PDM Kota Malang Ajak Saudagar Muhammadiyah Dialog Bisnis

Dialog bisnis tersebut membahas perkembangan dunia bisnis saat ini. Narasumber utama, Prof. Dr. Khusnul Ashar, SE. MA., Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya (UB) mengungkapkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim dengan angka mencapai 85%. Sayangnya dari jumlah tersebut hanya 14% muslim yang menjadi pengusaha. “Kita memasuki era digital, eranya teknologi. Bersaing secara online. Era digital dapat membuat bisnis menjadi mudah. Apalagi di era digital, masyarakat tidak hanya bisa berbisnis secara tatap muka tetapi juga melalui online,” ujar Khusnul Ashar. Khusnul menambahkan bahwa organisasi Muhammadiyah memiliki sambutan positif di masyarakat. Brand image Muhammadiyah tidak hanya di sisi pendidikan tetapi juga kesehatan. Hal itu seharusnya menjadi pelecut bagi saudagar-saudagar Muhammadiyah untuk berani mengembangkan bisnis masing-masing. Setuju dengan pendapat Khusnul, Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa timur Dr. Ec. Indra N. Fauzi, MM melihat peluang bisnis dari segi kecanggihan internet. “Semakin ke sini saya melihat anak muda makin tidak suka membaca. Mereka cenderung membaca bagian atas seperti judul, sedangkan isinya tidak,” kata Indra kemudian melanjutkan dengan pengalamannya bertemu pengusaha yang usianya masih muda 20 tahun di bawahnya. Khusnul menjadi paham dengan fenomena anak muda yang meninggalkan busaya baca akibat perkembangan teknologi. Teknologi membuat segalanya menjadi mudah. Anak muda kini cenderung menyukai yang instan. “Itulah mengapa bisnis secara online menjadi menguntungkan,” pungkasnya. Di akhir acara PDM Kota Malang memberikan ruang bagi nasabah Bank Jatim dan Bank BNI Syariah untuk bertukar cerita. Bank Jatim juga memperkenalkan aplikasi barunya yang bernama ‘Bejomu’ yang bisa mempermudah dan mendukung nasabah melakukan segala transaksi, terutama untuk mendukung llu lintas perdagangan(apn/sil)
Si Pemuda Pesisir Ketua PSIF UMM Jadi Asisten Staf Khusus Kepresidenan

Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pradana Boy ZTF segera bergabung di Istana Negara. Berdasarkan surat Keputusan Sekertaris Kabinet Republik Indonesia (RI) No. 46 Tahun 2018, ia akan mendampingi Siti Ruhaini Dzuhayatin Staf Khusus Bidang Kegamaan Internasional yang baru saja dilantik oleh Presiden RI Joko Widodo.Besar di tengah keluarga petani sederhana di Kota Lamongan, Pradana adalah sosok bersahaja yang penuh semangat dan motivasi untuk terus berprestasi. “Untuk apa manusia hidup jika tidak untuk terus bersemangat dan menantang diri sendiri agar tahu kelemahan diri,” pantik dosen Program Studi (Prodi) Syariah UMM ini. Di sela kesibukannya mempersiapkan diri sebelum bergabung di Istana Negara, Sabtu (28/7) Pradana membagikan kisah perjuangan panjangnya hingga sampai di titik ini. Pradana remaja yang saat itu baru saja lulus SMA, memutuskan hijrah dari Lamongan untuk menempuh studi strata satu di UMM. Ia berencana segera mengambil Program Studi Manajemen. “Syariah itu bukan pilihan utama saya kuliah di UMM. Pikiran lugu saya orang pesisir Lamongan, baru lulus SMA, sekolah manajemen dan jadi manager. Sudah hanya itu, tapi ternyata saya harus memupuskan niat kuliah di jurusan tersebut,” jelasnya. Tak disangka, biaya untuk jurusan impiannya ternyata cukup mahal. Tak ingin kembali ke Lamongan sia-sia, ia pun memutuskan untuk mencari jurusan paling murah di UMM kala itu agar bisa tetap berada di Malang dan keinginannya menjadi mahasiswa terwujud. “Cari yang paling murah atau kalau gak bisa dapat yang murah kita pulang. Itu kalimat Bapak yang akhirnya membuat saya menjatuhkan pilihan pada Syariah,” kisahnya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan menempuh studi di perguruan tinggi, Pradana terus meningkatkan kualitas diri. Ia memanfaatkan berbagai peluang untuk dapat menyuarakan tulisan, gagasan, dan karyanya.Tak disangka, gaung karya Pradana sampai pada Kedutaan Besar Amerika. “Saat dihubungi oleh staf kedutaan Amerika dan diajak untuk makan malam