UMM Latih Puluhan Juru Sembelih Halal

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal kembali menggelar Pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) pada Selasa, 13 Agustus 2025. Bertempat di Laboratorium Peternakan dan Nutrisi UMM, kegiatan ini bukan kali pertama diadakan, melainkan kelanjutan komitmen kampus dalam mendukung pemenuhan standar halal nasional. Lebih dari 35 peserta hadir dari berbagai daerah, meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Ngawi, Blitar dan lainnya. Pelatihan ini dibuka dengan tujuan memperkuat keterampilan penyembelihan hewan sesuai kaidah syariat dan ketentuan higien sanitasi. Hal ini sejalan dengan meningkatnya tuntutan sertifikasi halal, di mana keberadaan juru sembelih bersertifikat menjadi salah satu persyaratan utama. Pemateri pertama, drh. Anton Pramujiono selaku Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Kota Malang, memaparkan bahwa tugas Juleha tidak hanya sebatas proses penyembelihan. Menurutnya, juru sembelih harus memahami pembagian tanggung jawab dengan dokter hewan, paramedik veteriner, dan penyelia halal di setiap unit usaha. “Juru sembelih halal berperan memastikan hewan mati sempurna, saluran pemotongan sesuai syariat, serta produk aman, sehat, utuh, dan halal. Sertifikat kompetensi Juleha kini menjadi syarat penting dalam memperoleh sertifikat halal maupun Nomor Kontrol Veteriner (NKV),” ujarnya. Anton juga mengingatkan bahwa praktik penyembelihan unggas sering menghadapi tantangan, seperti proses yang terburu-buru hingga ayam belum mati sempurna namun sudah masuk tahap perebusan. “Tanggung jawab ini besar. Mungkin sekarang belum terasa, tapi jika dijalankan dengan benar, pahalanya sangat besar,” tambahnya. Sesi berikutnya disampaikan oleh Andik Iswahyudi, Ketua Juleha Malang Raya. Ia mengajak peserta melihat profesi juru sembelih sebagai bagian dari dakwah dan ibadah. Ia menegaskan bahwa apabila seribu ekor ayam disembelih sesuai syariat, maka pahala yang mengalir akan sangat besar, sedangkan jika tidak sesuai, dosa yang timbul pun akan sama besarnya. “Penyembelihan sesuai sabda Rasulullah SAW memiliki tiga prinsip yaitu dilakukan dengan cara ihsan, menggunakan pisau yang tajam, dan menenangkan hewan sebelum disembelih,” ujarnya. Ia juga membagikan contoh kasus di lapangan yang menunjukkan perlunya pengawasan ketat, termasuk pada aspek agama penyembelih, proses memastikan kematian hewan, dan pencegahan stres pada ternak. Ia menegaskan jangan sampai demi mengejar kuantitas, maka keberkahan akan hilang. Apabila nominal bisa besar, tapi jika tidak berkah, manfaatnya juga akan berkurang. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan misi UMM untuk menjadi kampus yang berdampak nyata di masyarakat. Ia menilai bahwa pelatihan Juleha tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk kesadaran keagamaan yang berkelanjutan bagi para peserta. Sementara itu, Kepala Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Sa’ati, S.TP., M.P., menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program pembinaan yang rutin dilakukan. “Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, UMM ingin memastikan tersedianya juru sembelih halal yang profesional dan tersertifikasi, sehingga rantai pangan halal di Indonesia dapat terjaga dengan baik,” ujarnya. Dengan materi teknis dan syariat yang saling melengkapi, pelatihan ini diharapkan menjadi pintu awal peningkatan kompetensi peserta menuju sertifikasi resmi. UMM menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi kegiatan serupa, mengingat peran strategis Juleha dalam menjaga kehalalan produk pangan hewani di Indonesia. (vin/wil)
Tiga Inovasi Jaga Lingkungan antar Enam Mahasiswa UMM Lulus tanpa Skripsi

