Arema Eratkan Silaturahim dengan Kampus Putih

Arema FC dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah dua instansi yang sudah lama memiliki sejarah kedekatan yang begitu dalam. Selasa, (10/7) pihak Arema FC kembali mengunjungi Kampus Putih untuk menyambung tali silaturahim. Rektor UMM, Fauzan menyambut  kedatangan tim kebanggaan arek Malang tersebut. Diwakili oleh salah satu pendiri Arema FC Ovan Tobing, Manajer Media Officer Arema FC Sudarmadji dan Manajer Bisnis Arema FC Inal Fitriandi silaturahim berlangsung hangat. Rektor UMM Fauzan menyampaikan, pihaknya senang dan terbuka dengan hubungan baik dan kerjasama yang terus dijalin. “UMM senang jika dapat kesempatan terus berkolaborasi dengan Arema,” katanya. Media Officer Arema FC Sudarmadji menyampaikan pihaknya sangat berkeinginan untuk bisa kembali bekerjasama dengan UMM. Ia pun bersyukur, niat baik ini kembali mendapat sambutan hangat. “Alhamdulillah kita sangat bersyukur karena UMM punya sejarah Panjang dengan Arema, jadi tidak sulit untuk kita menjalin kerja sama dengan UMM,” ujarnya. Silaturahim kemudian ditutup dengan penyerahan jersey baru Arema kepada Fauzan sebagai simbol persaudaraan antara UMM dengan Arema FC.(gan/sil)

Apresiasi Karya Mahasiswa, Ikom UMM Gelar Festival Film

Ditengah terpaan arus modernisasi, orang tua dihadapkan pada tantangan untuk menyajikan tontonan yang ramah anak. Melihat hal tersebut, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi (Ikom) peminatan Audio Visual (AV) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar festival film bertajuk Pesta Film Anak.   Berlokasi di Aula BAU, Senin (9/7) festival film berlangsung meriah. Disambut antusiasme penonton dari kalangan internal dan eksternal kampus,  acara terbagi menjadi tiga sesi. Setiap sesi diputarkan 4 film. Novin Farid Setyo Wibowo selaku kepala Laboratorium Ikom mengharapkan film-film yang diputar dalam festival bisa menjadi konten positif terutama bagi penonton usia anak-anak. Menurutnya, konten yang sesuai usia akan membantu perkembangan anak dalam memandang sesuatu maupun bertindak sesuatu, sehingga tercipta generasi yang lebih beradab. “Ini merupakan bentuk literasi melalui medium audio visual untuk memberikan kesadaran atas tontonan yang sekaligus menjasi tuntunan sebagai jawaban atas minimnya tayangan anak yang mendidik,” pungkasnya. Selain menyajikan film anak-anak, pada acara ini juga dilakukan pembagian buku-buku fiksi anak. Buku-buku tersebut diberikan kepada penonton anak-anak yang tak lain merupakan inisiatif mahasiswa AV guna memberikan bacaan yang sesuai dengan usia penonton. “Acaranya mulai pagi sampai sore, diawali dengan berbagi buku-buku fiksi bertema anak kemudian pemutaran film dulu sebanyak tiga sesi dan awarding,” pungkas Sanas, Ketua Pelaksana Pesta Film Anak tersebut. (apn)

Nikmatnya Bandeng Tanpa Duri Berbagai Rasa Racikan Mahasiswa UMM

Pernah makan bandeng tanpa duri? Jika biasanya bandeng tanpa duri yang beredar di pasaran merupakan hasil proses presto untuk melunakkan durinya, berbeda halnya dengan produk satu ini. Adalah Nurmalasari mahasiswa angkatan 2014 asal Bima Nusa Tenggara Barat (NTB) yang baru saja menyandang gelar Sarjana Perikanan dari Program Studi Budidaya Perairan (Perikanan) Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang pada bulan Mei 2018 lalu, berhasil memproduksi BANGDUR (Bandeng Tanpa Duri) Cita Rasa Nusantara. Bermula dari tugas Mata Kuliah Praktik Usaha Perikanan atau biasa disebut aquapreneurship, kini produk tersebut menjadi ladang usaha yang menjanjikan. Bersama tiga orang temannya Muhammad Soleh, Fernanda Rahmadillah Putri dan Sabarudin yang juga satu tim dalam proses pengerjaan aquapreneurship, Nurmalasari berhasil memasarkan produk inovatif ini. Bisnis tersebut bahkan telah meraih omzet hingga 10 juta rupiah untuk setiap 100 kg bandeng yang diproduksi. Inspirasinya muncul ketika melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) di salah satu perusahaan swasta di Probolinggo yang membudidayakan udang vannamei dan bandeng. Perusahaan ini melakukan dua budidaya dalam satu wadah serta memproduksi bandeng tanpa duri. Dari sini,  Mala, demikian  sapaan akrab Nirmala, mendapatkan ilmu tentang teknik memfilet bandeng. Melakukan produksi satu minggu tiga kali, Mala sudah memasarkan produknya baik secara konvesional di berbagai toko sayur modern maupun secara online dengan memanfaatkan media sosial. Tidak main-main, untuk kestabilan kualitas dan kuantitas produk, Mala bermitra dengan pemasok ikan bandeng dari Probolinggo. “Tidak hanya memasok, supplier ini juga memasarkan produk saya di pasar tradisional, Pasar Gadang,” ujar Mala, Senin (9/7). Istimewanya, perbedaan BANGDUR Nusantara dengan bandeng presto lainnya tidak hanya pada rasa, namun juga teknik pembuatan. BANGDUR Nusantara teknik pemisahan daging dan durinya menggunakan teknik filet, sedangkan bandeng presto menggunakan teknik pemasakan dengan suhu rata-rata 121 derajat celcius. Proses pemanasan menggunakan suhu tinggi ini sangat disayangkan, karena dapat menghilangkan kandungan gizi yang ada. “Secara ilmu gizi, dinyatakan dalam salah satu jurnal yang menjadi acuan kita di proposal aquapreneurship bahwa bandeng presto dan bandeng segar setelah di presto gizinya hampir 98% hilang, jadi rasa daging nya juga tidak enak. Dengan teknik filet, kita ingin menjaga kualitas daging dari bandeng itu sendiri, rasa juga gizi nya tetap,” tambahnya. Mala juga menguraikan, selain kelebihan tersebut ciri khas produk ini terletak pada varian rasa yang dimiliki. Berinovasi untuk menghadirkan produk yang berbeda dari bandeng tanpa duri di pasaran, Mala dan timnya memproduksi BANGDUR Nusantara dengan empat varian rasa, yakni original, balado, rendang dan sambal matah. “Varian rasa nusantara ini mencerminkan keanekaragaman kuliner nusantara,” tandasnya. Berusaha merangkul, memberdayakan dan berbagi ilmu Mala dan tim saat ini mengajak peran serta adik tingkat khususnya mahasiswa Perikanan yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perikanan, sedangkan Mala dan tim hanya mengurus manajemen produksi dan pemasaran. “Untuk produksinya diserahkan ke Himaperik (Himpunan Mahasiswa Jurusan Perikanan), jadi mereka bisa belajar dari sekarang sebelum memasuki semester tujuh untuk mengerjakan aquapreneurship,” pungkasnya.(sal/sil)

Vegedrilla, Inovasi Tepat Guna Mahasiswa UMM yang Manfaatkan Limbah Produksi Tahu

