Sah! UMM Kini Punya Akademi Sepak Bola

SETELAH diimpikan sekian lama, akhirnya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki Akademi Sepakbola. Akademi ini dilaunching di Lapangan Sepak Bola UMM Senin (16/11). Akademi yang dibagi 3 kelompok umur yaitu U-10 tahun, U-15 tahun, dan U-18 tahun, diresmikan oleh Rektor UMM Dr. Fauzan. Setiap kelompok umurnya memiliki kurikulum berbeda. “Kelompok U-10 tahun biasanya diberikan materi bermain sepak yang membuat mereka menjadi senang. Kelompok umur U-15 tahun, diberikan materi tentang teknik dasar bermain sepak bola. Sedangkan kelompok umur U-18 tahun, diberikan materi mengenai teknik dasar dan etika dalam bermain sepak bola,” ungkap Ketua Akademi Dr. Haris, SH., M.Hum. di lapangan. Didorong dengan pertumbuhan generasi muda yang signifikan serta melihat perkembangan sepak bola yang terus mengalami peningkatan tajam, UMM berusaha hadir untuk mewujudkan munculnya generasi muda yang punya potensi untuk menimba ilmu serta mengarahkannya secara akademis yang berkesinambungan. Sehingga, menghasilkan pesepakbola unggul. Rektor UMM Fauzan mengungkapkan bahwa UMM selama ini bergerak di tingkat perguruan tinggi telah memiliki sarana olahraga yang sangat representatif untuk membuka akademi khususnya sepak bola. “Bila ada kegiatan akademi sepakbola di UMM nantinya akan muncul pemain sepak bola yang handal, sehingga membanggakan Indonesia,” katanya. UMM punya jargon “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. Di setiap kesempatan UMM berupaya sekuat tenaga, UMM ingin hadir di setiap lini. Bagaimana masyarakat Malang khususnya, dan Indonesia pada umumnya, merasakan getaran dari Universitas Muhammadiyah Malang. Demikian bertransformasinya Sekolah Sepak Bola (SSB) menjadi Akademi Sepakbola UMM. Sebelum bertransformasi menjadi Akademi, SSB UMM telah banyak mendapat raihan prestasi. Di antaranya Juara Piala Menpora di Jawa Timur (2018), Juara Suratin Regional Jawa Timur (2019), Juara Kejurnas FOSBI PAJL (2019), dan Juara Total Liga Nasional (2019), serta banyak prestasi lain yang diraih, baik di regional Jawa Timur dan nasional, sejak SSB UMM ini didirikan. “Akademi ini harus memiliki warna lain dalam koridor kealislaman dan kemuhammadiyahan,” ungkap Fauzan. Fauzan lantas berharap, dari sini juga diharapkan mampu melahirkan fiqih sepakbola. Lebih jauh, dilanjutkan Fauzan, keberadaan sepakbola dan turunannya itu harus menghadirkan nilai humanis dan nilai religiusitas dalam dunia olahraga, khususnya di sepak bola. Diresmikannya Akademi Sepak Bola ini juga sekaligus dihelatnya gelaran Final Regional 3 Jawa Timur Liga Hizbul Wathan 2019 yang mempertemukan antara Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PS HW) UMM dan PS HW Sidoarjo. Acara yang diikuti 12 tim se-Jawa Timur ini ditutup oleh Ketua Umum Pimpinan Wilayah Jawa Timur, Dr. KH. Sa’ad Ibrahim. “Secara umum kompetisi ini ditujukan agar Muhammadiyah dapat mengembangkan sayap dakwahnya, utamanya di dunia olahraga. Secara khusus lagi di dunia sepakbola. Inginnya, melalui kompetisi ini, ada tim profesional dari atlet Muhammadiyah yang bisa berlaga di kompetisi profesional,” ungkap Sobrun Jamil, panitia Liga HW regional 3 Jawa Timur di Kampus Putih. (bel/can)

Tim Kardos UMM Menangi Laga Friendly Match Lawan UMY

Ahad pagi (15/12) UMM kehadiran tamu Tim Karyawan-Dosen (Kardos) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk melakukan Friendly Match atau lebih sering disebut Sparring olah raga sepak bola dan bulutangkis. Dengan skuat terbaiknya, tim UMY membawa 53 pemain termasuk pejabat rektorat yang juga hobi olah raga. Mereka adalah Dr. Nano Prawoto, SE., M.Si Wakil Rektor 2 yang hobi Bulutangksi dan Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., wakil rektor 5 yang senang main sepak bola. “Kalah menang yang penting santai. Karna bermain olah raga untuk menciptakan kebahagian dan menjaga tubuh tetap bugar. Dan lebih bernfaat lagi, menjalin silaturohmi dengan sesame”, kata Achmad Nurwandi pada sambutan ceremonial sebelum dimulai pertandingan. Dia juga mengungkapkan kekagumannya pada fasilitas olah raga di UMM yang bagus dan terjaga khususnya lapangan sepak bola UMM dengan kondisi rumput yang mirip dengan stadion nasional meenambah semangat untuk berolah raga. Sementara itu, pihak tuan rumah yang diwakili oleh Dr Fauzan, M.Pd mengatakan kegembiraanya kedatangan tamu Tim UMY. “Saya sangat senang kehadiran tim UMY ke UMM. Disamping untuk menambah motivasi berolah raga, ini juga untuk membuktikan eksistensinya bahwa kita semua akanlebih sehat jika tubuh dijaga dan berolah raga rutin”, ungkat Rektor UMM ini. Selesai sambutan, masing pihak saling memberikan kenang eknangan dan cinderamata sebagai bentuk penghargaan akan kehadiran dan kedatangan tamu dari tim UMY. Pada cabang olah raga sepak bola yang kick offnya dilakukan oleh Rektor, Tim Kardos UMM berhasil memenangi pertandingan dengan skor telak 4 – 1. “Kami bermain disiplin dengan marking yang ketat. Kita menguasai lapangan dan permainan. Tim UMY dibuat tak berkutik selama babak awal 35 menit awal. Ini telah menuntaskan balasan ketika tim UMM melakukan lawatan ke UMY yang kalah dengan skor yang sama.”, jeas Andik selaku Captain dan Koodinator sepak bola Dokar UMM. Di olah raga tepok bulu atau badminton, UMM juga memenangi dengan skor kemengan 15 – 8. Separo lebih tim UMM mengambil kemenangan dilaga tepok bulu yang dilaksanakan di GOR Tunggul Wulung. Meski di set-set awal UMM kecolongan dengan menelan kekalahan. Tapi mampu bangkit untuk memenangi pertandingan. Pasangan Baiduri/Mahfud adaalah pasangan gaek yang mengawali kemenangan tim badminton UMM. Rupanya kemenangan itu terus berlanjut ke pasangan lain. Seperti pasangan Ridlo\Andi yang  dengan mudah memadamkan perlawanan  pasangan Todi/Wisnu dai UMY. Sampe akhir pertandingan UMM telah memnangi separo lebih dari 23 pasangan yang dimainkan. (rid/can)

