KKCTBN 2019: 30 Perguruan Tinggi Adu Hebat di UMM

KONTES Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2019 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dibuka hari ini, Jumat (11/10). Direktur Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) Dr Didin Wahidin MPd membuka secara langsung gelaran tahunan memperebutkan Piala Bergilir KKCTBN. “Sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan tujuh belas ribu lima ratusan lebih pulau yang kita miliki dan disatukan oleh laut yang demikian luas. Maka kemudian, kapal menjadi sesuatu yang memiliki nilai strategis bagi negara kita. Oleh karena itu, tentu KKCTBN 2019 ini juga memiliki posisi yang strategis dalam rangka menjaga kedaulatan bangsa, baik airnya maupun di permukaan airnya,” ungkap Didin saat sambutan. Melalui kontes ini, Didin mengajak para peserta untuk mengambil makna dari setiap proses perlombaan. Pertama, makna untuk saling belajar tentang ilmu seputar perkapalan. “Dalam kesempatan kali ini kita juga mengembangkan kapal-kapal cepat yang lain, dalam bentuk, teknologi dan ragam teknologi yang kelak akan menyatukan kehebatan kita dalam wujud kapal-kapal yang bisa menjaga kedaulatan bangsa,” tegasnya di atas danau UMM. Makna yang kedua adalah pengembangan karakter. Di antaranya adalah karakter untuk siap menang dan siap kalah. Ketiga, bagaimana agar para peserta rasa nasionalismenya terbangun. Keempat, penyelenggaraan KKCTBN ini merupakan upaya bersama mencoba menjadikan Indonesia berada pada jajaran depan pada pengembangan teknologi yang seharusnya dilakukan dalam rangka menghadapi era Revolusi Industri 4.0 ini. Rektor UMM Dr Fauzan MPd dalam sambutannya memesankan, diamanahinya gelaran bergengsi ini kepada Kampus Putih UMM ini harus diambil makna bahwa event ini adalah satu titik awal dalam rangka mengembangkan teknologi, khususnya di bidang perkapalan. “Khususnya kepada para peserta, jangan dianggap kegiatan ini sekadar mencari nomor satu, nomor dua. Jadikan kontes ini untuk mengembangkan minat,” kata Fauzan. Kembali ditegaskan Fauzan, KKCTBN merupakan satu momen strategis untuk mengembangkan minat dan bakat yang mahasiswa miliki. “Siapa tahu, saat ini saudara menjadi mahasiswa, tujuh atau mungkin sepuluh tahun mendatang saudara juga akan menjadi leader-leader di bidang perkapalan. Apa yang didasari oleh minat dan bakat, Insya Allah, melajunya akan melebihi lajunya kapal yang akan berlomba,” ungkapnya. Di event yang diikuti 30 perguruan tinggi ini ada 3 kategori yang diperlombakan. Pertama, Kapal Kendali Otomatis. Di kategori ini, kapal didesain dan dibangun dengan piranti lunak elektronik otomatis atau sensor warna. Kedua, Kapal Cepat Listrik dengan Sistem Kendali Jauh. Kapal ini menggunakan baterai sebagai sumber tenaga penggerak dengan bantuan remote control. Terakhir, Kapal Cepat Berbahan Bakar dengan Sistem Kendali Jauh. “Penilaian kontes KKCTBN ini dilakukan terhadap setiap kategori dengan beberapa kriteria. Selain ditentukan berdasarkan waktu tercepat, pertimbangan dalam penilaian juga berupa manuver kapal dalam setiap rintangan pada lintasan. Ada pula penghargaan bagi desain kapal terbaik,” terang Dr Nur Subeki ST MT dosen Fakultas Teknik UMM selaku Ketua Pelaksana KKCTBN 2019 ini di Kampus Putih UMM saat melaporkan acara. Setiap kategori kontes prototipe kapal memiliki misi dan tantangan yang berbeda-beda. Secara umum kemampuan