Baitul Arqam UMM Diskusikan Pentingnya Sistem dan SDM

Dalam rangka meningkatkan sumber daya yang unggul, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan Baitul Arqam Batch ke-6 yang berlangsung sejak 5 Mei ini. Pulihan peserta dari dosen dan tenaga kependidikan disiapkan untuk menjadi SDM yang unggul dan terus meningkatkan kualitasnya. Kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan ideologi Muhammadiyah dan pembentukan karakter keislaman serta profesionalisme sivitas akademika UMM. Dalam pembukaan, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. memberikan sambutan hangat sekaligus menyampaikan pesan penting terkait identitas kelembagaan dan peran sumber daya manusia dalam mengembangkan institusi. “Pada hakikatnya, kita harus mengenal rumah sendiri yaitu UMM dan Muhammadiyah. Dengan begitu kita bisa nyaman berada di sini dan memahami nilai-nilai yang dipegang teguh,” katanya. Menurutnya, dalam mengurus institusi, diperlukan seni dan kreativitas. Begitupun dalam organisasi, yang menentukan keberhasilannya bukan hanya sistem, tetapi manusia. Sumber daya manusia yang mau belajar, mau berkembang, dan mau berevolusi akan menjadi kunci utama keberhasilan. Hal serupa juga disampaikan Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si yang mengatakan bahwa keberagaman latar belakang peserta bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang perlu disinergikan melalui pemahaman nilai dan prinsip yang sama. “Kalau mau ditelaah secara mendalam, Muhammadiyah pasti memiliki ideologi sendiri. Oleh karena itu, bapak ibu yang berasal dari beragam latar belakang ketika masuk UMM, pasti akan disesuiakan untuk menjadi mentari-mentari yang menyinari masyarakat,” ungkapnya dengan analogi yang kuat. Tak hanya diisi dengan materi-materi berbobot, kegiatan ini juga menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat. Dalam sambutannya, Kepala pusdiklat PSDM UMM Zen Amiruddin menyampaikan pentingnya suasana kebersamaan sebagai faktor pendukung kesuksesan acara. “Seiring dengan berjalannya Baitul Arqam, yang menentukan nyaman atau tidaknya adalah kebersamaan dan suasana. Ketika kita saling membuka diri, saling memahami, maka rasa nyaman akan muncul dengan sendirinya,” ujarnya. Selama kegiatan, para peserta mengikuti berbagai sesi seperti pemahaman ideologi Muhammadiyah, penguatan nilai keislaman, pengembangan karakter kepemimpinan, serta aktivitas spiritual dan refleksi diri. Dengan pendekatan yang partisipatif dan kontekstual, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman transformatif. Sebagai institusi berbasis nilai Islam berkemajuan, UMM secara konsisten menyelenggarakan Baitul Arqam sebagai bagian dari strategi pembinaan SDM yang unggul, berakhlak, dan berkomitmen pada nilai-nilai Muhammadiyah. Batch ke-6 ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara nilai ideologis, profesionalisme, dan kebersamaan mampu melahirkan energi positif bagi kemajuan kampus. (*/wil)
Pakar Sosiologi UMM Beberkan Analisis Pendidikan Barak Militer

Ketika barak militer dijadikan tempat pembinaan anak-anak bermasalah, muncul pertanyaan besar mengenai arah dan esensi pendidikan itu sendiri. Dari perspektif sosiologi, kebijakan tersebut dinilai bukan sebagai solusi yang berbasis ilmu, melainkan lebih sebagai bentuk eksperimen kebijakan yang berisiko. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang, Rachmad Kristiono Dwi Susilo, MA, Ph.D., menilai bahwa pendekatan militer terhadap pembinaan karakter anak-anak justru mencerminkan krisis kepercayaan terhadap sistem pendidikan formal yang ada. Dalam pandangannya, pembinaan akhlak dan perilaku anak tidak bisa hanya bergantung pada satu aspek atau institusi saja, tetapi harus melibatkan berbagai elemen sosial, baik dari keluarga, masyarakat, agama, dan lingkungan yang lebih luas. Rachmad menyampaikan bahwa nilai-nilai seperti kedisiplinan dan cinta tanah air memang dapat ditanamkan melalui pendekatan militeristik. Namun, ia menekankan bahwa pendekatan semacam itu tidak boleh menjadi satu-satunya cara atau dipaksakan