Kolaborasi Mahasiswa UMM dan Singapore Polytechnic Manfaatkan Limbah Whey Jadi Biogas

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Singapore Polytechnic (SP) pada program Temasek Foundation International – Specialist Community Action and Leadership Exchange (TFI-SCALE) dan Learning Express (LeX) memanfaatkan limbah Whey Mozzarella jadi bahan bakar alternatif biogas. Ha ini dilakukan di industri pembuatan keju mozarella Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Merjosari, Kota Malang. Whey sendiri merupakan sejenis cairan berwarna semi-transparan dalam jumlah yang besar. Karena sebagian besar produksi keju di dunia umumnya menghasilkan whey. Sebanyak 50% total whey yang diolah menjadi produk makanan serta minuman, sementara 50% lainnya terbuang menjadi limbah. Dengan mengusung konsep Sustainable Development Goals (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, di agenda ini mereka membuat produk yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Demikian dijelaskan Muhammad Oddy Nurfiansyah, salah satu peserta Program TFI-SCALE dan LeX dari UMM. “Tujuannya adalah untuk memenuhi need statement yaitu kami perlu mengurangi produksi limbah untuk meningkatkan laba. Dengan mendukung need statement tersebut, kami akhirnya memiliki ide membuat whey itu menjadi biogas,” tandas mahasiwa Program Studi Hubungan Internasional UMM ini. “Saya rasa proyek ini sungguh sesuatu hal yang unik karena ada banyak hal yang tidak kita dapat di sana (Singapura) bisa kita temui disini,” ujar Muhammad Iqbar Bin Hisyam selaku Student Coordinator dari Singapore Polytechnic saat ditemui di Auditorium BAU UMM, Rabu (2/10) di sela gelaran Galery Walk memamerkan produk. Sebelumnya selama 3 pekan, mereka belajar tentang Sustainable Development Goals (SDG) dan Design Thinking di Singapura. Dilanjutkan dengan dua minggu di Indonesia dan observasi ke beberapa Usaha Kecil Menengah (UKM) di Malang. Salah satunya pemanfaatan limbah Whey agar punya nilai manfaat. (riz/can)
UMM Bekali Generasi Milenial Jadi Agen Perubahan lewat Socio-ecopreneurship

Generasi Y dan Z sedang menghadapi masalah yang menantang hingga saat ini. Hal ini terutama berkaitan dengan bagaimana komunitas berkembang sedemikian rupa untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Salah satu topik yang muncul untuk meningkatkan kualitas hidup mereka adalah konsep Socio-ecopreneurship. Dengan demikian, socio-ecopreneur datang sebagai peluang yang menjanjikan. “Socio-ecopreneur merupakan generasi baru wirausaha, yang menyoroti peran mereka sebagai agen perubahan sosial,” demikian disampaikan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Syamsul Arifin MSi saat menjelaskan latar belakang penyelenggaraan Nationwide University Network in Indonesia (NUNI) 2019, 2-4 Oktober 2019 lewat tema besar menyiapkan milenial menjadi socio-ecopreneurship. “Salah satu aksi yang dapat dilakukan yakni dengan membiasakan dan melibatkan generasi muda dengan gagasan socio-ecopreneurship yang diharapkan dapat menghasilkan individu-individu yang memiliki motivasi dan dorongan diri dengan kesadaran sosial dan komitmen sosial yang tinggi,” kata Syamsul. Agenda ini akan diisi dengan Student Camp, Presidential Forum, NUNI Meeting, serta Networking Dinner. “Kesadaran sosial dan komitmen sosial yang tinggi, sambung Syamsul, yang dilengkapi dengan dorongan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan sosial atau memperbaiki masalah sosial dengan menerapkan prinsip-prinsip ilmu dan kepekaan, empati, pembuatan ide, membuat prototype dan kesediaan membantu sesama adalah kekuatan pendorong dari proses ini,” tandas Syamsul di ruangannya, Selasa (1/10) siang. Materi Student Camp sendiri berisi tentang design thinking