menyelesaikan misi dan tantangan tersebut dapat diukur melalui kecepatan dan kemampuan bermanuver. “Misi dan tantangan tersebut diterjemahkan ke dalam lintasan yang harus dilalui oleh setiap kapal dalam setiap kategorinya,” ungkap Subeki yang juga tengah menjabat Wakil Dekan III Fakultas Teknik UMM. Daya kreasi mahasiswa dalam KKCTBN 2019 ini tidak hanya mencakup desain badan kapal yang baik dari segi performance dan manuver, tetapi juga mencakup perencanaan sistem penggerak, sistem navigasi yang handal, dengan memperhatikan keselarasan faktor teknis lainnya (engine matching). Dengan demikian segala kreatifitas peserta dalam kontes yang dimaksud akan melibatkan beberapa disiplin ilmu teknik yang saling berkaitan. (yas/can)
UMM Anugerahi Menkeu Sri Mulyani Tokoh Pemajuan Ekonomi Syariah

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menganugerahi Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani Indrawati, SE., M.S., Ph.D. penghargaan sebagai tokoh dalam bidang pemajuan Ekonomi Syariah di Indonesia. Penganugerahan yang berlangsung Kamis (10/10) di Hall Dome UMM ini lantaran Sri Mulyani dinilai turut meletakkan landasan bagi pemajuan Ekonomi Islam. Saat ini, Sri Mulyani sendiri ditunjuk menjadi Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) periode 2019 – 2023. “Ibu Sri Mulyani turut mewujudkan pengembangan kualitas sumberdaya manusia, peningkatan kapasitas riset, mendukung kebijakan yang menunjang perkembangan ekonomi syariah, mendorong sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah atau otoritas dalam mengembangkan ekonomi syariah, serta mendukung upaya membangun wajah Islam yang inklusif dan sejalan dengan semangat kebhinekaan dalam bingkai NKRI,” ungkap Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin saat membacakan SK. Rektor UMM dalam sambutannya menyampaikan, Kampus Putih UMM senantiasa mengundang para tokoh nasional dari berbagai latar belakang bahkan tokoh internasional sebagai inspirasi pada para mahasiswa, sebagai tokoh-tokoh masa depan bangsa ini. “Beliau seorang Srikandi yang tahan banting dan bisa hidup di sembarang ‘alam’. ‘Alam’-nya pak SBY dan alamnya Pak Jokowi. Mudah-mudahan ke depannya beliau juga masuk di dalam jajaran kabinet berikutnya,” ungkap Rektor Fauzan. Ada satu hal, sambung Fauzan, yang barangkali perlu mahasiswa contoh. “Selain kiprah dan kesuksesan beliau, beliau itu orang yang taat beragama, puasa Senin-Kamisnya tidak terhenti. Oleh karena itu saya mohon maaf kalau meja-meja itu bersih dan hanya ada pot-pot bunga. Tidak ada satupun makanan di atas meja karena kita semua menghargai beliau dan beliau adalah Srikandi yang menurut kita adalah luar biasa luar dan dalamnya,” tegas Fauzan di hadapan 7000 mahasiswa UMM. Menteri yang sempat mendapat penghargaan sebagai menteri terbaik dunia dalam ajang World Government Summit 2018 ini memesankan kepada ribuan mahasiswa UMM dalam orasi ilmiahnya bahwa sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas dan inovasi adalah faktor penentu dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. “Pemerintah akan selalu berkomitmen dalam mendorong perbaikan kualitas SDM melalui berbagai langkah afirmasi dan terobosan program kebijakan,” katanya. UMM harus terus berkiprah, berkarya tidak mudah puas akan capainnya, dan selalu haus akan pencapaian baru. Sehingga mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan bangsa. “Diharapkan UMM agar tidak hanya mendidik kemampuan hard skill, kognitif dan intelektual mahasiswa. Tetapi juga membentuk soft skill antara lain berupa karakter yang berintegritas. Dan jangan lupa, jangan pernah lelah mencintai negeri ini,” tutup Sri yang juga anggota keluarga kehormatan Kampus Putih ini. (riz/can)
Akademisi UMM Rembuk Isu Aktual Hukum Nasional

FAKULTAS HUKUM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Rembuk Hukum Warga UMM bertajuk “Bahas Tuntas Isu-Isu Aktual Hukum Nasional”, Senin (7/10) kemarin. Agenda ini dilatari oleh makin memanasnya tekanan sekelompok masyarakat yang menolak sejumlah keputusan DPR RI Periode 2014-2019 di akhir masa jabatannya. Sejumlah keputusan yang dinilai nyeleneh dan tidak pro-rakyat ini pada akhirnya mengundang aksi massa di sejumlah daerah di Indonesia. Agenda rembuk ini diselenggarakan di GKB IV lantai 9 Kampus III UMM. Terdapat beberapa undang-undang yang telah disahkan dan beberapa lainnya masih dalam proses. Di antara beberapa undang-undang tersebut adalah Perubahan Undang-Undang KPK, Rancangan KUHP, RUU Pemasyarakatan, RUU Agraria (Pertanahan), dan RUU Pemberantasan Kekerasan Seksual. Beberapa undang-undang terkesan dipakasakan karena belum masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Hal ini memicu berbagai reaksi penolakan dari berbagai kalangan, mulai akademisi, aktivis antikorupsi bahkan sampai pada mahasiswa. Berbagai reaksi penolakan tersebut diwujudkan dengan berbagai cara. Di antaranya dengan melontarkan opini di berbagai media, baik di media massa elektronik, media online, hingga ke media sosial. Puncak reaksi tersebut disampaikan melalui demonstrasi di Gedung DPR RI, bahkan di Gedung DPRD yang berakhir ricuh dan memakan korban jiwa mahasiswa. Tidak sedikit juga pernyataan yang muncul dalam aksi mahasiswa tersebut yang berlebihan. Hal tersebut memunculkan asumsi bahwa mahasiswa dan masyarakat pada umumnya kurang memahami perubahan atas berbagai undang-undang tersebut. Minimnya pemahaman ini memunculkan pro dan kontra terurama di masyakarat umum yang tidak paham tentang hukum yang dapat berujung anarkis. Kondisi ini dapat berpotensi menjadi penyebab perpecahan antar anak bangsa Indonesia. Dalam pembukaannya, Dekan Fakultas Hukum UMM Dr Tongat SH MHum menyatakan, banyak informasi media sosial simpang siur yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itu, Fakultas Hukum harus meluruskan cara pandang tentang problematika hukum di Indonesia. “Selain itu, saya menasihati mahasiswa ketika mau melakukan aksi supaya bisa menyikapi dengan bijak, tertib, dan tahu substansi apa yang mau disampaikan,” ungkapnya di hadapan ratusan peserta. Menggambarkan situasi dan kondisi politik Indonesia saat ini, pakar Hukum Tata Negara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Sulardi. SH., M.SI., menyebut bahwa keadilan harus tetap ditegakkan meski langit akan runtuh. Pernyataan itu Sulardi kutip dari pernyataan monumental seorang filsuf kenamaan Calpurnius Piso Caesoninus (43 SM). “Apapun alasannya hukum harus selalu ditegakkan,” ungkap dosen yang juga aktif menulis di media massa regional dan nasional ini. Diskusi ini dihadiri pula oleh Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. wakil Rektor 1 UMM, Dr. Tongat, SH., M.Hum Dekan Fakultas Hukum (FH) UMM , Dr. Idah Zuhroh M.M (Ahli Ekonomi), Zen Amiruddin S.Sos., M.Med.Kom (Ahli Komunikasi Politik), Dr. Fifik Wiryani SH., M.Si. M.Hum (Ahli Hukum Agraria), Abdul Aziz Pranatha (Presiden Mahasiswa UMM) serta ratusan mahasiswa dan civitas Akademika UMM lainnya. Diskusi ini berlangsung dialogis. Peserta juga dapat menanggapi pemateri. (riz/can)
Fikes UMM Gandeng Praktisi Internasional Tingkatkan Publikasi Jurnal Scopus

FAKULTAS Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) untuk yang ke dua kalinya menggelar kegiatan Konferensi Internasional. Acara yang bertajuk The 2nd Health Science International Conference (HSIC) ini dilangsungkan di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB IV) lantai 9 UMM, Sabtu (5/10). Tahun ini FIKES menghadirkan pakar ahli di bidang kesehatan dari dalam dan luar negeri, yakni Dr. Sirikul Karuncharernpanit, RN dari Boromarajonani College of Nursing Thailand, DR. Nazrul Islaam dari Queensland University of Australia, Asst.Prof.Dr. Peemongkon Wattananon dari Mahidol University Thailand dan 3 Pemateri lainnya berasal dari UMM. Jika Konferensi Internasional peserta biasanya hanya duduk mendengarkan saja, namun kali ini terdapat oral session. “Partisipan dituntut mempresentasikan hasil dari riset dan dokumen full paper yang nantinya akan dipublish dan terindeks di jurnal Scopus,” terang Indah Dwi Pratiwi, M. Ng, Kep., ketua pelaksana acara. Di oral session ada presentasi dengan judul Improvement of Community Responsibility Using SGD (Small Group Discussion) Method dibawakan oleh Nia Agustiningsih dari STIKES Kepanjen. Tercatat berbagai institusi pendidikan tinggi farmasi yang ikut di antaranya ialah UNUD, UNJANI, UNSOED, UNEJ, dan UNISSULA. Dekan FIKES Faqih Ruhyanudin, M. Kep., Sp. Kep.MB berharap, acara ini selain dapat membangun suasana akademis, jurnal-jurnal penelitian dapat masuk dan terindeks Scopus. “Selebihnya dapat memberi kemanfaatan ilmu bagi yang membaca,” tandasnya. (yas/can)
Jufoc Gelar Pameran #ReformasiDikorupsi

Aksi turun ke jalan dari ribuan mahasiswa Malang Raya yang terjadi pada tanggal 24-25 September lalu, membuat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Lembaga Semi Otonom (LSO) Jurnalistic Fotografi Club (Jufoc) melahirkan beberapa karya foto jurnalis yang menarik. Karya foto yang dipamerkan pada tanggal 1-3 oktober di halaman kantin Tiga Setengah Gedung Kuliah Bersama I ini, memamerkan 11 foto dari 5 orang pengkarya. Selain foto, adapula papan vandal yang disediakan untuk menampung suara dan aspirasi mahasiswa Kampus Putih yang tidak mengikuti aksi. Terdapat pula cuplikan video dari aksi #ReformasiDikorupsi yang ditayangkan pada hari terakhir gelaran karya tersebut. “Tujuan kami melakukan hunting foto dan gelar karya ini adalah kami ingin menggambarkan suasana yang ada di depan gedung DPRD Malang untuk teman-teman mahasiswa yang tidak bisa mengikuti aksi tersebut,” ungkap Andri Yoga Ketua Umum LSO Jufoc periode 2018-2019. Selain itu, menurut salah satu pengkarya yakni Farah Tri Vania, hunting foto di tengah aksi demonstran memiliki kesulitan yang cukup tinggi, seperti sempitnya ruang gerak sehingga mempersulit pengambilan angle. “Selain angle, saya juga masih diselimuti rasa takut. Lantaran ini merupakan hunting foto aksi demonstran pertama saya. Namun dari sini pula saya jadi bisa merasakan bagaimana tantangan menjadi seorang fotografer jurnalis,” tegas Farah. Menurut salah satu pengunjung, yakni Fida Amina Zahro, gelar karya ini cukup menarik. “Foto-foto yang dipamerkan cukup menarik dan cukup mewakilkan mahasiswa yang absen pada aksi kemarin. Terlebih terdapat papan vandal di mana para mahasiswa dapat menulis apapun yang diinginkan terkait #ReformasiDikorupsi ini,” ungkap Fida. (zak/can)
Dubes Thailand di UMM, Ingin Indonesia Jadi Destinasi Utama Pelajar Thailand

“Indonesia adalah destinasi terbesar kedua bagi para pelajar Thailand setelah Mesir. Tetapi saya harap, ke depannya Indonesia menjadi destinasi utama dari para pelajar Thailand,” ungkap H.E Mr. Songphol Sukchan selaku Duta besar (Dubes) Thailand untuk Indonesia saat melawat ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kedatangan Dubes Negeri Gajah Putih ini disambut dengan antusias oleh mahasiswa UMM asal Thailand di depan pintu masuk Gedung Rektorat UMM, Kamis (3/10). Ia disambut sebanyak 63 orang mahasiswa Thailand yang tengah menempuh jenjang pendidikan di UMM. UMM punya mahasiswa Thailand terbanyak Se-Malang Raya. “Kita semua tahu bahwa Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Saat ini, ada begitu banyak pelajar asal Thailand yang tersebar di perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia seperti di Jogja, Malang, Surabaya dan beberapa kota lain tentunya,” ujar Songphol di hadapan rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. Melihat kontur alam serta suasana kota yang mendukung, juga di-support oleh berbagai akses pendidikan dengan banyaknya Perguruan Tinggi favorit, tentu membuat Kota Malang menjadi salah satu pusat destinasi pendidikan pilihan yang memiliki daya tarik tersendiri dari kacamata siswa ataupun calon mahasiswa sebagai Kota Pendidikan. “Saya senang sekali melihat semuanya berkumpul di sini. Terimakasih buat pak rektor dan keluarga besar UMM karena telah mempertemukan kami di sini,” lanjutnya pada perjamuan sembari mencicipi buah Matoa asal Papua bersama Rektor UMM dan perwakilan Mahasiswa Thailand. Acara pertemuan berlangsung dengan gayeng. Di hadapan Dubes Thailand, Dr. Fauzan. M.Pd menjelaskan bahwa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah tidak semua berlatar belakang muslim, karena ada beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia, seperti di NTT dan Papua yang memiliki sekitar 17% Mahasiswa non-muslim, Papua 19% dan di UMM 10%. “Kedatangan pak Dubes Thailand ke sini, diharapkan mampu melecut semangat mereka (mahasiswa Thailand) serta menumbuhkan minat belajar para mahasiswa kita yang berasal dari Thailand ini,” tandas Fauzan. Diterimanya mahasiswa dari luar negeri, kata Fauzan, bertujuan menghadirkan atmosfer internasional di Kampus Putih. (riz/can)
UMM dan 20 PT Rumuskan Konsep Kompetensi Socio-Ecopreneur

Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) bersama perwakilan dari 21 Perguruan Tinggi (PT) Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan Nationwide University Network Indonesia (NUNI), hadir dalam agenda Presidential Meeting dan NUNI Forum guna mematangkan skema konsep kompetensi socio-ecoprenur, Jumat (4/10). “Agenda ini sebagai bentuk penguatan kerjasama antar perguruan tinggi dengan upaya membranding komunitas NUNI agar menjadi suatu sinergitas kelompok dengan peningkatan mobilitas mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan dari masing-masing perguruan tinggi,” kata Dr. H. Fauzan, M.Pd, Rektor UMM saat pembukaan. Menghadirkan pemateri