Viral Skor IQ Indonesia, Dosen UMM Ini Tegaskan Kecerdasan Tak Sesederhana Angka

Isu skor IQ Indonesia yang disebut berada di angka 78 kembali ramai diperbincangkan publik. Angka tersebut memicu perbandingan antarnegeri hingga muncul narasi sensasional yang menyesatkan. Menanggapi hal itu, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), May Lia Elfina, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa skor IQ tidak bisa dimaknai secara sederhana, apalagi dijadikan label kecerdasan suatu bangsa. May menjelaskan, IQ pada dasarnya merupakan indikator kemampuan kognitif umum, seperti penalaran, pemecahan masalah, pemahaman verbal, dan kemampuan belajar. Angka IQ diperoleh melalui tes psikologi standar dengan kerangka ukur tertentu. Karena itu, membahas IQ tanpa memahami konsep dan metodologinya berpotensi melahirkan kesimpulan keliru. Perdebatan publik mencuat setelah data World Population Review tahun 2022 mencatat rata-rata IQ Indonesia di angka 78,49. Menurut May, data tersebut perlu dibaca dengan sangat hati-hati. “Menurut saya itu data yang tidak representatif, karena bisa jadi merupakan kompilasi dari berbagai sumber dengan metodologi, alat ukur, dan jumlah sampel yang berbeda-beda. Ini yang perlu ditinjau ulang,” jelasnya saat diwawancara tim Humas UMM, 18 Desember lalu. Ia menambahkan, dalam kajian psikologi, kemampuan kognitif suatu bangsa tidak dapat direduksi menjadi satu angka agregat. Berbagai penelitian menunjukkan hasil yang beragam, mulai dari kisaran 70-an hingga di atas 90, tergantung alat tes dan konteks penelitian yang digunakan. May juga menyoroti munculnya klaim bahwa IQ Indonesia mendekati IQ gorila. Menurutnya, perbandingan tersebut merupakan kesalahan interpretasi ilmiah yang serius. “Penelitian tentang kecerdasan gorila sendiri masih pro dan kontra. Gorila jelas bukan manusia, baik secara biologis maupun psikologis,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa skor IQ sangat dipengaruhi faktor lingkungan, terutama dalam konteks lintas budaya. Perbedaan bahasa, budaya, akses pendidikan, hingga kondisi kesehatan dapat memengaruhi hasil tes. Karena itu, IQ tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan struktural masyarakat. May juga menolak anggapan bahwa IQ adalah penentu utama kesuksesan hidup. Menurutnya, keberhasilan seseorang lebih banyak dipengaruhi faktor lain, seperti motivasi, kepribadian, kecerdasan emosional dan sosial, kreativitas, serta lingkungan yang mendukung. Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa IQ bukan vonis yang bersifat tetap. “IQ bisa berkembang jika lingkungannya mendukung,” ujarnya. Ia berharap publik lebih bijak memaknai kecerdasan dan mulai menaruh perhatian pada pemenuhan gizi, stimulasi dini, serta pemerataan pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi kualitas sumber daya manusia bangsa. (bil/faq)   Penulis: Zlatan Abil Ibrahim | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kisah Dana, Dokter Muda FK UMM yang Terjun Psikososial pasca Bencana di Sumbar

Berada di hadapan para penyintas yang kehilangan rumah dan keluarga menjadi pengalaman paling mengguncang bagi Muhammad Hafidz Putra Perdana. Dokter muda yang akrab disapa Dana ini harus belajar menyeimbangkan empati dan profesionalisme saat mendampingi korban banjir bandang Sumatra melalui layanan psikososial. Dana merupakan dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) asal Banjarmasin yang tergabung dalam program tanggap bencana UMM yang berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek) yang berfokus pada pelayanan medis dan psikososial. Para relawan diterjunkan ke Sumatra barat sepanjang bulan Desember 2025 untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak banjir bandang. Dalam program tersebut, Dana dipercaya bergabung sebagai anggota tim psikososial, yang bertugas mendampingi penyintas dengan gangguan mental akibat trauma bencana. “Saya langsung turun ke masyarakat dan menanyai perihal gejala serta gangguan mental mereka akibat post-trauma banjir bandang ini,” ujar Dana. Hari pertama bertugas di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, menjadi momen awal Dana bersentuhan langsung dengan realitas bencana. Ia mengunjungi tiga rumah singgah