Enam mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mencatat prestasi gemilang. Melalui proyek inovasi dan pendampingan pengolahan sampah di Desa Kayu Kebek, Pasuruan, mereka resmi dinyatakan lulus tanpa skripsi. Keputusan ini disampaikan langsung oleh Kabiro Bidang V UMM, Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A., di hadapan forum pameran inovasi dan penandatanganan kerjasama antara UMM, pihak desa, dan pemerintah Kabupaten Pasuruan, Juli lalu. Program ini adalah hasil dari praktikum mata kuliah Politik Lingkungan praktikum yang kemudian dikolaborasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), DPRD Kabupaten Pasuruan, dan Pemerintah Desa Kayu Kebek. Sebagai Dosen Pengampu mata kuliah, Ruli Inayah Ramadhoan, M.Si., menyebut kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Ketua DPRD beserta komisi-komisi, pejabat Muspika dan Muspida, serta calon investor. Selama dua hingga tiga bulan, mahasiswa mengembangkan tiga inovasi utama. Pertama, eco-enzyme berbahan limbah buah dan sayuran yang banyak dihasilkan desa setempat, terutama jeruk dan apel. Produk ini diajarkan kepada warga, PKK, dan pemuda, serta direncanakan untuk dikembangkan menjadi berbagai turunan produk. Kedua, lilin aromaterapi dari minyak jelantah yang mengundang minat investor. Varian aroma seperti lavender dan lainnya dikembangkan dengan rencana pembentukan bank jelantah bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk menjamin pasokan bahan baku. Ketiga, smokeless burn barrel, alat pembakaran sampah dengan minim asap dan residu yang hasil arangnya akan diolah menjadi briket. “Inovasi para mahasiswa ini juga dinilai sangat relevan untuk mengatasi masalah pengelolaan sampah desa yang sebelumnya belum terpecahkan,” kata Ruli melanjutkan. Konsistensi dan keberlanjutan menjadi nilai lebih proyek ini. Desa Kayu Kebek sebelumnya adalah lokasi KKN UMM kelompok mahasiswa tersebut, sehingga ikatan dan kepercayaan warga telah terbangun. Bahkan, setelah kegiatan pengabdian selesai, mereka tetap mendampingi desa dalam program digitalisasi dan pengelolaan sampah. Lebih lanjut, Ia menegaskan bahwa proyek ini merupakan kali pertama Tugas Akhir di Prodi HI diwujudkan dalam bentuk proyek berdampak di masyarakat, menggantikan model tradisional skripsi. Selama ini, Tugas Akhir umumnya berupa publikasi jurnal ilmiah. Mereka adalah Ahmad Ferian Perwira Yudha, Hans Y Nanda, Muhammad Aditya Gus Ismoyo, Nikita Angelina, Dinda Dwi Murhidayah, dan Alfinda Wijaya. Setelah itu, mereka diarahkan untuk membuat proposal laporan Tugas Akhir sebagai bentuk pertanggungjawaban yang harus diselesaikan. Keberhasilan ini mendorong Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk menjadikan Desa Kayu Kebek sebagai percontohan pengelolaan sampah terpadu. DLH juga telah menyiapkan dukungan infrastruktur seperti pos sampah dan rencana pembangunan TPA sebagai tempat pengolahan. Menariknya, Desa tersebut akan diikutsertakan dalam lomba inovasi lingkungan tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional mewakili Kabupaten Pasuruan. Program ini sejalan dengan visi UMM sebagai Kampus Berdampak, dimana mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat. Harapannya, model Tugas Akhir berbasis proyek ini dapat menjadi tradisi baru yang berkelanjutan di Prodi HI UMM, memadukan ilmu, aksi nyata, dan kontribusi global. “Aksi dan inovasi mahasiswa ini membuktikan bahwa isu lingkungan global bisa dijawab melalui aksi lokal yang konsisten dan kolaboratif,” ujar Ruli mengapresiasi. (din/wil)
Mahasiswa UMM Ajari Hidroponik, Dorong Warga Wujudkan Ketahanan Pangan

Turut membantu pemerintah dalam bidang ketahanan pangan, tim KKN Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ajari warga Desa Wonorejo, Srengat, Kabupaten Blitar terkait cara menanam secara hidroponik. Pelatihan tersebut dilaksanakan 7 Agustus lalu dan diikuti puluhan ibu-ibu warga desa. Menariknya, mereka menggunakan barang-barang bekas sebagai media hidroponik. “Kami tidak hanya mengajari, tapi juga memberikan penjelasan apa saja manfaatnya serta peluang yang bisa diciptakan dari metode ini. Warga diberikan wawasan bahwa hidroponik mampu menjadi solusi bercocok tanam bagi mereka yang memiliki lahan terbatas, sekaligus menyediakan sayuran segar yang sehat untuk keluarga,” kata Bela