dari Universitas Binus Malang, Universitas Brawijaya dan UMM sebagai bentuk perwakilan PT yang digadang berhasil mengelola unit bisnis akademis maupun non akademis terbanyak yang dimaksudkan dapat memberi masukan daripada konsep socio-ecopreneur yang menjadi tema besar pertemuan penting tahun ini. “Jika ingin menerapkan minor yang berbasis Socio-ecoprenur, maka harus melihat potensi yang ada dari masing-masing daerah asal perguruan tinggi. supaya strategis tepat sasaran, dan cocok pada stakeholder terkait. Seperti layaknya yang sudah diterapkan di BINUS,” kata Dr Ir. Boto Situmpang MBP, Rektor Binus Malang. UMM sendiri selama 3 tahun berurut-urut menggelar Festival Kebangsaan, sebagai ajang bertemunya para pelaku bisnis dan produsen, dengan hasil product research yang dihasilkan mahasiswa. Program ini dikelola oleh Wakil Direktur Bidang Pemasaran Product Research UMM yang bakal diimplementasikan di program kerja NUNI. Sementara itu, Pupung Arifin selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Universitas Atmajaya Yogyakarta mengusulkan terkait konsep kompetensi socio-ecopreneur agar terdapat skema kerjasama internasional perguruan tinggi. Sehingga skema ini dapat menambah penilaian dari Kemenristekdikti. Di sisi lain, Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) berharap digalakkan pelatihan enterprenur baik digital maupun technoprenur. Juga segera didiskusikan tentang database setiap perguruan tinggi, agar bisa diakses di seluruh anggota NUNI dan dapat diadaptasi, dan dimodifikasi ulang agar kegiatan NUNI jauh lebih beragam. (yas/can)
Juara Ghina Araby Jawa-Bali, Mahasiswa UMM Asal Nabire Papua Pesankan Ini

“Ada satu hal yang saya tanamkan dalam hati, yakni jangan terlalu mudah naik (tinggi hati) atau sombong. Karena saat kamu sudah pernah juara, kamu harus tetap berlatih dan penguasaan materi itu perlu. Kebanyakan orang, saat mereka sudah juara banyak yang sombong dan menganggap orang lain di bawahnya,” ujar Al Amin Letsoin. Dilanjutkan mahasiswa asal Nabire Provinsi Papua ini, sikap jumawa dan besar kepala ini membuat orang menjadi angkuh, jadi tidak mau latihan, serta tidak mau mengembangkan diri agar menjadi lebih berkembang. “Justru hal seperti inilah yang harus dihindari. Walaupun sudah juara, tetapi kita harus tetap latihan,” ungkap Al. Jadi saat memilih lagu arab, Al harus tahu dan bisa melihat part mana yang bisa diangkat serta dimainkan sebagai improvisasi. “Nah, improvisasi lagu arab itu memiliki banyak cekukan dan cengkok. Saya tidak boleh menyamai cara menyanyi seperti mereka. Jadi saya harus mencari yang benar-benar sesuai,” sambungnya (3/10). Al yang telah banyak ikut kompetisi menyanyi ini tengah duduk di semester tujuh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil menjadi juara pertama pada kategori lomba Ghina’ Araby tingkat pelajar, mahasiswa dan umum Se-Jawa-Bali. Al menang pada Festival Araby 2019 dengan membawakan lagu Rouhi Fidak. “Sebenarnya ada tujuh lagu yang disiapkan oleh panitia. Berhubung peserta yang begitu banyak dan membludak, sehingga yang dibawakan hanya satu lagu pilihan peserta. Lagu yang saya bawakan ini maknanya lebih ke arah sholawat karena menceritakan cinta kepada Nabi Muhammad S.A.W dan saya suka artinya,” kata Al. Pria yang juga kerap disapa Amin ini berhasil menyisihkan tujuh puluhan kontestan dengan berbagai latar belakang usia. Dimulai dari