Angka Lulus Tepat Waktu Meningkat, FK UMM Dirikan Ruang OSCE Sendiri

Terus berupaya memaksimalkan peningkatan kualitas lulusannya, Rabu (7/8) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meresmikan Ruang OSCE (Objective Structure Clinical Examination) dan Ruang Profesi Dokter FK UMM di Rumah Sakit UMM. Dihadiri dan diresmikan langsung oleh Rektor UMM, jajaran dekanat, para dosen, staf rumah sakit UMM serta mahasiswa FK, Ruang OSCE yang bertempat di lantai 4 RS UMM secara resmi beroperasi mulai hari ini. Ruang OSCE akrab dengan para calon dokter di semester akhir. Di ruangan ini para calon dokter yang akan lulus tersebut harus mengkuti ujian untuk melatih keterampilan mereka sebelum dikukuhkan. Sebagai universitas yang memiliki FK dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak, sudah selayaknya bagi UMM untuk memiliki ruang OSCE sendiri. Dr. dr. Meddy Setiawan, SpPD selaku Dekan FK UMM memaparkan bahwa saat ini tingkat kelulusan tepat waktu mahasiswa FK UMM meningkat. Untuk mendukung optimalisasi hal tersebut, UMM terus menambahkan fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar. “Perlu diketahui bahwa input delta UMM menunjukkan bahwa lebih dari ¾ dari jumlah mahasiswa FK UMM lulus tepat waktu,” tandasnya disela acara peresmian. Pada kesempatan yang sama Rektor UMM, Fauzan berpesan kepada dokter dan dosen FK untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan menjaga kepercayaan masyarakat sebaik-baiknya. “Apa yang sudah FK miliki saat ini harus terus ditingkatkan, jangan berpuas diri dan jangan merasa cukup. Terus berikan pelayanan terbaik,” tandasnya. Saat ini FK UMM memiliki tiga Ruang OSCE, dua berada di RS UMMdan satu ruang yang lain berada di Kampus II. Ruang ini dilengkapi dengan beberapa stase, seperti stase bedah, stase anak, stase penyakit dalam dan stase radiologi. Masing-masing ruang dapat digunakan untuk menguji sebanyak 28 mahasiswa. Menjadi satu-satunya kampus swasta di Malang yang memiliki ruang OSCE sendiri, kinerja seluruh civitas akademika diharapkan terus mengalami peningkatan. Kedepannya, semua aktivitas terkait FK akan dipusatkan RS UMM. Ruang profesi dokter yang baru, juga akan digunakan sebagai tempat pertemuan dan kegiatan lain yang berhubungan dengan kedokteran. FK UMM juga segera menambah jumlah komputer untuk ujian Internet-Based Test (IBT), karena seluruh calon dokter harus mengikuti ujian keterampilan, ujian kompetensi dan ujian sertifikasi IBT. (lus/sil)

Gelar Pertemuan di UMM, Legislatif Thailand Bahas Beasiswa untuk Pelajar Indonesia

Sebagai salah satu bagian dari negara ASEAN, Thailand terus menjalin dan membuka kerjasama bersama negara-negara sahabat. Menjadi salah satu jalan pembuka, hadir jajaran Legislatif Komisi Pendidikan dan Olahraga Thailand di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Kunjungan Kerja (5/8). Di tengah acara, kedua belah pihak berdiskusi tentang keberlanjutan kerjasama antara UMM dan Thailand. Pada sesi pembuka diskusi, Wakil Pertama Komisi Pendidikan dan Olahraga Charlermchai Boonyaleepun menyampaikan ulasan tentang bagaimana pendidikan dapat menjawab tantangan Industri 4.0. “Pendidikan adalah jembatan terbaik untuk mempersiapkan sumber daya manusia, menjawab era industri. Saya yakin kampus ini memiliki program khusus untuk itu,” paparnya. Menanggapi pernyataan tersebut, Rektor UMM Fauzan memaparkan berbagai program di UMM yang telah diinteragasikan dalam berbagai aktivitas mahasiswa. “Kami sadar benar bagaimana industri saat ini menuntut profil lulusan yang memenuhi revolusi industri, sehingga kami sudah mempersiapkan banyak program untuk itu,” jelasnya. Sementara itu, Fauzan juga menyampaikan harapannya untuk bisa bekerjasama dengan Thailand di bidang Pertanian. Ia menyampaikan bahwa saat ini Thailand dapat menjadi salah satu kiblat pertanian di kawasan ASEAN. “Kami di UMM hingga saat ini sedang aktif membuat banyak kerjasama-kerjasama dengan pihak Thailand di ranah pertanian,” tambahnya. Selain itu pada acara ini, kedua pihak sepakat untuk merumuskan lebih lanjut kerjasama dalam bidang penyediaan beasiswa bagi pelajar Indonesia yang ingin berkuliah di Thailand. “Saya mengucapkan banyak terima kepada UMM yang telah menyedikan banyak beasiswa, kami berharap akan ada diskusi lanjutan untuk menyediakan basiswa bagi pelajar Thailand,” terang Tuang Untachai Ketua Komisi Pendidikan dan Olahraga. (nis/sil)

PTM Se-Indonesia Siap Mudahkan UMKM Raih Sertifikasi Halal

Tantangan yang dihadapi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam menjamin produk bersertifikat halal di tahun 2019 sesuai UU No. 33 tahun 2014, mendorong Universitas Muhammadiyah Malang melakukan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) bersama pimpinan pusat (PP) Muhammadiyah dan beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Indonesia. Rakernas digelar untuk membahas lebih dalam terkait penyempurnaan Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayyiban (LPHKHT) Muhammadiyah. “Isu utama yang kita bahas adalah fokus sosialisasi ke PTM yang belum punya pusat kajian halal dan mendorong PTM untuk segera mensertifikasi auditor. Hal ini karena kita ingin segera running LPHKHT, dalam artian tidak  hanya wadahnya yang ada tetapi juga sudah bisa operasional,” ungkap Dr Ir Damat, MP  dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) sekaligus Ketua Pimpinan Rapat II pada Raker LPH-KHT Muhammadiyah/ PP Muhammadiyah di Ruang Sidang Senat UMM Sabtu (4/8). Lebih dalam Damat menguraikan, UU No. 33 tahun 2014 hanya memperbolehkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan organisasi massa untuk mendirikan LPH, tidak untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Oleh karenanya, bernaung dibawah ogranisasi Muhammadiyah nantinya PTM-PTM di Indonesia akan menjadi perpanjangan tangan untuk merangkul UMKM, saudagar dan para pengusaha dalam sertifikasi halal produk yang dihasilkan. “Harapannya semua PTM memiliki pusat kajian halal, sehingga jika ada UMKM atau perusahaan yang ingin mengajukan sertifikat halal diberbagai daerah dapat ditangani oleh PTM-PTM yang tersebar di Indonesia. Ini untuk efisiensi biaya juga,” ujarnya. Kepala Laboratorium Sentral dan Halal Center UMM Dr. Elfi Anis Saati, MP menyampaikan, pembentukan dan pengangkatan pengurus LPHKHT Muhammadiyah didirikan pada 12 April 2018 lalu yang terdiri dari dewan pembina, dewan pengawas syariah, komite ahli, direksi, dan komite auditor. UMM sendiri, telah lebih dulu berkecimpung dalam bidang kajian pangan halal pada tahun 2008 dengan mendirikan Pusat Kajian Aman Halal untuk keperluan penelitian dan pengabdian masyarakat. Selain itu, pada tahun berikutnya di 2009, dibentuk kurikulum dengan mata kuliah Manajemen Pangan Aman dan Halal. “Ini kita lakukan dalam rangka menyiapkan lulusan yang memahami teknologi makanan yang aman dan halal,” jelasnya. Di akhir Elfi menyampaikan, melalui sinergi yang ada antar PTS, target besar berikutnya adalah mendaftarkan LPHKHT Muhammadiyah yang bisa terakreditasi. Ini juga untuk mendukung masing-masing tridarma perguruan tinggi, baik lembaga penelitian sampai ke pengabdiannya. “Terakreditasinya ini model apa kita beri pilihan tadi bisa versi ISO, bisa BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal.red) yang mungkin ini masih agak rumit karena PP nya belum keluar atau bisa khas LPH Muhammadiyah sendiri. Kita membuat ke khasan juga tidak main-main menggunakan standar yang berlaku nasional maupun internasional,” pungkasnya. (anis/sil)

Jenderal (Purn) Gatot Salut, Zaman Now Mahasiswa Muhammadiyah Peduli Pancasila

Pada Muktamar ke XVIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) kedatangan jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Bertempat di Theater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jenderal (Purn) Gatot memaparkan kepada mahasiswa bagaimana peran pemuda Islam terhadap ideologi pancasila Jumat, (3/8). “Pak Gatot heran kok di sini ada mahasiswa yang peduli dengan ideologi pancasila, teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sangat kritis mengangkat permasalahan bangsa saat ini tentang ideologi pancasila,” ujarnya mengapresiasi. Menurutnya kondisi pemuda zaman now cenderung abai dengan pancasila. Namun, hal itu dirasa berbeda ketika melihat peserta yang terdiri dari mahasiswa IMM se-Indonesia sangat antusias mengikuti Seminar Kebangsaan. Dalam pidatonya, ia menjelaskan bagaimana contoh karakter pemimpin dan pejabat pemerintah yang non-pancasilais ke dalam beberapa kriteria yaitu, mereka yang membeli dan menguasai  media massa sehingga mudah menggiring opini masyarakat, mereka yang memecah belah partai politik, mereka yang membeli hukum, mengekspoitasi sumber daya alam, mengadu domba TNI, dan membiarkan konflik SARA tidak berujung. “Paling sering konflik sekarang umat Islam. Kita terpecah-pecah karena perbedaan pandangan. Seharusnya kita bersatu, kalau bersatu kita kuat!” serunya. Salah satu peserta, Dwi Rusmaini  aggota IMM Komisariat Restorasi Fakultas Psikologi UMM juga merasa bahwa pemuda sekarang paham secara etimologi atau arti kata saja, tetapi tidak mampu diaplikasikan. “Saya setuju dengan pendapat Pak Gatot. Mungkin tidak hanya pemimpin dan pejabat pemerintah yang melakukan hal itu, bisa saja kita anak-anak muda yang jauh dari pengetahuan dan pengamalan Pancasila di kehidupan melakukan hal yang sama. Sehingga menurut saya penting bagi kita anak muda untuk kritis berideologi Pancasila,” pungkas Dwi.(nis/sil)

Mengintip Bahagia Anak-anak di Ujung Wajak Sambut Mobil KaCa UMM

Gurat bahagia tampak di wajah ratusan anak-anak SD di Desa Sumberputih Kecamatan Wajak Kabupaten Malang. Raut antusias berjajar riang menyambut kedatangan Mobil KaCa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus nanti, Kelompok Kerja Nyata  berkolaborasi dengan Tim Mobil KaCa UMM menggelar acara bertajuk PS2 “Pekan Siswa Sumberputih” Kamis (2/8). Kepala Desa Sumberputih Bambang Purnomo menyampaikan apresiasinya atas menyambut apresiasnya atas gelaran ini. “Menjadi sesuatu yang langka bagi kami, karena kami di pelosok ini merupakan desa paling ujung,” ujarnya. Membawa berbagai konsep yang menarik, Bambang berharap hadirnya mobil kaca akan memberikan semangat belajar tersendiri bagi anak-anak SD di Sumberputih. “Adanya perpustakaan ini kami harap akan semakin meningkatkan motivasi belajar mereka,” tambahnya. Ketua Pelaksa PS2 Putri Aisyah menjelaskan dalam kegiatan kali ini terdapat siswa-siswa dari empat SD yang turut serta berpartisipasi yakni SDN Sumberputih 1, SDN Sumberputih 2, SDN Sumberputih 4, MI Raden Rahmat dan MI Miftahul Huda. “Selain outbond dan menghadirkan Mobil KaCa, kami juga menggelar lomba cerdas cermat, puisi, dan bazar kewirausahaan,” urainya. Ahdan salah satu siswa kelas 4 MI Miftahul Huda mengaku senang menemukan berbagai macam buku yang menarik di Mobil KaCa UMM.  Ia pun melahap beberapa judul dengan antusias. “Tadi baca buku banyak, antariksa juga. Senang banget dan bisa tambah ilmu,”akunya. Selain berbagai perlombaan yang digelar, KKN 18 juga mengadakan bakti sosial kesehatan gratis. Ada juga penyuluhan narkoba,  perilaku hidup bersih dan sehat. Kelompok ini bahkan juga melakukan pipanisasi sumber air desa. “Tiap dusun, kita berusaha memperbesar ukuran pjpa.  Kita juga sudah membantu untuk memasangnya,” pungkas Kordinator Desa, Alim Ismoyo Haryanto.(apn/gan/sil)

Muktamar XVIII IMM di UMM, Teguhkan Semangat Berpancasila Kaum Muda Islam

Resmi dimulai, gelaran Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) XVIII dibuka oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Bertempat di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pertemuan para kader IMM dari Sabang hingga Merauke ini dijadwalkan selama empat hari yakni mulai Rabu hingga Sabtu (1-4/8). Mengusung tema “Meneguhkan Pancasila Sebagai Sukma Bangsa untuk Indonesia Sejahtera”, muktamar kali ini diharapkan mampu menjadi momen untuk merumuskan rancangan-rancangan strategis, baik bagi kemajuan internal organisasi maupun keberlangsungan bangsa Indonesia. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM Ali Muthohirin memaparkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh kaum muda dalam menumbuhkan benih-benih karakter dan spirit kepemimpinan. “Walaupun kita adalah pijar matahari muda, tapi dari sini kita bisa menjadi penerang untuk masa depan bangsa. Namun, menjadikan pijar kita kaum muda semakin terang bukan tanpa tantangan. Banyak hal yang harus kita persiapkan untuk menumbuhkan benih kepemimpinan dari dalam diri kita,” jelas alumni Program Studi Syariah Fakultas Ilmu Agama Islam (FAI) UMM ini. Lebih lanjut, dengan semangat Muhammadiyah Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jawa Timur Abdul Musawir Yahya meneguhkan bahwa Muktamar XVIII IMM akan melahirkan sumbangsih pemikiran ide-ide cemerlang atas persoalan bangsa dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar pemikiran. “Semoga muktamar ini membawa ide-de cemerlang yang dapat memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan bangsa,” tegas pria asal Makasar tersebut. Menjadi bagian dari peradaban bangsa, Haedar memberikan semangat perjuangan kepada para Immawan dan Immawati (panggilan untuk kader IMM). “IMM bersama para anggotanya harus terus berjuang dengan cara modern seperti yang telah dilakukan oleh Bapaknya (red. KH Ahmad Dahlan),” terang Haedar. Haedar juga mengingatkan kembali cita-cita awal IMM yakni melahirkan intelektual muslim yang memiliki keunggulan secara lahir dan batin. Hal tersebut mendasari harapan Haedar pada muktamar kali ini agar dapat menghasilkan misi peneguhan ideologi nasional bagi IMM, Muhammadiyah, dan Indonesia. “Kembali mengingat cita-cita IMM yang ingin melahirkan para intelektual muslim yang unggul, maka berangkat dari mukmatar ini para kader dapat belajar,” tegasnya. Sebagai salah satu tokoh yang lahir dari rahim Muhammadiyah, Haedar tidak hentinya menyumbangkan semangatnya kepada seluruh kader IMM pada muktamar kali ini. Salah satunya ialah tentang peneguhan lima keunggulan yang harus dimiliki oleh seluruh kader IMM dan Muhammadiyah. Lima keunggulan tersebut di antaranya adalah unggul dalam idealisme diri dan organisasi, keunggulan berorganisasi, keunggulan personal, keunggalan religiusitas, dan keunggulan sinergitas. “Sebagai organisasi modern yang diisi oleh pemuda-pemudi terbaik bangsa, jangan pernah IMM melupakan lima keunggulan yang harus terus diingat dan dijalan oleh seluruh kader,” pantiknya. Acara yang akan dihadiri oleh beberapa tokoh ini juga mendapatkan sambutan hangat dari alumi IMM yang kini menjabat sebagai Rektor UMM Fauzan, yang menyampaikan bahwa kader IMM harus menjadi etalase garda terdepan dalam meneguhkan nilai-nilai keislaman. “Para kader IMM harus bertanggungjawab untuk terus meneguhkan nilai-nilai keislaman dan keberadaban sebagai cerminan pengabdian pada bangsa,” ujarnya. Apresiasi diselenggarakannya Muktamar XVIII IMM ini juga disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Pria yang juga besar dari organisasi Muhammadiyah ini menyatakan rasa bangganya kepada IMM yang terus konsisten dalam menegakkan Darul ahdi wa syahada, yang berarti kader IMM harus memiliki pandangan khas gerakan Islam modernis reformis. “Muhammadiyah bersama IMMnya harus secara tegas mengiplementasikan Darul ahdi wa syahada untuk meciptakan negara yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan damai,” tutur Ketua Pimpinan Pusat Muhammaadiyah tersebut. (nis/sil)

Lewat Pena, Dosen Ikom UMM Ajak Masyarakat Kenali Autisme

Tulisan menjadi senjata yang ampuh untuk menyebarkan berbagai hal positif hingga negatiif. Hal ini disadari betul oleh Frida Kusumastuti. Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Sahabat Autisma Malang (SAMA) sejak tahun 2012 ini menggunakan kemampuannya dalam dunia komunikasi untuk membantu komunitasnya membuka ruang diskusi hingga sosialisasi terkait autisme di masyarakat. “Saya membantu komunitas SAMA dibidang publikasi ke media serta menulis press release,” ungkapnya, Senin (30/7). Lebih lanjut Frida menyampaikan, semangatnya sebagai pegiat autis muncul dari cinta kasihnya pada anak sulungnya. WRL yang sekarang berusia 22 tahun, adalah anak pertama Frida yang terlahir dengan keistimewaan. Awalnya, perempuan yang baru saja meraih gelar doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tersebut telah melakukan berbagai upaya menyembuhkan anaknya yang didiagnosa ‘tuli’ oleh dokter. Menginjak usia dua tahun barulah Frida mengetahui bahwa WRL tidak mengidap tuli melainkan autis. Ia pun mulai memperbanyak pengetahuannya tentang keistimewaan ini sembari mulai mencurahkan isi hatinya melalui tulisan-tulisan di micro blognya. Tidak disangka, tulisan-tulisan tersebut mendapat apresiasi dari Gerakan Internet Sehat, yang dijalankan oleh Indonesian ICT Partnership Association  alias ICT Watch. Frida pun mendapat penghargaan Bronze tahun 2011. Capaian ini kemudian memacu Frida untuk terus aktif dalam komunitas SAMA dengan para orang tua dari anak autis dengan berbagai latar belakang profesi seperti guru hingga dokter. Mereka menyebarkan semangat bersama, mulai dari sharing pengalaman hingga public education terkait autisme. “Misalnya pendidikan masyarakat tentang autisme dan tentang keluarga autisme. Sharingnya beragam dalam menghadapi anak autisme,” jelasnya. Tidak hanya mendapat penghargaan, tulisan Frida juga mendapat banyak apresiasi dari pembaca. Banyak pembacanya menginginkan tulisan di blog tersebut dibukukan. Frida pun kemudian memutuskan menerbitkan bukunya berjudul, Kekuatan Di Balik Autisme disusul dengan buku keduanya Belajar sebagai Manusia. Isinya tidak jauh-jauh dari aktivitasnya sehari-hari dalam berinteraksi dengan putra sulungnya dan penyandang lain. “Blog itu saya tulis pertama adalah sebagai curahan hati seorang ibu dan bercerita tentang anak saya yang hobinya melukis. Ada banyak masukan dari pembaca saya untuk membuatnya menjadi buku aja,” ujar  perempuan yang pernah menjadi Ketua Festival Anak Autis dalam Hari Peduli Autisme se Dunia yang diperingati tiap 2 April tersebut.

DT Camp, Bangun Self Confident Mahasiswa Lokal-Asing

Tak disangka, acara Design Thinking (DT Camp) yang berlangsung hanya 10 hari menyisakan banyak pengalaman dan kesan menarik tak terlupakan bagi mahasiswa asing Tang Binbin mahasiswa dari China yang tidak bisa menggunakan bahasa Inggris. Selama kegiatan, ia hanya mengandalkan applikasi translator dan bahasa tubuh untuk bisa berinteraksi dengan teman-temannya yang lain. “Saya sangat senang berada di sini. Saya sangat menyukainya. Saya pikir orang-orang di sini sangat sederhana, antusias, dan sangat baik kepada kami (red: orang asing). Bahasa Inggris saya tidak baik, tetapi mereka semua memiliki kesabaran untuk memberi tahu saya, menerjemahkan untuk saya,” urai Tang Binbin. Tidak mudah menemukan orang yang bisa menerima kekurangan orang lain terutama orang yang berbeda negara. Tetapi Rendria Sari berhasil meluluhkan hati Tang Bin Bin hingga acara penutupan mengharu biru dengan tangisan Tang Bin Bin. Rendria merupakan mahasiswa asal STIE Malang. Rendria bercerita tentang pengalaman yang tidak terlupakan saat bersama Tang Binbin. Awalnya ia merasa Tang Bin Bin adalah anak yang cuek dan tidak mau bergaul. Rupanya ia salah, Tang Binbin memiliki keterbatasan bahasa sehingga hanya jarang berbicara selama kegiatan. Mengetahui hal itu, Rendria dengan senang hati membantu Tang Binbin meskipun harus menghabiskan banyak waktu untuk menerjemahkan bahasa mereka masing-masing. Ditemui sambil meneteskan air mata, Tang Binbin menyampaikan perasaannya “Saya sedih tidak bisa ketemu lagi dan saya akan selalu mengingat kalian semua,” pungkasnya. Asisten Rektor Bidang Kerjasama Drs. Soeparto M.Pd. menyampaikan, acara yang terselenggara atas konsorsium 13 asisten rektor bidang kerjasama luar negeri ini merupakan bentuk apresiasi yang didanai oleh Kemenristekdikti. “Mensristekdikti memberikan konsorsium kepada 13 perguruan tinggi. Ada 13 perguruan tinggi yang ikut mengusulkan dana summer camp ke dikti. Syarat yang harus dipenuhi adalah konsorsium minimal dua perguruan tinggi dan maksimal tiga. Kemarin kami mengusulkan tiga konsorsium. Pertama konsorsium, UMM, Ma chung, UNISMA. Kemudian kedua, Polinema, ABM, STIKI Malang. Kemudian ketigaWidya Gama, UNMER, dan Kanjuruhan,” terang Soeparto saat penutupan Closing Ceremony DT Campo di GKB IV UM, Selasa (31/7). Dari tiga konsorsium yang diajukan, Kemenristekdikti hanya menyetujui dua proposal konsorsium yang pertama saja. Dana tersebut kemudian dikelola sehingga dapat membuat event-event internasional. Acara ini diselenggarakan juga mengingat pentingnya self confident ditumbuhkan pada mahasiswa terutama ketika berhadapan dengan mahasiswa asing. Ini tahun kedua DT Camp diagendakan oleh IRO UMM. Kegiatan yang berlangsung sejak (22-31/7) merupakan tawaran Kemenristekdikti untuk mengadakan kembali DT Camp se-Malang Raya. “DT camp dilakukan se-Malang raya ada 12 PTN dan PTS  yang ikut hanya saja yang dapat konsorsium itu cuma enam kampus yakni UMM, UNISMA, Macung, Polinema, Stiki, STIE Malang Kucucwara,” sebut Mohamad Syaroni Syawaludin, fasilitator UMM. Kegiatan DT Camp mengajak mahasiswa asing dan lokal melakukan riset di dua tempat yakni Batu dan Malang Selatan untuk kemudian mereka gagas solusinya.  Dua tempat tersebut dipilih, mengingat permasalahan sampah masih menjadi momok di daerah Batu, sedangkan Malang Selatan bermasalah dengan ekonomi masyarakat sekitar.

Dosen Kesos UMM Berdayakan Masyarakat Melalui Sekolah Literasi

Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara yang didirikan Hutri tak hanya menjadi perpustakaan, namun juga tempat melakukan berbagai aktivitas lain. Semangat literasi juga digalakkan Hutri Agustino, dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP. Sekembalinya dari studi di University of Trento Italia melalui program beasiswa Erasmus Mundus, kegelisahan Hutri tentang semangat literasi semakin menjadi. Akhirnya sekitar tahun 2015-2016, Hutri merealisasaikan idenya memanfaatkan sedikit tempat disamping rumah untuk dibangun menjadi perpustakaan sederhana dengan nuansa tempo dulu yaitu nuansa bambu dengan modal sekitar 1000 koleksi buku pribadi. “Awalnya cuma berfikir saya punya buku dan saya membuka perpustakaan, tapi ketika buka perpustakaan atensi masyarakat begitu luar biasa. Ada yang disitu ingin les privat, tempat pemberdayaan dan macam-macam. Akhirnya saya merasa  kapasitas ruang tidak cukup untuk memadai segala aktifitas,” ujarnya. Melihat hal tersebut, Hutri pun menambahkan halaman rumahnya untuk dapat memperluas perpustakaan tersebut hingga dapat menampung sekitar 100 orang dengan nama Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara. Dengan ini ia berharap, akan semakin banyak masyarakat yang datang dan sadar akan pentingnya literasi. Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara ini juga membawanya menemukan forum literasi lain di Kota Malang. Pada akhir tahun 2017 di Kabuaten Malang terbentuklah organisasi bernama Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) yang kemudian pada tahun 2018 organisasi ini memberi amanah kepada Hutri untuk menjadi pemimpin selama periode 2018-2022. Melalui organisasi ini lah Hutri mulai sadar bahwa ternyata di Kota Malang pegiat  literasi juga sedang naik daun dan memiliki banyak peminat. “Beberapa bulan setelah menjabat jadi ketua, saya melakukan observasi dan pengamatan kecil-kecilan, ternyata tidak hanya di Kabupaten Malang fenomena minat baca muncul pada masyarakat. Ini sedang booming-boomingnya khususnya di Kota Pendidikan seperti Malang,” ujarnya. Dari sini, Hutri menggagas Sekolah Literasi yang soft launching pada Rabu (25/7) kemarin di Gazebo Literasi, Dau. Untuk Grand Launching, rencananya akan dilaksanakan pada bulan Agustus dengan mengangkat tema Literasi Kemerdekaan dan Pancasila. “Target awal memang pegiat literasi dengan harapan mereka jadi duta baca, duta perpus dan duta literasi. Ketika di level mereka sudah selesai, maka mereka yang bertugas untuk menyemai pemahaman itu di komunitas masing-masing,” tandasnya. Di akhir, Hutri menyampaikan bahwa ia ingin menjadikan komunitas literasi ini sebagai alat untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dengan model yang berbeda, yakni berbasis gerakan literasi. “Minimal mengorganisasikan masyarakat, mengedukasi, merubah mindset yang selama ini. Membuat mereka hidupnya lebih terarah,”pungkasnya.

Bekali Lulusan ESP UMM, Manager Garuda Indonesia Bagikan Rahasia Sukses Dunia Kerja

Project Manager Garuda Indonesia Setyasmono berbagi tips sukses di dunia kerja Persaingan dunia kerja yang semakin hari semakin ketat menuntut para mahasiswa untuk dapat bersaing dan memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan Program Studi Ekonomi Sosial Pembangunan (Prodi ESP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan seminar “Pembekalan Memasuki Dunia Kerja”, Sabtu (29/7) bertempat di Aula Teknik UMM dan dihadiri oleh mahasiswa prodi ESP angkatan 2014 yang akan lulus pada tahun ini. Untuk meraih sukses, mahasiswa harus mempunyai kemauan yang kuat untuk bergelut dengan tuntutan pekerjaan dan perusahaan. Namun sebelum memasuki dunia kerja, ada hal-hal yang harus mereka persiapkan agar diterima di perusahan-perusahan sesuai dengan minat dan keinginan, seperti memiliki etika kerja yang bagus, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang memenuhi standar industri, dan skill yang mumpuni. Menghadirkan pembicara dari perusahaan penerbangan paling elit di Indonesia, Setyasmono yang merupakan seorang Project Manager Garuda Indonesia, memaparkan bagaimana cara mempersiapkan diri memasuki dunia kerja dan kiat-kiat apa saja yang yang perlu dipelajari agar perusahaan tertarik untuk merekrut. Setyasmono menerangkan, “Ada hal-hal yang sering kali diabaikan oleh seseorang ketika melamar kerja, seperti cara berjalan, cara duduk, nada ketika berbicara saat wawancara, dan cara berpakaian. Padahal, hal teknis semacam itu adalah poin penting yang dipertimbangkan perusahaan apakah pelamar ini berkualifikasi atau tidak”, jelasnya. Setyasmono, yang telah berpengalaman merekrut karyawan di berbagai negara dari Korea, Jepang, Tiongkok, Singapura , dan Negara Asia lainnya menjelaskan bahwa pada saat wawancara, para pelamar hendaknya menyiapkan CV (data diri) yang baik, menunjukkan kelebihan, tidak menonjolkan kelemahan, bermotivasi tinggi, kreatif, dan bersemangat. Setyasmono melanjutkan, “IPK bukan segalanya, namun bukan berarti tidak penting, yang lebih penting adalah anda harus percaya diri”. Selain itu, ada beberapa komponen pencapaian keberhasilan yang biasanya dijadikan sebagai standar perusahaan atau industri, seperti kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan computer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, percaya diri, ramah, sopan, bijaksana, IPK, kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha. Shochihul Muslim, salah seorang panitia dari seminar ini mengaku bahwa ia mendapatkan ilmu baru tentang dunia kerja. Mahasiswa ESP angkatan 2014 ini mengatakan, “Acara ini sangat berguna sekali untuk kami yang akan segera lulus agar siap memasuki dunia kerja karena kita menjadi tahu apa dan bagaimana kriteria perusahaan itu seperti apa”. (lus/sil)