UMM Dipercaya Gelar Semiloka Kurikulum Kehutanan

Diresmikannya program Perhutanan Sosial oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KemenLHK) memberikan angin segar bagi masyarakat. Sekalipun kendala masih sering ditemui, program ini terus dijalankan untuk menargetkan perluasan lahan hutan di Indonesia. Salah satu sarana penyampaian kendala dan gagasan untuk penyempurnaan program ini adalah Semiloka yang dilaksanakan oleh Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Kehutanan (FOReTIKA). Menggandeng beberapa perguruan tinggi, FOReTIKA melaksanakan agenda ini dua kali dalam setahun. Kali ini Universitas Muhammadiyah Malang terpilih sebagai tuan rumah. Bukan tanpa alasan, selain sebagai Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Program Studi Kehutanan UMM juga telah dipercaya untuk mengelola kawasan hutan yang dihibahkan oleh KemenLHK beberapa waktu lalu. “Pada semiloka ini Kehutanan UMM patut berbangga sebagai tuan rumah karena hal tersebut dapat menjadi sarana untuk UMM unjuk gigi kepada para stakeholder,” terang Tatag Muttaqin yang kini menjabat sebagai Ketua Program Studi Kehutanan UMM. Acara yang berlangsung sejak Rabu sampai Sabtu (18-21/7) ini akan melahirkan penyempurnaan kurikulum kehutanan pada beberapa aspek. Dipaparkan oleh Ketua FOReTIKA Rinekso Soekmadi, semiloka ini akan menghasilkan rumusan dan acuan tentang kehidupan kehutanan yang ditujukkan kepada pemerintah. “Hasil dari semiloka ini akan dirumuskan sebagai upaya FOReTIKA memberikan panduan kepada pemerintah untuk membuat kebijakan tentang kehutanan,” jelas dosen Program Studi Manajemen Ekowisata Dan Jasa Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut. Tidak hanya menghadirkan FOReTIKA, agenda yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM ini juga menghadirkan Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) KemenLHK Bambang Supriyanto. Pada sesi paparannya, Bambang menyampaikan tentang perkembangan program Perhutanan Sosial yang juga membutuhkan keterlibatan lebih para akademisi untuk menciptakan sumber daya manusia  yang melek literasi kehutanan. “Forum ini adalah sarana bagi saya untuk berdikusi langsung bersama para akademisi tentang perkembangan dan keberlanjutan program Perhutanan Sosial,” ungkapnya. Di akhir sesi paparan pertama, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) KemenLHK Helmi Basalamah menambahkan bahwa salah satu program yang dpat dijalankan oleh perguruan tinggi untuk mendukung program Perhutanan Sosial adalah diselenggarakannya Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang berfokus pada pelestarian hutan di sekitar lingkungan wilayah KKN. “Bagi saya KKN Tematik itu bisa jadi langkah konkret bagi perguruan tinggi untuk berpartisipasi dalam peningkatan program Perhutanan Sosial,” terang Helmi. Helmi melanjutkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang melek akan kehutanan. Harapannya, sebagai akademisi yang  dipercaya oleh masyarakat,perguruan tinggi melalui Program Studi Kehutanan dalam membantu BP2SDM dalam penyelenggaraan sumber daya manusia yang memadai. Rektor UMM Fauzan mendukung penuh terselenggaranya program Semiloka ini sebagai pemantik semangat para akademisi UMM utamanya di Program Studi Kehutanan agar semakin mantap melahirkan generasi kehutanan yang selama ini sering distigmakan sebagai tukang kayu. “Mahasiswa kehutanan itu tidak bisa dianggap remeh, mereka adalah pemegang estafet keberlangsungan kehidupan  manusia saat ini,” dukung Fauzan. (nis/sil)