siswa MTS, MA, hingga mahasiswa dan umum yang digabung menjadi satu Se Jawa-Bali. Sedangkan peringkat 2 dan 3 diraih oleh Lailatul Badriyah Fahum dan Hadi Asrori Fahum berasal dari UIN Malang. Dengan membawa nama besar UMM, Al bersama seorang rekannya yang bernama Zaki Anwar (berasal dari Fakultas Agama Islam UMM) turut andil pada kategori yang sam Ghina’ Araby. Al sendiri merupakan mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM. Tak hanya kategori lomba Ghina Araby, banyak kategori lainya yang diperlombakan. Yakni Kategori Imatoh, Kategori Khitobah, kategori Taqdimul Qishoh, Kategori Kaligrafi, Kategori Qiraatus Syi’ir, Kategori Qiraatul Kitab, dan kategori Munadhoroh Ilmiah yang berlangsung di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Surabaya. “Saya harap, ke depan UMM bisa melahirkan banyak potensi sebagai penyanyi Ghina Araby. Serta untuk kegiatan seperti ini diharapkan mampu menjadi wadah untuk mengembangkan kemampuan bahasa arab bagi para pelajar maupun mahasiswa,” pungkasnya. Kembali ditegaskan Al untuk jangan pernah merasa di atas angin. (riz/can)
Pecah Telur! Tim Debat UMM Ini Juara I Nasional Setelah Cuma Jadi Langganan Runner Up

LANGGANAN menjadi runner up dalam kompetisi debat, Tim Debater Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang beranggotakan Ana Fauzia, M. Fitrah Ashary Bangun, dan Wildan Arif akhirnya mendapatkan peringkat satu. Melalui ajang Management Education Fair 3 (MANUFAIR) di Universitas Jember, tim debat bernama “UMMI” ini meraih juara satu pada perlombaan debat ekonomi nasional. Sebelumnya, tim debat hasil kolaborasi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Hukum UMM ini sukses mencatatkan skor terbaiknya di empat event debat level nasional dengan puas hanya di posisi sebagai runner-up saja. Yang terbaru, memenangi ajang Debat Competition for University (ECOFU) Universitas Katolik Darma Cendika, Surabaya, 29 Juni 2019 lalu. Lagi-lagi cuma sebagai runner-up. Selain menjadi Juara I, lebih membanggakan lagi Fitrah juga dinobatkan sebagai Best Speaker dalam kompetisi ini. Sebelumnya mereka melalui rangkaian tahap seleksi. Untuk menghasilkan 16 besar yang bertandang dalam adu pendapat ini, mereka harus membuat essai dengan tema “Aktualisasi Peran Pemerinntah, Pengusaha, dan akademisi dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi Digital di Era Disruptif”. Dengan tema yang sudah ditentukan tersebut, mereka mengangkat ekonomi-politik berupa pengoptimalisasian tol langit Palapa Ring. “Optimalisasi tol langit atau Palapa Ring dengan menambah fasilitas wifi melalui dana desa. Langkah ini merupakan solusi tepat dalam meningkatkan ekonomi digital. Ini juga dapat mendorong kreatifitas masyarakat juga,” sebut Wildan yang juga ketua kelompok UMMI UMM. Mereka menegaskan, konsepsi tol langit Palapa Ring yang ingin dilaksanakan pemerintah ini merupakan kebijakan baik guna pemerataan sinyal, internet, dan kebutuhan teknologi digital di Indonesia, terkhusus untuk daerah-daerah terpencil. Melalui essai tersebut, mereka mampu mentransformasikan pemikiran yang didasarkan pada fakta dan teori, sehingga layak lolos seleksi hingga memenangi lomba. Dalam debat ini, mereka dapat mengalahkan tim debat dari UGM pada 8 besar, tim debat UIN Sunan Kalijaga dalam semi final, dan pada babak final, mereka berhasil mengalahkan tim debat dari STIE Perbanas Surabaya. Wildan mengaku debat kali ini lebih menegangkan dari debat yang sudah pernah mereka ikuti. Wildan dan Ana yang merupakan mahasiswa Hukum, harus belajar lagi mengenai Ekonomi. “Banyak kata-kata atau pengertian yang kita tidak tahu, tapi kita harus mempelajarinya. Apalagi mosi diberikan 15 menit sebelum tampil. Sehingga kita harus bekerja lebih ekstra lagi,” sebut Wildan. Kendala tersebut, tidak lantas membuat mereka bersantai. Dengan padatnya kegiatan mereka di luar debat, seperti tugas kuliah dan organisasi, membuat mereka harus menyepakati untuk belajar bersama setelah Subuh. “Kuncinya mau berporses dan mau diproses. Mau tidak tidur, mau Subuh-Subuh harus belajar, mau diberi saran dan disanggah. Ya, proses itu harus dilakukan. Karena kita bisa juara 1 sekarang ini, tidak lain dari hasil proses kita selama ini,” ujar Wildan. Mereka yakin, proses tidak akan mengkhinati hasil. Capaian sebagai juara satu ini tak lantas membuat mereka untuk berhenti mencapai raihan gemilang lainnya. (bel/can)
Sinergi FPP UMM dan Dunia Industri, Godok Kurikulum Profesional Unggas

Program Studi (Prodi) Peternakan Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mulai menggodok kurikulum bagi mahasiswa untuk menjadi Profesional Unggas, Rabu (2/10). Digelar dengan metode lokakarya, Prodi Peternakan UMM bersama PT. Jatinom Agri dan PT. Charoen Pokphand membahas kisi-kisi rencana pembelajaran semester (RPS) untuk 5 materi kuliah. Rencananya, mata kuliah-mata kuliah tersebut akan diberikan kepada mahasiswa semester 6 Prodi Peternakan. Dalam menjalani kuliah, mahasiswa akan menempuh 5 materi kuliah. Yakni Manajemen Pemeliharaan Sistem Close House, Teknologi dan Formulasi Ransum Unggas, Manajemen Pengendalian Penyakit Unggas, Manajemen Breeding dan Hatchery, serta Manajemen Perusahaan Unggas. Saat materi kuliah telah siap, bukan hanya dosen dari Prodi Peternakan UMM yang akan mengajar. Perwakilan dari kedua perusahaan tersebut pun akan turun tangan dan ikut mengajar. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa mendapat pengalaman langsung dari para pelaku industri, serta mengantisipasi setiap kegagalan yang mungkin dihadapi jika nantinya para mahasiswa ini terjun sebagai profesional unggas. Hidayatturrahman, Owner PT.JATINOM AGRI mengungkapkan jika UMM adalah mitra perguruan tinggi (PT) yang strategis. Di perguruan tinggi, banyak sekali sumber daya manusia yang berkualitas. Utamanya para mahasiswa yang siap dan mampu menjadi seorang profesional unggas. “UMM beda dengan lainnya, mau menjemput bola dan mau belajar, kami senang itu,” tuturnya saat memberi sambutan. “Kedepan, tuntutan zaman adalah profesionalitas,” kata Dr. Fauzan, M.Pd, Rektor UMM saat sambutan. Sejak di bangku kuliah, lanjutnya, para mahasiswa mesti ditempa menjadi profesional. Menurutnya, bukan saatnya lagi pengajaran hanya bersifat teoritis. Apalagi, era informasi digital saat ini terus menerpa. Dosen bukan lagi sumber informasi satu-satunya. Belajar dapat dilakukan di manapun dan kapan pun. Bagi Dr., Ir. David Hermawan, M.P., IPM, Dekan FPP UMM, kedepan, kerja sama antara pemerintah, dunia industri dan perguruan tinggi harus terus dibangun. Hal tersebut, ditegaskan David, untuk menciptakan sumber daya manusia unggul. UMM sendiri telah banyak melakukan sinergi dengan para pihak strategis, utamanya pelaku industri dan pemerintah. Yakni dalam pengembangan potensi daerah. (mir/can)