tanpa adanya pemahaman yang lebih mendalam mengenai latar belakang sosial anak. “Jika dilihat dari sosiologi, unit sosial terkecil itu keluarga. Di sinilah budi pekerti dan adab anak terbentuk pertama kali. Sebelum menentukan pendekatan pembinaan, kita harus paham dulu latar belakang sosial anak-anak itu, banyak dari anak-anak yang berperilaku menyimpang justru berasal dari keluarga yang tidak utuh, memiliki akses pendidikan yang terbatas, atau tinggal di lingkungan yang tidak mendukung perkembangan moral mereka. Oleh karena itu, pendekatan yang hanya fokus pada disiplin dan rasa takut tidak akan menyelesaikan masalah secara mendalam,” kata Rachmad. Rachmad mengkritisi pendekatan instan yang hanya menekankan pada efek jera. Ia mengatakan bahwa perubahan karakter yang dibangun melalui rasa takut tidak akan bertahan lama. Karena pendidikan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, melainkan harus melalui proses yang bertahap dan konsisten. Menurutnya pendekatan yang hanya mengandalkan teknik indoktrinasi atau pembentukan disiplin semata tanpa mengkaji aspek psikologis dan sosiologis anak bisa berisiko menimbulkan masalah lebih lanjut. Salah satu hal yang dikhawatirkan adalah ketidakcocokan antara nilai-nilai yang diterapkan dalam barak militer dengan kebutuhan psikososial anak-anak yang mungkin datang dari latar belakang yang sangat berbeda. “Melalui pendekatan sistemik yang melibatkan asesmen terhadap setiap anak untuk memahami penyebab kenakalan atau masalah perilaku mereka secara lebih spesifik. Pendekatan ini dapat mencakup identifikasi apakah masalah anak berasal dari faktor individual, psikologis, atau bahkan sosiologis,” ujarnya. Berdasarkan temuan tersebut, kurikulum perbaikan akhlak dapat disesuaikan, bukan dengan pendekatan yang terfokus pada indoktrinasi semata. Dengan demikian, pendidikan yang diberikan akan lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak dan dapat lebih efektif dalam membentuk karakter mereka. “Pendidikan moral dan karakter harus kembali ke ranah lembaga pendidikan yang memang memiliki kompetensi dalam bidang tersebut, dan kita harus memperkuat kembali peran keluarga sebagai pusat pendidikan moral pertama bagi anak-anak, penting untuk memastikan bahwa paradigma militeristik dalam pendidikan ini tidak berkembang sebelum teruji secara ilmiah dan sosial. Jangan sampai kebijakan semacam ini justru merugikan dan memperburuk kondisi anak-anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang lebih holistik dan berbasis pada pemahaman terhadap latar belakang mereka,” ucap Rachmad. (vin/wil)
RBC UMM Hadirkan Penulis Kondang, Menyoal Pendidikan Perempuan

Dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Hari Buku Dunia, RBC Institute A. Malik Fadjar menggelar talkshow dan diskusi interaktif bertajuk Ruang Gagasan: Menyoal Pendidikan Perempuan, akhir April lalu. Acara ini menghadirkan penulis sekaligus aktivis gender, Kalis Mardiasih, sebagai narasumber utama, dan diselenggarakan secara luring di Rumah Baca Cerdas, Kota Malang. Lebih dari 70 peserta dari berbagai latar belakang—mahasiswa, guru, aktivis komunitas, hingga orang tua—menghadiri acara ini. Beberapa peserta bahkan datang dari luar kota, seperti Surabaya dan Pasuruan. Antusiasme mereka menunjukkan bahwa isu pendidikan perempuan masih menjadi perhatian penting di tengah masyarakat. Dalam pemaparannya, Kalis Mardiasih menyoroti pentingnya pendidikan yang membebaskan dan memberdayakan perempuan. Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya memberikan akses formal, tetapi juga harus disertai dengan pemaknaan ulang terhadap nilai-nilai kesetaraan dalam proses belajar. Lebih dari itu, nilai kesetaraan harus dihayati sebagai bagian dari budaya berpikir dan bersikap, bukan sekadar slogan. Diskusi berlangsung hangat dan terbuka. Para peserta aktif menyampaikan pertanyaan serta pandangan kritis terhadap sistem pendidikan yang dinilai masih bias gender. Forum ini menjadi ruang reflektif sekaligus ajang tukar pikiran yang memperkaya perspektif tentang tantangan dan harapan terhadap pendidikan perempuan hari ini. Di sisi lain, Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar, Subhan Setowara, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat memperluas kesadaran kolektif mengenai pentingnya pendidikan perempuan sebagai pilar pembangunan bangsa. “Kami ingin memperingati Hari Kartini bukan hanya secara seremonial, tetapi dengan menghadirkan gagasan. Pendidikan adalah jalan sunyi menuju perubahan, dan perempuan harus menjadi bagian utuh dalam perjalanan itu,” ujarnya. Adapun Ruang Gagasan merupakan salah satu inisiatif RBC Institute untuk mempertemukan masyarakat dengan isu-isu penting dalam ruang yang inklusif, terbuka, dan reflektif. Melalui forum ini, RBC berharap dapat terus mendorong diskursus yang membumi, berpihak, dan membebaskan. (*/wil)
UMM Petakan Skema Pembenahan Pendidikan bersama Mendikdasmen RI

Teknologi menjadi hal penting dalam mendukung pembelejaran di era digital. Hal itu ditegaskan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia Prof. Abdul Mu’ti, M. Ed. dalam seminar internasional hasil kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Clarity English Hongkong dan Asia University Taiwan, 7 Mei lalu. Agenda bertajuk ‘International Seminar on Developing Students’ 5th Skill in English: Education Technology & in Depth Learning in EFL’ itu juga turut menghadirkan pemateri dari berbagai negara. Termasuk Martin Moore, M.A., Head of Assessment Clarity English, Inggris, seorang tokoh penting dalam dunia pendidikan. Lebih lanjut, Mu’ti mengatakan teknologi dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dan sejalan dengan pendekatan pembelajaran mendalam (Deep Learning), yaitu pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih fleksibel dan menyenangkan bagi siswa. Namun, dalam penerapannya banyak siswa yang belum dapat membedakan informasi yang berdasarkan fakta dan palsu (hoaks). Ia juga menyebut bahwa bahasa juga memiliki peran penting dalam mengungkapkan perasaan dan emosi manusia. Melalui bahasa, manusia dapat menyampaikan berbagai nuansa perasaan, seperti kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, dan cinta. “Teknologi akan membantu kegiatan pembelajaran di era saat ini dan dapat meningkatkan critical thingking siswa,” katanya. Oleh karena itu, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di UMM perlu mengambil peran penting ini bersama pemerintah. Adapun agenda ini untuk mengeksplorasi bagaimana keterampilan siswa dalam aspek-aspek non-teknis seperti kreativitas, pemikiran kritis, dan literasi digital dapat ditingkatkan melalui penggunaan teknologi pendidikan dan metodologi pembelajaran yang mendalam. Dengan menghadirkan para ahli di bidangnya, acara ini diharapkan memberikan perspektif baru kepada para pendidik dan praktisi pendidikan tentang bagaimana menghadapi kesulitan yang ditimbulkan oleh globalisasi dan digitalisasi dalam pengajaran bahasa Inggris. Sementara itu, Martin Moore dalam presentasinya membahas pentingnya bahasa Inggris sebagai lingua franca global yang membuka akses ke peluang lebih luas. Dia menjelaskan bahwa dalam konteks kelas, guru berperan dalam mengembangkan kekuatan tekstual dan kemampuan siswa. Lalu, dalam pembelajaran bahasa mencakup empat keterampilan seperti, membaca dan mendengarkan (receptive skills), serta berbicara dan menulis (productive skills). Di samping itu, Moore menekankan pentingnya literasi digital, berpikir kritis, dan penggunaan teknologi seperti ChatGPT dan Deepseek dalam pembelajaran bahasa. Dia juga menekankan bahwa pembelajaran bahasa bukan hanya tentang menguasai kosakata dan tata bahasa, tetapi juga sebagai pelatihan untuk berpikir logis dan koheren yang esensial dalam dunia yang semakin kompleks. Sehingga, ini dapat bersinergi antara teknologi pendidikan dan pendekatan pembelajaran mendalam dalam mengembangkan keterampilan siswa untuk siswa kelas 5. Dengan memanfaatkan teknologi, siswa tidak hanya belajar bahasa secara teknis, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif yang diperlukan dalam menghadapi tantangan global. “Pembelajaran bahasa bukan hanya tentang menguasai kosakata dan tata bahasa, tetapi juga sebagai pelatihan untuk berpikir logis dan koheren,” tegasnya menutup. (*/wil)