untuk problem solving terhadap permasalahan yang dihadapi Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan basis kewirausahaan. Peserta Student Camp NUNI 2019 adalah dari mahasiswa yang terdiri dari 21 universitas dengan total 63 peserta. Student Camp akan diadakan di wilayah binaan UMM, yakni Kampung Hijau “Tempenosaurus”, Desa Beji, Kota Batu. Sementara, materi Presidential Forum berisi kebijakan-kebijakan di lingkup pendidikan tinggi untuk pengembangan perguruan tinggi. Peserta Presidential Forum adalah seluruh rektor perguruan tinggi yang menjadi anggota NUNI. Sedangkan peserta NUNI Rector Meeting adalah para Rektor/Direktur/Sederajat anggota NUNI. Dan, peserta NUNI Staf Meeting adalah staf masing-masing perguruan tinggi anggota NUNI. Dijadikannya UMM sebagai tuan rumah penyelenggaraan NUNI 2019 ini, tak lepas dari kiprah UMM yang senantiasa mengabdikan diri pada masyarakat. Utamanya melalui konsep eko-wisata atau pemanfaatan potensi daerah dengan tujuan mensejahterakan masyarakat. Kampung Hijau “Tempenosaurus” yang dijadikan venue penyelenggaraan Student Camp 2019 sebagai percontohan pendampingan yang dilakukan UMM. Jauh sebelum viralnya Kampung Hijau “Tempenosaurus”, UMM sebelumnya juga sudah melakukan pendampingan di salah satu wilayah kumuh di Kota Malang, yakni di Jodipan, Kecamatan Blimbing melalui branding Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ). Pendampingan yang berangkat dari praktikum mahasiswa Ilmu Komunikasi ini berhasil menaikkan taraf hidup masyarakat hingga keberhasilannya dilirik mancanegara. (can)
UMM Bina Nelayan dan IRT Sapeken Lejitkan Potensi Ekonomi

Kepulauan Sapeken merupakan kecamatan terjauh dan paling timur (terluar) dari Kabupaten Sumenep. Akses menuju Kepulauan Sapeken cukup sulit akibat faktor geografis dan sarana penunjang transportasi belum memadai, sehingga menyebabkan kecamatan ini semakin terisolir, mengalami kesenjangan, dan jauh tertinggal dari kecamatan lainnya, khususnya dari Sumenep daratan. Angka kemiskinan di daerah yang terletak di kepulauan Madura ini masih cukup tinggi. Sebenarnya Kepulauan Sapeken memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) berbasis bahari atau kelautan yang cukup besar dan sangat potensial untuk dikembangkan. Butuh pihak pendamping untuk melejitkan potensinya. Merasa terpanggil, tim dosen dari Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pengabdian masyarakat, yang difokuskan pada pendampingan Industri Rumah Tangga (IRT) Pembuatan Oleh-oleh khas Kepulauan Sapeken dan kelompok nelayan penangkap ikan. Kegiatan itu disponsori Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) melalui skim Program Penerapan Teknologi Tepat Guna Kepada Masyarakat (PPTTG) tahun 2019. Kegiatan ini juga berkoordinasi dengan tim Community Development (COMDEV) Kangean Energy Indonesia (KEI), sebuah perusahaan minyak dan gas (migas) yang beroperasi di Kepulauan Sapeken yang telah menginisiasi pemberdayaan masyarakat. Dr. Iin Hindun MKes, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil observasi dan riset yang dilakukan oleh beberapa dosen sebelumnya, dengan difasilitasi Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas-KEI terungkap bahwa daerah tersebut menyimpan potensi kelautan yang sangat besar. “Namun kami berfokus pada dua hal, yaitu mengangkat potensi jajanan atau oleh-oleh yang berasal dari daerah ini. Salah satu yang kami dorong adalah pembuatan abon. Tentu di sini sangat banyak ikan, udang, kepiting dan hasil lautnya. Oleh karena itu, kami juga memilih mitra kelompok nelayan, sehingga kedua mitra akan bersinergi. Satu menyuplai bahan baku, satunya mengolah menjadi produk khas Kepulauan Sapeken,” tambah Iin Hindun, Minggu (29/9). Sementara itu Thahira Hudrie, ketua kelompok dari IRT “Dapoer Emmak” menuturkan bahwa selama ini banyak persoalan atau kendala yang mereka hadapi. Kendala tersebut, yaitu penggunaan alat masih sederhana, jumlah terbatas dan manual sehingga produksi masih rendah dan pemasaran masih dalam wilayah yang sempit, serta volume yang kecil karena memang jumlah produksi sangat terbatas. Bantuan yang diberikan berupa paket mesin pembuatan abon. Ada alat pengukus atau presto sehingga pemasakan bahan baku lebih cepat dan merata. Ada pula mesin penggoreng, sehingga abon matang merata dan tidak takut gosong. juga dibantu spinner, sehingga minyak bisa dibuang, maka abon akan awet lebih lama. “Kami juga dibantu sealer dan diajarkan bagaimana kemasan yang baik. Total biaya alat ini kayaknya lebih dari 60 juta. Bayangkan kalau kami harus beli sendiri. Kami semangat untuk meningkatkan produksi dan membuat aneka produk, sehingga mengangkat nama kepulauan Sapeken,” ujar Thahira semangat. Di tempat terpisah Husni Mubarak, koordinator kelompok nelayan “Sapeken Sejahtera” menginformasikan, sebelumnya permasalahan yang mereka hadapi adalah keterbatasan biaya sehingga hanya memiliki perahu yang kecil, mesin tenaga kecil (GT kecil), akses penerangan dan navigasi yang lemah, dan pemasaran hasil tangkapan yang tidak maksimal. “Kami berterimakasih mendapatkan bantuan kapal atau boat. Lumayan besar. Sekitar 3 sampai 4 GT. Sudah ada mesinnya juga. Kapal pun sudah dilengkapi dengan tenaga surya. Jadi bila malam, penerangan sesuai dengan keinginan”, imbuh Husni yang mengaku sejak sekolah dasar sudah menjadi nelayan itu. Husni juga mengaku bahwa setelah adanya kapal ini, hasil dan pendapatan meningkat berkali-kali lipat. Mereka juga lebih berani menangkap ikan agak jauh karena kapal dan mesin sudah layak. Hasil tangkapan mereka juga terjamin pemasarannya karena minimal sudah bekerjasama dengan IRT pengolahan abon. (can)
UMM Terima Hibah Benda Budaya Sesepuh Senirupa Malang

Dalam rangka menghadirkan karya seni di lingkup civitas akademika sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, keluarga besar ibu Hj Dedy S. Winoto menghibahkan 200 lebih karya seni sebagai benda budaya hasil karya almarhumah. Dedy S. Winoto sendiri merupakan salah satu panutan senirupa di kota Malang kepada Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Almarhumah menginginkan bahwa pendidikan senirupa harus berkembang lebih lanjut, walaupun beliau sudah tidak di sisi kita lagi. Tapi di sini kami membawa tiga sampel utama saja dan kami akan membawakannya lengkap saat ruangannya telah siap, untuk pengembangan pengetahuan bidang senirupa,” ungkap Bambang Hardiyanto selaku adik dari Hj. Dedy S. Winoto. Tiga sampel itu berupa patung Ganesha berukuran kecil, patung abstrak terbuat dari batok kelapa, serta sebuah lukisan yang secara visual terlihat seperti anak kecil sedang membelakangi. Turut dihadiri pula oleh Anthony Wibowo (salah satu Dedy), Slamet Henkus (pelukis nasional), Dr. H. Fauzan, M.Pd (Rektor UMM), Keluarga besar Dedy S Winoto, serta Civitas Akdemika UMM. “Pemberian hibah ke UMM ini sesungguhnya terjadi di luar kehendak kita semua. Dimulai saat silaturahmi ke rumah beliau, lalu terjadilah keinginan bu Dedy yang disampaikan kepada kami. Saya kira UMM bisa menerima. Kami langsung menyampaikan kepada pak rektor dan langsung setuju. Tentu ini adalah suatu embrio sentuhan peringatan untuk UMM agar kedepannya lebih dekat kepada seni dan budaya,” ungkap Dr. Wahyudi, M.Si selaku moderator yang juga dosen Sosiologi UMM. Kedepan Perpustakaan Pusat UMM lantai 1 akan disediakan sebuah ruangan untuk mengumpulkan benda-benda baik itu dari Hibab alm. Dedy S Winoto maupun karya seni dan budaya yang lain, bersama Lembaga Kebudayaan (LK) UMM akan membuat kajian rutin bulanan terkait seni dan budaya Nusantara. “Tentu ini adalah suatu anugrah yang memiliki nilai sindiran, agar UMM selalu meningkatkan atau merefleksikan nilai-nilai budaya. Tentu ini juga merupakan tanggungjawab dan keyakinan semua pada apa yang telah diserahkan ini, memiliki makna edukasi pada civitas akademika UMM utamanya dan pada umumnya mereka yang sedang berkunjung ke UMM,” pungkas Dr. H. Fauzan, M.Pd selaku Rektor UMM. (riz/can)
Mahasiswa Hukum Dibekali Skill Jadi Advokat Profesional

Fakultas Hukum Universitas Muhamadiyah Malang (FH-UMM) selalu berkomitmen untuk menjadikan mahasiswanya sebagai lulusan yang siap untuk di terjunkan di dunia kerja. Hal ini ditunjukan melalui pemberian ide, program dan kegiatan yang bervariasi mengikuti dengan perkembangan dan kebutuhan. Bersama laboratorium Hukum, salah satu program yang dilakukan ialah mengadakan Pendidikan dan Latihan Kemahiran Hukum (PLKH) sebagai materi kuliah yang harus ditempuh mahasiswa hukum setiap semester dengan jumlah 2 SKS. Dengan menyajikan tema yang berbeda di tiap semester, kali ini PLKH I dan III mengusung tema Legal Managerial dibawakan oleh Dr. Soehartono Soemarto dari Law Firm Soehartono Soemarto & Rekan, S.H., M.Hum dan tema Mediasi oleh Judi Prasetyo, SH., M.H. dari Pengadilan Negeri Malang, (28/9). Diikuti ratusan mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2016, seminar ini diselenggarakan di Seminar Room GKB 4 Lantai 9 UMM. Pada materi pertama Soehartono membahas terkait kompetensi, kepribadian dan skill management dan suka duka menjadi seorang pengacara. Ceritanya berangkat dari pengalamannya sebagai seorang advokat selama 38 tahun. Lebih jauh, Soehartono menegaskan jika sudah berkecimpung di dunia pengacara, maka wajib hukumnya memperdalam masalah masalah yang hadir dalam masyarakat. “Jangan pernah langsung mempercayai apa kata client, kalian harus mencari tahu dari dua sisi dahulu baru bisa menyimpulkan” jelasnya. Dilanjutkan dengan materi ke dua, Judi yang juga selaku Wakil Ketua Pengadilan Negeri Malang menjelaskan, mediasi sendiri diartikan sebagai salah satu alrternatif penyelesaian sengketa yang dilakukan dengan 3 tahap, yakni pra, mediasi dan pasca mediasi dengan menandatangani kesepakatan 2 belah pihak. Ke dua topik tersebut sangat relevan untuk mahasiswa hukum dalam mempersiapkan banyak hal sebelum mereka magang dan terjun ke dunia kerja. Selebihnya, materi-materi yang sudah disampaikan akan dibawa ke lapangan seperti mengunjungi ke firma hukum terkait sebagai bentuk realisasinya. “Di kelas sendiri, mahasiswa juga mendapat materi terkait PLKH selama 3 hari dengan dosen masing-masing. Melalui PLKH mahasiswa mendapat kajian ilmu secara praktis langsung dari ahlinya”. Ujar Wahyudi Kurniawan, SH. M,Hli selaku Kepala Lab Hukum FH UMM. (yas/can)
Fakultas Agama Islam UMM Kolaborasi dengan Salah Satu Universitas Terbaik Dunia

Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang, Prof Tobroni dan Deputy Head of Department of Malay Studies (DMS), National University of Singapore (NUS), Prof Azhar Ibrahim Alwee menandatangani nota kesepahaman (Letter of Commitment of Action and Collaboration/LCAC) di bidang akademik, intelektualisme dan aktivisme mahasiswa. Hal-hal krusial yang dibahas di dalam nota kesepahaman (LCAC) ini, terkait dengan kolaborasi di bidang pertukaran dosen dan mahasiswa, kolaborasi riset, review kurikulum, reviewer jurnal internasional, serta pemberian beasiswa PhD. Banyak klausul yang disetujui keduabelah pihak, sebenarnya memberikan kesempatan dan manfaat yang lebih banyak bagi UMM. Peristiwa penting ini dihelat pada Senin 23 September 2019, bertepatan dengan agenda International Seminar and Sharing Session on Academic Culture and Student Activism in Malay-Indonesian Universities, yang diselenggarakan atas kerjasama antara Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM dan DMS NUS. Di samping Prof Tobroni dan Prof Azhar, hadir sebagai narasumber adalah Dr Pradana Boy ZTF (Dosen senior HKI, yang sekarang menjabat Asisten Staf Khusus Presiden bidang Keagamaan Internasional) dan Dr (Cand.) Idaul Hasanah (Ketua Prodi HKI). Dalam kesempatan yang diselenggarakan di Seminar Room GKB 4 Lantai 4 tersebut, Prof Azhar menjelaskan bahwa Hanya dengan perjuangan intelektual yang sungguh-sungguh dan pencerahan moral yang kuat, ancaman-ancaman dan masalah-masalah yang masyarakat hadapi dapat diatasi. “Berarti, dengan demikian, kampus tidak hanya membahas perkara akademik, tetapi juga intelektualisme dan aktivisme yang solutif bagi masalah sosial kemanusiaan. Dalam konteks ini, mahasiswa juga harus terlibat aktif di dalamnya,” kata Azhar. Secara lebih jauh, Azhar menegaskan bahwa gerakan intelektual-akademik memerlukan kepemimpinan yang kuat. Dengan kepemimpinan yang kuat, maka aktivisme bisa bergerak dengan baik, signifikan dan bermanfaat. “Oleh karena itu, waktu luang yang kita miliki tidak boleh hanya dihabiskan untuk perkara akademik saja, namun juga non-akademik,” ungkapnya. Sementara itu menurut Pradana, Dunia aktivisme yang berjalan secara massif, harus mempertimbangkan pentingnya kesadaran kritis. Dengan kesadaran kritis, kita akan mampu berhadapan dengan penyebaran hoax dan semangat keagamaan yang berlebihan (takfir atau pengafiran). Terlebih bahwa, kita hidup di era perkembangan teknologi informasi yang maju dan trend pasca kebenaran (post-truth). Di sisi lain, Dr (Cand.) Idaul mendorong para mahasiswa untuk mengasah kualitas intelektual dan aktivisme yang dimiliki. “Jika kita menguasai dua medan ini, maka kita memiliki kesempatan yang lebih besar dalam rangka berkonstribusi pada pembangunan bangsa dan negara. Bahkan, juga pembangunan peradaban kemanusiaan,” tuturnya. Bagian pamungkas pada program kolaboratif tersebut, banyak mahasiswa cum aktivis UMM yang berminat menyelesaikan tugas akhirnya di NUS dan dibimbing oleh para pakar di bidang-bidang ilmu sosial dan humaniora. Di samping itu, para dosen muda juga berminat untuk melanjutkan studi doktoralnya di kampus yang menduduki ranking 12 dunia ini (NUS). Kedua program ini didukung penuh oleh NUS. (riz/can)
Mahasiswa UMM Bergerak ‘Padamkan’ Karhutla

Kabut asap yang menyelimuti Pulau Sumatera dan Kalimantan masih terus terjadi. Dampak dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tersebut sangat mengganggu aktivitas warga. Bahkan, asap ini memberikan dampak pada kesehatan warga akibat menghirup udara yang tercemar. Dalam menanggapi bencana ini, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) dan Senat Mahasiswa (SEMA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar aksi galang dana pada 27 September hingga 4 Oktober. Penggalangan dana ini dilakukan d sekitar Kampus II dan III UMM. Penggalangan dana saat ini tidak hanya dilakukan oleh SEMA dan BEMU saja. Namun juga mengajak senat fakultas dan BEM fakultas. Bekerjasama dengan Persatuan Mahasiswa Jambi Universitas Negeri Malang juga, di hari Minggu (29/9) akan melakukan penggalangan dana di Car Free Day, Jalan Ijen. Ramdhan Noor Putra Wira Utama, Ketua Komisi Eksternal SEMA UMM mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk aksi nyata dalam kepedulian terhadap saudara yang terkena dampak Karhutla. “Harapan kami mahasiswa begitupula masyarakat selalu peduli terhadap sesama saudara dan turut andil dalam pemecahan permasalahan bangsa saat ini. Tentunya sebagai saudara setanah air, kita wajib membantu sesuai dengan kemampuan,” sebut mahasiswa yang akrab dipanggil Putra ini. Tidak hanya kepedulian masyarakat saja, Putra juga menyampaikan harapannya kepada pemerintah. Ia berharap pemerintah harus bertindak tegas dalam penanganan kasus tersebut yang sangat meresahkan masyarakat. “Penindakan tegas ini terutama pada oknum ataupun korporasi terkait yang menjadi tersangka yang terindikasi bertujuan untuk pembukaan lahan baru,” sebut Putra. Rencananya, dana yang terkumpul akan disalurkan ke Lembaga Amil Zakat Lazismu Kabupaten Malang. Harapannya dengan bantuan yang disalurkan melalui lembaga tersebut dapat dikelola sesuai kebutuhan di sana. “Kami juga berharap apa yang kami lakukan ini bermanfaat untuk saudara-saudara yang ada di sana, itikad baik kami semoga diterima baik oleh masyarakat yang menerima bantuan. Walaupun tidak seberapa, kami selalu berusaha untuk berbuat kebajikan,” pungkas Putra. (bel/can)
Atlet UMM Sabet Emas di POMNAS 2019

“Tiada hari tanpa prestasi, tiada prestasi yang tidak dihargai,” jargon inilah yang selalu ditanamkan kepada seluruh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Layaknya Marta Frily Adetya yang berhasil menyabet emas di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2019. Wanita yang akrab disapa Marta ini turun di cabang olahraga Kempo kategori Randori (tarung bebas) di kelas 55 kg, Kamis (26/9). Marta sendiri berhasil terpilih mewakili Provinsi Jawa Timur setelah dirinya menjadi yang terbaik pada Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah Jawa Timur beberapa bulan yang lalu. Berlokasi di Gor Cempaka Putih Jakarta Pusat, Marta berhasil menjadi yang terbaik setelah menumbangkan perwakilan dari provinsi Lampung di partai final. Sebelumnya Marta harus berjuang melawan 19 peserta lain dari berbagai provinsi yang tersebar di Indonesia. Perhelatan yang digelar pada 24-26 september ini mengharuskan Marta untuk membuat strategi agar dapat menjaga kondisi fisik dan memenangkan pertandingan di setiap babaknya. Menurut wanita kelahiran Malang, 5 Januari 1998 ini, dirinya berhasil menjadi yang terbaik di perhelatan yang dinaungi RISETDIKTI ini lantaran belajar dari kegagalan yang dialami pada perhelatan yang sama di tahun 2017. “Yang paling membedakan adalah porsi latihan dan juga jam terbang. Alhamdulillah, untuk saat ini porsi latihan sudah lebih baik dan jam terbang juga semakin bertambah,” ungkap Marta. Selain porsi latihan yang cukup, marta juga memiliki strategi tersendiri, di mana marta tidak pernah ingin tahu mengenai latar belakang dan track record lawan. “Hal itu saya lakukan karena latar belakang dan track record lawan dapat mempengaruhi mental dan juga fokus saya. Dengan saya tidak mengetahui track record lawan, saya lebih bisa menjaga fokus dan tidak membeda-bedakan lawan,” tegas Marta. Bahkan ketika Marta diwawancara, dirinya mengaku tidak mengetahui asal lawan yang ia hadapi di partai final. Meskipun Marta harus pulang pergi Malang-Surabaya untuk latihan. Namun hal itu tidak mematahkan semangat putri dari pasangan Hariono dan Bawon Suci Sri Widat ini. Terbukti ia berhasil menembus tim Pra PON Jatim yang saat ini sedang disiapkan untuk mengikuti seleksi PON XX di Banjarmasin. (zak/can)
Mahasiswa UMM Menangi Lomba Tilawatil Quran Tingkat Nasional TNI-AU