yang dihuni penyintas dari Kecamatan Palembayan, wilayah zona merah dengan tingkat kerusakan tinggi. “Mereka menceritakan bahwa rumahnya sudah rata dengan tanah, bahkan banyak anggota keluarga yang sudah tidak ada,” katanya. Dana menjelaskan bahwa mayoritas penyintas yang ia dampingi mengalami kecemasan berat, gangguan panik, serta tekanan emosional akibat kehilangan. Pendampingan dilakukan melalui asesmen, konseling, relaksasi, serta pemberian obat-obatan yang dipantau secara berkala selama dua minggu. “Sebagian besar pasien adalah mereka yang kehilangan anggota keluarga, tetapi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk bertahan hidup,” ungkapnya. Pengalaman paling membekas baginya terjadi saat bertugas di Rumah Singgah Sitingkah Tapi Kec. Lubuk Basung lokasi penyintas dari Kec. Palembayan, salah satu zona merah dengan dampak paling parah. “Saya bertemu seorang ayah yang rela mengkorbankan dirinya agar istri dan anaknya bisa selamat sebelum akhirnya tergerak untuk melukai diri agar bisa terbebas selamat dari jeratan galodo setelah mendengar pertanyaan “ayah setelah ini kita mau kemana? ayah ikut kan?”. Cerita mereka benar-benar menggoyahkan saya secara personal,” tutur Dana. Meski pernah menjalani stase kejiwaan saat koas, Dana mengaku pengalaman lapangan ini memberi pelajaran yang jauh lebih dalam. “Ini adalah pengalaman yang tidak akan tergantikan bagi saya sebagai calon dokter,” ujarnya. Dana berharap kehadiran program UMM bersama KemendiktiSaintek yang fokus kepada layanan medis dan psikososial ini dapat membantu mempercepat pemulihan mental dan sosial para penyintas pascabencana. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Buka Pendampingan Psikologis untuk Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera dan Aceh

Di tengah situasi bencana yang berdampak di Sumatera, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah konkret. Melalui layanan Bimbingan dan Konseling (BK), UMM membuka pendampingan psikologis bagi mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana di wilayah Sumatera, termasuk Aceh. Layanan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memastikan mahasiswa tetap memiliki ketahanan mental di tengah kondisi krisis yang memengaruhi keluarga mereka. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) UMM, Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., menjelaskan bahwa layanan ini merupakan bagian dari fungsi BK dalam melayani sivitas akademika, yang meliputi mahasiswa, dosen, dan karyawan. Namun, dalam konteks bencana, fokus utama sementara ini yaitu pendampingan diarahkan pada mahasiswa UMM yang berada di Malang tetapi memiliki keluarga di wilayah terdampak. Pendekatan ini dipilih karena mahasiswa merupakan kelompok yang paling cepat dijangkau dan berpotensi mengalami tekanan psikologis yang berdampak pada aktivitas akademiknya. “Yang paling memungkinkan untuk kami dampingi secara cepat adalah mahasiswa yang keluarganya berada di wilayah terdampak bencana. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, shock, hingga gangguan konsentrasi belajar sehingga membutuhkan dukungan psikologis sejak dini agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih berat,” ujarnya. Dalam konteks yang lebih luas, BK UMM memposisikan diri sebagai bagian dari sistem pendukung kesehatan mental sivitas akademika. Pendampingan psikologis ini tidak hanya bersifat responsif terhadap situasi bencana, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen jangka panjang kampus dalam menjaga kesejahteraan mental mahasiswa. Menurut Cahyaning, tekanan emosional yang tidak tertangani berpotensi memengaruhi keberlangsungan studi mahasiswa. Pendekatan yang digunakan BK UMM tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga promotif dan preventif. Edukasi kesehatan mental terus dilakukan melalui berbagai konten yang disebarluaskan agar mahasiswa memiliki pemahaman dan kemampuan dalam mengelola emosi secara mandiri. Upaya ini diharapkan dapat membantu mahasiswa membangun ketahanan psikologis, terutama ketika menghadapi situasi krisis yang berkaitan dengan kondisi keluarga. “Tujuan utama kami adalah memberdayakan mahasiswa agar mampu menghadapi situasi sulit, bukan membuat mereka bergantung pada layanan konseling. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tetap dapat menjalani perkuliahan secara optimal meskipun berada dalam kondisi emosional yang menantang akibat bencana yang menimpa keluarga mereka,” ujarnya. Sebagai bentuk dukungan konkret, BK UMM membuka layanan konseling yang dapat diakses melalui beberapa mekanisme. Mahasiswa dapat memanfaatkan layanan ini dengan mendaftar secara daring, datang langsung ke kantor BK, maupun melalui layanan komunikasi awal berbasis chat. Selain itu, BK UMM juga membuka kemungkinan pendampingan secara daring melalui platform digital, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan mahasiswa. Melalui layanan konseling ini, UMM menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan mental mahasiswa. BK UMM diharapkan menjadi ruang aman dan inklusif bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan psikologis, sekaligus mempertegas bahwa kesehatan mental merupakan kebutuhan mendasar yang mendapat perhatian serius dalam ekosistem pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang. (wil)   Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain

Kisah Azhar, Mahasiswa PAI UMM yang Tempa Kompetensi di CoE Manajemen Sekolah Islam

Program Center of Excellence (CoE) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa lintas fakultas. Salah satunya dirasakan oleh M. Azhar Iman Sofyan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Agama Islam, angkatan 2022, yang mengikuti CoE Manajemen Sekolah Islam Unggul. Program CoE ini berlangsung sejak Agustus hingga 11 Desember 2025, dengan penempatan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 26 Bojonegoro. Selama magang, Azhar sapaan akrabnya difokuskan pada pengembangan program dan penguatan manajemen sekolah. Setelah kegiatan di sekolah selesai hingga siang hari, peserta melanjutkan dengan penyusunan laporan dan pembahasan program di penginapan. Ia menjelaskan bahwa program magang CoE yang dijalani memiliki aktivitas yang cukup padat dan berfokus pada penguatan manajemen lembaga pendidikan. “Kegiatan magang dilakukan mulai Senin sampai Kamis, bahkan kadang hingga Sabtu. Kami datang langsung ke sekolah untuk berdiskusi dengan guru dan pihak yang terkait, mencari tahu permasalahan yang ada, karena fokusnya bukan pada pengajaran langsung, tetapi pada manajemen sekolah,” jelasnya. Setelah mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi sekolah, peserta CoE bersama pihak sekolah merumuskan solusi secara kolaboratif. Menurut Azhar, solusi tersebut diharapkan dapat menjadi nilai tambah bagi sekolah agar semakin diminati masyarakat. “Dari solusi itu kami susun program yang bisa menarik minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sana. Itu menjadi tujuan utama kegiatan kami,” tambahnya. Mengikuti CoE menjadi pengalaman yang berkesan bagi Azhar. Ia mengaku tertarik bergabung karena program ini dirancang untuk membantu mahasiswa lulus dalam waktu 3,5 tahun. “Salah satu alasan utama saya ikut CoE adalah target kelulusan yang jelas. Kami benar-benar dibimbing mulai dari penyusunan tugas akhir, seminar proposal, sampai seminar hasil, semuanya sudah terjadwal,” ungkapnya. Selain percepatan kelulusan, pengalaman dunia kerja menjadi nilai tambah yang signifikan. “Di CoE ini saya mendapatkan pengalaman yang sebelumnya belum pernah saya rasakan, mulai dari relasi, pengetahuan, sampai gambaran nyata dunia kerja,” katanya. Ke depan, Azhar berharap dapat segera menyelesaikan tugas akhirnya dan lulus tepat waktu. Ia juga ingin pengalaman magangnya memberikan manfaat nyata bagi sekolah tempat ia ditempatkan. “Saya merasa passion saya memang di dunia pendidikan. Ke depannya ingin tetap bermanfaat sebagai guru atau di bidang manajemen pendidikan,” ujarnya. Menurut Azhar, pengalaman mengikuti CoE menjadi bekal penting sebelum lulus. “Di sini saya benar-benar merasakan output yang nyata. Apa yang dipelajari relevan dengan dunia kerja nanti, baik sebagai guru maupun di bidang manajemen sumber daya manusia pendidikan,” tutupnya. (Abim/Faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Salurkan Hygiene Kit untuk Penyintas Banjir dan Longsor di Kabupaten Agam