Prodi Pendidikan Profesi Insinyur UMM Siap Sambut Mahasiswa Baru 2018/2019

Mencetak tenaga kerja profesional yang diakui dalam skala nasional dan internasional, menjadi tujuan dari Program Studi Pendidikan Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menyambut mahasiswa baru tahun ajaran 2018/2019, PSPPI UMM melakukan berbagai persiapan mulai dari kertersediaan tenaga pengajar profesional, kurikulum pengajaran hingga fasilitas pendukung perkuliahan. Tatag Muttaqin, S.Hut., MSc., IPM salah satu dosen dan staf pengajar PSPPI menyampaikan bahwa pada penerimaan mahasiswa baru tahun ini pihaknya sudah siap menerima mahasiswa baru. “Kalau tahun ini mulai ada yang ingin mendaftar ke PSPPI, kami siap menerima,” jelasnya, Rabu (18/7). Untuk bisa mendaftar sebagai mahasiswa program ini Tatag menambahkan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satu diantaranya adalah setiap calon mahasiswa PSPPi harus sudah pernah bekerja terlebih dahulu minimal selama satu tahun. “Misalkan ada mahasiswa sarjana baru lulus, itu tidak bisa langsung mendaftar untuk program profesi insinyur,” tambahnya. Setelah menyelesaikan studi selama dua semester, nantinya lulusan dari PSPPI akan memperoleh sertifikat tenaga professional, seperti  National Registered Engineer (NRE), Asean Chartered Professional Engineer (ACPE), Registered Foreign Professional Engineer (RFPE) atau Asia Pacific Economi Cooperation Engineer (APECEng). Nantinya, berbagai sertifikat tersebut akan menunjang karir para alumni PSPPI UMM. “Tenaga profesional dengan sertifikat tersebut  sangat dibutuhkan perusahaan-perusahaan dengan level nasional maupun internasional,” tandas Tatag. Sebelumnya, Januari lalu tiga dosen dari prodi Kehutanan UMM telah dikukuhkan menjadi Insinyur Profesional Madya (IPM) dan Insinyur Profesional Utama (IPU) oleh Dr. Ir. A. Hermanto Dardak MSc., IPU, selaku Ketua Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Bersama dengan 14 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang lain, UMM langsung bersinergi dengan Badan Kejuruan Teknik Kehutanan (BKTHut) sebagai salah satu dari 19 badan kejuruan dibawah Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Dengan pengukuhan tersebut, ketiga dosen UMM yakni Insinyur Joko Triwanto, MP., IPU, Dr. Insinyur Nugroho Tri Waskito, MP., IPM, dan Tatag Muttaqin, S.Hut., MSc., IPM, telah siap mengawal PSPPI di UMM. (vin/sil)

Begawan Linguistik Indonesia Seru Akademisi UMM Lestarikan Tata Bahasa Indonesia

Bahasa yang selalu berkembang menjadikan salah satu rumpun ilmu ini tidak pernah selesai untuk dipelajari. Bagi Prof. Rustono, salah seorang begawan linguistik Indonesia, mempelajari bahasa tidak ada batasnya. “Belajar tentang bahasa tidak pernah cukup dalam satu jenjang pendidikan,” tutur pria kelahiran Brebes tersebut. Di tengah maraknya pembuatan konten sebagai salah satu profesi di era modern ini, dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini menyebutkan bahwa siapapun yang bekerja atau belajar dalam lingkup bahasa harus memahami secara cermat bahasa tersebut. “Menjadi pelaku dalam disiplin bahasa tidak hanya melulu membutuhkan pemahaman dari sisi konteks, namun juga harus dipahami dalam kaidah tata bahasa,” ujar mantan Ketua Program Studi Pendidikan dan Bahasa Pascasarjana (PPs) UNNES ini. Dalam paparannya pada agenda dialog pakar dengan tema Pragmatik dalam Dinamika Sosiokultural di Era Revolusi Industri di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Selasa (17/7), Pembantu Rektor Bidang Akademik UNNES ini memberikan salah satu contoh kesalahan penggunaan istilah yang sering digunakan mulai dari acara tingkat nasional hingga masjid di desa-desa. Istilah tersebut ada pada teks doa yang berbunyi “Ampunilah dosa-dosa kami”. “Ada satu ungkapan yang kesalahannya mulai tingkat nasional hingga wilayah desa yakni pada ungkapan ‘ampunilah dosa-dosa kami’,” kata pria yang akrab disapa Prof Rus ini. Menurutnya pada ungkapan tersebut berarti yang diampuni oleh Tuhan adalah kita sebagai individu atau manusia atas dosa-dosa yang telah diperbuat, bukan dosa-dosa kita sehingga ungkapan tersebut menjadi lebih tepat jika “ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah aku perbuat”. “Jika kita telaah kembali, maka ungkapan yang benar adalah ‘ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah aku perbuat’,” terangnya. Selain membahas beberapa istilah yang kurang tepat, penulis buku Pokok-pokok Pragmatik ini juga mengajak seluruh akademisi untuk benar-benar menyadari penggunaan bahasa yang benar. Ia pun menegasakan bahwa menggunakan bahasa sesuai dengan tata bahasa, tidak akan menjadikan komunikasi terasa kaku. Hal ini justru akan menghindari kesalahpahaman. “Bahasa itu ilmu yang sangat sulit dipelajari. Maka merupakan hal yang sangat luar biasa jika kita bisa menaklukkan bahasa itu sendiri,” lanjutnya. Kehadiran salah satu pakar Bahasa Indonesia dibidang Pendidikan Bahasa Indonesia, Pragmatik, Sintaksis, dan Morfologi ini diapresiasi setinggi-tingginya oleh Rektor UMM Fauzan. Ia pun berpesan agar para peserta yang hadir dapat mengambil banyak ilmu dari acara ini. “Anda semua yang hadir di sini sangat-sangat perlu bersyukur. Sangat jarang sekali pakar seperti Prof Rus ini hadir membagikan ilmunya,” jelas Fauzan. (Nis/Sil)

