Buka INCLAR FH UMM, Syamsul Arifin: Islam dan Demokrasi Harus Bersinergi

Digelar selama dua hari (24-25/9) di Hotel Purnama Kota Batu, International Confrence on Law Reform (INCLAR) Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dibuka oleh Wakil Rektor 1 Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Di hadapan profesor dari berbagai negara Syamsul mengatakan, di masa mendatang Islam dan demokrasi harus bersinergi. Berkaca dari konflik pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 dan Pemilihan Presiden tahun 2019 Syamsul mengatakan bahwa sikap elit politik mencerminkan bahwa demokrasi di Indonesia hanyalah prosedural. Syamsul lantas mengutip konsep demokrasi ideal yang dikemukakan oleh Larry Diamond bahwa demokrasi memiliki empat konsep dasar. “Pertama, kompetisi untuk kekuasaan, dimana pemerintah dipilih dan digantikan melalui pemilihan yang adil dan gratis,” jelas Syamsul. Kedua, Rakyat berpartisipasi sebagai warga negara dalam kehidupan politik dan sipil. Ketiga, hak asasi manusia seluruh warga negara dilindungi oleh negara. Terakhir, hukum yang diberlakukan tidak pandang bulu, berlaku secara merata untuk semua. Menurut Syamsul, perilaku elit politik tidak mencerminkan negara demokrasi yang menggunakan ujaran kebencian untuk mendukung kepentingan salah satu pihak. Demokrasi seharusnya menghargai pilihan orang lain dan melindungi pilihan orang lain. Tidak malah memanaskan tensi yang sudah panas sejak pemilihan gubernur DKI Jakarta. Para elit menggunakan konsep populisme untuk menjalankan kepentingannya. Di mana mereka menyatukan banyak organisasi Islam dengan background tertentu dengan menyebut sebagai kepentingan agama untuk mengusung kepentingan orang tertentu. Maka rakyat, elit dan pemerintah semakin terpecah belah. “Gerakan Islam yang mengendarai populisme harus disertai dengan demokrasi yang sehat,” tegas Syamsul. Sampai sekarang, menurut Syamsul wacana populis dan bentuk aksinya masih terjebak dalam isu-isu primordial yang masih sering muncul dalam kepentingan kontestasi elektoral politik. Seharusnya, sambung Syamsul, para elit politik membawa wacana populis ditujukan untuk membawa kesadaran kepada masyarakat bahwa agenda utama dari reformasi adalah penegakan hukum, hak asasi manusia, pemberantasan korupsi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. (Usa/Can)

UMM dan Singapore Polytechnic Dampingi UKM Pasarkan Produk

Keterbatasan Usaha Kecil Menengah (UKM) memasarkan produk menjadi perhatian sekelompok anak muda ini untuk melakukan pendampingan khusus. Sebanyak 45 pemuda yang merupakan gabungan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan siswa Singapore Polytechnic (SP) membantu membuat strategi pemasaran ke sejumlah UKM. Mereka menyasar UKM berkomoditas sambal, keju, dan bayam. Proyek inovasi sosial ini dikerjasamakan antara Tamasek Foundation International-Specialist Community Action and Leadership Exchange (TFI-SCALE) dan Learning Express (LeX). UMM dan SP sendiri sudah 4 tahun menjalin kerjasama dan dijalankan melalui proyek inovasi sosial berbeda. “TFI-SCALE dan LeX merupakan satu program rangkaian bagian dari kerjasama,” ungkap Lim Jun Cheng, koordinator dari SP. “Aksi ini bertujuan untuk melihat proses dan situasi bagaimana usaha kecil menengah dapat memasarkan produknya. Selain itu, mencari beberapa masalah ketidakefektifan yang dialami untuk ditemukan solusi dan inovasi yang dapat dikembangkan dalam beberapa hal, seperti model pemasaran dan packaging produk,” jelas Dr.Ir. Listiari Hendraningsih, selaku sekretaris Internasional Relation Office (IRO) UMM (24/09). Program ini terdiri dari 22 mahasiswa UMM dan 23 siswa SP. Terbagi dalam tiga grup yang masing masing diisi oleh 8 orang dari UMM dan 7 orang dari SP. Terdapat 6 orang fasilitator dan 2 koordinator dari UMM, serta 2 fasilitator dan 1 koordinator dari SP. Dilanjutkan dengan LeX, selama 2 minggu di Indonesia, khususnya di UMM sebagai bentuk implementasi kegiatan yang sudah didapat selama di Singapura. Dilanjutkan Listiari, terdapat 5 acuan langkah yang dipakai, yakni sense and sensibility, empathy study, define, ideation, prototyping dan co creation. Acuan ini digunakan untuk mengidentifikasi masalah di bidang marketing, bidang alat ataukah dalam bidang pembuatannya. Pada saat closing ceremony program acara akan ada output berupa rekomendasi model pemasaran yang akan diperlihatkan pada para pelaku usaha. TFI-SCALE sendiri sebetulnya juga sudah dilakukan di Singapura selama 3 minggu. “Kami mempelajari banyak hal mulai dari analisis Statistika, Ibco Spotfire dan Microsoft Power BI guna menganalisis pola konsumsi masyarakat ASEAN. Sementara di akhir kegiatan membuat kampanye green consumption untuk mengajak masyarakat ramah lingkungan” ujar Ayu, salah satu mahasiswa UMM yang menjadi peserta LeX. (yas/can)