Pascasarjana PTM se Indonesia Gelar Konferensi Nasional di UMM, Bahas Humanisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era Industri 4.0, humanisme muncul sebagai gagasan netral yang ingin menegaskan martabat manusia untuk memanfaatkan potensi dan kecerdasan yang dimiliki. Sayangnya tidak semua individu yang siap dalam menghadapi kemajuan teknologi beserta ilmu pengetahuanya. Untuk itu, Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhamadiyah Aisyiyah (APPPTMA) menghelat konferensi nasional di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sabtu, (14/12). Dengan mengangkat tema besar “Humanisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”, konferensi ini diikuti mahasiswa dan dosen pascasarjana dari 24 perguruan tinggi Muhamadiyah se Indonesia. “Konferensi ini, selain untuk berdiskusi mengenai isu-isu humanisme, juga sebagai perekat dan pembanding pemikiran-pemikiran yang akan disejalankan dengan visi misi Muhamadiyah di dalam pengembangan program pascasarjana,” demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si dalam pidato sambutannya. Konferensi ini menghadirkan 4 pemateri dari anggota  APPPTMA, yaitu Dr. H. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si dari Universitas Muhammadiyah Sidenreg Rappang (Sidrap), Dr. Ribut Wahyu Eriyanti dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Adi Mansar Lubis dari Unibersitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan Dr. Muhammad Azhar, M.A dari Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.  “Terdapat tiga point yang dibahas hasil dari turunan tema besar. Salah satunya tentang rekonstruksi sistem pendidikan, yakni perlu diadakan revisi yang selaras terkait kemanusiaan. Maksudnya, warga negara wajib hukumnya mendapat ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan harus dijadikan sebuah bibit yang nantinya akan kita rawat selaras dengan kemajuan teknologi,” jelas Lubis. Di Jepang, terkait perkembangan teknologi sudah mulai mencanangkan “Society 5.0”, di mana masyarakat yang tinggal di lingkungan teknologi yang canggih, dapat menyelaraskan kehidupan dan menyesuaikan potensi agar tidak tertinggal dengan kemajuan Industri 4.0. “Dengan begitu, jika diterapkan di Indonesia yang notabennya demografi penduduk di usia produktif lebih tinggi, dapat dijadikan modal dasar pembangunan yang luar biasa,” demikian dilanjutkan oleh Ribut. Peserta juga diwajibkan membuat call paper. Pada tahun ini, panitia membuat standar template penulisan call paper yang nantinya akan dipublikasikan sebagai output dalam prosiding atau tulisan jurnal. “Saat ini terdapat 132 karya dari call paper yang masuk, dan hanya 58 paper yang dapat dipublikasikan sesuai dengan standar. Ikhtiar ini guna meningkatkan kualitas output publikasi,” jelas Mokhamad Najih, Ph.D. selaku ketua pelaksana. Konferensi yang digelar dua hari, selain dijadikan sebagai forum ilmiah ditujukan untuk mendesiminasikan karya-karya tulis dosen dan pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Serta, meningkatkan sinergi pengelolaan pascasarjana antar Perguruan Tinggi Muhammadiyah agar dapat maju bersama. (riz/can)

Lembaga Kebudayaan UMM Bakal Dirikan Museum Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Lembaga Kebudayaan (LK) bakal segera mendirikan Museum Pendidikan. Hal ini diungkapkan Kepala LK UMM Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. dalam kesempatan Sarasehan Budaya, Kamis (12/12). Perintisan pengembangan Museum Pendidikan ini mendapat respon positif dari salah satu pelukis kenamaan Indonesia, Kartika Affandi yang turut hadir di Sarasehan. Perintisan Museum Pendidikan UMM saat ini telah memiliki lebih dari 500 item dari berbagai benda seperti gerabah, patung, lukisan, topeng dan lainnya yang merupakan hibah dari salah satu dosen. Nantinya konsep yang dihadirkan pada museum ini terbagi menjadi tiga yakni display benda-benda budaya disertai katalog printing, visual dan audio visual. Kedua kajian-kajian dan terakhir penampilan seni dan budaya. Museum ini nantinya akan memberikan wadah bagi mahasiswa, dosen dan karyawan untuk mengekspresikan seni dan budaya. Daroe lebih jauh menjelaskan bahwa beberapa kegiatan yang akan diadakan di museum pendidikan ini antara lain, edukasi dengan memberikan pelatihan kepada mahasiswa, dosen dan karyawan misalnya membatik yang dilatih baik dari segi kognitif, pengetahuan atau keterampilan. Tak hanya sebagai pusat pendidikan, Museum Pendidikan UMM nantinya juga merupakan sebuah galeri seni dan budaya. “Salah satu misi yang ingin disampaikan museum ini yakni mendekatkan Muhammadiyah dengan seni dan budaya. Pasalnya selama ini Muhammadiyah dianggap menjauhi seni dan budaya padahal kedua hal tersebut merupakan instrumen dakwah kultural untuk semua bangsa,” kata Daroe. Museum ini juga akan mengadakan pelatihan kepada guru-guru tentang kepenulisan pengembangan media pembelajaran dan hal-hal yang berkaitan dengan edukasi. Ada juga perform dari mahasiswa dengan potensi seni dan budayanya. “Kami memiliki motto dari Muhammadiyah untuk Bangsa, jadi kita ingin membuka cakrawala dan mengarahkan jiwa nasionalisme kita berbasis seni dan budaya nusantara,” tandasnya. Dalam kesempatan Sarasehan itu, Kartika Affandi beradu kemampuan dengan Sadikin serta Azzam. Selain menampilkan karya melukisnya, Kartika juga menawarkan kerja sama dalam beberapa hal. Salah satunya dengan kegiatan melukis yang melibatkan Kartika Affandi serta para pelukis lainnya. Kemudian lukisan dilelang yang nantinya hasil lelang tersebut disumbangkan ke yatim piatu di Malang dan Yogyakarta. Kartika Affandi di sela-sela melukis menuturkan, dalam menciptakan sebuah karya didominasi oleh pengalaman pribadi dan berdasarkan realita. Sepanjang perjalanan karirnya, perempuan 85 tahun ini tidak pernah menggambar berdasarkan imajinasi. “Semua berdasarkan pengalaman dan kenyataan, melukis tidak bisa dilakukan sekali dua kali melainkan harus terus menerus untuk menghasilkan karya,” ujar Kartika. (riz/can)