Dosen PGSD UMM Bongkar Tupoksi Guru SD

Aktivitas fisik merupakan aspek penting, bukan hanya bagi para anak didik tapi juga untuk seorang guru. Hal itu ditegaskan Frendy Aru Fantiro, M. Pd. salah satu pemateri dalam kulaih tamu bertajuk ‘Menggali Bakat, Mengasah Minat: Menjadi Guru SD yang Inspiratif, Kreatif, Inovatif, dan Profesional’, 5 Mei lalu. Agenda itu merupakan hasil kolaborasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Universitas Muhammadiyah Purwokerto, utamanya jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Lebih lanjut, Frendy menjelaskan bahwa sehat dan bugar merupakan hal yang berbeda. Sehat merupakan kondisi fisik, mental, dan sosial yang seimbang dan terbebas dari gangguan. Sementara bugar adalah kondisi tubuh yang segar dan kuat sehingga memiliki ketahanan tubuh untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa merasa lelah yang berlebihan. Hal tersebut disampaikan sebagai antisipasi dan menyikapi fenomena saat ini di mana anak-anak sangat jarang melakukan aktivitas fisik. Terbukti dengan betapa banyaknya anak-anak yang mengalami obesitas dan cenderung mudah terkena penyakit. Selain itu anak-anak tersebut juga seperti kurang memiliki antusias dalam melakukan kegiatan. “Padahal untuk mencapai pembelajaran dengan maksimal, seorang peserta didik harus memiliki tubuh yang sehat dan bugar. Seorang peserta didik yang memiliki tubuh yang sehat dan bugar akan memilki konsentrasi dan daya ingat yang baik. Selain itu juga dapat menghindarkan peserta didik tidak mengikuti pembelajaran dikarenakan sakit,” tegasnya. Aktivitas-aktivitas itu juga dapat melatih kerja jantung dan menurunkan potensi obesitas. Banyak kegiatan fisik yang dapat dilakukan dari aktivitas sederhana seperti berlari, olahraga sederhana, dan melakukan permainan tradisional. Menurutnya, pembelajaran aktivitas fisik perlu ditambahkan ke dalam mata pelajaran lainnya. Hal ini mengingat aktivitas fisik yang dilakukan peserta didik sangat kurang apabila hanya dilakukan sekali ketika mata pelajaran olahraga saja. Sementara itu, pemateri lain yakni Assoc Prof. Dr. Yudha Febrianta, M. Or., AIFO. membuka sesinya dengan permainan sederhana yang dilakukan berpasangan. Permainan Up-Down ini bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi dan mengembalikan fokus peserta. Menurutnya, guru yang hebat adalah yang tidak hanya sekedar menguasai materi pembelajaran. Melainkan mereka yang mampu menginspirasi dan membangun karakter peserta didik melalui pendekatan yang bervariasi dan menyenangkan. “Seorang guru memiliki peran mengajar, membimbing, dan menjadi motivator yang bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan perkembangan siswa secara holistik dan menyeluruh,” tutupnya. (nam/wil)
Seberapa Penting Sertifikasi Halal? Begini Kata Pakar UMM

Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS.P3-Halal) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menggaungkan pentingnya sertifikasi halal, tidak hanya sebagai kewajiban religius, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan konsumen dan peningkatan kualitas produk. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, Ketua Pusat Studi Halal UMM, dalam pemaparannya mengenai urgensi dan manfaat sertifikasi halal di Indonesia. Menurut Prof. Elfi, konsep halal dan thayyib bukan hanya menjadi syarat konsumsi bagi umat Muslim, tetapi juga memberikan manfaat universal bagi seluruh umat manusia. “Dalam makanan yang halal dan baik (thayyib), selain makanan aman, bergizi, membuat nyaman, terdapat sumber ketenangan jiwa karena terbebas dari dosa dunia maupun akhirat, serta berdampak positif bagi kesehatan. Sertifikasi halal merupakan proses yang didorong pemerintah sebagai standar perlindungan konsumen Muslim, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” ucapnya. Sertifikasi halal merupakan jaminan bahwa produk yang dikonsumsi masyarakat telah memenuhi standar kehalalan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH). Sesuai regulasi, mulai Oktober 2026 seluruh produk makanan dan minuman yang beredar di Indonesia wajib memiliki sertifikat halal yang dikeluarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Prof. Elfi menambahkan, dibandingkan dengan sertifikasi halal, sertifikasi haram justru memerlukan lebih banyak tenaga, waktu, dan biaya, serta dapat menimbulkan citra negatif terhadap produk. Oleh karena itu, peran negara sangat penting dalam menjamin perlindungan konsumen Muslim melalui sistem sertifikasi halal yang terstruktur dan terpercaya. “Standar halal nasional juga mengacu pada standar global, seperti HAS 23000. Produk yang telah tersertifikasi halal terbukti lebih unggul dalam aspek higienitas, kandungan gizi, serta menjaga kualitas secara berkelanjutan. Hal ini mempermudah proses distribusi, baik di pasar domestik maupun ekspor,” kata Elfi. Saat ini, terdapat dua jalur sertifikasi halal yang berlaku di Indonesia, yaitu jalur self-declare dan jalur reguler. Jalur self-declare diperuntukkan bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMKM) yang produknya tidak memiliki titik kritis tinggi, seperti penggunaan daging atau alkohol. Sementara itu, jalur reguler ditujukan bagi perusahaan besar, rumah makan, hotel, dan lembaga layanan publik lainnya. “Setiap tahapan, mulai dari pendaftaran melalui sistem SiHalal, audit oleh auditor halal, hingga sidang Komisi Fatwa, dilakukan secara teliti untuk menjamin kehalalan produk. Khusus jalur self-declare, proses pendaftaran dan audit didampingi oleh Pendamping Proses Produk Halal (PPH),” ujar Elfi. Ia menambahkan, BPJPH juga mewajibkan pelaku usaha melakukan pelaporan secara berkala setiap enam bulan, guna memastikan standar halal tetap diterapkan secara konsisten. Hal ini menjadi krusial, terutama jika terdapat perubahan bahan baku atau proses produksi. Lebih dari sekadar label, halal memiliki makna spiritual dan moral yang mendalam. “Kata ‘halal’ berasal dari ‘halla’, yang berarti terbebas dari beban dosa. Produk halal harus bebas dari unsur najis dan bahan haram, baik dari segi bahan, proses pengolahan, maupun alat yang digunakan. Halal adalah wujud kejujuran dan tanggung jawab dalam setiap lini produksi, dengan tujuan akhir menenangkan jiwa dan menjamin keamanan konsumsi,” ujarnya. Prof. Elfi juga menekankan pentingnya peningkatan literasi halal sejak dini melalui pendidikan, pelatihan, serta sertifikasi kompetensi di bidang halal. Ia mendorong pemanfaatan bahan baku lokal dan promosi produk dalam negeri sebagai bagian dari penguatan ekosistem halal nasional. “Halal bukan hanya persoalan religius, tetapi juga berdampak pada sektor ekonomi dan sosial. Jika digerakkan secara sistematis, sertifikasi halal mampu mendorong pemberdayaan masyarakat, mengurangi angka pengangguran, serta memperkuat kemandirian bangsa,” ucap Elfi. (bil/wil)
Yeyen, Dosen UMM yang Teliti Perilaku Konsumen Era Digital di Korea

Kabar membanggakan datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Yeyen Pratika, dosen Program Studi Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, baru saja menorehkan raihan dengan menyelesaikan studi doktoral di Ewha Womans University, Seoul, Korea Selatan. Ia berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) in Business Administration, dengan konsentrasi di bidang Marketing, melalui beasiswa prestisius Higher Education for ASEAN Talents (HEAT). Dalam wawancara, Yeyen mengungkapkan alasannya memilih Ewha Womans University, yang dikenal sebagai universitas perempuan pertama dan termasuk dalam 10 besar universitas terbaik di Korea Selatan. “Branding Ewha sangat kuat, dan saya ingin menimba ilmu di tempat yang memiliki reputasi internasional,” ujarnya. Selama masa studi, Yeyen memilih untuk mendalami perilaku konsumen dalam konteks belanja daring, sebuah topik yang sangat relevan di era digital saat ini. Penelitiannya menyoroti perbandingan antara fitur berbasis Artificial Intelligence (AI) dengan fitur non-AI seperti pencarian manual, dan