Di tengah lumpur dan sisa genangan banjir yang belum sepenuhnya surut, bantuan terus mengalir bagi warga terdampak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Agam. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan kepeduliannya dengan menyalurkan bantuan hygiene kit guna membantu para penyintas menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Bantuan hygiene kit tersebut disalurkan pada 19 Desember lalu melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam dan diterima langsung oleh Bupati Agam, Ir. H. Benni Warlis, M.M. Penyaluran ini merupakan bagian dari program respon bencana UMM terhadap musibah banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Agam. Sebelumnya, UMM juga telah menyalurkan ratusan hygiene kit ke beberapa wilayah terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Agam sejak 8 Desember lalu. Terbaru, tim kampus putih juga menyalurkan bantuan tersebut langsung kepada para warga daerah maninjau pada 21 Desember. Hygiene kit tersebut berisi perlengkapan dasar kebersihan, seperti sabun, handuk, serta alat-alat kebersihan lainnya yang sangat dibutuhkan oleh warga di pengungsian. Bupati Agam, Ir. H. Benni Warlis, M.M., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya kepada UMM atas bantuan yang diberikan. Ia mengatakan bahwa hygiene kit tersebut nantinya akan didistribusikan ke daerah-daerah yang terdampak paling parah. Menurutnya, bantuan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terutama dalam kondisi darurat pascabencana. “Kami mengucapkan terima kasih kepada UMM atas kepeduliannya. Bantuan ini akan segera disalurkan kepada warga yang membutuhkan,” ujarnya. Dalam program respon bencana ini, UMM berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk membantu penanganan bencana di Sumatera Barat. Sepanjang bulan ini, UMM mengirimkan puluhan relawan untuk terjun langsung ke lapangan, mulai dari dokter umum, perawat, apoteker Rumah Sakit UMM, dokter muda Fakultas Kedokteran UMM, hingga Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM. Ketua Pos Koordinasi Relawan UMM, Indra Ferry, menjelaskan bahwa penyaluran hygiene kit tersebut bertujuan untuk memberikan fasilitas dasar kebersihan bagi warga terdampak agar tetap dapat menjaga kebersihan diri secara layak di tengah keterbatasan pascabencana. Menurutnya, banjir dan longsor tidak hanya merusak rumah serta infrastruktur, tetapi juga berdampak langsung pada kondisi kesehatan masyarakat, terutama bagi mereka yang harus tinggal di pengungsian dengan akses air bersih yang terbatas. Ia menegaskan bahwa lingkungan yang lembap, kotor, dan bercampur lumpur sangat rentan memicu berbagai penyakit, khususnya penyakit kulit seperti gatal-gatal, infeksi, dan iritasi. Oleh karena itu, ketersediaan hygiene kit menjadi kebutuhan mendesak bagi para penyintas agar mereka dapat membersihkan diri secara rutin dan menjaga kesehatan tubuh. Terakhir, Dosen Akuakultur UMM itu berharap agar bantuan yang disalurkan UMM ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak. Ia juga berharap kehadiran relawan dan bantuan kemanusiaan ini dapat memberikan dukungan moral bagi para penyintas yang tengah berjuang memulihkan kondisi pascabencana. “Kami berharap bantuan ini dapat membantu menjaga kesehatan dan meringankan beban para penyintas banjir dan longsor,” tuturnya.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Kaji Peran Trans Jatim Gerakkan Ekonomi dan Wisata Malang Raya

Kehadiran Bus Trans Jatim di wilayah Malang Raya menjadi angin segar bagi penataan transportasi publik sekaligus penguatan sektor ekonomi kreatif. Untuk membedah potensi tersebut, Tribun Network menggelar talk show bertajuk “Tribun Talks: Trans Jatim untuk Dongkrak Ekonomi dan Wisata Malang Raya” yang melibatkan Universitas Muhammadiyah Malang, Pemerintah Kota serta Pemerintah Wilayah Jawa Timur. Kegiatan ini diselenggarakan pada Rabu, 17 Desember lalu bertempat di Rayz Hotel UMM. Acara tersebut mempertemukan regulator, akademisi, hingga paguyuban sopir angkot untuk bersama-sama merumuskan masa depan konektivitas wilayah yang dikenal dengan sebutan Malang Senyawa. Sejak diresmikan, animo masyarakat terhadap Trans Jatim tergolong sangat tinggi dengan rata-rata 4.000 penumpang per hari di wilayah Malang. Data mencatat komposisi