FT UMM Teken Kerjasama dengan UTM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen dalam memperkuat kerjasama di kancah internasional. Sejalan dengan hal tersebut, Fakultas Teknik UMM melakukan kerjasama dengan Razak Faculty of Technology and Informatics Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Kamis (5/12). Dekan Fakultas Teknik UMM, Dr. Ahmad Mubin, MT Menjelaskan, penandatanganan MoU ini sekaligus pengenalan pengembangan research yang telah dilaksanakan UTM dalam perencanaan global. “Indonesia yang merupakan satu rumpun dan paling dekat dengan beberapa kesamaan dalam bahasa, budaya, harapannya pengalaman research sustainability yang telah dilakukan UTM bisa ditularkan di UMM, sehingga dapat diterapkan untuk memperkuat internasiolisasi,” sebut Mubin. Prof. Dr. Astuty Bin Amrin, Dekan Razak Faculty of Technology and Informatics dalam paparannya menjelaskan, bagaimana UTM dalam merancang strategi untuk lima tahun ke depan. Berbagai kebijakan dirombak, agar mencapai goal dalam lima tahun ke depan. Menurutnya, sumberdaya manusia harus sejalan dengan perkembangan global. “Dalam revolusi industri 4.0 ini, mahasiswa tidak lagi menjadi pencari pekerjaan. Mahasiswa harus memiliki mindset sebagai pencipta pekerjaan. Oleh sebab itu, mental entrepreneur harus ditanamkan dalam diri mahasiswa,” sebut Astuty. Lebih lanjut, Astuty memperkenalkan berbagai program yang bisa dilaksanakan juga di UMM. Di antaranya program CEO Faculty Program, di mana dosen muda akan diarahkan untuk bekerja dalam perusahaan. Harapannya, agar dosen mendapat pengalaman yang inputnya bisa diaplikasikan dalam pengajaran di kelas. Tidak hanya program untuk dosen, mahasiswa tidak lagi mengarah pada ujian akhir. Mahasiswa harus mampu bersaing dalam kelas berupa presentasi dan diskusi. Hal ini agar mengasah critical thinking dalam diri mahasiswa. “Terdapat strategi lainnya yang juga dapat dilakukan oleh universitas, yaitu global perfomance berupa branding, inovasi dalam ekosistem, finansial yang berkelanjutan seperti yang dilakukan oleh UMM, e-learning yang wajib dilakukan dalam industri 4.0 saat ini,” sebut Astuty. Adapun isi dari MoU tersebut meliputi beberapa kerjasama, di antaranya remote supervision program philosophy of doctor, yaitu program S3 yang berbasis penelitian yang akan segera dilaksanakan, summer program dan student exchange and lecture exchange. (bel/can)

Sekda Malang di UMM: Kita Harus Mampu Memberikan Inovasi

“Kita tahu bahwa di kota Malang memiliki banyak sekali kampung tematik, yang bermula dari Kampung warna-warni dan mengispirasi lahirnya kampung-kampung tematik yang ada di kota Malang. Saya kira kita sebagai warga, masyarakat maupun mahasiswa harus mampu untuk membaca kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan serta memberikan inovasi yang berdampak baik di lingkungan kita,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang Drs. Wasto, SH, MH. Wasto melanjutkan, bahwa Inovasi pemerintah dan kemampuan beradaptasi dengan dukungan seluruh elemen masyarakat menjadi sebuah keharusan, bukan pilihan bagi organisasi pemerintah agar lebih responsif terhadap perubahan. “Pelaksanaan E-Government harus dilaksanakan secara masif dengan menyiapkan infrastruktur data dan jaringan yang mumpuni. Dan menyiapkan infrastruktur sumber daya manusia yang terampil serta memiliki information technology literacy yang tinggi,” jelas Dr. Nuryanti Mustari, M.Si dari Universitas Muhammadiyah Makassar. Selain itu, menurut Nuryati ada juga lima dimensi yang dibutuhkan dalam Learnig Oganization yakni dimulai dari System Thinking (Sistem berfikir), Personal Mastery (penguasaan diri), Mental Model, shared vision (visi bersama), serta membuat kelompok pembelajaran atau Team Learning. Sedangkan di acara yang sama yakni pada Simposium Nasional dengan tema Tantangan Penyelenggaraan Pemerintahan di Era Revolusi Industri 4.0, Dr. Ria Angin, M.Si dari Universitas Muhammadiyah Jember menjelaskan tentang  pengaruh kesenjangan Gender yang masih menjadi masalah. Berdasarkan data dari Indeks Kesenjangan Gender tahun 2017,  Indonesia berada pada urutan 9  sedangkan di dunia berada di urutan ke 84. Agenda ini diadakan Asosiasi Ilmu Pemerintahan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AIPPTM), Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan Seluruh Indonesia (ADIPSI) dan Program studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan UMM. Serta diikuti oleh 18 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. “Kegiatan Simposium ini sebenarnya berbarengan dengan empat kegiatan yakni,  Simposium nasional, persentasi hasil karya ilmiah mahasiswa yang berkaitan dengan Ilmu Pemerintahan, Seminar Nasional, serta pelatihan penelitian berbasis data. Saya rasa kegiatan ini menjadi jujukan bagi mahasiswa dalam mempublikasi makalahnya,” pungkas Ach. Apriyanto Ramadhon selaku ketua pelaksana. Senin (9/12). (riz/can)

Smart Tongkang Karya Mahasiswa UMM Raih Silver Medal di Jepang

Inovasi teknologi peningkat kualitas dan mempercepat produksi garam Smart Tongkang (Smart Barge) karya mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menang di ajang inovasi tingkat dunia Advance Innovation Jam (AI-JAM) di Tokyo, Jepang, Minggu (8/12). Mereka menang dengan raihan sangat memuaskan. Adalah Zehandana Khatami Rasyid, Haryo Widya Darmawan, dan Annisa Widya Nurmalitasari, mahasiswa Kampus Putih yang berhasil kembali mengharumkan nama Indonesia dengan menyabet silver medal. Melalui Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), UMM maju dengan 17 tim dari Indonesia lainnya. “Kan masalahnya ingin meningkatkan kapasitas produksi. Sedangkan masalah utamanya adalah lahan. Jadi kami turunkan dulu penyebab-penyebab garam terbentuk. Lalu dari jalur masalahnya bisa dimodifikasi secara engineering,” ungkap Haryo. Mereka mengaku mendapat pujian dari juri. “Juri bilang, keren,” sambungnya. Menurut mahasiswa yang kerap mengikuti ajang internasional ini, diperlukan solusi berupa pernambahan lahan yang fleksibel namun membantu percepatan produksi garam yang sesuai standar layak. Sehingga bisa dipindah-pindah dan didekatkan menuju pabrik, sehingga mengurangi biaya transport dan operasional truk. “Solusi berupa penambahan lahan terapung menjadi masuk akal, karena bisa dipindah-pindah atau didekatkan menuju pabrik. Serta disematkan teknologi tambahan berupa control device android untuk mengetahui posisi, kadar air, temperatur, dan pengaktifan fitur mekatronika otomatisnya,” terang Haryo yang dihubungi via WhatsApp (9/12). Karena dilengkapi atap, cermin, generator kincir, sekop yang bisa dikendalikan otomatis, tongkang anti karat, tow hook, dan anchor membuatnya mudah dipindahkan. Sehingga pembuatan tambak garam hybrid ini diharapkan jadi solusi untuk membantu petani mempercepat pembuatan garam yang sesuai standar keperluan industri. Dengan rancangan tongkang garam ini diharapkan dapat menjawab berbagai masalah seperti keterbatasan lahan karena proses kristalisasi dilakukan di atas laut, kualitas garam meningkat seperti kebersihan, warna, penurunan kadar air, dan percepatan produksi yang semula 15 hari menjadi 8-10 hari karena rekayasa mekatronika. “Itu artinya, produksi panen garam akan lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik dan akan meningkatkan harga jual panen yang lebih tinggi. Harapannya solusi teknologi ini akan menjadi penyebab berhentinya impor garam pemerintah. Kami sedang menyusun dokumen paten untuk produk ini,” pungkas Haryo, perihal rencana selanjutnya. (can)