Mekatronic dan Srikandi Team UMM Siap Dominasi Kemenangan KMHE 2019

SETELAH menjadi yang tercepat (juara 1) dalam gelaran Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) di tahun sebelumnya, yakni dengan berhasil memecahkan rekor Asia dan dunia dengan berhasil mencatatkan hasil terbaik 335,09 KM/KWH, Mekatronic dan Srikandi Team Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali bersiap berlaga di KMHE 2019 di Universitas Negeri Malang (UM), 24-28 September mendatang. Tiga tim ini yakni di kategori Urban Listrik diwakili oleh Mekatronic Team 1 dengan Mobil Genetro (Urban Electric Vehicle) U.E.V. 06, di kategori Prototype Listrik LSO diwakili oleh Mekatronic Team 2 dengan mobil prototype Barqun Speed Electric Vehicle (E.V.) 04. Sementara di kategori Urban Gasoline diwakili oleh tim wanita Srikandi Team dengan Mobil Hrusangkali. Bagi Srikandi Team, kontes ini jadi debut keduanya. Untuk sepesifikasi dari Prototype Listrik, bodi terbuat dari carbon fiber, sasis dari alumunium dan ditenagai oleh motor listrik. Sementara untuk Urban Listrik bodi juga terbuat dari carbon fiber, sasis aluminium dan ditenagai oleh motor listrik 500 watt. Sedangkan spesifikasi untuk mobil Hrusangkali yang digawangi Srikandi Team, bodi terbuat dari fiber glass, sasis dari aluminium dan bahan bakar Pertamax 92. Perlu diketahui, Srikandi Team sebagai satu-satunya tim yang seluruh anggotanya terdiri dari perempuan ini pada tahun lalu memenangi penghargaan di kategori Desain dan Estetika Terbaik KMHE 2018. Srikandi Team UMM dengan kendaraan Hrusangkali Evo 01 yang turun di kelas Motor Pembakaran Dalam (MPD) Gasoline ketika itu, sejak awal sudah jadi pusat perhatian tim juri dan peserta dari perguruan tinggi lain. Ketiga tim mengaku telah mempersiapkan jauh hari. “Tim Mekatronik sudah pernah berlaga dan menyabet juara 1 pada kategori Urban Listrik dan Tim srikandi meraih Desain dan Estetika terbaik tahun lalu di Universitas Negeri Padang, semoga prestasi tahun ini lebih baik dan dapat mempertahankan kemenangan” ujar Drs. Moh. Jufri, ST., MT. selaku pembina LSO Mekatronik saat pelepasan di Gedung Rektorat UMM. “Tidak usah terbebani oleh kemenangan, karena tim kita sudah teruji di tingkat Nasional menuju ke Internasional. Selain itu, pesan saya, tidak boleh terlalu berbangga dan sombong. Harus tetap memiliki mental juara namun tetap melakukan yang terbaik,” tambah Dekan Fakultas Teknik Dr. Ir. Ahmad Mubin MT saat sambutan di depan Gedung Rektorat UMM, Senin (23/9) siang. Dihadiri anggota ketiga tim lengkap. Dilanjutkan Joko, ketersediaan fasilitas penunjang di setiap proses belajar mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari catatan raihan prestasi mahasiswa. Bagi Joko, keseriusan dan komitmen UMM untuk mencetak generasi terbaik bangsa melalui berbagai raihan prestasi di tingkat nasional bahkan internasional, juga merupakan perwujudan nyata dari tagline Kampus Putih UMM, “dari Muhammadiyah untuk Bangsa.” (yas/can)