Amanda Sari selaku ketua tim. Setelah sesi penyampaian materi di Balai Desa, kegiatan dilanjutkan di lapangan voli Desa Wonorejo. Di tempat terbuka tersebut, Bela dan tim memperlihatkan contoh tanaman hidroponik yang sudah siap tumbuh, menjelaskan proses pembuatannya, dan membagikan tanaman hidroponik kepada peserta. Suasana lapangan tampak ramai, dengan warga yang penasaran memeriksa bentuk media tanam, bibit sayuran, dan cara merawatnya. Bela mengatakan, permasalahan yang ditemukan dalam kegiatan ini adalah sebagian besar para warga masih bertahan pada metode tanam tradisional dan belum mencoba hidroponik. Kendala seperti kurangnya pengetahuan, anggapan bahwa hidroponik rumit, serta minimnya akses terhadap bahan dan peralatan membuat inovasi ini belum populer. Sebagai langkah awal mengatasi masalah tersebut, mahasiswa UMM tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga menghadirkan bukti nyata berupa tanaman hidroponik yang dibagikan langsung kepada warga. Harapannya, ini bisa menjadi titik awal bagi masyarakat untuk mulai mencoba hidroponik di rumah dan membantu ketahanan pangan Indonesia. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan warga Wonorejo bisa lebih termotivasi untuk memulai gaya hidup sehat dari rumah, mengurangi ketergantungan pada pasar untuk mendapatkan sayuran segar, serta membuka peluang usaha baru di bidang pertanian modern. “Semoga apa yang kami lakukan bisa memberikan pengetahuan baru dan pengalaman baru. Dengan begitu, warga Wonorejo juga sekaligus bisa menjalankan program ketahanan pangan,” katanya. (*/wil)
Empat Dekade Psikologi UMM: Dari Ilmu, Menjadi Arti untuk Kemanusiaan

Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merayakan tonggak bersejarah: 40 tahun kiprah dan dedikasi dalam dunia psikologi dan kemanusiaan, Juli lalu. Dengan mengusung tema “40 Years Dedication of Psychology and Humanity”, perayaan milad tahun ini menjadi momentum reflektif sekaligus inspiratif bagi sivitas akademika maupun masyarakat secara luas. Acara milad ke-40 tahun ini digelar dengan suasana acara yang penuh semangat dan inspiratif. Serangkaian kegiatan yang diadakan untuk merayakan tahun ke 40 Fapsi UMM ini adalah dengan pelatihan manajemen kelas inklusi yang sangat inspiratif, prosesi yudisium Periode II sebagai pembuka rangkaian kegiatan Milad, serta tidak kalah meriah yaitu kegiatan Fun Walk Psikologi yang diikuti seluruh keluarga besar Fakultas Psikologi UMM. Kemeriahan ini tidak hanya sekadar seremoni. Melainkan menjadi sebuah refleksi atas dedikasi panjang Psikologi UMM dalam mencetak insan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Dalam momentum Milad ke 40 tahun ini Dekan Fakultas Psikologi UMM, Dr. Rr. Siti Suminarti Fasikhah, M. Si., turut menyampaikan kesan atas perjalanan panjang ini. Ia mengatakan bahwa usia 40 tahun bukan hanya sekedar pencapaian sebuah institusi, melainkan juga tentang bagaimana ilmu psikologi terus memberikan dampak untuk kehidupan banyak orang. “40 tahun Fakultas Psikologi. Dari ilmu untuk kemanusiaan. Terus tumbuh, terus memberi arti. Kami sudah melakukan banyak hal berkontribusi di berbagai lini. Termausk membantu menangani psikis para korban bencana,” ujarnya. Tidak hanya dalam kegiatan, semangat tersebut juga mewujudkan dalam penguatan akademik dan pengembangan institusi. Dari perjalanan yang panjang dan saat ini, Fakultas Psikologi UMM memiliki empat jenjang pendidikan yaitu, Program Sarjana (S1) Psikologi, Program Profesi Psikolog Umum, Program Magister Psikologi (Sains), dan Program Doktoral Psikologi. Hal tersebut menjadi bukti bahwa Fapsi UMM terus berkembang. Khususnya menjadi institusi yang unggul dalam pengembangan ilmu, praktik psikologi, dan riset, baik dalam tingkat nasional maupun internasional. Lebih lanjut, Dekan Fapsi itu mmengatakan, selama empat dekade, Psikologi UMM juga telah mencetak ribuan alumni yang kini berperan penting di berbagai bidang. Mulai dari klinis, pendidikan, industri, sosial, dan perkembangan. Inovasi dan adaptasi terus dilakukan, termasuk melalui kelas internasional, digitalisasi layanan psikologi, dan jejaring kolaborasi secara global. (*/wil)
Pro dan Kontra Roblox, Begini Kata Pakar UMM

Roblox, platform game online yang semakin populer di kalangan anak-anak dan remaja Indonesia, menimbulkan perdebatan terkait manfaat dan risiko yang ditimbulkan. Di satu sisi, Roblox dinilai dapat menjadi media edukasi yang menarik, namun di sisi lain ada kekhawatiran akan konten negatif yang mungkin diakses oleh anak-anak. Dr. Arina Restian, dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Malang, mengungkapkan bahwa Roblox memiliki dua sisi yang perlu diperhatikan. “Menurut saya, Roblox itu memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya terdapat edukasi terkait keilmuan matematika, fokus, dan strategi. Tetapi juga karena adanya oknum-oknum yang memunculkan sisi negatif seperti kekerasan, pornografi, dan lain sebagainya,” jelasnya. Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dan Mendikdasmen sempat menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak negatif Roblox. Seperti dilansir di beberapa media,Mendikbud mengatakan bahwa Roblox berpotensi membahayakan anak-anak jika tidak diawasi dengan baik. Mendikdasmen juga sempat mengingatkan agar orang tua dan sekolah ikut berperan aktif dalam mengawasi interaksi anak-anak di platform tersebut, mengingat risiko seperti aksi bebas, interaksi dengan orang asing, dan cyber bullying. Karena itulah, Arina menilai, pendampingan orang tua dan guru sangat penting agar anak-anak dapat memanfaatkan Roblox dengan aman dan bermanfaat. Selain untuk hiburan, Roblox juga berpotensi sebagai media pembelajaran bagi anak-anak usia sekolah dasar dengan pendekatan project based learning. “Pemanfaatan dalam pembelajaran anak SD itu, mungkin kalau dalam bahasa pembelajaran itu project based learning. Jadi anak-anak bisa merasakan keseruan belajar melalui Roblox, di lain sisi guru juga bisa menyampaikan materi dengan lebih lancar,” tambahnya. Sebagai pendidik, Arina menekankan bahwa semua langkah pengawasan dan pemanfaatan harus sesuai dengan payung hukum yang berlaku, seperti tentang Perlindungan Anak dan tentang Pornografi yang melarang akses konten pornografi bagi anak-anak. “Jadi yang pertama kita harus berpacu pada payung hukum ya, salah satunya UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak kemudian yang kedua UU No. 23 Tahun 2002 tentang Pornografi. Artinya melarang penyediaan akses konten pornografi pada anak,” jelasnya. Untuk melindungi anak dari konten negatif di Roblox, beberapa strategi dapat diterapkan, mulai dari menggunakan fitur kontrol usia yang resmi hingga edukasi literasi digital. Arina melanjutkan, strategi melindungi anak dalam konteks Roblox itu yang pertama adalah menggunakan fitur yang dikontrol secara resmi. Biasanya ada batasan usia sehingga kita menonaktifkan anak-anak yang di luar batas usianya. Kemudian edukasi literasi digital yang mengajarkan tentang batas aman informasi, cara menolak ajakan mencurigakan, dan pentingnya kolaborasi dengan sekolah. Ia juga menyebutkan bahwa pemerintah saat ini tengah memfasilitasi pelatihan coding yang sebenarnya berkaitan dengan pembuatan konten Roblox. Namun, pemantauan secara rutin sangat dibutuhkan, misalnya melalui server privat yang edukatif. “Roblox ini punya potensi bagus di dunia pendidikan jika digunakan dengan baik dan maksimal. Kalau mau main Roblox, anak-anak harus dikontrol oleh sekolah. Misalnya memastikan ada admin dari sekolah dan admin dari orang tua. Dengan begitu, anak-anak bisa merasa senang namun pembelajaran tetap aman dan nyaman,” ujarnya. Lebih lanjut, Arina menyampaikan tiga kata kunci penting yang perlu diperhatikan agar pemanfaatan Roblox bisa berkelanjutan dan aman. Pertama, memastikan agar anak aman secara digital. Kemudian anak-anak juga harus produktif, tidak hanya bermain Roblox sembarangan. Terakhir, membekali anak0-anak dengan literasi digital sehingga mereka tidak mudah tertipu dan terjerumus ke hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk itu, verifikasi dan sinergi dari berbagai pihak terkait seperti dunia pendidikan, teknologi informasi, serta lembaga perlindungan anak dan pornografi sangat diperlukan. Rekomendasi terakhir adalah adanya sinergi dengan kebijakan pemerintah agar pemanfaatan game edukasi dapat sesuai dengan undang-undang perlindungan anak, UU IT, dan kebijakan Kominfo. “Adanya sinergi dengan kebijakan pemerintah agar pemanfaatan game edukasi sesuai dengan regulasi yang ada,” pungkas Arina. (hud/wil)
CubeBot, Robot Karya Mahasiswa UMM untuk Atasi Kecanduan Gadget

Ketergantungan terhadap gawai menjadi masalah pelik yang dihadapi generasi muda saat ini, khususnya anak-anak usia sekolah dasar. Alih-alih melarang, tim mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru menawarkan solusi kreatif melalui inovasi robot edukasi bernama CubeBot. Robot ini dirancang khusus untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari gawai dan merangsang perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik mereka secara menyenangkan. Muhamad Reza Pahlawan, salah satu anggota tim pengembang, menjelaskan ide proyek ini. Mereka melihat banyak sekali anak-anak, terutama di kelas 4, 5, dan 6 SD yang kecanduan gadget. Kemudian ia dan tim mencari cara agar anak-anak tidak terlalu kecanduan dengan gawai. Menurutnya, di balik kemudahan teknologi, ada dampak negatif yang perlu disikapi. salah satunya adalah berkurangnya interaksi fisik dan kreativitas anak. Bermodalkan latar belakangnya di Teknik Elektro, Reza bersama dua rekan dari jurusan yang sama, satu mahasiswa Akuntansi, dan satu mahasiswa PGSD, membentuk tim multidisiplin ilmu. Kolaborasi ini sangat penting karena memastikan proyek berjalan lancar dari berbagai aspek yaitu teknis, keuangan, dan pedagogis. Hasilnya adalah robot yang mudah digunakan oleh anak-anak, berkat kombinasi perangkat keras dan lunak yang dirancang dengan cermat. Menariknya, proyek ini tidak hanya sebatas menciptakan robot, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran yang interaktif. Alih-alih menggunakan metode coding konvensional yang rumit, CubeBot diprogram melalui aplikasi MBlock yang memanfaatkan blok-blok visual yang tinggal ditarik dan ditempel (drag and drop). Dengan cara ini, anak-anak dapat dengan mudah memahami logika dasar pemrograman. “Jadi untuk anak-anak bisa lebih mudah menggunakannya dan memprogram si robot ini. Mereka tidak langsung belajar coding yang rumit, tapi dimulai dengan hal-hal yang menyenangkan melalui CubeBot dan MBlock,” jelas Reza. Saat ini, CubeBot sudah berjalan di beberapa sekolah, termasuk SD Muhammadiyah 8 Malang dan SD Muhammadiyah 4 Malang. Ke depan akan ditawarkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah lainnya. Salah satu keunggulan utama dari CubeBot adalah sifatnya yang modular. Kebanyakan robot sejenis hanya melakukan satu mode saja. Tapi CubeBot Ddngan satu set robot, anak-anak bisa merakitnya menjadi tiga model berbeda yaitu line follower (mengikuti garis), transporter (memindahkan barang), dan avoid obstacle (menghindari rintangan). “Satu robot bisa jadi beberapa model, jadi anak-anak bisa belajar lebih banyak. Fitur ini menjadi keunggulan utama CubeBot dibandingkan produk sejenis lainnya. Karena setahu saya yang lain itu satu robot hanya untuk satu model saja,” ungkap Reza. Dengan konsep modular ini, anak-anak tidak cepat bosan dan dapat terus mengeksplorasi berbagai fungsi robot. Melalui interaksi merakit robot secara mandiri dan bekerja sama dalam tim, CubeBot secara langsung melatih berbagai keterampilan. Aspek kognitif anak terasah saat mereka menyusun alur coding yang logis, afektif terstimulasi melalui kerja sama tim, dan psikomotorik berkembang melalui proses saat menggunakan robot ini. Harapan ke depannya, Reza dan timnya ingin CubeBot dapat menjangkau banyak sekolah sebagai ekstrakurikuler, khususnya di Malang dan Jawa Timur. Dengan demikian, inovasi ini dapat berkontribusi signifikan dalam menciptakan generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas. Lewat CubeBot, mahasiswa UMM membuktikan bahwa teknologi bisa menjadi alat edukasi yang menyenangkan dan bermanfaat. (ali/wil)
Kongres Amerika Serikat Sambangi UMM untuk Lihat Cara Moderasi Beragama

Berkat penerapan moderasi dalam beragama yang sudah dilakukan sejak lama, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terima kunjungan dari staf kongres Amerika Serikat melalui Kementerian Luar Negeri, 8 Agustus ini. Rombongan ini juga sekaligus mengunjungi American Corner yang ada di UMM dan menjadi wadah diskusi moderasi beragama. “Diskusi ini membahas bagaimana moderasi Islam yang ada di UMM serta melihat seperti apa penerapannya ditengah berbagai mahasiswa dan kalangan akademik yang memiliki latar belakang budaya dan agama yang berbeda,” kata M. Salis Yuniardi, P.hD. selaku wakil rektor IV UMM. Adapun moderasi Islam menjadi sorotan dalam upaya memperkuat toleransi dan kerukunan di tengah keberagaman di masyarakat. Konsep yang mengedepankan keseimbangan, menghindari ekstremisme, dan menghargai perbedaan ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga persatuan. Dalam sambutannya, Salis tak hanya mengenalkan UMM secara umum. Namun juga menjelaskan bahwa UMM tak hanya moderat, tapi juga merupakan kampus Islam yang progresif. Selain itu UMM memberikan contoh hasil dari moderasi Islam yang berhasil dilakukan dalam program deradikalisasi yang terjadi. Termasuk apa yang terjadi pada Ali Fauzi, mantan anggota jaringan terorisme Bom Bali. “UMM tidak hanya sekedar menerapkan moderasi beragama, juga progresif untuk bisa mengatasi berbagai tantangan,” katanya. Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D. selaku pakar penelitian tentang deradikalisasi dan tindakan terorisme, menjelaskan bahwa terorisme tidak hanya terkait ideologi sebagai faktor utama. Namun juga bisa dilatar belakangi faktor kurangnya keilmuan akan Islam, faktor ekonomi, serta faktor lainnya yang lebih kompleks. Terlebih lagi tujuannya bukan untuk menghilangkan nyawa seseorang, namun untuk menyebarluaskan ketakutan di masyarakat. “Selama 13 tahun saya meneliti, banyak sekali latar belakang yang lebih kompleks terkait alasan mereka terjun ke terorisme dan bagaimana pola mereka menyebarkan ketakukan ke masyarakat. Baik itu secara langsung maupun melalui media sosial,” Ujar Gonda. Terakhir, para delegasi kongres Amerika Serikat menyambangi American Corner yang ada di UMM serta Campus Tour. Ini sebagai upaya untuk lebih mendekatkan dengan lingkungan dan suasana akademik yang ada di UMM. (*/wil)
Ajari Warga, Mahasiswa KKN UMM Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin

Seringkali sebagian orang yang berpikir bahwa limbah tidak bisa dimanfaatkan. Tapi tidak dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak di Desa Sumberejo, Kota Batu. Kelompok KKN ini menghadirkan program unggulan berupa pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah rumah tangga. Mereka akan berupaya memberikan dampak selama satu bulan pada Juli hingga Agustus ini. Program ini tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi yang mudah diterapkan oleh masyarakat. Selaku ketua kelompok, Herdian menjelaskan bahwa ide lilin aromaterapi berangkat dari keprihatinan terhadap kebiasaan warga membuang minyak bekas sembarangan. Ini berpotensi mencemari lingkungan dan menyumbat saluran air. “Daripada dibuang, minyak jelantah bisa dimanfaatkan menjadi lilin aromaterapi. Selain mengurangi limbah, aromaterapi ini juga bermanfaat bagi kesehatan, mengharumkan ruangan, hingga mengurangi sesak napas,” ujarnya. Proses pembuatannya terbilang sederhana karena mereka menggunakan minyak jelantah direndam bersama arang selama 24 jam untuk menghilangkan bau. Kemudian dipanaskan dan dicampur asam stearat sebagai pengeras. Pewarna dan minyak esensial ditambahkan untuk menghasilkan lilin beraroma menenangkan. Dengan modal minim, produk ini dinilai potensial untuk dikembangkan menjadi usaha kreatif warga. Di sisi lain, Kepala