Tes Gelombang II Digelar, Ribuan Camaba Berebut Jadi Mahasiswa UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Gelombang II Senin (16/7). Seleksi dilakukan melalui dua tahap, yakni tes tulis dan wawancara. Peserta tes kali ini berjumlah 7.169 orang. Total peserta yang akan diterima secara keseluruhan Gelombang I, II dan III sebanyak 6.000-7.000 mahasiswa. Ada sembilan fakultas yang menerima kuota mahasiswa  pada gelombang ini, yaitu Fakultas Agama Islam (FAI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), Fakultas Psikologi, Fakultas Hukum (FH), Fakultas Kesehatan (Fikes), dan Fakultas Kedokteran (FK). Wakil Rektor 1 UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin MSi menyampaikan pada Gelombang II ini UMM masih memberikan kuota untuk mahasiswa yang memilih FK. Sedangkan, pada gelombang III nanti kuota untuk FK akan ditutup. “Gelombang III nanti semua fakultas masih membuka peluang bagi calon mahasiswa kecuali Fakultas Kedokteran. Jadi, penerimaan mahasiswa baru Fakultas Kedokteran sampai di sini saja,” ungkapnya. Dari tahun ke tahun FK masih menjadi fakultas favorit dengan jumlah peminatnya paling banyak. Terbukti, pada Gelombang II ini peserta tes FK berjumlah 1.421. Tetapi dari ribuan tersebut hanya akan diambil 70 peserta saja. Lokasi tes seleksi mahasiswa UMM berada di Kampus 3 yang terletak di Jalan Raya Tlogomas. Semua gedung perkuliahan di GKB I, II, III, IV hingga UMM Dome digunakan untuk menampung peserta tes. Setelah mengikuti tes tulis untuk mata pelajaran yang diujikan yakni IPA, IPS, Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia peserta selanjutnya akan menjalani tes wawancara sesuai dengan jurusan yang diminati. Untuk mengantisipasi kecurangan saat pelaksanaan tes tulis, UMM bekerjasama dengan pihak kepolisian. Terdapat 25 anggota dari Polres Kabupaten Malang, Polsek Dau dan Polsek Lowokwaru yang ikut membantu pengamanan selama berlangsungnya tes mulai pukul 08.00-10.00 WIB. Syamsul Arifin pun menjamin tidak ada kebocoran soal sebab semua materi tes dibuat oleh tim khusus dan soal-soal diamankan di ruangan yang dilengkapi CCTV. Hasil tes hari ini akan diumumkan pada 20 Juli mendatang. Selanjutnya calon mahasiswa baru (Camaba) dapat melakukan registrasi pada tanggal 23-31 Juli. Mulai tanggal 23 Juli juga akan dibuka pendaftaran Camaba Gelombang III. “Untuk penerimaan mahasiswa baru gelombang III, dibuka pada 23 Juli sampai 16 Agustus nanti,” jelas Syamsul. Idzar Daffa Pratama salah seorang peserta tes asal Cirebon Jawa Barat mengaku antusias mengikuti seleksi Gelombang II ini. Alumni SMAN 4 Cirebon tersebut memilih mendaftar di UMM karena ingin mengembangkan ilmunya, mencari pengalaman di luar daerah dan memperbanyak pengetahuan keislamannya. “Ingin maju dan berkembang. Saya memilih Jurusan Manajemen dan Ilmu Komunikasi,” pungkasnya. (apn/sil)

Tercepat, Robot DOME UMM Melesat ke Amerika

Bergerak gesit, Robot DOME karya Tim Robotika Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), meraih Juara I kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) pada Kontes Robot Indonesia (KRI) Nasional 2018. Berhasil menunjukkan akurasi yang tinggi dan waktu tercepat dalam membidik titik api, Robot DOME UMM berhasil melesat jauh di peringkat pertama dengan total waktu 3.62 meninggalkan dua tim saingan terberatnya yakni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). “Saat melihat nama Dome berada di urutan puncak, rasanya lega sekali,” terang ketua tim Robotika UMM Alfan Achmadillah Fauzi. Prestasi para pendahulunya di tingkat internasional, menjadi pemantik semangat tim yang beranggotakan Alfan Achmadillah Fauzi (ketua), Ken Dedes Maria Kunthy (teknisi), dan Rochmansyah (anggota) ini.  Mereka pun mengaku telah melakukan persiapan yang matang untuk kontes yang berlangsung di Sportarium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini. “Dengan semangat para pendahulu kami yang sudah sukses, maka kami sudah jauh lebih siap dalam laga ini,” terang Rochmansyah, salah satu anggota tim. Ketua tim Robotika UMM Alfan Achmadillah Fauzi (ketua) menambahkan, selain semangat tim, riset khusus yang dilakukan selama  tiga bulan membuat timnya merasa yakin dan percaya diri akan keluar sebagai juara nasional. “Berlatih selama tiga bulan menjadikan kami sangat percaya diri untuk melenggang ke tingkat nasional,” terangnya. Kemenangan tim Robotika UMM ini sekaligus menjadi tiket emas bagi UMM untuk ikut serta dalam kontes robot di tingkat internasional yang akan berlangsung di Amerika Serikat. “Langkah ke depannya, kami pasti akan terus melakukan riset untuk robot ini agar semakin prima di kontes internasional nantinya,” jelas Pembina Tim Robotika UMM Nur Alif, Sabtu (14/7). Pembina yang sekaligus dosen Teknik Elektro ini juga mengaku bahwa akan menyiapkan dua robot lainnya untuk diperlombakan di ajang internasional tersebut. “Langkah ke depan, kami akan merampungkan dua robot lain dari divisi berkaki dan beroda untuk mempersiapkan diri dalam perlombaan di Amerika,” jelasnya. KRI ke-18 merupakan kompetisi tingkat nasional yang dibagi dalam lima divisi yakni Kontes Robot Abu Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Humanoid, Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda, dan Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI). Sebanyak 91 tim dari 48 universitas di Indonesia berkompetisi di ajang bergengsi ini. (nis/ sil)

Sah! Stadion UMM Jadi Pusat Latihan Arema FC

Menindaklanjuti silaturahmi Arema FC dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jumat (13/7) kemarin, keduanya menseriusi obrolan sebelumnya dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) perihal penggunaan Stadion UMM sebagai pusat pelatihan para pemain tim kebanggaan Arek Malang itu. Pelatih baru Arema FC Milan Petrofic mengaku tertarik menggunakan Stadion UMM lantaran kualitasnya yang mumpuni. Milan Petrific melihat kontur lapangan serta cuaca di Stadion UMM cukup menunjang untuk menjalankan program latihan yang telah dirancang. Salah satu pendiri Arema FC, Ovan Tobing, saat hadir dalam penandatanganan itu menyampaikan kesyukurannya Arema FC dapat bekerjasama dengan UMM. Sejak era almarhum Sam Ikul (Lucky Adrianda Zaenal), bersama Ovan yang kala itu turut membidani berdirinya basis Aremania, UMM sudah sangat baik menjalin kerjasama dengan Arema FC. Rektor UMM, Fauzan, menyambut baik kerjasama ini. Apalagi, UMM adalah satu-satunya perguruan tinggi yang memiliki basis pendukung resmi Arema yaitu Korwil Aremania Kampus Putih. Sehingga MoU ini, kata Fauzan, hanyalah salah satu saja dari rangkaian hubungan baik yang sudah dijalin sejak lama. “Sebelumnya memang Arema sering menggunakan stadion ini sebagai tempat latihan, tapi sifatnya parsial dan temporal. Sehingga, untuk kali ini kita akan atur dengan schedule yang ketat dalam rentang waktu hingga satu tahun kedepan,” kata Fauzan. Direktur PT. Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia, Rudy Widodo, usai menandatangani MoU menyampaikan bahwa momen ini merupakan hal yang Arema FC impikan sejak lama. Ia berharap kerjasama ini dapat menguntungkan kedua belah pihak. Segera usai penandatanganan nota kesepahaman itu, para pemain Arema FC langsung menjajaki Stadion UMM dalam Training Camp yang tengah mereka jalankan. (can/sil)

UMM Terus Genjot Penulisan Artikel Jurnal Internasional Bereputasi

Dalam rangka memperkuat rekognisi internasional di bidang publikasi ilmiah, Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Workshop Penulisan Artikel Jurnal Internasional Bereputasi, di Ruang Sidang Senat UMM, Jumat (13/7). Pada workshop kali ini, LPPI fokus pada pengenalan jurnal internasional bereputasi termasuk strategi dan pemilihan jurnal, hingga persiapan naskah. Sekretaris LPPI UMM, Zulfatman, M  . Eng, Ph.D. menerangkan, diselenggarakannya workshop ini merupakan bagian dari proses penguatan publikasi bagi dosen-dosen senior. Workshop yang berlangsung dua hari ini dipandu dan direview langsung oleh Dr. Lukman, St. M. Hum dari Lembaga Pusat Informatika Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia. “Jika sudah sampai tahapan klinik, mereka sudah melihat pada aspek keselarasan dengan guideline yang mereka tuju. Besoknya (14/7), kita sudah bisa submit ke jurnal yang kita tuju,” terang Zulfatman di sela acara. Senada dengan Zulfatman, Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M. Si UMM menerangkan, UMM saat ini tengah berupaya meningkatkan peringkat publikasi Ilmiah utamanya pada parameter publikasi di indeks sains dan teknologi milik Kemenristekdikti (Sinta). “Melalui workshop ini kami ingin melibatkan partisipasi dosen UMM dalam publikasi ilmiah. Karena Sinta itu dasar pemeringkatannya pada jumlah publikasi baik di jurnal nasional maupun jurnal internasional yang biasa maupun bereputasi,” terang Syamsul dalam sambutannya. Sinta, sambung Syamsul, memberikan tolok ukur dan analisis, identifikasi kekuatan penelitian masing-masing lembaga untuk mengembangkan kemitraan kolaboratif, untuk menganalisis kecenderungan penelitian dan direktori ahli. Diakuinya, peringkat UMM dalam publikasi ilmiah di Sinta belum terbilang memuaskan. Hal ini harus segera ditingkatkan. “Misalnya untuk dosen-dosen yang tingkatannya sudah lektor, doktor atau professor itu, harus didorong segera publikasi di jurnal-jurnal internasional bereputasi. Sementara untuk dosen-dosen muda diharapkan masuk jurnal-jurnal nasional bereputasi maupun internasional biasa. Kalau sumber daya manusia di kita punya satu saja publikasi ilmiah dalam satu tahun, akan sangat membantu sekali,” tukasnya. (can/sil)

Tiga Bulan Riset, Robot DOME UMM Duduki Peringkat Pertama Babak Penyisihan KRI Nasional

Setelah sukses meraih Juara I pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) Kontes Robot Indonesia (KRI) Wilayah Regional IV, kini tim Robotika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tengah bersiap dalam menjadi primadona dalam KRI 2018 Nasional. “Berlatih selama tiga bulan menjadikan kami sangat percaya diri untuk melenggang ke tingkat nasional,” terang Ketua Tim Robotika UMM Alfan Achmadillah Fauzi. Melalui semangat para pendahulunya yang telah meraih prestasi tingkat internasional, tim yang beranggotakan tiga mahasiswa Teknik Elektro (TE) Fakultas Teknik (FT) UMM ini telah mempersiapkan secara matang untuk kontes yang berlangsung di Sportarium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini. “Dengan semangat para pendahulu kami yang sudah sukses, maka kami sudah jauh lebih siap dalam laga ini,” terang Rochmansyah, salah satu anggota tim. Terbukti, dalam dua kali babak penyisihan DOME UMM robot karya mahasiswa UMM melesat jauh di peringkat pertama meninggalkan dua tim dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya pada kategori KRPAI. Ketua tim Robotika UMM merasa yakin bahwa riset yang dilakukan dalam beberapa bulan sebelumnya akan membawa timnya menjadi juara nasional. “Kami sangat bersyukur atas prestasi ini, keyakinan dan semangat menjadi juara yang kami tanamkan menjadi hal yang berbuah manis,” tutur mahasiswa Teknik Elektro semester enam tersebut. Setelah melewati dua babak dan terus berada di puncak klasemen hingga akhir, hari ini (13/7) tim Robotika UMM yang beranggotakan Alfan Achmadillah Fauzi (ketua), Ken Dedes Maria Kunthy (teknisi), dan Rochmansyah (anggota) akan berlaga di babak final. Kontes Robot Indonesia (KRI) ke-18 merupakan kompetisi tingkat nasional yang dibagi dalam lima devisi yakni Kontes Robot Abu Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Humanoid, Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda, dan Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI). Sebanyak 91 tim dari 48 universitas di Indonesia berkompetisi di ajang bergengsi ini. (nis/sil)