saya hanya berpikir bahwa saya diundang makan malam dalam konferensi,” tegasnya. Namun kemudian ia sangat terkejut saat tahu bahwa menjadi satu-satunya perwakilan Muhammadiyah yang berada di meja makan malam duta besar Amerika tersebut. Pradana mengingat bahwa hanya ada delapan orang di meja makan malam itu. “Saya pikir hanya makan malam biasa, ternyata jamuan makan malam khusus dan hanya saya yang dari Muhammadiyah,” terangnya dengan Bahasa Jawa. Keberlanjutan makan malam tersebut, membawa pria asal dusun Mencorek Lamongan ini mengenyam pendidikan singkat bidang ilmu politik di University of Massachusetts, Amerika Serikat (AS). Menyelesaikan Pendidikan Magister bidang Antropologi di Australian National University (ANU) dan Pendidikan Doktoral di National University of Singapore (NUS) bidang Kajian Melayu tak serta merta membuat putra Muhammadiyah ini lupa dengan tanah air. Selama menyelesaikan tesis dan disertasinya, penulis novel Kembara ini terus menggali sejarah Islam dan peradaban dunia di nusantara. Pemikiran-pemikirannya terhadap perkembangan Islam di nusantara menjadikannya terkenal dengan julukan pemuda pemikiran moderat. Dipercaya sebagai Asisten Staf Khusus Bidang Kegamaan Internasional, Pradana berharap dapat mengemban kepercayaan ini dengan sebaik-baiknya. “Karena ini amanah, maka saya berharap bisa menyelesaikan tugas ini hingga selesai,” pungkasnya. (nis/sil)
Ajarkan Tari Tradisional, Mobil Kaca UMM Tanamkan Anak Cinta Budaya dan Sejarah Indonesia

Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengaspal Kamis (26/7). Kali ini, mobil pintar mengajak anak-anak siswa SDN Wiyurejo 2 Pujon Kabupaten Malang untuk mecintai budaya, terutama tari tradisional. Dibawah bimbingan Venska Natasha Olivia peraih Runner Up 2 pada ajang pemilihan Joko Roro Kabupaten Malang tahun 2018, puluhan anak menari dengan gemulai. Venska yang jago menari, mengajarkan teknik-teknik dasar Tari Gading Alit dan Tari Topeng Bapang yang merupakan tari asli Malang. Meski tidak mudah, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum UMM ini mengaku senang melihat antusias anak-anak yang cukup tinggi. “Ini sangat menyenangkan melihat anak-anak sangat bersemangat, tapi memang harus sabar menghadapi anak kecil. Dari tari tradisional pasti ada ilmu dan sejarah yang bisa kita petik dan gunakan di kehidupan, jadi bagaimanapun anak-anak harus tetap melestarikan budaya bangsa sendiri,” ujar Duta Budaya Indonesia dalam Tong Tong Fair di Belanda tersebut. Bekerjasama dengan kelompok KKN 108 UMM dengan Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Luluk Dwi Kumalasari yang merupakan Dosen Sosiologi UMM, Mobil KaCa juga mengadakan berbagai kegiatan lain. Sekretaris Desa Wiyurejo Muhammad Wahib merasa senang dengan kedatangan Mobil KaCa yang menjadi angin segar bagi masyarakat di tempatnya. “Dari dulu belum pernah, baru ini ada kegiatan seperti ini. Desa sudah mencoba memfasilitasi perpustakaan desa tapi ya minim karena tidak jemput bola. Tapi kalau dengan mobil pintar seperti ini anak lebih tertarik apalagi ada hiburan film, permainan tradisional dan lain-lain. Alhamdulillah masyarakat sangat menyambut baik,” urai Wahib. Mengusung konsep “Fun Education”, mahasiswa KKN 108 UMM mencoba menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada anak-anak lewat berbagai kegiatan seperti membaca, menonton film hingga merasakan permainan tradisional. Wakil Koordinator Desa KKN 108 UMM Eka Aprilda Astrid menyampaikan, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran pada anak-anak dan masyarakat bahwa membaca itu penting. “Kegiatan ini bertujuan untuk menarik minat baca anak-anak disini dan untuk mendukung karakter mereka, karena disini minat baca masih kurang,” ujar Astrid, yang juga merupakan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM tersebut. Fahma salah satu siswi kelas 4 SDN Wiyurejo 2 Pujon sangat senang mendapat kesempatan belajar menari dengan Venska. Apalagi kedua tari tersebut merupakan tari kesukannya. “Itu kan tari favorit saya, jadi senang sekali,” ujarnya gembira.