Empat Kepala Dinas Mulai Follow Up Kerjasama UMM-Kabupaten Malang

Menindaklanjuti kesepakatan kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sejumlah kepala dinas di Kabupaten Malang mulai melakukan penjajakan pada setiap potensi kerjasama yang bisa dikolaborasikan. Para kepala dinas itu di antaranya dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, serta Dinas Perikanan. “Pertemuan kita dengan empat kepala dinas ini adalah untuk membuat konsep bersama dalam membangun pertanian, perikanan, peternakan  Kabupaten Malang hingga lima tahun mendatang. Alhamdulillah, FPP UMM dipercaya oleh Bupati Malang untuk mendampingi dan merancang dalam rangka peningkatan perekonomian kabupaten Malang,” kata Dr., Ir. David Hermawan, M.P., IPM selaku Dekan FPP. “Kerjasama ini agar bisa meningkatkan produktifitas dalam berternak di semua bidang, baik itu  ternak ayam, ternak kambing, peternak sapi perah maupun sapi potong, yang selama ini kita anggap perlunya peningkatan produktifitas dari peternak. Saya kira peran akademisi bisa membantu dalam pengembangan budidaya ternak,” ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang, Nurcahyo (20/9). Karena dalam rencana jangka pendek, selain meningkatkan produktivitas ternak, pemerintah juga ingin membawa kabupaten Malang menjadi penyumbang swadaya ternak terbesar di Indonesia. “Saat ini sudah masuk 5 besar di Jawa Timur sebagai penyedia swasembada pangan berupa ternak dengan 33 kecamatan, 12 kelurahan, dan 378 desa,” lanjut Nurcahyo, Jumat (20/9), di Laboratorium Terpadu FPP UMM. Selain itu, saat ditemui di tempat yang sama Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang Ir. M. Nasri Abdul Wahid M.Eng., Sc menerangkan bahwa setidaknya ada ada 2 aspek yang harus diperhatikan dalam pangan, yakni Aspek Produksi dan Aspek Konsumsi. “Meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat, musti diimbangi dengan keseimbangan produksi yang dilakukan,” tandas Nasri. (riz/can)

Sambangi Pondok di Dau, Mobil KaCa Ajarkan Santri Public Speaking

Kamis minggu ketiga bulan September adalah giliran Kecamatan Dau Kabupaten Malang untuk dikunjungi oleh Mobil Kamis Membaca (Kaca) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bekerja sama dengan Praktikum Prodi Kesejahteraan Sosial (Kesos), Mobil KaCa membawa dua program bagi para santri Pondok Pesantren Roudlotun Nashichin (20/9). Dua program tersebut adalah Public Speaking dan English for Young Learners (EYL). Saat baru datang, Mobil KaCa langsung dikerumuni santri. Antusias membaca terpancar dari wajah-wajah anak-anak. “Disini memang koleksi bukunya lama, maka kami undang mobil KaCa,” terang Rigida Firodian Ketua Kelompok Praktikum Kesos 2019. Ada dua kelas yang persembahkan mobil KaCa kali ini. Para santri pun dibagi menjadi dua kelas yakni kelas Public Speaking dan Kelas EYL. Pada kelas Public Speaking, para santri diajarkan berani bercerita pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Salah satu yang berani adalah Efan dan Jufen. Dua santri kelas tiga Sekolah Dasar ini berpidato bersama diselingi dengan selawat dan rima sempurna yang apik. Ada pula yang berani bernyanyi sekaligus menari. “Pintar dan berani,” ungkap Mirza Bareza, Pemateri Public Speaking Mobil KaCa. Selain berbicara di depan kelas, para peserta kelas Public Speaking juga diajarkan untuk mengkonsumsi konten internet yang sesuai dengan umur. Mengingat internet kini tak mengenal waktu dan tempat yakni dapat diakses 24 jam non-stop. Sedangkan di kelas EYL yang dibimbing oleh Winarno Adiyanto, para santri diajak untuk mengingat kosa kata dalam bahasa Inggris. Kemudian akan diberi susunan huruf dan diminta untuk menyusun hingga sempurna. Para santri berasal dari anak-anak warga sekitar yang sedang duduk di bangku sekolah TK hingga SMP. Kegiatan rutinnya ialah mengaji usai asar hingga menjelang magrib. Kelas mengajinya pun berbeda-beda disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang telah diselesaikan mulai dari iqro’ hingga al-quran. Para mahasiswa Praktikum Kesos 2019 UMM juga telah mengabdi selama satu bulan penuh di Pondok Pesantren Roudlotun Nashichin. “Satu bulan pergi-pulang dari kos ke lokasi,” kata Rigida. Tetapi, lanjutnya, semua lelah itu sirna dengan senyuman dan keceriaan para santri yang menyambut hangat setiap kedatangan para mahasiswa praktikum. (mir/can)