penumpang terdiri dari mahasiswa dan pelajar yang dikenakan tarif sebesar Rp2.500. Serta penumpang umum yang dikenakan sebesar Rp5.000. Tingginya keterisian ini membuktikan bahwa transportasi publik yang aman, nyaman, dan berkeselamatan sangat dirindukan oleh warga Malang Raya yang selama berpuluh tahun menghadapi tantangan kemacetan. Asisten Khusus Rektor Bidang Kerja sama dan Pengembangan SDM UMM, Dr. Ratih Juliati, M.Si., mengatakan bahwa Trans Jatim adalah tulang punggung aksesibilitas pariwisata berkelanjutan sesuai Teori Konektivitas. Menurutnya, kesuksesan destinasi wisata sangat bergantung pada integrasi transportasi yang melintasi pusat pendidikan dan area publik. “Aksesibilitas ini merupakan pancingan untuk menggairahkan kembali wilayah Malang Raya, di mana Trans Jatim menciptakan nilai pelayanan publik yang luar biasa dan bermanfaat bagi mahasiswa serta pendatang,” tutur Ratih. Optimalisasi aksesibilitas tersebut diharapkan tidak hanya menjadi solusi mobilitas, tetapi juga mampu menjadi katalisator utama bagi pertumbuhan UMKM di sekitar shelter. Hal ini dikarenakan setiap titik pemberhentian bus memiliki potensi besar untuk menjadi pusat keramaian baru yang menghidupkan sektor perdagangan kecil. “Efek domino ini terlihat dari munculnya pusat ekonomi baru di setiap titik pemberhentian bus, sehingga ekonomi masyarakat bawah ikut bergerak seiring dengan lancarnya arus transportasi publik,” ungkap Ratih. Lebih jauh, Ratih menekankan bahwa keberhasilan inovasi transportasi ini harus menjadi momentum kolektif bagi seluruh elemen masyarakat. Sehingga menciptakan budaya baru dalam bermobilitas yang lebih modern. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci agar layanan ini tetap relevan dan berkelanjutan. “Trans Jatim bukan sekadar bus yang melintas, melainkan simbol sinergi Malang Senyawa yang menyatukan konektivitas, kenyamanan, dan keberlanjutan ekonomi dari hulu hingga ke hilir,” pungkasnya. Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Drs. R. Widjaja Saleh Putra, menjelaskan bahwa kehadiran Trans Jatim bukan untuk mematikan transportasi lokal, melainkan sebagai mesin transformasi bagi angkutan kota. Melalui integrasi ini, angkot kini diposisikan sebagai feeder atau pengumpan yang menyambungkan penumpang dari pemukiman ke shelter utama. “Angkutan kota yang sebelumnya kurang optimal kini kembali berfungsi secara maksimal. Melalui kehadiran Trans Jatim, angkutan tersebut ditata ulang menjadi angkutan feeder yang secara nyata, menghidupkan kembali pendapatan para pengemudinya,” ujar Widjaja. Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kota Batu, Hendry Suseno, SP., MM., melihat adanya kebangkitan ekonomi di sekitar titik-titik pemberhentian bus. Ia mencatat sembilan jalur angkutan di Batu yang sebelumnya mati suri kini mulai menggeliat kembali. Wisatawan kini memiliki opsi mobilitas yang lebih efisien menuju Alun-Alun Batu maupun destinasi wisata Kota Batu tanpa harus terjebak kemacetan kendaraan pribadi.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dukung Kepatuhan Pajak, UMM-DJP Jatim Sosialisasi Aktivasi Coretax

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan Sosialisasi dan Praktik Aktivasi Akun Coretax pada Rabu (17/12/2025). Kegiatan ini menjadi langkah awal UMM dalam mendukung implementasi sistem administrasi perpajakan digital terintegrasi sekaligus menegaskan komitmen kampus dalam mendorong kepatuhan pajak di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan itu dibuka oleh Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa Coretax merupakan sistem administrasi perpajakan yang relatif baru dan dirancang untuk mengintegrasikan seluruh proses bisnis perpajakan ke dalam satu platform digital. “Coretax adalah sistem layanan administrasi perpajakan modern yang mengintegrasikan seluruh proses bisnis perpajakan dalam satu platform digital. Sistem ini mulai berlaku secara bertahap sejak 1 Januari 2025,” jelasnya. Dr. Juanda menegaskan bahwa pajak merupakan kewajiban yang tidak dapat dihindari, baik bagi wajib pajak badan maupun pribadi. Oleh karena itu, setiap pemilik NPWP diwajibkan melakukan aktivasi akun Coretax paling lambat 31 Desember 2025. Ia mengingatkan bahwa keterlambatan