Mahasiswa UMM Ajak Anak Tingkatkan Jiwa Kompetisi Hadapi Arus Globalisasi

Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tangga 23 Juli lalu, menjadi satu hari istimewa untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya memperhatikan para generasi penerus bangsa. Hal yang sama dirasakan oleh Kelompok KKN 138 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui semangat untuk meningkatkan kecerdasan dan kreativitas anak-anak di Desa Jugo, Kesamben, Blitar para mahasiswa ini menggelar pemutaran film anak dan berbagai perlombaan bertajuk Arek Jugo Mbois. Koordinator Desa KKN 138 Muhammad Mar’ie Diliyatna menyampaikan, melalui acara ini kelompoknya berharap dapat meningkatkan semangat anak-anak dalam berinovasi. “Tujuan membuat anak semakin cerdas, inovatif dan kreatif agar kelak berguna bagi nusa dan bangsa, dan yang paling penting mereka siap menghadapi globalisasi yang saat ini sangat cepat masuk keberbagai lini, termasuk dalam dunia anak-anak,” ujarnya Kamis (26/7) Rangkaian acara peringatan ini diikuti oleh beberapa SD, mulai dari SDN 02 Jugo, SDN 03 Jugo, SDN 04 Jugo, dan SDN 05 Jugo yang sekaligus menjadi tempat digelarnya acara. Adapun serangkaian agenda yang dilombakan antara lain, lomba mewarnai, hafalan surat pendek, lomba adzan dan lomba permainan tradisional yang dimulai sejak pagi. Acara kemudian ditutup dengan pemutaran film anak dan penyerahan hadiah kepada peserta lomba. Juara Umum jatuh kepada SD Negeri 03 Jugo. Perwakilan Guru SD Negeri 03 Jugo, Febry menyampaikan pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa KKN Kelompok 138 UMM. Baginya, rangkaian acara yang digelar dapat menghidupkan jiwa kompetisi mahasiswa, khususnya untuk saling berlomba meraih prestasi. “Saya sangat antusias dengan kegiatan ini yang dapat menumbuhkan semangat anak-anak, terutama dalam meraih prestasi yang cemerlang,“pungkasnya. (Humas UMM)
Belajar Lebih Mudah dengan Aplikasi Beneko Karya Mahasiswa UMM

Perkembangan teknologi menuntut manusia untuk terus beradaptasi. Berbagai aspek kehidupan termasuk dunia pendidikan, harus selalu bersiap untuk mengikuti perkembangan yang ada. Mempersiapkan diri menghadapi hal ini, mahasiswa Program Studi (Prodi) Civic Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan sebuah inovasi pembelajaran. Dialah Naufal Muhammad Kautsar, mahasiswa yang mengembangkan sebuah aplikasi pembelajaran bagi para pelajar yang diberi nama Beneko yang merupakan singkatan dari nama para anggota tim yakni Ibnu Choirin Tafsirudin, Eko Prasetyo Utomo dan Naufal Muhammad Kautsar. “Saya awalnya tertarik dengan pembelajaran power point presentation berbasis android yang diajarkan di kelas. Kemudian saya tertantang untuk membuat inovasi lain,” jelasnya. Hadir untuk memudahkan para penggunanya, aplikasi ini memiliki berbagai fitur penunjang diantaranya video pembelajaran, e-book hingga fasilitas chat yang bisa digunakan untuk berdiskusi ketika menemui kesulitan belajar. “Saat ini aplikasinya masih dalam proses penyempurnaan biar bisa lebih mudah dipakai di semua jenis telefon pintar,” tambahnya. Meskipun Naufal merupakan mahasiswa Prodi Civic Hukum, namun aplikasi belajar ini tidak hanya memuat pelajaran PPKn saja. Pelajaran lain seperti biologi dan bahasa inggris juga dapat diakses di aplikasi ini. Siap diluncurkan ke publik, rencananya aplikasi belajar Beneko dapat digunakan oleh masyarakat umum mulai Agustus ini. Dr. Nurul Zuriah, M. Si, dosen Civic Hukum UMM menyampaikan bahwa pihaknya tidak berhenti selalu mendorong mahasiswanya untuk bisa menciptakan berbagai inovasi, termasuk dengan hadirnya aplikasi ini. “Awalnya saya berfikir bahwa zaman sudah banyak berubah dan kami harus mulai untuk memperbanyak inovasi khususnya