bagaimana teknologi ini memengaruhi reaksi emosional dan kognitif konsumen. Lebih dari itu, ia juga mengkaji pengaruh perbedaan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan terhadap preferensi konsumen. Melalui riset tersebut, Yeyen berharap dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang perilaku konsumen lintas budaya serta menawarkan solusi praktis untuk pengembangan aplikasi belanja daring yang lebih inklusif dan adaptif, khususnya bagi pasar lokal Indonesia. Baginya, ilmu tidak hanya berhenti di laboratorium atau jurnal, tetapi harus berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Namun di balik keberhasilan itu, perjalanan akademik di negeri orang bukan tanpa tantangan. Salah satu hal yang cukup mengejutkan baginya adalah budaya ‘Ppalli-ppalli’ atau “cepat-cepat” yang melekat dalam hampir semua aspek kehidupan di Korea. “Sebagai orang Indonesia yang terbiasa dengan ritme yang lebih santai, saya sempat kewalahan di awal,” kenangnya. Ditambah lagi, keterbatasan bahasa Korea membuat interaksi di kelas dan kehidupan sehari-hari menjadi lebih menantang. Di balik perjuangan itu, ada pula momen yang menyentuh hati. “Saya pernah ditraktir oleh seorang bapak-bapak Korea hanya karena saya berhijab dan berasal dari Indonesia. Ternyata beliau penggemar Megawati, atlet voli Indonesia yang bermain di Red Sparks Korea.” tuturnya. Pascastudi, ia tidak hanya ingin membawa pulang gelar akademik, tapi juga semangat baru untuk membangun dunia pendidikan. Ia berharap bisa terus aktif dalam riset, menjalin kolaborasi internasional, serta menginspirasi mahasiswa untuk berani melangkah ke dunia global. Beliau juga menegaskan bahwa kesempatan untuk studi lanjut di luar negeri, terutama di Korea Selatan, terbuka lebar. Banyak beasiswa yang tersedia setiap tahun, baik dari pemerintah maupun universitas. “Jangan menyerah jika gagal di percobaan pertama. Bisa jadi keberhasilan datang di kesempatan kedua atau ketiga. Yang penting, tetap semangat, siapkan diri sebaik mungkin, dan jangan takut untuk mencoba,” tutupnya dengan penuh optimisme. (bil/wil)
Dosen Ikom UMM Jelaskan Alasan Jumbo Diminati Jutaan Penonton

Industri perfilman Indonesia kembali menjadi sorotan dengan hadirnya film animasi “Jumbo”, karya anak bangsa yang langsung mencuri perhatian banyak publik. Film ini tidak hanya menjadi sebuah hiburan saja, tetapi juga sebagai obat rindu bagi para pecinta bioskop kesayangan akan kehadiran film animasi yang berkualitas dan sudah lama dinanti. Film ini disutradarai oleh Ryan Adriandhy seorang anak bangsa yang memiliki tekad tinggi serta juga menamatkan studi magister di Amerika. Menurut Novin Farid Setyo Wibowo, S. Sos, M.Si, Dosen Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), perilisan film “Jumbo” membawa banyak kabar baik dan mendapat respon positif dari masyarakat. Dia mengatakan, antusiasme publik melonjak tinggi seiring dengan kabar positif yang tersebar luas, meningkatkan rating film dan membangkitkan minat menonton film lokal. Dari sisi produksi, film ini melibatkan banyak kru dan sutradara lokal, menunjukkan keseriusan dalam pengerjaan setiap detail film ini. Hasil akhirnya, film ini dikemas dengan sangat menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan target pasarnya, yaitu anak-anak. “Film ini juga melibatkan sutradara dan crew yang cukup banyak, sehingga membuat lebih menarik lagi film garapan kreator Indonesia. Selanjutnya, dari segi pengemasan film terbilang cukup menarik dan mudah dipahami karena target pasar dari film ini adalah anak-anak. Kualitas film juga menjadikan daya saing film jumba dapat bersaing di Insutri film Internasional,” tegasnya. Selanjutnya, momentum rilis yang bertepatan pasca lebaran menjadi faktor pendukung kesuksesan film ini. Di tengah momen libur dan kebersamaan keluarga, banyak orang merasa membutuhkan tontonan berkesan yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyentuh. “Jumbo” hadir di waktu yang sangat tepat ketika publik sedang rindu pada tontonan yang hidup, hangat, dan bermakna. Film ini, mempunyai nilai plus dan minus diproduksi dengan cukup detail, bisa bersaing dengan pasar nasional, tayang diwaktu yang tepat, diproduksi oleh kreator anak bangsa, serta ada beberapa catatan yang muncul dari penonton. Meski begitu, Novin menilai, alur cerita dinilai terlalu sederhana dan latar belakang Jumbo yang kelam karena tidak memiliki orang tua terasa berat untuk sebagian penonton anak. Selain itu, lagu tema film yang cenderung sedih seharusnya bisa lebih ceria untuk anak-anak. Namun, kehadiran “Jumbo” dinilai sebagai langkah awal yang penting dalam membangun ekosistem perfilman yang lebih sehat. Novin menegaskankan bahwa, keberlanjutan produksi film membutuhkan dukungan investor, regulasi pemerintah, dan tentu saja minat penonton. Untuk dapat bersaing, Indonesia harus mulai fokus pada produksi film yang tidak hanya mengikuti selera pasar, tapi juga membentuk selera baru melalui karya yang berkualitas. Terakir dia menekankan pentingnya menciptakan film sebagai alat edukasi dan IP (Intelektual Property) jangka panjang, yang mampu menghidupi kreator dan memberi dampak lebih besar pada industri. “Harapannya, “Jumbo” bisa menjadi pemicu lahirnya film-film animasi edukatif lain yang tak hanya menyaingi produksi pasar lokal juga Internasional, tapi juga menyentuh hati dan membentuk karakter bangsa,” tutupnya. (nam/wil)
Hardiknas UMM, Buat Terobosan Siap Dirikan Direktorat Saintek

Hari pendidikan nasional (Hardiknas) menjadi momentum yang tepat untuk bersyukur dan menghadirkan energi positif dalam setiap langkah pengabdian, baik untuk persyarikatan Muhammadiyah maupun bangsa Indonesia secara luas. Hal itu ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. dalam upacara peringatan Hardiknas, 2 Mei lalu di Helipad UMM. Ribuan sivitas akademika turut memeriahkan upacara peringatan tersebut. Momen ini tidak hanya menjadi sarana refleksi atas pentingnya pendidikan nasional, tetapi juga menjadi ajang apresiasi terhadap sivitas akademika UMM yang berprestasi. Dalam upacara tersebut diumumkan beberapa penghargaan penting, termasuk mahasiswa berprestasi dari fakultas hukum, psikologi, dan teknik, serta pegawai dan dosen yang telah mengabdi lama di Kampus Putih. “Marilah selalu kita panjatkan puji syukur dan ingat Allah agar pada setiap momen penting di dalam kehidupan pribadi maupun kebangsaan kita mampu mengumpulkan energi positif yang akan membawa kita untuk bekerja dan terus berkhidmat di persyarikatan Muhammadiyah untuk kepentingan bangsa Indonesia,” ucapnya. Nazaruddin juga menekankan komitmen universitas dalam menghadapi tantangan global melalui transformasi dan penguatan potensi internal kampus. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan pelatihan dasar teknologi digital untuk seluruh program studi, termasuk pengenalan bahasa pemrograman Python yang menjadikan UMM sebagai pelopor dalam integrasi teknologi di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa UMM terus beradaptasi terhadap perkembangan teknologi seperti artificial intelligence, metaverse, dan data analitik agar lulusannya lebih siap menghadapi masa depan. Ia juga menegaskan pentingnya kesinambungan dalam kepemimpinan kampus agar visi dan misi pengembangan tidak terputus. Ia juga mengungkapkan pendirian Direktorat Saintek UMM, yang akan fokus pada riset terapan di bidang pangan, energi terbarukan, pengembangan layanan kesehatan, dan lingkungan. “Konsep kelembagaan ini sebenarnya sudah dikenal lama, Saintek sebagai inti dan ilmu-ilmu sosial dan humaniora sebagai plasmanya. Kita semua sudah berhasil dalam banyak bidang, tetapi jika kita meningkatkan kolaborasi, kerjasama, saling pengertian di antara kita semua, insya Allah potensi UMM akan menjadi lebih mengedepan,” ujarnya. Upacara Hari Pendidikan Nasional ini menjadi simbol semangat UMM dalam terus memperkuat dedikasinya di dunia pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat, sejalan dengan nilai-nilai Muhammadiyah dan semangat untuk menjadi universitas yang unggul di tingkat nasional maupun internasional. (vin/wil)
Sinergi dengan Pemerintah, UMM Launching Kampus Berdampak