aktivasi akan berdampak pada proses pelaporan pajak. “Jika aktivasi tidak dilakukan, maka akan menyulitkan dalam pengisian SPT, baik SPT Tahunan maupun SPT Masa. UMM akan mendampingi civitas akademika dalam proses pengisian SPT yang difasilitasi pada pertengahan hingga akhir Maret, mengingat batas akhir pelaporan wajib pajak pribadi pada 31 Maret 2026,” ujarnya. Sebagai bagian dari komitmen institusional, UMM mengajak seluruh civitas akademika untuk segera melakukan aktivasi akun Coretax. “Kami berharap sosialisasi ini menjadi momentum yang baik agar UMM sebagai perguruan tinggi swasta dapat proaktif dan patuh dalam memenuhi kewajiban perpajakan,” tegasnya. Apresiasi terhadap langkah UMM disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah DJP Jawa Timur III, Untung Supardi. Ia menyebut UMM sebagai perguruan tinggi pertama di Jawa Timur yang melaksanakan sosialisasi dan praktik aktivasi akun Coretax. “Kami mengapresiasi UMM sebagai kampus pertama di Jawa Timur yang menggelar kegiatan ini. Jika masih terdapat hal-hal yang perlu pendalaman, akan dilanjutkan pada kegiatan puncak tanggal 18 Desember melalui simulasi dan arahan pelaporan SPT,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa ke depan akan dibangun komitmen bersama terkait pelaporan SPT melalui Coretax, yang juga akan disampaikan kepada pimpinan sebagai praktik baik yang dapat dilakukan secara berkelanjutan. Dalam sesi berikutnya, Tim Penyuluh Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Timur III menyampaikan materi terkait langkah-langkah aktivasi akun Coretax sebagai upaya menunjang keberhasilan pelaporan SPT Tahunan tahun 2026. Coretax dijelaskan sebagai sistem administrasi perpajakan baru yang terintegrasi dan dirancang untuk memudahkan wajib pajak dalam mengakses seluruh layanan perpajakan dalam satu Portal Wajib Pajak. “Coretax merupakan sistem administrasi layanan perpajakan yang modern dan terintegrasi, sehingga seluruh proses bisnis perpajakan dapat diakses melalui satu platform digital,” ujar salah satu penyuluh DJP. Ia menegaskan bahwa aktivasi akun menjadi tahap awal yang wajib dilakukan oleh setiap pemilik NPWP agar dapat menjalankan kewajiban perpajakan secara optimal. Dalam pemaparannya, tim penyuluh menjelaskan bahwa aktivasi akun Coretax memerlukan data yang tervalidasi, seperti alamat email aktif, nomor telepon seluler untuk verifikasi OTP, serta kesesuaian NIK dan Kartu Keluarga dengan data Dukcapil. “Tanpa aktivasi akun Coretax, wajib pajak akan mengalami kesulitan dalam pelaporan SPT Tahunan maupun SPT Masa. Oleh karena itu, kami mengimbau agar aktivasi segera dilakukan sebelum batas waktu yang ditetapkan,” tegasnya. Melalui kegiatan ini, UMM menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya taat regulasi, tetapi juga aktif mendukung transformasi digital administrasi perpajakan nasional.(*bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dari Malang ke Maninjau, Tim Medis UMM Turun Langsung Layani Korban Banjir

Pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra Barat, kebutuhan layanan kesehatan warga terdampak masih menjadi perhatian utama. Menyikapi kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka posko kesehatan di kawasan Maninjau, Kabupaten Agam, untuk memberikan layanan medis gratis bagi puluhan warga terdampak banjir setiap harinya sejak 16 hingga 25 Desember. Dalam kegiatan kemanusiaan di wilayah tersebut, UMM mengirimkan satu dokter umum dan satu perawat dari Rumah Sakit UMM, serta tiga dokter muda dari Fakultas Kedokteran UMM. Program ini didukung pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam penanganan pascabencana. Dokter umum RS UMM, dr. Ilham Setya Wicaksono, menyampaikan bahwa sebagian besar warga yang datang ke posko mengalami keluhan penyakit kulit, terutama gatal-gatal. Kondisi ini disebabkan oleh penggunaan air yang keruh serta sulitnya akses air bersih pascabanjir. “Akses air bersih masih sangat terbatas, sehingga banyak warga mengalami gangguan kesehatan, khususnya penyakit kulit,” jelasnya. Setiap harinya, posko kesehatan UMM melayani puluhan pasien. Tim medis membawa berbagai jenis obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan warga. Selain layanan pengobatan umum, posko ini