Miliki Keluarga Baru di Indonesia, Mahasiswa UMM Asal Palestina Rayakan Idulfitri di Malang

Memutuskan untuk meninggalkan kota Ramallah, Palestina  sejak akhir Agustus 2017 silam, merangkaikan kisah panjang selama di Indonesia bagi Monther Rasheed. Menjadi penerima beasiswa Darmasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 2017, mengaharuskan pria kelahiran Hebron, Palestina ini untuk tinggal selama satu tahun di Indonesia. “Saat saya tahu saya mendapatkan beasiswa di Indonesia, saya yakin dengan negara ini. Bagi kami orang-orang Palestina, orang-orang di Indonesia sangat peduli dengan kami,” jelasnya. Perjalanan beasiswa Monther di mulai di Kota Malang. Menjadi generasi baru Kampus Putih, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) 2017 mengiringi perjalananya untuk mendapat keluarga baru di Indonesia. “Sejak pertama kali saya di UMM, saya sangat bangga dengan kampus ini. Semua orang baik dan anggap saya adalah keluarga baru mereka,” tuturnya. Ditemui tiga hari sebelum hari Raya Idulfitri, mahasiswa yang selalu membawa bendera Palestina kemanapun ia pergi ini dengan menggebu-gebu mengisahkan semangat Palestina saat merayakan hari raya. “Kami di Palestina tidak pernah bersedih lama-lama. Bagi kami, hidup kami harus berjalan terus. Pada hari raya pun, kami juga merayakannya seperti orang lain lakukan,” ceritanya dengan wajah bahagia. Di hari raya tahun ini, ia mengaku sengaja untuk tidak segera kembali ke Palestina. Ia ingin merasakan bagaimana berhari raya dengan keluarga barunya, adalah Achmad Habib yang juga dosen UMM sangat terbuka untuk memberikan Monther dan beberapa kawannya untuk tinggal bersama di kediamannya. “Keluarga baru saya adalah Pak Habib, beliau memberikan kami tempat tinggal dan dia juga sangat baik dengan kami. Dia merasa kami keluarganya dan saya juga senang bisa punya ayah di sini,” tutur mahasiswa Bahasa Indonesia UMM ini. Pria dengan kegemaran fotografi ini juga memaparkan bagaimana kebiasaannya bersama keluarga saat hari raya. Ia mengaku hari raya di sini akan menjadi seperti hari raya di Palestina karena ia pula akan berkunjung ke rumah beberapa teman di Indonesia. “Saya rasa hari raya saya di sini akan menjadi hari raya seperti di Palestina, karena saya juga akan berkunjung ke rumah teman,” tutupnya. (nis/ sil)

Lewat One Person One Thousand, Lulusan Terbaik FAI UMM Ini Beri Bantuan ke Sejumlah Daerah di Indonesia

Bagi Jundi, menjadi lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,83 tidak bermakna apa-apa jika tidak bernilai kebermanfaatan bagi orang sekitarnya. Bekal beasiswa Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) yang diterimanya untuk menuntut ilmu di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) benar-benar dimanfaatkannya dengan baik. Penghayatannya pada ilmu pengetahuan selama di rantau, diaplikasikan putra asli Nusa Tenggara Barat (NTB) ini dalam bentuk pengabdiannya kepada masyarakat melalui komunitas yang ia dirikan bersama kawan-kawan kuliahnya. Ia namakan komunitas itu Komunitas Peduli Indonesia atau disingkat KOPI, komunitas beranggotakan anak muda Indonesia yang fokus pada kegiatan sosial dan pendidikan. Salah satu programnya One Person One Thousand, yakni sumbangan para anggota atau partisipan melalui medium celengan yang diisi setiap harinya uang senilai Rp 1000,- saja. Uang yang terkumpul tiap bulannya lantas disalurkan untuk beragam hal. ”Beberapa di antaranya Rumah Baca Lentera di Lamongan, mengirim buku ke Nusa Tenggara Timur, mendonasikan buku ke anak didik KOPI di Ngawi, membelikan hewan qurban di Malang, berbagi makanan untuk para pengemis dan anak jalanan, membantu berobat orang tua kurang mampu, biaya relawan mengajar ke desa-desa pelosok setiap hari Minggu, serta dijadikan modal untuk mendirikan Rumah Baca KOPI,” sebut Jundi. Sekembalinya Jundi yang baru saja diwisuda pada Mei lalu, kembali ke kampung halamannya dan bertekad untuk tetap melanjutkan perjuangan komunitas yang matian-matian ia perjuangkan itu. Termasuk diantaranya yang tengah Ia jalankan di daerah asalnya Sembalun, Lombok Timur dengan menggarap pertanian organik. (chan)

Hari Raya Momen UMM Ajak Umat Islam Pelopori Perdamaian Antar Umat

Menjadi penanda untuk menyambut hari nan fitri, sholat Hari Raya Idul Fitri juga tidak luput menjadi ajang silaturahim perdana setelah bulan suci Ramadan. Berlangsung dengan khidmat di pelataran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sholat Idul Fitri tahun ini mengusung tema tausyiah Berdamai dengan Semua Umat. Acara yang langsung dipimpin oleh Rektor UMM Fauzan ini, dibuka dengan sambutan dan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri oleh sang Rektor. “Pada pagi yang sangat khidmat ini, ijinkan saya menjadi wakil dari UMM untuk menyampaikan segala bentuk kehilafan dan kesalahan kami selama kami bekerja,” tutur pria asal Kediri tersebut. Kegiatan sholat Idul Fitri dilanjutkan dengan tausyiah singkat yang disampaikan kali ini oleh Faridi salah satu dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM. “Tausyiah yang akan saya bawakan hari ini berhubungan bagaimana kita menjaga hubungan kita dengan sesama manusia,” paparnya dalam pembukaan khutbah. Faridi memberikan gambaran nyata bagaimana seharusnya manusia, utamanya umat Islam yang telah ditempa selama satu bulan dalam naungan Ramadan untuk terus berjuang membangun perdamaian. “Kita adalah umat Islam yang selalu mengajarkan keindahan, maka tak elak kita juga harus memperjuangkan perdamaian itu pula,” jelasnya. Menjadi umat Islam yang baik adalah dengan tidak mudah meciptakan perpecahan dalam hidup bermasyarakat. Salah satunya saat memilih pemimpin, seperti apa yang dipesankan Nabi Muhammad saw. “Rasul mengingatkan bahwa seorang pemimpin yang baik akan selalu mengusung misi perdamaian,” pungkasnya. Setelah menikmati kekhidmatan di tengah sholat berjamaah, sebagai wujud syukur dan melestarikan kebiasaan dalam menjalin silaturahim, seluruh karyawan dan dosen UMM dihaturkan dalam agenda Open House yang juga dihadiri oleh Rektor UMM. “Rasanya senang sekali saya dapat bergabung bersama dengan anda semua dalam keadaan fitri untuk merayakan kemenangan,” ujar Fauzan. Silaturahim menjadi salah satu bagian terpenting UMM untuk merekatkan rasa keakraban dan kekeluargaan. Dalam suasana kekeluargaan,  menikmati sajian khas Hari Raya Idul Fitri juga menjadi salah satu kewajiban untuk terus mengingat nikmat dari-Nya.(nis/ sil)

Screentel Padi, Inovasi Mesin Ramah Lingkungan dan Dompet Petani

Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan alat alternatif pengayak padi yakni Screentel Padi. Screentel Padi atau pengayak padi adalah sebuah alat untuk memisahkan bulir padi dari gagangnya. Hadir diantara teknologi konvesional dimana petani masih manual merontokkan padi dengan tangan dan memanfaatkan penggunaan mesin berbahan bakar BBM,  Screentel hadir membawa angin segar. Didisain istimewa alat ini tidak membutuhkan bahan bakar untuk pengoperasiannya. Selain hemat energi,  resiko cedera otot yang dialami petani karena cara tradisional juga dapat diminimalisir. “Screentel padi sebagai alat pengayak padi yang di desain ergonomis untuk mengurangi cidera otot pada sebagian petani yang setiap hari mengayak padi secara tradisional,” ujar Cyntia Dea Saputri salah satu anggota kelompok pembuat Screentel. Memiliki berbagai kelebihan diatas,  penggunaan alat ini juga cukup mudah. Petani hanya perlu mengayuh pedal di alat dan  nantinya otomatis Screentel dapat bekerja sendiri dengan gir maju mundur yang bisa di setting sesuai yang pengguna inginkan. Dengan demikian, alat ini dapat meringankan petani terutama mereka yang masih tradisional dan menggunakan sabit. Meski terkesan sederhana, hasil pemisahan bulir padi yang dihasilkan sama kualitasnya dengan mesin berbahan bakar. Memiliki berbagai keunggulan di atas,  Screentel padi sudah di ikutkan perlombaan di Universitas Sebelas Maret Surabaya pada acara Descomfirst 2018 dengan tema Desain Manual Tools pada (5-6/5) 2018. Hal ini membuat Cyntia dan timnya bangga,  apalagi mengingat alat tersebut awalnya didisain dengan sederhana. “Bahagia karena hanya dengan berawal dari sebuah coretan berhasil membuat alat yang seperti ini, kami juga berusaha memperbaiki apa saja yang masih kurang pada alat ini,” tandasnya. Terus berusaha menyempurnakan Screentelnya,  Cyntia dan tim telah merencanakan “masa depan” alat ini. Mereka pun berkeinginan untuk memasarkan alat tersebut dengan harga yang cukup bersahabat dan ramah di kantong petani. “Rencananya nanti jika dikomersilkan akan kami jual dengan kisaran harga 1,5 hingga 2 juta rupiah,” tutupnya. (Humas UMM)

Mahasiswa UMM Pamerkan Tarian Tradisional pada Tong Tong Fair di Belanda

Indonesia terkenal sebagai negara kepulauan yang kaya akan budaya. Banyaknya kebudayaan yang dimiliki, perlu dilestarikan utamanya melalui generasi muda sebagai penerus bangsa. Venska Natasha Olivia contohnya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) ini menjadi salah satu perwakilan Duta Budaya Indonesia di Belanda berkat prestasinya sebagai Runner Up Roro dalam ajang pemilihan Joko Roro Kabupaten Malang Tahun 2018. Dalam kegiatan bertajuk Tong Tong Fair 2018 yang berlangsung di Den Haag pada (22/5-3/6) lalu, Venska berkesempatan unjuk gigi bersama dengan empat rekan lain yang merupakan Joko Roro Kabupaten Malang. Mereka menampilkan tari-tarian tradisional Indonesia khususnya yang berasal dari Jawa Timur seperti Tari Rancak Malangan, Tari Remo, Tari Topeng Bapang dan Tari Gading Alit. “Ketika menari di atas pentas yang ditonton banyak orang asing membuat saya bangga. Respon  antusias dari mereka semakin membuat saya bersemangat menampilkan yang terbaik,” tuturnya bangga Selasa(12/6). Selama satu minggu (22-27/5), Venska dan perwakilan lainnya tidak hanya menampilkan berbagai budaya Indonesia lewat tarian. Mereka juga membuka stand budaya yang menjual beragam jenis kain batik malangan dan kuliner khas yang tidak dapat dijumpai di negeri Belanda. “Karena saat festival itu kita pakai pakaian tradisional lengkap dengan riasan dan sanggul bagi perempuan, banyak warga Belanda tertarik hingga banyak yang meminta untuk foto bersama,” jelasnya. Menurutnya, melalui festival budaya ini banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di Belanda bisa bernostalgia dengan suasana Indonesia khususnya melalui makanan yang disajikan. Selain itu, masyarakat Belanda pun dapat melihat betapa beragamnya budaya negeri kepulaun terbesar di dunia ini. “Tidak hanya orang Indonesia yang menikmati gelaran festival ini, tapi orang-orang Belanda juga banyak yang tertarik untuk tahu lebih dalam tentang kebudayaan kita,” tambahnya. Pembina UKM Putra-Putri Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Shinta Ayu Purnamawati, S.H, M. H, mengaku bangga dengan apa yang dicapai oleh mahasiswanya ini. “Semoga ini bisa memicu mahasiswa lain dan anak muda secara umum untuk bisa ikut serta menunjukkan bakat sekaligus mempromosikan dan melestarikan budaya bangsa,”urainya. Tong Tong Fair merupakan festival untuk budaya Indonesia yang digelar oleh Yayasan Tong Tong. Festival ini diadakan setiap tahunnya di Belanda dan tahun ini merupakan gelaran yang ke-60. Festival ini digelar sebagai bentuk ekspresi kebudayaan Hindia Belanda, sebagai bentuk perayaan kesuksesan migrasi WNI ke Belanda. (Humas UMM)

Ilmu Pemerintahan UMM Konsisten Bukukan Tugas Akhir Mahasiswa

Bagi Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintah (IP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menerbitkan buku nampaknya bukan cuma tradisi milik dosen, melainkan juga mahasiswanya. Baru-baru ini, Yudi Kurniawan, alumni Prodi IP pada Maret lalu menerbitkan buku berjudul “Dinamika Pemerintahan, Politik, dan Ekonomi Lokal: Proses Politik dalam Wacana Pemekaran Provinsi Madura”.  “Wacana pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) yang lahir dari kebijakan otonomi daerah merupakan isu yang sangat penting untuk mencermati perkembangan dinamika pemerintahan, politik dan ekonomi lokal suatu daerah, khususnya bagi masyarakat di daerah,” kata penulis yang meraih gelar wisudawan terbaik ketiga tingkat Prodi Ilmu Pemerintahan tahun 2017 lalu ini. Dalam buku setebal 190 halaman itu, laki-laki kelahiran Kabupaten Sumenep ini  membahas tentang latar belakang munculnya wacana pemekaran Provinsi Madura, peran-peran kelompok sebagai forum diskusi tentang wacana pemekaran Provinsi Madura, otonomi daerah sebagai dasar pemikiran masyarakat, dan kondisi serta perkembangan daerah kabupaten di Madura. “Pemekaran daerah lahir atas inisiatif masyarakat yang merasa kurang mendapatkan perhatian lebih dari Pemerintah. Apalagi bagi daerah yang memiliki nilai budaya yang kuat serta kekayaan alam melimpah, yang itu tidak bisa dinikmati oleh masyarakatnya sendiri,” tegas Yudi. Buku karya perdana Yudi ini bisa ditemukan di seluruh toko buku di Indonesia. Kepala Prodi Ilmu Pemerintahan, Salahuddin, S.I.P., M.Si, M.P.A. menerangkan, dibukukannya tugas akhir mahasiswa ini menjadi strategi Prodi mempublikasikan tugas akhir mahasiswa kepada publik. Selain itu, sambung Salahuddin, buku tersebut juga dijadikan sarana mencitrakan diri alumni Prodi Ilmu Pemerintaan di daerahnya masing-masing. “Dengan diterbitkannya buku ini, kami telah membuktikan bahwa alumni Prodi Ilmu Pemerintahan UMM itu layak ditempatkan dimanapun, terutama sesuai dengan bidang studinya. Itu dasar diadankannya program ini,” terang Salahuddin. Kedepan, Prodi Pemerintahan akan menggarap sejumlah buku lainnya dengan tema seputar sistem pemerintahan desa, dinamika politik lokal, juga tata kelola pemerintahan daerah. (can/sil)

Puasa MengajarkanTentang Menjaga Amanah di Bulan Ramadhan

Ramadhan menjadi momen untuk menyegarkan kembali semangat beribadah. Semangat ini, tidak hanya dapat dibangun dalam hal keagamaan, semangat Ramadhan seharusnya juga dapat hidup di    berbagai lini dalam kehidupan manusia untuk menjadi lebih baik, dalam hal pekerjaan misalnya. Hal ini disamapaikan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Nazarudin Malik, SE, M.Si. Ia menyampaikan, bahwa ibadah puasa, yang merupakan ibadah wajib bagi umat muslim pada bulan Ramadhan mengajarkan satu hal yakni tentang dimensi kejujuran. Jika diterjemahkan dalam hal pekerjaan, ini mengajarkan manusia tentang sifat amanah. “Puasa ini seharusnya dapat diterjemahkan dalam harmonisasi kehidupan sosial. Orang yang amanah akan selalu ingin berbuat yang terbaik bagi lingkungan sekitarnya,”urai Nazar pada Baitul Arqam bagi Dosen dan Karyawan UMM, Jumat (9/6). Melanjutkan paparannya, Nazar menyampaikan bahwa selain berpuasa ada banyak amalan lain yang dapat dilakukan di Bulan Ramadhan, contohnya seperti beri’tikaf. I’tikaf tidak hanya bisa dilakukan di malam hari tetapi juga di waktu siang. I’tikaf diwaktu siang menurutnya dapat dilaksanakan dengan menggelar majelis-majelis ilmu seperti Baitul Arqam. “Selain meningkatkan keimanan, beri’tikaf di siang hari juga perlu untuk membangun hubungan secara batiniyah antar dosen dan karyawan. Apalagi bekerja di bulan puasa tidak lain termasuk berkhidmat di Amal Usaha Muhammadiyah,”tambahnya. Selain materi tentang Bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah yang dibawakan Nazar ada juga materi tentang Menjalani kehidupan dengan landasan tauhid. Materi ini penting guna menjaga kemurnian tauhid dan kepercayaan hanya kepada Tuhan Yang Esa yaitu Allah SWT. Terakhir, materi kelima ada materi tentang pandangan Muhammadiyah dalam Beragama. Baitul Arqom merupakan kegiatan sejenis majelis ilmu yang diperuntukkan para karyawan dan dosen UMM bdan berlangsung Senin-Sabtu (4-9/6). Secara bergantian, selama sehari para dosen dan karyawan akan mengikuti berbagai materi yang disampaikan oleh pemateri baik dari internal maupun eksternal. (apn/sil)

Psikologi UMM Inisiasi Pendampingan Lanjutan Sekolah ADEM Daerah 3T

Setelah sukses menjalankan program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) 2017 lalu, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menindaklanjuti program ini dengan menginisiasi pendampingan lanjutan kepada 32 sekolah di Papua dan Papua Barat penyelenggara ADEM daerah 3T (tertinggal, terpencil, terluar). “Daerah-daerah 3T merupakan bagian wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sampai saat ini masih kurang memiliki akses pendidikan yang baik. Kondisi infrastruktur yang terbatas di daerah 3T menyebabkan pendidikan semakin tidak merata, sehingga anak-anak dari daerah 3T kurang merasakan pendidikan yang layak,” terang ketua prodi Psikologi, Siti Maimunah, S.Psi. MM., MA. Materi pendidikan yang baik ditunjang dengan fasilitas yang memadai, kata Siti, dapat meningkatkan kompetensi siswa dalam bidang akademis, dan kompetensi ini dapat mengarahkan siswa untuk mengetahui minat dan bakatnya. Namun tidak dengan siswa program ADEM 3T, keterbatasan materi pendidikan yang diterima di daerahnya sedikit menyulitkan mereka dalam memahami potensi yang dimiliki. “Oleh karena itu, diperlukan bantuan tes minat dan bakat bagi siswa program afirmasi pendidikan menengah untuk menggali potensi siswa dan membantu mereka untuk berhasil dalam studinya. Sehingga upaya pemerintah dalam melakukan penyetaraan pendidikan sebagai wujud mencerdaskan kehidupan bangsa dapat terwujud,” jelasnya. Disampaikan Siti, capaian dari kegiatan ini adalah laporan kondisi setiap peserta didik mengenai kemampuannya masing-masing pada bidang tertentu sesuai dengan minat dan bakatnya. Laporan ini, kata Siti, dapat menjadi informasi atau data bagi sekolah yang dituju, sebagai dasar bagi sekolah atau guru dalam memberikan penanganan dan layanan pendidikan yang komprehensif. “Secara spesifik, laporan hasil siswa kelas X dapat dijadikan bahan acuan dalam membimbing dan mengembangkan potensinya selama masa studi sesuai dengan hasil tes dan jurusan yang diambil. Sedangkan bagi siswa kelas XII dapat sebagai dasar dalam pengambilan jurusan di perguruan tinggi,” urai Siti. Fakultas Psikologi UMM, sambung Siti, telah banyak menjalin kerjasama baik dengan instansi pemerintah maupun swasta dalam melakukan kegiatan yang sama. Oleh karena itu Fakultas Psikologi UMM sangat berkompeten dalam melakukan kegiatan identifikasi potensi siswa melalui asesmen potensi kecerdasan, minat dan bakat siswa. “Melalui aspek-aspek tersebut akan diperoleh gambaran yang komperhensif tentang minat bakat siswa yang selanjutnya pemerintah melalui Direktorat Pendidikan Khusus Layanan Khusus dapat mengembangkan potensi positif dari siswa sehingga menjadi siswa yang berprestasi baik akademik maupun non-akademik,” tandasnya. (vin)

UMM Edukasi Masyarakat Bijak Bersosial Media di Tahun Politik

Membahas tentang sosial media berarti pula membahas kemajemukan pemikiran para penggunanya. Sosial media juga merupakan wadah bagi seluruh lapisan masyarakat untuk menyampaikan opininya. Hal tersebut terbukti sejak tahun 2010, masyarakat kita mulai dipercobakan dengan istilah post-truth. Post-truth merujuk pada suatu keadaan di mana emosional seorang individu lebih berpengaruh dari pada fakta objektif dalam membentuk opini. Post-truth merupakan buah dari massifnya penggunaan sosial media di tengah masyarakat kita. “Saat ini sosial media adalah salah satu alat penentu irama kita dalam meyakini sesuatu, tak luput juga dalam beragama,” jelas Rohman Budijanto Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Post-Otonomi (JPIP) pada agenda Buka Bersama Media dan Jajaran Pers, Selasa (5/6). Pada acara yang dihelat oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, Rohman Budijanto atau yang lebih akrab disapa Roy ini menyampaikan ulasan-ulasannya tentang bagaimana masyarakat Indonesia yang beragam ini mulai bangkit dalam menciptakan opini-opini yang diharapkan dapat menjadi sebuah kepercayaan bagi masyarakat luas. “Apa yang tergambar di sosial media masyarakat kita saat ini adalah rupa kepedulian masyarakat kita terhadap fenomena yang ada di tengah masyarakat,” tutur pria kelahiran Magetan lima puluh tahun silam ini. Roy menyampaikan banyak sekali dari opini itu megarah pada diskusi yang tidak jelas. Lebih lanjut, Penasihat Lembaga Informasi Komunikasi (LIK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur ini juga menguraikan bagaiman sosial media menjadi media yang sangat empuk untuk membahasa tahun yang paling dinanti oleh masyarakat yakni, tahun Politik. “Tidak ada tahun yang paling dinanti kecuali tahun ini, yaitu tahun Politik. Di tahun ini, sosial media akan menjadi bagian penentuan pendapat masyarakat dalam berpolitik,” ucapnya. Di akhir, penulis buku Amplop Adalah Candu Bagi Jurnalis ini memaparkan padangannya tentang bagaiman gejolak politik di sosial media akan sangat berimbas kepada padangan berpolitik seluruh lapisan masyarkat. Ia pun berharap masyarakat tetap cerdas menyikapi berbagai isu yang berkembang di sosial media. “Harapannya, masyarakat menjadi lebih cerdas dan tidak dengan mudah terpengaruhi oleh hal-hal negatif dari bersosial media itu,” pungkasnya. (nis/sil)

Sambut Maba 2018 UMM Luncurkan Inkubator Akselerasi Mahasiswa Berprestasi

Siapa yang tidak senang bila mendapat prestasi di bidang – bidang tertentu sesuai keahliannya, rasanya hampir tidak ada. Manisnya buah kerja keras pasti memacu seseorang untuk semakin ingin berprestasi. Itulah yang akhirnya dijadikan pemacu oleh Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Imu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mendorong akselerasi mahasiswanya dalam berprestasi. Melalui program Inkubator Mahasiswa Berprestasi, jurusan ini memfasilitasi mahasiswa untuk bisa mengembangkan minat dan bakat dengan maksimal. Sekertaris Jurusan Prodi Biologi Husamah, S.Pd, M.Pd menyampaikan kehadiran inkubasi ini dapat menjadi satu wadah untuk menumbuhkan benih – benih mahasiswa berprestasi. “Jadi sejak awal masuk, ibaratnya kami sudah mencekoki mahasiswa untuk terus semangat berprestasi,” tegasnya. Lebih lanjut Husamah menguraikan, banyak mahasiswa yang merasa kebingungan ketika mengerjakan sesuatu. Mereka tidak tahu harus memulai dari mana, padahal banyak dosen yang siap dan terbuka untuk bisa diajak berdiskusi hingga dapat menemukan solusi. “Kadang mahasiswa itu kalau buntu ya sudah, tidak mau melanjutkan lagi. Hadirnya program ini dibuat untuk mahasiswa – mahasiswa yang bingung mencari teman diskusi,”tandasnya. Kaprodi Biologi saat ini, Dr. Iin Hindun, M. Kes, mengatakan demi mendukung adanya program inkubator tersebut mulai penerimaan mahasiswa baru ini pihak jurusan akan langsung fokus untuk mengelompokkan mahasiswa sesuai dengan minat bakat yang mereka miliki. “Minat dan bakatnya tidak hanya untuk bidang akademik, tetapi semuanya. Intinya kami berusaha sedini mungkin mendeteksi potensi yang dimiliki mahasiswa,” tutup Iin. (Humas UMM)