Desa Sumberejo, Erianto, mengapresiasi tinggi gagasan mahasiswa tersebut. Ia menilai, program ini bukan hanya kreatif, tetapi juga aplikatif bagi warga desa. Ia menjelaskan pemerintah desa selau terbuka untuk kolaborasi dan siap mendukung setiap inovasi mahasiswa yang memberikan dampak positif bagi warganya. “Semua rumah tangga pasti punya sisa minyak jelantah. Kalau dimanfaatkan seperti ini, nilainya akan jauh lebih bermanfaat dan bisa mengurangi sampah di rumah,” ujarnya. Dukungan dan semangat juga hadir dari Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. selaku wakil rektor V UMM yang turut hadir dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev). Ia menegaskan bahwa program KKN harus mampu menjadi inspirasi dan meninggalkan jejak positif di masyarakat. Karena menurutnya untuk menghadapi tantangan masa depan, mereka harus memanfaatkan pengalaman di lapangan sebagai bekal nantinya dan siap untuk berkontribusi bagi bangsa, baik melaui pekerjaan, usaha, maupun studi lanjut. “Harapannya, kehadiran mahasiswa dapat meningkatkan literasi, memberdayakan masyarakat, dan memunculkan solusi kreatif seperti lilin aromaterapi ini. Walaupun waktunya hanya satu bulan, karya yang bermanfaat akan selalu diingat warga,” jelasnya. Program lilin aromaterapi ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana yang memanfaatkan potensi lokal mampu memberi manfaat luas. Dengan dukungan pemerintah desa dan universitas, karya mahasiswa KKN UMM di Sumberejo diharapkan dapat terus berkembang, bahkan menjadi produk unggulan desa yang bernilai jual tinggi. (vin/wil)
Mahasiswa UMM Borong Penghargaan di Ajang Wirausaha Nasional

Kebanggaan kembali menyelimuti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) setelah delegasinya mencetak prestasi luar biasa dalam ajang Muhammadiyah Center for Entrepreneurship and Business Incubator (MCEBI), akhir Juli lalu. Program berskala nasional ini diikuti oleh 30 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. MCEBI mewujudkan tujuannya melalui serangkaian kegiatan strategis, mulai dari pelatihan intensif, klinik bisnis yang mendalam, hingga membuka peluang kerja sama yang luas dengan berbagai lembaga. UMM mengirimkan dua tim terbaiknya ke kompetisi ini, masing-masing dengan fokus subjek yang berbeda namun sama-sama membawa inovasi segar. Tim Quailgreenfarm berfokus pada sektor budidaya, berhasil meraih juara 2 dalam kategori Best Business Plan (Proposal) berkat konsep bisnis yang matang dan prospektif. Tak berhenti di situ, mereka juga mengamankan posisi juara 2 untuk kategori Business Matching (Display Produk), menunjukkan keunggulan dalam inovasi produk, serta meraih juara 1 dalam kategori Best Video. Deni, salah satu perwakilan tim Quailgreenfarm, berbagi insight mengenai keunikan proposal mereka yang menjadi kunci keberhasilan. Mereka mengusung konsep telur puyuh tinggi omega-3. Ini cara mereka menyoroti inovasi pada produk telur puyuh sehat yang dibudidayakan tanpa sentuhan bahan kimia berbahaya. Ia menambahkan bahwa solusi bisnis ini tidak hanya menawarkan telur puyuh omega-3 dengan harga terjangkau, tetapi juga menghadirkan pupuk organik tinggi NPK, membentuk ekosistem bisnis yang berkelanjutan dari hulu ke hilir. Sementara itu, tim RoeLicious yang mengedepankan inovasi di sektor kuliner kemasan, juga tak kalah membanggakan dengan meraih juara 3 untuk kategori Best Business Plan (Proposal). Pencapaian kedua tim ini menegaskan komitmen UMM dalam mengembangkan potensi kewirausahaan mahasiswanya, mendorong mereka untuk berani berkreasi dan menghadirkan solusi bisnis yang relevan dengan dinamika pasar yang ada. Deni juga tak lupa mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan dari pihak UMM. Menurutnya, dukungan penuh dari kampus UMM menjadi kunci dari kesuksesan saat ini. Mulai dari peran vital bimbingan dosen seperti Novi Puji Lestari, M.M., masukan konstruktif terkait display kemasan, serta strategi jitu yang dibagikan oleh mentor-mentor di UMM. Persiapan timnya sendiri