Angkat Isu Pendidikan Inklusif, Psikologi UMM Undang Pembicara dari India

Model pendidikan yang tidak membeda-bedakan golongan menjadi mimpi bagi semua orang. Hal inilah yang jadi fokus isu yang diangkat dalam Seminar Pendidikan Inklusif yang digelar Fakultas Psikologi UMM dan Laboratorium Psikologi Terapan Psikologi Individu Berkebutuhan Khusus (LPT PIBK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (7/12). Menghadirkan chairman the Mind Research Foundation, Rtn. MPHF. Ayyapparaj M. “Sebenarnya ada beberapa strategi pengajaran dan perangkat pendukung compensatory yang sudah dilakukan untuk penyandang disabilitas di India. Di antaranya furniture yang disesuaikan, kursi roda, menghilangkan penghalang struktur bangunan, serta penyediaan standing frame,” ujar Rtn. MPHF. Ayyapparaj M., saat menjelaskan Seminar bertajuk Pendidikan Inklusi bagi Pelajar dengan Disabilitas. Adapun bagi penyandang tunanetra, sambung Ayyapparaj, disediakan buku yang menerapkan huruf Braille, tongkat mobilitas (tongkat yang biasa digunakan untuk tunanetra), penyediaan alat bantu audio dan rekaman. “Tak kalah penting, mereka juga diajarkan bentuk, ukuran, ketebalan, berat, dan lainnya.  Yang dekat dengan pengalaman nyata melalui sentuhan, indra penciuman dan pedengaran pada sebuah objek,” katanya. “Tak hanya itu saja, guru biasanya lebih menggunakan pendekatan verbal. Buku dilengkapi dengan alat bantu bicara dan kalkulator. Membuat mereka terbiasa dengan arah, misalkan berhitung tentang berapa langkah kaki dari tempat tidur ke jendela, berapa langkah kaki menuju pintu, dan lainnya. Serta memberikan isyarat pendengaran saat melakukan permainan dan olahraga,” ujarnya di hadapan para tenaga pendidik. “Sedangkan kita di sini tahu bahwa di Indonesia ada beberapa sistem pendidikan yakni Segregasi, Inklusi dan Integrasi. Kalau pendidikan Segregasi, sekolah memisahkan antara anak berkebutuhan khusus dengan anak reguler, dan kalau di Inklusi kita bisa memaknai pendidikan bahwa setiap anak bisa masuk ke dalamnya,” jelas M. Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Psikologi UMM. Untuk pendidikan Intergrasi, lanjut Salis, anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak biasa digabung. Tetapi, dikelompokkan pada unit atau kelas khusus. Hal ini telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Melalui Seminar Pendidikan Inklusi ini menjadi penambah wawasan, bagi peserta yang datang.  Karena mayoritas peserta kita dari sekolah-sekolah,” ungkap Salis. (riz/can)