juga menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis, seperti cek tekanan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol. Edukasi kesehatan terkait penyakit serta penanganan awal juga diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat lebih waspada terhadap kondisi kesehatannya. dr. Ilham menambahkan bahwa mayoritas pasien merupakan warga yang terdampak langsung bencana banjir. Ia juga menceritakan kondisi perjalanan menuju lokasi posko yang cukup memprihatinkan. Banyak jalan, rumah, jembatan, dan sawah mengalami kerusakan parah, dengan material batu dan kayu yang terbawa arus banjir masih mendominasi area sekitar. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perjuangan tersebut dilakukan demi tujuan kemanusiaan. “Harapan kami, kehidupan masyarakat bisa kembali pulih dan kolaborasi semua pihak dapat mempercepat pemulihan pascabencana. Kami memang hadir sementara, tetapi semoga bisa membantu warga menjaga kesehatan mereka,” ujarnya. Sementara itu, bidan setempat, Afrida Arianti, mengungkapkan rasa terima kasih atas kehadiran tim kesehatan dari UMM. Menurutnya, layanan kesehatan gratis ini sangat membantu warga yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan akibat kondisi pascabencana. “Kami sangat berterima kasih karena kehadiran tim UMM membuat warga tidak perlu jauh-jauh mencari layanan kesehatan, terutama di situasi yang masih sulit seperti sekarang,” tuturnya.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Konsisten, Humas UMM Kembali Borong Penghargaan di Anugerah Diktisaintek 2025

Prestasi demi prestasi terus diraih Humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, Humas UMM sukses membawa pulang dua penghargaan di Anugerah Diktisaintek 2025 yang diadakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, 19 Desember 2025 ini. Humas UMM berhasil meraih silver medal kategori pengelolaan laman dan bronze medal untuk pengelolaan media sosial. Terkait kemenangan ini, Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro, M. Ikom. bersyukur dan merasa bangga. Menurutnya, ini menjadi bukti konsistensi performa humas UMM. Utamanya dalam menyebarkan informasi di bidang pendidikan tinggi, termasuk program Kampus Berdampak. “Kami sangat bersyukur atas penghargaan ini. Setiap tahun kami berhasil meraih penghargaan Anugerah Diktisaintek ini. Bahkan kali ini mempertahankan dua raihan penghargaan sekaligus,” katanya. Maharina, panggilan akrabnya, menilai bahwa penghargaan ini adalah bentuk pengakuan dari pemerintah atas kinerja Humas UMM selama ini. terutama dalam menyuarakan berbagai program universitas yang sejalan dengan kebijakan Kemdiktisaintek. Keberhasilan ini juga tak lepas dari strategi publikasi yang dilakukan secara terukur dan sesuai dengan kebutuhan publik. “Kami berusaha membuat konten yang bisa diterima masuarakat luas. Misalnya konten yang relevan dengan tren generasi muda, seperti Gen Z, melalui platform seperti Instagram dan TikTok. Selain itu, kami juga rutin merilis berita bernuansa ilmiah dan berdampak yang tetap menarik,” tegasnya. Tim Humas UMM, lanjutnya, juga aktif mempromosikan program-program berdampak. Salah satu yang unik dari UMM adalah kehadiran Direktorat Saintek UMM yang menjadi wadah inovasi dan penelitian yang sudah dihilirasi. Berbagai inovasi dan kontribusi pengabdian dilahirkan, tidak hany di Jawa tapi juga di berbagai wilayah lainnya. Terbaru, melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), UMM berupaya mengatasi stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur. “Jadi Direktorat Saintek ini menjadi katalisator dan mempercepat UMM untuk terus berdampak bagi masyarakat. Berkolaborasi dengan pihak-pihak lain untuk menebar kebermanfaatn. Ini menjadi salah satu program yang senantisa kami sebarluskan melalui beragam media,” tambahnya. Terakhir, Maharina menegaskan prestasi ini menjadi motivasi bagi Humas UMM untuk terus meningkatkan kualitas. Menyebarkan informasi baik dan membangun negeri agar semakin berdampak untuk Indonesia. (*wil)   Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain

UMM Jadi Kampus Paling Berkelanjutan di Malang Raya dan Nasional PTMA