tentang model pembelajaran,” tuturnya. Dengan adanya aplikasi Beneko yang dikembangkan oleh mahasiswanya, ia mengaku bangga bahwa usahanya untuk memancing mahasiswa melakukan inovasi dapat terus diwujudkan. Nurul berharap, lahirnya berbagai inovasi pembelajaran tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Ia mengajak seluruh masyarakat yang peduli dengan model pembelajaran, harus terus berusaha menciptakan kreasi yang sesuai dengan perkembangan jaman. “Kita harus berfikir futuristik. Mempersiapkan segala sesuatunya yang sesuai dengan tantangan masa depan yang akan kita hadapi,” tutupnya. (vin/sil)
Skill dan Attitude Bagus, Waktu Tunggu Lulusan Singkat, Fikes UMM Terus Berkembang
Dewasa ini, fasilitas kesehatan menjadi salah satu kebutuhan primer yang menjadi perhatian utama masyarakat. Tidak hanya sekedar fasilitas yang tersedia, kualitas tenaga medis juga menjadi pertimbangan masyarakat untuk berobat dan melakukan perawatan. Terus berkontribusi memberikan yang terbaik bagi negeri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta mempersiapkan alumni-alumni Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) sebagai tenaga medis profesional untuk turut serta membangun kesehatan bangsa. Juli ini, UMM resmi menindaklanjuti program kerjasama pengiriman tenaga kerja alumni Program Studi (Prodi) Ilmu Keperawatan Fikes UMM di beberapa rumah sakit naungan Mate Care Jepang. Setelah mengikuti kelas persiapan untuk memenuhi standart Bahasa Jepang, pada awal 2019 nanti para alumni Program Studi D3 Ilmu Keperawatan dan S1 Ilmu Keperawatan ini akan bekerja di berbagai rumah sakit mitra Mate Care yang bergerak dalam bidang perawatan lansia. Direktur Mate-Care Jepang Kamimura Yoichiro menyampaikan bahwa saat ini Jepang sedang kekurangan banyak tenaga kerja di beberapa lapangan pekerjaan antara lain bidang keguruan, teknik perkapalan, teknik informatika, pariwisata dan kesehatan. Karenanya, peluang kerja khususnya bagi para alumni Ilmu Keperawatan UMM terbuka lebar. Khusus pada kontrak kerjasama ini, nantinya para alumni Ilmu Keperawatan UMM akan bekerja selama 5 tahun di Jepang dengan gaji sekitar 25 juta/per bulan. Ia pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada UMM atas kerjasama ini. Yoichiro mengaku sudah banyak melakukan pertemuan dengan beberapa universitas di Indonesia, namun hanya UMM yang segera dan siap menyambut kerjasama tersebut. “Kami sudah melakukan banyak kerjasama, tapi saya sangat bangga dan kagum dengan kesungguhan UMM dalam mengembangkan peluang pekerjaan bagi alumninya,” ujarnya. Dekan Fikes UMM Faqih Ruhyanudin, M. Kep., Sp. Kep.MB menuturkan, dalam menyambut kerjasama ini pihaknya tidak main-main melakukan persiapan, baik secara keilmuan maupun praktek di lapangan. “Kita juga ada mata kuliah Keperawatan Gerontik dan mata kuliah lain yang secara khusus mempelajari tentang lansia,” urainya Selasa (24/7). Selain berharap para alumninya dapat menimba banyak ilmu dan sukses berkarir di Jepang, Faqih secara umum berharap para perawat alumni UMM ini dapat meningkatkan kompetensi setara dengan standar internasional. “Selain bahasa, sebelum bekerja nantinya mereka akan diajari budaya hingga cara penggunaan ala-alat kesehatan berstandar Jepang. Jadi tidak hanya secara keilmuan, mereka juga bisa belajar hal-hal baik yang lain,” tambahnya. Selain Ilmu Keperawatan, Fikes UMM juga terus meningkatkan kualitas alumni nya di Prodi yang lain seperti Farmasi. Pada penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2018/2019 ini, UMM kebanjiran peminat pada Prodi ini. “Farmasi yang sekarang sedang booming, jumlah pendaftarnya meningkat tajam. Ini sehubungan dengan hasil Uji Kompetensi Apoteker Indonesia alumni kita yang lulus 96%. Bukan hanya itu, angka kelulusan tepat waktu juga tinggi dan waktu tunggu mencari kerjasanya singkat hanya sekitar tiga bulanan,” tambah Faqih. Di akhir Faqih menyampaikan, melalui berbagai upaya yang dilakukan, Fikes UMM saat ini medapat kepercayaan yang cukup besar dari masyarakat. Hal tersebut tak lain lantaran secara akreditasi fakultas yang terdiri dari Prodi Farmasi, D3 Ilmu Keperawatan, S1 Ilmu Keperawatan dan Fisioterapi ini sudah cukup bagus. Selain itu, berdasarkan evaluasi dari pembimbing praktek di lapangan juga diketahui bahwa lulusan Fikes UMM cukup berkompeten. “Untuk skill, dari evaluasi pembimbing di lapangan mahasiswa-mahasiswa UMM yang praktek di rumah sakit dan puskesmas, secara skil dan attitude bagus. Ini saya kira yang menjadi daya tarik tersendiri,” pungkasnya. (sil)
AIESEC UMM Fasilitasi 22 Mahasiswa dari 12 Negara Belajar Wirausaha dan Mengajar di Malang Raya

Di pertengahan tahun 2018 ini, AIESEC Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kegiatan Exchange Participant Gathering Summer Project. Diikuti 22 mahasiswa yang berasal dari 12 negara yakni Brazil, Tunisia, Algeria, Kenya, Korea Selatan, Hongkong, Tiongkok, India, Ceko, Pakistan, Thailand dan Vietnam, AIESEC UMM membuat dua pilihan program yakni, program entrepreunersh (kewirausahaan) dan education (pendidikan). “Entrepreneurship ini sudah kita laksanakan dari tanggal 25 Juni dan berakhir 8 Agustus nanti. Sedangkan education project dimulai 16 Juli dan berakhir 28 Agustus,” ujar Puspa Pratiwi, Vice President Incoming Global Volenteer (VP IGV) AIESEC UMM. Acara juga diawali dengan sambutan dari Koordinator Program Magang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Nur Widodo yang sangat mengapresiasi keinginan para peserta untuk berbagi ilmu baik di bidang kewirausahaan maupun pendidikan. “Saya harap program ini tidak berakhir disini saja, semoga kita dapat melaksakan program program lain kedepannya. UMM sangat menyambut baik kedatangan kalian semua disini dan kalian bisa datang lagi tahun depan bersama orang asing lainnya,” katanya. Ke 22 mahasiswa tersebut dibagi menjadi dua kelompok, 10 untuk bidang kewirausahaan dan 12 untuk pendidikan. Program entrepreneurship bekerjasama dengan UKM Niki Say UFS dan UKM Aurasufa, sedangkan program pendidikan bekerjasama dengan Kantor Magang FKIP UMM. Untuk program pendidikan, nantinya para mahasiswa ini akan menempatkan di tujuh sekolah yang ada di Malang Raya. Lim Tae Gyun salah seorang peserta asal Korea Selatan yang mengambil program education mengaku antusias dan senang dapat mengikuti kegiatan ini. Selain dapat menambah pengalaman internasional, kegiatan ini juga memberikannya kesempatan untuk bekerjasama dengan orang Indonesia yang ramah, sopan dan mudah bersosialisasi. “Saya mengajar di salah satu sekolah di Batu. Sejauh ini saya tidak menemukan kesulitan dalam mengerjakan project karena kami saling membantu. Saya sangat senang mengikuti program ini karena dapat memperluas wawasan internasional saya,” pungkasnya. (apn/lus/sil)
Sehat dan Unik, Laboratorium ITP UMM Produksi Mie dan Macaroni Berbahan Umbi Garut

Laboratoroium Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tengah mengembangkan berbagai produk inovatif berbasis umbi-umbian. Salah satu produk yang saat ini dikembangkan yakni mie dan makaroni yang terbuat dari campuran tepung singkong dan pati garut. “Mie dan makaroni merupakan jenis makanan yang banyak diminati masyarakat Indonesia. Trennya terus meningkat. Tapi yang perlu diketahui bahwa mayoritas mie yang diproduksi dan dipasarkan di Indonesia adalah dari tepung terigu yang berasal dari gandum. Sayangnya sampai hari ini seratus persen masih import,” terang Dr. Ir. Damat, MP, Kepala Laboratorium ITP UMM, Jumat (20/7). Disebut dosen Ilmu dan Teknologi Pangan ini, pada tahun 2018 saja, import gandum masyarakat Indonesia diproyeksi sudah mencapai lebih dari 10 juta ton. Indonesia, kata Damat, menjadi importir gandum terbesar kedua setelah Mesir. Bahkan berdasarkan data yang dirilis Departemen Pertanian Amerika Serikat, lima tahun lagi Indonesia diproyeksi akan menjadi importir gandum terbesar di dunia. Untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang kuat, sambung Damat, upaya untuk mengembangkan produk pangan berbasis sumber pangan lokal harus mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Selain itu, pemanfaatan umbi-umbian untuk mensubstitusi tepung terigu diketahui memiliki nilai potensi nilai ekonomi yang sangat besar. “Berdasarkan data statistik, tren konsumsi tepung terigu gandum dari tahun ke tahun terus meningkat. Katakanlah kalau kita berhasil mengembangkan produk umbi-umbian ini, tidak mesti lima puluh persen, cukup sepuluh persen kita kuasai pasar, nilainya sudah sangat luar biasa besar,” ungkap Damat yang juga menginisiasi roti bebas pengawet ini. Ditilik nilai gizinya, beberapa jenis ubi-ubian seperti ubi jalar, singkong dan umbi garut diketahui memiliki kandungan serat lebih tinggi ketimbang gandum. Selain itu, pada ubi jalar misalnya, diketahui kaya antioksidan, yakni salah suatu senyawa yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tubuh. Sementara itu, tepung terigu mengandung protein khas yang disebut gluten. Protein inilah yang membuat produk roti dapat mengembang baik. Namun bagi sebagian orang, keberadaan gluten ini justru dapat menimbukan efek negatif. Bagi penyandang autisme misalnya, mengonsumsi gluten secara berlebihan membuat pengkonsumsinya hiper aktif. “Selain itu, bagi mereka yang intoleran terhadap gluten, keberadan gluten juga dapat memicu kerusakan jaringan mikrofili pada usus halus yang dikenal dengan penyakit celiac deases. Jika mikrofili rusak, maka absorpsi atau penyerapan makronutrien (zat gizi yang dibutuhkan tubuh, red.) akan terganggu, sehingga dapat berakibat malnutrisi,” terangnya. Kedepan, Lab ITP berencana menindaklanjuti produk ini untuk dikembangkan sebagai produk komersial. Yakni dengan segera membentuk unit khusus di UMM yang menampung segala inovasi dari sejumlah laboratorium yang ada agar bernilai ekonomis. (can/sil)
Perkaya Pengalaman, Para Calon Guru FKIP UMM Magang dan KKN di Thailand

Menjadi salah satu perguruan tinggi dengan sistem pembelajaran modern, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus membangun kerjasama internasional untuk mewujudkan cita-cita sebagai world class university. Kali ini giliran Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM melepaskan 52 mahasiswa dari lima program studi yang ada di fakultas tersebut yaitu, Pendidikan Biologi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (Civic Hukum) untuk merasakan pengalaman internasional ke Thailand. Jika sebelumnya hanya dikhususkan untuk program magang internasional, saat ini mahasiswa-mahasiswa tersebut juga akan melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Diakui Koordinator Program Magang FKIP Nur Widodo, program ini menjadi langkah FKIP UMM untuk memperluas peluang mahasiswanya untuk memperoleh wawasan global. “Program ini sebenarnya adalah cara kami FKIP untuk memberikan pengalaman internasional student movement sangat kuat,” jelasnya. Megambil tema Memperkuat Rekognisi Internasioanl dan Mengantisipasi Persaingan Global, di Thailand para mahasiswa ini akan disebar di beberapa wilayah di antaranya Bangkok, Satun, Songkhla, dan Krabi. “Saat ini masih di satu negara, Thailand. Tapi kita sudah memiliki rencana untuk mengembangkan