Prodi Akuakultur UMM Gelar Pelatihan Teknik Perikanan

Sektor perikanan merupakan kekayaan sumberdaya alam yang penting di indonesia. Tentu saja sektor ini dapat berimbas pada ketahanan pangan Indonesia. Namun fenomena yang terjadi saat ini, kurangnya minat generasi muda terjun dalam dunia perikanan menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan. Kekhawatiran terhadap generasi muda tersebut, membuat program studi (Prodi) Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat pelatihan bertajuk “Fisheries Training for Youth Aquaqulturist 2019” di Fish Edupark UMM (7/12). Dengan 54 peserta dari SMA/SMK sederajat di berbagai daerah Jawa Timur, harapannya generasi muda saat ini dapat mengerti mengenai teknik-teknik aquakultur. “Peran pemuda dalam perikanan diharapkan dapat menciptakan konsep-konsep baru untuk dimasa mendatang,” sebut Soni Andriawan S.Pi, M.P, M.Sc, yang merupakan Ketua Pelaksana dalam kegiatan tersebut. Terdapat 4 materi yang disampaikan, yaitu Aquaponic atau integrasi budidaya ikan dan tanaman, cara pembenihan ikan yang baik, Genogenesis atau teknik menghasilkan anakan ikan betina semua dan Sex Reversal atau teknik merubah jenis kelamin ikan. Keempat materi tersebut disampaikan oleh dosen-dosen akuakultur, yaitu Ganjar Adhy Wirawan, SPi. MP., Riza Rahman Hakim, SPi. MSi., Anis Zubaidah, SPi. MSi., dan Dony Prasetyo, SPi. MSi. “Setiap materi akan diberikan materi dan juga praktek di akhirnya. Sehingga peserta dapat belajar langsung dengan teknologi-teknologi yang ada di fishedupark. Jadi transfer ilmunya dilakukan dengan menyenangkan, yaitu belajar sambil rekreasi,” sebut Soni. Dalam pelatihan tersebut, peserta diajak untuk mengetahui bagaimana cara budidaya ikan lele, mulai dari pengenalan jenis ikan lele, pembenihan, pemijahan, perawatan, pemanenan, hingga pengemasan benih. Dalam materi sex reversal dan genogenesis, peserta dpaat mempelajari seksualitas hingga pemberian hormon pada ikan cupang. (bel/can)

Perpustakaan UMM Pertahankan Akreditasi A

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 18 November lalu, perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mempertahankan predikat akreditasi dengan nilai sangat baik (A). Perpustakaan UMM sendiri telah mendapat akreditasi A sejak 2015. Ketua Perpustakaan UMM Dr. Asep Nurjaman, M.Si. menyebut, perpustakaan UMM berfokus pada pelayanan mahasiswa. Hal ini demi menjalankan prioritas dan tujuan utama dalam mendukung penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi. Yakni penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian. “Berkat komitmen para staf dengan didukung oleh jajaran pimpinan dalam rangka mengembangkan institusi perpustakaan, baik dari sisi religiusitas, edukasi dan peningkatan minat membaca, Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang dapat mempertahankan akreditasi A,” kata Asep ditemui Kamis (5/11). Tak dipungkiri, masuknya era Revolusi Industri 4.0 menuntut perpustakaan untuk menyesuaikan diri. Di situlah, Perpustakaan UMM melengkapi segala instrumen, baik infrastruktur maupun sumberdaya manusia untuk bisa unggul. Yakni dengan hadirnya digital library yang lebih merujuk pada institutional repository UMM. Fasilitas yang diberikan oleh perpustakan ini bisa dibilang sangat lengkap. Yakni sebagai pusat literasi pendukung pembuatan skripsi dan penelitian yang ada di kampus dalam bentuk e-journal dan e-book. Disediakan pula ruangan tambahan seperti American Corner, Aussie Corner, dan corner lainnya hasil kerjasama. Selain berbagai corner-corner dari lembaga dan negara yang telah bekerjasama dengan Kampus Putih, juga terdapat Pojok Rekreasi yang berfungsi untuk refreshing. “Sehingga suasana yang kami berikan tetap membuat mahasiswa maupun staff tetap enjoy untuk datang ke wilayah perpustakaan,” tambah Asep. Disamping itu, guna tetap menjaga privasi dan keamanan pengunjung, perpustakaan rutin menyelenggarakan program Bimbingan Teknis (BIMTEK) yang meliputi program peminjaman buku dengan sistem library automatic service (laser), aktivasi PIN dan PIC untuk mengakses internet dengan jaringan internal kampus. Perpustakaan UMM memiliki 4 lantai yang dilengkapi ribuan buku dengan 10 kategori yakni karya umum, Filsafat dan Psikologi, Agama, Ilmu Sosial, Bahasa, Sains, Teknologi, Seni dan Rekreasi, Kesusasteraan, Sejarah serta Ilmu Bumi. Bukan tanpa sebab, kategori buku yang ada sudah melewati penyiangan dan data riset. Dilanjutkan Asep, dengan segala ketersediaan fasilitas dan sumberdaya manusia (SDM) yang kompeten, raihan akreditasi yang didapat Perpustakaan UMM terbilang tidaklah sulit. “Cintailah perpustakaan. Dengan itu kalian bisa melihat indahnya khatulistiwa dengan membuka jendela dunia,” pesan Asep di ruangannya. (yas/can)