Tips Mendapatkan Beasiswa ke Amerika ala Alumni Fulbright

Siapa yang tidak kenal United States of Amerika (USA), apalagi jika berkesempatan untuk bisa kuliah di negeri Paman Sam ini. Dr. Ike Sari Astuti selaku alumni dari program Fulbright yakni sebuah program beasiswa untuk pertukaran pelajar internasional untuk sarjana, pendidik, mahasiswa pasca sarjana dan profesional, turut berbagi tips mendapatkan beasiswa bergengsi ini. “Pertama, kalian harus tau mau mengambil apa ingin belajar apa atau terkait dengan yang mau diteliti itu apa saat di USA. Selanjutnya atau yang kedua, yakni mempersiapkan berkas-berkas yang akan dikirim dan ketiga harus tahu banget subjek apa yang harus diambil dan kita bisa memperkirakan berapa lama jangka waktu kuliah kita di sana,” ucap Ike saat mengisi di Basement Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (19/9). “Yang aku tahu, UMM ngasih tempat. Kalo fasilitas lain lebih dari American Corner (Amcor), US Embassy, dan American Indonesian Exchange Foundation (Aminef), dan yang pasti datang ke acara seperti ini turut memotivasi kita untuk melajutkan Master,” lanjutnya. Setidaknya ada empat pemateri yang menghadiri U.S Graduate Fair 2019 ataupun Educatian USA, yakni Austin Simon dari NYU-School of Professional Studies, Robert Coffey dari Michigan State University, Susan Carvalho berasal dari University of Alabama dan Dr. Ike Sari Astuti dari Fullbright Alumni. Sedangkan Susan Carvalho berasal dari University of Alabama menjelaskan tentang peluang kerja saat kuliah di Amerika, pekerjaan di kampus baik yang terkait dengan sesuai bidang maupun yang belum dirilis. Karena sebagian besar universitas memiliki daftar online (setidaknya gaji pekerjaan minimum US dengan upah 7,25 US Dollar/jam). “Dan ini adalah  saat yang tepat untuk memulai perjalanan belajar ke Amerika serta memperkuat hubungan baik antara Amerika dan Indonesia,” tandas Mark McGovern, Konsul Jenderal di Konsulat Jenderal (Konjen) AS untuk Indonesia kawasan Timur, saat memberikan sambutan dalam pembukaan US Graduate Fair 2019. “Ini artinya kita memiliki tanggung jawab, tanggung jawab bersama. Tentu saja untuk dapat ke Amerika tidak bisa sembarangan. Kita harus memiliki persiapan yang matang agar mampu membawa nama Indonesia dan Unversitas Muhammadiyah Malang di kancah dunia,” pungkas Dr. Fauzan. M.Pd selaku rektor UMM dalam kesempatan yang sama. (riz/can)

Dosen Peternakan UMM: Bioteknologi, Solusi Ketahanan Pangan dan Pelestarian Lingkungan

Ketahanan pangan menjadi topik yang tidak pernah habis untuk diperbincangkan. Tidak hanya di Indonesia saja, ketahanan pangan juga kerap kali menjadi pembahasan yang serius di kancah Internasional. Untuk itu mengharuskan adanya peningkatan hasil pangan, baik dari pertanian maupun peternakan. Akan tetapi, peningkatan hasil pangan tersebut tidak dapat menyaingi tingkat pertumbuhan populasi penduduk setiap tahunnya. Oleh karena itu, dikhawatirkan pada masa mendatang, akan mengalami kekurangan pangan. Berbagai cara dilakukan untuk menunjang ketahanan pangan. Salah satunya dengan inovasi teknologi untuk memecahkan kekurangan pangan, yaitu melalui bioteknologi. U.S. Embassy Jakarta bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar “Biotechnology Youth Outreach” di Aula Biro Administrasi UMM (18/09). Prof. Bambang Sugiharto, Director of Indonesian Biotechnology Information Centre dalam presentasinya membahas mengenai Agricultural Biotechnology. Ia mengungkapkan, keuntungan bioteknologi tanaman tersebut tidak hanya untuk menyediakan kesediaan pangan yang lebih banyak. “Pengembangan bioteknologi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, serta kualitas dan nilai nutrisi pada makanan. Bioteknologi sendiri juga sejalan dan mendukung pelestarian lingkungan. Sehingga Bioteknologi bisa sebagai solusi ketahanan pangan,” sebut Bambang. Sejalan dengan Bambang, Dr. Aris Winaya, M.Si, dosen Peternakan UMM mempresentasikan pemanfaatan bioteknologi dalam upaya konservasi hewan ternak. Tujuannya agar masyarakat dapat mempertahankan plasma nutfah agar tidak punah. Untuk memproteksi hewan lokal yang menjadi potensi di Indonesia, bisa dilakukan degan mengidentifikasi, mengkarakterisasi serta memonitor hewan-hewan lokal yang dirasa terancam punah. Selain itu, penggunaan dari ternak lokal harus dilakukan secara berlanjut, dan tidak berhenti sehingga gen tetap tersedia dalam jangka waktu yang lama. Material sampel genetik harus cukup untuk disimpan dalam rangka memastikan keamanan gen unik lokal yang terancam punah. “Kita juga perlu mengembangkan dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang mendukung perlindungan genetik sebagai strategi untuk tetap menjaga keunikan genetik hewan-hewan lokal,” ujar Aris. Menurut Aris, kearifan lokal merupakan strategi yang cukup jitu untuk menjaga genetik dikarenakan Indonesia yang masih menghormati kearifan lokal yang digagas oleh leluhur mereka. Dengan begitu penjagaan genetik dilakukan oleh segala penjuru masyarakat. (bel/can)

Sensasi Asik Berkebun Ala Agribisnis Corner UMM

Pilihan tempat untuk berwisata telah banyak tersedia di berbagai tempat. Berkunjung ke Air Terjun hingga wahana permainan ekstrem mungkin sudah biasa. Tapi, berkebun mungkin menjadi salah satu alternatif yang unik. Selain dapat belajar bercocok tanam, juga dapat belajar menjaga dan merawat bumi. Prodi Agribisnis Fakultas Ilmu Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) punya Wisata Sayur Sehat. Dikelola di bawah naungan Agribisnis Corner, Wisata Sayur Sehat dapat dikunjungi pada hari Selasa, Rabu dan Jumat oleh civitas akademik dan umum. Para pengunjung dapat merasakan sensasi memanen berbagai macam sayuran. Di antaranya Sawi Daging, Okra, Terong, Brokoli Hijau dan Kacang Panjang. “Jangan khawatir, nanti akan kami ajari cara memetiknya,” tutur Ary Bakhtiar, SP. MSi, Ketua Agribisnis Corner. Suasana sejuk alam perkebunan, menambah asiknya kegiatan berkebun. Setelah memetik, sayur-sayuran akan ditimbang dan dikemas apik untuk dibawa pulang. Selain memetik sendiri, pengunjung juga dapat memilih sayuran yang sudah dikemas. “Harganya sangat terjangkau,” jelas Ary. Wisata yang berdiri satu bulan terakhir sejak akhir Agustus ini juga akan mengajarkan pengunjung cara merawat tanaman sayuran. Satu bulan terakhir saja, sudah begitu banyak wisatawan dari luar Kota Malang yang berkunjung. Sebagiannya adalah para pengunjung yang sedang studi banding ke UMM. “Maka sekalian wisatanya ke Sayur Sehat,” kata Ary. Ary tidak menjalankan Wisata Sayur Sehat ini sendirian. Ia dibantu oleh para mahasiswa Prodi Agribisnis untuk perawatan. Menurutnya, mahasiswa perlu berpraktek nyata. Maka dari itu, perlu banyak kesempatan yang diberikan pada para mahasiswa. Bagi pria kelahiran Banyuwangi ini, mahasiswa Agribisnis sangat kurang jika hanya belajar memasarkan produk pertanian saja. Wisata Sayur Sehat ini jadi laboratorium terapan mahasiswa UMM untuk berpraktik. (mir/can)