Generasi muda dituntut untuk bisa memiliki semangat tinggi dalam mencipatakan berbagai inovasi, khususnya yang dapat mendukung kebutuhan manusia sesuai dengan kondisi terkini bahkan masa yang akan datang. Adalah Nasihul Mukmin dan Sarabila Karima, mahasiswa  Program Studi (Prodi) Agribisnis dan Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Keduanya menciptakan inovasi yang diberi nama Vegedrilla. Vegedrilla merupakan inovasi yang terdiri dari kombinasi pemanfaatan limbah tahu sebagai pupuk organik bagi tanaman microgreen, hydrilla dan juga hidrogel. Nasihul mengatakan bahwa ide inovasi yang mereka buat berawal dari keresahan akan fenomena alih fungsi lahan yang mengakibatkan terbatasnya ruang untuk menanam tanaman. “Kami juga mendapatkan data bahwa konsumsi sayuran mengalami peningkatan. Oleh karena itu kami berfikir bagaimana caranya bisa menciptakan inovasi yang sesuai dengan kedua kondisi tersebut,” urainya. Ia menambahkan, hasil dari pengolahan limbah tahu menjadi pupuk organik dirasa cocok dan terbukti mampu meningkatkan nilai nutrisi tanaman yang menggunakan pupuk tersebut. “Microgreen yang merupakan salah satu jenis tanaman konsumsi bisa memiliki nutrisi yang lebih tinggi bila menggunakan pupuk organik dari limbah tahu ini,” tambahnya. Tak hanya inovatif, terobosan ini juga berhasil terpilih sebagai Juara 1 dalam ajang Agrifasco 2018 yang diadakan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Januari lalu. Tim UMM berhasil menjadi juara setelah mengalahkan berbagai inovasi lain dari seluruh universitas di Indonesia yang berpartisipasi dalam ajang tersebut. “Dari 10 finalis yang presentasi alhamdulillah akhirnya UMM yang keluar sebagai juara. Disusul Universitas Tanjung Pura dan Universitas Gajah Mada di tempat ketiga,” ungkap Nasihul bangga. Raihan ini tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Dosen pendamping tim LKTI ini, Erfan Dani Septia, SP, MP, mengakui bahwa capaian mahasiswanya ini merupakan hasil yang luar biasa. Meskipun juara bukanlah target utama, namun hasil ini menjadi bonus usaha yang selama ini dilakukan. “Saya selalu menekankan pada mahasiswa bahwa yang terpenting adalah kita bisa berproses dengan baik. Soal bagaimana hasilnya nanti itu sekedar bonus saja,” tuturnya. Erfan menambahkan bahwa karya mahasiswanya ini dianggap sebagai salah satu bentuk inovasi tepat guna oleh juri. Faktor tersebut yang akhirnya menjadi nilai plus pada saat sesi penilaian. “itu jugalah yang akhirnya membawa mahasiswa UMM keluar  sebagai juara,” pungkasnya. (vin/sil)

UMM Semangat Lestarikan Budaya Jawa Melalui Festival Film Sastra Jawa

Di tengah maraknya perkembangan film Indonesia yang diangkat dari novel menjadikan Dadang Wijoyanto salah satu dosen pengampu mata kuliah Karawitan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencetuskan ide untuk mengangkat kisah karya sastra Jawa dalam sebuah film. Dosen asal kota Trenggalek ini mengajak mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM dalam mata kuliah Karawitan yang diampunya untuk menciptakan suatu hal baru dalam agenda Puncak Karawitan 2018 pada Jumat (6/7). Dipilihnya Cerito Cekak (Cerkak) milik Suharmono Kasiyun bukan tanpa alasan. Karya sastra Jawa berjudul “Kakak Kawa Adhi Ari-Ari” ini telah menerima beberapa penghargaan bergengsi salah satunya penghargaan Karya Sastra Daerah Jawa Terbaik 2017 dari Yayasan Rancage. Diakui oleh Dadang, PGSD UMM adalah satu-satunya program studi yang mencetuskan ide pengangkatan karya sastra Jawa dalam film pendek. “PGSD UMM adalah satu-satunya program studi yang mencetuskan ide pembuatan film pendek yang diadopsi dari karya sastra Jawa,” jelas dosen yang juga mengampu mata kuliah Bahasa Jawa ini. Selain Kakang Kawah Adhi Ari-Ari, sebanyak sebelass film pendek lain diputar dalam gelaran ini. Film-film tersebut di antaranya Surup, Kembang, Mantu, Peteng sing Ireng, Wiramane Lagu Dhangdut, Sani, Tambak Oso, Gombak, Tamu, Sisihan, Ayomi Tyas, Wening, dan Bento. “Dua belas film tersebut dikembangkan sendiri oleh mahasiswa. Kami hanya menjadi pembimbing jika mereka merasa ada kesulitan dalam memahami alur cerita,” kata Dadang. Digelarnya Festival Film dalam Puncak Karawitan 2018 ini, sangat diapresiasi oleh seluruh mahasiswa PGSD UMM. Salah satunya Dian Armandha, diakuinya membuat film bagi mahasiswa PGSD merupakan hal yang baru, namun hal tersebut adalah tantangan yang menyenangkan. “Membuat film itu bukan kebiasaan kami, jadi agak sulit. Tapi tugas ini sangat menantang karena harus banyak melakukan riset,” terang sutradara film Surup tersebut. Ditambahkannya, bahwa membuat film adalah salah satu cara bagi mahasiswa PGSD untuk mempromosikan budaya, utamanya Jawa. “Saya senang sekali bisa terlibat dalam tugas akhir ini, membuat film bisa membantu kami untuk mempromosikan budaya Jawa,” imbuh mahasiswa asal kota Reog Ponorogo tersebut. Tidak hanya berkarya dalam pembuatan film, mahasiswa PGSD UMM juga dipacu untuk menciptakan tembang dolanan. Diciptakannya tembang dolanan ini salah satu upaya PGSD UMM untuk melestarikan budaya Jawa, utamanya dalam membentuk pendidikan karakter melalui kearifan lokal. “Selain menyesuaikan kebutuhan guru SD, kami juga memacu mahasiswa PGSD untuk mengajarkan pendidikan karakter melalui kearifan lokal,” papar Dadang. Dua belas tembang dolanan diciptakan dan diarasemen sendiri oleh mahasiswa PGSD UMM, di antaranya Bekelan, Gajah ing Kebun Binatang, Aku Due Truwelu, Pitik Jago, Kupu-Kupu, Kekancan, Semut, Ojo Lali Wektu, Kucing Lemu, Jambu Lemu, Ayo Konco, dan Gunung-Gunung. “Seluruh mahasiswa menciptakan dan mengaransemen semua tembang dolanan yang ditampilkan,” ujar Dadang. Sebagai salah satu program studi yang berfokus pada pengembangan pendidikan karakter, PGSD UMM terus melestarikan budaya Jawa melalui beberapa mata kuliah budaya Jawa seperti Bahasa Jawa dan Karawitan. (nis/sil)

Tingkatkan Kualitas Pengajaran Bahasa Arab, UMM Undang Dr. Ali bin Mayouf Al – Mayouf

Sebagai program studi (Prodi) yang masih dapat dikatakan muda di Universitas Muhammadiyah Malang(UMM), Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) kian giat mengadakan peningkatan kualitas jurusannya. Seperti yang digelar pada 5 – 6 Juli 2018 ini, PBA UMM menggadakan pelatihan bagi dosen, mahasiswa sertamasyarakat umum. Pelatihan yang bertema Pengembangan Keterampilan Pengajaran Bahasa Arab untuk Penutur Asing dan Pelatihan Penulisan Buku Ajar Bahasa Arab ini merupakan hasil dukungan kerjasama antara Ikatan Pengajar Bahasa Arab Se – Indonesia atau Ittihad Mudarrisii al-Lughah al-‘Arabiyyah (IMLA) dengan beberapa instansi Arab Saudi. “PBA UMM merupakan bagian dari anggota IMLA. Kebetulan sudah ada kerjasama antara IMLA dengan Center for Research & Intercommunication Knowledge serta King Abdullah bin Abdulaziz International Center for The Arabic Languange untuk mengadakan rangkaian kunjungan pelatihan musim panas ke Indonesia,” jelas Moh. Fery Fauzi, S.Pd, M.Pd.I, ketua pelaksana pelatihan yang berlangsung di UMM Kampus 3 ini. Salah seorang pembicara dalam pelatihan ini adalah Dr. Ali bin Mayouf Al – Mayouf yang merupakan Konsultan Center for Research & Intercommunication Knowledge dan juga sekaligus pengajar di King Saud University, Arab Saudi. Dalam paparannya, Ali menjelaskan bahwa para pengajar bahasa termasuk Bahasa Arab harus memperhatikan poin-poinpentingdalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Beberapa diantaranya yaitu mengenai tata cara bahasa dan penerjemahannya, metode pengajaran langsung, metode pendengaran dengan lisandanmetode percakapan serta metode dalam selektifitas. “Dari kelima hal penting itu, penerapannya dapat dilakukan dengan menyesuaikan mana yang paling cocok dengan keadaan sebenarnya. Sehingga tidak harus semuanya digunakan,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa metode yang paling efektif untuk mengajarkan bahasa adalah dengan metode pengajaran langsung. Karena hal tersebut memungkinkan pengajar memberikan contoh sekaligus penjelasan langsung kepada siswanya. “Pada intinya, pengajaran bahasa tidak dapat dilakukan hanya sekedar memberikan penjelasan saja, melainkan juga harus sekaligus pada prakteknya. Terutama bagi murid yang masih anak – anak,” tutupnya. Siti Rauhillah, peserta yang berasal dari Institut Agama Islam Hamzanwadi Lombok, mengakui bahwa dengan adanya pelatihan seperti ini ia berharap dapat memperoleh ilmu baru tentang pengajaran Bahasa Arab yang langsung disampaikan oleh native speaker dari Arab Saudi. “Bagi saya ini sangat menarik, apalagi saya juga bisa mendapatkan ilmu tentang bagaimana cara membuat suasana pembelajaran di kelas nantinya menjadi lingkungan berbahasa arab,”tandasnya. Selain pembicara yang dihadirkan langsung  dari Arab Saudi, pelatihan ini juga mengundang para pemateri lain yang juga handal yaitu Prof. Dr. Imam Asrori, M,Pd, Ketua IMLA serta Dr. Abdul Haris, M.A. yang merupakan pakar kependidikan bahasa arab.

Taiwan Center Sediakan 50 Kuota Khusus Mahasiswa UMM Lanjutkan Kuliah di Negeri Naga Kecil Asia

Kesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri menjadi sesuatu yang diidamkan banyak mahasiswa. Hal ini mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus bekerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri juga lembaga-lembaga yang menyediakan informasi seputar pendidikan internasional. Salah satunya Taiwan Center, sebuah lembaga pusat informasi terkait beasiswa dan peluang  studi lanjut.  “UMM kami berikan kuota 50 orang untuk bisa melanjutkan kuliah di Taiwan selama satu tahun dimulai awal September,” ujar Project Director Taiwan Center Indonesia Arif Misbahul MBM. Ia melanjutkan, 50  mahasiswa UMM yang mendaftarkan diri selanjutnya akan diseleksi oleh Cheng Shiu University, Taiwan, sebuah kampus yang terletak di Kota Kaohsiung, kota terbesar kedua setelah Taipei. Setelah lolos seleksi, para mahasiswa ini akan menempuh program kuliah pendidikan Bahasa Taiwan dan praktek industri selama satu tahun. Harapannya, usai program para alumni dapat memiliki nilai tambah tersendiri, terutama untuk berkarir di Taiwan. Kepada para mahasiswa dan calon sarjana yang menghadiri Sosialisasi Program Kuliah Plus Praktek Industri Profesional hari ini, Kamis (5/7) di Ruang Sidang Senat UMM, Arif juga menyampaikan bahwa berdasarkan data saat ini, jumlah sarjana pengangguran di Indonesia mencapai 630.000 orang. Hal tersebut bertolak belakang dengan keadaan di Taiwan yang saat ini kekurangan tenaga kerja. Melihat keadaan tersebut, Arif menekankan peluang terciptanya simbiosis mutualisme apabila Indonesia mengirim sarjananya ke Taiwan. Pihak Taiwan dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan bersamaan dengan hal tersebut  Indonesia juga bisa mengurangi jumlah pengangguran. “Pengangguran terjadi karena tidak sesuai antara keahlian lulusan dengan kriteria yang dibutuhkan. Maksudnya adalah keahlian para sarjana yang lulus dari perguruan tinggi tidak sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh perusahaan. Dalam hal ketrampilan berbahasa misalnya,” tambahnya. Di akhir Arif juga menyampaikan untuk mendukung program, Taiwan Center akan membantu mahasiswa dalam memenuhi berbagai informasi terkait hingga kebutuhan hidup. “Semua akan kita informasikan, termasuk juga iuran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) di Cheng Shiu University,” tandasnya. Asisten Khusus Rektor Bidang Kerjasama UMM Soeparto menyampaikan,  kerjasama dengan Taiwan Center merupakan bentuk dari internasionalisasi. Salah satu aspek dalam pengakuan internasional adalah pengembangan global citizen ship. Di dalam pengembangan masyarakat global itu sendiri ada program internship. “Ada kuliah dan magang, karena biasanya kalau transfer mahasiswa hanya kuliah, kalau yang ini kuliah dan magang. Dengan adanya program itu mahasiswa akan memiliki kompetensi bekerja di Taiwan,”tambahnya. Ke depan, UMM akan mempublikasikan, menyeleksi, dan merekrut mahasiswa yang akan diikutkan kuliah dan magang ke Taiwan. Tidak asal berangkat, para mahasiswa ini nantinya juga akan mengikuti proses seleksi dari pihak kampus. “Tentunya ada seleksi, yang jelas ada transkip, kemampuan Bahasa Inggris, CV untuk kegiatan ekstrakulikuler dan motivation letter,”pungkasnya. (apn/sil)