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen penuh menjadi Kampus Berdampak yang memberikan manfaat untuk masyarakat. Komitmen ini semakin kuat dengan adanya launching #KampusBerdampak di UMM pada 2 Mei 2025 ini. Ini merupakan wujud komitmen membangun negeri yang selaras dengan program pemerintah yang juga baru diluncurkan. Selama ini, berbagai program UMM baik dari ide-ide dari dosen maupun mahasiswa telah sukses dijalankan dan berdampak bagi masyarakat. Mulai dari menciptakan robot SAR, Biofarm pakan ternak, telur UMM Chic, pengembangan desa wisata, pelatihan ecoprint, dan ribuan lainnya. Adapun launching tersebut dilanjutkan dengan kuliah umum bertajuk “Transformative Islamic Finance as Catalyst for Growth” yang berkolaborasi bersama Bank Syariah Indonesia. Turut hadir dari Durham University, Prof. Mehmet Asutay yang memaparkan tentang tranformasi finansial yang sesuai pada norma dan hukum Islam. Terkait agenda itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menjelaskan bahwa Kampus Berdampak adalah gerakan yang dilakukan oleh mayoritas Perguruan Tinggi di Indonesia untuk melakukan gerakan masing-masing. Utamanya agar pendidikan lebih dekat dengan masyarakat, tidak berada di menara gading. Memberikan manfaat langsung pada masyarakat, tidak hanya memberikan teori-teori semata. “UMM juga mendirikan Direktorat Saintek yang menjadi wadah pengembangan ide serta program yang solutif bagi masyarakat. Apalagi selama ini, UMM juga telah banyak berkecimpung langsung di tengah masalah yang dihadapi masyarakat. Ini juga menjadi salah satu gerakan UMM dalam mewujudkan sustainable environment, renewable energy, serta memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat,” tegasnya. Nazar juga menyambut baik kolaborasi dan kunjungan dari berbagai pihak yang telah menjadikan UMM sebagai host berbagai program. Ini merupakan suatu experience dan peluang yang baik bagi para mahasiswa untuk lebih mendapatkan wawasan yang luas dalam hal finansial dalam pandangan syariat Islam. Sebagai negara yang mayoritas Islam dan mendukung finansial inklusi, pengenalan pada sistem keuangan Islam menjadi penting untuk didalami karena merupakan bagian dari sebuah ekosistem yang ingin diwujudkan bersama-sama. Sementara itu, Prof. Mehmet menjelaskan bahwa Keuangan Islam memberikan janji. Janji itu adalah untuk keadilan dari sisi eksistensi bagi semua orang. Karena semua sumber daya yang diciptakan oleh Allah SWT adalah milik-Nya termasuk modal. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang sepenuhnya menjadi milik manusia. Ini adalah dunia milik semua orang untuk mencapai falah yaitu mencapai kesejahteraan dan keberhasikan yang komprehensif. Baik dalam aspek dunia, maupun akhirat. Itulah mengapa keungan syari’ah lebih selektif pada proses. Ia juga menyoroti isu dan tantangan finansial yang terjadi di tengah masyarakat. Serta perlunya disrupsi dengan munculnya ekonomi moral Islam dengan gerakan perubahan dari Dis-Equilibrium dan dominasi menuju Mizan, Balance, maupun Ihsan melalui Islah. Ekonomi moral Islam adalah suatu pendekatan dan proses penafsiran serta penyelesaian masalah-masalah ekonomi manusia berdasarkan nilai-nilai, norma, hukum, dan lembaga yang ditentukan dalam dan berasal dari sumber-sumber Islam. Di sisi lain, Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo mengatakan bahwa pihaknya berterima kasih kepada UMM karena sudah berkenan menjadi host dalam agenda yang merupakan bagian dari rangkaian BSI Global Islamic Finance Summit (GIFS). Ia menyebut UMM sebagai satu satunya perguruan tinggi di luar Jabodetabek yang dikunjungi oleh BSI dalam program GIFS. “Satu hal yang saya rasakan yakni semangat untuk terus maju. Tidak cukup sampai di sini saja. Tapi mampu mengembangkan berbagai hal dan program. Melalui komitmen sebagai kampus berdampak ini, saya yakin UMM bisa mendorong kualitas dan pengembangan keuangan syariah. Ini juga menjadi kesempatan bagus bagi mahasiswa dilanjutkan perjuangan untuk menjadi generasi berdampak,” katanya mengakhiri. (din/wil)