Sosiologi UMM, Lewat Film Promosikan Konservasi Lingkungan

Media audio visual merupakan media perantara yang mengkombinasikan pandangan dan pendengaran untuk membangun kondisi yang dapat membuat penontonnya mudah menangkap pesan yang disampaikan. Salah satu media audio visual yang akrab di masyarakat adalah film. Melakukan pengabdian masyarakat dengan membuat film terkait cinta lingkungan, Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammmadiyah Malang (UMM) mencoba menyebarkan semangat secara massif agar masyarakat lebih peduli untuk menjaga dan mencintai lingkungannya. Rachmad K Dwi Susilo, Dosen Mata Kuliah Sosiologi Lingkungan menyampaikan bahwa melalui film pendek yang diproduksi mahasiswa, Jurusan Sosiologi UMM bisa sekaligus mempromosikan nilai – nilai konservasi lingkungan kepada masyarakat. Selain itu, pemberian tugas ini juga akan membuat mahasiswa belajar untuk memproduksi sebuah karya yang bisa menginspirasi orang lain. “Mereka bisa memilih tema apa saja, saya bebaskan sesuai keputusan kelompok masing-masing,” ujarnya. Salah satu karya mahasiswa Sosiologi UMM yang sangat menginsipirasi adalah Video Sang Inspirator Lingkungan yang menceritakan bagaimana Ribut Hartono seniman dan aktivis lingkungan yang memperjuangkan ketersediaan air bagi lingkungannya. Berawal dari mengantar air secara manual ember per ember kepada para warga kurang mampu saat masih anak-anak, setelah dewasa Ribut akhirnya berhasil memperluas penyaluran air kepada masyarakat Desa Kukuk Kelurahan Punten Kecamatan Bumi Aji Batu. Ribut yang juga merupakan alumni pendidikan dokter hewan ini, melakukan hanyak hal untuk mengubah kondisi desanya. Meski pernah didemo warga pada tahun 2010 silam atas idenya menyalurkan air dari Sumber Air Banyuning ke rumah-rumah warga, langkahnya tak gentar. Ia bahkan berhasil mengairi hampir seluruh desa Punten dengan “air meteran” yang digagasnya. Menurut Rahadi, MSi, Pembina UKM Kelompok Studi Sinematografi Kine Klub UMM apa yang dilakukan Prodi Sosiologi UMM merupakan suatu langkah yang tepat. Sebuah karya audio visual bisa menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan terkait isu-isu tertentu. Hal itu karena pesan yang dikemas dalam sebuah karya audio visual lebih mudah dipahami. Meski demikian, proses produksi film yang dilakukan harus tetap dilaksanakan dengan cermat agar pesan yang disampaikan dapat tepat sasaran. “Pengerjaan konten audio visual harus benar-benar efektif serta jelas tujuannya,” tegasnya. Ia juga menambahkan, soal bagaimana karya itu berdampak bagi masyarakat tergantung pada audiencenya. “Efeknya bisa berupa kognitif, afektif dan behaviour,” tutupnya. Selain film Sang Inspirator Lingkungan, terdapat juga beberapa film lain diantaranya adalah Kampung Impian, Talun Temalun, Petuah dan Greatly Outdoor. (vin/sil)
UMM Konsisten Kawal Perubahan Masyarakat Madura

Infrastruktur merupakan kebutuhan dasar fisik bagi masyarakat. Namun adakalanya infrastruktur yang memadai, menjadi pintu gerbang masuknya arus modernisasi yang mampu menggeser budaya lokal di suatu kawasan. Mengingat hal tersebut, Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencoba melakukan pencegahan, untuk meminimalisir adanya pengikisan budaya akibat perubahan lingkungan khususnya di wilayah Madura. Mengawal hadirnya jembatan penyeberangan Surabaya-Madura (Suramadu), dalam sepuluh tahun terakhir Prodi Sosiologi berbagi informasi dengan masyarakat melalui siaran radio. Adalah Rachmad K Dwi Susilo, Ph.D dan Muhammad Hayat, MA dosen Sosiologi UMM yang menjadi pembicara dalam program tersebut. “Kami mengharapkan, Sosiologi mampu mengawal masyarakat yang sedang berproses dalam sebuah perubahan. Apa yang kami lakukan ini bukti nyata semboyan UMM, dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” tegas Rachmad. Pada kenyataannya, modernisasi yang terus terjadi kerap kali menggeser keberadaan