Harapan Lulusan PPG UMM yang Mengajar di Pelosok Negeri

Menjadi seorang tenaga pendidik tentu merupakan sebuah cita-cita yang mulia, demi membangun bangsa yang berkemajuan. Hal ini juga dilakukan oleh Valensius Sugiharto yang telah mendedikasikan diri untuk mengajar di SDN Wongkol Torok Kecamatan Lembor, Kabupaten  Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. “Mengajar di sekolah yang terletak di tempat dengan kategori sebagai desa tertinggal, ada banyak kendala yang dihadapi. Seperti sarana dan prasarana yang belum mendukung, media pembelajaran yang digunakan kurang, fasilitas gedung sekolah pun belum mendukung sehingga ada begitu banyak kendala,” ujar Valensius saat ditemui di Basement Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tak hanya itu saja, kendala yang Valensius hadapi yakni memang sekolah tempat Ia mengajar itu di lingkungan yang notabene profesinya bercocok tanam, dengan tingkat pendidikan orang tua yang kebanyakan putus sekolah. “Saat lulus SD banyak yang tidak melanjutkan sekolah untuk membantu perekonomian orang tua,” jelasnya, Rabu (18/9). Perjuangan pria yang masih berstatus guru honorer inipun patut diacungi jempol dalam menangani 160 siswa yang ada di SDN Wongkol Torok. Dengan jarak dari rumah sejauh 3 kilometer dan jalan berbatu, Valensius rela-bersusah-susah, demi memperjuangkan perbaikan pendidikan bagi para siswanya. “Selain itu kendalanya adalah meskipun saya memiliki kendaraan, namun saat musim hujan di sekolah kami itu lumpur semua. Sehingga guru dan siswa itu tidak ada yang menggunakan sepatu dan saya harus berjalan kaki untuk menuju sekolah,” sambungnya. Pria Lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini, berhasil menjadi salah satu peserta Program Profesi Guru (PPG) Daerah Khusus (Dasus) yang diprogramkan oleh pemerintah sebagai perwakilan dari sekolah yang terletak pada tempat yang dikategorikan sebagai desa tertinggal lewat Pretest Uji Kompetensi Guru (UKG). “Sedari awal itu memang berdasarkan Pretest UKG, sehingga saat di konfirmasi tempo hari oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) saya dan seorang rekan yang berasal dari Manggarai Barat berhak mengikuti pendidikan PPG selama 3 bulan di UMM,” ujar Valensius. Dalam perjalanan waktu selama tiga bulan itu, pelaksanaan kegiatan PPG 8 hari di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) lalu dilanjutkan dengan kegiatan pendidikan di UMM selama dua bulan dan setelah itu, praktek lapangan selama tiga minggu. “Saya harap kedepannya, kesejahteraan para pendidik ataupun para guru honorer terus diperhatikan oleh pemerintah,” pungkasnya dalam gelaran kelulusan dan penyerahan sertifikat pendidik Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Periode II Tahun 2019 dengan jumlah lulusan sebanyak 380 orang terdiri dari  112 atau 29% laki-laki dan 268 atau 71% perempuan. PPG Dalam Jabatan (Daljab) sebanyak 291 orang. Terdiri dari 260 lulusan yang berada di dalam naungan Kemenristek Dikti dan 31 lulusan di bawah naungan Kementerian Agama. PPG Pra Jabatan sebanyak 81 orang, dan PPG SM3T sebanyak 8 orang. “Saya harap dengan hadirnya kalian di tengah-tengah masyarakat sebagai seorang tenaga pendidik, itu nanti bisa menjadi tonggak kecerahan masa depan bangsa di masa yang akan datang,” tandas Dr. Poncojari Wahyono, M.Pd selaku Dekan FKIP UMM. (riz/can)

