Maharesigana UMM Borong Penghargaan di Ajang Nasional

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Maharesigana (Mahasiswa Relawan Siaga Bencana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka sukses mencatatkan prestasi menarik dengan meraih gelar Juara Umum pada Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2025. Adapun ajang nasional ini yang diselenggarakan di Mojokerto, Jawa Timur, dan diikuti oleh berbagai kontingen relawan dan lembaga kebencanaan. Terhitung ada tiga penghargaan utama yang Maharesigana raih. Juara 1 Stand Kreatif Terbaik, Juara 1 Program Inovatif Terbaik, dan Juara 2 Media Edukasi Terbaik. Kemenangan ini diraih pada 2 Oktober 2025 lalu dan bersaing dengan berabagai peserta. Terkait prestasi ini, Ketua Umum Maharesigana UMM, Rindya Ferry Indrawan mengatakan bahwa prestasi ini merupakan hasil dari komitmen kemanusiaan yang kuat di antara anggotanya. “Pencapaian ini tidak lepas dari kerja keras dan semangat kemanusiaan seluruh tim. Kami ingin terus membuktikan bahwa generasi muda harus siap, sigap, dan tangguh dalam menghadapi bencana. Hal itu juga harus disebarkan ke masyarakat,” katanya. Salah satu inovasi terbaik datang dari anggota tim, Ana, yang meraih Juara 1 Program Inovatif Terbaik. Ia mengatakan bahwa program inovatif itu merupakan hasil kolaborasi demi memberikan solusi praktis di lapangan. Harapannya, karya itu benar-benar bisa diaplikasikan untuk membantu masyarakat dalam memitigasi dan merespons bencana secara lebih efektif. Keberhasilan Maharesigana UMM ini mendapat apresiasi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Wahyu Heniwati, S.E., M.M. Ia yang merupakan Ketua Bidang Mitigasi dan Kesiapsiagaan MDMC PP menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dan generasi muda dalam menciptakan ketangguhan. “Pencapaian Maharesigana UMM ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi dan gerakan kerelawanan mampu melahirkan solusi-solusi inovatif, baik di bidang kesiapsiagaan maupun mitigasi. Generasi muda seperti Maharesigana adalah aset krusial kita dalam mewujudkan ketangguhan bangsa menghadapi spektrum ancaman bencana,” katanya. (*)

Wamen Diktisaintek: Kampus Muhammadiyah dan Aisyiyah Berperan penting dalam Peta Pendidikan Nasional

Kolaborasi adalah kunci membangun kepercayaan dan dampak nyata. Hal itu ditegaskan Prof. Fauzan, M.Pd. selaku Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Indonesia, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 17 Oktober 2025. Ia menekankan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah harus menjadi pelopor dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan tinggi. Menurutnya, PTMA tidak hanya berperan sebagai penyelenggara pendidikan, melainkan sebagai kekuatan strategis yang memimpin perubahan. “Muhammadiyah ini memiliki 162 PTMA. Dengan jumlah sebesar ini, kita harus saling menguatkan, berjejaring, dan berkolaborasi agar menjadi leading sector dalam membangun kepercayaan publik,” ujarnya. Dalam paparannya, Fauzan menyoroti kontribusi PTMA yang kini menempati posisi penting dalam peta pendidikan nasional. Dari total 4.369 perguruan tinggi di Indonesia, PTMA mencakup sekitar empat persen secara kuantitas, dengan 20.041 dosen atau tujuh persen dari total nasional. Namun, kontribusinya dalam riset dan pengabdian masyarakat justru melampaui rata-rata nasional. Partisipasi institusi PTMA dalam kegiatan riset mencapai 81 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 52 persen. Ia menyebut, dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan riset di lingkungan Muhammadiyah meningkat hingga 168 persen, sementara keterlibatan mahasiswa melonjak 228 persen. “Ini menunjukkan kesadaran baru di kalangan sivitas akademika Muhammadiyah. Namun jika baru bicara angka, kita baru setengah jalan. Kuantitas tanpa kualitas tidak cukup. Riset harus berdampak, harus menyentuh masyarakat,” ujarnya. Lebih jauh, Fauzan mencontohkan praktik baik dari konsorsium 17 kampus Muhammadiyah di Nusa Tenggara Timur yang fokus pada isu stunting, kemiskinan, dan ketahanan pangan. Menurutnya, langkah ini mencerminkan wajah baru pendidikan tinggi Muhammadiyah yang tidak berhenti pada teori, tetapi hadir di tengah realitas sosial. Ekosistem berdampak lahir ketika kampus mau turun langsung, ketika risetnya tidak berhenti di meja dosen, tetapi hidup bersama masyarakat. “Banyak perguruan tinggi swasta yang terjebak dalam stagnasi karena enggan beradaptasi terhadap perubahan. Karena itu, pembaruan dan inovasi menjadi keniscayaan. Kita tidak bisa menunggu arus berubah. Kita harus menciptakan arus perubahan itu sendiri,” katanya. Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional yang sedang disiapkan pemerintah. Salah satunya adalah sistem klasterisasi perguruan tinggi yang memungkinkan adanya pembinaan sesuai konteks geografis dan kapasitas kampus. Ia juga menyebut bahwa Direktorat Perguruan Tinggi Swasta akan dihidupkan kembali untuk memperkuat pembinaan kampus swasta, termasuk PTMA. Senada dengan itu, Prof. Dr.Eng. Yudi Darma, S.Si., M.Si., Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdikti RI menekankan pentingnya membangun ekosistem riset bersama antarperguruan tinggi Muhammadiyah. Ia juga mengatakan bahwa kolaborasi internasional dapat mempercepat kemajuan sains dan memperkuat daya saing bangsa. Sains dan teknologi tidak boleh berhenti di laboratorium. Ia harus menyentuh kehidupan manusia, membawa manfaat, dan menegaskan kemanusiaan. “Bayangkan jika 162 kampus Muhammadiyah berkontribusi bersama, bahkan dengan iuran minimal, kita bisa membangun pusat data riset bersama untuk sains dan teknologi yang dapat diakses semua kampus, dari yang besar hingga kecil,” katanya. Rakernas Forum Rektor PTMA 2025 di UMM menjadi momentum penting untuk meneguhkan arah strategis pendidikan tinggi Muhammadiyah. Forum ini bukan sekadar silaturahmi akademik, tetapi ruang untuk menyatukan langkah, membangun ekosistem pendidikan tinggi yang berdampak, dan meneguhkan peran Muhammadiyah sebagai pelopor perubahan sosial. (vin/wil)

Film Garapan Dosen Ikom UMM Diputar di IWAFF Australia

Sineas Jawa Timur ambil bagian dalam ajang internasional Indonesia–Western Australia Film Festival (IWAFF) 2025 yang berlangsung di Perth dan Fremantle, Australia Barat. Festival yang dibuka pada akhir Septmber ini menjadi momentum penting diplomasi budaya sekaligus memperkuat kolaborasi sister province antara Jawa Timur dan Australia Barat. Salah Satu perwakilan Jawa Timur di festival ini adalah Novin Wibowo, dosen prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus sineas film. Novin hadir bersama para empat pemenang Komfilasi (Kompetisi Film Asli Jawa Timur) 2024, yang dua karyanya, “Kepaten Obor” dan “Mbiyodo”, terpilih melalui kurasi panitia festival. Kedua film ini diproduseri oleh Novin dan disutradarai Lukman Hakim. Keberangkatan ini merupakan inisiasi dari Dinas Kebudayaan dan Parwisata Jawa Timur. Acara pembukaan di Emily Taylor Courtyard, Fremantle, dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Konsul Jenderal RI Perth, Magenta Marshall (anggota Parlemen Rockingham yang mewakili Menteri Industri Kreatif Australia Barat), serta perwakilan Department of Energy and Economic Diversification, Duta Besar Singapura untuk Indonesia dan ScreenWest. Dalam sambutannya, Konsul Jenderal RI menekankan pentingnya film sebagai sarana diplomasi budaya. “Siang hari ini kami mempertemukan dua sister province, Australia Barat dan Jawa Timur, melalui karya film sebagai jembatan pertukaran budaya,” ujar Konjen RI. Selain pemutaran film, delegasi Jawa Timur menggelar serangkaian pertemuan strategis. Produser film terkemuka Australia, Megan Wynn, memberikan apresiasi atas karya sineas Jawa Timur dan membuka peluang kerja sama produksi film bersama yang mengangkat tema budaya, pariwisata, hingga isu sosial. Wynn juga berencana mengunjungi Jawa Timur, termasuk Bromo, Ijen, dan Tumpak Sewu. Pada hari kedua, delegasi Jawa Timur bertemu sejumlah tokoh kreatif, termasuk aktris sekaligus filantropis Elisabeth dan pengusaha kuliner David Wijaya. Pertemuan ini membahas rencana pengembangan wisata gastro-tourism ke Jawa Timur serta peluang produksi film di provinsi tersebut. Sementara itu, pemutaran film di Luna On SX Cinema mendapat sambutan positif dengan seluruh tiket terjual habis. Diplomasi kuliner bertajuk Spice Stories di restoran Emily Taylor, Fremantle, turut meramaikan rangkaian festival dengan menyajikan menu khas Jawa Timur, mulai dari rujak ikan, krengsengan daging sapi, hingga tetel tape. Festival yang diinisiasi Konsulat Jenderal RI Perth ini berlangsung hingga 4 Oktober 2025 dengan lokasi pemutaran di Luna On SX, Fremantle (27 September–1 Oktober) dan Backlot Cinema, Perth (2–4 Oktober). Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap keikutsertaan ini dapat memperluas jejaring internasional dan memperkuat kerja sama di bidang budaya, pariwisata, serta industri kreatif dengan Australia Barat. (*/wil)