ke beberapa negara lainnya,” terang Nur Widodo. Tak hanya melepas mahasiswa untuk melakukan proyek sosial selama satu bulan, pada agenda ini juga hadir sepuluh mahasiswa asing yang tergabung dalam Dream School Project AIESEC UMM. Mahasiswa-mahasiswa tersebut akan melaksanakan program mengajar di beberapa sekolah mitra FKIP di Indonesia. Menurut Nur Widodo, keberangkatan mahasiswa UMM ke luar negeri dan kehadiran mahasiswa asing ke UMM merupakan nilai penting bagi FKIP UMM untuk secara mandiri menginternasionalisasikan diri. “Adanya pertukaran mahasiswa UMM ke luar negeri dan mahasiswa asing ke UMM lewat AIESEC adalah bentuk aktualisasi diri kami (red. FKIP) untuk go internasional,” papar dosen Pendidikan Biologi tersebut. Bekerja sama dengan FKIP UMM, AIESEC UMM turut mendukung program pengabdian internasional yang dicetuskan oleh fakultas tersebut. Salah satu mahasiswa asing Taegyun Lim yang merupakan mahasiswa yang tergabung pada Dream School Project mengaku, keputusannya datang ke Indonesia dan memilih AIESEC UMM untuk menjalanan proyek sosial karena ia ingin dapat mengaplikasikan ilmunya sebagai guru bahasa Inggris ke masyarakat lokal, utamanya di Malang Raya. “Saya memilih proyek di AIESEC UMM karena saya ingin mengajarkan bahasa Inggris dan Korea ke orang-orang lokal di Malang,” terang mahasiswa asal Korea Selatan ini. (nis/sil)
Sepeda Cangkul, Alat Efisien Kurangi Cidera Otot Petani

Melihat banyaknya keluhan di kalangan petani terkait cedera otot yang dirasakan karena aktivitas mengcangkul, Program Studi (Prodi) Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengeluarkan karya yang diberi nama Sepeda Cangkul Ergonomis. Salah satu anggota kelompok R.Ay Shanty Permatasarimenuturkan, ide awal produk inovasi ini muncul melihat penggunaan cangkul milik petani yang merupakan alat tradisional, kerap menyebabkan sakit otot terutama pada bagian pundak. Berdasarkan riset yang dilakukan kepada para petani, kelompok mahasiswa menemukan fakta bahwa cara membawa cangkul yang harus dipikul dan penggunaan cangkul yang mengharuskan petani membungkuk berkali-kali, memperbesar peluang cidera tersebut. “Kita membuat Sepeda Cangkul yang bisa dibawa juga di tenteng. Ini untuk mengurangi resiko cedera otot,” tutur Santi. Didisain sederhana, pengoperasian alat inovatif ini cukup mudah. Hanya dengan menancapkan mata pisau cangkul di tanah, lalu pengguna dapat mengarahkan cangkulan ke kiri atau ke kanan sesuai dengan keinginnya. Untuk memudahkan gerak sepeda cangkul, terdapat besi yang juga sekaligus berfungsi sebagai pedal. “Jadi bedanya dengan cangkul biasa yang di gunakan petani, Sepeda Cangkul ini tidak perlu diangkat lagi setelah petani melakukan galiannya, cukup di geser saja lalu di gerakan ke kanan dan kiri. Dengan alat ini, produktivitas dalam bidang pertanian dan perkebunan dapat meningkat,” katanya. Santi menguraikan Pembuatan Sepeda Cangkul ini memanfaatkan barang bekas yang sudah tidak dipakai, utamanya di bagian setir yang dikreasikan sedemikian rupa menggunakan baja yang ukurannya lebih besar. Sementara lempengan di bagian bawah yang telah disesuaikan bentuknya, berguna untuk menyingkirkan tanah ketika Sepeda Cangkul ini sedang beroperasi. Sepeda Cangkul karya Ricca Andhini Octaria, Hendy Arno Yulianto, R.Ay Shanty Permatasari, Asrorudin dan Mahmud Adam merupakan salah satu inovasi mahasiswa UMM ini merupakan hasil dari Mata Kuliah Pengembangan Produk. Dalam mata kuliah ini, kreativitas dan keilmuan mahasiswa diuji. Mereka harus menghasilkan sebuah produk yang bertemakan kebutuhan difabel dan pertanian. Produk lain yang juga dihasilkan mahasiswa antara lain, Kacamata Sensor Tuna Netra (Kasentra), Mesin Cuci Gowes, dan Screentel Padi. (sal/sil)