UMM Gandeng Casio Kembangkan Pembelajaran Matematika Berbasis IT

Perkembangan dunia pendidikan saat ini perlu dikombinasikan dengan perkembangan zaman. Hal tersebut mengingat lekatnya anak muda termasuk para mahasiswa dengan teknologi. Kali ini, Program Studi (Prodi) Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM menerima kerjasama dengan Casio Singapore dalam Program Casio Education Indonesia. Education Manager Tim Casio Mutia Meilina menyampaikan, kerjasama ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk membangun kerjasama dengan lembaga atau instansi guna mengembangkan pendidikan di Indonesia. “Saat ini Casio menghubungkan pendidik – pendidik di seluruh dunia, salah satunya dengan UMM,” tandasnya usai melaksanakan MoU Pengembangan Pembelajaran Matematika Berbasis IT dengan Prodi Matematika FKIP UMM, Kamis (5/7). Khusus untuk program pendidikan, Casio yang memiliki scientific calculator, projektor dan alat musik ini nantinya yang akan berhubungan dengan Prodi Matematika. Menggunakan scientific calculator, nantinya mahasiswa-mahasiswi Prodi Matematika bisa dengan mudah terbantu dalam proses belajar mengajar. Scientific calculator juga membuat proses mengajarkan mahasiswa pola-pola matematika tetap bermakna dan menyenangkan dengan kalkulator, tanpa menghilangkan prosedur yang ada. Pada kesempatan kali ini, Tim Casio mengajukan beberapa poin MoU untuk di sepakati bersama, antara lain menjadikan UMM center penelitian, membantu publikasi jurnal ilmiah nasional/internasional, menyelenggarakan  seminar nasional/internasional  hingga suporting transport teknologi dalam kewirausahaan. Dekan FKIP Dr. Poncojari Wahyono menyambut baik kerjasama ini. Ia berharap akan banyak kerjasama lain yang dapat dijalin dikemudian hari. “Mudah-mudahan ini dapat menunjang jarak yang jauh dan terjalin silaturahmi terus-menerus dengan adanya kerjasama ini. Khusus untuk pembelajaran berbasis IT, mudah-mudahan sangat menunjang pembelajaran mahasiswa,” tutupnya.(sal/sil)

Lengkap, Job Fair UMM Fasilitasi Peluang Lulusan Bekerja di Perusahaan Nasional Hingga Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selain berperan sebagai lembaga pendidikan juga bertanggungjawab memberikan segala informasi lapangan kerja bagi lulusannya. Job Fair yang diselenggarakan oleh Pengembangan Karir Mahasiswa dan Alumni (PKMA) adalah salah satu upaya guna memudahkan lulusan dalam mencari kerja. Ada 25 lembaga internal maupun perusahaan luar yang terdaftar dalam Job Fair. Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan hasil kerjasama PKMA dengan dinas ketenagakerjaan. “Kami bekerjasama dengan dinas ketenagakerjaan untuk menghubungi perusahaan-perusahaan yang sudah terdaftar di dinas ketenagakerjaan. Sehingga, perusahaan-perusahaan yang kita undang itu adalah perusahaan yang memang tidak bemasalah,” Jelas Fien Zulfikarijah, kepala bagian PKMA. Di antara 25 stan Job Fair tersebut, PKMA juga berhasil menghubungkan kerjasama antara Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dengan Mate-Care Co. Ltd. Pagi ini Rabu, (4/7) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), UMM dan Mate-Care Co. Ltd. resmi bekerjasama untuk penempatan tenaga lulusan UMM khususnya bidang keperawatan di Jepang. “Dari sekian negara yang kami ajak kerjasama, Vietnam, Nepal, Filipina, yang paling bagus kerjanya dan bekerja dari hati adalah Indonesia. Oleh karena itu saya datang ke Indonesia. Begitu juga yang paling menyambut baik kerjasama ini adalah UMM, itulah mengapa saya ke kampus ini,” ungkap direktur Mate-Care Co. Ltd, Kamimura Yoichiro. UMM mengadakan Job Fair sebanyak empat  kali dalam setahun. Periode ini, sesuai dengan jumlah penyelenggaraan wisuda di UMM.

Ciptakan Aplikasi VRS Versi Android, Mahasiswa UMM Mudahkan Masyarakat Latih Ketrampilan Interview Bahasa Inggris

Berkarya tanpa batas adalah visi hidup yang tepat bagi Moh. Kholilurrahman Jailani. Menjadi mahasiswa Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM,) membuatnya peka terhadap situasi yang kerap dialami mahasiswa seangkatannya, terutama yang terkait bidang Bahasa Inggris. “Kami minim praktek untuk mata kuliah interview. Padahal saya lihat yang memiliki masalah saat interview begitu banyak. Tidak hanya mahasiswa tetapi juga masyarakat,” ungkap Mamang panggilan akrab Kholilurrahman saat ditemui Senin (2/7). Kegelisahan ini diakui Mamang, ia rasakan sejak masih berada di semester 4. Ia pun mencoba merumuskan sebuah ide untuk membuat sebuah aplikasi dan menuangkan ide tersebut  dalam Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM GT). Sayangnya, keberuntungan masih belum berpihak saat itu. Mamang tidak lolos seleksi. Kegagalan ini tak lantas membuat Mamang berputus asa. Ia pun melanjutkan gagasan tersebut dengan dibantu tiga orang mahasiswa dari Teknik Informatika Fakultas Teknik UMM yakni Ahmad Hamdani, Amruzi Nugrahadiawan, dan Syauqi Hidayatul Hakim. Aplikasi yang diberi nama Virtual Reality System tersebut akhirnya terwujud. Yang istimewa, alat ini tidak hanya dapat dipergunakan bagi mahasiswa Prodi Bahasa Inggris tetapi juga masyarakat umum. “Alat ini tercetus untuk mempermudah mahasiswa Bahasa Inggris menjawab interview. Bisa juga berguna bagi masyarakat umum yang hendak melamar kerja,” kata Mamang. Dalam pengoperasiannya, aplikasi ini memerlukan alat bantu VR Glasses yang dapat dibeli secara online mulai dari kisaran harga Rp 50.000-Rp 300.000. Penggunaannya juga cukup mudah. Hanya dengan mendownload aplikasi Virtual Reality System di Play Store, kemudian menyambungkan dengan alat bantu VR Glasses, secara otomatis pada layar VR Glasses pengguna seolah-olah sedang berada di sebuah ruang interview dengan seorang inteviewer. Sang interviewer akan mengajukan beberapa pertanyaan. Setiap pertanyaan yang dijawab akan mendapat skor tertentu. Skor muncul sesuai dengan penilaian keakuratan pronunciation dan intonasi pengguna. Dalam aplikasi ini juga terdapat tiga sesi interview mengenai pengetahuan diri, perusahaan, dan loyalitas kerja. Semua pertanyaan layaknya interview pada umumnya, seperti apa yang biasa digunakan di berbagai perusahaan dan instansi. “Masing-masing pertanyaan bernilai 10, jika jawaban kurang jelas maka bernilai 5, dan apabila tidak menjawab bernilai 0. Waktu yang diberikan untuk menjawab sebuah soal adalah 30 detik,” tandasnya. Dibuat dengan disain istimewa, aplikasi ini sangat ramah bagi pemilik android. Saat ini, Mamang yang asli Pamekasan ini tengah gencar memperkenalkan aplikasi buatannya. Ia juga berencana segera memasukkan aplikasi ini di Play Store. “Sehingga dapat didownload dan bermanfat bagi siapa saja yang membutuhkan,” (apn/sil)