Seleksi lomba tingkat Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau II) yang diselenggarakan TNI AU membawa mahasiswa program studi jurusan Teknik Informatika Universitas Muhamadiyah Malang (UMM), Rasyid Luthfi Hardiansyah, sebagai juara pertama tingkat Nasional di MABES TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur (12/9). Mahasiswa angkatan 2016 ini menyisihkan puluhan peserta dari seluruh Indonesia. Rasyid menang di kategori remaja Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) membacakan surat Al Isra ayat 70 dari 7 materi bacaan surat lainnya yang sudah disiapkan. Seperti Surat Az-Zumar ayat 71, As-Syu’ara ayat 69, Al-Isra 70, As-Saba ayat 22, Al-Fathir 27, As-Saffat ayat 99, Al-Lukman ayat 12. Remaja asal Madiun yang juga aktif di Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) UMM ini sebelumnya juga selalu memenangkan lomba yang diadakan TNI AU. Pada tahun 2013 dan 2017 menduduki Juara II bertahan MTQ tingkat nasional. Rasyid mengaku mempunyai keahlian qira’at (membaca) Al-Quran diturunkan dari Ayahnya yang juga ahli dalam tilawatil Qur’an. Berkat prestasinya, Rasyid berhasil mendapatkan hadiah umroh dan sejumlah uang saku yang berhasil dikantongi. “Jika hadiah Umroh dapat saya tukar, saya ingin Orang Tua saya terlebih dahulu yang menginjak Ka’bah daripada saya. Karena orang tua saya lah yang membimbing saya hingga detik ini,” pungkas Rasyid. Kegiatan rutin yang diadakan setiap 2 tahun sekali, dengan kategori Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Musabaqoh Fahmil Qur’an (MFQ) dan Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) dengan peserta pria dewasa (militer/PNS), wanita (wara/PNS/PIA dan Istri PNS), remaja (putra/putri anggota militer/PNS) dan anak-anak (putra/putri anggota militer/PNS/Purn TNI AU) bertujuan untuk memilih qori dan qoriah terbaik se Indonesia di tingkat TNI-AU. “Dengan terselenggaranya lomba MTQ, MFQ dan MHQ ini, semoga bapak-bapak dan ibu-ibu yang mendapat kepercayaan nanti sebagai peserta MTQ, MFQ dan MHQ yang mewakili Koopsau II dapat meraih prestasi dan membawa nama baik Koopsau II pada lomba MTQ, MFQ dan MHQ di Jakarta,” ujar Pangkoopsau II Marsekal Muda TNI Donny Ermawan, T., M.D.S., saat pembukaan. (yas/can)
Seorang Apoteker Juga Harus Mengabdi Kepada Kemanusiaan

Sebanyak 48 orang pada Rabu (25/9), dilantik sebagai Apoteker dalam pelaksanaan Pelantikan Apoteker Angkatan III Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Wakil Rektor 1 UMM dalam sambutannya menyebut, Apoteker tidak boleh meninggalkan kemanusiaan. “Dalam hierarki nilai, kemanusiaan adalah nomor satu. Di atas agama, dan di atas segala ideologi,” ungkapnya. “Maka, jika nanti ada yang mau berobat tidak perlu ditanya agamanya apa, Islam Muhammadiyah atau NU, kalau NU tidak dilayani. Tidak boleh. Harus mendahulukan kemanusiaan,” ungkap Syamsul melanjutkan penjelasannya. Syamsul lantas berpesan di GKB IV lantai 9 Kampus III UMM, agar Apoteker-Apoteker baru ini mampu mengemban dan menjalankan amanah seorang Apoteker dengan baik. Disampaikan oleh Noffrendi selaku Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) bahwa lulusan baru harus segera menentukan profesi yang akan digeluti. “Harus mulai ditentukan dari sekarang anda bisa berdaya di mana. Entah itu di industri, pelayanan, regulasi dan sebagainya. Karena pilihan kalian harus tepat agar bisa menjadi Apoteker yang baik sesuai kemampuan kalian,” ujar Noffrendi. Dilanjutkan oleh Drs. Purwadi Apt., MM, ME selaku Ketua Komite Farmasi Nasional (KFN) yang mengatakan bahwa Apoteker-Apoteker baru di hadapannya diharapkan mau untuk mengabdi kepada daerah. Di Pulau Jawa, sebutnya, sudah terlalu banyak Apoteker yang mumpuni. “Sedang di daerah banyak yang kebingungan tentang informasi obat untuk penyakit yang diderita,” ungkapnya dalam sambutan. “Anak-anak yang berasal dari daerah, silahkan kembali ke daerah kalian lagi. Mengabdi untuk kampung halaman. Dan anak-anak yang dari (pulau) Jawa yang mau ke daerah saya harap orang tuanya mengizinkan,” tegas Purwadi. Untuk diketahui, setiap tahunnya Program Profesi Apoteker menerima ratusan pendaftar. Terdapat tiga jenis tes yang harus dilalui. Yakni tes bidang keilmuan, psikotes dan tes wawancara. (riz/can)