UMM Tuan Rumah Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional 2019

Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi kembali menyelenggarakan Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) Tahun 2019. Kali ini giliran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan kompetisi bergengsi tahunan ini. Rencananya, kegiatan ini akan berlangsung pada 10-12 Oktober 2019 mendatang. Terdapat dua lokasi yang dipilih sebagai arena perlombaan yang representatif dan memenuhi strandar perlombaan tingkat nasional. Yaitu danau yang terletak di depan Gedung Kuliah Bersama I Kampus III UMM di Jalan Raya Tlogomas No. 246. Dan Danau Taman Rekreasi Sengkaling UMM, salah satu unit bisnis legendaris milik Kampus Putih UMM di Jalan Raya Sengkaling No.194, Malang, Jawa Timur. Sampai berita ini diturunkan, para peserta yang mendaftar telah mengumpulkan dokumen evaluasi tahap 1. Pada 20 Agustus lalu, telah diumumkan evaluasi tahap 1 KKCTBN Tahun 2019. Batas pengumpulan bahan evaluasi tahap 2 pada tanggal 18 September. Hasil evaluasi tahap 2 akan diumumkan 23 September. Sementara, pada 11-12 September merupakan free trial, technical meeting dan pelaksanaan lomba. “Penilaian kontes KKCTBN ini dilakukan terhadap setiap kategori dengan beberapa kriteria. Selain ditentukan berdasarkan waktu tercepat, pertimbangan dalam penilaian juga berupa manuver kapal dalam setiap rintangan pada lintasan. Ada pula penghargaan bagi desain kapal terbaik,” terang Dr. Nur Subeki, ST., MT. selaku Ketua Pelaksana KKCTBN Tahun 2019 di UMM saat ditemui Jumat (13/9) siang. Terdapat 3 kategori yang diperlombakan. Pertama, Kapal Kendali Otomatis. Pada kategori ini, kapal didesain dan dibangun dengan piranti lunak elektronik otomatis atau sensor warna. Kedua, Kapal Cepat Listrik dengan Sistem Kendali Jauh. Kapal ini menggunakan baterai sebagai sumber tenaga penggerak dengan bantuan remote control. Terakhir, Kapal Cepat Berbahan Bakar dengan Sistem Kendali Jauh. “Setiap kategori kontes prototipe kapal memiliki misi dan tantangan yang berbeda-beda. Secara umum kemampuan menyelesaikan misi dan tantangan tersebut dapat diukur melalui kecepatan dan kemampuan bermanuver. Misi dan tantangan tersebut diterjemahkan ke dalam lintasan yang harus dilalui oleh setiap kapal dalam setiap kategori,” ungkap Subeki yang juga Wakil Dekan III Fakultas Teknik. Daya kreasi mahasiswa dalam kontes ini tidak hanya mencakup desain badan kapal yang baik dari segi performance dan manuver, tetapi juga mencakup perencanaan sistem penggerak, sistem navigasi yang handal, dengan memperhatikan keselarasan faktor teknis lainnya (engine matching). Dengan demikian kreatifitas dalam kontes yang dimaksud akan melibatkan beberapa disiplin ilmu teknik yang terkait. Sebagai tuan rumah pada kontes KKCTBN tahun 2019 ini, UMM mengangkat tema yaitu “Teknologi Kapal untuk Menjaga Kedaulatan Bangsa di Era Revolusi 4.0”. Selain itu, penyelenggaraan kontes ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas intelektual melalui ajang uji kreatifitas mahasiswa, meningkatkan kemandirian dan kesiapan dalam menghadapi tantangan yang bersifat regional maupun global. (bel/can)