identitas lokal sebuah daerah. Demi membantu menjaga budaya – budaya lokal milik masyarakat Madura, pertukaran informasi lewat radio ini dilakukan. “Lewat talkshow ini kami bermaksud untuk memberikan informasi terkait bagaimana seharusnya masyarakat memposisikan diri ketika ada perubahan. Intinya, meskipun modernisasi terus masuk, masyarakat masih tetap bisa menjaga budayanya, ” tambahnya. Menambahkan Rachmad, Muhammad Hayat, M.A, menyampaikan bahwa selain tujuan di atas, talkshow radio ini juga dilakukan untuk mengenalkan Sosiologi UMM ke masyarakat Madura. Selain itu keduanya juga ingin memberikan gagasan – gagasan sosiologi yang erat kaitannya dengan kondisi di Madura. “Pertama talkshow, respon dari pendengar bagus. Mereka menunjukkan penerimaan informasi yang kita berikan,” jelasnya. Hayat juga menambahkan bahwa talkshow yang sudah berlangsung di berbagai kota di Madura yakni Bangkalan, Sampang dan Pamekasan ini akan terus berlanjut di tahun – tahun berikutnya. “Untuk talkshow yang akan diakukan setelah lebaran ini, rencananya kami juga akan melibatkan mahasiswa,” pungkasnya.(vin/sil)
Berkat Cinta Karya Tulis Ilmiah, Mahasiswa UMM Langganan Juara 1 LKTI Nasional

Rasa cintanya pada dunia menulis membuat Samsul Arifin mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih prestasi demi prestasi. Mahasiswa asal pulau garam Madura ini, sejak 2014 silam telah akrab dengan pencapaian gemilang, khususnya dalam penulisan karya ilmiah. Bulan April lalu, Samsul bersama teman-teman satu timnya ikut serta dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional (LKTI) yang diadakan di Universitas Negeri Jakarta.”Awalnya kami daftar hanya untuk iseng saja, coba-coba mengumpulkan paper,” tutur Samsul Kamis (28/6). Keisengan tersebut ternyata membawa Samsul dan timnya menjadi Juara 1 dalam ajang tersebut. Mereka berhasil unggul dari empat perguruan tinggi lain yang memilih tema pembahasan yang sama. “Jadi sebenernya ada beberapa tema, kebetulan kami memilih tema Pengembangan Media Pembelajaran,” jelasnya. Mengusung konsep konvensional, Samsul dan tim justru berhasil mencuri perhatian para juri. Mereka satu – satunya finalis yang tidak membuat model pembelajaran dengan sistem telepon pintar. Tim Samsul mempresentasikan media pembelajaran inkuiri dimana para siswa dituntut untuk mampu menemukan materi pembelajarannya sendiri. Mereka membuat modul yang dilengkapi dengan preparat anatomi tumbuhan. Tidak disangka, media ini yang mengantarkan Samsul dan timnya meraih Juara. “Awalnya kami minder, rasanya pengen pulang duluan pas liat pesaingnya,” tegasnya. Sebelumnya Samsul juga telah mengikuti berbagai lomba serupa. Ketertarikannya pada penulisan karya ilmiah muncul sejak pertama kali masuk universitas. Serius dengan minatnya, Samsul mengikuti LKTI untuk pertama kali di Universitas Brawijaya tahun 2014. Tidak disangka, momen ini menjadi langkah awal rangkaian prestasinya di bidang karya tulis ilmiah. “Pengalaman pertama kali ikut alhamdulillah langsung terpilih sebagai juara favorit,” ungkapnya bangga. Euforia yang dirasakan saat itu membuatnya semakin bersemangat mengirimkan tulisan – tulisannya keberbagai perlombaan. Meski demikian, ia sempat memutuskan untuk berhenti karena tulisannya tidak kunjung lolos. “Tapi karena banyak orang disekitar saya yang mendukung untuk kembali menulis, jadi saya mulai membuat karya tulisan lagi,”terangnya. Apa yang dicapai Samsul, menjadi kebanggaan juga bagi Prodi Pendidikan Bilogi UMM. Husamah, S.Pd, M.Pd, salah seorang dosen pembimbing menyampaikan bahwa apa yang sudah dicapai anak didiknya saat ini adalah hasil dari usaha bersama antara Prodi dan mahasiswa untuk menciptakan kualitas mahasiswa yang unggul. “Tentu saja ini berkat kemauan yang kuat juga dari anak – anak. Kalau mereka semangat, kami para dosen selalu siap untuk membimbing,” tegasnya. Tahun 2017 lalu, Samsul juga berhasil menjadi juara 3 LKTI tingkat Nasional yang diadakan di Universitas Mulawarman. Akrab dengan prestasi, ia mengajak teman – teman dan juga adik tingkat untuk terus berkarya dan berprestasi. Samsul sendiri mentargetkan diri untuk dapat kembali berprestasi, utamanya di tingkat yang lebih luas. “Ke depan saya berharap bisa mempresentasikan hasil karya di ajang internasional,”pungkasnya. (vin/sil)
UMM Lepas 4.885 Mahasiswa KKN Mengabdikan Diri di Dalam dan Luar Negeri

Terus memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat, hari ini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan Pengarahan dan Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun ajaran 2018/2019 di Hall Dome UMM, Selasa (26/6). Tahun ini UMM melepas 4.885 mahasiswa yang terbagi ke dalam tiga jenis KKN yaitu, KKN Khusus, KKN Internasional dan KKN Muhammadiyah untuk Negeri. Dikelompokkan menjadi 142 kelompok, para peserta akan diberangkatkan pada tanggal (11-13/7). Wakil Direktur Bidang Pengabdian Masyarakat Dr. Masduki, M.Si. menyampaikan tahun ini pelaksanaan KKN di dalam negeri ada di 11 kabupaten/kota, 13 kecamatan, dan 142 desa. “Mereka tersebar di Malang, Probolinggo, Tulungagung, Jombang, Lamongan, Pasuruan, Lumajang, dan Pacitan,” ujarnya. Alik Ansyori Alamsyah, Kepala Divisi KKN menambahkan kelompok-kelompok tersebut harus memiliki program unggulan. Selain mensukseskan program, para peserta juga diminta untuk belajar mempublikasikan programnya melalui media cetak dan elektronik, membuat buku tentang KKN, membuat profil desa hingga video KKN yang kemudian diupload di youtube untuk meluaskan semangat pengabdian masyarakat. Disiapkan secara matang sebelum keberangkatan, setiap kelompok juga dilengkapi dengan berbagai divisi untuk memaksimalkan kinerja. “Masing-masing kelompok terdapat divisi dan program di bidang agama, sosial, ekonomi, kesehatan, kewirausahaan, dan lingkungan,” ujarnya. Sementara itu, untuk KKN Internasional di luar negeri, peserta tersebar di beberapa negara, mulai dari kawasan Asia hingga Timur Tengah. “KKN internasional ada yang ke Thailand 55 orang dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ke Singapura 2 orang dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan ke beberapa negara yang sudah masuk program AIESEC yaitu, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Turki,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor III Dr. Sidik Sunaryo berpesan agar mahasiswa menghindarkan diri dari tindakan-tindakan yang tidak baik serta selalu menjaga nama baik almamater selama menjalani KKN. “Tolong niatan baik kampus dalam rangka pengabdian di masyarakat ini diikuti peran serta mahasiswa dengan cara berperilaku dan bersikap baik,” tutup Sidik.(apn/sil)
UMM Bahas Pengaruh Penanaman Nilai-nilai Terhadap Cara Berlalu Lintas

Memahami perspektif orang lain, ternyata dapat dilihat dari cara seseorang berkendara. Hal ini disampaikan Prof. Ivars Austers dari Latvia University. Di hadapan para dosen dan staf, Ivars memaparkan hasil penelitiannya tentang psikologi lalu lintas. Ia menemukan bahwa kebudayaan di suatu negara, berpengaruh terhadap perspektif seseorang dalam berlalu lintas. “Perspective-taking is not inborn but it is developed in her true life,” ujarnya saat menjadi pemateri pada kuliah tamu Program Studi (Prodi) Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (25/6) yang bertajuk ‘Caring about Perspective-taking’. Lebih dalam Prof. Ivars menyampaikan bahwa perspective-taking berbeda dengan empati. Empati lebih ke kondisi emosional seseorang, sedangkan perspektif taking lebih ke kondisi kognitif atau kemampuan berpikir seseorang. Ivars melanjutkan, Indonesia dan negara-negara Asia lain cenderung memiliki kebudayaan kolektif. Hal tersebut berbeda dengan negar-negara Amerika dan Eropa yang individualis. Kebudayaan ini, juga turut mempengaruhi kemampuan seseorang dalam memahami perspektif orang lain. “Jadi, tadi Prof Ivars banyak mencontohkan perspective-taking dalam berlalu lintas. Kita tidak hanya bertanggungjawab atas kendaraan yang kita bawa, tapi kita juga harus memahami pengendara lain ketika di lalu lintas,” papar Dian Caesaria Widyasari salah satu dosen yang juga menjadi moderator acara. Dian mengaku berbagai materi-materi yang dibawakan Prof Ivars tersebut sangat menarik. Salah satunya, tentang Human Values and Risking Car Driving. Ternyata nilai yang dibawa seseorang sejak kecil mempengaruhi caranya mengendarai mobilnya. “Tadi dicontohkan seseorang yang mengagungkan kekuasaan cenderung apatis tidak memberi aba-aba ketika hendak belok kanan atau kiri di jalan raya. Tetapi berbeda ketika seseorang tumbuh besar dengan nilai-nilai baik yang dikembangkan di lingkungannya, maka dia bisa lebih bijak dalam berkendara,” simpulnya. (Humas UMM)
Semangat Halalbihalal Untuk Hari Esok Menerapkan Nilai-Nilai Spiritual

Nuansa kekeluargaan hangat terasa. Ribuan keluarga dosen dan karyawan mengikuti Halalbihalal 1439 Hijriyah Keluarga Besar Civitas Akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Minggu (24/6) di Hall Dome UMM. Acara diawali dengan sambutan Rektor Fauzan dan tausyiah oleh Prof. Dr. Malik Fadjar MSc selaku Ketua Badan Pembina Harian UMM. Pada kesempatan tersebut, Malik menyampaikan bahwa UMM sejak berdirinya terus mendidik dan membangun tradisi serta banyak memberi kebajikan yang luar biasa. Organisasi yang dinaungi oleh Muhammadiyah ini bergerak dalam bidang pendidikan dan menjadi tempat beramal sholeh. Hal ini membuat UMM menjadi uswah hasanah atau contoh yang baik. Di akhir Malik menyampaikan, momen Halalbihalal kali ini diharapkan dapat memberikan semangat baru khususnya secara spiritual kepada dosen dan karyawan UMM untuk melaksanakan tanggungjawab pekerjaannya. “Setelah Halalbihalal ini seluruh karyawan dan staf UMM diharapkan mampu menyambut kehadiran mahasiswa yang menjalankan tugas-tugasnya serta mempunyai komitmen yang tinggi. Semangat Halalbihalal ini juga kita jadikan untuk hari esok dalam menerapkan nilai-nilai spiritual,” pungkasnya. (sal/sil)
Mesin Cuci Gowes Tanpa Listrik Hasil Karya Mahasiswa UMM

Pemakaian listrik pada mesin cuci membuat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi. Hal ini menggugah sekelompok mahasiswa Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan Mesin Cuci Gowes. Sembari menempuh mata kuliah Pengembangan Produk untuk membuat satu karya, salah satu kelompok yang di wakili oleh Arfian Sinatrya Darussalam berhasil membuat alat baru dengan memodifikasi berbagai peralatan lama. Dibawah bimbingan dosennya Muhammad Lukman, kelompok ini manfaatkan mesin cuci rusak yang sudah tidak dipakai lagi lalu menggabungkannya dengan sepeda. Inovasi yang dilakukan Arvian dan delapan orang anggota kelompoknya ini, memberikan solusi khususnya bagi ibu rumah tangga untuk memudahkan mencuci baju dengan biaya yang relatif murah. Mesin ini dibuat dengan manfaatkan beberapa bagian rangka yang dirangkai dengan semacam gir untuk memutar bagian dalam mesin cuci. Mengandalkan kaki untuk menggowes sepeda, alat ini cukup mudah digunakan. Memakan waktu pengerjaan sekitar tiga bulan, proses penyempurnaan terus dilakukan mulai dari riset hingga produksi. “Kedepannya kami ingin membuat mesin cuci gowes yang lebih baik dan lebih baik lagi,” tutur Arvian. Saat ini mesin cuci gowes masih di pakai secara pribadi oleh Arvian dan teman-temannya di kos. Setelah unjuk gigi di gelar produk universitas, mesin ini akan di ikutkan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Mereka pun berharap kelak mesin ini dapat dikomersilkan. Mata kuliah Pengembangan Produk menjadi awal dari mahasiswa menghasilkan suatu karya, baik memodifikasi yang sudah atau membuat karya baru yang belum pernah ada sebelumnya. Hal ini ditegaskan Sekretaris Prodi Teknik Industri Dian Palupi Restuputri. “Keterampilan jurusan teknik industri salah satunya adalah membuat suatu produk yang mana nantinya dapat diaplikasikan baik untuk dunia industri maupun masyarakat,” tegasnya. (sal/sil)
UMM Ikut Jaga Sumber Mata Air Terakhir di Desa Kucur

Air merupakan salah satu kebutuhan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dengan jumlah populasi manusia yang meningkat, kebutuhan akan air juga terus bertambah. Perubahan ini, memerlukan upaya pelestarian kawasan sumber mata air untuk memastikan ketersediaan air di masa depan. Sebagai bentuk pengaplikasian ilmu pengetahuan bagi masyarakat sekitar, Program Studi Kehutanan Fakultas Ilmu Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta dalam melestarikan kawasan sumber mata air. Melalui penanaman bambu di sekitar sumber mata air Desa Kucur, Kecamatan Dau Kabupaten Malang, Prodi Kehutanan UMM turut menjaga mata air terakhir di daerah tersebut. “Bisa dibilang air itu dibutuhkan di hampir semua aktivitas manusia. Karena sekarang sudah mulai banyak daerah yang beralih fungsi jadi pemukiman, karenanya kita berusaha jaga mata air ini,” jelas Agus Firmansyah Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kehutanan. Lebih lanjut Agus menyampaikan, kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi Prodi Kehutanan UMM untuk kelestarian lingkungan. Tanaman bambu yang dianggap mampu menyimpan air dalam jumlah besar meski di musim kemarau tersebut, diharapkan mampu menjaga ketersediaan dan debit air di sumber mata air ini. “Karena bambu memang bisa menyimpan air banyak, maka dari itu kami berharap dengan semakin banyaknya bambu di sekitar mata air ketersediaan air dapat terjaga bahkan meningkatkan debitnya,” tambah Agus. Kepala Program Studi Kehutanan, Tatag Muttaqin, S. Hut, M.Sc, menyampaikan bahwa kegiatan yang dilakukan ini merupakan bentuk tri dharma perguruan tinggi yang terkait pengabdian dan penelitian. “Bersama masyarakat setempat, kami dosen dan mahasiswa bergotong royong untuk menjaga lingkungan khususnya disekitar kawasan mata air Desa Kucur,” tegasnya. Kedepannya, kegiatan serupa diagendakan akan terus dilakukan. Selain memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat, mahasiswa juga bisa merasakan bagaimana praktek langsung di lapangan. “Dibandingkan sekedar teori, pengalaman di lapangan akan lebih bisa dirasakan oleh mahasiswa karena pada akhirnya semua ilmu tersebut akan dipraktekkan di kehidupan,” tutup Tatag. (vin)
Bawa Kain Khas Daerah ke Kompetisi Tingkat Asia, Mahasiswa UMM Jadi Best Delegates Asia Young Sociopreneurship Leader Exchange

Emha Nelwan Lawani tergolong mahasiswa luar biasa. Selain kesibukannya sebagai ketua senat Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ia masih sempat memenangi sejumlah perlombaan baik luar maupun dalam negeri. Bukan cuma di bidang program studi yang digelutinya, melainkan juga di beberapa bidang keilmuan. Sebutlah baru-baru ini Nelwan, sapaan akrabnya, dinobatkan sebagai best speaker dalam Kompetisi Debat Nasional pada gelaran Festival Retorika Ikatan Pecinta Retorika Indonesia di Universitas Negeri Malang, Jawa Timur. Bersama ke tiga kawan sejurusannya, Rezka Mardhiyana dan Rizqon Fawa’id, berhasil menyisihkan puluhan peserta dari perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia. Tak kalah membanggakan, laki-laki asal Polewali Provinsi Sulawesi barat ini, di bulan Maret 2018 lalu juga dinobatkan sebagai best delegates dalam gelaran Asia Young Sociopreneurship Leader Exchange di Thailand. Berkat perencaan bisnis tentang kain kain khas daerahnya Lipa’ Sa’be, Nelwan berhasil menarik perhatian dewan juri dari Chulalangkorn University, Thailand. Mengikuti perlombaan memang jadi tradisi tersendiri sejak Nelwan duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain untuk melatih mental, aku Nelwan, momen kekalahan juga justru jadi pelajaran terbaik untuk membuatnya bangkit meraih prestasi. “Lama-lama karena sering nyoba dan menang pun beberapa kali, alhamdulillah, jadi ketika dibandingkan ketika menang atau kalah pun sama-sama untung sebenarnya. Sekedar dapat kenalan baru misalnya,” ungkap Nelwan, Rabu (20/6). Selain itu, sambung Nelwan, kalah-menang membuat dirinya terbiasa dengan konflik. Orang yang terlatih mentalnya, sambung Nelwan, akan dengan sendirinya dapat mengukur kesiapan mental. “Ketika kalah kita tetap siap, ketika menang juga kita siap,” tegasnya. Meski demikian, Nelwan tetap mengkondisikan hati untuk tetap bersyukur atas tiap raihan yang didapatnya. Bagi Nelwan, berkuliah di perguruan tinggi swasta (PTS) tidak serta merta membuatnya berkecil hati. UMM, kata Nelwan, memberi banyak kesempatan kepada mahasiswanya untuk beraktualisasi sesuai dengan bidang yang digelutinya. “Ketika awal-awal masuk UMM sedikit ada yang mencemooh. Meski begitu, karena melihat jurusan Psikologi UMM sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia, saya tetap bangga pada pilihan saya,” tuturnya. Banyak mahasiswa Muhammadiyah yang menang di tiap kompetisi, justru dinilai Nelwan sebagai ladang dakwah tersendiri. “Bahwa instansi-instansi yang mengatasnakaman Islam tak kalah unggul dengan perguruan tinggi lainnya,” tandas Nelwan. (chan/sil)
Jadi Pengajar Kelas Internasional di Polandia, Dosen UMM Ajarkan Penerapan MSDM Islami

Menjadi pengajar bagi para foreigners (orang asing) di Indonesia mungkin sudah biasa. Tapi apa jadinya kalau dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengajar langsung para foreigner di tempat asalnya. Cerita inilah yang dialami Sri Budi Cantika Yuli, SE, MM, dosen D3 Keuangan Perbankan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM. Sri merupakan salah satu dosen UMM yang berkesempatan menerima beasiswa Erasmus+ Programme : Staff Mobility for Teacher, yakni program beasiswa bagi staf akademik untuk merasakan mengajar para mahasiswa asing di Eropa. Selama seminggu, (3-10/6) lalu, Sri mengajar kelas internasional di WSB University in Poznan, Polandia. Di Polandia, Sri mengajar sesuai bidang penelitian disertasinya yakni Islamic Work Ethics, Islamic Human Resource Management dan Islamic Organizational Culture. “Jumlah mahasiswa per kelas 15 orang, mereka berasal dari beberapa negara tetangga sekitar Polandia, yaitu dari Ukraina, Kenya, Kyrgysztan dan ada yang dari Bangladesh,” terangnya, Selasa (19/6). Tidak disangka, perspektif Menejemen Sumber Daya Manusia (MSDM) Islami yang diusung Sri ternyata membawa ketertarikan tersendiri bagi para foreigners. “Mereka banyak bertanya tentang perspektif Islam itu seperti apa dan mengapa saya mengkaitkan Manajemen dengan perspektif Islam. Bagi mereka, apa yang saya ajarkan ini benar-benar hal baru yang menarik,” terangnya. Bukan hanya itu, uniknya dalam bahan ajar yang diangkat dari penelitian disertasinya tersebut, UMM dijadikan contoh kasus saat Sri mengajar. Diantaranya Islamic Work Ethics atau etika kerja Islami yang diterapkan di UMM sudah sesuai dengan nilai-nilai Islami yang berlandaskan Al Qur’an dan Hadits. “Proses manajemen sumberdaya manusia yang digunakan di UMM sesuai dengan nilai-nilai Islami. Mulai dari sistem rekrutmen, seleksi, penilaian kinerja, pelatihan dan pengembangan, sistem kompensasi. Selain itu, Islamic organizational culture atau budaya organisasi yang diterapkan UMM yang sesuai dengan nilai-nilai Islami yaitu shiddiq, amanah, tabligh, fathonah,” urainya. Meski hanya seminggu, bagi Sri, pengalaman mengajar di WSB University in Poznan, Polandia ini menjadi pengalaman yang begitu mengesankan. “Selain karena mahasiswanya aktif dan mereka banyak tanya, juga karena saya mengajar tentang Menejemen Sumber Daya Manusia Islami dan Budaya Organisasi Islami yang belum pernah mereka dengar sebelumnya,” tukasnya. (chan)