budanyanya. “Budaya, termasuk bahasa ibu musti dilestarikan. Misalnya saja Bahasa Jawa, karena anak-anak zaman sekarang cenderung gengsi dan malu menggunakan bahasa daerah. Jika tidak dipakai ini akan hilang,” jelas mantan WNI yang kini telah menikah dengan warga negara Taiwan dan tinggal di Meinong selama 20 tahun tersebut. Pada Kajian Multidisipliner Komparasi Budaya Masyarakat Taiwan dan Indonesia di Aula BAA, Sabtu (18/8) ini selain Sabrina, dalam rombongan yang berjumlah 20 orang tersebut juga terdapat anak-anak muda yang telah berhasil berkreasi melestarikan kebudayaan asli suku Hakka, yakni Willy, Jason, Nick dan Ryan. Keempatnya mengaku jatuh cinta setelah coba mengenal budaya Hakka lebih dalam. “Kami mempelajari Pa in Hakka. Ini adalalah alat musik yang mulai ditinggalkan,” ujar Willy remaja berusia 15 tahun yang sudah sejak beberapa tahun terakhir menekuni rangkaian alat musik bersuara merdu yang terdiri dari 8 alat ini. Sebelumnya, Pa in Hakka hanya dimainkan pada acara-acara adat. Namun, seiring perkembangan dan munculnya minat pada anak-anak muda, kini beberapa komunitas tengah coba melestarikan musik satu ini dengan cara yang berbeda. “Kami menggunakannya dalam drama-drama anak muda yang dipentaskan. Meski awalnya hanya karena terpaksa mempelajari musik ini karena malas les, sekarang Pa in Hakka justru menjadi kebanggaan terbesar kami,” ujar Jason sambil memperlihatkan geliat aktivitas budayanya yang diliput oleh beberapa media. Satu semangat dengan Willy dan Jason, Nick dan Ryan juga memiliki tekad yang kuat untuk mengajak anak-anak muda mencintai bahasa Hakka. Terinspirasi dari salah seorang musisi, keduanya kemudian mengikuti bimbingan musik khusus dan serius memperdalam kemampuan bermusik dengan memasukkan lirik bahasa Hakka. Target utamanya untuk mengajak anak-anak muda di Meinong kembali mencintai bahasa sukunya. “Kebanyakan anak muda sekarang lebih suka bahasa Mandarin, ini membuat kami prihatin. Kami kemudian memperdalam musik, membuat lagu hingga album pop dengan lirik berbahasa Hakka. Kami mulai dari musik bertema anak-anak hingga remaja,” jelas Ryan. Karya album mereka yang pertama berjudul X+Y, menceritakan tentang kegalauan anak-anak yang membenci matematika dan album kedua berjudul Masa Remaja menceritakan tentang dilemma remaja mulai dari persoalan cinta hingga konflik dengan orang tua. “Kami tidak main-main, lagu-lagu kami merupakan lagu pilihan yang dipilih musisi nasional dan kami menggelar konser dengan berkolaborasi bersama mereka,”tandas Nick. Apa yang dilakukan keempat remaja tersebut ternyata tidak sia-sia. Meski awalanya sempat menjadi cibiran teman-teman lantaran menggunakan “bahasa orang tua”, mereka justru kemudian menjadi sosok yang menginpirasi teman-teman remaja disekitarnya. “Mereka banyak yang kemudian tertantang dan turut kemudian ikut bergabung dan belajar bersama,”pungkasnya. Kepala Lembaga Kebudayaan UMM Dr Daroe Iswatiningsih MSi menyampaikan, kunjungan MPA kali merupakan tindak lanjut kerjasama UMM dengan berbagai lembaga di Tiongkok. Setelah memperkenalkan budaya mereka, ke 20 orang dalam rombongan tersebut akan belajar membatik dan mengenal alat musik gamelan. “Ke depannya kita rencanakan pertukaran budaya dalam lingkup yang lebih luas,”pungkasnya.