Unik, Student Day UMM dibuka oleh Puluhan Rektor

Ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) padati Helipad Kampus Putih, 18 Oktober ini. Mereka datang meramaikan pembukaan agenda tahunan menarik yakni Student Day yang juga menyajikan pameran Unit Kegiatan Mahasiswa. Student Day kali ini juga terasa berbeda karena dihadiri para Rektor dari 168 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia yang tengah mengikuti Rakernas Forum Rektor PTMA. Adapun Student Day tersebit diawali dan dibuka dengan Jalan Sehat dengan rute mengitari UMM, termasuk ke unit bisnis milik UMM, Taman Rekreasi Sengkaling. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mendukung penuh mahasiswa untuk mendapatkan kesempatan besar belajar dan berkembang bersama kampus dan prodi yang sudah dipilih. Tradisi ini sudah dijalankan rutin setiap tahunnya selama satu semester di setiap hari Sabtu. Ini sekaligus menjadi momentum bagi mahasiswa untuk bisa mengeksplor keterampilan, serta minat dan bakat dengan beragam rangkaian kegiatan yang sudah disiapkan oleh masing-masing program studi. Tak hanya itu, dengan adanya UKM Fair, para mahasiswa juga dapat lebih terarah dalam mengembangkan minat dan bakat diri untuk masa depan yang lebih inovatif dan berdaya saing. “Hari ini Kita bersama mengawali dengan jalan sehat dan didampingi juga para orang-orang hebat dari persyarikatan Muhammadiyah. Harapannya, semua sehat dan bahagia. Jaga kekompakan dan semangat belajar, semoga sukses menggapai tujuan, lulus tepat waktu, mandiri dan bekerja,” katanya penuh harap. Tak hanya itu, keseruan ini juga dirasakan oleh para mahasiswa. Sindikirana dan Echa Evitasari mahasiswa Pendidikan Biologi sangat antusias mengikuti jalan sehat dan pembukaan Student Day 2025. Berolahraga sembari menikmai keasrian Kampus Putih adalah refreshing sekaligus healing yang juga menyehatkan. Selain itu, juga ada performa dari berbagai UKM yang sangat menghibur. Mulai dari penampilan dari UKM Marcing Band, Teater, Tari, dan persembahan seni bela diri Tapak Suci. “Pembukaan Student Day tadi seru banget, kita diajak senam dan joget bareng. Terus diajak keliling area kampus yang hijau sejauh mata memandang. Semoga Student Day nanti bisa lancar selalu,” ujarnya. Dengan dilaksanakannya pembukaan Student Day kali ini, diharapkan para mahasiswa Gen 25 UMM dapat lebih siap menjalani kehidupan perkuliahan dan berperan aktif dalam berbagai kegiatan akademik, maupun non akademik. (din/wil)

Mendikdasmen RI di Forum Rektor PTMA: Sinergisitas untuk Pendidikan Unggul, Merata, dan Inklusif

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersifat terbuka. Apa pun yang dibutuhkan perguruan tinggi, selama relevan dengan arah pembangunan pendidikan nasional, Kemdikdasmen siap bermitra. Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. saat memberikan paparan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA). Adapun agenda itu digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada hari kedua, Jumat 17 Oktober 2025. Dalam paparannya, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi keagamaan, khususnya kampus Muhammadiyah-Aisyiyah dalam mengawal reformasi pendidikan nasional. Ia menuturkan bahwa saat ini Kemendikdasmen memiliki lima hingga enam program prioritas besar yang dapat dijalankan secara kolaboratif bersama PTMA. Program pertama ialah revitalisasi satuan pendidikan, yang tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik dan sarana prasarana sekolah, tetapi juga mencakup pembenahan sistem manajemen, tata kelola, serta peningkatan kapasitas kepala sekolah dan tenaga pendidik. Program ini diarahkan agar sekolah-sekolah di berbagai daerah mampu mengelola pembelajaran secara mandiri dan efisien dengan dukungan konsultan serta fasilitator profesional. Revitalisasi tersebut juga meliputi penyusunan kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan zaman, penguatan karakter siswa, serta peningkatan kualitas layanan pendidikan agar selaras dengan standar nasional dan internasional. “Tahun ini ada lebih dari 16.100 sekolah yang ikut direvitalisasi dengan anggaran mencapai Rp16,9 triliun. Tahun depan kami berupaya agar capaian itu tetap terjaga meski anggaran sedikit berkurang,” jelasnya. Program kedua berkaitan dengan peningkatan kualitas guru melalui berbagai skema pelatihan dan pendidikan profesi. Pemerintah, katanya, telah menyiapkan 808 ribu kuota PPG (Pendidikan Profesi Guru) serta memperluas program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) bagi guru yang belum menyelesaikan studi sarjananya. “Kami ingin memastikan tidak ada guru yang terhenti kariernya hanya karena belum memenuhi syarat akademik. Bahkan pengalaman mengajar kini diakui hingga 70 persen dalam skema RPL,” ujarnya. Selain itu, Kemendikdasmen juga mendorong program pembelajaran mendalam (deep learning) untuk memperkuat kapasitas pedagogik dan karakter siswa. Program ini, menurut Abdul Mu’ti, dapat melibatkan PTMA sebagai penyelenggara pelatihan guru dan pengembang modul. Ia mengatakan bahwa mulai tahun 2027, Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib sejak kelas 3 SD. Karena itu, pelatihan guru bahasa Inggris menjadi fokus utama. Namun ia menginginkan istilah pelatihan diganti menjadi pendidikan, agar dapat disertifikasi dan berdampak pada profesionalisme guru. Lebih lanjut, ia juga menyinggung pelatihan coding dan kecerdasan buatan (AI) yang saat ini masih bersifat pilihan namun akan diarahkan menjadi mata pelajaran wajib. Kebutuhan guru coding dan AI akan meningkat tajam, sehingga peran perguruan tinggi sebagai mitra pendidikan sangat dibutuhkan. Ia juga membuka peluang bagi PTMA untuk berpartisipasi dalam penelitian kebijakan (policy research) terkait berbagai program pendidikan dasar dan menengah, termasuk pendidikan karakter dan kebiasaan belajar siswa. Ia menegaskan bahwa kementeriannya kini mendorong agar setiap kebijakan lahir dari kajian akademik yang kuat. “Kami ingin kebijakan pendidikan tidak sekadar administratif, tetapi menjadi rekayasa sosial yang membentuk karakter bangsa. Karena itu, penelitian dan masukan dari kampus-kampus Muhammadiyah-Aisyiyah akan sangat berarti,” ujarnya. Menutup paparannya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa setiap kebijakan Kemendikdasmen tidak dibuat secara serampangan, melainkan memiliki dasar filosofis dan kajian yang mendalam. Ia juga menyebut bahwa kinerja kementeriannya dinilai terbaik secara nasional. Selain itu, pentingnya kemitraan strategis antara kementerian dan PTMA harus terus dijaga untuk mewujudkan pendidikan yang merata, inklusif, dan berorientasi masa depan. Dengan semangat kemitraan kulturalistik, ia mengajak seluruh pihak untuk memastikan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan otak, tapi juga menumbuhkan karakter. Adapun Rakernas Forum Rektor PTMA 2025 yang berlangsung di UMM ini menjadi wadah refleksi dan konsolidasi kebijakan pendidikan nasional. Sekaligus forum sinergi antara pemerintah dan jaringan kampus Muhammadiyah-Aisyiyah untuk mewujudkan pendidikan yang unggul dan berdampak bagi bangsa. (vin/wil)

Wakil Ketua MPR RI hingga Akademisi Kaji Ulang UUD 1945 di Forum Rektor PTMA

‘Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini’, Kutipan Bung Karno itu kembali menggema di tengah forum akademik nasional saat para pemimpin Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) mengkaji ulang Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dalam Rapat Kerja Nasional PTMA 2025 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Lebih dari 120 rektor PTMA hadir dalam forum yang dilaksanakan sejak 16 hingga 19 Oktober. Dimoderatori oleh Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., seminat itu menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan pakar konstitusi untuk membahas arah sistem ketatanegaraan Indonesia. Semangat reformasi yang dulu diusung untuk memperkuat demokrasi kini dinilai mulai melenceng dari nilai-nilai luhur bangsa yang berakar pada Pancasila. Hal itu menjadi keprihatinan bersama dalam forum yang menyoroti semakin jauhnya praktik politik dan pembangunan dari ruh kebangsaan yang sesungguhnya. Wakil Ketua MPR RI, Dr. Moh Eddy Dwiyanto Soeparno, dalam laporannya memaparkan urgensi perumusan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) sebagai arah pembangunan jangka panjang yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila tanpa mengurangi kewenangan pemerintah dalam menyusun blueprint pembangunan nasional. Menurut Eddy, dinamika ketatanegaraan saat ini mencerminkan tiga pandangan besar. Pertama, keinginan untuk kembali sepenuhnya pada UUD 1945 sebelum amandemen. Kedua, pandangan bahwa sistem yang ada sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat namun bermasalah di implementasi. Kemudian yang ketiga, dorongan untuk melakukan perubahan terbatas pada UUD NRI 1945 agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Ia menegaskan, rekomendasi MPR adalah menghadirkan PPHN sebagai pedoman pembangunan berkesinambungan agar visi antar pemerintahan tidak terputus. Sementara itu, keynote speaker lainnya, Jenderal TNI (Purn) Agustadi Sasongko Purnomo menekankan bahwa kajian ulang UUD 1945 bukan sekadar wacana akademik, melainkan evaluasi mendasar terhadap pelaksanaannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia mengingatkan bahwa banyak persoalan filosofis, ideologis, dan hukum dasar kini tidak lagi koheren dengan Pembukaan UUD 1945 sebagai kaidah fundamental negara. Pandangan akademik turut disampaikan oleh sejumlah guru besar. Salah satunya oleh Prof. Dr. H. Khudzaifah Dimyati, S.H., M.Hum. menjelaskan bahwa urgensi amandemen kelima UUD 1945 perlu dijawab sebagai respon atas kelemahan formil dan materil warisan amandemen keempat. Menurutnya, persoalan seperti dominasi elite politik, lemahnya posisi DPD, hingga tingginya biaya pemilu presiden langsung menunjukkan perlunya penyempurnaan yang hati-hati dan partisipatif. Ia mengingatkan, jika proses amandemen dilakukan secara elitis dan politis, hal itu justru berisiko membuka ‘kotak pandora politik’ yang melemahkan sistem presidensial dan legitimasi konstitusi. Dari sisi akademisi Universitas Indonesia, Dr. Reni Suwarso menyoroti kegagalan amandemen UUD 1945 membawa misi reformasi karena pergeseran konsep separation of power menjadi sekadar distribution of power, dominasi DPR atas sistem presidensial, serta lemahnya konsistensi hubungan pusat-daerah dan sistem ekonomi nasional. Ia menilai, kendala utama terletak pada dominasi partai politik yang kerap lebih mengedepankan kepentingan kekuasaan ketimbang kepentingan bangsa. “Kalau negara begini terus, maka tidak akan ada Indonesia 2045,” ujarnya dengan nada reflektif. Forum Rakernas PTMA 2025 berjalan dengan harapan agar gagasan yang lahir dari kampus-kampus Muhammadiyah dapat menjadi sumbangsih nyata bagi penataan konstitusi, penguatan demokrasi, dan pembangunan nasional yang berkeadilan. Sejalan dengan semangat reformasi yang kembali ke akar nilai Pancasila, para peserta berharap kajian ulang UUD 1945 menjadi momentum untuk mempertegas arah bangsa menuju Indonesia yang berkemajuan dan berdaulat sepenuhnya di tangan rakyat. (bil/wil)

Di UMM, Ratusan Rektor PTMA Bahas Pendidikan untuk Indonesia Maju

Di tengah tantangan pendidikan tinggi yang kian kompleks, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi episentrum pertemuan gagasan dan strategi nasional melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Diselenggarakan pada 16–19 Oktober 2025, forum ini mengusung tema “Inovasi dan Kolaborasi PTMA Bergerak Berdampak untuk Indonesia Maju” sebagai bentuk komitmen perguruan tinggi Muhammadiyah dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkemajuan. Adapun acara yang dihadiri oleh 112 perwakilan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 200 orang. Membuka acara, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menekankan bahwa Forum Rektor PTMA memiliki posisi penting sebagai supporting structure bagi Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa forum ini bukan lembaga struktural, melainkan fungsional yang bertugas memperkuat sinergi, memperdayakan, dan mengakselerasi kemajuan seluruh PTMA, terutama yang masih berkembang. Forum ini diharapkan mampu menjadi mitra kritis pemerintah dalam kebijakan pendidikan tinggi tanpa terjebak dalam kepentingan politik praktis yang bersifat partisan. Lebih lanjut, Haedar menyoroti perlunya penguatan ekosistem pendidikan tinggi Muhammadiyah yang berlandaskan nilai, budaya, struktur, manusia, dan lingkungan yang harmonis. Ia mengingatkan bahwa kemajuan PTMA tidak boleh berhenti pada capaian administratif, melainkan harus berakar pada internalisasi nilai Islam dan kepribadian Muhammadiyah dalam seluruh sistem pendidikan. “Muhammadiyah telah membuktikan perannya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya pada ranah kognitif, tapi juga dalam membangun totalitas kehidupan berbangsa. Karena itu, tugas kita bukan lagi mulai berbuat, melainkan terus berbuat lebih baik, lebih optimal, dan lebih unggul berkemajuan,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Forum Rektor PTMA, Prof. Dr. Ma’mun Murod Al-Barbasy, S.Sos., M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa Rakernas kali ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kolaborasi lintas kampus dan mitra strategis. Ia menuturkan bahwa forum ini terbentuk dari keresahan para rektor Muhammadiyah atas perlunya wadah koordinasi dan konsolidasi yang mampu memperdayakan kampus di bawah naungan persyarikatan. Ma’mun menegaskan bahwa posisi Forum Rektor adalah membantu dan memperkuat kerja-kerja Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. Menurutnya, kebijakan atau sikap forum akan selalu sejalan dengan garis perjuangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. “Forum Rektor ini ibarat Hizbullah, sementara Majelis Diktilitbang adalah pemerintahnya. Maka tugas kita adalah membackup kerja-kerja Majelis secara serius, terutama dalam penguatan dan kemitraan strategis pendidikan tinggi Muhammadiyah,” ujarnya. Selain membangun jaringan internal, Forum Rektor PTMA juga menjalin kerja sama eksternal dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pendidikan, Kementerian KKP, dan BUMN seperti Permodalan Nasional Madani (PNM). Kerja sama ini diharapkan membuka ruang bagi ribuan mahasiswa baru dan peluang kolaborasi riset. Sebagai tuan rumah, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan pentingnya sinergi antar-PTMA untuk memperkuat daya saing dan dampak sosial pendidikan Muhammadiyah di tingkat nasional. Ia menilai bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga wadah untuk meneguhkan komitmen kebangsaan dan keislaman dalam dunia pendidikan tinggi. “Universitas Muhammadiyah Malang siap menjadi ruang kolaborasi inovatif bagi seluruh PTMA. Karena UMM tidak hanya membuka pintu, tetapi juga hati dan sumber dayanya untuk memperkuat gerakan pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan dan berdaya saing global,” ungkapnya. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi yang diusung, Rakernas Forum Rektor PTMA di UMM 2025 menjadi penanda penting kebangkitan perguruan tinggi Muhammadiyah. Melalui sinergi ide, nilai, dan kerja kolektif, PTMA diharapkan mampu memberi kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia—mewujudkan pendidikan yang mencerahkan, membebaskan, dan berdampak luas bagi umat serta bangsa. (vin/wil)

Haedar Nashir Resmikan MentariMu Mart Muhammadiyah di UMM

MentariMu Mart langsung diresmikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., 16 Oktober ini. MentariMu merupakan program Muhammadiyah yang terus dikembangkan di berbagai lokasi dan wilayah. Adapun kali ini, gerai yang diresmikan Haedar berlokasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ini juga menjadi cara UMM mengawali babak baru dalam penguatan ekonomi umat melalui MentariMu, sebuah unit usaha retail yang dirancang untuk memadukan fungsi bisnis, pendidikan, dan dakwah. Bagi UMM, langkah ini bukan semata ekspansi usaha, tetapi strategi nyata dalam membangun sistem ekonomi yang berdaya guna dan berkeadilan—menghidupkan semangat kemandirian dari kampus untuk umat. Turut hadir Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P., dan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Kehadiran mereka menandai keseriusan Muhammadiyah untuk memperluas dakwahnya ke bidang ekonomi dengan mengedepankan prinsip kebermanfaatan dan pemberdayaan. Haedar dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendirian MentariMu merupakan hasil dari proses panjang dan kerja keras dalam membangun sistem ekonomi berbasis nilai. Seribu payah sudah dilalui, bahkan shalat tahajud pun menjadi bagian dari ikhtiarnya. Ia mengatakan bahwa ingin bisnis Muhammadiyah ini tidak hanya milik individu, melainkan kekuatan ekonomi yang menghidupi umat. “MentariMu harus menjadi contoh konkret bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) lain untuk mulai mengembangkan usaha serupa. Penguatan ekonomi berbasis lembaga pendidikan merupakan bagian penting dari dakwah Muhammadiyah yang berkemajuan,” ujarnya. Harapannya, forum nanti bisa menghasilkan keputusan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) yang sudah siap segera membuka usaha seperti ini. Karena jika setiap PTMA punya satu MentariMu, maka ekonomi Muhammadiyah akan tumbuh lebih kuat dan merata. Lebih lanjut, Haedar menekankan agar MentariMu tidak berhenti pada skala retail kampus semata, melainkan berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Jangan biarkan MentariMu berhenti pada level retail kampus, tetapi jadikan pusat pemberdayaan UMKM di lingkungan Muhammadiyah. Mereka kekurangan modal, manajemen, bahkan pengetahuan tentang pengelolaan barang. Kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi?” tuturnya. Ia juga menilai bahwa keberadaan Mentarimu adalah langkah strategis dalam memperluas dakwah Muhammadiyah di ranah ekonomi modern. Bukan hanya untuk menumbuhkan usaha, tetapi untuk memastikan bahwa setiap aktivitas bisnis tetap berorientasi pada kesejahteraan bersama dan keberlanjutan sosial. Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin menyebut Mentarimu sebagai laboratorium ekonomi yang merefleksikan semangat kampus dalam menerjemahkan ilmu menjadi praktik nyata. Menurutnya, UMM ingin menjadi pelopor dalam membangun ekosistem bisnis yang terhubung dengan sistem distribusi modern tanpa kehilangan nilai-nilai dakwahnya. “Ini adalah upaya belajar dan mengembangkan usaha retail market yang diharapkan mampu mengakselerasi kelompok usaha Muhammadiyah agar masuk ke dalam ekosistem retail nasional yang lebih baik,” ujar Nazar. Ia menilai, kehadiran MentariMu menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya berbicara tentang teori ekonomi, melainkan harus mampu bertindak sebagai pelaku ekonomi yang berdaya saing. Ia mengatakan apabila dimulai dari PTMA dan masing-masing memiliki satu unit retail seperti ini, hal itu sudah sangat menarik. UMM bisa menunjukkan bahwa perguruan tinggi Islam pun mampu menjadi leading sector dalam memperkuat jejaring dakwah ekonomi. MentariMu tidak hanya menjadi wadah belajar bagi mahasiswa, tetapi juga wadah kolaborasi bagi seluruh elemen Muhammadiyah. Melalui kerja sama lintas bidang, UMM ingin menghadirkan model ekonomi yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberi manfaat sosial dan memberdayakan masyarakat sekitar. Diharapkan ini menjadi tonggak baru dalam perjalanan ekonomi Muhammadiyah. Lebih dari sekadar ikon kampus, keberadaannya mencerminkan komitmen bahwa membangun umat tidak cukup dengan ilmu dan amal, tetapi juga dengan kekuatan ekonomi yang mandiri, berkeadilan, dan berkelanjutan. (vin/wil)

Nizam, Mahasiswa UMM yang Sukses Jadi Duta Pemuda Kabupaten Malang 2025

Gemuruh sorak-sorai mengiringi detik-detik penentuan juara di Bonderland Waterpark Pakisaji, Kabupaten Malang, pada malam Grand Final Pemilihan Duta Pemuda Kabupaten Malang 2025. Dari puluhan kontestan terbaik, nama Muhammad Nizam Taufiqulhakim akhirnya terpanggil sebagai pemenang putra. Prestasi luar biasa ini tentu menjadi kabar bahagia. Nizam, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2022, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kini resmi menyandang gelar Duta Pemuda Kabupaten Malang 2025. Gelar bergengsi ini mengukuhkannya sebagai Agent of Change dan mendorong partisipasi aktif dalam pembangunan daerah. Duta Pemuda Kabupaten Malang sendiri merupakan ajang yang bertujuan mencari sosok pemuda inspiratif yang siap berandil nyata, menjadi panutan, serta mengembangkan potensi lokal seperti UMKM, budaya, dan pariwisata. Kemenangan Nizam ini menjadi representasi nyata dari semangat mahasiswa UMM yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga non-akademik. Bagi Nizam, prestasi ini merupakan kelanjutan dari minatnya di ajang pemilihan duta yang telah dirintis sejak SMA. “Duta Pemuda ini merupakan ajang pertamaku, dan alhamdulillah berhasil meraih juara satu. Sebelumnya, sejak SMA aku sudah aktif mengikuti berbagai ajang duta mulai dari Duta Sekolah (juara satu), kemudian Duta Anti-Narkoba namun belum juara, hingga saat kuliah ikut Putra Putri Kampus dan meraih juara dua. Setelah itu, aku kembali mencoba di Duta Pemuda dan kembali bersyukur bisa meraih juara satu,” ujarnya. Ia membawa program unggulan yang berfokus pada digitalisasi kearifan lokal. Program ini lahir dari latar belakangnya di Ilmu Komunikasi dan bekal ilmu dari program Center of Excellence (CoE) UMM. CoE UMM adalah program unggulan universitas yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi dan keahlian spesifik mahasiswa sesuai kebutuhan industri dan dunia kerja, melalui kelas-kelas profesional. Nizam fokus pada bidang media digital. “Akhirnya aku membawa diriku sebagai social media supervisor. Nah, akhirnya aku programnya fokus ke media digital, yaitu membuat konten singkat mengenai budaya, UMKM, kearifan lokal yang ada di Kabupaten Malang yang dimana nanti kita kelola dan kemas menjadi konten kreatif begitu. Tentunya melalui kegiatan CoE, aku mendapatkan bekal berharga yang memperkaya pengalaman dan menumbuhkan potensiku. ” jelasnya, menyoroti pentingnya jejak digital untuk promosi daerah. Meskipun padat dengan kuliah, organisasi, dan aktivitas freelancer MC/EO, Nizam berhasil memanajemen waktu dengan baik. Ia berharap mahasiswa UMM lainnya tidak takut mencoba dan terus memperluas koneksi. “Jangan cuma fokus dalam satu hal karena memang kita gak tau apa yang akan terjadi di depan. Jadi banyakin peluang untuk bisa kita menjalin koneksi sama orang lain, banyakin relasi, komunikasi, dan juga banyakin pengalaman. Karena sesuatu keberhasilan pasti ada proses yang harus kita lakukan terlebih dahulu,” pungkasnya. (ali/wil)

RBC UMM Rayakan Bulan Bahasa Lewat Kelas Menulis Bersama Kalis Mardiasih

RBC Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Belajar Literasi ID menyelenggarakan Kelas Menulis Pengalaman Perempuan bersama aktivis feminisme Kalis Mardiasih. Kegiatan yang dilaksanakan pada 12 Oktober itu dirancang sebagai ruang aman untuk bertukar cerita, mengolah pengalaman hidup, dan merayakan Bulan Bahasa melalui bahasa Indonesia yang jernih, hangat, dan berpihak pada kemanusiaan. Peserta hadir dari beragam latar dan kota—termasuk Probolinggo—mewakili mahasiswa, pendidik, pekerja kreatif, pegiat komunitas, dan ibu rumah tangga. Dalam sambutan pembuka, Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar, Subhan Setowara, menegaskan komitmen lembaga pada literasi yang memerdekakan. “Literasi bagi kami bukan sekadar bisa membaca dan menulis, melainkan keberanian mengungkapkan pengalaman—terutama pengalaman perempuan—dengan martabat. Kolaborasi ini kami maksudkan sebagai jembatan: dari cerita pribadi menjadi pengetahuan publik yang mencerahkan, sekaligus cara merayakan Bulan Bahasa dengan praktik yang nyata,” ujarnya. Kelas difokuskan pada berbagi cerita dan membangun keberanian bercerita. Kalis mengantar peserta memetakan momen-momen kunci—yang menggembirakan, menyulitkan, hingga yang kerap dinormalkan—serta mengubahnya menjadi gagasan tulisan yang terarah. Ia menekankan tiga fondasi: memilih sudut pandang yang jujur, merawat empati pada diri dan orang lain, serta menjaga etika bercerita—termasuk izin, kerahasiaan, dan kesadaran relasi kuasa. Latihan dilakukan secara sederhana melalui journaling terarah dan sesi sharing berkelompok yang saling menguatkan. Sejalan dengan semangat Bulan Bahasa, kelas ini mengajak peserta menghargai bahasa Indonesia sebagai medium yang inklusif. Pilihan diksi yang hemat namun bermakna, struktur paragraf yang runut, dan kehati-hatian pada istilah terkait gender menjadi bagian dari diskusi. Alih-alih klinik naskah, fasilitator menjaga ritme perjumpaan agar setiap suara mendapat ruang yang sama, tanpa tekanan untuk “sempurna”, melainkan berani, tulus, dan bertanggung jawab. Kolaborasi RBC Institute dan Belajar Literasi ID ini menandai komitmen berkelanjutan memperluas akses pembelajaran menulis yang peka gender dan relevan dengan keseharian. Cerita yang lahir dari kelas diharapkan menjadi pijakan awal bagi peserta untuk terus menulis, berbagi, dan memperkaya percakapan publik—agar pengalaman perempuan hadir utuh, terdengar, serta berdampak. (*/wil)