Bangun Kerjasama dengan Microsoft, UMM Siapkan Alumni TI Bersertifikasi Internasional

Tak hanya ingin membekali alumninya dengan selembar ijazah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berupaya membuka celah bagi alumninya untuk memperoleh pekerjaan. Salah satunya melalui kerjasama dengan Trust Solution yang merupakan salah satu mitra perusahaan raksasa teknologi Microsoft Coorporation. “Semoga kerjasama ini bisa membuka peluang lapangan pekerjaan bagi para alumni UMM,” terang Rektor UMM Fauzan saat membuka acara. Kerjasama yang akan dimulai awal semester depan ini ditujukan khususnya bagi mahasiswa Teknik Informatika untuk memperoleh sertifikasi internasional. Aevy Erisona selaku manager Education Trust Solution mengaku bahwa kerjasama dengan UMM bukanlah untuk pertama kalinya. “Kerjasama yang saat ini dilakukan bukanlah kali pertama, kedepannya kami juga akan terus melakukan kerjasama dengan kampus ini,” terangnya. Jika sebelumnya UMM juga membangun kerjasama bersama Casio Jepang dalam bidang pengembangan pembelajaran matematika berbasis tekonologi, Fauzan berharap di masa depan Trust Solution juga dapat membangun sistem pembelajaran berbasis teknologi di UMM. “Di masa depan, saya berharap kerjasama ini bisa mendukung perkembangan model pembelajaran berbasis  teknologi di kampus ini,” tutupnya. (nis/sil)

UMM Berangkatkan Mahasiswa Belajar Budaya dan Bahasa Mandarin ke Tiongkok

Sebanyak 19 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti program Summer Camp di Guangxi Normal University, Guilin, Tiongkok. Di sana, mahasiswa yang berasal dari berbagai program studi (Prodi) tersebut bakal belajar budaya dan bahasa Mandarin langsung dari ahlinya. Termasuk diantaranya diajarkan menulis aksara Tiongkok atau Hanzi, memasak makanan khas, bermain alat musik, hingga belajar seni beladiri Wushu. Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM, Soeparto menjelaskan, program Summer Camp bagi mahasiswa UMM ini sebenarnya merupakan bonus bagi mereka yang mengikuti perkuliahan bahasa Mandarin. Ini berlaku baik bagi mahasiswa yang masuk dalam program mata kuliah melalui skema sistem kredit semester (SKS) di dua prodi di UMM, yakni DIII Keuangan dan Perbankan juga Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, maupun mereka yang mengikuti kursus bahasa Mandarin di China Corner. “Semua mahasiswa memiliki peluang yang sama untuk bisa terbang ke Tiongkok. Yang terpenting, mereka bisa melewati level II ujian Bahasa Mandarin (red. Hànyǔ shuǐpíng kǎoshì) dari dua tingkatan yang ada di UMM,” terang dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM ini, Rabu (11/7). Program tersebut akan berlangsung selama sekitar dua pekan, (6-22/7) dengan didampingi langsung Koordinator China Corner dan seorang pengajar kelas Mandarin. Yenni Ulfaini, salah satu peserta dari prodi DIII Keuangan dan Perbankan mengaku bangga dapat mengikuti program ini. Ia bertekad untuk belajar dan mengambil ilmu sebanyak-banyaknya saat berada di Negeri Tirai Bambu tersebut. “Semoga kedepan bisa menerapkan ilmu yang didapat dan kembali belajar di China,” harapnya. (can/sil)