HUT RI ke 73 UMM Bangun Semangat Ibadah dan Kebersamaan

Semarak kemerdekaan dimaknai Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan menjunjung nilai-nilai kegotongroyongan diantara seluruh karyawan, dosen, dan staf-staf. Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) RI berlangsung khidmat dengan amanat dari insnpektur upacara yang menggugah peserta dengan seruan religiusitas untuk melaksanakan ibadah wajib tepat waktu dan berjamaah. “Bagaimana sholat wajib kita? Sudahkah kita sholat berjamaah rutin di masjid? Back to Masjid, khususnya laki-laki wajib sholat berjamaah di masjid,” ujar Sekertaris Badan Pengurus Harian (BPH) UMM, Drs. Wakidi (17/8). Tidak hanya soal ibadah, Wakidi juga menyampaikan bahwa penting adanaya bagi seluruh civitas akademika, terutama dosen dan karyawan untuk memberikan pengabdian terbaik, khususnya dalam meningkatkan pelayanan bagi mahasiswa. “Kita sebagai ujung tombak kegiatan dakwah, apabila sikap, perilaku dan ahlak kita baik dalam menjalankan tugas, maka Muhammadiyah dan Islam juga akan menjadi baik,” tambahnya. Perayaan kemerdekaan di UMM telah dilaksanakan mulai pekan lalu. Berbagai perlombaan yang menunjukkan semangat kerja bakti dan kegotongroyongan sengaja diselenggarakan untuk membangun keguyuban civitas akademika kampus. “Filosofi kerja bakti, memang sangat dalam sehingga Pak Rektor juga menginginkan dibangunnya perlombaan yang guyub,” papar Kepala Sekretariat Rektorat, Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed yang kali ini juga bertindak sebagai ketua pelaksana rangkaian acara Peringatan HUT RI ke 73. Pada kesempatan kali ini, UMM juga menegakkan semangat Green and Clean sesuai dengan tagline yang dicanangkan. Papa pimpinan kampus pun ikut berpartisipasi dengan membersihkan lingkungan kampus. Kegiatan ini mnejadi simbol, bahwa kebersihan bukan hanya tanggung jawab pekerja kebersihan tetapi merupakan tanggung jawab bersama. “Acara itu juga berhubungan dengan salah satu lomba yakni lomba penataan ruangan atau kantor di unit-unit kerja. Setiap unit kerja di UMM mengikuti perlombaan bersih-bersih kantor sekaligus menghias kantor. Tujuannya untuk melihat semangat setiap unit membersihkan kantor mereka,” tambah Rina. Di akhir, Rina menyampaikan bahwa tagline Muhammadiyah untuk Bangsa adalah tagline yang sangat pas untuk mendeskripsikan bagaimana kampus UMM melakukan sesuatu yang bermanfaat meskipun dalam hal-hal kecil. “Saya rasa tagline Muhammadiyah sudah cukup menunjukkan kesungguhan seluruh civitas akademika melakukan hal bermanfaat maka meskipun hal kecil tetapi semua itu untuk kemajuan bangsa,” terang Rina (apn/sil)
Mahasiswa UMM Bawa Misi Sebarkan Bahasa dan Budaya Indonesia ke Thailand

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Begitulah kalimat motivasi yang sering kita dengar. Hal tersebut kemudian diterjemahkan oleh para pelajar masa kini dengan menuntut ilmu ke negara lain. Seperti yang dilakukan oleh tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Robby Cahyadi, Muslichatin Rismawati, dan Novi Karnowati. Ketiga mahasiswa ini bersama dengan 52 mahasiswa lain yang juga berhasil lolos seleksi. Ketiga mahasiswa semester enam ini segera bergabung dalam Indonesia Thailand Internship Program. Muslicha panggilan akrab Muslichatin Rismawati menyampaikan, bahwa kesempatan untuk bisa berbagi ilmu dengan masyarakat negara lain merupakan kesempatan yang berharga. “Dari dulu saya memang sudah bercita-cita untuk bisa menginjakkan kaki ke negera lain, saya bersyukur bisa lolos seleksi untuk ikut program ini,” jelas mahasiswa asal Mojokerto ini. Nantinya, dalam kurun waktu 2 bulan, para mahasiswa ini akan mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia kepada siswa sekolah di beberapa kawasan di Thailand. Senada dengan Muslicha, Robby Cahyadi mengakui bahwa pengalaman mengajar siswa yang berbeda latar belakang budaya akan memunculkan tantangan baru. “Karena secara budaya dan bahasa kami sangat berbeda, saya berharap selama di sana bisa saling belajar. Saya memperkenalkan budaya dan bahasa Indonesia sekaligus bisa belajar budaya dan bahasa mereka,” jelas mahasiswa asal Banyuwangi ini. Kepala Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Dr. Sugiarti, M. Si, menuturkan bahwa berangkatnya tiga mahasiswa prodinya akan membuka peluang yang bagus bagi mereka. Karena kesempatan untuk belajar sekaligus berbagi di negeri orang bukanlah hal yang mudah. “Misi yang mereka bawa adalah lebih memperkenalkan Indonesia lewat bahasa dan budaya. Yang lebih penting, semoga bisa membuka peluang kerja sama ke depan yang memungkinkan bagi mereka untuk melanjutkan bekerja diluar,” tegasnya. Untuk membuka peluang lebih banyak bagi mahasiswa yang lain, prodi Pendidikan Bahasa Indonesia merencanakan program serupa. Tujuannya agar semakin banyak mahasiswa yang bisa merasakan pengalaman memperkenalkan dan mengajarkan budaya dan bahasa Indonesia kepada masyarakat luar