melibatkan pematangan ide yang telah ada sejak lama, serta pembentukan tim multidisiplin dari fakultas peternakan, agribisnis, dan ekonomi guna melengkapi keahlian operasional, pemasaran, hingga manajemen keuangan. Lebih dari sekadar raihan gelar juara, keberhasilan di MCEBI ini memberikan pengalaman berharga yang tak ternilai. Jaringan dan koneksi yang terjalin antar peserta, serta penemuan hal-hal baru selama proses kompetisi jadi modal penting dalam pengembangan diri mereka. Prestasi gemilang Quailgreenfarm dan RoeLicious di MCEBI diharapkan menjadi sebuah inspirasi dan pemicu semangat bagi mahasiswa UMM lainnya untuk terus berinovasi dan berani mengejar mimpi di kancah kewirausahaan. (ali/wil)
Tim Mahasiswa UMM Bikin Sirup Sehat Atasi Surplus Gula

Inovasi minuman sehat kembali lahir dari tangan kreatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), sekelompok mahasiswa dari berbagai latar belakang jurusan mengembangkan produk Kokoluks, sirup berbahan dasar Virgin Coconut Oil (VCO) yang dirancang sebagai alternatif sehat dari minuman manis berlebihan. Salah satu anggota tim yang juga ketua kelompok, Azhar Ramadhan Sarita, mahasiswa Fisioterapi UMM, memaparkan proses awal lahirnya produk ini. Ia menjelaskan bahwa ide pengembangan Kokoluks muncul pada akhir tahun 2024 dan mulai diformulasikan secara serius di awal 2025. “Kokoluks ini adalah sirup berbasis VCO, yang memiliki banyak manfaat seperti meningkatkan energi, membantu program diet, menjaga kadar gula darah, hingga melawan radikal bebas karena kandungan antioksidannya,” ujar Azhar. Gagasan ini tidak muncul begitu saja. Latar belakang Azhar sebagai mahasiswa Fisioterapi turut memengaruhi pilihannya dalam menciptakan produk yang sehat dan fungsional. Ia menyaksikan langsung dampak negatif konsumsi gula berlebih terhadap pasien. Karena itulah, bersama timnya, Azhar berusaha merancang sirup yang tetap lezat namun rendah risiko bagi kesehatan. Mereka mengganti gula berlebih dengan pemanis alami seperti eritritol yang lebih aman dikonsumsi. “VCO mengandung asam laurat yang membantu melawan virus, bakteri, dan jamur. Lemak sehatnya juga cepat diubah menjadi energi, cocok untuk pelaku diet keto maupun clean eating. Selain itu, bisa meningkatkan kolesterol baik, memperlambat penuaan sel, dan membantu mengontrol nafsu makan,” ujarnya. Saat ini, Kokoluks telah memasuki tahap uji coba awal. Produk fisiknya sudah tersedia dan diproduksi dalam skala kecil untuk keperluan penelitian. Namun, proses uji laboratorium masih berlangsung sebagai syarat untuk kelayakan edar. “Formulanya sudah fix. Kami tinggal menunggu hasil uji lab. Kalau sudah lolos, rencananya akan diproduksi massal dan dipasarkan ke masyarakat,” ujarnya. Tidak hanya berhenti pada ide dan formulasi, proses produksi Kokoluks juga mengikuti tahapan yang terstruktur secara ilmiah. Ia menyebutkan bahwa mulai dari sterilisasi alat, pembuatan fase air dan minyak, penggabungan emulsi, hingga pengemasan, semuanya dilakukan secara higienis dan sistematis. Meski begitu, perjalanan pengembangan Kokoluks tidak berjalan tanpa hambatan. Dengan tim yang hanya beranggotakan tiga orang, mereka harus pintar membagi waktu di tengah kesibukan akademik. Kesulitan mereka ada pada manajemen waktu karena mereka tengah banyak mengikuti kegiatan akademik. Meski demikian, Azhar dan tim tetap optimis bahwa produk ini akan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Optimisme itu tak lepas dari misi besar yang mereka bawa. Tim PKM ini ingin menjadikan Kokoluks sebagai bagian dari gaya hidup baru yang lebih sehat dan sadar akan pentingnya kandungan dalam makanan maupun minuman. “Kami ingin mendorong masyarakat untuk memilih minuman alami dan tidak lagi tergantung pada produk tinggi gula atau fast food,” ujarnya. Dengan pendekatan ilmiah dan semangat kolaboratif dalam PKM, Kokoluks menjadi bukti bahwa mahasiswa UMM tidak hanya aktif secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata untuk tantangan kesehatan masyarakat masa kini. (vin/wil)