Air dan energi kerap dibahas sebagai isu global di ruang konferensi, tetapi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), keduanya justru diterapkan dalam aktivitas kampus sehari-hari. Dari danau konservasi hingga transportasi listrik yang digunakan secara rutin, keberlanjutan tidak diposisikan sebagai jargon, melainkan dijalankan sebagai sistem yang terukur. Pendekatan inilah yang mengantarkan UMM kembali menguatkan posisinya dalam pemeringkatan UI GreenMetric 2025. Pada pemeringkatan tahun ini, UMM berada di peringkat 19 nasional—naik satu tingkat dibanding 2024—dan menempati posisi 102 dunia. Capaian tersebut sekaligus menegaskan konsistensi UMM dalam membangun kampus berkelanjutan melalui proses panjang dan terukur sejak pertama kali mengikuti UI GreenMetric. Di tingkat regional, UMM menjadi kampus paling berkelanjutan dengan melampaui kampus paling berkelanjutan di Malang Raya. Secara nasional, UMM juga mengokohkan diri sebagai perguruan tinggi paling berkelanjutan di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA). Wakil Rektor IV UMM M. Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. mengucapkan syukur dan bangga atas capaian ini. Menurutnya, ini menjadi tambahan semangat untuk terus menjadikan UMM kampus yang bukan hanya hijau dan asri tapi menjadi bagian elemen bangsa yang peduli dan aktif berkontribusi menjaga kelestarian bumi. “Harapannya ini bisa menambah kepedulian untuk menjaga keberlangsungan bumi, mulai dari hal kecil seperti ikut menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya, hingga terus menumbuhkan semangat menanam pohon dan lainnya,” tambahnya. Di sisi lain, Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, ST., MT. menilai capaian ini bukan hasil kerja instan atau sekadar mengejar peringkat. UI GreenMetric menilai enam indikator utama, mulai dari Setting and Infrastructure hingga Education and Research. UMM tidak memilih-milih indikator, tetapi membangun semuanya secara terintegrasi dan berkelanjutan. UI GreenMetric memang mengukur keberlanjutan melalui enam aspek utama, yakni Setting & Infrastructure, Energy & Climate Change, Waste, Water, Transportation, serta Education & Research. Dalam konteks ini, kekuatan UMM terletak pada pengelolaan lingkungan yang saling terhubung, terutama pada sektor energi, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan sampah dan air, serta pendidikan dan riset yang secara sadar diarahkan pada isu keberlanjutan. “Seluruh indikator UI GreenMetric dapat dipenuhi UMM. Nilai kami cukup menonjol pada aspek Water, salah satunya berkat keberadaan danau kampus sebagai bagian dari konservasi air, serta pada Education and Research yang terus diperkuat secara sistemik,” kata Sandi. Keunikan UMM tidak berhenti pada infrastruktur. Integrasi nilai akademik, praktik langsung, dan budaya keberlanjutan menjadi fondasi utama. Kampanye Go Green dan Go Healthy, mata kuliah wajib Wawasan Berkelanjutan, hingga penggunaan transportasi kampus ramah lingkungan dijalankan secara nyata dan rutin. Seluruh civitas akademika—mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan—dilibatkan aktif dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi program keberlanjutan melalui riset, kegiatan ekstrakurikuler, serta kampanye sadar lingkungan yang konsisten. UMM juga mengembangkan berbagai program unggulan seperti mobil listrik kampus, sistem transportasi internal ramah lingkungan, pengelolaan limbah terpadu menuju zero waste, pemanfaatan energi terbarukan melalui PLTS dan PLTMH, serta integrasi isu keberlanjutan ke dalam kurikulum. Program-program tersebut tidak bersifat simbolik, melainkan berdampak langsung pada indikator penilaian UI GreenMetric. Capaian ini selaras dengan visi UMM sebagai kampus unggul dan berwawasan lingkungan. Lebih jauh, peringkat UI GreenMetric memperkuat posisi UMM di tingkat global, meningkatkan daya saing, peluang kolaborasi internasional, serta daya tarik bagi mahasiswa dan mitra global. Ke depan, UMM menargetkan masuk 15 besar nasional dengan memperkuat inovasi, kualitas data, dan dampak nyata program keberlanjutan. “Harapannya, keberlanjutan dijaga sebagai budaya kampus, bukan sekadar tuntutan penilaian. Di situlah kekuatan UMM yang sesungguhnya,” pungkas Sandi. (vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman