Puluhan Mahasiswa dari 5 Universitas Jepang Selami Bahasa dan Budaya Indonesia di BIPA UMM

Berbicara tentang Indonesia, siapapun tak akan pernah puas menikmati kebudayaanya. Bagi 35 mahasiswa asal Jepang ini misalnya, berkunjung ke Indonesia dan merasakan sehari berbudaya Indonesia adalah hal yang tak terlupakan. Kiyokawa Joe seorang mahasiswa asal Wako University mengaku, perasaan bahagia sudah muncul sejak ia sampai di negara beriklim tropis ini. “Saya senang datang hari pertama di sini, orang ramah-ramah,” jelasnya. Hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (13/8), 35 mahasiswa Jepang tersebut tergabung pada program Fieldwork of International Cooperation 2018. Di kampus putih inimereka disuguhi dengan berbagai kegiatan di Kelas Bahasa dan Budaya. “Saya baru saja mengikuti kelas membaca dan berbicara bahasa Indonesia, selamat siang, terima kasih, nama saya Yuma,” tutur Takashi Yuma menjajal kemampuan Bahasa Indonesianya. Diawali dengan seremonial penerimaan mahasiswa-mahasiswa tersebut, Asisten Rektor Bidang Kerjasama Soeparto menyatakan bahwa kunjungan para akademisi dari Jepang ini diharapkan dapat menjadi awal mula bagi UMM membangun kerjasama yang lebih luas, utamanya dengan negeri sakura tersebut. “Saya berharap kunjungan ini bisa belanjut ke kunjungan-kunjungan lainnya, terutama untuk kunjungan kerjasama,” papar Soeparto. Gayung bersambut, perwakilan dari Wako University Bambang Rudyanto juga menginginkan hal serupa dapat terlaksana. Ia bahkan berharap, pada kerjasama selanjutnya mahasiswanya juga dapat memperoleh beasiswa belajar Bahasa dan Budaya di UMM seperti mahasiswa asal Jepang yang lain. “Di sini sudah ada beberapa mahasiswa asal Jepang yang belajar bahasa dan budaya, saya harap kalian juga bisa seperti mereka,” terang dosen asal Indonesia ini. Usai Kelas Bahasa, acara yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM ini dilanjutkan dengan Kelas Budaya yaitu membatik dan menari. “Saya pilih membatik, karena saya tidak pandai menari dan menari di sini indah sekali,” ujar mahasiswa yang lain, Ito Takuto. Ditutup dengan serangkaian permainan luar ruangan, salah satu mahasiswa Jepang, Kiyokawa Joe merasa sangat bahagia mendapatkan banyak pengalaman di UMM. Ia pun berharap kelak akan kembali lagi kesini untuk merasakan pengalaman belajar yang lebih lama. “Sangat senang datang ke sini, saya akan ke sini lagi untuk mencoba belajar di sini,” jelas Joe. Penanggungjawab kegiatan pengenalan permainan tradisional Danang Fitrian Wibisono menyampaikan, ada tiga macam permainan tradisional yang dikenalkan pada mahasiswa Jepang tersebut yakni rangku alu (tari tongkat), balap karung, hula hoop beregu, dan klompen beregu. Berbagai permainan tradisional tersebut selain sebagai pengenalan budaya Indonesia, juga sebagai cara untuk menunjukkan identitas dan kepribadian bangsa. “Harapannya, mereka bisa belajar banyak tentang nilai yang ada di masyarakat kita seperti kerjasama, kesopanan, santun, ramah dan rendah hati serta dapat membawa nilai ini hingga ke tanah kelahiran mereka,” pungkas pria yang juga menjadi pengajar di BIPA UMM tersebut. (Humas UMM)
Gandeng Yayasan Sayangi Tunas Cilik, UMM Bekali Mahasiswa Keterampilan Pekerja Sosial

Sebagai upaya memudahkan mahasiswa melakukan riset, magang, dan praktikum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik yang merupakan partner dari Save The Children Indonesia, Senin (13/8) di Aula BAU UMM. Perjanjian dibuat agar kedua belah pihak dapat menyelenggarakan program-program penelitian sosial baik oleh dosen maupun mahasiswa, praktikum mahasiswa dalam pelayanan terhadap anak dan pengabdian masyarakat oleh tenaga pengajar. Objek perjanjian nantinya adalah penelitian, praktikum, dan pengabdian masyarakat di Pusat Dukungan Anak dan Keluarga yang diselenggarakan oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik bekerjasama dengan Dinas Sosial Kabupaten Malang Rektor UMM, Fauzan menyampaikan bahwa kerjasama antara keduanya secara khsuus menjadi langkah yang tepat untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan mahasiswa. Hal ini sehubungan dengan program UMM Pasti yang tengah digalakkan kampus putih untuk membekali calon lulusan. “UMM sendiri mempunyai program Pasti. Program itu bertujuan untuk menghadapi dinamika sosial yang pada hakekatnya menuntut adanya kejelasan dan kepastian pendidikan. Ini menjadi bekal karena orang yang hebat adalah orang yang membekali diri,”tambahnya. Usai sambutan rektor, acara dilanjutkan paparan oleh Tata Sudrajat selaku Families First Signature Program Director Yayasan Sayangi Tunas Cilik. Sudrajat mengungkapkan bahwa berdasarkan data Direktorat Anak Kemsos tahun 2016 masih banyak permasalahan sosial terutama yang menyangkut anak-anak di Indonesia. “Sebanyak 997.000 bayi terlantar, 2,3 juta anak terlantar di jalan dan 7.466 Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) serta 6.300 anak memerlukan perlindungan khusus. Kesadaran hukum di Indonesia memang sudah ada tetapi kekerasan masih menjadi budaya,” ujarnya memaparkan data Direktorat Anak Kementrian sosial 2016. Sementara itu, pegiat sosial mitra Yayasan Sayangi Tunas Cilik asal Australia Karen Flanagan menyemangati para mahasiswa FISIP, tidak hanya Program Studi Kejahteraan Sosial namun juga Hubungan Internasional (HI), Ilmu Pemerintahan (IP) dan Ilmu Komunikasi untuk terjun menjadi pekerja sosial. Ia juga mengungkapkan fakta bahwa dinegaranya saat ini pekerja sosial sangat dibutuhan, berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya dimana profesi ini memerlukan waktu 30 tahun untuk bisa diakui dan di terima masyarakat. Sementara itu, untuk bidang penanganan, sambung Karen, pekerja sosial di Indonesia dan Australia memiliki kosentrasi yang berbeda. “Kalau Indonesia kebanyakan isu sosial tentang anak, di Australia lebih pada bidang narkoba, kesehatan mental, dan kekerasan terhadap lansia,” pungkasnya.
Muhammadiyah Gelar Pidato Kebangsaan dalam Romantisme Keberagaman

Romantisme kebangsaan terasa kental di Hall Dome UMM , Minggu (12/8). Hari ini, berbagai tokoh agama berkumpul dalam acara Pidato Kebangsaan bertema Meneguhkan Nilai-Nilai Kebangsaan yang Berkemajuan Menyongsong Indonesia Emas dalam rangka menyambut HUT RI ke 73. Hadir dalam gelaran kali ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, tokoh Naudlatul Ulama, tokoh agama Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, Penghayat Kepercayaan, dan Kristen. Memberikan sambutan di awal, Rektor UMM Fauzan menyampaikan bahwa ruh pemaknaan kemerdekaan bagi bangsa ini telah dilakukan jauh sebelum Indonesia merdeka, dia adalah Kyai H. Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah. “Beliau yang dalam awal gerakannnya telah memilih pendidikan dan kesehatan sebagai amal nyata yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dan bangsa indonesia agar dapat hidup merdeka,” urainya. Berkesempatan memberikan pidato singkat di awal, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy yang juga hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasinya karena acara ini dapat menjadi ruang untuk menyatukan pandangan bagaimana hidup berbangsa dengan keragaman. “Marilah Muhammadiyah mempolopori tradisi keberagaman bangsa dengan mengisi kemerdekaan,” seru Muhadjir. Menyambung Muhadjir, pemuka agama Konghucu, Bunsu Anton Triyono juga menyampaikan penghargaannya atas acara ini. Ia pun menegaskan, bahwa keberagaman merupakan hal yang penting untuk selalu dibina. Ia pun menuturkan, saat ini Konghucu menjadi agama yang paling sedikit pengikutnya yakni hanya 3% di Indonesia. Namun meski demikian kehadirannya telah diakui di Indonesia. “Sya sangat berterima kasih kepada presiden ke-empat yakni Gusdur telah mengembalikan identitas kami sebagai warga negara yang diakui Indonesia,” tuturnya hormat. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir menyampaikan semangat yang sama hendaknya juga dimiliki para elit politik dinegeri ini. Para pemimpin baik dilegilatafi, eksekutif, yudikatif dan berbagai macam institusi kenegaraan lain, musti menghayati dan menjadikan agama sebagai pola pikir dan pola tindak yang terintegrasi antara kata dan tindakan. “Indonesia tidak mungkin menjadi kekuatan yang baku jika dalam tindakan wakil rakyatnya jauh dan tidak mempraktikkan nilai-nilai agama,” tambahnya. Haedar menambahkan, meski para tokoh dan umat beragama sering begitu indah menyuarakan ukhuwah, keyukunan, persatuan, persaudaraan, perdaiamaian, toleransi dan nilai-nilai luhur agama pada ritual-ritual sosial, namun ternyata ujiannya hal ini tidak mudah ditegakkan dalam kehidupan berpolitik, berkonomi dan berbangsa bernegara “Manakala masuk ke ranah politidan kekuasaan satu sama lain bisa jadi saling menerkam, buas dan rakus. Pada saat itulah agama dan Tuhan menjauh dari tokohnya dan dari umatnya,” tambah Haedar. Ia pun menyampaikan, dalam konteks kehidupan berkebangsaan, Muhammadiyah mengajak semuanya agar menjadikan agama lebih dari sekedar ritual dan atribut simbolik. Sebaliknya, jadikan agama sebagai ajaran yang mencerahkan umat, mengeluarkan dari segala ketertinggalan, kebodohan dan kepura-puraan. “Kita junjung tinggi nilai-nilai ritual sosial sebagai perekat dalam kita bermasyarakat, tetapi pada saat yang sama kita juga memerlukan bangsa ini maju ke depan dengan dinamis progresif dan berkemajuan,”paparnya. Di akhir Haedar menegaskan, bagi Muhammadiyah negara dan pemerintahan harus benar-benar berdaulat termasuk dari hegemoni politik oligarki. Indonesia harus jadi milik semua jangan jadi milik segelintir orang atau kelompok tertentu seperti apa yang dipesankan Presiden pertama RI, Soekarno. “Kita mendirikan suatu negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan. Tetapi semuabagi semua,” pungkasnya.(apn/sil)
Sepatu Anti Bau, Antar Mahasiswa UMM ke Forum Entrepreneurship Tingkat ASEAN
Pernah memiliki sepatu yang bau lantaran jarang dicuci? Jika iya, peluang ini ternyata menjadi tiket emas bagi Deva Ayunda, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Fully Funded ASEAN Young Entrepreneurs Forum Comparative Study 2018. Kompetisi ini merupakan rangkaian acara dari agenda besar International Business Plan Competition (IBPS) 2018 yang diselenggarakan Edconex Internasional dan studentbackpaker.com. Ini merupakan sebuah platform yang mewadahi anak-anak muda guna menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan. “Saya membuat sepatu dengan gel pewangi otomatis menggunakan bisnis model canvas yang saya beri nama NextOne Shoes dengan target pasar mahasiswa dan pekerja,” tutur perempuan yang hobi membaca dan menulis tersebut. Bisnis Model Canvas adalah model bisnis yg terdiri dari 9 blok area aktivitas bisnis, yang memiliki tujuan memetakan strategi untuk membangun bisnis yang kuat, bisa memenangkan persaingan dan sukses dalam jangka panjang. Sementara itu, nama NextOne berarti generasi selanjutnya. Deva berusaha mendesain produknya sedemikian rupa dan menyesuaikan bisnis tersebut dengan anak muda zaman sekarang yang cenderung menyukai hal-hal baru dan unik. “Gel itu dibuat dari lidah buaya dan baking soda, kemudian diberi aroma lavender dan diformulasikan untuk kemudian diletakkan diujung sepatu,” paparnya. Lolos pada kompetisi ini, Deva selanjutnya akan berkesempatan untuk mempresentasikan gagasannya tersebut di Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan melakukan riset marketing di Malaysia tanggal 25-28 Agustus nanti. “Konten acara international class dilaksanakan di Nanyang Technological University yang merupakan universitas terbaik nomor 1 di Asia dan market research di dua negara, juga ada city tour di dua negara. Kegiatan ini diharapkan mampu membuat peserta menjadi seorang enterpreneur berwawasan global sehingga mampu bersaing di kancah internasional,” tambahnya. Diakhir Deva memaparkan, pemenang di ASEAN Young Entrepreneurs Forum Comparative Study 2018 akan mendapatkan hadiah berupa medali emas dan dana sebesar 250 Dollar Singapura. Deva pun berharap, setelah rangkaian acara ini, dengan bekal yang didapatnya bisnisnya bisa terealisasi dan makin menguat. Saat ini ia pun mempersiapkan presentasi terbaiknya untuk ditampilkan akhir bulan nanti. “Saat ini saya sedang mengerjakan proposal sambil mencoba untuk mereleasasikan gagasan tersebut, jadi nanti ketika presentasi saya akan membawa produknya juga,”pungkas Deva.(Humas UMM)
Wakil DPR RI Uji Konsep RUU EBT bersama Pakar UMM

Menjadi popular akhir-akhir ini, Energi Baru dan Terbarukan (EBT) terus berproses untuk dikembangkan dan ditingkatkan dari berbagai aspek. Salah satunya adalah perancangan payung hukum bagi para pelaku EBT. Menjadi salah satu aspek dalam perancangan payung hukum tersebut adalah uji konsep yang melibatkan akademisi di dalamnya. Dimilikinya Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sejak tahun 2007, menjadikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) satu-satunya kampus swasta yang dipinang oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) untuk melakukan uji konsep Rancangan Undang Undang (RUU) EBT. “Sejak lama saya ingin menggandeng kampus swasta untuk bersama uji konsep dari RUU EBT yang akan kami (DPR.red) usulkan kepada pemerintah,” jelas Agus Hermato Wakil Ketua DPR RI, Rabu (8/8) Menerima kunjuangan DPR RI, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si mengaku bahwa UMM juga merupakan jujukan beberapa lembaga untuk melakukan riset tentang EBT. “Karena UMM salah satu kampus terbesar yang dimiliki Muhammadiyah dan sudah sejak lama kami memiliki pengalaman dalam pengembangan energi baru terbarukan yaitu berupa PLTMH,” jelasnya. Menguatkan stigma bahwa UMM adalah kampus sadar energi terbarukan, Syamsul Arifin menambahkan bahwa UMM tidak hanya membangun PLTMH untuk kebutuhan listrik di wilayah kampus, namun juga untuk masyarakat dengan meresmikan PLTMH Sumbermaron di tahun 2012. “Selain kita memiliki PLTMH di wilayah kampus, para ahli kami juga mengentaskan persoalan pasokan listrik di wilayah Sumbermaron dan kini berdiri PLTMH Sumbermaron disana,” terangnya. Melihat keseriusan UMM dalam mengelola sumber daya alam secara bijak, jajaran Wakil DPR RI yang hadir saat itu menyatakan bahwa peran akademisi dalam uji konsep ini sangat dibutuhkan , mengingat akademisi akan terjun langsung di tengah masyarakat. “Uji konsep rancangan undang-undang energi baru terbarukan ini sangat penting dan membutuhkan masukan dari para akademisi,” papar Agus. Sementara itu, hadirnya Agus Hermanto yang juga Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan DPR RI ke UMM juga merupakan bentuk penyelesaran konsep materi antara pembuat undangan-undang dengan para akademisi sebelum undang-undangan tersebut disahkan. “Kehadiran kami ke sini adalah salah satu ikhtiar kami untuk dapat membuat disahkan undang-undang ini dapat memberikan manfaat secara bijak kepada seluruh pihak,” terang pria asal Semarang tersebut. (nis/sil)
Bersih Kampus Khas UMM Sambut HUT RI ke 73
Perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) terasa semarak di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mengawali pembukaan dalam rangkaian Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 73, UMM menggelar Kerja Bhakti Bersih Kampus, Sabtu (11/8). Rektor UMM Fauzan menyampaikan, kegiatan ini merupakan sebuah upaya peduli lingkungan. Melalui penampilan yang bersih, optimis dan bersemangat yang ditampilkan kampus, bukan hanya pada infrastruktur tetapi juga SDMnya diharapkan suasana nyaman akan semakin terbangun. “Kita ingin memasuki tahun ajaran baru 2018/2019 kampus menjadi makin asri dan layak dijadikan selfi,”ujarnya. Yang menarik, sebagai simbol dimulainya kerja bhakti kali ini, Rektor secara simbolis memberikan peralatan kebersihan kepada tim cleaning service (cs) kemudian para cs memberikan pelaratan kebersihan tersebut kepada para kepala biro, dekan dan kepala unit kerja. Ini menjadi lambang bahwa kebersihan kampus merupakan tanggungjawab bersama, bukan hanya para petugas kebersihan. Fauzan pun menyampaikan, rencananya kegiatan bersih-bersih ini akan diadakan rutin setiap hari Sabtu yang akan dilanjutkan dengan senam bersama. ”Nanti kita adakan senam bersama agar selalu sehat. Pokoknya kita akan tampilkan wajah-wajah optimis UMM,”pungkasnya. (sil)
Datang Berkunjung, Unmu Palu dan Universitas Krisna Dwipayana Pelajari Kurikulum UMM

Keberhasilan mempertahankan akreditasi A Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terdengar hingga Jakarta dan Palu. Prestasi tersebut melatarbelakangi kedatangan rombongan Universitas Krisnadwipayana Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Palu, Jumat (10/8) datang berkunjung dalam rangka studi banding dan menindaklanjuti kerjasama Memorandum of Understanding (MoU) terkait tri darma perguruan tinggi, sistem belajar mengajar, penelitian hingga pengabdian masyarakat. “Sebetulnya kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari kerjasama kami dengan Universitas Krisnadwipayana. Kerjasama di tiga titik, yaitu tri darma perguruan tinggi, pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat,” ungkap Dr. Tongat, SH., M.Hum, Dekan Fakultas Hukum. Tongat menambahkan, kunjungan dua universitas tersebut guna studi kurikulum, kegiatan akademik, dan manajemen laboratorium fakultas hukum UMM. Sementara itu, Dr. Samsul Haling Ketua Program Studi Hukum Universitas Muhammadiyah Palu mengharapkan adanya contoh secara langsung terkait kurikulum dan jumlah SKS akademik yang banyak. “Kami dengar kalau fakultas hukum di UMM persemester bisa 9 sks, nah itu gimana. Kami ingin belajar langsung. Bagaimana implementasinya, karena 3 SKS saja sudah beberapa kali tatap muka,” katanya. Diakhir, Tongat mengharapkan adanya peningkatan kualitas dan mutu masing-masing universitas melalui kerjasama ini. “Jujur, mungkin ada kekurangan baik dari kami maupun mereka sehingga bisa saling belajar. Bisa memberikan kontribusi untuk masing-masing prodi,” terangnya. (apn/sil)
Usung Konsep Psikoedukasi, Mobil Kaca UMM Kokohkan Cita-cita Siswa di Daerah Rawan Bencana

Desa Selorejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang memang terkenal dengan keindahan waduknya . Tetapi jangan lupa, daerah ini juga merupakan Kawasan Rawan Bencana (KRB). Pada tragedi meletusnya Gunung Kelud 2014 lalu, kawasan ini termasuk daerah terdampak yang aktivitas warganya lumpuh total. Mengingat latar belakang tersebut, hari ini Kamis (9/8) mengusung konsep psikoedukasi Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengunjungi sebuah sekolah yang sangat dekat dengan lokasi waduk, yakni SDN 2 Pandansari. Saat bencana terjadi, proses belajar mengajar disekolah ini berhenti total. Koordinator operasional Mobil KaCa UMM, Ridlo Setyono menyampaikan kedatangan tim mobil pintar kali ini adalah untuk menghilangkan rasa was-was pada diri anak-anak, utamanya siswa yang duduk di kelas 4 dan 5, yang saat terjadi bencana empat tahun lalu mereka masih duduk di kelas 1. “Kami melakukan tes psikologi untuk meyakninkan anak-anak bahwa mereka punya potensi. Harapannya, setelah hasil diumumkan pada minggu depan, mereka minimal akan memiliki tekad dan keteguhan untuk meraih cita-citanya. Jadi jika suatu saat jika ada bencana lagi mimpi mereka akan tetap kuat,” tambahnya. Menyempurnakan misi kali ini, Tim Mobil KaCa menggandeng Tim Laboratorium Psikologi UMM . Ada dua tes yang dilakukan pada kesempatan kali ini, yakni Multiple Intelligence Questionnaire (MIQ) dan Skala Gaya Belajar. Menurut Istiqomah, M.Si., Koordinator Tim Psikologi UMM yang turun lapang, tes MIQ akan bermanfaat untuk mengetahui potensi siswa, sehingga siswa bisa terarahkan dengan baik untuk dapat mengembangkan potensi baik dalam dirinya. Sedangkan Tes Skala Gaya Belajar, lanjut Psikolog UMM tersebut, akan dapat membantu mendeteksi cara belajar siswa agar bisa menyerap pelajaran dengan baik. Ada tiga jenis karakter belajar yang dapat diketahui dengan tes ini, pertama yaitu kategori kinestetik yang cenderung menggunakan bantuan gerakan untuk mempermudah pemahaman. Kedua kategori visual yang cara pembelajarannya melalui gambar atau tulisan dan yang ketiga kategori auditorial yakni pembelajaran yang akan mudah diterima jika dibantu dengan suara, atau jika dalam proses pembelajaran yakni dengan penjelasan guru. “Hasil tes nantinya akan kami sampaikan juga ke para guru dan orang tua siswa agar mereka juga dapat turut serta membimbing dan memaksimalkan potensi anaknya,” tandas Istiqomah. Seperti biasa, Mobil ‘Kaca’ selalu menjadi tempat favorit karena tersedia banyak buku bacaan untuk anak-anak. Selain itu, ada juga English for Young Leaener (EYL) pembelajaran Bahasa Inggris dengan metode yang menyenangkan serta tidak ketinggalan, pemutaran film kisah nabi yang cukup menarik simpati siswa yang ada disana. Kepala Sekolah SDN 2 Pandansari, Sri Wahyuni menyampaikan kebahagiaanya melihat para siswa antusias mengikuti kegiatan ini. “Kami memiliki perpustakaan dan pojok literasi sebagai fasilitas bagi siswa yang ingin membaca. Namun dengan kedatangan Mobil Kaca UMM kami rasa akan semakin menumbuhkan kegemaran siswa dalam membaca”, tutup Sri Wahyuni. (nov/sil)
Era Disrupsi Penuh Cita-cita Online Anak-anak

Dewasa ini, para guru dibuat terheran-heran dengan cita-cita baru yang dimiliki anak didiknya. Beberapa guru menyampaikan bahwa murid-murid mereka banyak bercita-cita menjadi ojek online, youtuber, vloger, dan impian unik lainnya yang tidak terduga. Berangkat dari hal tersebut, pada rangkaian acara Muhammadiyah Education Awards (ME Awards) 2018 digelar Reformulating Education in Disruption Era Conference, di Theater Dome UMM (8/8). Drs. Asep Haerul Ghani, S. Psi. Praktisi Psikologi alumni Universitas Indonesia memaparkan bahwa perbedaan persepsi antara guru dan anak-anak tentang bentuk dari cita-cita tersebut wajar. Hal ini dikarenakan zaman antara guru dan murid berbeda. Lebih lanjut Asep menyampaikan, saat ini bukan lagi zaman manusia gengsi-gensian dengan jabatan karena penghasilan menjadi hal yang lebih utama. Hal ini dapat dilihat dari kesenjangan penghasilan yang didapat antara profesi ojek online dan guru. “Misalnya dibandingkan ojek online, pendapatan guru bukanlah apa-apa. Sehingga wajar anak-anak zaman sekarang memiliki impian yang unik dan aneh karena mereka hidup di zaman disrupsi,”tambah Asep. Zaman disrupsi menurutnya, adalah zaman dimana teknologi sudah menjadi makanan sehari-hari dan tidak bisa dilepaskan dalam aktivitas manusia. Anak-anak cenderung terbiasa dengan teknologi sehingga profesi-profesi yang menyentuh ranah teknologi menjadi hal yang menarik bagi mereka. Menyambut ini, guru seharusnya memiliki kiat-kiat layaknya game online, sehingga para murid betah belajar di kelas. “Tantangan kita di era disrupsi ini adalah teknologi. Apakah kita bisa mengendalikan teknologi atau kah kita yang dikendalikan oleh teknologi,” ujarnya dihadapan ratusan guru SD, SMP, MTs, SMA, SMK, MA Muhammadiyah se-Jawa Timur. Membahas lebih dalam terkait perumusan ulang (reformulating) di dunia pendidikan, Asep mengulas perjuangan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan pada puluhan dekade lalu. Kala itu, Dahlan membawa angin segar di dunia pendidikan. Ia mendobrak tradisi dengan membuat sebuah pendidikan agama yang modern, namun tetap berpegang pada Al-Quran dan As-sunnah. Hal ini dapat menjadi pacuan semangat tersendiri bagi para guru masa kini. Di akhir pria yang juga menjadi praktisi SDM ini menekankan, meski saat ini banyak fungsi manusia tergantikan oleh teknologi, namun tidak ada yang bisa menggantikan fungsi guru. “Di tengah kegalauan kita semua, guru sebagai pengkhidmat tetap tidak bisa dihilangkan dari fungsinya. Guru harus hadir sebagai manusia yang mengajar manusia selayaknya manusia. Guru bahkan bisa menghadirkan emosi yang tidak dipelajari melalui teknologi manapun oleh murid,” katanya. Sejalan dengan Asep, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, MA menyampaikan bahwa pendidikan hendaknya menjadi gerakan yang membawa perubahan lebih baik bagi peradaban manusia karena pendidikan juga menjadi cermin sebuah generasi. “Kalau kita ingin melihat bagaimana kondisi suatu generasi, maka lihatlah pendidikannya,” tambahnya. Ahmad Imam Bukhori, salah seorang guru dari SMP 2 Muhammadiyah Batu mengatakan, ia sangat antusias mengikuti konferensi ini karena mendapat semangat baru. Ia pun baru menyadari pentingnya profesi guru dalam membangun peradaban generasi muda bangsa. “Dalam menghadapi era disrupsi kompetensi, cara mengajar, transfer of knowledge dan transfer of value harus senantiasa diperhatikan guru. Di samping itu, disrupsi juga membuka peluang kerja baru atau kerja sambilan dengan memanfaatkan teknologi,” pungkasnya. (apn/sil)
Kenalkan Orem-orem, Mahasiswa UMM Sabet Juara I Communication Festival 2018 di Jakarta

Mengingat Malang berarti pula mengingat kuliner khasnya, salah satunya adalah Bakso. Jika Bakso Malang sudah dikenal seantero nusantara, maka siapapun yang datang ke Malang tidak boleh melewatkan penganan lain yang juga tidak kalah legendaris, yakni Orem-orem. Olahan kuliner dengan ciri khas tempe dengan kuah santan kelapa ini, membawa tiga mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi Juara I pada ajang Communication Festival 2018 di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Jakarta. Mereka ialah Rahmania Santoso, Arif Priyono, dan Arul Ivansyah ketiganya adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi yang tergabung dalam Sawang Sinawang Films. “Sawang Sinawang Films adalah kelompok yang dibentuk oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi yang mengambil konsentrasi Audio Visual,” terang Rahmania. Festival yang dihelat oleh Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi UAI ini dilaksakan sejak Jumat-Minggu (3-5/ 8). Menjadi salah satu kelompok yang terpilih untuk mempresentasikan produk lomba kategori Broadway (Broadcasting Way) yang berfokus pada citizen journalism dan mengangkat kuliner nusantara, Rahmania mengaku bahwa presentasi yang disiapkan sebetulnya agak terburu-buru. “Kita baru tahu kalau kita lolos itu jam satu malam, dan kita baru sampai Jakarta itu subuh sedangkan kita harus presentasi jam delapan pagi,” terang mahasiswi yang baru saja menyelesaikan tugas akhirnya. Dipilihanya Orem-orem sebagai kuliner yang dipresentasikan oleh Sawang-Sinawang Films diawali dengan riset tentang kuliner khas Malang. Menurut Arul, Orem-orem dipilih karena belum banyak orang yang tahu dan mengenal makanan khas Malang ini. “Kita pilih Orem-orem karena kita sendiri anggota tim ini belum tahu dengan pasti tentang makanan ini,” jelas Arul. Communication Festival 2018 rutin diadakan dengan mengusung tema dari isu-isu yang tengah hangat diperbincangkan. Tahun ini, dengan tema Wujudkan Potensi Nusantara acara digelar dnegan misi memperkenalkan budaya Indonesia melalui potensi khas daerah yang dimiliki. “Tema besar acara ini adalah Wujudkan Potensi Nusantara dan setiap kategori lomba juga memilki sub tema yang berbeda,” papar Rahmania. Festival ini dibagi menjadi tiga kategori lomba, yaitu Broadway (Broadcasting Way), GoPro (Go PR Professional), dan Advertime (Advertising Time). (nis/sil)